My Santa
By KunikidaDerai
Noblesse by Jeho Son and Kwangsu Lee
Normal!Au, Butler!Frankenstein x Child!Raizel
.
.
.
"Katanya saat malam natal, santa akan datang dan menaruh hadiah di bawah pohon natal loh!"
"Itu jika kau bersikap baik sepanjang tahun."
"Kalau aku sih pasti dapat!"
Kira-kira begitulah percakapan yang Raizel dengar saat ia sedang asyik membuat boneka salju di lapangan yang ada ditaman.
Raizel hanya diam, melihat tiga anak kecil yang sedang seru-serunya mengobrol sambil membuat boneka salju bersama. Kepalanya pun kembali tertunduk, ia ingin sekali bergabung namun saat Raizel mendekat, mereka pasti akan langsung pergi.
Padahal ia hanya ingin berteman, namun perilaku orang-orang padanya seakan Raizel adalah seseorang yang sudah dewasa karena sifatnya yang pendiam. Mereka seakan melupakan atau sengaja buta pada fakta bahwa Cadis Etrama di Raizel hanyalah anak kecil berumur 6 tahun.
"Raizel-sama."
Suara itu membuat Raizel menoleh dan mendongak, dan selalu disambut dengan senyuman lembut, nan ramah. Tatapan hangat itu selalu tersaji, bahkan suaranya begitu lembut untuk didengar.
"Wah, anda membuat boneka salju yang indah, ne. Sasuga Raizel-sama." Ucap pria itu sambil mengelus kepala Raizel dengan lembut, Raizel pun menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah malu.
Tangan itu pun terasa begitu hangat di kepala Raizel, namun secara bersamaan begitu lembut hingga menenangkan. Raizel menggapai tangan yang ada dikepalanya lalu menggenggamnya dengan erat.
"Pulang." Ucap Raizel datar, di balas oleh senyuman tipis dari Frankenstein yang merupakan pelayannya.
"Wakatta, Raizel-sama." Balas Frankenstein dengan ramah.
Walau terlahir dari kalangan orang berada, itu tak menjadikan Raizel mendapatkan segalanya. Ia memiliki mainan walau tak banyak, karena nyatanya ia tak terlalu suka bermain.
Yang tak didapatkan Raizel adalah kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya.
Klise memang, namun beginilah keluarga Raizel. Kedua orang tuanya sibuk mencari lembar-lembar uang tanpa memperhatikan apa yang diperlukan Raizel sesungguhnya.
Tapi, semenjak kehadiran Frankenstein yang menjadi pelayan pribadinya, rasa kesepian Raizel sedikit terkikis. Frankenstein itu sangat baik, perhatian, pandai memasak, dan masih banyak lagi.
Dia seakan seribu orang handal yang bersatu menjadi satu.
Frank lah temannya satu-satunya yang sama sekali tak memandang Raizel itu darimana. Hanya menganggap Raizel adalah anak kecil sama seperti yang lain.
Saat ini ia sedang berjalan di taman sambil menggandeng tangan Frank yang selalu menemaninya, menikmati butiran salju yang sudah turun sedikit demi sedikit.
"Frankie, kau tau santa?" tanya Raizel datar sambil mendongak menatap Frankenstein. Jangan tanyakan mengapa ia memanggil pelayan pribadinya dengan sebutan itu.
"Tentu saja. Semua orang tahu santa, Raizel-sama. Ia membagikan hadiah pada anak yang bersikap baik selama setahun penuh." Jelas Frank dengan senyum yang masih terlukis di bibirnya.
"Tapi aku tak pernah melihat santa."
Mendengar ucapan Raizel, entah mengapa membuat Frankenstein berhenti melangkah dan otomatis menatap anak itu. Tentu saja Raizel jadi ikut berhenti, namun kepalanya menunduk.
"Hadiahnya pun selalu tertulis dari Tou-sama dan Kaa-sama. Apa aku tak menjadi anak yang baik yah?"
Frankenstein menatap Raizel dengan sendu, berlutut menyamakan tinggi lalu membuat Raizel menoleh menatapnya.
"Raizel-sama, apa anda merasa melakukan hal yang tidak benar?" tanya Frankenstein dengan lembut, manik birunya menatap lekat manik merah milik Raizel.
Raizel menggeleng pelan, namun sama sekali tak membuka suara.
"Kalau begitu, anda pasti akan mendapatkan hadiah dari santa. Saya yakin." Lanjut Frank sambil tersenyum lebar dan mengelus surai hitam Raizel dengan lembut.
Rai mengerjap, lalu tersenyum dengan tipis dan lagi-lagi mengangguk pelan.
Dan disinilah Raizel kecil, menatap keluar jendela saat sudah berada dirumahnya. Langit sudah menghitam, suhu udara pun makin menurun, seharusnya ia menutup jendela agar angin tak masuk namun pemandangan turunnya butiran salju seakan menghipnotisnya.
"Raizel-sama, anda harus tidur dan menutup jendela itu. Anda tak ingin sakit, kan?" tegur Frankenstein saat masuk ke kamar Raizel dan membenahkan kasur untuk bocah itu tidur.
Raizel pun menoleh, langsung menutup pintu dan mendekati Frankenstein yang menatapnya dengan senyum.
"Aku tak ingin tidur, aku mau bertemu santa." Ucap Raizel dengan wajah polos.
"Tapi santa akan datang saat kau tidur, jadi tidur dulu yah. Nanti pasti anda terbangun saat santa masuk ke dalam kamar anda," tentu saja Frankenstein pintar memujuk.
Raizel mengangguk pelan, naik kekasur dan berbaring di ranjang yang kelewat besar untuk dirinya sendiri. Frankenstein pun dengan sigap menyelimuti tubuh kecil tuan mudanya itu.
"Oyasumi, Frankie."
"Oyasumi, Raizel-sama."
Setelah Raizel benar-benar tertidur, pria pirang itu pun langsung keluar dan pergi keruangannya. Dengan cepat memakia kostum merah putih, wig rambut putih, dan tak lupa jenggot yang begitu tebal. Jika keinginan mudah tuan mudanya tak tercapai, ia sama sekali tak pantas disebut pelayannya.
Ia pun keluar kamarnya dari jendela, lalu berjalan ke arah jendela kamar Raizel. Ia sudah memastikan tadi bahwa jendela kamar Raizel tidak terkunci yang memudahkan dirinya untuk masuk.
Perlahan namun pasti, Frankenstein membuka jendela itu. Sedikit melompat dan masuk dengan pelan, bahkan berusaha agar kakinya tak menimbulkan suara.
Frank pun mengeluarkan hadiah dari karung merah yang ia bawa, ditaruhnya kotak hadiah itu disamping tubuh Raizel yang berbaring di ranjang. Namun alangkah terkejutnya ia saat tangannya ditahan oleh tangan Raizel.
Manik merah itu perlahan terbuka, namun masih terlihat rasa kantuk hingga hanya sedikit terbuka. Matanya menatap lekat Frank yang dalam penyamaran dan bibirnya pun tersenyum tipis.
"As i thought, you are my santa, Frankenstein." Ucap Raizel lalu kembali tertidur lelap.
Frankenstein tersenyum tipis, dengan lembut mengelus lagi rambut hitam Raizel.
"Yes, young master."
Omake
Pagi natal pun tiba, matahari pun bersinar hingga cahayanya menembus kaca jendela kamar Raizel yang tak tertutupi kain.
Dengan perlahan Raizel terbangun, membuka matanya dan bangun mendudukkan tubuhnya. Tangannya menyenggol sebuah benda, membuat ia menoleh menatap benda itu.
"Kotak?" gumamnya saat melihat ternyata sebuah kotak yang ada disampingnya.
Dengan perlahan Raizel membukanya, penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak itu. Wajahnya pun seketika berbinar kesenangan saat melihat sebuah syal yang warnanya senada degan matanya, bahkan ada rajutan namanya disitu.
Pintu kamar terbuka dan Frankenstein masuk ke dalam kamar, melihat Raizel yang berbinar-binar menatap hadiah yang ada di pangkuannya lalu tersenyum tipis.
"Raizel-sama? Saya sudah mengetuk namun tak ada jawaban, jadi-"
"Frankie!"
Frank pun sedikit mengerjap dan menatap hadiah itu, memasang wajah kaget dan langsung tersenyum menatap Raizel.
"Sepertinya anda mendapat hadiah dari santa yah, Raizel-sama." Ucap Frankenstein dengan nada lembut.
Raizel segera turun dari ranjangnya, dan langsung berlari ke arah Frank dan memeluk kaki pria itu.
"Aku ... senang." Gumam Raizel yang masih bisa didengar oleh Frankenstein.
Frank pun melepaskan pelukan Raizel perlahan, berlutut menyamakan tinggi dan langsung memeluk Raizel dengan lembut.
"Kalau begitu aku juga."
End
N.A
apa yang kutulis ini--
mengapa akhir akhir ini tulisanku yang sudah memburuk makin memburuk?:'D
