Summary:

Seperti tahun-tahun sebelumnya, liburan natal & tahun baru digunakan para siswa UA untuk berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing, tak terkecuali Katsuki dan Izuku. Namun bagaimana jadinya jika tiba-tiba muncul badai salju tepat ketika mereka berdua akan meninggalkan Heights Alliance di malam natal ini?

Author's Note:

Apakah ini sekuel fic "True Feelings"?

Uhh... tidak. Di sini hubungan Katsuki dan Izuku masih sebatas benci-namun-peduli-tapi-diam-diam-sayang.

Semacam itulah :)


.-~[•••••]~-.

"Christmas Eve"

Story by ShapeShifter365

Disclaimer: BNHA belongs to Horikoshi Kohei

Rating: T

Genre: friendship

Warning: Fluff (no conflict)

Don't Like, Don't Read

Enjoy~


Hari telah semakin sore dan langit mulai menampakkan semburat jingga khas senja ketika hampir seluruh penghuni Heights Alliance kembali menuju kediaman mereka masing-masing.

"Sampai jumpa Uraraka-san, Iida-kun!" seru Izuku sembari melambaikan tangannya pada kedua orang terakhir yang meninggalkan Heights Alliance untuk liburan natal tahun ini.

"Well, kini tinggal aku dan Kacchan," batin sang pemuda brokoli kemudian sebelum kembali masuk ke gedung asrama mereka untuk mengecek kembali barang-barang yang akan ia bawa pulang.

Terlepas dari manis-pahitnya hubungan 'spesial' (rivalitas, benci-namun-peduli, apapun itu) antara kedua putra mereka, keluarga Bakugo dan Midoriya tak pernah absen untuk merayakan malam natal bersama-sama setiap tahunnya.

Mereka bergiliran menjadi tuan rumah, dan tahun ini akan bertempat di rumah keluarga Bakugo.

Meski tak akan mengakuinya terang-terangan, Katsuki tak sabar kembali merasakan kue lezat buatan sang Midoriya senior, aka Ibu Deku yang sayangnya hanya dapat ia cicipi sekali dalam satu tahun tersebut.

Memikirkannya saja sudah membuat Bakugo menyeringai senang.

Merasa puas dengan hasil berkemasnya, sang pemuda pirang kemudian keluar dan mengunci kamarnya sebelum menuju lift di ujung lorong lantai empat bangunan asrama tersebut.

•••

Tepat saat bel lift berbunyi dan pintunya terbuka di lantai satu, pandangan Bakugo langsung terarah pada Deku yang tampaknya masih sibuk memeriksa ulang barang bawaanya.

"Oi, Deku!"

Mendengar nada khas tersebut memanggilnya, Izuku segera menolehkan kepala menuju sang sumber suara.

"Kacchan! Kau sudah siap?" tanyanya dengan nada excited.

"Tch! Cepatlah sebelum nenek tua itu membunuhku karena terlambat, Deku!" timpal Bakugo menggerutu saat melihat bahwa hujan salju di luar tampak semakin deras.

Izuku masih merasa canggung dengan sebutan 'spesial' Katsuki kepada sang ibu, namun siapa dirinya untuk ikut campur dalam hal domestik semacam itu, bukan?

Deku tampak menghela nafasnya sejenak.

"O-oke! Aku hanya tertinggal satu barang terakhir, akan kuperiksa di kamar sebentar," jawab Izuku sebelum melesat meninggalkan Bakugo yang hanya dapat memutar kedua matanya bosan.

•••

"Ah! Disitu kau rupanya," gumam Izuku saat menemukan sebuah plastik hitam berisi kotak berwarna jingga di bawah tempat tidurnya.

Tak ingin membuat sang Kacchan semakin menunggu lama, Deku segera mengambil benda tersebut sebelum melesat kembali ke lantai satu asrama mereka.

•••

"Tch! Jangan bilang kau mencari bantal All Might kesayanganmu," gerutu Bakugo saat mendapati sang pemuda brokoli keluar dari lift.

"Hehe.. gomen Kacchan," timpal Izuku sembari berusaha menyembunyikan kotak tersebut di balik punggungnya yang tentu hanya diabaikan oleh Katsuki.

"Hn, whatever."

Dan tepat saat mereka akan keluar dari Gedung tersebut, alarm peringatan cuaca di seluruh Kawasan UA berdering kencang.

"Kriiiiingg!"

"A-apa yang terjadi?" gumam Izuku terkejut.

Katsuki hanya diam sembari memperhatikan kondisi di sekitar mereka, sebelum teringat salah satu materi yang diberikan Present Mic saat orientasi masuk UA tahun lalu.

"Ini hanya alarm peringatan cuaca ekstrem, Deku."

"Ohh, o-oke. Lalu bagaimana sekarang?"

Bakugo hanya memutar kedua matanya, mendecih pelan sebelum menarik tangan sang pemuda hijau untuk kembali masuk ke gedung Heights Alliance.

"Menurut prosedur, kita tidak boleh keluar bangunan hingga dering peringatan tanda aman dibunyikan."

Deku hanya mengangguk singkat terhadap ucapan Bakugo sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada hujan salju yang semakin lebat di luar.

"Lalu bagaimana dengan makan malam?" tanya Izuku saat menyadari kalau cuaca seperti ini biasanya dapat berlangsung berjam-jam lamanya.

Katsuki tampak menimbang-nimbang sejenak beberapa opsi yang dapat ia pikirkan.

"Beritahu mereka kalau kita akan terlambat, atau mungkin tidak bisa datang karena badai salju," putus Bakugo akhirnya sebelum beranjak menuju dapur.

Izuku hanya mengangguk setuju, mengetahui kalau telah terlewat hampir satu jam dari waktu makan malam mereka.

"Sepertinya ini kali pertama aku menghabiskan malam natal di luar rumah, huh?" batin lemas Izuku sebelum menghubungi sang ibu.

•••

"Apa yang kau masak, Kacchan?" tanya Izuku pada sang pemuda pirang menggerutu yang tengah memotong wortel tersebut.

"Ramen super pedas," balasnya.

"… -dan?"

Perasaan Izuku mulai tidak enak.

"Dan teh jahe sambal hijau yang untungnya masih tersisa di pantry," jawab Bakugo yang berhasil membuat sang pemuda brokoli menelan ludahnya gugup.

Orang macam apa yang makan dan minum seperti itu?

Oh! Ada the one and only, sang King Explosion Murder; Bakugo Katsuki.

Lupakan, kembali ke topik.

"O-okee,"

Katsuki hanya menyeringai saat mendengar intonasi pasrah dari sosok yang terduduk di meja makan di belakangnya tersebut.

Tak butuh waktu lama untuk Bakugo menyelesaikan masakannya. Lima belas menit kemudian dan dua mangkok makanan telah siap dihidangan di meja makan.

"Makanlah, Deku bodoh!" ucap sang pemuda pirang dengan nada gerutuan khasnya pada Izuku yang tampak sedang menelungkupkan kepalanya dibalik kedua lengan.

"Huh?"

Tatapan pasrah Izuku segera berganti menjadi berbinar-binar setelah mendapati semangkuk katsudon; makanan favoritnya tersaji di hadapannya.

"Terima kasih, Kacchan!" seru sang pemuda brokoli dengan cengiran lebarnya.

"Ittadakkimasu~"

"Hn," timpal singkat Bakugo sebelum mulai menyeruput ramen super pedasnya.

Sebagai wujud terima kasih, Izuku menawarkan diri untuk mencuci piring mereka berdua yang tentu langsung dibalas "hell yeah! Ternyata kau tahu diri juga, Deku!" oleh Katsuki.

•••

Tepat usai makan malam, Bakugo memutuskan untuk kembali ke kamarnya, merasa tidak ada yang dapat ia lakukan di common area.

"T-tunggu, Kacchan!" seru Izuku saat melihat Bakugo membawa barang-barangnya menuju lift.

"Apa maumu, Deku?" gerutu sang pemuda pirang sembari menengokkan kepalanya kearah Izuku.

Turut mengambil barang miliknya, Izuku segera berlari kecil menyusul Katsuki yang kini hanya memutar kedua matanya jengah.

Izuku dan Katsuki saling berpandangan saat mengetahui kalau lift di hadapan mereka turun dari lantai lima.

"K-Kacchan?" panggil ragu sang pemuda brokoli.

"Hm."

"Bukannya hanya kita berdua yang ada di bangunan ini?"

Izuku hanya dapat meneguk ludahnya saat keringat dingin mulai menghiasi dahi dan lehernya.

Secara refleks, sebelah tangan Izuku meraih telapak tangan Katsuki dan menggenggamnya erat.

Bakugo tampak sedikit melebarkan kedua matanya, namun tak berusaha apapun untuk memisahkan tautan tangan mereka.

"Ting!"

Dan saat yang dinanti-nanti akhirnya tiba, bersamaan dengan bunyi lift di hadapan mereka.

Seolah memasuki adegan-adegan thriller suatu film, mereka berdua meneguk ludah bersamaan dengan pintu lift yang terbuka secara slow-motion.

Izuku sontak menundukkan kepalanya, dan dengan detak jantung yang semakin menguat saat melihat sesosok bayangan dari ekor matanya, genggamannya pada tangan Katsuki semakin menguat.

"Icy-hot?!" seru terkejut Katsuki yang langsung membuat Izuku turut mendongakkan kepalanya.

"T-Todoroki?"

Sembari tetap bersedekap tangan, Shouto tampak menaikkan kedua alisnya saat melihat kedua pemuda di hadapannya saling bergandengan tangan di depan pintu lift.

Melihat arah pandangnya, Katsuki langsung melepaskan tautan tangan mereka.

"Apa yang kau lakukan disini, dispenser sialan?!"

"Hm.. Liburan natal terlalu merepotkan bagi keluargaku. Karena kini ada Heights Alliance, aku dengan senang hati tetap tinggal di sini."

Keheningan tampak menyelimuti tempat itu selama beberapa saat, sebelum Katsuki akhirnya membuka suara.

"Tch! Keluarlah, dispenser sialan! Kami. Mau. Masuk," gerutu sang Pomeranian pirang sembari secara tidak sadar menggandeng masuk pemuda hijau di sisinya.

Shouto hanya mengangkat kedua lengannya tanda mengalah sebelum keluar dari kotak besi tersebut.

•••

Beberapa detik kemudian, pintu lift akhirnya terbuka di lantai dua.

"Uhm, K-Kacchan?" gumam ragu Izuku dengan wajah merona sembari melirik genggaman erat sang pemuda pirang.

"Apa?!" gerutu Katsuki sebelum menyadari kebodohannya.

"…"

"Ah!"

"A-aku akan keluar," ucap Izuku yang masih menundukkan kepalanya sembari menjinjing barang-barangnya keluar lift.

"Hn."

Bakugo hanya bersedekap tangan, berusaha menyembunyikan semburat kemerahan yang serasa merambat di wajahnya.

Saat-saat selanjutnya Izuku dan Katsuki habiskan untuk merasakan kehangatan yang tersisa di masing-masing telapak tangan mereka.

•••

[Malam Harinya]

Waktu hampir menunjukkan pukul 12 malam.

Sudah berjam-jam dirinya berbaring, namun Izuku tetap tidak bisa menutup kedua matanya.

"Bagaimana dengan kado itu?" gumam gelisah sang pemuda brokoli sembari melihat lotak jingga di meja belajarnya.

Izuku sebenarnya ingin diam-diam meletakkan hadiah tersebut di bawah pohon natal di rumah Bakugo saat makan malam, namun badai terkutuk itu menghancurkan rencananya.

"Apa kuberikan langsung ke Kacchan?"

"…"

"Tidak. Kacchan akan meledakkan diriku,"

"…"

"Lalu bagaimana? Tidak mungkin aku menyelinap masuk ke kamarnya,"

"…"

Izuku terus bermonolog dalam hati hingga merasa kepalanya berdenyut nyeri.

"Ugh."

Dan saat itulah sang pemuda brokoli tiba-tiba mendengar ketukan dari balik pintu kamarnya.

Berjengit terkejut, Izuku akhirnya memberanikan diri untuk membuka sedikit dan mengintip dari balik celah pintu.

"K-Kacchan?!"

Bakugo kini tampak telah melepaskan pakaian hangatnya. Sebab pemanas ruangan di dalam Heights Alliance tetap aktif, maka sang pemuda pirang tersebut dapat kembali mengenakan tanktop hitam dan sweatpants favoritnya tanpa perlu khawatir kedinginan.

"Uhh.." Katsuki berdiri canggung dengan kedua tangan di balik punggungnya.

"Kacchan?" ulang sang pemuda brokoli sembari melebarkan pintu dan keluar dari kamarnya.

Izuku kini tampak bingung terhadap tingkah janggal pemuda pirang di hadapannya.

Saat itulah Izuku merasa tubuhnya terdorong mundur akibat Katsuki yang tiba-tiba menyodorkan sesuatu kearahnya.

"K-Kacchan?" tanya Izuku terkejut.

"Terima ini, bodoh." gumam Bakugo sembari menyodorkan sebuah kotak polos berwarna hijau yang ukurannya sekitar dua telapak tangan tersebut dengan sedikit rona kemerahan tampak di wajahnya.

"Apa ini… hadian natal dari Kacchan?!" Izuku beretiak kegirangan dalam hatinya.

Setelah yakin bahwa sang pemuda brokoli menerima kotak tersebut, Katsuki segera berbalik badan untuk kembali ke kamarnya.

"T-tunggu!" seru Izuku setelah tersadar dari lamunannya.

Katsuki menghentikan langkahnya.

"Apa lagi, Deku?!" balas Bakugo berusaha memberikan nada gerutuan seperti biasanya (yang tentu gagal akibat degup jantung dan semburat merah di wajahnya).

"A-ano… tunggu sebentar, Kacchan."

Kebingungan tampak di wajah Katsuki saat melihat sang pemuda brokoli kembali masuk ke kamarnya.

Karena pintu kamar itu tetap terbuka, Bakugo akhirnya memberanikan diri untuk mendekat.

Tak lama kemudian, Izuku keluar dengan sebuah kotak oranye tipis di kedua tangannya.

"Apa itu?" tanya sang pemuda pirang dengan alis terangkat.

"A-ahh, ano.. ini h-hadiah dariku," ucap tergagap Izuku sembari menyodorkan kotak tersebut.

Katsuki menerimanya dalam diam.

Izuku dapat mendengar gumaman samar "terima kasih," saat pemuda di hadapannya berjalan menuju lift di ujung lorong.

Tak dapat lagi menahan rasa penasaran, Izuku segera kembali masuk kedalam kamarnya.

•••

Sang pemuda brokoli tersebut kini tampak terduduk di sisi ranjangnya dengan sebuah kotak tipis berbungkus kertas hijau polos di tangannya.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Izuku segera membuka bungkusan hiau tersebut sebelum melepas penutup kotaknya.

Saat akhirnya ia dapat melihat isi di dalamnya, Izuku merasa kedua matanya mulai berair.

"Hero Analysis for the Future: no.14"

Sebuah buku catatan dengan aksen oranye di sisi pinggirnya tersebut ia ambil dengan tangan bergetar.

Saat Izuku membuka halaman pertama, tulisan tangan yang sangat familiar di lembaran itu berhasil membuat air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya turun mengalir di wajah sang pemuda brokoli.

No.1 Future Hero

Bakugo "Ground Zero" Katsuki

.

.

.

Pastikan kau hanya menulis hal-hal hebat tentangku, Deku bodoh!

Izuku tertawa setelah membaca kalimat tersebut.

Mengusap air mata haru dari kedua pipinya, Izuku kini tersenyum lebar.

"Terima kasih, Kacchan…" gumam sang pemuda brokoli dengan raut gembira tampak jelas di wajahnya.

•••

Setelah memastikan bahwa pintu di belakangnya tertutup rapat, Katsuki segera melesat menuju kamarnya.

Dan di sinilah dia; terduduk di kursi belajar dengan kedua tangan memegang kotak tipis berukuran lumayan besar pemberian sang Deku.

Secara perlahan, Katsuki mulai membuka kertas pembungkus oranye tersebut.

Saat akhirnya dapat melihat apa yang ada di balik pembungkus tersebut, Katsuki mau tak mau membelalakkan kedua matanya.

"I-ini…"

Tampaklah sebuah pigura berisi foto dirinya bersama dengan Izuku dan All Might di dalam gymnasium UA yang tampaknya diambil beberapa bulan lalu. Dirinya bahkan hampir lupa kalau mereka pernah berfoto seperti itu.

Seperti biasa, Katsuki tampak menampilkan seringaian khasnya dengan sebelah tangan menekan kepala Deku hingga sang pemuda di sebelahnya dalam posisi setengah jongkok. Meski demikian, Izuku tetap tersenyum lebar di foto tersebut. All Might dengan tubuh besarnya juga terlihat tersenyum sembari berkacak pinggang di belakang mereka berdua.

Well.. Katsuki pasti akan langsung memajang pigura tersebut di kamarnya saat ia pulang nanti.

Tanpa ia sadari, setetes air mata haru tampak mengalir di wajah Katsuki sebelum jatuh ke permukaan kaca pigura di tangannya.

"Arigato, Izuku…"

Setidaknya malam natal kali ini tak seburuk tahun-tahun sebelumnya.

END


Author's Note:

Ohayo minna~

Bagaimana kabar kalian?

Berjumpa kembali dengan author -yang labil upload fanfic- satu ini :)

Bagi yang penasaran mengapa Todoroki harus muncul di fic ini, jawabannya supaya setidaknya ada satu extras sebagai karakter yang sekedar 'numpang lewat' agar adegan BakuDeku tak terlau 'intimate' ;)

Dalam kata lain, Shouto lupa author kasih peran lebih di fic ini, hehe :p

Fyi, sepertinya ini akan menjadi fic terakhir author di tahun 2020 ini.

So... merry christmas and happy new year, minna~

Mohon maaf kalau selama ini author ada kesalahan dalam penulisan, pemilihan kata, dan lain sebagainya.

Okee, cukup sekian.

Sempatkan tulis pendapat, kritik, maupun saran kalian di kolom komentar di bawah, okay?

Author,

25 Desember 2020

Sampa jumpa di tahun 2021, minna~ :)