Perpustakaan hari itu ramai.

Hiasan-hiasan bernuansa putih-hijau-merah memenuhi seisi ruangan. Meja-meja berisi makanan kecil dan sirup buah ditata sedemikian rupa di bagian pinggir, sementara di tengah ruangan, replika pohon pinus besar berhiaskan ornamen-ornamen bernuansa serupa turut meramaikan. Seluruh penghuni toshokan—termasuk para staf perpustakaan—memenuhi perpustakaan yang malam itu dihias sedemikian rupa guna merayakan malam Natal.

Obrolan dan tawa mengudara. Di pinggir keramaian yang suasananya hangat, Shuusei memerhatikan semuanya. Orang-orang yang berlalu-lalang, mengobrol, mencomot makanan dari meja, bolak-balik menawarkan beberapa gelas cokelat panas dari dapur, semuanya.

Tidak, bukannya datang kemari sendirian. Shuusei kemari dengan Kouyou (yang mengajaknya) dan Kyouka (yang tampak mau ceramah lagi namun ditahan). Ketika kedua orang itu pergi entah ke mana, tahu-tahu Iwano Houmei yang mengenakan kostum rusa mendatanginya, bertanya apa Shuusei punya kado yang mau dititipkan padanya atau tidak (Shuusei menggeleng karena sebelum kemari sudah menitipkan kado-kadonya pada Kunikida). Setelah itu ada juga Hori Tatsuo yang menawarinya segelas cokelat panas dalam gelas karton (lagi-lagi Shuusei menggeleng, ia belum haus ataupun merasa kedinginan di sini). Itu beberapa menit lalu, sekarang dia sendirian—menunggu Kouyou dan Kyouka kembali mungkin ide bagus.

"Shuusei, sendirian?"

"Uwaah?!" Shuusei refleks berteriak kala bahunya tiba-tiba ditepuk dari belakang. Kepala langsung ditolehkan ke belakang. Oh, orang itu beruntung Shuusei bukan orang yang hobi marah-marah, apalagi padanya. "S-shimazaki?"

"Sendirian, nggak?" Masih pertanyaan yang sama, rupanya, bukan sapaan atau apalah. Shimazaki Touson masih menatap sang lawan bicara dengan tatapan tanya yang sedikit datar.

Shuusei melirik. "Kurasa." Sekilas tadi ia lihat Kouyou sedang mengobrol dengan Kouda Rohan di dekat pohon, sementara Kyouka ... entahlah, lagipula juga Shuusei tidak mau tahu buat yang satu itu.

"Hmm ..." Touson mangut-mangut. "Mau ke luar?"

"Huh?"

"Mereka bilang tahun ini saljunya bakal turun lebih cepat, aku mau lihat."

Sebelum Shuusei menjawab, tangannya sudah ditarik lebih dulu. Pemuda itu terkesiap. "S-sebentar dulu!" pekiknya. "Aku belum jawab!"

Touson menatapnya lagi. "Aku yakin kamu bakal jawab 'ya'," balasnya datar.

Shuusei menghela napas. Ucapan Touson memang benar, tapi mendadak ditarik begitu bisa membuatnya terkejut juga. Pemuda itu beranjak. "Di luar dingin—aku ambil syalku dulu. Kau juga jangan lupa pakai."

~o~

Christmas Night

Bungou to Alchemist belong to DMM Games

for #BSRMySnowman #ChristmasForYou #FFAFirstSnow #MonthlyFFA

Happy reading!

~o~

Udara malam bulan Desember selalu dingin, walau Shuusei merasa dinginnya tempat ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tempat kelahirannya. Namun, meski begitu, Shuusei tetap merapatkan syal yang dikenakannya pada leher, kalau diperhatikan lamat-lamat udara yang dihembuskannya sudah mulai mengembun.

Shuusei menghela napas. Diliriknya Touson yang tengah berjongkok di depan kolam, tidak ada apapun yang membebat lehernya di sana. Waktu bertemu di pertigaan koridor dan ditanya kenapa, Touson hanya menjawab kalau ia malas kembali ke kamar, lalu beranjak duluan hingga Shuusei terpaksa ikut—kalau mau sebetulnya Shuusei ingin menyeret pemuda yang lebih muda darinya itu ke kamarnya sendiri sebelum keluar, sayangnya ia tahu Touson keras kepala.

"Nggak kedinginan, apa?" Shuusei menghampiri Touson yang masih diam di tempatnya.

Sejenak Touson menoleh. Gelengan diberikan sebagai jawaban. "Biasa saja."

"Awas saja, lho. Aku tidak mau tanggung jawab kalau kau kena flu."

"Ucapan itu doa, Shuusei."

"... Bukan itu maksudku." Entah dari mana Touson mengutip kata-kata itu, Shuusei sudah menyerah. Obrolan kecil itu diakhiri dengan kedua iris sewarna obsidian yang turut menatap kolam.

Kolamnya membeku, akan tetapi lapisannya terlalu tipis hingga apabila dilempari batu, esnya bakal pecah dan menyebar ke mana-mana—Shuusei tahu karena tadi pagi tak sengaja melihat gerombolan Buraiha sedang berlomba melempar batu ke kolam yang lumayan lebar itu di tempat ini, omong-omong suara lapisan es yang retak gara-gara dilempar batu itu lumayan untuk membuat seseorang terkejut.

"Shuusei mau coba berjalan di atas sana?" Tahu-tahu Touson bertanya.

Shuusei menggeleng. "Mana mungkin, kan?" Dilempari batu saja sudah membuat lapisannya pecah, bisa-bisa Shuusei demam gara-gara tercebur ke dalam kolam yang suhunya entah berapa derajat.

"Cobain, gih. Aku penasaran."

"... Kau mau menumbalkanku?"

Touson terkikik kecil. Reaksi Shuusei seperti biasa membuatnya tertarik. Pemuda itu berdiri. "Oh, iya, Shuusei sudah tahu siapa yang tahun ini jadi Sinterklas dan rusanya?" tanyanya, mengganti topik.

Shuusei diam sebentar, mencoba mengingat-ingat. "Ah, ya, aku tahu." Yaitu Masamune Hakuchou dan Kunikida Doppo yang tahun ini bertugas jadi Sinterklas, sementara Iwano Houmei menjadi rusa—kendati, sejujurnya tidak ada perbedaan tugas di antara mereka bertiga. Mereka bakal mengirimkan hadiah-hadiah yang dititipkan oleh para penghuni toshokan begitu seluruh orang dirasa sudah tidur, diletakan di depan pintu kamar orang-orang yang dituju hingga bisa diterima pada pagi hari.

"Tahun lalu kamu yang jadi Sinterklasnya, kan?"

Shuusei mengangguk. "Ya ..."Bersama Takamura Koutarou yang juga jadi Sinterklas, sementara Hakuchou jadi rusanya. Shuusei masih ingat semua itu.

"Bagaimana rasanya?" Touson menatap Shuusei dengan tatapan ingin tahu.

Shuusei diam sebentar. "... Agak merepotkan, tapi seru juga." Ia tersenyum kecil sembari mengingat kegiatannya tahun lalu.

Berkeliling toshokan sambil membawa karung berisi kotak-kotak kado itu sebetulnya menyenangkan juga, meski agak repot juga harus bolak-balik koridor dan keesokan harinya ia bangun lebih lambat ketimbang biasa karena tidur lebih larut. Shuusei lumayan menikmatinya, akan tetapi ia tidak mau melakukannya buat kedua kali—takut bangun terlambat lagi, katanya.

Touson mangut-mangut. "Begitu, ya ..." gumamnya. "Kelihatannya menarik ..."

"Aku rasa kau bisa mengajukan diri buat tahun depan." Shuusei mengangkat bahu. Tak lama, ia menambahkan, "Kalau kau mau jadi Sinterklas atau rusa juga, maksudku."

Touson menggeleng. "Nggak. Aku mau mencobanya sekarang."

"... Memangnya bisa?" Dahi Shuusei mengernyit. Mungkinkah Touson mau ikutan jadi Sinterklas atau rusa dengan mereka yang tahun ini kebagian tugas? Atau bagaimana?

Touson tersenyum tipis, namun penuh arti. "Bisa, dong." Saku celananya dirogoh. Tangan ramping pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.

Shuusei mengerjap-ngerjap ketika sesuatu yang rupanya bungkusan kain sewarna daun segar berukuran sebesar telapak tangan itu disodorkan padanya. Sebuah omamori.

"Shimazaki?" Lagi, dahi Shuusei dibuat mengernyit. Ia benar-benar tidak paham dengan apa yang Touson lakukan.

"Buatmu." Touson membalas kalem. "Kado Natal dariku."

Sebenarnya sebelumnya Touson berniat membuat kue kering saja, namun ia tidak terlalu mahir memasak. Ingin meminta bantuan yang lain—misalnya Nakajima atau Mushanokouji—juga tidak bisa, lantaran kelihatannya mereka sedang sibuk. Atas saran Ozaki Kouyou yang ia tanyai kala tak sengaja berpapasan di koridor, Touson memilih mencari omamori ke kuil ketika pergi ke luar. Yang ia dapatkan hari itu ialah jimat kebahagiaan, untuk Shuusei yang ia harap akan selalu berbahagia selama-lamanya.

Shuusei terdiam, tidak tahu harus membalas bagaimana. Akan tetapi, beberapa waktu setelahnya ia hanya mendengus dengan senyum tipis. "Ya ampun ..." desahnya. "Kenapa nggak dititipkan ke Sinterklas aja, sih?"

"Kan aku mau coba jadi Sinterklas juga." Omamori masih disodorkan. Shuusei menerimanya seraya menghela napas, cukup senang meski masih terkejut. Ucapan terima kasih ia layangkan, yang mana hanya dibalas anggukan oleh yang bersangkutan.

Bersamaan dengan omamori dari Touson yang berpindah tangan, butiran putih yang terasa dingin mendarat lembut di tangan Shuusei. Kala merasakannya, pemuda itu menengadah.

"Salju ..." Ah, Touson juga melihatnya, rupanya. Perkataannya benar—salju turun lebih cepat tahun ini. Tangannya menadah sejajar dengan dada, butiran-butiran putih itu mendarat dan meleleh dengan cepat di atas sana.

Untuk beberapa menit mereka diam di tempat, menikmati salju yang satu per satu mulai menerpa. Angin berembus pelan.

Sesaat, Shuusei tidak merasa menyesal mengiyakan Touson yang mengajaknya ke taman belakang toshokan. Omamori pemberian pemuda itu ia genggam lembut.

Suara bersin yang tiba-tiba terdengar dari sebelah membuat Shuusei mengalihkan pandang. Tampak Touson sedang mengusap bawah hidungnya dengan jari.

"Fuh." Touson menggumam pelan, agak menggigil. Tubuhnya sudah mulai bereaksi pada udara dingin, sepertinya..

Shuusei menghela napas. "Sudah kubilang, kan ..."

"Tapi aku mau cepat-cepat ke sini," balas Touson datar. Kepalanya kembali menengadah ke arah langit, namun tak berapa lama kemudian kembali menunduk karena bersin.

Helaan napas keluar lagi dari mulut sang starter. "Ayo, kembali," ajaknya. "Aku rasa Hori-san masih punya cokelat panas di sana."

"Tapi aku masih mau lihat saljunya."

"Kalau besok kau kena flu aku tidak mau tanggung jawab."

"Hmmm ..."

Pada akhirnya Touson ikut juga kala Shuusei beranjak kembali. Perpustakaan masih ramai, dan Hori masih punya dua gelas cokelat panas dalam baki yang dia bawa—yang mana dengan senang hati ia berikan pada Shuusei dan Touson yang baru saja kembali dari luar.

-end-

Mari kita abaikan judulnya, aku ga punya ide buat judul gegara mikir ini-benang-merahnya-juga-di-mana-anjrit-aljskajaaj

(btw, ide soal Sinterklas sama rusa ini dari memoria level 3 yang baru-baru ini keluar (yang punya Hakuchou-Knkd-Iwano). Kalo yg punya Takamura-Shuusei-Hakuchou aku lupa ngecek kapan keluarnya, tapi anggep aja la tahun lalu :"D /mana bisa gitu)