Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Reminder! This is pure smut, a full porn, i already warn you!
Please enjoy!
"S-Sasuke…"
Tangannya terangkat menyentuh perut berotot milik seseorang yang berada di belakangnya, berniat untuk menahan pergerakan pemuda itu. Kendati demikian, Sasuke—nama pemuda itu—hanya menggeser tangannya dengan pelan dan memajukan tubuhnya, menempelkannya dengan punggung seorang gadis yang ada di dalam kungkungannya.
"Kenapa?"
Sasuke menyeringai kecil. Merasakan gemetar dari tubuh gadis itu setelah ia berbisik tepat di telinganya. Tangannya yang awalnya menahan pinggul gadis tersebut bergerak naik, menelusuri sisi badannya yang licin akibat keringat dan berhenti saat ia mencapai dua bukit kembar milik gadis yang berada di bawahnya sekarang.
Perempuan itu melenguh pelan, tidak mampu melontarkan protes yang awalnya ia tunjukkan pada Sasuke.
"Kenapa, Sakura?"
Sakura menjerit saat merasakan Sasuke mencubit putingnya dengan keras, berusaha memberontak dalam kukungan pemuda itu. Napasnya tersengal, merasa kelelahan sementara Sasuke masih tetap memainkan payudaranya.
"S-stop…"
Ia kembali berucap setelah menemukan suaranya yang sebelumnya tidak bisa diajak kompromi.
"Hm…?" Sasuke semakin memajukan tubuhnya, menghujami bahu sang gadis dengan berbagai kecupan.
"Aku… Lelah…" protes Sakura lirih. Ia tidak berbohong, ia benar-benar merasa lelah. Belum lagi, seharusnya mereka tidak melakukan 'kegiatan ini' sekarang.
Setidaknya, itulah yang ia pikirkan sekitar dua jam yang lalu.
Dua jam yang lalu, ia sampai di rumah Sasuke. Seharusnya mereka sedang belajar sekarang, sesuai dengan rencana awal mereka—Sasuke sempat ketinggalan beberapa materi pelajaran karena pertandingan basket yang harus ia ikuti beberapa waktu lalu—namun, sepertinya pemuda itu memiliki rencana lain di dalam otaknya.
Dan begitu saja, tak lama kemudian mereka berakhir di atas ranjang. Dengan Sasuke yang menyerangnya secara agresif. Mereka beruntung keluarga Sasuke sedang tidak ada di rumah.
Sakura selalu tahu bahwa Sasuke memiliki stamina yang kuat. Pemuda itu merupakan pemain inti tim basket di sekolah mereka, yang mana mengharuskan pemainnya untuk terus berlari dalam permainan bola besar tersebut, jadi tidak mengherankan bagaimana dia bisa mendapatkan stamina dan badan yang atletis seperti itu.
Walaupun begitu, staminanya dalam urusan ranjang masih mampu mengejutkan Sakura. Pemuda itu bisa terus berlanjut hingga berjam-jam tanpa kenal lelah, membuat Sakura kewalahan karenanya.
Intinya, Uchiha Sasuke benar-benar gila.
Gadis bersurai merah muda itu tersentak pelan saat merasakan gigitan kecil di daun telinganya. Berusaha menahan desahannya dengan menggigit bibir bawahnya saat merasakan sesuatu yang keras menggesek kewanitaannya di bawah sana.
Jemarinya mencengkeram bantal, tak kuasa menahan erangan kecil saat Sasuke memberikan satu remasan kuat terakhir pada payudaranya sebelum tangannya beranjak turun ke bawah, menelusuri tubuhnya secara sensual dan meninggalkan jejak yang terasa panas di setiap bagian yang dilewatinya.
"Benarkah?" balas Sasuke singkat. Ia bangkit, menjauhkan diri dari tubuh Sakura dengan lututnya yang bekerja sebagai tumpuan berat badannya. Tangan kanannya bergerak semakin menurun, mendarat di pantat sekal milik gadis bermanik emerald itu.
Ia mengelus permukaan yang halus tersebut, meremasnya beberapa kali sambil memperhatikan bagaimana gadis itu menggeliat di bawah tubuhnya.
Sudut bibirnya tertarik ke atas. "Hm… Tapi tubuhmu seperti berkata lain..." Ucapnya, terdengar puas dengan dirinya sendiri.
Sakura tidak menjawab, merasa percuma untuk meyakinkan pemuda itu. Hal ini membuat Sasuke tertawa kecil. Ah, manis sekali. Pikirnya.
Sasuke menarik tangannya, membawanya pada kejantanannya sendiri sementara tangannya yang lain menahan pinggul Sakura. Ia dapat merasakan tubuhnya yang menegang saat ia memposisikan dirinya untuk memasuki liang gadis itu.
"S-Sasuke, tunggu!"
PLAK!
Pekikan nyaring menggema seisi ruangan. Sakura meringis, merasakan perih di bagian pantatnya usai Sasuke mendaratkan satu tamparan keras di sana. Ia memutar kepalanya, menatap Sasuke nyalang, dan si brengsek itu hanya balas menyeringai kepadanya.
"Sasuke! Kau—angh!"
Tanpa aba-aba, pemuda itu langsung memasuki liang peranakannya. Sakura menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang mendesak ingin keluar bersamaan dengan perasaan nikmat yang mulai menjalar ke tubuh bagian bawahnya. Jemarinya mencengkeram bantal dengan kuat, ia menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal tersebut.
Dari belakang, Sasuke mulai menggerakkan pinggulnya, menikmati reaksi yang ia dapatkan dari sang gadis. Ia menyukainya, menyukai bagaimana Sakura berusaha menolak kenikmatan yang ia berikan namun kenyataannya dia juga sangat menikmatinya. Lihatlah sekarang, lihatlah bagaimana vagina gadis itu menjepit penis nya dengan sangat kuat seakan menginginkan bayi.
Dan sikapnya yang masih malu-malu tidak peduli sudah berapa banyak mereka melakukan ini? Benar-benar manis.
Sasuke kembali menempelkan dada bidangnya dengan punggung Sakura, tangannya terangkat untuk menyingkap helaian rambut gadis itu ke bahunya, semua dilakukan dengan pinggulnya yang masih terus bergerak di bawah sana.
"Kenapa menahan suaramu?" bisiknya tepat di telinga gadis itu—lagi.
Sakura meringis, dalam hati menyukai apa yang suara berat pemuda itu lakukan pada tubuhnya, karena itu terdengar sangat seksi. Hell, Sasuke secara keseluruhan adalah individu yang seksi, ia tidak bisa menyalahkan tubuhnya yang bereaksi seperti ini, salahkan hormonnya! Atau salahkan pemuda itu karena tercipta menjadi sangat seksi seperti ini.
Ia terkesiap saat merasakan hentakan yang semakin cepat dan kuat menghujami liangnya. Napas Sasuke yang memburu menggelitik lehernya, membuatnya mengutuk dalam hati.
"Angkat kepalamu, keluarkan semua suaramu." Bisik Sasuke lagi, namun dengan nada memerintah.
Sakura menggeleng pelan, menutup rapat mulutnya dengan keras kepala. Sasuke tersenyum lebar. Benar-benar… Sisi Sakura yang membangkang seperti ini, benar-benar membuatnya terangsang.
Ia mengangkat tangannya, mencengkeram rahang gadis itu dan memutar wajahnya ke samping dengan paksa.
"A-Ah! Sasu—hmph!"
Sasuke langsung menempelkan bibir mereka, mencium dan melumatnya dengan kasar. Ia menggigit bibir bawah Sakura, memperoleh lenguhan kecil darinya. Lidahnya melesak masuk ke dalam rongga mulut gadis itu, mendominasi setiap sisinya. Jemarinya masih mencengkeram erat rahang Sakura guna menahan pergerakannya.
Pemuda itu semakin liar bergerak menusuk liangnya. Sangat cepat, Sakura merasa dirinya seperti terbakar. Suara yang dihasilkan dari kedua alat kelamin mereka yang saling bertumbukan terdengar sangat nyaring dan kotor di dalam kamar ini, namun hal itu justru semakin membuatnya bergairah, sesuatu yang berkumpul di bagian bawah perutnya melesak ingin dikeluarkan.
Sakura mendesah dengan hebat, suaranya tertahan di sela ciuman mereka, terpendam oleh mulut Sasuke. Ia menggeliat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pemuda itu. Tangannya terangkat untuk memukul bahu pemuda yang masih melumat bibirnya dengan kasar ini, walaupun ia tahu hal tersebut tidak akan mempan untuknya, Sasuke malah semakin ganas menciumnya, masih dengan hentakan pinggulnya yang liar.
Sakura merasa seperti akan menangis, semuanya terasa sangat berlebihan. Kejantanan pemuda itu yang senantiasa bergerak keluar-masuk dengan liar, lidahnya yang mengeksploitasi rongga mulutnya, semua ini membuatnya sulit bernapas.
Hingga akhirnya tubuhnya menggelinjang dengan hebat, matanya terpejam dengan erat dan bersamaan dengan pekikan panjang yang ia keluarkan, ia mencapai puncaknya.
Sasuke menggeram tertahan, merasakan liang gadis itu yang berkontraksi setelah mencapai klimaksnya, mencengkeramnya dengan sangat kuat seolah tidak ingin melepaskannya.
Ia memberikan hisapan yang kuat pada bibir bawah Sakura sebelum akhirnya menjauhkan wajahnya. Menatap wajah cantiknya yang dipenuhi oleh peluh untuk sepersekian detik, lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu. Pinggulnya masih terus bergerak, berusaha mengejar klimaksnya sendiri.
Sakura mendesis pelan, tubuhnya menjadi sangat sensitif usai klimaksnya tadi. Ia sadar Sasuke tidak akan berhenti sebelum klimaksnya tercapai.
"Ssh.. Yamete, Sasuke! Nghh—!"
Sasuke menggigit bahunya, melingkarkan lengannya pada figur mungil Sakura dan menghentakkan pinggulnya dengan semakin cepat. Sedikit lagi, hanya sedikit lagi sebelum pelepasan itu menghampiri dirinya.
"Aaahhnghh! Sasu—Sasu…!"
Dalam dua hentakan terakhir, cairan hangat menyembur dalam dirinya dengan kuantitas yang banyak, berulang-berulang memuntahkan isinya di dalam tubuhnya.
Sakura mengerang pelan, merasakan gigitan kuat Sasuke yang seperti akan merobek kulit di bahunya. Ia menarik napas panjang. Akhirnya, akhirnya selesai juga.
Masih dalam posisi yang sama, Sasuke melepaskan gigitannya, menyandarkan keningnya pada bahu sang gadis seraya mengatur napasnya. Sakura melakukan hal yang serupa.
Selama beberapa saat, mereka masih setia mengatur napasnya masing-masing sebelum Sasuke akhirnya bergerak membangkitkan tubuhnya. Ia memutar badan Sakura sehingga posisi gadis itu menjadi menghadapnya sekarang, dengan kejantanannya yang masih tertanam di dalam liang peranakannya.
Ia menatap paras ayu Sakura yang juga tengah menatapnya dengan mata yang setengah terbuka. Sudut bibirnya secara otomatis tertarik ke atas hanya karena melihat wajahnya.
Sakura memejamkan matanya sesaat. Menarik napas beberapa kali lalu membuka matanya lagi, menatap Sasuke dengan sebal.
"Kau kejam, Sasuke. Aku mau pulang." Ucapnya pelan.
Sasuke melebarkan senyumannya, merasa lucu dengan gadis itu. "Kau tidak boleh pulang."
Sakura mengerucutkan bibirnya. "Kau ini tidak ada rasa kasihannya sedikit, ya?" tanyanya kesal.
"Tidak. Kau harus menemaniku malam ini."
"Kau gila, ya? Kita melakukannya sudah lebih dari dua jam, Sasuke. Kau ingin aku pingsan?"
"Aku tidak akan pernah merasa puas denganmu. Salahmu sendiri yang membuatku candu begini."
"B-bagaimana bisa jadi salahku?"
"Kau ini banyak omong sekali."
Sasuke mendaratkan satu kecupan yang lembut di bibir Sakura, membuat sang empu terkejut dan terpaku menatapnya. Ia tersenyum, mengelus pipi sang gadis yang sangat dikasihinya ini. Setelah tersadar dari keterkejutannya, Sakura dapat merasakan wajahnya yang memanas dan ia yakin semburat merah sudah menghiasi pipinya sekarang.
Sasuke terkekeh pelan, namun sedetik kemudian kekehan itu tergantikan oleh sebuah seringai yang muncul di bibirnya.
"Nah, waktu istirahat sudah selesai. Ayo kita lanjut ke ronde berikutnya."
"EH!? Hentikan, Sasuke!!!"
.
.
.
.
.
.
Fin
Jadi... Setelah 3 tahun akhirnya nulis fict lagi di sini sksjdgsbsj, mana langsung upload 3 cerita dan salah satunya adalah fict smut ini (dan itupun masih ada banyak ide lagi di dalam otakku skzjsh)
Maaf kalau aneh, aku lagi pengen nyoba bikin smut, dan jadinya kayak gini.
Please leave your thoughts if you have any!
