Miya Bersaudara
Keripik Talas
Haikyuu FurudateHaruichi
Pairing : AtsumuxOsamu
Warn : OOC AF, cerita ini mengandung kegajean, dan mungkin konten yang tidak mengenakkan buat beberapa orang. Tutup fanfic ini jika kalian merasa belum dewasa.
Wait ... ini nggak sesuai sama waktu animenya loh.
Blurb :
Atsumu Miya tidak tahu sejak kapan dia menaruh perhatian lebih pada kembaran tukang makannya. Ketika lelaki itu membawa gadis manis ke rumah mereka, dia tidak tahu apakah dia iri pada Osamu karena memiliki kekasih terlebih dahulu, atau dia iri pada si gadis karena bisa memilikinya.
Happy Reading
(Sekali lagi peringatan, tutup fanfic ini bila kalian tidak nyaman sama kontennya.)
Bagi sebagian orang, Miya bersaudara adalah dua lelaki yag memnuhi hidup mereka untuk saling mengalahkan satu sama lain. Sejak kecil mereka sering beradu argumen tentang siapa yang lebih hebat, dan siapa yang lebih cepat. Bukan hal aneh lagi melihat dua lelaki dengan paras yang mirip berlari guna saling mengalahkan. Bagi semua orang para Miya bukan hanya saudara, melainkan rival seumur hidup yang menarik untuk dilihat.
Dulu, Osamu selalu selangkah lebih baik. Dia lebih cepat dalam berlari. Tubuhnya juga lebih kuat daripada Atsumu. Fokusnya lebih baik dari kembarannya. Entah sejak kapan hal itu bergeser. Hal itu dibuktikan dengan Atsumulah yang dipanggil pelatihan timnas Jepang sebagai setter terbaik.
Atsumu tidak mengerti. Dia tidak pernah mengaku kalah dari saudaranya tentu saja, tetapi ketika dirinya dipanggil dan Osamu sama sekali tidak merasa frustasi, dia hanya entahlah ... kosong? Atsumu mulai bertanya-tanya, apakah seluruh rivalitas yang dinikmatinya selama ini hanya ada dipikirannya saja? Apakah Osamu tidak menikmati pertandingan mereka?
Meskipun Osamu dengan jelas mengatakan dia frustasi saat Atsumu merongrongnya, meminta jawaban, Atsumu masih belum puas. Dia hanya tidak senang ketika berpikir selama ini hanya dirinya lah yang menikmati hubungan rivalitas mereka. Bahwa Osamu tidak menganggap hubungan mereka lebih dari sekadar 'karena Atsumu tidak mau dibantah'.
Sampai semua kegundahannya memuncak pada malam itu. Atsumu baru kembali dari pelatihan timnas lebih awal dari yang diinformasikannya, dan dia menemukan gadis manis duduk di kamar mereka. Tanpa Osamu. Gadis itu menatapnya terkejut, seolah dia tahu seharusnya dia tak pernah ada di kamar mereka.
Atsumu menjatuhkan tasnya, dan melirik tajam pada suara langkah di belakang tubuhnya.
"Kyoka, aku tidak bisa-," Osamu menghentikan ucapannya. Lantas berdiri mematung di belakang Atsumu. "Gawat."
"Aku pulang," geram Atsumu.
Dia tidak tahu kenapa harus semarah ini. Atsumu bukan kekasih Osamu yang memergokinya berselingkuh. Merkea hanya saudara kembar, dan seharusnya dia tidak ingin melempar siapa pun gadis bermata kucing itu keluar rumah, dan tidak membiarkannya bertemu Osamu lagi. Akan tetapi pada akhirnya dia kesal.
Atsumu tidak bisa memutuskan apakah dia kesal karena Osamu memiliki kekasih terlebih dulu daripada dirinya, atau karena gadis ini memailiki Osamunya. Itu tidak penting.
"Kupikir kau baru akan kembali besok," kata Osamu selagi matanya enggan bersirobok dengan tatapan Atsumu yang penuh amarah. "Aku tahu kau akan bersikap begini kalau tahu aku memiliki kekasih. Tenang saja, Kyoka tidak akan mengganggu waktu latihan, dan aku tetap akan menemanimu bermain voli sampai kau puas."
Ucapan Osamu seolah menjadi bom atom bagi hubungan mereka. Atsumu segera berbalik, dia menarik kerah Osamu, dan menumpahkan semua amarah yang selama ini di pendamnya. Kyoka menjerit. Dia dengan kikuk mencoba menghentikan mereka. Berbeda dengan Atsumu yang penuh amarah, Osamu hanya mengejap bingung, dan mengangkat tangannya guna memberi perintah diam pada Kyoka untuk berhenti.
"Aku tidak tahu kenapa kau semarah itu, tetapi aku sudah menjanjikanmu Kyoka tidak akan mengganggu latihan voliku."
"Ya," cicit Kyoka. Suaranya meninggi, dan menghilang karena mengigil. Amarah Atsumu adalah salah satu hal termengerikan yang pernah dia lihat sepanjang hidupnya. "Aku mendukung Samu, dan aku menyukai voli kalian."
Atsumu menggertakkan giginya kesal, lantas menggeram, "Berhenti memanggilnya Samu!"
Osamu yang tidak berniat untuk melepas cengkraman kakaknya pada kausnya hanya merngejap, "Apa?"
"Keluar sekarang!" raung Atsumu cukup keras untuk membuat Kyoka melonjak.
Dia segera meraih tasnya dengan gemetaran, dan segera melewati. Di sisi lain, bersamaan dengan itu, Atsumu menarik adiknya kasar. Osamu mencoba menyamakan ayunan tangan Atsumu, dan memberi isyarat pada Kyoka yang menatap khawatir.
"Aku akan menghubungimu nanti."
Sayangnya hal itu hanya membuat Atsumu semakin geram. Seolah dia akan membiarkan Osamu menghubungi siapa pun nama gadis itu. Dia melemparkan kembarannya ke tempat tidur. Osamu tidak melawan, lebih tepatnya dia merasa tidak memiliki alasan untuk melawan.
Atsumu menutup pintu keras, tak peduli pada tas yang tertendang ke sudut ruangan. Tak peduli pada pandangan heran Osamu. Dia juga tak mengerti kenapa harus semarah ini ketika melihat Kyoka ada di kamar mereka. Apalagi ketika Osamu mengkonfirmasi bahwa gadis itu adalah kekasihnya. Amarah segera memenuhi kepalanya, dan dia tidak bisa berpikir jernih. Yang ada di pikirannya saat itu hanyalah dia tidak ingin gadis itu mengambil Osamu darinya.
Mungkin itu karena mereka sudah terlalu lama hanya menjadi Miya bersaudara, dan orang lain. Mungkin karena selama ini Atsumu merasa Osamu akan mengikuti perkataannya, dan akan menolak terang-terangan di depannya jika tak menyukainya. Ini adalah kali pertama Osamu menyembunyikan sesuatu darinya, dan dilihat dari reaksi mereka berdua, hubungan itu tidak hanya berjalan sehari atau dua hari.
Atsumu mengepalkan tangannya, dan mencoba menstabilkan napas.
"Berapa lama?"
"Lima bulan," desah Osamu. "Dengar, Tsumu! Aku tidak berniat untuk menyembunyikan ini, okay? Lagipula selama lima bulan ini pun, aku tidak pernah melewatkan jam latihan, kan?"
Lima bulan, dan Atsumu bahkan tidak memiliki petunjuk apa pun bahwa Osamu berkencan dengan siapa pun. Lima bulan sudah orang lain memiliki Osamunya. Kapan mereka pergi? Apakah gadis itu yang pertama kali mengajaknya? Tidak. Itu tidak penting. Siapa pun yang mengajak, mereka harus berakhir sekarang.
"Putuskan dia!"
Osamu membeku. "Ha? Tidak!"
"Putuskan dia, Samu!" ulang Atsumu. Kali ini tidak ada keegoisan yang menjengkelkan, malah terkesan permohonan yang putus asa. "Putuskan dia! Jangan terima siapa pun lagi."
Osamu mengacak rambutnya. Dia tidak tahu ekspresi seperti apa yang sedang Atsumu tunjukkan. Dia juga tidak tahu kenapa Atsumu semarah itu. Okay, dia memang menyembunyikan hubungannya, tetapi dia merasa kembarannya ini berlebihan karena Kita bahkan menyetujui hubungan mereka selama tidak mengganggu latihan. Osamu sudah menjelaskannya pada Kyoka dan gadis itu benar-benar memahaminya.
Kyoka tidak mengganggu latihannya. Dia malah datang ke pertandingan, dan latih tandingnya. Meskipun dia berkata untuk menyembunyikan hubungan mereka agar Atsumu tidak mercecoki mereka, Kyoka hanya tertawa dan menyanggupinya. Kyoka selalu membawakannya bekal. Gadis itu tidak peduli bila semua orang tidak menyadari hubungan mereka, dan hal itu membuat Osamu untuk pertama kali benar-benar tidak bisa menyanggupi permintaan Atsumu.
"Aku tidak akan memutuskannya," ucapnya mantap. "Aku tidak mengerti kenapa kau harus semarah ini, Tsumu. Kyoka tidak akan menggangguku latihan, dan sebaliknya Kyoka menjadi alasanku untuk membawa pulang kemenangan."
"Cukup!" bentak Atsumu. Osamu terlonjak. Ketika berbalik, Atsumu yang ada di depannya benar-benar bukan Atsumu yang dia kenal. Tatapannya berkabut, dan tangannya terkepal. Mulutnya bergerak-gerak cepat, dan rahangnya mengeras. "Kyoka! Kyoka! Kyoka! Cukup dengan nama itu Samu!"
"Tsumu?"
Osamu tidak yakin apa yang harus dilakukannya. Jujur saja, sikap Atsumu kali ini membuatnya sedikit ketakutan. Dia beranjak menghampiri Atsumu, lantas mencoba untuk menyentuh bahunya. Kembarannya menangkap tangan. Cengkramannya cukup kuat untuk membuat Osamu meringis, dan secara reflek mencoba menariknya kembali. Sayangnya, Atsumu mencengkramnya seperti borgol.
"Hei!" sentak Osamu, tetapi Atsumu bergeming. "Tsumu! Aku tahu kau marah, okay?"
"Putuskan dia, Samu!" geram Atsumu sekali lagi. Kali ini dia melangkah, dan menorong kembarannya itu kembali ke tempat tidur. Lebih keras dari sebelumnya, dan segera mengunci Osamu di bawah kukungannya sebelum adiknya mampu melepaskan diri. "Kembalilah padaku."
"Hah? Apa-apaan kau-," ucapan Osamu dihentikan oleh erangannya. Rasa panas dan nyeri berdenyut di pundaknya. Dia mencoba memberontak. Cengkraman Atsumu pada sebelah tangannya membuatnya hanya menggunakan satu tangan melawan seluruh tubuh Atsumu di atasnya. "Tsumu! Jangan gila! Sialan, Hentikan! Brengsek!"
Atsumu menuli, meskipun Osamu berteriak di telinganya. Dia tidak tahu apakah dia harus berterimakasih karena orang tuanya pergi, atau menyayangkannya sehingga tidak bisa menghentikan apa pun yang akan dia perbuat pada adiknya.
Adik kembar.
Kata itu terasa seperti dinding tebal yang ingin dia terjang, dan hancurkan. Dia tidak tahu sejak kapan hasratnya memenuhi kepala, dan seberapa banyak hasrat yang terbendung dan akhirnya meledak sehingga mampu membutakan matanya. Ketika dia menjauhkan dirinya, dia melihat wajah marah Osamu. Ekspresi yang hanya akan ditujukan padanya.
Gigitannya pada bahu Osamu cukup dalam, dan tampak seperti tropi kemenangan sehingga dia tersenyum senang melihatnya. Dia ingin mengusap luka yang akan bertahan beberapa hari ke depan itu, tetapi tangan Osamu yang ada di cengkramannya masih belum menyerah memberontak.
"Indah," gumamnya.
"Kau gila, Tsumu!"
"Ya," katanya menyetujui. "Aku gila karenamu."
Dia mencengkram dagu Osamu, dan memastikan adiknya menerima ciumannya. Sekalipun tangan Osamu yang bebas mencoba menghentikannya, Atsumu masih lebih kuat. Hanya satu langkah lebih kuat, tetapi itu cukup untuk menghentikan gerakan Osamu. Ciuman itu penuh paksaan. Osamu tidak berniat untuk membiarkan saudara kembarnya melewati batas yang seharusnya. Meskipun Atsumu memaksa, Osamu tidak akan pernah membiarkannya.
Merasa tidak bisa menghentikannya seorang diri, dia membuka mulutnya, dan membiarkan Atsumu menjejalah. Namun satu tangannya meraba-raba ponsel, dan menelpon nomor terakhir yang dia hubungi. Kalau tidak salah Kita, dan semoga kaptennya bisa datang tepat waktu.
Dia melemparkan ponselnya, berharap Atsumu tidak menyadari panggilannya pada Kita. Itu hanyalah tindakan yang penuh pertaruhan, tetapi dia tidak punya pilihan lain. Semoga Kita cukup pintar sehingga dia hanya mendengarkan, dan segera mengetahui ada yang salah dengan mereka. Osamu kembali mendorong Atsumu, dan melepaskan lelaki itu dari pangutan bibir mereka.
"Fokus padaku, Samu!"
"Hentikan, Tsumu!" teriaknya. "Ini bukan kau. Sadar!"
"Ini aku, Samu," balasnya. Dia menatap tangan Osamu yang memisahkan mereka. "Ini mengganggu."
Kaki Osamu menendang kasar, tetapi Atsumu menduduki perutnya. Atsumu menarik ikat pinggangnya, dan mengikat kedua tangan Osamu ke atas ranjang. Osamu memberontak sia-sia, dan sekarang ketakutan yang sedari tadi mengintip membuncah ke seluruh tubuhnya. Ketakutan itu membuat seluruh ototnya lemas, dan perasaan tidak berdaya ketika dia menarik tangannya membuat harapannya mencelus. Apalagi ketika Atsumu melihatnya seperti binatang kelaparan.
Atsumu tidak main-main.
"Tsumu!" panggilnya perlahan, tetapi memastikan suaranya cukup keras untuk didengar Kita di seberang telepon, dengan asumsi lelaki itu mengangkat telponnya. "Aku ... aku akan memutuskannya, Okay? Hentikan ini!"
"Apa kalian sudah melakukannya?"
"Ayolah, Tsumu! Lepaskan tanganku! Kau bisa berteriak padaku, menghajarku, apa pun, tapi bukan ini. Tsumu, kumohon!"
"Kalian melakukannya, ya?" kata Atsumu tersenyum. "Tidak masalah."
Senyum Atsumu memberikannya kengerian. Dia meneguk ludahnya, dan mencoba menghentikan rasa takut dan debaran jantungnya yang gila-gilaan. Dia bisa merasakan tangan Atsumu menyentuh perpotongan lehernya. Jemarinya yang dingin membelai bekas di bahu Osamu yang terasa panas. Setiap gerakannya yang sensual mengirimkan sengatan-sengatan tak nyaman pada kulit Miya yang lebih muda.
"Atsumu?" rintih Osamu.
"Ah ... nama itu, kapan terakhir kali kau memanggilku begitu, Samu?"
Sejak kapan hubungan ini salah? Sejak kapan Atsumu menatapnya sebagai ... sebagai obyek pujaan? Osamu tidak bisa berpikir.
Terutama ketika tangan-tangan yang mengusap kulitnya itu memilih untuk merobek kain yang memisahkan mereka. Atsumu mencium dahinya lembut. Seperti yang selalu dia lakukan di masa lalu. Lantas menyusuri matanya yang entah sejak kapan mengeluarkan air mata. Bibir-bibir itu mengecup puncak hidung Osamu, menggigitnya kecil, kemudian menyusuri pipinya.
Osamu mencoba menjauhkan wajahnya, tetapi Atsumu bergeming pada setiap rintihan dan penolakan yang adiknya berikan. Dia mencapai telinga Osamu, yang memerah, dan terasa begitu menggoda. Atsumu tertawa kecil. Terutama ketika tubuh Osamu menggeliat setiap kali dia menjilat, dan menggigitnya dengan gemas.
"Tubuhmu selalu jujur, Samu," desahnya seperti nyanyian Siren yang indah tetapi menariknya pada kematian. "Indah sekali."
Atsumu menarik tubuhnya, dan menatap wajah Osamu yang merasa putus asa. Air mata ketidak berdayaan yang menggenang, dan caranya menatap Atsumu. Campuran antara keputus asaan dan amarah yang membara. Caranya menggigit bibir untuk menahan desahan yang tetap lolos meski bibir itu digigit kuat. Caranya menggerakkan tangan hingga membuat bekas-bekas di pergelangannya.
Jantung Atsumu berdebar. Ini gila. Kenapa dia tak pernah menyadari bahwa Osamu bisa menunjukkan wajah seperti ini? Atsumu tergelak. Matanya berkilat oleh keinginan untuk memiliki Osamu selamanya. Hanya untuknya.
Kali ini dia mencium bibir Osamu, tetapi lelaki itu menolaknya keras. Atsumu tidak peduli. Tangannya menjelajah pada dada Osamu yang hanya tertutup sisa-sisa kain. Setiap kali dia menjelajah leher jenjang itu, dia meninggalkan tanda kepemilikan. Agar semua orang di dunia tahu bahwa Osamu adalah miliknya, dan akan menjadi miliknya seorang.
Hanya dia yang boleh melihat ekspresi yang ditunjukkan Osamu saat ini. Hanya dia yang boleh mendengar rintih yang Osamu dendangkan sekarang.
"Atsumu," lirih Osamu merana. "Hentikan, kumohon!"
Pilihan yang salah, karena setiap rintihan yang dengarnya tak ubahnya desah-desah seksi yang menarik keluar kebuasan di dalam dirinya. Hasrat itu semakin menggebu-gebu. Dia menarik turun celana yang menghalangi, dan memainkan kepemilikan Osamu. Rintihan itu terdengar lagi, kali ini lebih nyaring, dibarengi dengan milik Osamu yang semakin basah di tangannya.
Dia tidak bisa menunggu lama, tetapi Atsumu tidak ingin adik tercintanya kesakitan. Tidak ada lube, tetapi tangan Atsumu cukup basah. Dia mempenetrasi Osamu, dan memasukkan satu jari. Setiap jari yang bertambah membuat rintihan, dan erangan Osamu semakin keras.
"Shhh!" desah Atsumu seperti yang selalu dia lakukan ketika Osamu terbangun oleh mimpi buruk. "Semua akan baik-baik saja."
Dia menarik kaki Osamu. Meskipun dia menendang Atsumu untuk menghentikannya, Osamu terlalu lemah untuk itu.
"Hentikan! Tsumu! Kumohon! Jangan!"
Permohonan Osamu bagaikan angin lalu yang tak berguna. Setiap geliat perlawanan Osamu terlihat seperti gerakan menggoda di mata Atsumu yang berkabut. Dia menggeram ketika perpanjangan tubuhnya secara penuh memenuhi perut Osamu. Osamu menjerit, rasa sakit di bawah tubuhnya, bercampur dengan perasaan terkhianati dan harga diri yang tercabik-cabik.
"Berhenti!" teriaknya kering.
Entah berapa kali dia berteriak, bahkan memohon pada kembarannya, tetapi Atsumu menuli. Dia malah menikmati bagaimana Osamu semakin putus asa di bawahnya. Hanya untuknya. Jerit pikirannya senang. Osamu akan menjadi miliknya selamanya. Dia tidak peduli apakah Osamu akan marah padanya setelah ini, menggerutu karena dia menggigit lehernya, dan tangannya yang terikat berbekas. Mereka akan berbaikan. Seperti biasa. Osamu akan menawarinya bermain Winning Eleven, dan bila Osamu tidak berinisiatif dia akan membelikannya onigiri, puding, apa pun yang dia mau.
Hubungan mereka akan kembali seperti biasa, tetapi Osamu akan menurutinya. Osamu dan Kyoka tidak akan memiliki hubungan lebih jauh, dan akan tergantikan oleh Atsumu dan Osamu. Seperti seharusnya. Miya bersaudara, dan tidak ada orang lain.
Setiap kali dia membenamkan diri dalam tubuh adiknya, dan melihat bagaimana Osamu menggeliat di bawahnya, rasa senang meledak di dadanya. Osamu menjadi miliknya. Hanya miliknya.
"Sial!"
Kemudian suara itu muncul. Atsumu berbalik, ada ponsel yang berkedip di belakang tubuhnya. Dia mengambil ponsel itu, dan menemukan nama Kita di layar ponsel adiknya. Osamu terbelalak, tetapi kemudian dia menunjukkan ekspresi keputus asaan. Seolah dengan menemukan ponsel ini, dia telah kehilangan seluruh harapannya.
"Kau mendengar semuanya ya, Kita?"
Kita tidak menjawab, kemudian setelah satu helaan napas, akhirnya dia berkata, "Atsumu, hentikan!"
Atsumu menyeringai, dan menatap Osamu yang bernapas terengah-engah. Dia tidak berhenti. Dia kembali mencium Osamu kasar, dan menghujam dirinya. "Aku tidak akan berhenti, Kita. Tidak sampai Osamu menjadi milikku. Hanya milikku."
"Atsumu-!"
Ponsel itu dimatikan. Atsumu melempar ponsel Osamu ke dinding. Beberapa detik kemudian kamar mereka diisi oleh dering ponsel Osamu. Atsumu semakin menggila. Kenapa Kita benar-benar keras kepala? Kenapa dia ingin menghentikan Atsumu dari memiliki Osamu?
"Samu, katakan kau mencintaiku!"
Osamu tidak membalas, dia membuang mukanya, dan mengigit bibirnya sehingga desah-desah itu kembali tertelan bersama darah. Osamu tidak lagi bisa memutuskan mana yang lebih sakit, tubuh atau perasaannya yang kehilangan harapan terakhirnya.
Tidak ada respons dari saudaranya, Atsumu semakin murka. Dia mencengkram leher Osamu, berharap mampu mendorong kata-kata itu keluar dari tenggorokan Osamu. Hdia menikmati ini. Dia menikmati bagaimana detak nadi Osamu di bawah kulitnya. Bagaimana jarinya secara memenuhi seluruh permukaan leher Osamu. Ekspresi Osamu yang menggairahkan. Semua itu membuat hentakannya pada tubuh Osamu semakin keras. Seolah dia mengeluarkan semua rasa frustasi yang menyerang dirinya. Setiap hentakannya memberikan rasa pedih, tetapi kemudian menghilang ketika tubuhnya semakin mati rasa. Dia perlu udara, dan Atsumu menolak memberikannya.
Osamu menggeliat lebih keras, bibirnya semakin membiru. Mulutnya terbuka, dan menjerit, memohon, merintih. Udara semakin lenyap dari tubuhnya, dan matanya terbelalak lebar. Dia mencoba menarik tangannya dari ikatan Atsumu, tetapi percuma. Mustahil. Sementara kepalanya semakin berdenyut, terasa akan meledak. Atsumu semakin mengeratkan cengkramannya, dan denyut-denyut itu semakin membuat telinganya berdenging.
Wajahnya membiru, begitupula seluruh tubuhnya. Mulutnya tak lagi bisa memasukkan udara ke tubuhnya, dan Atsumu tidak tahu kapan tepatnya tetapi Osamu berhenti memberontak. Dia baru menyadarinya ketika pintu yang dia kunci digedor, kemudian terbuka lebar dengan Aran berdiri di sana. Baru saja menendang pintu kamar mereka.
Aran segera merangsek masuk, lantas menarik Atsumu dari atas Osamu, memisahkan persatuan paksa mereka, dan memukul wajah hingga punggungnya menghantam dinding. Atsumu merosot, tidak repot-repot mencoba bangkit, meskipun rasa sakit berdenyut-denyut di hidungnya yang mulai mimisan.
"Apa yang kau lakukan, Brengsek!" seru Aran penuh amarah.
"Aku ..."
Suara Atsumu terasa jauh. Seolah dia baru saja memasuki lubang penuh air, dan mencoba menggapai kesadarannya yang seolah semakin menjauh.
Kita segera mendatangi Osamu. Kemudian menggigit bibirnya penuh rasa bersalah. Meskipun dia telah memanggil polisi di perjalanan, tetapi mereka telah terlambat. Tubuh Osamu penuh dengan gigitan, pakaiannya terkoyak, jejak-jejak perbuatan Atsumu mengotorinya, bahkan darah mengalir dari bagian bawah Osamu seperti seorang perawan, tetapi itu bukan. Atsumu mempenetrasi Osamu paksa sehingga merobek sebagian anusnya. Tangannya terikat, dan dia tak bergerak dengan bekas cengkraman di lehernya.
Setelah sadar secara penuh, Atsumu meraung-raung. Bersikap seperti orang gila, dan mencoba mencari Osamu yang telah menyatu dengan bumi. Beberapa hari kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dia ditemukan tergantung di kamar mereka.
Hari itu menjadi akhir dari Miya bersaudara.
END
A ku post sajalah/ Heh
