Santa Smith

[ eruri, bxb, romance-fluff, rate-T ]

[ d i s c l a i m e r ]

Karakter FF ini punya Hajime Isayama. Pitik hanya bikin ff dan tidak mendapat keuntungan apapun selain rasa senang :)

.

.

.

Jika saja Levi Ackerman tahu alasan di balik sebuah pesan yang dikirim sang kekasih, mungkin suasana hatinya akan sedikit lebih baik. Ia tidak perlu memasang wajah kusut sambil berdiam diri di depan jendela.

Tirainya tidak ditutup. Dari kamar atas, lelaki itu masih bisa melihat lampu-lampu di pasar natal Nuremberg. Semua orang mungkin tengah belanja dan berbahagia di bawah sana. Tapi Levi malah mendekam sembari merutuki pesan Erwin bahwa ia tidak bisa menemaninya selama malam natal.

Sialan. Kekasih macam apa itu? Seharusnya Levi tidak langsung percaya ketika pria berambut pirang itu mengelus jemarinya dan berkata ingin tinggal bersama. Kalau berakhir diabaikan seperti ini, harusnya Levi tidak setuju.

Suasana hati lelaki itu tambah buruk. Ia ingin makan namun tak bernafsu. Ia ingin menonton televisi namun tak tertarik. Ia ingin membersihkan ulang kamar apartemen itu namun sudah tertata. Levi bosan.

Akhirnya lelaki itu memutuskan keluar. Ia mengambil jubah coklat tua panjang juga syal hitamnya dan pergi keluar. Tak lupa ia juga mengunci pintu dan memasukkan benda kecil itu dalam saku. Mungkin sedikit jalan-jalan di pasar dapat menyembuhkan sakit hati.

Benar saja. Pasar sangat ramai. Hauptmarkt penuh oleh orang-orang yang menjual makanan dan barang-barang natal. Hari ini adalah pembukaan terakhir, maka pengunjung datang berkerumun seolah pasar malam tidak akan diadakan lagi tahun depan.

Levi merapatkan syal dan melirik stand kue jahe. Aroma semerbak rempah dan gula membuatnya mendekat. Karena suasana hati buruk, lelaki itu belum mengisi perutnya sejak sore.

Ia mengambil kue berbentuk orang. Tampak lucu dengan icing yang membentuk kancing baju dan pita. Mata sipitnya memicing—entah mengapa tampak begitu kesal dan menganggap bahwa kue jahe itu adalah Erwin. Tanpa pikir panjang, Levi menggigit bagian kepala. Rasanya manis dan hangat, sedikit mampu mengusir rasa lapar juga dendam.

Kakinya berjalan menuju gereja Frauenkirche, tertarik karena melihat sekumpulan anak berlari ke sana. Di depan bangunan bergaya gothic itu, seorang santa klaus tengah duduk, membawa karung berisi hadiah dan membaginya anak-anak.

"Ini memang malam natal," gumam Levi sambil tersenyum getir. Ia memakan tubuh manusia jahe itu dan menghabiskan camilan malamnya. Mungkin sebaiknya lelaki itu lekas kembali karena tidak ada hal lain yang ingin ia lakukan di luar sini.

Tidak sampai ia mendengar suara familiar dari santa klaus di depan gereja.

"Ho ho ho! Ambil hadiahmu, anak manis," seru pria berkostum merah dengan pinggiran bulu putih.

Levi memicingkan mata, memperhatikan area mata yang tampak tidak asing. Manik biru dan alis tebal nan tegas— tidak salah lagi.

"Oi, santa," panggil lelaki itu sambil menghampiri dengan raut dongkol.

"Ho ho ho! Santa tidak memberi hadiah pada orang dewasa," sahut santa klaus bersuara Erwin itu.

"Diam, kakek tua! Inikah alasanmu tidak bisa menemaniku saat malam natal? Harusnya kau bilang padaku," gerutu Levi sambil menarik-narik janggut palsu dan membuat si pria mengaduh pelan.

"Ho ho ho! Sakit, sayang."

Levi berhenti dan melipat tangannya. Ia memalingkan pandangan kesal dan mengetuk-ngetukkan kaki ke tanah.

"Kapan pekerjaanmu ini selesai? Apa kau sudah makan malam?"

Erwin tersenyum. Mengusap tangannya sendiri sambil menyahut, "Sampai tengah malam. Aku sudah makan pai apel tadi."

"Tadi kapan?"

Pria berkostum santa klaus itu menggaruk tengkuknya sembari terkekeh. "Pagi."

"Tunggu di sini," balas Levi kemudian berlari ke dalam pasar natal. Ia membeli dua kue jahe besar untuk Erwin dan berjalan lagi menuju gereja. Untung saja stand itu belum tutup.

Sebelum Levi sampai, suara lonceng menggema di alun-alun kota. Orang-orang di sekitarnya saling mengucapkan selamat natal. Langkah lelaki itu sejenak berhenti, lalu kembali berlanjut ketika ia mengingat Erwin belum makan apapun.

Tapi sesampainya di depan gereja, santa klaus sudah tidak ada. Levi mendengus kesal dan duduk di depan gereja. Ia ingin mengumpat tapi tempat ini sepertinya kurang cocok untuk mengatai seseorang.

Bukankah tadi ia sudah menyuruhnya menunggu?

Tapi kemudian, setelah beberapa detik, amarahnya reda sendiri. Lonceng tadi adalah tanda pergantian hati. Mungkin Erwin pergi untuk mengembalikan kostum konyol itu. Ia bilang pekerjaannya selesai tengah malam.

Levi menghabiskan waktu untuk diam, memandangi salju turun, stand pasar yang satu persatu tutup, juga anak-anak yang tengah berlari kegirangan karena mendapat hadiah natal.

Tiba-tiba tangan besar menyusup dan menutup matanya. Levi menaruh kue jahe di sebelah dan meraih tangan itu. Sosok tadi menarik jari manis untuk sedikit terangkat dan memasang sebuah cincin di sana.

Levi tertegun dan menoleh. Namun belum sempat berkata apapun, Erwin Smith—orang yang berada di belakangnya—langsung membungkam bibir dengan sebuah pagut. Mereka saling mencium, agak lama karena larut dalam perasaan masing-masing. Dan saat taut itu terputus, Erwin tersenyum dan mengusap puncak kepala Levi.

"Selamat natal," sebut pria itu.

Ia mendaratkan sebuah kecup pada dahi kekasihnya sebelum berucap lagi, "Dan selamat ulang tahun."

Levi tidak menjawab apapun. Tapi wajahnya merah padam—Erwin yakin itu bukan karena cuaca dingin.

"Oh, apa kau membeli kue jahe ini untukku?" tanyanya antusias sembari meraih kantung kertas di sisi Levi.

Lelaki itu menatap jengkel dan menjejalkan makanan manis itu ke dalam mulut Erwin. "Habiskan semuanya," serunya kemudian beranjak pergi.

Pria berambut pirang masih berdiam, mengunyah makanan yang secara paksa berada di dalam mulutnya. Ia ingin berteriak dan menyuruh Levi berjalan lebih pelan. Tapi sebelum selesai mengunyah, lelaki itu sudah menghentikan langkah. Ia berbalik ke belakang, tidak benar-benar menatap Erwin, namun ada kalimat manis tak terduga yang keluar dari bibirnya. Terucap sembari ibu jari sang kekasih mengusap pelan cincin di jari manis.

"Terima kasih, santa."

.

.

.

The End

Fluff kan? Iya, fluff kan?

Ini FF Eruri pertamaku dan aku cukup senang bisa mewujudkan impian ini.

Karena kefluffan ini sudah the end, semoga aku lekas berani menonton AoT S3 dan menerima kenyataan pahit di dalam sana—hiks.

.

.

.

Merry Christmas—

—and Happy Birthday, Levi Ackerman!