Fervent Eve

[ joukuni, smut, r-18 ]

[ disclaimer ]

Jouno Saigiku dan Kunikida Doppo adalah karakter milik Asagiri Kafka dan Harukawa35. Pitik tidak mengambil keuntungan apapun dari FF ini selain rasa senang :)

.

.

.

Saat di mana semua orang sedang sibuk menghabiskan waktu untuk memandangi pohon natal raksasa di tengah kota, Jouno memilih untuk langsung pulang ke apartemennya. Ia tidak merasakan ragu sedikit pun. Pemuda berambut putih itu tahu seseorang telah menunggu di depan pintu.

Ketika menekan bel dan membuka pintu, Jouno tahu ia perlu mempersiapkan diri. Tapi menebak siapa sosok yang berdiri di balik pintu, pemuda itu tidak dapat mempertahankan sifat tenangnya lagi.

"Jouno—,"

Sambutan itu terputus karena usapan lembut pada puncak kepala. Kunikida Doppo, sang kekasih dengan setia menunggu kepulangannya. Jouno Saigiku tidak memiliki alasan untuk tidak merasa bahagia.

"Doppo-kun," sebut pemuda itu dengan suara rendah. Ia menutup dan pintu dan menguncinya dari dalam, kemudian berlutut untuk menyejajarkan diri dengan lelaki yang tengah terjebak oleh rantai dan choker hitam.

"Kau pasti sudah lama menungguku. Aku akan segera memberimu hadiah." Si rambut putih berbisik sembari meraba kalung leher. Jemarinya turun hingga mencapai dada. Perlahan ia mengusap puncak, membuat desah manis lolos dari bibir Kunikida.

"Jouno—ah—tolong lepaskan alat ini," minta lelaki pirang itu sembari menatap ke bawah. Sekalipun Jouno tidak dapat melihat, ia sudah bisa menebak apa yang kekasihnya maksud.

"Kenapa? Katakan padaku." Jouno menyusuri perut yang tidak tertutup sehelai benang pun, sementara napas lelaki pirang terdengar semakin berat. Di luar sana mungkin suhunya hanya satu digit. Tapi tubuh Kunikida terasa panas.

"Alat yang kau pasang terus—hh." Ucapan Kunikida terpotong ketika Jouno menyentuh miliknya yang tegang. Cairan putih sedikit membasahi ujung dan pemuda itu meratakannya hingga dasar.

"Jouno—ahn."

"Apa yang alat itu lakukan?" bisik si rambut putih di telinga Kunikida, "katakan padaku atau aku tidak dapat menolongmu."

"B-bergetar—hn," sahut lelaki pirang itu kemudian meraih tangan Jouno, menahan usapan si pemuda. Namun tangannya tetap gencar menyentuh. Kemudian Jouno mencondongkan tubuh hingga bibirnya berada di depan telinga Kunikida.

"Kalau itu," suara rendah terdengar begitu dekat, "aku tidak berniat untuk menolongmu, Doppo-kun." Sebuah jilatan membasahi tulang rawan itu. Si pirang melenguh pelan di belakang Jouno. Pundaknya bergetar saat merasakan rangsang terus mendesak hingga batas.

"S-setidaknya jangan—ahn—di depan pintu," minta Kunikida sekaligus menahan jemari sang kekasih yang sekarang memainkan sepasang buah di dasar kepemilikannya.

"Apa Doppo-kun malu?" Pertanyaan itu diikuti dengan gigit pelan pada daun telinga. Terasa geli dan membuat rona merah muncul di pipi sang submisif.

"Tolong bawa aku—hh—ke dalam."

"Kalau begitu pilihlah," sahut Jouno sambil menarik rantai yang menyambungkan kalung leher Kunikida dengan gagang pintu.

"Aku akan melepaskan vibratornya sekarang dan bercinta denganmu di sini—,"

Kunikida tidak mau. Sudah cukup ia dipaksa menunggu dengan tubuh telanjang bulat di depan pintu yang tidak terkunci. Seseorang bisa saja masuk dan melihat pemandangan memalukan ini.

"—atau aku akan membawamu ke kamar dan vibratornya akan tetap berada di dalam sana sampai aku selesai?"

"J-Jouno—," Nada yang mewakili keputusasaan. Kunikida tidak ingin memilih keduanya. Ia tidak bisa.

Di sela berpikir, sang kekasih menuntut sebuah ciuman. Kunikida harusnya bisa memutar otak dan memilih salah satu opsi. Tapi pagut yang diberikan Jouno membuatnya lumpuh. Ia pasrah dan mengikuti alur gerakan sang dominan, membiarkan jari kini menarik kabel ketiga vibrator yang sejak tadi terus bergetar dan bertubrukan di dalam analnya.

Helaan lega lolos di tengah taut bibir. Namun tidak berlangsung lama ketika Jouno langsung menelusupkan dua jari ke dalam sana. Pekik tertahan mengisi ruang, membuat Kunikida gelagapan dan menggigit bibirnya sendiri. Tubuhnya sekarang bersandar pada dinding.

Manik zamrud Kunikida menemukan sebuah seringai di wajah pemuda itu, sesaat sebelum sebuah ciuman terjalin kembali. Jouno membungkam bibirnya lagi, membuat desah kencang teredam saat seharusnya keluar dan terdengar oleh orang-orang yang melewati koridor di depan kamar. Kunikida merosot ke lantai, memaksa telunjuk dan jari tengah Jouno untuk keluar dari celahnya.

"Pilihan pertama lebih baik, bukan?"

Jika Jouno bisa melihat, maka entah berapa banyak rasa malu yang muncul dalam diri Kunikida. Matanya yang berkaca-kaca, pipinya yang merona malu, dan kepemilikannya yang sudah berdiri sempurna. Semua akan tersingkap.

"Kalau begitu, aku akan memberikan hadiahnya sekarang," cetus Jouno sembari melebarkan tungkai sang kekasih. Telunjuknya sekali lagi meraba, mencari celah yang sejak tadi ingin diisi kembali.

Kunikida tidak memberontak. Lelaki pirang itu membiarkan sentuhan membuat temperatur badannya semakin tinggi. Jantungnya berpacu, berdegup kencang saat sebuah jari menggapai ke dalam celah. Tubuh Kunikida kini berbaring di atas lantai, menanti penautan lain dari sang kekasih.

Dan Jouno segera memenuhinya, mendorong kejantanan yang sejak tadi menahan diri untuk menghujam liang hangat. Kunikida menggigit bibirnya sendiri, menahan pekik agar tidak lolos.

Pemuda berambut putih itu mulai bergerak. Masuk dan keluar dalam tempo pelan. Napas terengah Kunikida terdengar jelas. Amat jelas hingga Jouno tidak bisa sabar.

Sebuah pekik terpaksa lolos karena hujaman cepat. Kunikida langsung meraih pergelangan tangan Jouno mencari rasa aman di tengah rasa perih yang mendominasi.

"J-Jouno—hh," panggil sang kekasih. Sebutan itu dibalas dengan sebuah dekap sekaligus tautan tubuh yang lebih dalam. Kunikida memejamkan kedua mata, merasakan milik Jouno mengisi penuh celahnya.

"Jouno." Sekali lagi bibirnya memanggil, mengucap nama itu sebagai pelampiasan.

"Apa kau sangat menyukai hadiahmu?" tanya Jouno kemudian mendaratkan sebuah kecupan pada dahi sang kekasih, "di dalam sini sangat hangat. Aku suka."

Lelaki pirang itu ganti tersenyum. Ia bergerak, ganti memulai hujaman karena Jouno berhenti di tengah jalan. Kedua lengan Kunikida melingkar di lehernya. Lalu sebuah kecup sampai pada bibir Jouno, disambut, dan berubah menjadi sebuah taut dalam.

Gerakan pinggul Kunikida juga mendapatkan balasan. Keduanya saling berbagi kehangatan malam itu, seolah dunia hanya milik mereka. Kunikida bahkan sudah melupakan choker dan rantai yang terpasang di leher.

Ciuman panas itu usai setelah beberapa saat. Jouno tersenyum puas karena sang kekasih mau menginisiasi penyatuan bibir tadi. Perlahan tapi pasti, lelaki pirang itu merasakan gejolak di dalam perutnya. Kemudian tanpa aba-aba milik Jouno keluar dan membasahi semuanya. Cairan putih itu mengalir turun dan menodai lantai apartemen.

Kunikida masih terengah bahkan setelah senggama berakhir. Jouno memeluknya lagi, merasakan jantung yang tengah berdegup kencang karena ulahnya. Pemuda itu mengusap helai-helai pirang Kunikida sambil berbisik di depan telinga.

"Selamat natal, Doppo-kun. Aku mencintaimu."

.

.

.

The End

Iya. Ini janji yang secara sembarangan dan tanpa mikir dua kali kusebutkan. Entah kesambet apa aku bikin ginian. Maapkan, Pitik, ya Kuni

Serius ini :v