Disclaimer: Square Enix


Hari pertama kerja di dapur sangatlah berat. Masak untuk dua orang dan masak untuk seistana itu beda jauh. Gerakan Yuffie juga termasuk lamban sehingga dimarahi terus oleh atasannya.

"Dasar anak manja, kelihatan kamu di rumah selalu dilakukan seperti putri sehingga pekerjaan ini saja kamu tak bisa."

Tidak salah sih. "Maaf, aku akan berusaha."

Akhirnya, waktu istirahat tiba. Yuffie pergi ke taman dengan kolam ikan koi, tempat yang dia suka pergi dulu ketika mengunjungi istana sebagai status putri. Dulu, dia tidak peduli dengan pesta dan pergi sendirian ditemani oleh Aerith dan Tifa. Oh, betapa dia rindu dengan mereka.

"Kenapa putri semurung itu?"

"Aerith?" apakah dia sudah gila sampai-sampai menghalusinasi suaranya. Yuffie berbalik ke belakang. Aerith membungkukkan badan tersenyum melihatnya.

"Ah, Aerith? Apakah itu kamu?" Yuffie menampar kedua mukanya. Sakit. Ini bukan mimpi.

"Abaikan tindakanku tadi. Bagaimana kamu bisa sampai sini?

"Aku selalu memikirkanmu.

"Bagaimana kabar Tifa?"

"Tunggu, tunggu, pertanyaan putri terlalu banyak. Aku jawab satu-satu.

"Iya, aku Aerith.

"Aku menikah dengan tentara dari kerajaan sini. Oleh karena itu, aku pindah di sini.

"Tifa baik-baik saja. Dia masih kerja di istana putri."

"Apa? Kamu sudah menikah? Wah, selamat banget. Siapa lelaki beruntung yang menikahi wanita sesempurna kamu?"

"Kamu terlalu memujiku. Dia adalah panglima tentara bernama Zack Fair.

"Hentikan ngomong mengenaiku, bagaimana putri bisa bekerja di sini?"

Yuffie menghela nafas, menceritakan bagaimana dia mulai pekerjaan menjahit, berjualan, dan jadi juru masak.

Mata Aerith terbuka, kedua tangan menutup mulutnya. "Oh, putri, aku tidak menyangka putri sudah sedewasa ini."

"Tapi yang aku temui adalah kegagalan. Bagian mana menunjukkan kedewasaan?"

"Menerima kegagalan dan berani memulai yang baru, Putri. Setiap manusia akan dewasa setelah melewati banyak rintangan."

Putri Wutai melihat ke arah kolam. "Sekarang aku pikir, selama aku mejadi putri, jalanku selalu mulus, tidak ada hambatan. Aku selalu berpikir aku dianugerahi Tuhan dengan kelancaran ini.

"Tapi setelah menjalani kehidupan sebagai orang biasa, bagaimana berbahayanya jalan hidupku yang dulu, seperti kereta kuda yang berlari dengan rem yang rusak. Sekejap saja menabrak tembok, hancur seketika.

"Mungkin ini maksud ayah menjalani hidup sebagai manusia sebenarnya, hidup dengan rendah hati. Aku mempelajari ini dengan cara yang keras." Pandangan Yuffie terasa kabur dengan air mata.

"Di sini kalian rupanya ngobrol ngalor ngidul lupa pekerjaan. Apakah kalian mau dipecat?"

"Terima kasih, Aerith. Aku akan kembali bekerja."

"Sebenarnya, aku lebih suka dengan putri yang sekarang. Kualitas putri sejati tetap ada di dirimu entah kamu ini putri atau rakyat jelata. Ingatlah itu."

Yuffie mengangguk.

"Waktu terus berjalan, nona nona."

Yuffie lari menuju ke dapur. "Baik, bos. Maafkan aku."


"Istriku, kemampuan memasakmu makin hari makin berkembang."

Putri merasa malu dengan pujian. "Maafkan aku, kamu harus tersiksa dengan masakanku dulu.

"Maafkan aku juga karena sudah merepotkanmu sejak hari pertama kita bertemu."

"Untuk apa kamu minta maaf, bukankah itu kewajibanku?"

"Jadi ini hanya tugasmu? Sungguh berat hidupmu. Mungkin kamu akan lebih bahagia dengan istri yang handal, bukan anak kecil yang manja."

"Bukanlah demikian maksudku Sayang. Aku tetap mencintaimu apa adanya. Handal tidak handalnya itu tidak mempengaruhiku untuk tetap menerimamu. Kamu adalah hadiah dari Raja dan tentu aku akan merawatmu dengan sepenuh hatiku."

"Oh, hentikan gombalanmu. Aku jadi malu, kenapa kamu selalu sepuitis ini? Aku tidak berhak diperlakukan sebaik ini. Kebaikanmu membunuhku."

"Ini bukanlah gombalan, Istriku. Ini adalah perkataan yang keluar dari isi hatiku."

Yuffie selalu kalah dengan perkataan manis suaminya. Suaminya selalu mengalahkan adu mulutnya dengan pujian dan kebaikan. Dia merasa jadi orang yang cari rusuh. Tapi, dia bersyukur ada orang yang mencintainya dengan tulus tanpa memandang kedudukannya.

"Terima kasih, Tuan."

Beberapa bulan kemudian…

Semuanya sibuk mempersiapkan pesta pernikahan Raja Jenggot Jenglot. Semua pekerja kalang kabut memasang dekorasi, memasak makanan, menggunting tanaman. Yuffie juga termasuk dalam hitungan orang yang sibuk. Sibuk memasak.

Semua orang diundang ke pesta pernikahan Raja. Semua orang sangat senang dan menantikan pesta ini. Tapi, Yuffie tidak, dia ingin bawa pulang makanan kepada suaminya. Pesta pernikahan ini seperti tamparan keras atas kesalahan Yuffie dan dia tidak mau tahu siapa mempelai wanita beruntung itu.

"Yuffie, apakah kamu akan merayakan pesta pernikahan Raja?

"Tunggu sebentar, apakah kamu berniat pulang cepat di pesta pernikahan Raja?" kata Aerith.

"Aku tahu ini tidak sopan, tapi ada orang yang harus aku beri makan."

"Dan itu hanya alasan."

"Iya, kamu benar. Kamu sendiri tahu melihat hasil dari kesalahanku itu menyakitkan. Jangan paksa aku hadiri pesta ini.

"Lagipula aku bukan siapa-siapa di sini, palingan mereka akan mengira aku sakit atau ada keperluan mendadak.

"Maaf Aerith, aku pergi dulu."

Aerith menghela nafas, melambaikan tangan.

Yuffie meninggalkan dapur, berjalan ke pintu belakang dapur, terkunci. Putri menekan-nekan kenop pintu, mendorong pintu. Semuanya tindakannya tidak membantu.

'Ah bagaimana bisa pintu belakang dikunci. Biasanya tidak seperti ini. Apa aku harus berjalan pintu depan? Bagaimana kalau mereka melihatku? Dan tidak mungkin juga aku berdiam di dapur ini.'

"Yakin kamu tidak ingin mengikuti pesta?"

"Aerith, kalau ini pekerjaanmu, bukalah pintu ini."

"Tidak, bukan aku yang mengkunci pintu."

"Biasanya pintu ini tidak terkunci, bagaimana bisa hari ini pintu ini terkunci?"

"Aku juga tidak tahu. Apakah kamu ingin mengikuti pesta?"

Yuffie menghembus poninya. "Baiklah. Apakah aku punya pilihan?

"Palingan aku akan mengambil makanan pesta dan bawa pulang sebagai pelayan istana biasa."

"Ayo." Aerith mendorong Yuffie menuju ke arah pesta dansa.

"Jangan dorong aku, Aerith. Aku bisa berjalan sendiri."

Yuffie dan Aerith berjalan memasuki pesta pernikahan Raja Jenggot Jenglot. Indah, sangat indah. Permata warna warni menghiasi ruang dansa. Para bangsawan berpakaian indah bagaikan bidadari. Putri melihat bajunya sendiri. Lusuh. Kalau seandainya, dia masih menjadi putri-

"Aku pergi mengambil makanan dan segera pulang."

"Apakah kamu tidak mau berdansa dulu?"

"Tidak. Aku mau pulang."

Dia mengambil daging lembu ke dalam kotak makanannya. Sup krim kentang, ah pengalaman masak pertama yang gagal. Kali ini, kemampuan Yuffie memasaknya sudah meningkat. Setelah mengambil makanan yang dibutuhkan, mantan putri berjalan keluar ke aula pintu depan.

Raja Jenggot Jenglot berdiri dihadapannya. Orang terakhir yang Yuffie ingin temui sekarang berada di hadapannya. Badan Yuffie bergetar. Dia menunduk, berjalan cepat melewati Raja.

"Tunggu sebentar." Raja mengenggam lengan kanan Yuffie.

Yuffie sangking terkejutnya berusaha melepaskan genggaman Raja yang kuat. Tangan kirinya terasa lemah melepaskan kotak makanan. Daging lembu dan sup krim kentang berceceran di atas lantai.

Perhatian bangsawan, pembantu, dan rakyat menuju ke arah Raja dan Yuffie. Orang yang pernah Yuffie ejek juga hadir melihat keadaannya yang miris. Pangeran-pangeran yang Yuffie dulu pernah tolak melihat kejadian ini mulai tertawa keras, diikuti oleh cekikikan para pengunjung pernikahan Raja. Putri sombong yang menolak lamaran Raja Jenggot Jenglot sekarang menjadi pembantu dari Raja yang dia tolak.

Yuffie berusaha melepaskan diri dari genggaman Raja. "Sekarang hamba sudah mendapat akibatnya setelah mempermalukan Raja di depan umum. Jadi, hamba mohon Yang Mulia lepaskan tangan hamba. Biarkan hamba pulang menghilangkan kekhawatiran suami hamba di rumah."

"Mengapa kamu harus pulang ke rumah ketika suamimu ada di depan matamu?"

Mulut seluruh penghuni istana terbuka lebar.

Yuffie melongo. Suara ini adalah suara suaminya. Berarti selama ini-

"Aku mencintaimu, Yuffie.

"Akulah pengemis yang menikahimu. Akulah yang menukar label garam dan gula. Aku juga tentara yang menghancurkan barang daganganmu.

"Semua ini kulakukan agar kamu bisa belajar rendah hati. Dan selama kita tinggal bersama, kamu sudah menunjukkan kerendahan hatimu.

"Berbahagialah Sayang, hari ini adalah pesta pernikahan kita yang sesungguhnya."

Air mata membasahi muka Yuffie. Kali ini bukan air mata penyesalan, tetapi air mata kebahagiaan. Susah payah masa lalu hilang dalam sekejap. Apakah ini mimpi? Yuffie menampar mukanya.

Raja setengah berlutut, menawarkan cincin berlian.

"Apakah Putri Yuffie bersedia menikah dengan Raja Reeve Tuesti, Raja Jenggot Jenglot?"

Yuffie mengangguk. "… Iya, saya bersedia. Saya bersedia menikah dengan Raja Reeve Tuesti, Raja Jenggot Jenglot."

Tepuk tangan dan siulan memenuhi istana.

Semua kerajaan termasuk Kerajaan Wutai juga mengunjungi pesta pernikahan. Yuffie akhirnya bisa bertemu dengan ayahnya Godo. Mereka berpeluk menangis melepas rindu. Yuffie juga meminta maaf kepada pembantu Wutai yang sudah dia sakiti.

Dan sejak saat itu, Ratu Yuffie dan Raja Reeve hidup bahagia untuk selama-lamanya.


Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
2 Korintus 8:9 TB

Boleh tahu bagaimana tanggapan kalian? XD