Bayi yang sedang menangis kencang itu sudah tampak paras cantiknya ketika bahkan baru keluar dari rahim ibunya. Mereka yang membantu proses persalinan begitu terpukau melihatnya. Seharusnya, paras indah si bayi tidaklah mengejutkan, lihat saja orangtuanya: Si tampan Weasley dan si Veela. Paduan yang bagus.

"Anak perempuan," ujar sang bidan riang. "Dia cantik sekali, besarnya bakal bisa secantik ibunya!"

Si ibu hanya mengangguk lemah. Mungkin karena baru pertama kali, makanya ia merasa lelah. Bidan dan timnya paham, jadi mereka keluar untuk membersihkan tubuh bayi itu, biar Nyonya Weasley beristirahat sejenak.

.


.

Disclaimer: Harry Potter adalah karangan JK Rowling, author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: oneshot, future!fict, Bill x Fleur.

.

.

VICTOIRE

.


.

Saat terbangun, Fleur Weasley antara rela dan tidak untuk benar-benar terjaga. Ia masih lelah, dan ingin melanjutkan tidurnya. Tetapi, di sisi lain, ia ingin segera kembali bertemu dengan buah hatinya bersama Bill. Seakan ada ikatan batin, suaminya yang melihat bahwa Fleur telah membuka mata, langsung menggendong putri mereka untuk dipamerkan.

"Fleur, hei," sapa Bill lembut.

Fleur tersenyum letih, tapi kelelahannya seakan terangkat saat suaminya tercinta mengecup puncak kepalanya.

"Lihat, ini putri kita," tutur Bill sambil tersenyum. "Dia ambil matamu banget."

"Sayangnya dia tidak mengambil rambut ikonik seorang Weasley," goda Fleur, pelan-pelan menggendong bayinya yang dioper dari si suami.

Bill menyengir. "Tenang saja, kita bisa membuat nomor dua, tiga, dan seterusnya. Salah satu pasti bakal punya rambut Weasley." Fleur manyun dan mendelik. Langsung saja Bill tertawa. "Maaf, aduh, maaf, Sayang, maksudku bukan sekarang, kamu masih lelah. Kalau sudah terbiasa dengan yang ini dan masih ingin tambah, aku sih, siap."

Kalau sedang tidak menggendong bayi dalam tenaga yang belum sepenuhnya pulih Fleur pasti sudah mencubit gemas pinggang laki-laki itu. Bibir manyunnya kembali mengembang senyum saat putri kecilnya tersenyum—mungkin memang senyum bisa menular.

"Jadi … apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Bill.

Fleur merenung sejenak. "Hm, Victoire …"

"Victory?"

"Bukan." Fleur menggeleng. "Victoire. Itu bahasa Prancis dari victory."

Bill mengangguk dan tersenyum. "Itu nama yang bagus. Lagipula, pas sekali sekarang tanggal 2 Mei, kan?"

"Pas?"

Lagi Bill mengangguk. "2 Mei, hari peringatan Perang Hogwarts. Kita menang, dan putri kita ini lahir di hari peringatan."

Fleur mengerjap, menggumam 'oh' pelan sambil tersenyum sendu.

.

.

Bukan hanya karena cucu pertama, tetapi nama Victoire sangatlah mudah diingat oleh Molly dan Arthur Weasley. Awalnya kakek dan nenek ini agak sulit menyebutkan nama tersebut, dan berpikir bahwa mungkin nama yang benar adalah 'Victory', seperti yang pernah Bill sangka. Tetapi setelah mereka bisa menyebutnya dengan benar, nama 'Victoire' adalah nama yang paling bisa diingat nomor satu di keluarga besar Weasley.

Tidak hanya soal nama, karena tanggal lahir Victoire pun ikonik: 2 Mei. Beda tahun, memang, tapi itu sangat mudah diingat. Sewaktu kecil, Victoire mungil dengan riang mau saja percaya perkataan kakek dan neneknya bahwa seluruh Dunia Sihir turut merayakan hari ulang tahunnya. Tetapi setelah lewat dari usia sepuluh tahun, putri pertama pasangan Fleur dan Bill Weasley ini sebal sendiri. Iyalah, yang paling orang-orang ingat dari tanggal 2 Mei adalah kemenangan mereka di Perang Hogwarts, sedangkan ulangtahunnya adalah 'kebetulan'.

Dan semakin besar, Victoire makin tidak senang dengan namanya. Pemberian nama anak yang disesuaikan dengan hari peringatan di hari kelahirannya itu sangat klise dan tidak kreatif. Oh, tentu para orangtua telah memikirkan nama yang baik serta arti dan harapan indah dibalik pemilihannya. Tetapi khusus Victoire Weasley yang lahir pada tanggal 2 Mei … ia tidak suka.

Wajah Victoire tidak seceria dulu saat tanggal ulang tahunnya. Bahkan, kadang ia sengaja menyematkan tanggal 1 Mei, atau 3 Mei, atau bahkan 2 Juni sebagai tanggal lahirnya jika mengisi biodata. Kenapa orangtuanya harus memberi nama seklise dan setidakkreatif ini? Victoire tidak suka. Dominique dan Louis itu nama yang bagus dan tidak menginndikasikan sesuatu secara eksplisit. Kenapa harus Victoire saja?

.

.

Hari itu Victoire berulangtahun ke-17, akil balig. Dari jauh-jauh hari, cucu pertama Molly dan Arthur Weasley ini sudah berencana untuk mengajukan formulir pengubahan nama. Ia tidak ingin mendukakan hati orangtuanya, tetapi selama ini dialah yang terluka saat ulang tahun. Dan sekarang ia telah memasuki fase dewasa dalam hidupnya, berarti ia bebas membuat pilihan dalam hidupnya. Yah, setidaknya, ia tidak akan menghapus nama 'Victoire'—mungkin hanya akan dijadikan nama tengah saja.

Tetapi rencananya tidak semulus itu. Sehari setelah ulangtahunnya, Bill menemukan formulir itu yang tidak sengaja terjatuh dekat pintu kamar Victoire.

"Victoire Weasley."

Ayahnya terdengar gusar. Dan kalau sudah pakai nama lengkap begitu, berarti sudah harus langsung siaga 2.

"Untuk apa—kenapa—"

"—Namaku klise!" sembur Victoire.

"Klise apa?!"

"Victoire—mentang-mentang aku lahir di hari peringatan Perang Hogwarts, lantas aku diberi nama begitu!" sahut Victoire.

"Itu nama yang bagus! Kita—para penyihir, sangat bangga akan kemenangan kita saat perang itu, namamu adalah pengingat yang baik!"

"Makanya aku tidak suka! Aku lebih ingin punya nama yang normal seperti Dominique dan Louis!"

Bill menggeleng. "Ibumu memilihkan nama itu untukmu, itu nama yang bagus dan aku pun menyukainya."

"Tapi aku tidak suka!"

"—Ada apa ini?"

Duo ayah dan anak itu menoleh ke asal suara. Fleur, dengan cepol rambut yang tidak begitu rapi dan masih mengenakan celemek, menaiki tangga dengan wajah heran.

"Ada apa?" tanya Fleur lagi, melembut.

Tanpa mengatakan apa-apa, Bill menyodorkan kertas formulir bernamakan 'Victoire Weasley' yang ditemukannya tadi pada sang istri. Fleur jelas bingung, tapi dengan hati-hati ia membaca dengan saksama.

"Victoire?" tanya Fleur setelahnya. "…kenapa?"

Putri pertama mereka sudah tampak ingin menangis sekarang. Ayah dan ibunya memang jarang marah, tapi kalau keduanya marah maka amarah si ibulah yang lebih mengerikan. "Aku—namaku klise … Hanya karena aku lahir bertepatan dengan hari peringatan kemenangan Perang Hogwarts, aku diberi nama Victoire …"

Fleur menatap sedih putri sulungnya. Ia menatap sang suami yang masih memasang wajah gusar, dan Fleur pun paham kalau Bill tidak setuju dengan keinginan anak mereka ini. Bukan menunjukkan ekspresi marah, Fleur malah memegang lembut tangan Victoire.

"Sayang …" gumam Fleur pelan. "Aku yang memilihkan nama itu untukmu, jadi aku minta maaf jika itu melukai hatimu."

"Itu nama yang bagus, Fleur!" sahut Bill.

Fleur mengangguk pada suaminya sebelum kembali menatap sayang pada putrinya. "Tetapi, namamu itu tidak ada hubungannya dengan Perang Hogwarts."

"…"

"…"

Bill dan Victoire sama-sama terdiam. Mungkin sekitar dua detik kemudian, keduanya terbelalak kaget dengan masih memperlihatkan tampang bingung pada wajah mereka. Melihat itu, Fleur tersenyum kecil. Tangan yang satu masih memegang tangan putrinya, ia menggunakan tangan satu lagi untuk menggandeng suaminya.

"Sewaktu Victoire lahir, aku tidak ingat tanggal berapa saat itu," aku Fleur. "Jadi memang, nama 'Victoire' yang kuberikan padamu tidak ada hubungannya dengan tanggal berapa pun. Kalau saat itu kamu lahir jauh dari tanggal 2 Mei pun, aku akan tetap memberikanmu nama itu."

"Bukan—bukan berhubungan dengan peringatan?" ulang Bill bingung.

Fleur mengangguk mantap dan menatap lurus pada ibunya. "'Victoire' adalah bahasa Prancis dari kemenangan. Itu berarti kamu, Victoire, adalah wujud bukti bahwa hati ibumu telah dimenangkan oleh ayahmu."

Victoire tercengang, ia tidak menyangkanya.

Bill juga tercengang, baru menyadari bahwa interpretasinya selama ini salah.

"Victoire, sayang, jika kamu sebegitu ingin mengganti nama, silakan. Aku tentu akan sangat sedih, tetapi aku akan ingat bahwa kau akan tetap menjadi buah cinta kami apa pun namamu nantinya."

Victoire menggeleng pelan dan mulai terisak. Ia memeluk erat ibunya sambil menggumamkan kata 'maaf' pelan berkali-kali.

"Fleur, aku—aku minta maaf—aku main tebak alasan soal nama itu—" ujar Bill.

Fleur tersenyum.

"Aku—yah, itu memang pemilihan nama yang bagus, melebihi peringatan kemenangan Perang Hogwarts. Maksudku, kita—kau, kau memenangkan hatiku juga, Sayang."

Lalu Bill memeluknya juga.

Mereka bertiga berpelukan. Tidak peduli bahwa Fleur masih mengenakan celemek yang mungkin masih agak kotor. Tidak peduli bahwa mungkin Victoire akan terlalu didekap karena berada ada di tengah. Tidak peduli bahwa Bill harus memanjangkan tangannya demi bisa memeluk dua orang sekaligus.

Kapan terakhir mereka pelukan bertiga seperti itu? Entahlah. Tapi yang kali ini terasa begitu nyaman.

.


.

Selesai

.


.

Review?