Disclaimer : Naruto milik Kishimoto Masashi.

Peringatan : Cerita ini memiliki rating Dewasa (Mature, 18+) dan penuh dengan adegan vulgar. Yang belum cukup umur diharapkan tidak membacanya.


SIMPUL MERAH

(The Red Loop)


CHAPTER 1 :

Di Bawah Langit Yang Sama.

Kemanapun kau berada, tersebutlah sebuah legenda kuno yang diceritakan turun temurun. Sebuah legenda yang dikenal dimana-mana, yang menembus batas budaya dan negara.

Legenda 'Benang Merah', cerita tentang dua orang kekasih yang dihubungkan dengan sebuah benang merah oleh takdir. Saling terikat kuat dan tidak bisa terpisahkan, melintasi aliran waktu dan ruang.

Mereka yang diikat benang tersebut ditakdirkan untuk bersama, walaupun terpisah jarak dan keadaaan. Dikatakan sekalipun benang tersebut meregang dan kusut, membentuk simpulan, akan tetapi jalinan antara mereka tidak akan bisa diputuskan.

Ini bukanlah hal yang patut, Sakura mau tak mau mengakuinya sekarang.

Walaupun sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena ini memang sesuatu yang ia butuhkan. Setelah perang Shinobi ke-4 selesai, lalu kejadian di Bulan, dan Tim 7 kembali menyelamatkan dunia, semua kenormalan ini entah mengapa mengganggu sang kunoichi berambut pink tersebut.

Mungkin karena Sakura merasa seharusnya ada lebih banyak yang bisa dia lakukan jika saja dia diberi kesempatan, mungkin juga karena rutinitasnya sehari-hari mulai terasa membosankan dibandingkan masa-masa penuh aksi dulu. Atau mungkin, dia hanya lelah untuk selalu menunggu -yang Tuhan tahu- apa dan -Tuhan tau- sudah berapa lama.

Lalu, dengan menggunakan koneksi dan kemampuannya membujuk, yang mana, ehm- memanfaatkan sebotol sake termahal di Konoha dan sebuah gift-card dari sebuah toko buku terkenal, diantarkan kepada kedua gurunya (yang pernah dan sedang memegang jabatan Hokage itu) masing-masing, Sakura berhasil memanipulasi misi -yang dia berikan untuk dirinya sendiri- menjadi sebuah liburan singkat. Misi kecil yang seharusnya bisa diselesaikan oleh tim setingkat Genin hanya dalam beberapa hari itu menjadi misi solo untuk sang Jounin Kepala Rumah Sakit Konoha.

Tugas Sakura sebenarnya sederhana saja, mengumpulkan tumbuhan herbal tertentu untuk disimpan di rumah kaca medis Konoha, hanya sekarang ditambah dengan penelitian mengenai tanah dan tumbuhan setempat, dengan sebuah pondok kecil untuk dia huni sementara di hutan sebelah utara dekat perbatasan Konoha.

Setelah menetap, Sakura langsung menemukan beberapa hal yang ada di daftarnya dengan mengikuti jalan setapak dari pondok kecilnya ke danau di dekat situ. Tepian danaunya yang indah memukau Sakura, dengan banyak keanekaragaman hayati yang berpotensi untuk dimanfaatkan, sebuah lingkungan subur dengan ekosistemnya sendiri dan memiliki kondisi yang khas. Mencoba meniru keadaan alami tersebut dengan membuat lingkungan buatan biasanya mustahil, -dan ketika para medis Konoha mencobanya, hasilnya jauh dari harapan- maka dari itu diperlukan misi yang seperti Sakura jalani sekarang.

Saat sang kunoichi sedang menyiangi akar dari tumbuhan di sekitar daun dan batang teratai, sinar matahari menembus melalui atap pohon willow, membentuk kaleidoskop yang cantik dengan lingkungan sekitarnya. Sakura menghembuskan nafasnya, terpesona dan berpikir bahwa hari ini saja sudah terasa jauh lebih baik berkali-kali lipat dari hari-hari membosankan yang dia lalui di Konoha.

Dimana dirimu kini, Sasuke-kun?

Pertanyaan tersebut datang dan pergi, semudah bernafas, dan Sakura mencoba untuk tidak terlalu hanyut dalam kegalauannya. Membuat rem pengaman untuk menahan perasaannya agar tidak terlalu dalam merindukan pemuda berambut hitam itu, karena tidak bisa dipungkiri, hati sang gadis memang membutuhkan kehadiran Sasuke di kehidupannya sehari-hari. Namun untuk sekarang yang Sakura hanya bisa bertanya-tanya dan berharap.

Apakah kau juga sedang berada di bawah langit yang sama denganku?

Waktu berlalu tanpa disadarinya, dan kini keranjang Sakura sudah terisi nyaris penuh ketika dia berhenti sejenak dari ketenangannya mencabuti, menyiangi, membersihkan dan mengeringkan tumbuhan-tumbuhan yang dia temukan. Rambut berwarna gulali-nya jatuh ke samping dan menghalangi pandangannya, hingga tanpa sadar dia sisir dengan jari dan menyelipkan helaian nakal tersebut ke belakang telinganya.

Saat itulah Sakura dengan sigap berdiri, namun bukan karena bersiap untuk mulai memetik lagi. Butuh sekitar dua detik baginya untuk menyadari ada sesuatu yang salah, bukan hanya karena insting ninjanya yang tajam memperingatinya, tapi karena kulitnya terasa ditusuk sampai merinding dan bulu kuduknya berdiri merasakan sesuatu.

Sang kunoichi pun menarik nafas dalam-dalam lalu mulai mengamati sekitarnya : kanan, atas, kiri, dan bawah.

Hembusan angin yang bertiup secara tidak wajar, tidak sesuai dengan keadaan geografi lembah ini. Matahari yang bersiap tenggelam dalam beberapa jam ke depan, membuat banyak bayangan gelap yang tertangkap dalam sapuan matanya. Dan ada perasaan aneh bahwa dia tidak sendirian.

Sakura tahu bahwa dirinya adalah satu-satunya manusia di sekitar situ, post lain yang terdekat terletak sekitar 3 mil jauhnya dari sini. Sejak dia tiba tadi, Sakura selalu awas akan suara dan gerakan alam sekecil apapun, suara ranting patah dan dedaunan yang gugur, cuitan burung dan suara binatang hutan yang mengintipnya, aliran air yang mengalir. Semua menjadi bunyi latarnya, white noise yang menentramkan, memberinya ketenangan jiwa yang Sakura cari dari misi ini.

Sedetik berlalu, dan ketika suara jangkrik dan serangga tidak ia dengar lagi, Sakura membalikkan badannya, tangannya bersiap di atas kantong kunai sambil mengamati lingkungannya sekali lagi. Dia mengirimkan gelombang cakra, yang menjalar dan menutupi sekelilingnya dengan cepat. Bersamaan dengan cakranya yang menyebar dan menyentuh sudut-sudut terjauh hutan, sebuah sentakan magnetik meledak di dekat situ dan seketika Sakura merasakan tubuhnya gemetar seperti terkena percikan listrik.

Dengan segera, ia pun lari.

Sakura tau dia HARUS lari.

Keranjangnya terlupakan di tepian danau saat dia memompa cakra-nya ke kaki dan berlari secepat mungkin, melompat dari pohon ke pohon, matanya fokus menatap ke satu arah, tujuannya. Sakura tidak yakin apa yang akan dia temukan, bahkan apakah benar ada sesuatu. Sebagai seorang kunoichi, dia tahu seharusnya dia lebih waspada lagi. Namun ada sesuatu yang memaksanya terus berlari kesana, sesuatu yang entah mengapa tidak bisa dia abaikan begitu saja.

Sakura mendarat di tanah landai yang dikelilingi tebing-tebing curam, serta pepohonan dan semak-semak. Dengan segera, dia melihat sebuah tumpukan berwarna hitam berjarak beberapa meter di depannya. Menyadari bahwa tak ada alarm perbatasan yang berbunyi -yang berarti ini bukan penyusup, Sakura menghampiri sosok tersebut.

Sosok itu manusia, tepatnya seorang laki-laki, dan sekilas kelihatannya dia mengalami luka yang cukup parah.

Sakura segera mengaktifkan cakra penyembuh hijau di tangannya, dengan perlahan dia mendekati lelaki tersebut, seperti jika dia mendekati hewan liar yang terluka. Sang kunoichi berharap perlengkapan yang dibawanya cukup untuk menyembuhkan orang itu, sambil dalam hati mendata apa saja yang tersedia di tas dan pondoknya yang bisa dimanfaatkan nanti.

Gadis bermata hijau itu mendengar erangan dan dia menyerngit. Konfirmasi bahwa orang tersebut dalam keadaan terluka parah membuatnya mempercepat langkahnya, dan dalam sekejap Sakura sudah berlutut di samping sang lelaki, yang terbaring tengkurap, dengan rambut hitamnya teracak menutupi wajahnya, dan mantelnya yang juga berwarna hitam menutupi nyaris seluruh tubuhnya.

Sambil mengamati sang lelaki, Sakura juga menyadari rumput-rumput yang terbakar beserta debu-debu yang beterbangan di sekeliling sang pria. Tampaknya ledakan tadi mengenai tanah sekitar dan tubuh lelaki itu. Kemudian hidungnya mencium bau darah yang samar. Sakura mengumpat, menyadari baunya tersamarkan karena tertutup oleh asap yang pekat.

Sakura meraih dan menggerakkan tubuh sang lelaki secara sangat perlahan, berhati-hati agar lukanya tidak semakin parah. Satu tangannya sudah bersiap untuk memeriksa tubuh yang terluka itu, ketika matanya menatap wajah sang lelaki.

Sang gadis itu terkesiap pelan, terguncang, dan ketenangan yang diperlukannya sebagai seorang dokter terusik saat mengamati lebih jauh. Sakura mengatur nafasnya.

Setelah beberapa saat, baru tangannya kembali bersinar hijau lagi.


Note :

Original story di sini : https:(doubleslash) (slash)13602685(slash)1(slah)The-Red-Loop , ini terjemahan Indonesianya. Diterbitkan dengan izin penulis.

Cerita ini adalah hasil kolaborasi saya dengan /theredconversegirl untuk SasuSaku Twit Fest 2020 di bulan Juni. Dari berbagi headcanon saya kemudian kami brainstorm bareng sehingga lahirlah karya ini . Ada rangkaian ilustrasi yang saya buat untuk menemani cerita ini, bisa diliat di https:(doubleslash) .net(slash)en(slash)artworks(slash)82419731 (R-rated, harus memiliki akun pixiv untuk bisa melihatnya).