Takdir
.
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
Donghua "Soul Land/Douluo Dalu/斗罗大陆" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Tang Jia San Shao/Sparkly Key Animation Studio©
Fanfiction "Takdir" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.
Timeline: Soul Land episode 124-125.
Canon-based. Re-tell with some flashback.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
Tang San berdiri tegak di atas rantai raksasa yang menjadi rute unik menuju tempat tinggal Klan Hao Tian. Jauh di atas pegunungan tinggi menjulang, mencakar langit. Dan di bawahnya, jurang menganga. Setiap dataran dihubungkan oleh rantai-rantai kokoh yang menjadi satu-satunya jalan yang bisa dilewati. Salah langkah sekali saja, jangankan bisa mencapai tempat tujuan, nyawa taruhannya.
Mirip sekali. Tebing yang sama. Sistem pengamanan yang sama.
Tempat ini benar-benar membawa kenangan Tang San kembali ke kehidupan sebelumnya. Kehidupan yang telah berakhir, tetapi masih diingatnya. Kehidupan di dunia yang berbeda, tetapi hingga sekarang masih menyisakan penyesalan mendalam baginya.
"Jika kau kalah, maka kau akan terpenjara selamanya di tempat ini."
Tang San tersentak sedikit dari lamunannya. Barusan adalah Tetua Ketujuh yang telah ditantangnya. Ia tahu, mungkin nyaris semua orang yang ikut menyaksikan pertarungan ini, akan menganggapnya gila. Beda kekuatan di antara dirinya dan Tetua Ketujuh terlalu jauh.
Bahkan Tang San pun berpikir mungkin dirinya memang sudah gila. Meskipun Tetua Ketujuh sudah berjanji hanya akan menggunakan tiga puluh persen kekuatannya. Namun, Tetua Ketujuh telah menghina ibunya. Sebagai seorang anak, Tang San tidak mungkin akan diam saja, bukan?
Pertarungan ini bukan hanya demi dirinya bisa diterima di Klan Hao Tian oleh para Tetua yang menentangnya karena menganggap ayahnya pendosa, melainkan juga untuk membela kehormatan ibu dan ayahnya.
"Tetua Ketujuh, hal itu bukan Anda yang berhak memutuskan."
Bukan Tang San—yang harusnya keberatan, tetapi pamannya, Tang Xiao, yang mendadak bersuara. Beliau bersama beberapa anggota klan yang lain, masih berdiri dengan tegang di salah satu dataran lapang.
"Jadi apa pendapatmu, Ketua Klan?" sahut Tetua Ketujuh.
"Jika Tang San kalah," sang paman berkata penuh wibawa, "maka ia akan diusir dari klan dan dilarang menggunakan senjata Palu Hao Tian untuk selamanya. Mengurungnya di sini, itu tidak adil. Anda tidak bermaksud membuat seorang genius layu sebelum berkembang, bukan?"
Nasibnya yang sedang diperdebatkan di sini, tetapi Tang San memilih diam. Separuh dirinya masih terbawa ke masa lalu yang jauh.
Dahulu, dirinya juga pernah menghadapi situasi yang mirip. Terlalu mirip. Di kehidupan sebelumnya, dia dipojokkan hanya karena nekat mempelajari kitab rahasia Sekte Tangmen. Hanya karena dia adalah murid yang berasal dari luar. Seseorang yang dipungut dari jalanan, yang mungkin telah dibuang sejak bayi oleh orangtuanya sendiri.
Padahal, saat itu, hanya dirinyalah yang mampu menguasai ilmu di dalam kitab rahasia tersebut. Seorang genius yang dinafikan keberadaannya atas nama 'asal-usul'.
Dan Tang San telah memilih untuk menyerah. Dia tidak memperjuangkan apa yang telah dicapainya dengan kerja keras selama bertahun-tahun. Dia menerima hukuman yang sesungguhnya tidak adil, begitu saja. Nyawanya pun berakhir menyedihkan di dunia itu.
Kemudian, dirinya terlahir kembali. Di sini, di Daratan Douluo. Dari seorang ayah yang terusir dari klannya akibat kesalahan di masa lalu. Karena itu juga, kini Tang San menghadapi tuntutan pengusiran ini terhadap dirinya.
Jika Tang San menerimanya begitu saja, maka ia akan kehilangan tempat di klan, sebagaimana kehilangan salah satu kekuatannya, Palu Hao Tian. Sama seperti waktu dulu, ia akan terhukum oleh ketidakadilan. Siapa sangka, di dunia ini pun, ia tetap tak bisa lepas dari takdir yang sama.
Tetapi tidak.
Kali ini, Tang San sudah bertekad, dia tidak akan menyerah begitu saja. Dulu dia hanya hidup demi dirinya sendiri. Mungkin karena itulah, ia bisa dengan mudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Namun, sekarang situasinya berbeda. Dia tidak lagi sendirian. Dia punya keluarga yang menyayanginya. Dia punya guru dan teman-teman yang peduli padanya.
Dia punya Xiao Wu.
Terlalu banyak hal berharga yang akan sangat-sangat disesalinya jika sampai hilang. Tang San tahu, kali ini, dia takkan bisa memaafkan dirinya sendiri jika berhenti berjuang.
"Sebuah kehormatan bagiku bisa menghadapi Anda, Lie Yang Douluo."
Meski sebesar apa pun rintangan yang dihadapinya, untuk saat ini, menyerah bukanlah pilihan.
"Tang San, Spirit King level 59, Master Tipe Pengendali."
.
.
.
TAMAT
.
.
.
* Author's Note *
.
Hai, haiii~! :-D
Ini sekelumit adegan dari episode 124-125 Soul Land. Gila emang Tang San, bikin deg-degan! Ini emang Tetua Ketujuh kayak orang tua ngebuli anak kecil. o.O
Oya, btw 'Lie Yang Douluo' itu adalah julukan Tetua Ketujuh. Levelnya dah berapa, ya ... 90 lebih, mungkin.
Bayangin aja, Tang San baru level 59 disuruh ngelawan dia. XD
/kebayang game RPG
/stres sendiri
Tapi ... kurasa dengan begini, Tang San pun bisa move on dari masa lalunya di kehidupan sebelumnya. Dan juga bisa diterima di klan. Semua berakhir dengan baik.
.
Regards,
kurohimeNoir
25.12.2020
