Disclaimer: Square Enix


Yuffie bersandar di pinggiran dinding ruang dansa. Alunan melodi mengalun di istana disertai dengan dansa para bangsawan. Gadis berambut hitam mengkilap meneguk jus anggur, melihat para bangsawan berdansa Yuffie menghela nafas.

"Putri Yuffie, kami sudah mencarimu kemana-mana, kemana saja Putri selama ini?" Aerith, pembantu Yuffie lari ngos-ngosan.

"Aku dari tadi di sini menunggu pesta ini berakhir."

"Raja Wutai ingin memperkenalkan kamu dengan calon pengantinmu."

Yuffie memutar bola matanya, menghembus poni rambut hitamnya. "Aku pikir aku sudah dengan jelas mengatakan kalau aku tidak mau menikah, mereka semua tidak sepadan dengan aku."

"Jangan berkata demikian Tuan Putri, aku tadi sudah lihat lima pemuda, semuanya ganteng-ganteng loh, tuan putri tidak akan menyesal," lekukan bibir terpancar di mukanya dan mendorong tuan putri remaja.

Sedetik saja Yuffie hampir kehilangan keseimbangan. "Hei pembantu, aku ini tuan putri, bagaimana bisa kamu memperlakukanku seperti ini."

Pembantu dengan pita merah muda seakan tidak mendengar keluhan putri tetap mendorong sampai putri mau berjalan. Perhatian para bangsawan mulai tertuju pada putri Wutai. Putri Wutai dengan berat hati berjalan ke singasana raja.

'Mengapa sih aku harus menikah? Bukankah aku sudah belajar keras untuk menjadi penguasa Wutai dan sekarang aku akan dinikahkan untuk menjadi pabrik anak. Apa selama ini yang aku lakukan sia-sia? Kalkulus, fisika, kimia, sastra, politik, semua sudah kukuasai. Aku tidak mau dikekang di sangkar burung.'

Putri melihat raja di hadapan lima pemuda yang hendak melamar anak satu-satunya. Seperti biasa, Yuffie sudah menyiapkan alasan untuk tidak menerima lamaran. Yuffie akan membuat mental para pelamar down supaya tidak ada calon yang akan melamar dan Yuffie bisa bebas. Yuffie setengah berlutut di hadapan raja Wutai dan duduk di kursi sebelah kanan raja.

"Para tamu yang terhormat, putri kesayangan saya sudah datang. Silakan kalian sampaikan latar belakang kalian," kata Godo Kisaragi, raja Wutai.

Yuffie memandang jendela istana, awan dan matahari beserta burung terbang dengan bebas di langit. Baginya, latar belakang mereka tidak layak untuk didengar, membosankan dan penuh basa-basi. Yuffie membalikkan pandangan ke arah calon pengantin. Uh-oh, mereka sudah selesai berbicara dan menantikan keputusan putri.

"Terima kasih kalian sudah datang untuk melamar saya, saya akan memberi jawabannya. Pertama dimulai dari paling kiri."

Para pembantu berdiri di sisi samping singasana melihat Yuffie dengan mata berbinar-binar seakan-akan memaksa Yuffie untuk menerima lamaran mereka, tapi sebagai putri, dia tidak akan memenuhi harapan mereka.

"Aku tidak suka wajahmu yang terlalu feminim dan gaya rambutmu yang seperti jambul ayam, mungkin saya akan menyebutmu 'Jambul Ayam'."

Tifa, pembantu berambut coklat panjang membungkuk lesu. "Apa sih yang kurang dari Pangeran Cloud? Aku pikir Yuffie akan memilih dia."

"Hehe, aku bakal menang taruhan nih, siapkan uangmu," bisik Aerith.

"Pilihanmu itu paling tidak mungkin, bagaimana kamu bisa memilih Raja Reeve? Dia kelihatan tua," balas Tifa balik.

"Mana tahu tuan putri lebih mempertimbangkan status dibandingkan rupa,"

"Sudah berkali-kali kubilang tuan Putri pasti tidak akan memilih salah satu dari mereka dan taruhan kalian itu bodoh," desis Shelke, pembantu rambut pendek coklat.

"Tapi pangeran-pangeran ini begitu ganteng, masa Yuffie tidak memilih salah satu di antara mereka? "balas Elena, pembantu berambut pirang, menunggu keputusan putri untuk pangeran kedua.

"Aku tidak suka wajahmu yang pucat seperti tembok yang belum dicat, mungkin 'Wajah Tembok' akan sesuai denganmu."

Elena menghela napas. "Bahkan Pangeran Vincent yang sempurna dipanggil wajah tembok oleh putri Yuffie."

Yuffie menunjuk pangeran Reno. "Kamu terlalu kurus kering dan rambutmu yang merah seperti ranting yang kebakaran di musim panas." Dia menunjuk pangeran Tseng. "Matamu terlalu sipit seperti kodok lagi merem."

Memberi nama julukan dan membuat pemuda-pemuda patah semangat membuat tuan putri makin bahagia. Entah perasaan yang tidak bisa dideskripsikan, merasa lebih berkuasa. Yuffie makin menikmati pemberian nama julukan kepada calon lamarannya dan ini akan menjadi yang terakhir.

"Kamulah yang paling terburuk, jenggotmu sangat kotor dan jelek seperti jenglot, dan hari ini aku akan memanggil kamu 'Jenggot Jenglot'." Yuffie tertawa lepas. Dia sangat suka dengan nama panggilan terbaru.

Aerith menepuk jidat. Dia, Tifa, dan Elena menyerahkan uang kepada Shelke. Muka Shelke seakan berkata,'Kan sudah aku bilang.'

Tuan putri menyadari hanya dia seorang yang tertawa, berbalik melihat wajah ayahnya Godo yang sudah merah padam. Yuffie memucat. Sepertinya kali ini dia sudah sangat keterlaluan.

"Saya menyesal sudah gagal mendidik putri yang tidak mempunyai sopan santun. Sebagai manusia pun tidak layak. Saya bersumpah saya akan menikahkan putri semata wayangku kepada pengemis pertama yang menginjak istana."

Semua hadirin melongo.

Yuffie tidak percaya dengan perkataan ayahnya. Tidak mungkin ayahnya akan menikahkan dia dengan pengemis. Akan tetapi, melihat raut muka ayahnya, sepertinya ini serius. Apa yang harus dia lakukan? Sudah terlambat untuk memohon maaf sekarang.

Dengan demikian, proses pelamaran ini adalah yang terakhir kali untuk Yuffie. Putri bisa menghirup udara segar. Lagipula belum pernah ada pengemis yang datang ke istana. Belum pernah dalam sejarah. Jadi tidak mungkin akan ada pengemis datang ke istana kan?

Lima bulan kemudian…

"Bravo, bravo!"

Yuffie melotot pengemis yang selesai memainkan musik. Jantung berpacu mengingat sumpah ayahnya untuk menikahkan dia dengan pengemis yang kucel. Tidak mungkin aku dinikahkan oleh gembel ini kan?

"Lagu yang kamu mainkan sangat indah. Sebagai hadiah dari lagu yang kamu mainkan, saya akan memberikan anakku sebagai istrimu."

Putri menatap ke arah ayahnya. Bibir tak kuasa bergetar. Air mata bernaung di kantung mata seakan mau tumpah.

"Ayah, jangan lakukan ini pada anakmu."

"Sumpah adalah sumpah, anakku."

"Bukankah Ayah mencintai anakmu? Mengapa Ayah membuangku? Siapa yang akan menjadi penerus Ayah?"

"Ayah tetap mencintaimu, Ayah mau kamu belajar untuk menjadi manusia sesungguhnya."

"Manusia sesungguhnya? Bukankah aku sudah belajar keras siang dan malam. Sejak insiden itu, aku mempelajari etika, etiket, tata krama dengan sungguh. Oh, kumohon jangan buang aku." Untuk pertama kali dalam hidup, Yuffie memohon dengan air mata berlinang.

"Sumpahku adalah sumpah, anakku. Pergilah menjadi manusia sesungguhnya. Lebih baik menjadi manusia sesungguhnya dibandingkan memiliki tahta tapi hilang kemanusiaanmu."

"Apa itu menjadi manusia sesungguhnya? Aku akan belajar dengan keras asalkan aku tidak dinikahkan dengan pengemis," suara Yuffie menjadi serak. Hilang sudah harga diri, dilihat pembantu pun tidak masalah asalkan-

"Pergilah dengan pengemis itu. Itu perintah Raja bukan permintaan."

Yuffie tak bisa berkutik, dengan mata sembap, hidung berair, berjalan keluar dari istana.

Ini adalah hari paling memalukan sepanjang hidup putri.

Lagipula apa itu manusia sesungguhnya?