Summary:
Merah. Pandangan Bakugo kini dipenuhi dengan warna merah. "Darah?" Siapapun sosok yang sedang berada di pangkuannya kemungkinan besar menjadi penyebab banyaknya cairan merah tersebut di sekitar mereka. "Bukankah ini yang selama ini kau inginkan, Kacchan? Kuharap kini tidak ada lagi yang menhalangimu menjadi Hero no-1 di Jepang…"
Sebelumnya:
"K-Kacchan…" gumam lirih Deku sembari terbatuk darah untuk kesekian kalinya.
"Shush… Bertahanlah, k-kau akan baik-baik saja, Deku…" timpal Bakugo sembari menautkan kedua tangan mereka.
Tak dapat membendungnya lagi, air mata kini sukses mengalir dari kedua iris kemerahan Bakugo.
Melihat keadaan kacau sang 'teman masa kecil' di hadapannya, Deku hanya dapat tersenyum lemah.
"Bukankah ini yang selama ini kau inginkan, Kacchan? Kuharap kini tidak ada lagi yang menhalangimu menjadi Hero no-1 di Jepang…" menjadi ucapan terakhir Izuku sebelum cahaya tampak menghilang dari kedua matanya.
"D-Deku? Bangun. Ini tidak lucu, kau tahu? Jangan berani-beraninya kau bercanda di saat seperti ini…"
Ucapannya tak mendapat respon apapun.
Pandangan Bakugo kini semakin memburam akibat telah dipenuhi dengan air mata yang juga mulai menetes pada tubuh berdarah tak bernyawa di pangkuannya.
"Deku.. Izuku, -Zuku, jangan pergi..."
.-~[•••••]~-.
"True Feelings"
Story by ShapeShifter365
Disclaimer: BNHA belongs to Horikoshi Kohei
Rating: M
Genre: friendship to romance(-ish), hurt & comfort
Warning: BL/slash
Angsty!Bakugo ;)
Don't Like, Don't Read
Enjoy~
Chapter 2
Masih terlelap, Bakugo kini tampak berbaring di salah satu sofa di common room dengan kepala bersandar di pangkuan Deku.
Peluh yang semakin membanjiri tubuh dan wajah pucatnya hanya membuat meningkatnya kekhawatiran sang pemuda brokoli.
Teman-teman mereka sedang sibuk mengamankan setiap pintu dan jendela Heights Alliance, namun Deku tetap tidak dapat mengalihkan perhatiannya pada sang Pomeranian pirang penggerutu di pangkuannya.
"Kacchan," panggil Deku untuk kesekian kalinya pada hari itu.
Seolah merasa diganggu dalam tidur cantiknya, Bakugo akhirnya secara perlahan membuka kedua kelopak matanya, hanya untuk dipertemukan oleh sepasang iris kehijauan yang saat itu ia pikir merupakan hal terindah di dunia.
Hal ini tentu saja sebelum sang 'King Explosion Murder' mengetahui milik siapa kedua iris hijau tersebut.
Dan seperti yang dapat kalian semua bayangkan kelanjutannya...
"Duagh!"
Bakugo dengan sekuat mungkin menabrakkan kepalanya dengan dagu pemuda di hadapannya, membuat sang pemuda brokoli merintih pelan.
"Ugh.. K-Kacchan?!"
"Apa-apaan kau Deku?! Berani-beraninya menatapku seperti itu!" seru Bakugo sebelum bangkit dan pergi menuju kamarnya, meninggalkan Deku yang hanya dapat tercengang tak mengerti.
"A-apa yang barusan terjadi?" pikirnya yang seolah mengalami korsleting sebelum mulai menggumamkan berbagai probabilitas terhadap tindakan janggal Bakugo sejak di kelas tadi.
•••
Tidak menghiraukan raut bingung dan khawatir tiap orang yang berpapasan dengannya, Bakugo semakin mempercepat langkah kakinya.
"Ceklek," "klik."
Setelah memastikan pintu kamarnya tertutup dan terkunci rapat, Bakugo akhirnya membiarkan tubuhnya merosot ke lantai sebelum memeluk kedua lututnya.
"Mimpi itu terasa sangat nyata," gumamnya sembari berusaha mengenyahkan kilasan-kilasan mengerikan yang diam-diam ia harap tidak akan pernah terjadi tersebut.
"Izuku, maafkan aku..."
Dan saat itulah Bakugo kembali meneteskan air mata dalam diam di balik pintu kamarnya.
•••
"Midobro!"
Gumaman panjang Deku terpotong oleh panggilan dari Kirishima yang tampak tengah menuju ke sofa tempat ia duduk.
"Kirishima-kun?"
"Dimana Bakubro?" tanyanya bingung setelah berjarak cukup dekat dengan sang pemuda brokoli.
"A-ahh… ano, dia… pergi?" gumam Deku yang tampak ragu dengan perkataannya sendiri.
"Ohh, dia sudah bangun berarti?" timpal Kirishima sembari mendudukkan diri di sebelahnya yang hanya dibalas anggukan singkat dari Deku.
"…" Sang rambut merah tampak ragu sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka suaranya.
"Kalau aku boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi?"
"…"
Deku tampak memikirkan sejenak jawaban yang akan ia berikan, sehingga Kats- Bakugo, sehingga Bakugo tidak semakin membencinya.
"Ano… Uhh, sepertinya Kacchan hanya sedang tidak enak badan saja," ucapnya sembari tersenyum canggung dengan sebelah tangan menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tak gatal itu.
"Ahh, oke…" jawab singkat Kirishima sebelum undur diri menuju dapur.
Deku hanya dapat menghembuskan nafas lega melihat kepergian sang rambut merah.
•••
[Malam harinya]
Berbeda dengan malam-malam biasanya, kali ini Deku sedang tidak berminat untuk berkumpul bersama teman sekelasnya di common room sehingga ia beranjak terlebih dahulu menuju kamarnya.
"Ting!"
Setibanya di lantai 2, pandangan Deku langsung terarah pada seseorang yang tampak sedang berdiri di depan pintu masuk kamarnya.
"K-Kacchan?" panggilnya terkejut setelah mendekatkan diri sehingga penampilan sosok tersebut semakin jelas.
Rambut pirang berantakan, lalu tanktop dan celana panjang hitam khas yang dikenakannya saja seolah dapat meneriakkan nama 'Katsuki Bakugo.'
Bakugo hanya menolehkan kepalanya menuju sang pemuda brokoli yang kini berjarak beberapa meter dari dirinya dan semakin mendekat tersebut.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"?"
"B-boleh aku masuk?" gumam Bakugo kemudian setelah mengalihkan tatapannya.
Mendengar hal yang mungkin hanya dapat ia mimpikan semacam itu sempat membuat tubuh Deku seolah mendapat sengatan listrik kecil.
"Ahh, tentu! tentu saja," jawab sang brokoli kemudian sembari membuka kunci pintu kamarnya.
•••
"K-kau bisa lebih mendekat, Kacchan," ucap Deku setelah medudukkan dirinya di sisi samping ranjang, sementara Bakugo tampak masih berdiri di dekat pintu sembari bersedekap tangan.
"Tsk."
Dengan decakan pelan, Bakugo akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi belajar sang pemuda brokoli.
"Jadi…?"
"Jadi, …"
Terdapat keheningan sejenak sebelum Bakugo mulai -berusaha- mengutarakan isi pikirannya semenjak pagi tadi.
"Aku… uhh, apa kau membenciku?"
Pertanyaan tak terduga itu tentu berhasil mengejutkan Deku.
"Really, Kacchan? Bukankah itu seharusnya menjadi kata-kataku?" balas Izuku sembari menaikkan sebelah alisnya.
"…"
Tak mendapat balasan apapun, Deku akhirnya memberanikan diri untuk kembali mendongakkan kepalanya menuju sang 'King Explosion Murder' yang kini tengah memasang ekspresi penuh keraguan.
"Maafkan aku."
"A-apa?"
Deku pasti salah mendengarnya.
"Kubilang maafkan aku, Deku!" seru Bakugo kemudian sebelum kembali mengalihkan pandangannya dan mengeratkan gengggaman pada sandaran lengan di kedua sisinya.
"…"
"K-kemarilah, Kacchan," ucapnya beberapa saat kemudian.
Dengan tatapan curiga bercampur waspada, Bakugo mulai mendekatkan dirinya menuju sang pemuda brokoli yang juga telah bangkit dari posisi duduknya.
"Grep,"
Sebelum Bakugo dapat bereaksi, Deku segera menarik lengan pemuda di hadapannya dan mendekapnya dalam pelukan erat.
"Aku sudah memaafkanmu sejak dulu, Kacchan."
Dan itu menjadi tanda bagi Bakugo untuk membalas dekapannya.
Kata "terima kasih, Izuku" dapat samar-samar ia dengar sehingga senyuman semakin lebar tampak di wajah sang pemuda brokoli.
•••
[Beberapa menit kemudian]
"Really, Deku? Kau masih menjadi superfan All Might?" ucap Bakugo sembari mengamati satu-persatu action figure beserta poster-poster raksasa yang memenuhi kamar sang pemuda brokoli tersebut.
"Yeah... begitulah," jawab Deku sembari menggaruk belakang kepalanya.
"Tsk. Mengerikan."
"Ehhhh? Kenapa bisa begitu? Bukannya Kacchan dulu juga menyukai All Might?" timpalnya yang hanya mendapat balasan lirikan tajam dari sang Pomeranian pirang.
"Hn."
"…"
"…"
"Jadi… mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pagi ini?" tanya Deku setelah beberapa menit mereka lalui dalam diam.
Sebenarnya itu memang menjadi topik utama yang seharusnya mereka bicarakan sejak tadi, bukan?
"…"
"Aku… aku mendapat mimpi,"
"Hm?"
"Diamlah, Deku!"
Sang pemuda brokoli kesayangan kita itu segera mengangkat kedua tangannya sebelum membuat gestur mengunci mulut.
"Di mimpi itu… aku, -aku melihat rangka besi menembus tubuhmu. Lalu ada banyak darah! K-kau juga terbatuk darah! Tanganku kemudian bersimbah darahmu, kemudian… kemudian kau mengakatakan kata-kata terakhir seolah kematianmu merupakan hal yang sejak dulu kuinginkan! berkata kalau setelah itu tidak ada lagi yang menghalangiku menjadi Hero no-1, lalu… lalu-"
Tak terasa air mata pun kembali mengalir dari kedua iris kemerahan Bakugo, membuat Deku sedari tadi hanya dapat semakin tercengang dalam diam.
Sebelum Bakugo sempat menyelesaian racauannya, Deku segera menarik lengan pemuda di hadapannya dan mendekapnya dalam pelukan erat -lagi-.
"Shhh, itu hanya mimpi, Kacchan. A-aku tidak akan pernah mengatakan hal mengerikan semacam itu padamu, tidak akan pernah."
Seperti di kelas pagi tadi, Deku kembali membuat usapan halus melingkar pada punggung pemuda pirang di dekapannya yang tubuhnya terasa bergetar hebat, mengabaikan sebelah bahunya yang kini kembali dibuat basah -lagi-.
"M-maafkan aku, 'Zuku…"
Izuku hanya dapat semakin mengeratkan dekapannya.
"Tidak apa-apa, Kacchan. Itu hanya mimpi,"
"Itu hanya mimpi… hanya -hanya mimpi…" menjadi kalimat yang Bakugou gumamkan berulang-ulang sebelum merasa kesadaran secara perlahan mulai meninggalkan tubuhnya yang masih mendapat kehangatan dan kenyamanan dalam dekapan erat Izuku.
•••
Izuku hanya dapat tersenyum lemah saat mendengar dengkuran halus dari sebelah bahunya.
"Kacchan…" batin sang pemuda brokoli setelah mengetahui kalau jam telah menunjukkan pukul 20.35.
"Tentu saja. Ini sudah melewati jam tidurmu," gumam Deku kemudian sembari tertawa kecil.
Terlalu lelah batin setelah mendengar racauan Bakugo beberapa saat lalu, Deku akhirnya memutuskan untuk menidurkan sang Pomeranian pirang di ranjangnya sebelum turut berbaring di sebelahnya.
Tanpa disadari siapa pun, pada suatu waktu di pertengahan malam itu, ada sesosok samar yang tampak menyeringai dari balik bayangan.
TBC
Author's Note
Halo minna~
Bagaimana kabar reader-tachi? Semoga kalian baik-baik saja.
Untuk chapter depan jangan lupa siapkan kotak tisu kalian, okay? :)
Mungkin akan berguna untuk melempari author dengan kotaknya, hehe :p
Okee.. Cukup sekian.
Sampai jumpa di chapter berikutnya~
Author,
17 Desember 2020
*Nantikan update chapter 3 pada hari Jumat, 25 Desember mendatang :)*
