Pukul satu pagi. Pesta di kantor masih tetap ramai dan beberapa tamu undangan bahkan baru datang.

Berbagai hiasan natal terpasang disana-sini—meskipun sebagian besar dari mereka bahkan tidak merayakannya, namun rasanya kurang lengkap kalau kantor tidak mengadakan pesta natal di akhir tahun. Hari ini adalah hari terakhir mereka bekerja dalam tahun ini dan nantinya mereka akan bertemu lagi hari Senin pertama di tahun yang baru.

Kakashi keluar dari ruang fotokopi dan merapikan kemejanya. Beberapa orang menatapnya dengan bingung melihat bekas lipstick disana-sini, namun cepat-cepat mengalihkan pandangan ketika seorang wanita menyusul di belakangnya.

"Kurasa malam ini kau akan pulang ke apartment-ku, Hatake-san." Bisiknya sambil menyelipkan kunci mobil ke saku jas Kakashi. "Aku akan menunggumu di parkiran pukul dua nanti."

Kakashi tidak menjawab, tidak juga menghindar ketika kecupan lainnya diberikan wanita itu di pipi kanannya. Ia membiarkan wanita tadi pergi meninggalkan dirinya sebelum akhirnya melempar kunci mobil tersebut dengan asal ke atas salah satu sofa.

"Maaf, Anko, malam ini aku pulang ke apartment Mei..." ujar Kakashi pada dirinya sendiri. Ia berjalan menyusuri ruangan, memandang seorang gadis dengan rambut cokelat yang sedari tadi tersenyum ke arahnya, namun terhenti saat sebuah lengan menahannya.

Kakashi menoleh. "Hei."

"Hei. Kode merah, tolong kirimkan file ini ke kantor pusat." Kata Asuma Sarutobi tanpa basa-basi. "Sebentar lagi Kurenai akan membunuhku."

"Kau benar-benar ahli dalam merusak mood seseorang. Sialan." Umpat Kakashi. Ia menyikut rusuk Asuma sekilas dan pada akhirnya berlalu masuk ke dalam ruang kerjanya.

Kakashi menjatuhkan diri di atas kursinya. Sebenarnya ia tidak terlalu suka keramaian, tapi pesta seperti ini adalah momen yang sangat baik untuk mencari pasangan. Ralat, bukan pasangan, tapi mungkin teman bermain. Semua orang akan berdandan heboh dan tentu saja terlihat sangat menawan. Kakashi menghela napas dan menyalakan komputernya dengan ujung jari.

Flashdisk yang diberikan Asuma terjatuh begitu saja dari tangannya. Pria itu menunduk dan berusaha mengambil flashdisk itu, namun sayang kepalanya terantuk meja begitu keras sampai-sampai ia jatuh pingsan.

.

.

"Kakashi... Kakashi..."

Kakashi membuka kedua mata dan menatap orang di depannya dengan bingung.

"Shizuka?"

Shizuka? Ulang Kakashi pada dirinya sendiri. Gadis itu terlihat sama persis seperti terakhir ia melihatnya. Rambut hitam pendeknya masih terlihat sama, poni panjangnya masih terlihat sama, namun matanya...

Matanya kosong.

"Kakashi?" panggil Shizuka lagi. "Hai..."

Seketika juga Kakashi merasakan tubuhnya meremang. Ia menyadari bahwa Shizuka yang berada di depannya terlihat sangat pucat. Dan bukankah Shizuka mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu?

"Yap, aku adalah hantu." Ujar Shizuka tenang, seperti bisa memmbaca pikirannya. Ia duduk di depan Kakashi dengan satu kaki di atas kaki yang lainnya, sambil terkikik pelan. "Aku kaget kau masih mengingatku. Kukira kau langsung melupakanku begitu kau mengencani Rin!"

"Mana mungkin aku melupakanmu... kau adalah pacar pertamaku..."

"Dan perempuan pertama yang kau sakiti, apa aku benar?"

Sial, aku harus cepat-cepat bangun, pikir Kakashi pada dirinya sendiri. Dan berhentilah bicara padanya, semua ini hanya halusinasimu!

Kakashi memutuskan untuk tidak mengacuhkan Shizuka dan berjalan keluar dari ruangan. Ia setengah berlari menuju lobi utama—jantungnya berdebar-debar tidak karuan dan keringat mulai membasahi kemejanya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa lobi utama tidak berpenghuni.

"Kau pikir kau bisa melarikan diri, Kakashi...?"

Kakashi menutup matanya. Tangannya bergetar karena ketakutan.

"Maafkan aku," ujar Kakashi, setengah menangis. "Apa yang kau mau? Apa yang harus kulakukan untukmu? Apa aku harus mengirim bunga setiap bul—"

"HEI!" jerit Shizuka marah, matanya memerah dan itu terlihat sangat menyeramkan. "Aku tidak butuh belas kasihanmu! Aku disini berniat untuk membantumu..."

Kakashi membuka satu matanya dan mendapati Shizuka telah terlihat normal kembali. Sebenarnya tidak sepenuhnya normal, namun matanya sudah tidak merah lagi.

"Hidupmu benar-benar kacau, Kakashi. Kau seorang pecandu alkohol, kau tidak pernah menghubungi keluargamu, kau benar-benar, benar-benar laki-laki pelit—" ujar Shizuka sambil menusuk-nusuk dada Kakashi, yang pastinya menembus tubuh pria itu dan membuat Kakashi sedikit panik. "—kau selalu menyakiti perempuan dengan sadar, camkan kata-kataku itu..."

Setiap kali Shizuka membuka mulutnya, Kakashi merasakan terpaan angin dingin di tengkuknya. Pria itu berjalan mundur ketika Shizuka mulai mendekatinya dengan aura mencekam.

"Kau tahu apa yang pantas kau dapatkan, Kakashi? Pemakaman kosong. Ya. Tidak akan ada yang datang ke pemakamanmu, orangtuamu bahkan harus menghubungi teman-temanmu satu persatu agar mereka datang ke pemakamanmu—"

"Hei, tunggu sebentar," potong Kakashi panik. "Aku akan mati?"

"Semua orang akan mati! Kau kira kau siapa, Dewa?!" tanya Shizuka kesal. "Omong-omong, itu bukan urusanku. Sakura akan menjelaskannya untukmu."

"Sakura?" tanya Kakashi. "Siapa Sakura?"

"Kau terlalu banyak bertanya." Sergah Shizuka. Tangannya terulur dan anehnya kali ini, ia bisa menggenggam tangan Kakashi. "Ayo."

Dan saat itu juga dunia Kakashi berputar.

.

.

Kakashi berusaha untuk memfokuskan pandangannya. Ia ingat tempat ini.

"Ruang kelas kita, tahun 2001," ujar Shizuka sambil tersenyum kecil. "Itu kau... dan itu aku."

Kakashi mengikuti arah pandangan Shizuka. Diujung kelas ada dirinya sendiri, saat itu yang baru berusia empat belas tahun, sedang menyapu sudut kelas dengan fokus. Disisi lain, Shizuka kecil sedang menghapus papan tulis dan ia tidak berhenti menoleh ke belakang.

Memperhatikan Kakashi.

"Hah, ini sedikit memalukan, tapi tidak apa." Kata Shizuka pelan.

"Shizuka."

Kakashi dan Shizuka memperhatikan anak laki-laki tersebut berjalan menuju muka kelas. Ia mengulurkan tangan dan meraih penghapus papan tulis lainnya dan mulai menghapus papan tulis di depannya.

"Lebih baik kau pulang saja, ini sudah sore."

"T-tapi, Kakashi, pekerjaanku belum selesai..." ujar Shizuka pelan.

"Menggemaskan."

"Menggemaskan."

Shizuka memperhatikan Kakashi kecil dan Kakashi disampingnya yang berujar bersamaan. Tidak ingin terlalu terbawa suasana, hantu perempuan itu mengangkat tangannya dan memukul kepala Kakashi cukup keras. Kali itu dunia kembali berputar dan mereka terlempar ke sebuah bangunan sekolah lain, tahun 2003.

Dua tahun setelahnya.

Shizuka terlihat berdiri menunggu di depan gerbang. Ia dan Kakashi memang bersekolah di sekolah yang berbeda setelah lulus dari sekolah menengah pertama setahun yang lalu. Di tangan gadis itu, sebuah tas bermotif bunga-bunga terpegang erat—berisikan roti lapis yang dibuatnya pagi-pagi di rumah.

Kepalanya menoleh ke sana kemari, mencari-cari sosok pacarnya yang tidak kunjung muncul. Akhirnya karena terlalu lama menunggu, ia memutuskan untuk berjalan masuk ke sekolah dan bertanya pada beberapa orang.

"Oh, sial..." pikir Kakashi, melirik Shizuka dengan takut-takut. "Aku rasa aku tahu..."

"Ya." Ujar Shizuka sambil mengangguk-angguk. "Ya."

"Dia sedang berada di kantin, kalau tidak salah dengan Rin." Ujar seorang anak laki-laki. "Ikuti saja koridor ini dan kantin ada di sebelah kanan."

"Terima kasih." Ujar Shizuka malu-malu.

Ia berjalan menyusuri koridor panjang tersebut dengan hati gelisah. Genggamannya pada tas tadi semakin mengerat. Namun tangannya tiba-tiba saja melemas ketika melihat Kakashi disana, terduduk dengan Rin—

"Kalian terlihat bersemangat sekali saat berciuman." Bisik Shizuka sambil menyenggol bahu Kakashi.

"Shizuka, aku benar-benar minta ma—"

"Ssst. Bagian terbaiknya belum muncul."

Mereka menyaksikan kedua mata Shizuka yang secara instan dipenuhi air mata, dan setelahnya gadis itu berjalan lesu meninggalkan area kantin. Kepalanya menunduk sepanjang jalan, terfokus pada kedua sepatunya, bahkan sampai ia berjalan keluar gerbang.

Kedua mata Kakashi membulat. "Apakah ini..."

"Ya." Angguk Shizuka. Ekspresinya terlihat terluka selama beberapa saat, sebelum akhirnya kembali mengeras.

Kakashi berjalan mengejar Shizuka yang masih tertunduk. Ia berusaha meraih lengan gadis itu, namun tangannya menembus Shizuka dan ia tidak bisa melakukan apa-apa selain melihat sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi, dengan klakson yang ditekan berkali-kali sampai-sampai telinganya sakit...

.

.

Kakashi membuka kedua matanya. Ruang kantor yang tadi.

"Hah!" ujarnya terengah-engah, memandang sekeliling ruangan. "Shizuka?!"

Tidak ada tanda-tanda gadis—atau hantu—tersebut. Kakashi menghela napasnya dan merasa sedikit lega.

"Aku pasti bermimpi, aku pasti bermim—"

"Kakashi..."

Kakashi menoleh ke arah pintu cepat-cepat. Ia tersenyum lebar melihat Hanare berdiri disana.

"Hanare!" ujarnya, beranjak dari kursi dan bergerak untuk memeluk Hanare. "Hana—"

Wajahnya memucat ketika sadar kedua tangannya menembus tubuh Hanare. Wanita tersebut tersenyum sedih, kulitnya terlihat sama pucatnya dengan Shizuka tadi, dan matanya juga terlihat sama kosongnya.

"Tidak mungkin..." ujar Kakashi sedih. "Kau...?"

"Ya." Kata Hanare sambil mengangguk.

"Kapan?"

"Aku tidak bisa memberitahumu, tapi..." ujar Hanare pelan, menyentuh pipi Kakashi. Hanya sensasi dingin lembut yang dirasakan pria itu. "Kau benar-benar harus mengubah hidupmu, Kakashi. Kau tidak boleh hidup seperti ini terus..."

"Apa yang kulakukan? Kenapa aku harus mengalami ini?"

"Mungkin kau harus mulai mencoba untuk tidak mengencani dua wanita sekaligus ketika ada aku yang menunggumu di apartment," ujar Hanare dengan nada jenaka, merujuk pada Anko dan Mei sebagai dua wanita tadi.

Kakashi menggeleng frustasi. "Aku tahu, aku tahu, Hanare..." ujarnya sedih. "Maafkan aku..."

Hanare mengulurkan tangannya. Ketika tangan mereka bertemu, Kakashi merasakan tubuhnya tertarik begitu cepat ke depan.

.

.

Suasana pesta malam natal kantor masih terlihat cukup ramai. Saat ini pukul dua pagi, dan baru beberapa orang saja yang pergi meninggalkan pesta. Kakashi bisa melihat dirinya sendiri berjalan mendekat ke arah Mei yang berdiri di dekat perempuan-perempuan lainnya—dengan santainya menyelipkan satu tangan ke pinggang perempuan itu.

"Ehm," deham Hanare disampingnya, tersenyum jenaka.

Kakashi meringis pelan.

"Sudah cukup mabuk, hmm?" tanya Kakashi, mengecup pelipis Mei sambil tersenyum ke arah perempuan-perempuan di depannya. "Selamat malam."

"Selamat malam, Hatake-san..."

"Kau pasti sedang berpikir, siapa setelah Mei dan Anko yang harus kau kencani, 'kan?" bisik Hanare sambil menyikut Kakashi. Pria itu tidak menjawab, merasa bersalah dan memutuskan untuk terdiam di tempatnya.

"Lain kali, Kakashi, kalau kau ingin mendekatiku lagi, pastikan wajahmu bersih dan tidak dipenuhi oleh noda lipstick seperti ini." Ujar Mei sambil membersihkan bekas lipstick Anko pada pipinya. "Wah, cukup mahal. Bekasnya tidak bisa kuhapus."

Kakashi tersenyum kecil. "Kalau tidak bisa dihapus, lebih baik ditambal saja..."

"Baiklah, aku benar-benar menggelikan." Ujar Kakashi sambil mengusap wajahnya.

Mei pada akhirnya hanya tertawa dan pergi dari ruangan tersebut bersama Kakashi. Mereka berjalan menuju parkiran, masuk ke dalam mobil dan mulai berciuman.

"Oh, ayolah!" ujar Kakashi frustasi, menatap Hanare yang melipat kedua tangannya di depan dada. "Yang benar saja!"

"Hei, jangan salahkan aku, Kakashi. Itu dirimu sendiri."

Kakashi mengacak rambutnya sendiri dan berusaha mengalihkan pandangan. Ia kembali menoleh saat sebuah dering ponsel terdengar.

"Ya?" jawab Kakashi, sedikit terengah-engah.

"Kakashi?" tanya Hanare dari seberang. "Apakah kau baik-baik saja? Kenapa kau belum juga pulang?"

"Aku... aku baik-baik saja." Ujarnya sambil melirik Mei yang memainkan dasinya. "Sebentar lagi aku akan pulang. Kukira kau menginap di rumah adikmu, malam ini?"

"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku agar kita bisa berlibur akhir tahun nanti." Kata Hanare. Suaranya terdengar begitu lelah dan ia menguap beberapa kali. "Baiklah kalau begitu... hati-hati di jalan. Aku akan menunggumu."

Kakashi belum sempat membalas ketika ponselnya direbut oleh Mei. Ia melemparkan benda kecil itu begitu saja ke jok belakang dan pada akhirnya melompat ke pangkuan Kakashi.

"Ugh, Kakashi, gadis itu jauh lebih jelek dibandingkan aku." Ujar Hanare frustasi. "Seleramu memburuk."

"Bawa aku pergi dari sini..." mohon Kakashi sambil menutup mata.

Begitu ia membuka matanya kembali, keningnya berkerut saat ia menyadari kalau ia sekarang berada di dalam apartment-nya. Ada Hanare yang sedang tertidur di atas tempat tidur, gadis itu mendengkur pelan dan terlihat sangat lelah, sementara pin apartment terdengar berbunyi dari ujung ruangan.

Kakashi memandang pintu dengan bingung. "Apa aku begitu mabuk sampai-sampai berkali-kali salah memasukkan pin?"

Hanare tidak menjawab. Pertanyaan Kakashi terjawab dengan sendirinya ketika seorang pria berjalan masuk ke dalam ruangan dengan penutup wajah gelap terpasang, berusaha untuk tidak membangunkan Hanare.

"Oh tidak..." gumam Kakashi, menyadari apa yang sedang terjadi. "Tidak, tidak..."

Pria asing itu memasukkan laptop Kakashi ke dalam tasnya dan berjalan mengitari ruangan. Ia memasukkan begitu banyak barang—speaker, vas, bahkan hiasan bebek kristal milik Hanare juga sempai ia masukkan ke dalam tas.

Hanare menghela napas. "Setelah kau, aku akan menghantuinya."

Lalu mereka melihat pria itu berjalan ke arah kamar. Hanare masih tertidur lelap, tidak menyadari bahwa ada bahaya yang akan datang padanya saat itu. Pria tersebut menarik laci di sudut ruangan dengan sangat perlahan, namun sayangnya laci tersebut berdecit di saat-saat terakhir...

Dan Hanare terbangun.

"Hei!" jerit gadis itu ketakutan. "Siapa kau?!"

Kakashi memandang semua itu dengan pandangan horor. Ia melihat bagaimana Hanare dibekap begitu kuatnya tanpa ampun oleh pria itu, ia juga melihat bagaimana Hanare mulai terjatuh lemas dan kehilangan kesadaran setelahnya...

"Sialan." Ujar Kakashi sambil meremas rambutnya, menatap Hanare dengan pandangan terluka. "Maafkan aku... maafkan aku..."

Ia berjalan ke sisi Hanare yang sekarang terbaring dengan mata membelalak. Sekali lagi ia tidak dapat menyentuh gadis itu, namun kesakitan yang ia rasakan di hatinya begitu tidak terelakkan. Menyaksikan dua kematian dalam waktu singkat, dan sialnya keduanya karena kecerobohannya sendiri, bukanlah hal yang menyenangkan.

"Hanare..."

.

.

Kakashi menarik napas dalam-dalam dan ia terbangun seketika. Ruangan kantor tempatnya berada masih terlihat sama—tidak ada Shizuka maupun Hanare di dekatnya.

"Omong-omong, itu bukan urusanku. Sakura akan menjelaskannya untukmu."

"Sakura?" gumam Kakashi tanpa sadar.

"Ya?"

Kakashi mengangkat kepalanya. Di depannya berdiri seorang gadis dengan rambut merah muda—dan Kakashi bersumpah bahwa ia tidak ada disana tadi—memandangnya dengan senyuman lebar. Kedua mata hijaunya berbinar dan memandang Kakashi dengan hangat.

Kakashi bersumpah bahwa ia adalah gadis tercantik yang pernah ia lihat.

"Kakashi," ujar Sakura, kedua matanya sedikit melengkung saat tersenyum. "Ikut aku..."

.

.

"Kakashi!"

Kakashi tersenyum lebar dan menerima pelukan dari gadis di depannya. Kemurungan di wajahnya tadi terlihat menghilang sesegera setelah ia mencium aroma masakan dari dapur. Dengan kedua tangannya, ia membalas pelukan Sakura dan mereka bergoyang selama beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan pelukan.

"Lain kali jangan memelukku seperti itu, aku membawa banyak kuman dari luar." Ujar Kakashi sambil meraih tangan Sakura dan berjalan menuju dapur. "Apa yang kau masak hari ini?"

"Makanan kesukaanmu," ujar Sakura senang. "Steak. Aku langsung pergi ke supermarket sesegera setelah aku pulang kerja."

"Huh? Tapi aku tidak suka steak." Gumam Kakashi pada dirinya sendiri.

Kakashi yang berada di samping Sakura tersenyum senang dan mengecup kening gadis itu sekilas. "Terima kasih. Kalau begitu aku akan mandi dulu."

Kakashi mengedipkan kedua matanya ketika angin berhembus dengan begitu kencang dan tiba-tiba saja mereka berada di tempat yang berbeda. Dari kejauhan, ia bisa melihat dirinya sedang menggendong Sakura di punggung—mereka berlari ke arah laut sebelum akhirnya keduanya saling berperang melempar pasir basah.

Kakashi melirik Sakura di sampingnya. Pandangannya terlihat menerawang—ia terlihat senang, sedih, dan juga... rindu.

"Kakashi! Sudah kubilang rambutku baru saja dirapikan... kenapa kau tega melemparkan pasir itu ke rambutku?!" protes Sakura. Tidak butuh waktu lama, gadis itu tersenyum beberapa saat kemudian dan berhasil meletakkan segumpal pasir ke rambut pria itu.

"Baiklah, kau benar-benar berada dalam masalah. Kau tahu betapa susahnya membersihkan pasir sebanyak ini dari kepala?"

Mereka tertawa lepas dan berjalan keluar dari area pantai setelahnya. Kakashi dan Sakura mengikuti dua orang tersebut yang masuk ke dalam sebuah villa di pinggir pantai, mengamati keduanya yang terlihat tidak berhenti-berhenti tertawa.

"Aku sangat senang kau mau mengambil cuti untuk berbulan madu seperti ini," gumam Sakura, saat mereka berdua berada di dalam kamar mandi beberapa saat setelahnya. "Kau sering sekali pulang malam akhir-akhir ini... kau juga selalu tertidur begitu sampai rumah. Kemari, aku akan membersihkan pasirnya."

Kakashi masuk ke dalam bathtub dan menyandarkan punggungnya pada dada gadis itu. Ia menutup mata saat merasakan tangan halus Sakura membelai kepalanya...

Bahkan Kakashi yang sedang berdiri memandang semuanyapun hampir bisa merasakan tangan itu berada di kepalanya. Ia menutup mata, tersenyum menyadari betapa bahagianya hidupnya kelak bersama Sakura.

Kedua alisnya bertaut ketika ia menyadari bahwa mereka tidak lagi berada di villa pantai, melainkan di sebuah parkiran mobil yang entah kenapa terlihat begitu familiar.

Kakashi sedang terduduk di mobil, hampir saja tertidur. Kedua matanya terbuka ketika sebuah ketukan terdengar dari kaca jendelanya.

Mei tersenyum ke arah pria itu. Ia masuk ke dalam mobil, lalu mengusap pipi Kakashi dengan tangannya.

"Aku sangat merindukanmu. Bukankah kau bilang hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk berbulan madu bersama gadis itu?" tanya Mei sambil mengerucutkan bibirnya. "Kau pergi selama seminggu."

"Aku tahu, aku minta maaf. Aku berusaha pergi sesegera mungkin, tapi..." gumamnya terhenti. Ia mengangkat kepala beberapa saat kemudian, lalu tersenyum. "Aku akan menebus dosaku. Malam ini kita pulang ke apartment-mu, bagaimana?"

Mei tersenyum lebar. "Aku menyukainya..."

"Baiklah, aku akan mengabari Sakura terlebih dahulu bahwa aku akan lembur di kantor." Ujar Kakashi.

Mereka berdua kembali tertarik dan kali ini berada di sebuah ruangan kecil bercat putih bersih. Seorang wanita terbaring disana, terlihat tidak terlalu sehat, memandang kosong ke langit-langit dengan wajahnya yang cukup pucat.

"Nona Haruno, makan siang."

Kakashi merasakan jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat ketika menyadari bahwa wanita itu adalah Sakura. Ia terlihat sangat berbeda dengan Sakura yang sebelumnya—tulang pipinya begitu menonjol, tubuhnya kurus seperti tulang yang terbalut kulit, matanya tidak hangat dan berbinar seperti yang sebelumnya ia lihat...

"Apakah Kakashi akan datang?" tanya Sakura. Suaranya bergetar lemah, tidak terlalu jelas.

"Tuan Hatake akan berusaha untuk datang malam ini, tapi aku tidak begitu yakin." Ujar perawat itu. "Tolong makan, Nona Haruno. Ini sudah hari keempat dan Nona tidak makan apapun selama ini... air juga hanya sedikit sekali yang diminum."

Perawat tersebut pada akhirnya menyerah dan meletakkan nampan makanan tadi ke atas meja, berlalu dari sana setelah lima belas menit bernegosiasi dengan Sakura. Gadis itu tetap bergeming dan tidak menyentuh makanan—jelas sekali ia menunggu Kakashi untuk datang.

Kakashi berjalan bingung mengikuti perawat tadi. Sakura mengikutinya tanpa suara di belakang, sampai mereka berhenti di depan meja tempat para perawat lantai tersebut berkumpul.

"Pasien ruang 503 belum juga makan." Ujar perawat tadi dengan nada frustasi. "Aku lelah sekali harus berbohong setiap hari padanya. Suaminya datang beberapa hari lalu dengan wanita lain, ia bilang bahwa ia akan berhenti mengunjungi istrinya... maksudku, suami macam apa itu?"

Kakashi memandang perawat tersebut dengan tatapan tidak percaya.

"Tidak mungkin," gumamnya pada diri sendiri. "Tidak mungkin aku sekejam itu."

.

.

Bau tanah basah menguar ke indera penciuman Kakashi. Lusinan kursi kosong tersusun rapi, hanya ada beberapa orang yang duduk disana dengan ekspresi berbeda-beda.

Kedua orang tuanya, Asuma dan Kurenai.

Ponsel Kurenai berbunyi. Wanita itu menghela napas, memalingkan wajah dan menjawab teleponnya.

"Dimana kau sekarang?!" desisnya marah.

"Aku tiba-tiba saja dipanggil oleh atasan, ada urusan mendadak." Terdengar suara Mei dari sana. "Aku akan datang setelah prosesi pemakaman saja—"

"Dasar jalang."

Asuma menoleh kaget, tidak menyangka istrinya akan mengumpat di acara pemakaman seperti ini. Setelah beberapa kesan pesan selesai dibacakan, kursi-kursi kosong tadi dibereskan dan empat orang tadi berdiri di sekitar pusara yang baru saja tertutup.

Kakashi memandangnya dengan tidak percaya.

"Itu aku?"

Sakura di sebelahnya menoleh. Ia mengangguk, wajahnya terlihat tanpa ekspresi.

"Ya." Jawabnya setelah beberapa saat. "Dan itu aku."

Kakashi mengikuti arah jari Sakura dan melihat makam lainnya yang berada tepat disebelah makam tadi. Nama Sakura Haruno tertera disana, tanpa tanggal kematian—sama seperti miliknya.

"Kukira aku akan dibakar saat meninggal nanti." Gumamnya pada diri sendiri.

"Kau selalu bilang pada Sarutobi-san bahwa kau mau dimakamkan disebelahku." Ujar Sakura pelan. Suaranya terdengar sedikit bergetar menahan tangis. "Kau bilang aku akan tetap merawatmu..."

Kakashi tidak menanggapi. Ia memandang pemakamannya yang begitu sepi. Kedua orangtuanya memeluk Asuma dan Kurenai beberapa saat kemudian, setelahnya berlalu dari makam tersebut dan meninggalkan dua orang tadi sendirian.

"Sial, Kakashi," ujar Asuma pelan, tertawa pahit. "Kau tahu betapa populernya dirimu dulu? Siapa mengira kalau kau akan berakhir seperti ini..."

Kakashi tidak terlalu memperhatikan Asuma dan Kurenai di depannya. Ia memandangi Sakura yang memandang lurus ke depan, entah memandang apa, dan menyadari bahwa gadis itu sedang menangis.

Ya, hantu yang menangis.

"Sakura..."

Kakashi menelan ludahnya saat gadis itu menoleh. Mata gioknya sudah basah oleh air.

"...kenapa aku melakukan semua itu padamu?" tanyanya lirih.

Sakura terdiam selama beberapa saat. Bibirnya bergerak untuk berbicara, namun tidak sepatah katapun keluar dari bibirnya.

Setelah akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menjawab, pada akhirnya Sakura kembali menoleh dan tersenyum kecil.

"Aku tidak tahu, Kakashi." Jawabnya pelan. "Aku tidak tahu..."

.

.

Kakashi merasakan seluruh tulangnya dipatahkan disaat yang bersamaan. Ia membuka kedua mata, berusaha menutupi silau cahaya lampu yang mengiris korneanya, dan memandang jam dinding di depannya.

Pukul dua pagi.

"Sial." Umpatnya pelan. Beberapa saat kemudian ia tersadar dan memandang sekeliling.

"Shizuka? Hanare? ...Sakura?" panggilnya ragu.

Pria itu berjalan sekeliling ruangan. Tidak ada tanda-tanda siapapun disana selain dirinya, dan ia baru sadar bahwa dirinya sudah benar-benar terbangun sekarang.

"Menyeramkan sekali." Ujar Kakashi, cepat-cepat berjalan keluar dari ruangan tersebut dan bergabung dengan orang lain di aula utama.

Yang lain mungkin tidak terlalu memperhatikan, namun wajah Kakashi benar-benar pucat pasi. Kemejanya sudah basah oleh keringat di balik jas, dan matanya berusaha untuk mencari-cari Asuma.

Asuma terlihat berada di ujung pintu, bersiap untuk pulang dengan Kurenai di sampingnya.

"Hei!" panggil Kakashi, berusaha untuk menerobos sekumpulan orang. "Asuma!"

Pria itu menoleh dan tersenyum. "Hei juga."

"Maafkan aku karena flashdisk-nya hilang begitu saja." Ujar Kakashi, menggaruk tengkuknya penuh dengan rasa menyesal. "Aku—"

"Tunggu sebentar. Flashdisk apa?" tanya Asuma bingung.

Kakashi memandangnya dengan bingung pula, namun ia memutuskan untuk tidak ambil pusing. Dengan tepukan dua kali di punggung, ia meninggalkan Asuma dan berjalan menuju sekelompok perempuan di sudut lainnya.

"Ehm," deham Mei, tersenyum menggoda ke arah Kakashi.

"Baiklah, kita harus bicara."

.

.

"Aku minta ada petugas keamanan yang berpatroli di lantai 8," ujar Kakashi bersungguh-sungguh pada resepsionis apartment. "Tolong sekali."

Ia berlari menuju lift setelahnya dan cepat-cepat kembali berlari menuju unit apartment-nya sesegera setelah lift tadi sampai di lantai 8. Ia berusaha memasukkan pin dengan benar, dan dengan jantung yang rasanya sudah ingin copot dari tubuhnya, Kakashi membuka pintu kamar dengan satu gerakan besar.

Oh, Tuhan... untunglah...

"Kakashi?"

Kakashi tersenyum lega. Ia berjalan ke arah Hanare yang memandangnya dengan bingung, memeluknya itu sekilas sebelum akhirnya kembali tersenyum.

"Apa yang terjadi?"

"Aku rasa kita harus selesai sampai disini saja, Hanare."

"Apa?"

"Aku menyukai perempuan lain." Ungkap Kakashi jujur, memandangnya tepat dimanik mata. "Tapi aku tidak berselingkuh. Jadi aku akan mengatakannya dengan baik, agar hubungan kita juga tetap baik setelah ini, dan kita tetap bisa berteman."

Hanare memandangnya dengan bingung sebelum akhirnya menggaruk kepala.

"Baiklah..." gumamnya. "Aku harus jujur padamu, aku juga telah beberapa kali berkencan dengan orang lain akhir-akhir ini karena kau terlalu sibuk—"

"Kau tahu? Itu bagus sekali!" puji Kakashi tulus. "Aku harap kau bahagia selalu."

Mereka berdua menoleh ketika bel apartment terdengar dari depan. Kakashi meraih tongkat baseball-nya dan mengintip lewat lubang pintu selama beberapa saat.

"Selamat malam, Tuan Hatake." Ujar seorang petugas keamanan. Ia menyeret seorang pria dengan penutup wajah hitam, lalu tersenyum lebar ke arah Kakashi. "Terima kasih bantuannya."

.

.

"Kau benar-benar terlihat lebih sehat akhir-akhir ini."

Kakashi mematikan sambungan telepon dengan ibunya, dan mengangkat kepala beberapa saat kemudian. "Benarkah?"

"Benar." Jawab Asuma. "Meskipun aku sedikit takut, karena kau tidak pernah mentraktirku sebelumnya..."

Kakashi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, melanjutkan makannya dengan sejuta perasaan bahagia dalam dirinya. Ia yakin ia bisa berubah. Ia yakin ia bisa memperbaiki kesalahannya dan berubah menjadi lebih baik. Ia hanya tidak menyangka bahwa cara yang diberikan untuknya seekstrim itu...

Di saku jasnya, ada dua kertas yang ia lipat dan simpan dengan rapi. Di saku kiri, ada surat keterangan yang diberikan oleh sebuah panti asuhan kecil di pinggiran kota bahwa Kakashi akan menjadi donatur tetap tempat tersebut, dan di saku kanannya, ada bukti pembayaran pembelian bunga yang akan dikirimkan setiap bulan untuk seseorang.

Shizuka.

Kakashi tersenyum kecil. Setidaknya aku melakukan sesuatu untukmu, Shizuka.

"Restoran ini benar-benar menakjubkan. Aku tidak menyangka bahwa tempat ini baru buka selama satu bulan dan sudah mendapat pelanggan sebanyak ini." Ujar Asuma. "Banyak sekali hal-hal menakjubkan akhir-akhir ini."

"Kau selalu terkejut."

"Kau selalu membuatku terkejut!" ujar Asuma cepat. "Kau bilang kau tidak akan pernah mengencani Mei secara resmi dan juga memutus hubungan dengannya, tapi apa yang kau lakukan? Kau membuatnya tantrum di tengah pesta natal bulan lalu." Ujar Asuma. "Kau juga memutus hubungan dengan Hanare dan Anko... maksudku, apa kau sehat?"

Kakashi mengangkat satu alisnya. "Kau bilang aku terlihat lebih sehat."

"Ya... tapi kau selalu punya minimal dua perempuan mendominasi kotak pesanmu." Ujar Asuma. "Astaga, steak ini benar-benar enak. Chef-nya patut dipuji."

Asuma mengangkat tangan dan memanggil seorang pelayan. Pelayan tersebut menganggukkan kepala beberapa kali, setelahnya menghilang masuk ke dalam dapur dan keluar bersama seorang perempuan dengan baju koki sedikit kotor dari sana.

Kakashi memandang orang tersebut dengan pandangan tidak percaya. Bahkan ketika perempuan itu melepas topi kokinya dan rambut merah mudanya yang terikat namun sedikit berantakan terlihat, kedua mata Kakashi masih belum juga mengalihkan pandangannya.

"Steak ini benar-benar hebat." Puji Asuma. "Kau adalah chef yang hebat."

Perempuan tersebut tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih."

"Ya..."

Mereka bertiga tampak kaget, tidak terkecuali Kakashi sendiri. Ia memandang steak di hadapannya yang sebenarnya tidak terlalu ia sukai, namun mau tidak mau ia memaksa dirinya untuk melanjutkan perkataan.

"Steak-nya sangat enak... Sakura."

.

.

Selamat hari natal buat teman teman yang merayakan hohoho.

Ini ada fanfic singkat terinspirasi dari karyanya bapake charles dickens berjudul a christmas carol.

Hope you guys like ittt!