Disclaimer: Square Enix
"Sayangku, kita harus mencari nafkah. Aku akan pergi ke luar mencangkul sawah, dan engkau menjahit."
"Baik …"
"Ada apa sayang?"
"Aku agak tidak terbiasa dengan panggilan baru ini, tapi tidak masalah. Bagaimana aku memanggilmu?" Putri agak tegang. Semoga bukan sayang, Yuffie merasa pingin kumur-kumur setelah mengatakan panggilan sentimental ini.
"Tuan saja sudah cukup."
"Baik, Tuan."
Suaminya pergi membuka lemari, membawa kain meletakkan di atas meja. Kain flanel, kain kapas, peralatan jahit. Suami melihat Yuffie seakan menanyakan kredibilitasnya atas menjahit.
"Tentu saja aku bisa. Aku pernah sekali dua kali belajar dari Aerith, pembantuku." Tidak benar-benar belajar, hanya melihat. Aerith kelihatan gampang saat menjahit, dia bahkan bisa ngobrol sambil menjahit. Harusnya menjahit itu gampang kan?
"Aku pulang," kata suami menenteng cangkul.
Kain yang semula putih menjadi kotor dengan bercak-bercak merah. Yuffie memandang tuannya. "Tuan, sepertinya aku menusuk jarum terlalu dalam. Darahnya tak mau berhenti mengalir… Apakah aku akan mati?"
"Sayang, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu duduk di sana dulu. Aku akan pergi ambil obat."
Pengemis yang sekarang adalah suami membalut luka Yuffie. "Bukankah kamu bilang bahwa kamu bisa menjahit?"
"Aku pikir aku bisa-"
"Ah, istri apa yang aku dapatkan, cantik iya, tapi masak tidak bisa, menjahitpun tidak bisa."
"Maafkan aku yang tidak bisa apa-apa."
"Sepertinya pekerjaan kasar tidak cocok untukmu. Bagaimana kalau kamu menggunakan kelihaian berbicaramu untuk jual keramik di pasar?"
"Tapi, para bangsawan akan menertawakanku berjualan di depan pasar. Aku tak ingin menunjukkan mukaku di depan umum."
"Harga diri tidak akan membuatmu kenyang, sayang. Kamu harus membantu kita mencari nafkah atau kita akan kelaparan sebelum musim dingin datang."
Selama ini Yuffie berpikir dia bisa segalanya, dan dua hari ini menunjukkan dia selalu menjadi beban suaminya. Selama ini Yuffie pikir dia bisa segalanya, tapi kenyataannya pembantu istanalah yang membantu setiap keperluannya. Seperti tiap orang yang tidak tahu berterima kasih, dia pikir bahwa itu adalah hal yang wajar. Sudah berapa kali hati Aerith disakiti oleh Yuffie? Apakah itu maksud ayahnya untuk menjadi manusia sesungguhnya?
"Baiklah, Tuan. Aku akan pergi berjualan sesuai dengan perkataanmu."
Keesokan harinya, putri mendorong gerobak peralatan makanan menuju ke pasar. Semakin berjalan mendekati pasar, denyut nadi semakin kencang. Bagaimana kalau ternyata dagangan tidak laku? Bagaimana kalau dia berpapasan dengan kenalannya dulu? Apakah dulu dia pernah menyakiti mereka? Terlalu banyak orang yang dia ejek. Sebenarnya, semuanya dia hina ketika dia menjadi putri. Kalau sekarang dia dihina, dia berani menanggung kesalahan dulunya.
Putri menampar kedua sisi mukanya. "Ayo, jangan takut, hari ini aku akan berjualan untuk kehidupan yang lebih baik."
Malam pun tiba, seperti biasa, mereka selalu berbicara ketika makan malam. Satu-satunya momen untuk berkomunikasi bagi Yuffie dan suaminya.
"Bagaimana jualanmu sayang?"
"Tuan, aku tidak menyangka orang-orang negara ini sangat baik. Meski dulu aku sempat menghina bangsawan kerajaan sini, mereka tetap membeli daganganku dan menyemangatiku. Bayangkan, aku pikir tadi pagi aku bakal dipermalukan habis-habisan oleh orang sini."
Suaminya melihat dengan tatapan lembut.
Yuffie tersipu. "Sebenarnya kehidupan menjadi orang biasa tidaklah buruk. Aku semakin menyadari kesombonganku. Semakin menghargai kebaikan orang. Oh, betapa egoisnya aku dulu. Aku malu." Putri menutup kedua muka dengan tangan.
Pemuda itu menurunkan kedua tangan Yuffie ke atas meja. "Istriku makin hari semakin dewasa. Maafkan keluhanku dulu, aku tidak pernah menyesal menjadikanmu sebagai istriku."
"Oh, terima kasih. Memang benar katamu dulu, maafkan aku telah menyusahkanmu dulu."
Dia merasa nafas suaminya semakin mendekat. Otomatis, jantung berdegup kencang memekakkan telinga. Yuffie menutup mata tidak tahu sedang menunggu apa, tapi sepertinya hal yang menyenangkan. Keningnya terasa ditekan oleh sesuatu yang empuk.
Tidak tahan dengan kegugupan ini, Yuffie membuka mata, dan mengambil peralatan makan untuk dicuci. Selagi mencuci piring, dada Yuffie terasa sesak tak karuan. 'Berhentilah, wahai degupan. Aneh ketika dicium papaku, aku tidak seperti ini.' Dan malam itu dia tidak bisa tidur. Sejak saat itu dia tidak akan pernah mengizinkan suaminya untuk mencium keningnya lagi.
Sudah tiga bulan penuh, bisnis Yuffie berlangsung dengan baik. Pelanggan berlalu datang. Yuffie menyadari demografi pelanggannya tidak berkaitan dengan barang dagangannya. Semuanya lelaki. Mereka hanya menyapanya, memberikan uang, lalu pergi. Kesal, iya, tapi setidaknya, dia tidak menjadi beban rumah tangga, itu sudah cukup menghibur. Yuffie tidak berani menceritakan kepada suaminya mengenai ini karena takut suaminya akan terbakar cemburu asmara.
Hari ini seperti biasa, Yuffie menegakkan tenda di sudut pasar. Yuffie mengambil peralatan masak dari gerobak ke atas lantai. Sendok, cek. Garpu cek. Mangkuk, cek. Kuali, cek. Yuffie akan memulai hari.
Dari kejauhan terdengar derap kuda. Terlihat tentara menunggang kuda sempoyongan dan semakin diperhatikan kuda itu menuju ke arah tempat dagangan Yuffie.
Terlalu kencang. Yuffie terbujur kaku. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Membawa barang dagangannya, dia akan dilindas kuda. Meninggalkan barang dagangannya, dia akan dimarah suaminya.
Alhasil kebanyakan mikir, tendanya dan barang dagangannya dilabrak tentara. Tentara itu dengan perasaan tidak bersalah melanjutkan perjalanan seakan akan tidak terjadi apa-apa. Singkatnya, Yuffie baru menyaksikan tabrak lari.
Yuffie mengangkat tenda yang ambruk. Terlihat kuali, mangkuk, sendok dan garpu hancur tak bersisa. Hati putri terasa sakit. Bagaimana dia menyampaikan hal ini kepada suaminya? Sebelumnya suaminya memperlakukan dia dengan baik karena dagangannya bagus. Bagaimana perlakuan suaminya kalau dagangannya hancur semua?
Para pedagang melihat kejadian tadi turut bersimpati membantu Yuffie menaruh barang dagangan yang hancur lebur ke atas gerobak.
"Sayang, aku tidak pernah menyangka kalau kamu ceroboh dengan meletakkan barang dagangan di sisi pasar. Sisi pasar gampang dilewati tentara mabuk yang lewat.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
Yuffie menggeleng kepalanya menunduk sambil meminum sup.
"Kelihatannya kehidupan berdagang kurang cocok untukmu.
"Ah, aku dengar di istana ada lowongan pekerjaan. Bagaimana kalau kamu kerja di sana sebagai pembantu? Setidaknya kamu lebih aman di sana."
"Istana milik siapa?"
"Raja Jenggot Jenglot."
"Apakah tidak ada pilihan lain?"
"Sejauh ini, hanya ini tawaran pekerjaan yang aku dapat."
Bekerja di bawah orang yang sebelumnya dia hina itu serasa ditusuk jarum berkali-kali. Sakit. Malu.
Tunggu, pekerjaan istana tidak harus berpapasan dengan raja kan? Dia bisa memilih kerja di dalam dapur. Yuffie ingat Tifa selalu bawa pulang sisa makanan istana untuk dua anak yatim piatu, Marlene dan Denzel.
"Apakah salah satu lowongan pekerjaannya jadi juru dapur?"
"Mengapa dengan pertanyaan spesifik itu?"
Tidak mau berpapasan dengan Raja Jenggot Jenglot tentunya. "Aku ingin meningkatkan kemampuan masakku sehingga kita bisa makan enak tiap hari." Itu alasan kedua.
"Ah, seingatku istana sedang mencari juru dapur. Aku akan rekomendasikan kamu kepada juru koki istana yang aku kenal dan besok siang kamu akan mulai bekerja."
"Terima kasih, Tuan."
