Disclaimer: Square Enix
Yuffie keluar dengan pria pengemis bertopi jerami dan rambut panjang lusuh berminyak, baju celana compang camping. Tuan putri yang sekarang menjadi orang biasa hanya bisa mengisak. 'Tidak mungkin aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan dia. Ini terlalu kejam.'
Pengemis menarik tali kekang kuda dan siap untuk dikendarai. Kaki Yuffie melangkah hendak menaiki kuda.
"Istriku-"
Yuffie meringis."Kenapa? Bukankah seharusnya aku naik kuda dan kamu jalan?"
"Itu ketika kamu menjadi putri. Sekarang kamu hanyalah orang biasa. Kamu harus berjalan mendampingi suamimu. Itu adalah kebiasaan umum di daerah ini." Suami Yuffie manjat menduduki punggung kuda.
Gadis hanya pasrah. Tak ada pilihan lain selain mendengar perintah suaminya. Yuffie berjalan sambil berlinang air mata. 'Aku tak suka dia. Dia menjengkelkan. Aku rindu Tifa dan Aerith. Mereka baik, ramah, sabar. Ah…'
Sekilo dua kilo ditempuh tanpa suara.
"Aku tidak menyangka tuan putri kuat berjalan."
"Salah besar kalau kau pikir aku ini adalah putri manja." Kaki Yuffie sudah pegal. Harga dirinya tidak mengizinkan untuk mengaku lelah.
"Maafkan aku sudah salah menilai-"
"Au!" Yuffie kesandung batu jatuh menelungkup tanah.
Pengemis menghentikan kuda, turun ke bawah. "Apakah kamu baik-baik saja?"
Putri berdiri. "Tidak aku baik-baik saja."
Darah mengalir di lutut putri tak menghentikan Yuffie untuk senyum dan berjalan. Sakit. 'Aku tak mau disangka lemah oleh orang biasa. Aku harus tunjukkan kalau aku kuat.' Selangkah lagi, kaki Yuffie tak bisa menopang berat tubuhnya. Dia menyiapkan dirinya untuk jatuh dan dipermalukan lagi.
Tubuh Yuffie terasa ringan. Tahu-tahu sudah duduk di atas pelana kuda.
"Aku kadang heran dengan kekeraskepalaan putri. Tidak ada yang salah kalau bilang tidak sanggup. Kamu hanya menambah kekhawatiranku dengan egomu yang besar." Suami mengoyak bagian dari bajunya dan mengikat lutut kanan istrinya. "Egomu tidak membantu siapapun."
Dup-dup-dup
'Perasaanku campur aduk. Aku kesal, sedih, tapi senang juga. Perasaan apa ini? Kenapa jantungku berlari kencang padahal aku hanya duduk di atas kuda? Aku harus mencari distraksi.'
Mata putri memandang hamparan ladang sawah memutih terhampar sinar matahari. Yuffie tidak tahu dimana dia sekarang, tapi malu untuk bertanya, setidaknya menanyakan teritori akan membantu untuk menentukan lokasinya."Bilang Tuan, milik siapa ladang sawah beribu ribu hektar ini?"
"Ladang sawah beribu ribu hektar ini adalah milik Raja Reeve Tuesti yang sekarang dipanggil Raja Jenggot Jenglot. Aku dengar nama panggilan raja ini muncul dari pesta terakhirnya. Seandainya kamu menikahi Raja Jenggot Jenglot, ladang sawah ini akan menjadi milikmu."
Gadis berambut hitam menundukkan kepala. Err… canggung. Pemberi nama panggilan itu sekarang berada di samping pengemis itu. Mana mungkin dia mau ngaku setelah sekarang menjadi orang biasa. Dulu, pemberi nama panggilan adalah kebanggaan dia, sekarang tinggallah aib.
Setelah beberapa lama, Yuffie melihat perumahan bangsawan. Lantai marmer putih dengan berlian menghiasi tiang rumah. Para bangsawan berpakaian gaun dengan berbagai permata, Topaz, Zamrud, Ametis. Muka mereka putih mulus seperti bulan purnama di malam hari.
"Bilang Tuan, milik siapa perumahan mewah ini yang melebihi keindahan istana duluku?"
"Perumahan mewah ini adalah milik Raja Jenggot Jenglot. Seandainya kamu menikahi Raja Jenggot Jenglot, perumahan mewah beserta bangsawan akan menjadi milikmu."
Yuffie menggigit bibir bawahnya. Dia tidak suka dengan cara bicara pengemis ini meski tidak ada salahnya. "Aku tidak tahu kalau Raja Jenggot Jenglot itu besar. Aku selalu mengira kerajaanku adalah terbesar."
"Rasa nasionalisme kadang membutakan objektivitas dan rasionalitas, Istri."
"Tunggu, dari mana pengemis sepertimu belajar kata itu?"
"Raja sangat mementingkan pendidikan baik dari rakyat jelata sampai bangsawan. Jadi, tidak heran kalau kamu akan menemukan semua orang di sana sangat berpengetahuan dan tentunya bijaksana dibandingkan kerajaanmu."
"Penyesalan memang selalu datang terlambat. Aku menantikan emas dan malah mendapat jerami."
Dahi pengemis berkerut."Apakah aku tidak cukup untukmu? Aku sekarang adalah suamimu dan bukankah aku lebih berharga dari jerami?"
"Iya, iya. Terima kasih sudah memberi tahu kenyataan."
"Apakah ini sarkasme?"
"Cari tahu sendiri, bukankah kamu lebih pintar dan bijaksana daripada aku?"
Tenggorokan Yuffie terasa kering. Apa gunanya memulai pertengkaran? Tidak ada yang berubah. Untuk menghentikan air mata tentunya. Oh, begitu malang nasibnya. Yuffie bersyukur pengemis itu tidak melanjutkan bincangan sia-sia ini.
Derap langkah kuda membawa Yuffie sampai di depan gubuk jerami kumuh. Mulut mantan putri terbuka seperti orang bodoh. Memang rumahnya tidak akan seindah istananya, tapi ini… apakah masih layak untuk ditinggal?
"Bilang Tuan, milik siapa gubuk kumuh ini?" Yuffie mengulang perkataan meski tahu akan jawabannya. Yuffie tidak akan percaya sampai-
"Gubuk sederhana ini adalah milik kita. Silakan masuk."
Yuffie melangkah masuk ke dalam gubuk. Tidak ada marmer mengkilap dan perabotan berlapis emas, hanya dinding jerami dan meja kursi kayu disertai dapur.
Putri menghela nafas. Biasanya Aerith dan Tifa menyambut kedatangan Yuffie, menyisir rambut, memandikan dia. Sekarang, tidak ada orang yang akan membantu dia.
"Apakah kakimu baik-baik saja?"
"Kakiku sudah sembuh. Aku bisa berjalan seperti semula." Yuffie tersenyum tidak mau menambah beban suaminya dengan biaya pengobatan.
"Baiklah, aku lapar. Kumohon, masaklah untukku." Pemuda menaruh topi jerami di atas meja melipat tangan tidur.
Yuffie mengepalkan kedua tangannya. 'Sekarang ini adalah hidup baruku. Aku akan memasak sup krim kentang untuk makan malam. Sepertinya, aku masih ingat bagaimana Aerith memasaknya.'
Malam datang dan disertai lampu minyak. Di atas meja terpampang sup krim kentang.
"Wangi benar masakanmu. Aku tidak sabar untuk memakan makanan pertama dari istriku."
Yuffie tersenyum menyembunyikan jarinya yang tersayat pisau. Usahanya kali ini tidak akan sia-sia. Dia sudah melakukan sebisanya dan bahkan mengorbankan jari lentiknya untuk suaminya.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Pemuda itu terbatuk-batuk.
Putri memandang horror. Tidak mungkin-
"Bolehkah aku mengetahui resep apa yang kamu pakai?"
"Aku hanya mengikuti resep pembantuku. Kentang 3 butir, garam satu sendok kecil, gula satu sendok-"
"Apakah kamu mengecap dulu gula dan garam?"
"Apa? Tapi bukankah aku mengikuti kata tabel itu." Adrenalin membuat Yuffie melupakan rasa sakit di lututnya. Yuffie berbalik dan pergi mengambil botol garam dan gula beserta tulisannya.
"Sayang, maukah kamu mencoba mengecap sedikit dari botol itu?"
Putri membuka botol gula, mencelupkan sedikit jari telunjuk, menaruh sedikit butiran di lidahnya. Asin.
"Tapi aku pikir-" nafas Yuffie makin pendek.
"Aku tidak menyangka kalau kedua botol ini tertukar." Yuffie merasa tidak adil, dia hanya mengikuti apa kata botol itu.
"Jangan khawatir, aku tidak menyalahkanmu. Jadikan ini sebagai pembelajaran untuk ke depannya."
Makan malam terasa tersiksa dengan rasa aneh dari sup krim kentang.
"Sayang, kamu sudah pasti lelah. Biarkan hari ini aku yang mencuci piring. Pergilah istirahat."
Yuffie mengangguk, mengambil tikar yang tergulung, meletakkan di atas lantai. Dia membaringkan dirinya. Keras dan dingin seperti realita.
