Summary:
Merah. Pandangan Bakugo kini dipenuhi dengan warna merah. "Darah?" Siapapun sosok yang sedang berada di pangkuannya kemungkinan besar menjadi penyebab banyaknya cairan merah tersebut di sekitar mereka. "Bukankah ini yang selama ini kau inginkan, Kacchan? Kuharap kini tidak ada lagi yang menghalangimu menjadi Hero no-1 di Jepang…"
.-~[•••••]~-.
"True Feelings"
Story by ShapeShifter365
Disclaimer: BNHA belongs to Horikoshi Kohei
Rating: M
Genre: friendship to romance(-ish), hurt & comfort
Warning: BL/slash
Don't Like, Don't Read
Enjoy,
Chapter 1
Bakugo terbangun terduduk di ranjang kamar asrama miliknya dengan nafas terengah-engah dan peluh yang membanjiri sekujur tubuhnya.
Keringat tersebut sukses membasahi tank top yang tengah ia kenakan, sehingga memaksa Bakugo untuk mengganti pakaiannya.
"Mimpi macam apa itu tadi?" gumam sang Ground Zero yang secara refleks menelan ludah guna membasahi tenggorokan keringnya sembari menolehkan kepala menuju jendela di sisi kanannya.
"Huh, masih gelap?"
Jam di nakasnya menunjukkan pukul 01.23 sehingga membuat sang pomeranian pirang pemarah menggerutu sebal.
"Mimpi buruk sialan."
Menarik nafas dalam sejenak, Bakugo akhirnya kembali membaringkan tubuhnya di atas selimut jingga miliknya.
Wajar saja, musim panas di Musutafu memang memiliki suhu tinggi yang luar biasa konyolnya.
•••
[Beberapa menit kemudian]
Berbaring sisi kanan, kiri, maupun berbalik tengkurap telah Bakugo coba, namun mata sialannya tidak dapat terkatup rapat tanpa teringat kilasan mimpi buruknya barusan.
Menyerah dengan usaha kembali tidurnya, Bakugo memutuskan untuk pergi membuat teh pedas kesukaannya di dapur.
"Ugh."
Tubuhnya sedikit berjengit saat dirinya bangkit terlalu cepat, membuat kurangnya asupan aliran darah ke kepalanya sehingga kini ia seolah dapat melihat kunang-kunang beterbangan.
Setelah menyesuaikan diri sejenak, Bakugo akhirnya beranjak dari kamarnya.
Saat melewati kamar Kirishima, pendengarannya tak sengaja menangkap suara desahan samar dan deritan ranjang mecurigakan dari kamar sang pemuda berambut merah tersebut.
"Tch! Rambut aneh dan pikachu bodohnya," gerutu sang pomeranian pirang yang semakin mempercepat langkahnya menuju lift di ujung lorong tersebut.
"Ting!" suara pintu lift yang mulai terbuka.
"…"
Mood Bakugo semakin memanas saat mendapati dua sejoli yang tampak sedang asik memagut mesra tanpa peduli dimana mereka sedang berada.
Merasa urat kesabarannya telah putus, sang pomeranian pemarah pirang tercinta kitapun mulai berteriak.
"Oi! Deku, dispenser panas-dingin sialan! Get a fuckin' room, you both!"
Dan seketika itu pula dua sejoli tersebut memutuskan tautan bibir mereka.
"K-Kacchan!" seru terkejut sang pemuda brokoli yang kini tampak berusaha menyembunyikan rona wajahnya di balik kedua tangan.
Dengan tatapan datarnya, Todoroki kembali memberi kecupan singkat pada pemuda hijau di dekapannya sebelum memencet tombol 'tutup' pada lift tersebut.
Tepat sebelum pintu lift tertutup sempurna, Bakugo bisa melihat sang dispenser keparat itu memberikan jari tengah padanya sembari kembali memagut mesra sang brokoli.
"Kaboom!"
Dan di saat itulah hampir setengah pengguni Heights Alliance terbangun paksa akibat bunyi ledakan yang getarannya bahkan dapat mereka rasakan dari kamar mereka masing-masing.
"Bakugoooo!" seru mereka hampir bersamaan karena telah -dipaksa- terbiasa dengan tingkah sang pemuda pirang pemarah tersebut.
Merasa mood-nya telah dihancurkan oleh para 'extras' bodoh tadi, Bakugo akhirnya berbalik badan menuju kamarnya, membanting pintu, lalu menggelung diri dibalik selimut jingga kesayangannya.
Persetan dengan suhu tinggi musim panas, insomnia, dan mimpi buruk sialan tersebut.
•••
Bakugo memasang raut wajah masam sepanjang pagi pada keesokan harinya.
Bagaimana tidak? Saat akhirnya berhasil menutup mata, dirinya kembali dipaksa mengalami mimpi buruk yang sama untuk yang kedua kalinya dan Bakugo sudah kelihangan minat untuk tidur setelahnya.
Seperti biasa, dirinya menjadi orang terakhir yang tiba di kelas 1A, tepat sebelum bel tanda masuk berbunyi.
Saat medekati bangku miliknya, pandangan Bakugo tidak sengaja terarah pada sang pemuda brokoli; Deku yang kini kembali merona hebat setelah tatapan mereka bertemu.
"Tch." decaknya sebelum mendudukkan diri, bersamaan waktu dengan datangnya Aizawa-sensei.
•••
"Kriiiiiing!"
Bunyi bel pertanda istirahat makan siang akhirnya berbunyi.
Para siswa kelas 1A segera berhamburan keluar, terkecuali pemuda pirang pemarah tercinta kita yang kini masih tampak terlelap dengan kepala bersandar di kedua lengan di atas mejanya.
"Deku-kun!" panggil Uraraka dari pintu kelas setelah mengetahui Midoriya belum juga keluar.
"A-ano, sepertinya aku akan tinggal di sini sebentar, Uraraka-san. Kau bisa pergi duluan," timpal Midoriya yang hanya dibalas anggukan singkat dari sang gadis berambut cokelat.
Kini ruang kelas 1A hanya berisi Deku dengan sang 'rival' yang masih tampak nyaman tertidur dengan dengkuran harus yang dapat terdengar samar.
Secara refleks, Deku menaikkan kedua sudut bibirnya. Kapan lagi dia bisa melihat sang Pomeranian pemarah itu merilekskan otot-otot wajahnya seperti sekarang, bukan?
Setelah memasukkan buku-buku ke dalam ranselnya, ia pun segera bangkit mendekati sosok di hadapannya.
"Kacchan," panggil Midoriya sembari menggoyangkan bahunya perlahan.
"-Zuku, jangan pergi..."
Gumaman lirih dari pemuda pirang yang masih terlelap di hadapannya itu sukses membuat sekujur tubuh Deku menegang.
Mendapati wajah Bakugo yang mulai menampakkan raut tidak nyaman dengan bulir-bulir keringat yang cukup nampak, rasa khawatir secara perlahan meresap ke tubuh Deku.
"K-Kacchan?" panggilnya dengan volume sedikit lebih keras.
"…"
Tak mendapat respon apapun, Deku berusaha menggoyangkan bahu Bakugo sembari mendekatkan wajah mereka untuk mengamati perubahan wajah pemuda di hadapannya.
Setelah mengulang beberapa kali dengan intensitas yang semakin ditingkatkan, akhirnya sang 'pangeran tidur'(?) terlonjak bangun.
"K-Kacchan?!"
Deku memekik terkejut saat mendapati tubuhnya kini didekap erat oleh Bakugo.
"Izuku? Oh! arigato, Kami-sama, arigato... Arigato..." merupakan kalimat yang terus digumamkan Bakugo berulang-ulang sembari semakin mengeratkan dekapannya pada sosok pemuda hijau yang kini tak tahu dapat merespon seperti apa.
Saat merasa sebelah bahunya mulai basah, Midoriya secara refleks membalas dekapannya.
"Shhh… tidak apa-apa, Kacchan," tenang Deku sembari mengusap punggung Bakugo yang kedua bahunya kini tampak bergetar pelan.
Setelah beberapa detik yang berasa seperti berjam-jam itu terlewati, akhirnya Bakugo meloggarkan dekapannya.
"Ada apa, Kacchan? K-kalau aku boleh tahu, tentu saja." tanya halus Deku pada sosok yang kini tampak menundukkan kepalanya.
"Jangan tinggalkan aku, Izuku…" merupakan gumaman terakhir Bakugo sebelum kembali terlelap dalam dekapan sang pemuda brokoli yang kini memasang ekspresi bingung bercampur tak percaya.
"A-apa Kacchan dari tadi benar-benar memanggil nama depanku?" pikir Deku sembari menahan degup jantungnya yang mulai bertambah cepat.
•••
Usai bel pertanda masuk dibunyikan, para siswa 1A dibuat terkejut dengan pemandangan tak biasa setibanya mereka di kelas.
Dengan rona merah yang semakin pekat di wajahnya, Deku hanya dapat mengeratkan dekapan sembari meyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang Ground Zero yang masih tampak terlelap nyenyak dalam pangkuan sang pemuda brokoli.
"A-ano... Deku-kun, apa kau baik-baik saja?" tanya canggung Uraraka setelah mendekati mereka berdua bersama Kirishima.
"Ada apa dengan Bakubro?" tanya khawatir sang rambut merah kemudian.
"A-"
Saat Deku akan menjawab, ucapannya terpotong oleh suara dari speaker kelas yang mengumumkan bahwa pelajaran selanjutnya ditunda dan seluruh siswa wajib segera kembali ke gedung asrama masing-masing.
Tak hanya sampai disitu, kelas 1A kembali dikejutkan saat pintu kelas mereka dibuka -didobrak- paksa oleh Aizawa-sensei yang kini tampak terbangun sepenuhnya dengan rambut terangkat tanda quirk-nya sedang aktif.
"Kalian dengar pengumuman barusan. Segera kembali ke Heights Alliance, kunci setiap jendela dan pintu masuk dari dalam. Jangan ada yang keluar dan jangan izinkan siapapun masuk sebelum pengumuman selanjutnya."
"Ada apa sensei?" tanya Iida yang seolah menyuarakan rasa was-was seluruh siswa kelas 1A.
"UA telah disusupi. Cepat ikuti ucapanku barusan jika kalian peduli dengan keselamatan kalian," menjadi kalimat terakhir Aizawa sebelum meninggalkan kelas tersebut.
Dan itu menjadi tanda final agar mereka segera menuruti perintah sang wali kelas.
Deku kini merasa bersyukur sebab dengan All for One, dirinya dapat dengan mudah mengangkat -menggendong- Bakugo yang entah mengapa semenjak peristiwa tadi tidak dapat dibangunkan.
Oh, kalian tak perlu khawatir. Pomeranian pirang penggerutu tercinta kita tidak sedang sekarat atau bagaimana. Ini terbukti dengan kedua lengan yang secara refleks semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Izuku sementara mereka semua berjalan -setengah berlari- menuju Heights Alliance.
•••
"Kacchan!"
Pandangan beserta kesadaran Bakugo dipaksa terfokus saat mendengar panggilan khas tersebut.
"Deku?" gumamnya yang masih tampak linglung terhadap suasana gaduh di sekitar mereka.
"Cepat! Dia semakin dekat!" seru Deku dengan kepanikan terpampang jelas di wajah berdarahnya.
Tunggu sebentar. Berdarah?
"Apa yang-"
Saat lengannya terjulur ingin menggapai wajah di hadapannya, Bakugo dikejutkan dengan ledakan besar tepat di tempat mereka berada, menyebabkan tubuh mereka berdua terpelanting kencang selama belasan -mungkin puluhan- meter jauhnya.
"Bruakhh!"
"Deku!" panggil Bakugo panik saat melihat ada sebuah rangka besi beton menembus tubuh sang pemuda brokoli.
"Uhuk!"
"D-Deku?" panggilannya semakin mengecil saat mengetahui bahwa darah, banyak darah mulai merembes keluar dari perut maupun mulut pemuda yang kini tampak terduduk pasrah di hadapannya.
Seketika itu juga, pandangan Bakugo hanya terfokus pada pemuda di hadapannya, tidak menghiraukan suasana kacau di sekitar mereka maupun para Hero lain yang tampaknya semakin kesulitan menghadapi sang Villain.
"K-Kacchan…" gumam lirih Deku sembari terbatuk darah untuk kesekian kalinya.
"Shush… Bertahanlah, k-kau akan baik-baik saja, Deku…" timpal Bakugo sembari menautkan kedua tangan mereka.
Tak dapat membendungnya lagi, air mata kini sukses mengalir dari kedua iris kemerahan Bakugo.
Melihat keadaan kacau sang 'teman masa kecil' di hadapannya, Deku hanya dapat tersenyum lemah.
"Bukankah ini yang selama ini kau inginkan, Kacchan? Kuharap kini tidak ada lagi yang menhalangimu menjadi Hero no-1 di Jepang…" menjadi ucapan terakhir Izuku sebelum cahaya tampak menghilang dari kedua matanya.
"D-Deku? Bangun. Ini tidak lucu, kau tahu? Jangan berani-beraninya kau bercanda di saat seperti ini…"
Ucapannya tak mendapat respon apapun.
Pandangan Bakugo kini semakin memburam akibat telah dipenuhi dengan air mata yang juga mulai menetes pada tubuh berdarah tak bernyawa di pangkuannya.
"Deku.. Izuku, -Zuku, jangan pergi..."
TBC
Author's Note
Halo minna~
Bagaimana kabar kalian semua? Semoga baik-baik saja.
Oke, oke… Karena ini adalah fanfic BNHA pertama buatan author, jadi mohon maklum kalau ada kesalahan apapun, okay?
Semoga readers-tachi tetap dapat menikmati fic ini, hehe.
Oke, cukup sekian.
Sampai jumpa di chapter berikutnya~
Author,
16 Desember 2020
