CHAPTER 4
Bersamamu.
Warning : Chapter ini sangat eksplisit, penuh adegan dewasa. Bagi yang belum cukup umur ataupun yang tidak suka membacanya, silahkan di-skip saja chapter 4 & 5.
Perut Sakura menegang saat dia kembali mendengar erangan nikmat dari kerongkongan kekasihnya.
Seperti cenayang, Sasuke meletakkan tangannya di perut Sakura, menemukan kait pengencang di sabuk pinggang sang kunoichi tanpa perlu melihat. Kemudian, dengan ahli melepaskannya cepat kilat dan melemparkan benda tersebut ke belakang. Sakura bertanya-tanya seberapa sering Sasuke melakukan hal itu di masa lalunya.
Mulut sang lelaki terus bergerak mencumbu sang gadis bahkan ketika tangannya membelai sisi samping tubuh Sakura, menarik baju merahnya ke atas sampai kulit mereka bertemu. Sentuhan tangan Sasuke tidak diduga ternyata terasa hangat, dan tanpa ragu tangannya menangkup payudara yang terkurung bra tipis. Sakura menjerit kecil ketika telapak itu menekan buah dadanya pelan.
"Hentikan aku sekarang," Sasuke bergumam di antara ciuman, tetapi Sakura mengabaikannya.
Sang gadis terbius dalam gairah yang memabukkan, semua panca indera-nya terstimulasi. Mereka berciuman, Sasuke menciumnya, meremas dadanya, mengusap putingnya, dan semuanya terasa sangat nikmat.
Sang lelaki mendorongnya perlahan hingga punggung Sakura menyentuh kasur, dan kemudian berbaring di sampingnya. Baju merahnya terangkat hingga tengah dada, dan Sasuke menghentakkannya dengan tidak sabar. Saat Sakura berusaha melepas pakaiannya, tangan kekasihnya justru sibuk menelusuri bagian bawah tubuhnya. Jari-jari panjang Sasuke tiba-tiba membelai bagian tengah selangkangannya, membuat Sakura tercekat, berpikir nafasnya berhenti.
Jemari itu kembali bergerak, kali ini sentuhannya lebih kuat, dua ujung jarinya menekan pusat organ intim dan menelusuri celah kewanitaannya. Sentuhan Sasuke terhalangi dua lapis pakaian yang masih ia kenakan, namun terasa membakar kulitnya langsung. Sakura merintih gelisah, tidak sabar, saat ibu jari sang kekasih mencuil karet celana pendek hitamnya, hendak melepaskannya dari tubuh si gadis.
Sakura sudah bertelanjang dada saat tatapan mereka bertemu kembali. Wajahnya memanas saat dia melihat Sasuke memandangi dirinya ; sang Uchiha pun tampak menahan nafas, rambutnya acak-acakan ke segala arah, mata tajamnya mengkilap. Lelaki tersebut menelan ludahnya dengan perlahan, dan Sakura tahu bahwa Sasuke akan meminta persetujuannya sebelum melanjutkan, namun Sakura tidak ingin dia berhenti sekarang.
Kunoichi pink itu menggigit bibirnya dengan -dia harap- menggoda, dan mencoba memberi tahu kekasihnya bahwa dia tidak ingin mereka berhenti. Sakura ingin terus disentuh seperti ini. Sasuke membuat suara serak yang tertahan dan menyusupkan jarinya ke dalam celana pendek Sakura. Lelaki tampan itu kemudian menarik celana tersebut ke bawah, dan tangan sang gadis langsung membantunya.
Turun, dan turun ke bawah, hingga lepas. Kerjasama yang kompak dari rekan satu tim.
Untuk pertama kalinya, Sakura benar-benar telanjang bulat di hadapan seorang lelaki, dan hatinya senang karena lelaki itu adalah Sasuke. Walaupun Sasuke yang ini belum secara resmi menjadi miliknya, Sakura bahagia mengetahui mereka akan bersatu di masa depan.
Tangan Sasuke yang hanya tinggal satu itu melempar pakaian sang gadis ke lantai dan kemudian kembali menelusuri tubuh polos Sakura. Sentuhan kecil yang lembut itu terasa membakar kulitnya, dan membuat tubuhnya tergelitik tidak sabar.
Sang lelaki menopang tubuh kekarnya di sisa lengan kirinya yang tersisa, memiringkan tubuhnya hingga leluasa melihat hasil perbuatannya. Jari-jarinya membelai dan menelusuri, dengan kelembutan yang membuat Sakura ingin menangis terharu. Sasuke berusaha membuatnya nyaman, dan sang gadis merasa hatinya terbang, cintanya kepada sang lelaki meluap-luap. Sakura tidak bisa berpikir, dirinya susah untuk memfokuskan diri ke satu hal ; semua yang kekasihnya lakukan terasa baru, dan.. nikmat.
Ketika sang kunoichi berpikir tidak akan ada yang melebihi hal ini, kekasihnya membuktikan sebaliknya ketika jari telunjuk sang lelaki menekan-nekan bibir kemaluannya. Menggesekkan lingkaran-lingkaran kecil, memeriksa dan menjajaki lipatan intimnya. Pinggul Sakura bergerak merespons, terangkat ke atas seakan-akan tubuhnya tersengat petir.
Dengan cepat Sasuke menghimpitnya dengan satu kaki, membuat Sakura diam di tempat. Sang pria mengulangi gerakan tangannya dan kali ini gadisnya sudah bersiap diri. Sakura menikmati sensasi sentuhannya, dan mengerang dengan lembut.
Ketika jari kekasihnya menekan lebih keras, tangan Sakura terangkat tiba-tiba dan mencengkram bahu prianya. Sasuke langsung mendesis, dan seketika itu juga sang gadis menyadari bahwa dia meremas area yang terluka dan membuatnya kembali berantakan. Segera ia meminta maaf, dan tangannya dengan cepat bersinar hijau, menutup dan menyembuhkan kembali luka Sasuke. Sang lelaki hanya menggerutu, namun sang kunoichi tahu bahwa inilah cara kekasihnya berterima kasih. Manis sekali, pikir Sakura terpesona.
Sasuke mendekat, dan rambutnya menusuk hidung Sakura. Sang gadis ingin mencium kekasihnya lagi dan berusaha menjangkau, namun sang lelaki memiliki rencana lain, dia lebih suka melihat Sakura menggelinjang dengan permainan tangannya.
Sang gadis mengeluh kali ini, hingga Sasuke membolehkan tangan Sakura membelai pipinya. Tangan itu kemudian merambat naik dan mengacak-ngacak rambut hitamnya, menahan helaian gelap tersebut sehingga sang gadis dapat melihat wajah tampan dan intensitas yang terpancar di matanya dengan jelas.
Sekarang karena Sakura ikut menyentuhnya, Sasuke beraksi lebih jauh ; menyelipkan jarinya lebih dalam, merasakan intisari Sakura yang sudah basah.
"Kau selalu siap sedia," erang Sasuke dengan suaranya yang dalam dan berat, menggetarkan hingga ke seluruh tulang punggung Sakura.
Memang, dan sang gadis membenarkannya langsung, "..hanya untuk Sasuke-kun."
Sasuke mengumpat, dan hal itu hanya menambah perasaan gelisah yang menjadi-jadi di titik antara kedua paha sang gadis. Intisarinya berdenyut-denyut menjawab belaian jemari sang kekasih, gelombang kenikmatan mengalir ke seluruh tubuhnya. Riak demi riak. Tanda-tanda akan datangnya pelepasan syahwat, gelombang terhebat yang pernah dia alami selama ini.
Pada saat itu pikirannya menyerap semua hal yang terjadi ; jarak antara mereka yang nyaris tidak ada, sentuhan-sentuhan dari sang kekasih, kejantanan Sasuke yang dengan keras menekan pinggulnya..
Sakura ingin menyentuhnya juga, ingin merasakan lelaki yang sudah lama memiliki hatinya ini. Dan jelas sekarang bukan waktunya -karena Sakura sudah nyaris mencapai batas-, namun ia meraih Sasuke dalam pikirannya. Hal itu melambungkannya, dan kemudian jari Sasuke memasuki dirinya, menelusuri liangnya dengan hati-hati dan perlahan, dan kembali keluar membelai inti kewanitaannya lagi.
Sesuatu menyembur dalam diri Sakura, merobek keluar erangan kencang dari bibirnya sambil membuat tubuhnya gemetaran tanpa henti dalam pelukan Sasuke. Sang lelaki kemudian menunduk dan mulutnya mulai mengulum salah satu puting merah muda kecoklatan.
Sakura terperangah, kenikmatannya membuncah berlipat-lipat saat lidah Sasuke memainkan bundalan yang mengeras itu. Payudaranya selalu terasa sensitif, tetapi ketika kekasihnya menarik-narik dan menghisap putingnya, Sakura terbang dan melihat bintang-bintang, ..bahkan sang rembulan, dan segala sesuatunya.
Segalanya terasa berlangsung lama dan cepat dalam waktu bersamaan, dan kekasihnya dengan sabar terus membuatnya merasakan sengatan demi sengatan gelombang klimaksnya.
Ketika Sakura kembali tersadar, dia merasakan hembusan nafas hangat Sasuke di atas perutnya. Kemudian lidah yang terjulur, menyentuh dan merasakan pusarnya. Sakura melihat ke bawah dan matanya bertumbuk dengan tatapan lapar milik sang lelaki. Si gadis takut untuk menanyakan apa yang sedang kekasihnya itu lakukan di bawah sana, karena mulutnya itu terus turun, dan turun, dan hampir menyentuh…
Oh.
Hanya rambut hitam Sasuke yang bisa dilihatnya kini, melayang hanya beberapa senti di atas paha mulusnya. Pemandangan tersebut cukup membuat panas, dan Sakura yakin tubuhnya bisa terbakar melihatnya.
Sapuan pertama lidah sang lelaki di lipatan intimnya memberikan sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat tulang belakangnya gemetar. Sakura menjerit kencang, dalam hati bersyukur mereka kini di tengah hutan, jauh dari mana-mana, karena kini jelas dia tidak akan bisa tetap diam. Terutama ketika mulut sang kekasih menyentuh bulatan sensitifnya, dan memainkan lidahnya di situ, membuat gerakan berputar dan membelainya seperti itu - dengan perlahan, usapan-usapan lembut yang disengaja, yang membuat Sakura gila, menjadikannya gadis liar yang penuh dengan gairah.
Hantaman kenikmatan tersebut membuatnya kehabisan nafas, hingga tangan Sakura terangkat dan mencengkram rambut hitam sang lelaki untuk menenangkan dirinya lagi.
"Kau suka itu?" Sasuke bertanya di antara kedua pahanya - yang membuka sendiri untuk memberikan ruang yang kekasihnya butuhkan. "Aku tahu kau suka."
Sakura hanya bisa mengangguk cepat, tidak bisa mengeluarkan suaranya karena dia memang suka hal itu. Juga fakta bahwa Sasuke tahu, dan dengan congkak memberitahunya, membuatnya tidak tahan.
Sang kunoichi mengejutkan dirinya sendiri beberapa saat kemudian, ketika tanpa sadar dia bergumam pelan, "..tolong", dengan suara manja dan putus asa, walau dia sendiri tidak tahu apa yang dia minta.
Erangan setuju dari Sasuke tenggelam saat dia menunduk kembali, menempelkan bibirnya ke celah intim Sakura. Sambil mulutnya mengulum dan menghisap, dua jarinya mendorong masuk ke dalam, dan Sakura meledak lagi. Kali ini orgasme sang gadis datang lebih cepat, tetapi juga berhenti dengan segera, namun tetap terasa senikmat yang pertama.
Sakura merasa terpuaskan, namun juga seperti tertahan, hingga dia merasa bisa meledak kapan saja. Sang gadis bangkit dan duduk dengan cepat, dan sang lelaki mundur bersimpuh. Mata Sakura menatap celana hitam kekasihnya yang masih rapi terpasang, dan dia tidak suka hal itu.
Tangannya bekerja dengan cepat, meraih kancing dan menurunkan resleting, membuat Sasuke tergelak saat sang gadis dengan cepat membuka pakaian yang tampak mengejeknya itu, turun melewati kaki-kaki panjang sang lelaki, kemudian membuangnya ke bawah.
Tampaknya Sakura melakukannya tanpa berpikir lebih jauh, karena sekarang mereka sama-sama telanjang dan kunoichi pink itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan berikutnya.
Sakura menyempatkan diri mengagumi tubuh polos sang pria walaupun dia merasa gugup. Tubuh Sasuke panjang dan mulus, dihiasi otot-otot yang terpahat kasar. Jari sang gadis menelusuri kotak-kotak otot perut Sasuke yang keras bagai batu, sesuatu yang lama dia impikan semenjak mereka bertemu kembali di tempat persembunyian Orochimaru dulu, dan senyum congkak menghiasi bibir Sakura saat dia menyadari otot itu bergetar karena sentuhannya. Sakura menyentuh seluruh tubuh kekasihnya sejauh yang dia bisa, bagaikan sebuah peta, menuntunnya menjelajahi dunia.
Menyentuh Sasuke seperti ini membuatnya tenang, dan membangkitkan kembali kepercayaan diri sang kunoichi. Sambil memiringkan kepalanya ke atas, mata hijaunya menangkap netra dua warna kekasihnya, dan yang terpancar di sana adalah tatapan kagum dari pria yang jelas-jelas jatuh cinta - dan hal itu menghentakkan jantungnya yang berdebar keras.
Sakura tidak bisa menahan diri untuk menciumi kekasihnya itu, mengikuti alur dari sudut dada bidang menuju leher jenjang Sasuke, kemudian menyambung ke garis rahangnya yang tegas, hingga sampai di bibirnya yang sudah merekah, menanti. Sang gadis tau bahwa Sasuke juga menikmati sentuhannya ini, jika nafasnya yang terengah-engah itu menjadi petunjuk. Dan juga ketegangan yang berdesir-desir di otot-ototnya setiap kali Sakura menekan tubuhnya.
Sang gadis tersentak kaget saat tangan sang kekasih turun dari rambut gulalinya untuk mencengkram bokongnya. Sasuke meremas-remas dan menggunakan kesempatan itu untuk menempelkan Sakura pada kejantanannya yang sudah mengeras, siap untuk beraksi. Sang pria juga membisikkan nama gadisnya itu dengan gelisah, terputus-putus di antara ciuman yang tidak henti.
Hal itu membakar Sakura, lidahnya terjulur dan kembali menelusuri alur ciumannya tadi, mencicipi, mencumbui dan merasakan setiap inci tubuh kekasihnya. Sasuke terasa seperti sesuatu yang asin, membumi, dan.. seperti seorang pria. Pria yang bagaikan candu, yang tidak akan pernah cukup untuk Sakura rasakan.
Mulut sang gadis terus turun ke bawah, hingga bibirnya menyentuh area V diperut bawah Sasuke -sangat seksi!, tangan sang lelaki menghentikannya.
"Kamu tidak harus.." sang Uchiha terakhir berkata, namun Sakura memotongnya.
"..ini keinginanku."
Tidak ada gerakan atau bahkan sekedar tatapan yang menghentikan Sakura kali ini, dan untuk itu dia merasa bersyukur. Sang gadis tidak tahu harus bagaimana jika Sasuke menolaknya.
Lidah Sakura menyentuh kulupnya, dan pinggul Sasuke tersentak ke atas. Kunoichi pink itu mencoba menahan seringainya sambil terus bekerja membelai kejantanan kekasihnya, mencicipi tekstur dan rasa dengan lidahnya di sepanjang organ yang mengeras itu. Sakura tidak begitu tahu apa yang dilakukannya ini, tapi dia mencoba sebisanya, sambil mengingat-ingat apa yang mulut sang kekasih lakukan di antara kedua pahanya padanya tadi.
Tangan Sasuke menggenggam helaian merah muda itu dengan kuat, hampir terasa sakit, saat Sakura menyadari bahwa sang lelaki tersebut sangat menyukai apa yang lidahnya perbuat ; memutar-mutar kepala batangnya yang bengkak, kemudian memberikan jilatan panjang hingga ke pangkal.
Saat Sakura mengulangi aksinya lagi, Sasuke mengeluarkan suara erangan yang dalam, seperti tersiksa, dan bagi Sakura itu terdengar sangat seksi, sangat Sasuke. Juga, mengetahui bahwa dirinyalah yang membuat Sasuke bereaksi seperti itu, membuat kepercayaan dirinya meroket, dengan cara yang tidak pernah dia duga. Sakura mendongak dan mencoba lagi, kali ini dengan memasukan ujung organ keras itu ke dalam mulut dan kemudian menghisapnya dengan lembut.
"SIAL-"
Sasuke mengutuk, menggerutu, dan memanggil nama Sakura dengan nada gelisah. Seketika itu juga sang gadis merasakan panas yang mengalir dan berkumpul di bagian bawah perutnya, menjalar ke inti tubuhnya. Kekasihnya semakin tidak bisa diam, erangan, umpatan, dan namanya silih berganti diteriakkan, membuat Sakura terasa mabuk ; dia tidak akan bisa berhenti sekarang. Namun kejantanan Sasuke terlalu besar untuk dia telan bulat-bulat, hingga tangan Sakura membalut pangkalnya, baru kemudian perlahan mulutnya turun dan mengulum.
Sang gadis membawa kekasihnya masuk, sedalam yang dia bisa. Mulutnya menghisap dan tangannya memompa bersamaan, mempelajari ritme yang paling disukai sang lelaki. Sakura ingin menggodanya, dan tanpa peringatan tiba-tiba mengganti irama lambatnya menjadi sangat cepat.
Erangan Sasuke bertambah putus asa, nafasnya bertambah cepat dan terputus-putus.
"...Sakuraaa..hh"
Sang gadis tidak tahu apakah kekasihnya itu memohon atau memberikan peringatan. Sasuke nyaris meledak, itu yang dia tahu.
Sasuke menyentakkannya dengan tiba-tiba. Tangannya masih menggenggam helaian rambut merah muda, dan gerakannya yang mendadak itu tidak membuat sakit, namun cukup mengejutkan sang gadis. Sang Uchiha terlihat marah dan kelaparan pada saat yang sama, matanya menatap tajam Sakura, seperti memberi peringatan.
"Belum." Ujarnya sambil mendorong Sakura terlentang.
Kunoichi pink itu cemberut, menatapnya dari kelipan bulu mata. Dia masih ingin lebih. Dan seperti bisa membaca pikiran gadisnya itu, Sasuke menjawab dengan geraman, membuka lebar kedua paha Sakura dengan kakinya.
Sang lelaki menggumamkan sesuatu yang tidak dapat Sakura tangkap dengan jelas, tenggelam oleh debaran jantungnya. Sang gadis gusar, kesal karena kekasihnya ini tampak berlama-lama menggodanya. Sakura tiba-tiba teringat perkataan Sasuke dahulu kala bahwa dirinya menyebalkan - apa artinya.. suka menggoda, mungkin? Apa itu maksud perkataan sang lelaki?
Dengan sengaja, Sakura mengangkat jari-jemarinya dan membelai bibirnya sendiri, kemudian mengulumnya perlahan. Satu demi satu. Teringat nasihat nakal dari Ino bahwa biasanya lelaki menyukai hal ini, dan Sakura ingin mengetahui apa benar seperti itu, apakah Sasuke tergoda melihatnya memainkan jari dengan mulutnya, karena kurang ajar sekali lelaki ini menariknya tadi saat dia..
Saat jarinya terselip dari bibir merahnya, Sasuke dengan cepat menarik tangannya dan membawanya ke atas kepala pink itu, mengunci kedua pergelangannya di situ. Mata sang lelaki berkilat penuh hasrat, mengunci manik hijau cantiknya.
Kekangan di tangannya memaksanya untuk berjuang membebaskan diri, hal yang alami bagi kunoichi seperti dirinya. Namun Sakura tidak memakai kekuatannya, karena sejujurnya dia juga menikmati hal ini. Sang gadis hanya menggelinjang di bawah kekasihnya, membusungkan dadanya dan mencoba untuk melepaskan diri, atau justru mendekat.. Entahlah, dia sendiri juga bingung.
Sakura terengah-engah, payudaranya naik turun dan bersinggungan dengan kulit dada kekasihnya yang terasa membakar itu. Jemari Sasuke yang menekan nadinya terasa seperti cap, memberinya penanda bahwa dirinya dan sang kekasih saling memiliki. Kulitnya terasa panas, dan Sakura dengan resah ingin menghapus jarak yang tersisa di antara mereka.
Sang gadis ingin menyerang bibirnya, namun Sasuke lebih cepat, meluncur turun dan menangkap salah satu puting berwarna pink kecoklatan dan kemudian.. menghisapnya keras-keras.
"Ssasuuk-Oooooh!" Sakura tidak kuasa menjerit.
Erangan sang nona terdengar kencang dan tidak terkendali, dan Sakura bahkan gagal menyembunyikan suaranya di antara bantal. Sakura merasakan bibir Sasuke menyimpul, terangkat, si brengsek itu menyeringai, bangga akan perbuatannya.
Sang lelaki melepaskan putingnya dengan bunyi pop yang keras, namun lidahnya terjulur, menelusuri lembah di antara kedua buah dada dan kemudian menangkap puting yang satunya. Menggodanya dengan jilatan ringan, sekali-dua kali, dan seterusnya. Dengan refleks, pinggul Sakura bergerak, mencari.. Ah, selangkangannya terasa gatal, kosong-
"Lagi-" sang gadis melenguh manja.
Bibir Sasuke merayap kemana-mana.. Dengan putus asa ingin menyentuh setiap senti tubuh molek calon istrinya ini. Sakura pikir permintaannya itu tidak terdengar, namun kemudian-
Kemudian, Sakura merasakannya. Ujung keras yang menyentuh celah intimnya, bersiap masuk. Denyut jantungnya berdetak cepat, dan sang gadis menahan nafasnya, karena dia tau apa yang akan terjadi, dan siapa yang melakukan hal ini kepadanya. Sebutir air mata jatuh membasahi pipinya, Sakura menghela nafasnya, dia menangis bahagia.
"Sakura," ibu jari Sasuke membelai pergelangan tangannya, dan Sakura menatap mata sang kekasih, memberinya perhatian penuh. "Kau.. tahu jurus itu?"
Suara serak dan berat Sasuke membuatnya harus berpikir sejenak maksud pertanyaan tersebut, dan dia menahan dengusan setelah menyadari apa yang sang lelaki maksudkan, sedikit tersinggung karena, tentu saja.. Ninja medis mana yang tidak tahu jurus kontrasepsi dasar? Semua kunoichi tentu saja tahu, bahkan itu adalah standar prosedur sebelum memulai misi apapun.
Alis merah mudanya terangkat, lalu dia tersenyum, "Sudah terpasang."
"Kapan?" Sasuke kembali bertanya sambil mengusap rahang sang gadis dengan hidung mancungnya.
"Sebelum kau buang baju merahku tadi," karena Sakura selalu penuh persiapan, tentu saja. Dan jika Sasuke adalah suami masa depannya, sudha pasti dia tahu, bukan? Shannaro!
Shinobi Uchiha tersebut menggigiti cuping telinga Sakura, mengulumnya sebelum berbisik pelan, menggodanya "..gadisku yang hebat."
Sakura tidak tahu harus bereaksi seperti apa, namun dia tahu bahwa ini adalah salah satu saat-saat yang akan selalu dia kenang selama hidupnya. Bukan hanya dari kata-kata, tetapi juga cara Sasuke mengucapkannya. Nadanya memuji, pengakuan bangga akan kemampuan sang gadis, dan nuansa possessif yang membuat tubuh Sakura menggigil.
Sang nona kemudian memalingkan wajahnya, bibirnya kembali menangkap bibir kekasihnya, dan menciumnya dengan segala hasrat dalam dirinya. Terasa asal-asalan di awal, namun ketika Sasuke meluruskan posisi tubuh mereka, ciuman itu berubah jadi penuh gairah, panas dan mmmhh.. nikmat.
Kedua paha Sakura terangkat ke atas, lututnya menekuk, menyambut kekasihnya. Kemudian sang gadis menekan pahanya ke pinggul sang lelaki, merasakan kejantanan Sasuke menggesek selangkangannya ; panjang, besar, mengesankan.. dan..
Tidak cukup dekat.
Pergelangan tangannya kini bebas, walaupun Sakura langsung merasa kehilangan akan sentuhan dan kehangatan di situ. Namun kemudian Sasuke menopangkan tubuhnya ke siku, dan sang gadis melihat otot lengan yang kuat itu meregang ke arah bahunya. Pengalih perhatian yang bagus, Sakura pikir, sambil menjilat bibirnya dan bersiap.
Sang lelaki mendorongnya lagi, kali ini dengan tekanan yang lebih kuat, dan Sakura merasakan perasaan aneh yang nikmat, otot-otot kewanitaannya merenggang perlahan, saat Sasuke memasukinya -senti demi senti-, dan berhenti sejenak ketika dirasakannya ada penghalang kecil.
Namun hal itu tidak berlangsung lama, Sasuke hanya seperti memberi jeda untuk memberitahu sang gadis : Ini saatnya.
Kemudian dia mendorong keras.
Bibir merah Sakura terbuka, sedangkan mata hijaunya tertutup.
Tidak sesakit yang dibayangkannya, robekan selaput daranya justru lebih terasa seperti campuran sedikit rasa sakit dan kenikmatan yang membakar tubuhnya luar dalam, dan yang bisa Sakura lakukan hanya membusung dan menempelkan tubuhnya kepada tubuh Sasuke.
Mulut Sasuke membungkam mulutnya dalam sekejap, menelan jeritan kecilnya. Kejantanannya sudah seluruhnya terkubur dalam liang sang gadis, dan Sakura langsung merasa penuh.
Amat. Sangat. Penuh.
Otot dalamnya menegang dan meregang membungkus sang lelaki, menjepit kuat, dan membuat Sasuke mengerang dalam-dalam.
"Sakuraahh.." gumamnya di antara ciuman.
Jari-jemarinya mencengkram helaian rambut merah muda, menarik sang gadis dengan kuat,
menggunakan genggamannya untuk mengontrol ciuman saat dia melahap Sakura, menjelajahi mulutnya secara menyeluruh.
Sakura kemudian teringat bahwa dia memiliki kedua tangan yang bebas untuk menggerayangi kekasihnya. Satu tangannya langsung menuju kepala Sasuke tanpa bisa dia tahan, sudah lama Sakura ingin memainkan rambut hitam sang lelaki. Tangan yang lain membelai sisi tubuh sang Uchiha, kemudian berpindah ke punggung dan berhenti di tulang belikat, memeluk erat.
Lalu, segala sesuatunya melebur.
Mereka bergerak bersama-sama, dan Sakura merasakan kekasihnya di mana-mana. Kunoichi itu merasakan semuanya. Sasuke tidak berhenti barang sejenak, dia memimpin gadisnya selangkah demi selangkah, perlahan, kemudian dengan cepat. Tarian indah yang menyatukan kedua tubuh mereka, sesuatu yang ternyata Sakura kuasai dengan mudah.
Sasuke bertopang pada lututnya, jemarinya mencengkram pinggul Sakura erat saat sang gadis merasakan gelombang kenikmatan pertama yang membawanya lebih dekat ke tempat yang penuh dengan gairah, bintang-bintang, dan mimpi-mimpi.
Setelah terbiasa, tubuh Sakura kini tahu apa yang harus dilakukannya, - atau apa yang dia inginkan. Saat Sasuke mendorongnya kuat, Sakura maju bersandar ke depan, berpegang pada kekasihnya.
Sudut baru itu membuatnya merintihkan nama sang lelaki, kuku jarinya menghujam ke bahu kekasihnya, meninggalkan bekas luka merah yang jelas. "Sasu-ke..AAHH!"
Sebagai tanggapan, Sasuke mengeluarkan lenguhan putus asa yang menggetarkan seluruh tubuh sang gadis - bahkan mungkin seluruh ruangan. Sakura menempelkan payudaranya ke dada bidang itu, dan menenggelamkan wajahnya di sudut leher sang lelaki. Kulit Sasuke terasa panas, bau tubuhnya menyengat dan oh, sangat, sangat maskulin. Memabukkan.
Bibir Sakura menempel di kerongkongan Sasuke, tidak bisa berhenti ; oh, ini sangat candu! Sang gadis terus menciumi sang kekasih, bibir dan lidahnya membelai kulit halus sepanjang leher itu, mencicipi sang lelaki yang terus menghujamnya dengan keras di bawah sana, dengan kecepatan yang semakin meningkat tajam.
Sakura bahkan bisa merasakan debaran kencang jantung Sasuke yang memukul dadanya, detak nadi sang lelaki terasa membakar di bibirnya. Membuatnya terpacu dengan gembira.
Sasuke mengelus kepala pink itu dengan hidungnya, dan sang gadis balik menatapnya dari balik bulu mata kemerahan yang lentik. Mata dua warna sang lelaki memancarkan api, seperti terbakar gairah yang membutakan, hal yang baru pertama kali Sakura alami, namun tidak akan pernah terasa cukup untuk dia rasakan.
Tatapan Sasuke seakan mengatakan, 'Tenanglah, sayang.. Aku bersamamu, percayalah padaku', dan Sakura mempercayainya.
Sakura memeluk erat saat Sasuke menambah kecepatannya, memasukinya dengan sentakan-sentakan terukur dan dalam. Hingga akhirnya sang gadis tidak bisa hanya pasrah berdiam diri, pinggulnya kini ikut bergerak seirama dengan sang kekasih, melawan setiap dorongan yang diterimanya. Suara kulit bertemu dengan kulit memenuhi seluruh ruangan, disertai erangan penuh hasrat dari keduanya. Bercampur menjadi suara erotis yang bergema di pondok kecil ini, membawa kedua insan yang dimabuk cinta itu ke tepian gairah.
Mereka pun jatuh hampir bersamaan.
Sakura tenggelam dalam tatapan tajam Sasuke yang menguncinya, kehilangan kendali akan dunia nyata yang entah -hanya Tuhan yang tahu- seberapa lama. Kunoichi medis itu hanya tahu bahwa tubuhnya terasa kebas dan dia menggigil terus menerus tanpa sadar, saat Sasuke kemudian meledak sambil melanjutkan aksinya, berusaha mengisinya penuh.
Tangan yang tadi memegangi pinggulnya dengan penuh hasrat itu kini meluncur ke bawah dan meremas bokongnya, menekannya kuat hingga pinggul mereka saling menempel. Kemudian, sang lelaki memutar pinggulnya, menggilas sang gadis.
Perlahan-lahan Sasuke menurunkan kecepatan, namun di setiap gerakan tulang pinggulnya menyapu buntalan saraf kecil Sakura yang sensitif, memperpanjang kenikmatan luar biasa yang menyiksa mereka. Mereka terbang bersama, hingga gelombang kenikmatan tersebut perlahan menghilang dan kesadaran mereka kembali.
Sakura terengah-engah, tangannya memeluk sang lelaki erat, ketika mereka merebahkan badan ke atas kasur. Sang gadis berada antara bahu lebar dan sisi tubuh Sasuke, setengah terhimpit berat tubuh sang lelaki, namun Sakura tidak keberatan. Dia menikmati kedekatan dan keintiman ini.
Dengan tangannya yang bebas, Sakura menelusuri urat nadi yang tercetak jelas di lengan Sasuke. Menakjubkan, Sakura pikir, berharap dia bisa terus membelai Sasuke, mereka bisa terus seperti ini selamanya.
Ketika otaknya mulai bekerja lagi, Sakura menyadari bahwa meskipun mereka terpuntir dalam pelukan, Sasuke masih berada dalam tubuhnya, masih menyatu dengannya. Otot vagina Sakura menegang dan meremas, dan kejantanan sang lelaki langsung berkedut merespon.
Sang gadis tidak tahu seberapa lama.. pengalaman ini, kebersamaan dengan calon suaminya di masa depan ini akan berlangsung, dan walaupun dia belum mengenal sang lelaki ini seperti sang istrinya nanti, atau seperti ia mengenal Sasuke-nya, Sakura ingin menikmati kebersamaan mereka lebih lama lagi.
Menyalurkan kekuatannya, Sakura menggulingkan tubuh mereka. Sesaat mereka saling mengapit bersisian, kemudian dalam sekejap Sakura duduk di atas menunggangi kekasihnya.
Kunoichi itu kemudian menatap dalam pria yang bertelanjang bulat ini, yang suatu saat akan menjadi miliknya selamanya, kali ini tanpa malu-malu. Sakura memandanginya lekat-lekat, mengagumi pengaruh dirinya kepada sang kekasih.
Lelaki ini, lelaki yang indah, tampan, dan menggairahkan, sedang terengah-engah dan terlihat puas dan kenyang. Dan semua itu karena perbuatan dirinya, Haruno Sakura.
Darahnya berdesir saat melihat Uchiha Sasuke seperti itu, hawa panas langsung mengalir dan menarik-narik bawah perutnya, membuat mulutnya terasa kering. Sakura tidak menduga dia masih menginginkan lebih, dan.. secepat ini.
Tapi mungkin memang selalu seperti ini dengan Sasuke, Sakura selalu menginginkan yang lebih. Lagi dan lagi.
-bersambung-
