Summary:
Merah. Pandangan Bakugo kini dipenuhi dengan warna merah. "Darah?" Siapapun sosok yang sedang berada di pangkuannya kemungkinan besar menjadi penyebab banyaknya cairan merah tersebut di sekitar mereka. "Bukankah ini yang selama ini kau inginkan, Kacchan? Kuharap kini tidak ada lagi yang menghalangimu menjadi Hero no-1 di Jepang…"
Sebelumnya:
"M-maafkan aku, 'Zuku…"
Izuku hanya dapat semakin mengeratkan dekapannya
"Tidak apa-apa, Kacchan. Itu hanya mimpi,"
"Itu hanya mimpi… hanya -hanya mimpi…" menjadi kalimat yang Bakugou gumamkan berulang-ulang sebelum merasa kesadaran secara perlahan mulai meninggalkan tubuhnya yang masih mendapat kehangatan dan kenyamanan dalam dekapan erat Izuku.
•••
Izuku hanya dapat tersenyum lemah saat mendengar dengkuran halus dari sebelah bahunya.
"Kacchan…" batin sang pemuda brokoli setelah mengetahui kalau jam telah menunjukkan pukul 20.35.
"Tentu saja. Ini sudah melewati jam tidurmu," gumam Deku kemudian sembari tertawa kecil.
Terlalu lelah batin setelah mendengar racauan Bakugo beberapa saat lalu, Deku akhirnya memutuskan untuk menidurkan sang Pomeranian pirang di ranjangnya sebelum turut berbaring di sebelahnya.
Tanpa disadari siapa pun, pada suatu waktu di pertengahan malam itu, ada sesosok samar yang tampak menyeringai dari balik bayangan.
.-~[•••••]~-.
"True Feelings"
Story by ShapeShifter365
Disclaimer: BNHA belongs to Horikoshi Kohei
Rating: M
Genre: friendship to romance(-ish), hurt & comfort
Warning: BL/slash & yaoi
Don't Like, Don't Read
Enjoy~
Chapter 3
[Flashback]
"Boom!"
Bunyi ledakan disertai kobaran api, diikuti dengan teriakan panik dan putus asa warga-warga sipil dari berbagai arah dapat Bakugo dengar dengan teramat jelas.
"Tch!"
Bakugo hanya dapat mendecih sembari menggertakkan gigi-giginya, merutuki kelemahan dan ketidakberdayaannya sebagai seorang -calon- Hero yang harusnya dapat segera menyelamatkan orang-orang malang tersebut.
Jangankan menggerakan tubuh, bernafas saja sudah kesulitan dilakukan sang Ground Zero sebab aura membunuh All for One yang sangat pekat tepat di depannya.
Saat keringat dingin semakin membanjiri tubuh Bakugo yang masih serasa membeku di tempat, pandangannya dikejutkan oleh kehadiran sosok pria pirang gagah yang sudah tak asing lagi baginya.
All Might.
Bakugo serasa ingin berteriak, namun pikirannya saat itu terlalu sibuk memikirkan cara melarikan diri agar tidak menjadi 'collateral damage' dalam pertarungan All Might dengan sosok bertopeng tanpa wajah di depannya yang dapat ia rasakan akan menjadi salah satu pertarungan terbesar dalam sejarah tersebut.
Dan dugaannya benar saja.
Satu pukulan dari All Might bahkan mampu menghancurkan beberapa gedung sekaligus. Namun bukan itu yang membuat kedua iris kemerahan Bakugo membelalak sempurna. Sosok bertopeng itu hanya berdiam diri dalam posisi berdirinya, menganggap seolah pukulan dahsyat All Might barusan seperti sekedar angin lalu baginya.
Tak hanya sampai disitu.
Sosok tak berwajah itu tampak membalas dengan hantaman bertubi-tubi kepada All Might yang kini bahkan hanya dapat membuat posisi bertahan.
Ketika tubuh All Might mulai mengeluarkan asap putih sebelum sang sosok bertopeng itu menyerangnya dengan berbagar macam quirk yang tampak semakin kuat di setiap serangannya, saat itulah Bakugo merasa perasaan yang ia kira tidak akan pernah ia rasakan kembali mulai merasuk hingga persendian, tulang dan pikirannya.
Takut.
Bakugo merasa ketakutan semakin menyelimuti tubuhnya, membuatnya bahkan hanya dapat memandang dengan mata nanar akan kekalahan yang tampaknya akan diterima All Might.
Dan disaat itulah dirinya merasa ada sekumpulan bayangan yang melintas di atas kepalanya, menyadarkan kembali Bakugo akan situasi genting yang nyata di sekitarnya.
"Kacchan! Loncat!" seru sesosok rambut hijau yang tentu ia kenali sebagai Deku itu sembari mengulurkan sebelah lengannya pada sang Ground Zero.
Tanpa membuang-buang waktu, Bakugo segera membuat ledakan terkuat yang pernah ia ciptakan dengan kedua tangan sehingga mampu melontarkan tubuhnya kearah mereka.
Sayangnya, tepat bersamaan dengan tangannya yang menggapai lengan sang pemuda brokoli, punggung Bakugo tiba-tiba merasa dingin.
Bersamaan waktu saat sang Ground Zero menurunkan arah pandangnya, ia melihat ada cahaya keunguan mencurigakan dilontarkan oleh sosok bertopeng tersebut yang tepat mengenai tubuhnya.
Sejak saat itulah Bakugo mulai mendapat mimpi buruk yang menemani tidurnya sepanjang malam.
•••
"Kriiiingg!"
Bunyi nyaring alarm yang otomatis mati setelah 5 menit itu berhasil membangunkan sang Pomeranian penggerutu tercinta kita dari tidur cantiknya.
Entah mengapa, Bakugo merasa kalau ini merupakan tidur ternyenyaknya setelah insiden Kamino beberapa pekan lalu.
Sayangnya rasa bersyukur sang pemuda pirang dihancurkan oleh kedua tangan mencurigakan yang terasa menggerayangi tubuh bagian depannya.
"Tunggu sebentar. Kedua tangan?"
Dan saat itulah pikiran Bakugo diserang oleh ingatan-ingatan memalukan yang terjadi di hari sebelumnya.
"Aku menangis di depan Deku?! Really, Katsuki? Deku?!"
Saat Bakugo sibuk mengumpat dalam hati, kedua lengan yang awalnya hanya melingkari -memeluk- dadanya itu mulai menurun ke area-area berbahanya.
Tentu saja refleks sang 'King Explosion Murder' segera mengambil alih kontrol setiap otot dan sendi yang ada di tubuhnya.
Tak berselang lama kemudian, kita dapat mendengar bunyi dentuman yang cukup kuat akibat Bakugo menendang tubuh Deku hingga terjerembab di lantai kamar tersebut.
"Ugh… K-Kacchan?" keluh sang pemuda brokoli sembari mengusap pantatnya yang kini berdenyut nyeri.
Bakugo hanya menggeram marah sebelum kembali menggelung diri di balik selimut All Might -tentu saja- favorit sang pemilik kamar yang kini masih tampak melongo di atas lantai.
Karena Bakugo tak mendapati respon apapun dari sang pemuda brokoli, akhirnya ia memberanikan diri untuk mengintip 'suasana sekitar' dengan menurunkan sedikit selimut All Might tersebut hingga mengekspos sebelah matanya.
Saat mendapati Deku yang tengah menyengir lebar ke arahnya, Bakugo merasa kalau tidak ada saat yang lebih tepat untuk melanjutkan tidurnya selain sekarang, berharap kalau semua ini hanya sebatas bunga tidur bodoh semata.
"Kau tahu kalau sekarang adalah hari libur kan, Kacchan?"
Bakugo memutuskan untuk mengabaikan pertanyaan sang pemuda brokoli.
Ketika merasa ranjang yang ditidurinya berderit pelan sebelum merasakan kehadiran seseorang yang turut berbaring di sisi punggungnya, sang Pomeranian pirang penggerutu tercinta kita merasa kalau saat-saat selanjutnya hanya akan semakin bertambah memburuk.
•••
Beberapa jam kemudian, musim panas Musutafu semakin menunjukkan eksistensinya sebagai musim dengan suhu tertinggi di Jepang, membuat Bakugo terpaksa membuka gelungan selimut All Might yang menyelimuti sekujur tubuhnya.
Setelah merasakan teriknya cahaya matahari menembus kamar tersebut dari balik jendela, Bakugo baru menyadari kalau hari telah siang.
Pandangannya lalu tak sengaja terarah pada pemuda brokoli yang masih tampak pulas terlelap di sebelahnya.
"Kapan terakhir kali aku tidur satu ranjang dengan si bodoh ini?" pikir Bakugo mencoba menelusuri kembali memori-memori masa kecilnya.
Tak terasa kedua sudut bibir Bakugo mulai sedikit terangkat, teringat oleh berbagai hal yang pernah dirinya lewati dan lakukan bersama dengan pemuda hijau bodoh di sisinya tersebut sebelum semua masalah ego, quirk -whatsoever terjadi.
"Ahhhh! Kacchan tersenyum?! Siapa kau?! K-kembalikan Kacchan!"
Pekikan cempreng yang tepat di sebelah telinganya tersebut mengakibatkan Bakugo refleks membuat ledakan terarah pada sang sumber suara.
"Diamlah! Deku."
"Ohohoho… Kacchan merona?" timpal sang pemuda brokoli dari atas lantai -lagi- sembari menaik-turunkan kedua alisnya.
"Tch. Shineee!"
"Boom!"
Dan saat itulah para penghuni Heights Alliance harus dibuat terkejut -lagi- oleh suara ledakan yang menggetarkan bangunan asrama mereka.
Teriakan "Bakugooo!" dari berbagai arah terdengar menyusul tak lama kemudian, yang tentu hanya diabaikan oleh sang Pomeranian pirang penggerutu tercinta kita.
•••
Beberapa menit kemudian, suasana kamar tersebut tampak kembali seperti beberapa jam sebelumnya; Bakugo yang berbaring menghadap dinding, memunggungi Izuku yang terlentang di sisi sebelahnya.
"Ne, Kacchan…"
"Hm?!" gumam sang Pomeranian pirang dengan nada gerutuan tipikalnya.
"Tak biasanya kau sekalut itu terhadap sebuah mimpi," gumam Deku yang kini memposisikan sebelah tangannya sebagai sandaran kepala.
Terdapat keheningan sejenak sebelum Bakugo mulai membuka suaranya.
"Mimpi itu… aku merasa seolah benar-benar mengalaminya. Setelah insiden Kamino, mimpi yang sama terus berulang setiap aku menutup mata."
Bakugo kini turut berbaring dalam posisi terlentang, menyebabkan ia dapat dengan mudah menengokkan kepala untuk melihat reaksi pemuda di sampingnya.
"Kacchan?! Insiden Kamino katamu? Itu sudah seperti kapan, bulan lalu?! Jangan bilang kalau kau mengalami mimpi buruk yang sama setiap malam selama berminggu-minggu dan tidak mengatakannya pada siapapun."
Bakugo tampak sedikit teralihkan oleh raut terkejut bercampur murka yang dibuat oleh sang pemuda brokoli.
"Aku menceritakannya padamu," gumam sang pemuda pirang sembari kembali mengalihkan pandangannya menuju atap putih ruangan tersebut.
"Aizawa-sensei? Recovery Girl?"
Bakugo hanya menggeleng singkat.
Tidak menduga terhadap apa yang akan terjadi setelahnya, kedua iris kemerahan Bakugo tampak sedikit melebar saat merasa sebuah lengan mulai melingkari tubuhnya.
Saat Bakugo mencoba kembali menolehkan kepala, matanya dipertemukan oleh sepasang iris hijau berair milik Deku.
"Dasar bodoh. Kacchan bodoh! Mengapa kau tidak meminta bantuan siapapun? Jangan bilang ini adalah efek samping cahaya unggu dari All for One dulu! Yeah. Jangan kira aku tak melihatnya! Kau… Kau,-" celotehan Deku terasa tercekat akibat air matanya sendiri.
Oh.
Bakugo baru menyadari kemungkinan satu itu.
Mengingat kembali hal tersebut saja cukup untuk membuat punggungnya merasa panas-dingin dan sekujur tubuhnya merinding.
"Hei, Deku?" panggil Bakugo yang secara mengejutkan menggunakan intonasi normal bak orang pada umumnya.
"…"
"Apa… apa kau akan merindukanku kalau aku, uhh… kau tahu, mati atau semacamnya?" lanjutnya dengan volume yang semakin mengecil di akhir kalimat.
"Kau benar-benar menganggap kalau aku membencimu, huh, Kacchan?" timpal sang pemuda brokoli dengan mata -masih- berairnya.
Bakugo hanya mengendikkan kedua bahunya sembari masih menatap atap putih di atas mereka.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu percaya kalau aku sama sekali tidak membencimu, Kacchan?"
"Entahlah, menciumku?" celetuk sang Ground Zero setengah bergurau.
Dan tentu saja seorang Izuku -DEKU- Midoriya menganggap serius ucapannya barusan.
Cup.
Pikiran Bakugo sontak mengalami korsleting saat merasakan bibir lembab nan halus tersebut bersentuhan dengan bibirnya.
Sayangnya kelembutan bibir -yang akan ia sangkal seumur hidupnya- tersebut harus bertemu akhir saat sang pemuda brokoli melepaskan sentuhannya.
"Sudah percaya sekarang?" tanya Deku dengan cengiran tanpak di wajahnya.
"Apa kau semudah itu mencium orang-orang di dekatmu, Deku?" timpal ketus sang pemuda pirang sembari bersedekap tangan untuk menyembunyikan rona wajahnya.
Cengiran kini tampak menghilang dari wajah sang pemuda brokoli.
"Ohh~ tentu saja. Katsuki Bakugo tak hanya berpikir kalau aku membencinya, namun juga mengira kalau aku seorang laki-laki murahan yang dapat dengan mudah mencium -atau bahkan memberikan tubuhku?- pada sembarang orang. Duh!" ucap Izuku panjang lebar sembari memutar mata.
Kalimat sarkas yang pertama kali ia dengar keluar dari mulut Deku tersebut mau tak mau membuat Bakugo menyeringai.
"Yeah, tentu saja. Mau berhubungan seks denganku?" celetuk sang pemuda pirang -bergurau lagi- dengan santainya seolah sedang menanyakan berita cuaca hari ini sembari tetap mempertahankan seringaian di bibirnya.
Dan yang akan terjadi selanjutnya benar-benar di luar batas imajinasi seorang Katsuki Bakugo.
•••
Deku kini kembali mempertemukan kedua bibir mereka dalam sebuah kecupan singkat, dan sebelum ada salah satu dari mereka yang sempat berpikir ulang, ciuman tersebut segera berkembang menjadi aktivitas yang jauh lebih panas.
Secara perlahan, Bakugo mulai terbawa suasana sehingga refleks memiringkan tubuh dan kepalanya agar lebih mudah untuk memperdalam ciuman mereka.
Sebelah tangan Deku kini berada di balik leher Bakugo, sementara tangan satunya melingkari pinggang ramping sang pemuda pirang.
"Mmmhh, Kacchan…" desah Deku saat lidah Bakugo mulai memasuki rongga mulutnya.
Sembari tetap beradu lidah dengan Deku, Bakugo kini menggunakan kedua tangan dan kakinya untuk mendekap tubuh sang pemuda brokoli sehingga selangkangan mereka yang mulai mengeras dapat menerima friksi-friksi lebih lagi.
"Deku.." gumam Bakugo sembari memposisikan dirinya di atas tubuh Izuku.
Dan secepat kedipan mata, posisi mereka berganti kebalikannya, dengan Deku yang kini berada di atas Bakugo.
"Brukh!"
"Hei!"
"Hmm? Kali ini aku yang memegang kendali, Kacchan." bisik Deku sebelum menjilat telinga pemuda pirang di depannya.
"Ughhh.." desah tertahan sang pirang penggerutu akibat tindakan sensual yang dilakukan sang pemuda brokoli.
Dengan sebelah lengan menahan beban tubuhnya dan satunya ia gunakan untuk menyelinap masuk ke dalam tanktop hitam yang dikenakan Bakugo, mulut Deku segera berpindah untuk meraup leher tak bernoda di bawahnya.
"Uhh, De-deku…" gumam Bakugo saat celananya terasa semakin ketat akibat sentuhan-sentuhan di leher dan tubuh bagian atasnya.
Menghentikan permainan bibirnya sejenak, Deku dalam posisi setengah terduduk segera melepas atasan Bakugo sebelum diikuti oleh miliknya sendiri.
Kini mereka berdua telah sama-sama telanjang dada, dan sedang menikmati pemandangan indah di hadapan mereka masing-masing.
"Woahh, Deku! Darimana semua otot ini berasal?" celetuk takjub Bakugo sembari menelusuri setiap lekuk tubuh terlatih sang pemuda brokoli yang kini hanya dapat merona malu bercampur bangga.
"Hmm.. suka dengan yang kau lihat, Kacchan?"
Kapan lagi seorang Bakugo Katsuki memberi pujian padanya, bukan?
"Hn."
Seolah tak ingin membuang waktu, Bakugo segera merangkul leher sang pemuda brokoli sehingga kedua bibir mereka dapat kembali bertemu dalam ciuman panas lainnya.
Bakugo kini sibuk memainkan rambut ikal kehijauan Deku yang terasa sangat halus di kedua tangannya, sembari tetap mempertahankan tautan bibir dan lidah mereka.
"Mmhh…"
Karena kebutuhan oksigen semakin meningkat, Deku akhirnya memutus pagutan panas mereka, menyebabkan timbulnya benang saliva di antara kedua bibir mereka sebelum akhirnya terputus oleh jarak.
"Hah, hahhh..."
Nafas dan degup jantung mereka saling beradu cepat sembari memperhatikan kondisi sosok di hadapan mereka masing-masing.
"Zuku…" desah Bakugo dengan mata sayunya yang sanggup membuat takjub sang pemuda brokoli.
"Oh! Y-yeah. Okay," timpal Izuku seolah mengerti maksud gumaman sosok di bawahnya itu.
Dengan secepat mungkin, Deku segera menurunkan celana Bakugo sekaligus dengan pakaian dalamnya, tidak menyisakan sebenangpun material di tubuh sang Pomeranian pirang.
Izuku lalu menurunkan tubuhnya hingga wajahnya tepat berhadapan dengan benda keras sang... uhh, rival? teman masa kecil? Apapun sebutan hubungan mereka saat ini.
"Kacchan, b-boleh aku…"
"Cepatlah, Deku! a-atau aku akan meledakkan kepala bodohmu itu!" seru Bakugo yang tentunya sebatas ancaman kosong belaka.
Dan tanpa ragu-ragu, Izuku mulai membuka mulutnya, lalu menjulurkan lidah untuk 'mencicipi' kejantanan sang pemuda pirang mulai dari pangkal hingga ujungnya. Tak lupa juga Deku menyusuri dan menghisap lembut kedua benda yang menggantung di bawahnya.
"Mmhhh~"
Memainkan sejenak bagian bawah kepala kejantanan Bakugo dengan lidahnya, Izuku kemudian mulai melebarkan mulutnya sehingga dapat melahap benda keras tersebut seutuhnya.
"Ugh, D-Deku…"
Meski sedikit kesulitan akibat ukurannya, Izuku akhirnya berhasil mencapai pangkal kejantanan Bakugo, merasakan rambut-rambut pirang halus mulai menggelitik hidungnya.
Tak hanya sampai disitu. Lidahnya kini juga mulai kembali menjilati benda keras tersebut mulai dari pangkal, membuat pola melingkar hingga mencapai ujungnya berulang-ulang sembari tetap memaju-mundurkan mulutnya.
"Uhhh~"
Kedua tangan Bakugo kini bersarang di rambut kehijauan Izuku, menaik-turunkan kepalanya hingga rambut ikal tersebut tampak semakin berantakan.
Ingin semakin meningkatkan kenikmatan sang pemuda pirang, kedua tangan Deku mulai menjulur naik, menelusuri v-line di pinggulnya, lalu mengusap keenam otot perut terlatih tersebut hingga mencapai kedua tonjolan kecil di dada bidang Bakugo.
"Mmhh!" desah tertahan Katsuki saat sepasang tangan tersebut menelusuri dan memainkan bagian atas tubuhnya tanpa henti sembari tetap merasakan rongga hangat dan lidah luar biasa Izuku maju-mundur pada kejantanannya.
"De-deku, stop! Mmnghh…"
Melepaskan sejenak kulumannya, Deku mendongakkan kepalanya hingga bertatapan mata dengan sang pemuda pirang.
"Hmm?"
Bakugo tampak memutar matanya sejenak.
"Kemarilah dan cium aku, bodoh."
Izuku tentu tak membuang-buang waktu untuk menerima undangan tersebut.
Untuk kesekian kalinya pada hari itu, bibir dan lidah mereka kembali saling beradu dalam ciuman panas.
Bunyi decakan akibat paduan saliva mereka bahkan terdengar memenuhi ruangan itu.
Setelah puas meraup bibir Bakugo, perhatian Deku kembali tertuju pada leher mulus di bawahnya.
Menjilat bibirnya sejenak, Izuku segera menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Bakugo.
Ia mengecup, menjilat, lalu menggigit kulit di hadapannya itu hingga timbul bercak kemerahan sebelum mengulangi pada titik-titik lain di sekitarnya.
"Deku… mmhh!"
Bakugo semakin mengeratkan dekapan kedua tangannya di leher Izuku yang masih sibuk 'menyantap' tubuhnya seolah tak ada hari esok.
Setelah beberapa menit berlalu, Deku akhirnya memberi jarak antara mereka berdua sehingga ia dapat melihat keindahan tubuh telanjang penuh bercak merah di bawahnya.
"Wow, Kacchan. Kau.. -kau begitu.."
"Bilang 'cantik' dan akan kuledakkan wajah bodohmu itu," ancam sang pirang penggerutu pada pemuda di atasnya yang kini hanya dapat menyengir lebar.
"Sempurna. Aku mau bilang kau sempurna, Kacchan…" timpal Deku yang berhasil membuat Bakugo tercengang.
Tak ingin sang brokoli mengetahui rona merah yang mulai merambat di wajahnya, Bakugo segera menarik leher Deku -lagi- untuk kembali mempertemukan kedua bibir mereka.
"Diam dan gagahi aku, Izuku.." gumam -desah- Bakugo tepat di telinganya sehingga mampu membangunkan api yang selama ini tertidur di dalam tubuh sang pemuda brokoli.
"Dengan senang hati, Katsuki-kun~" balas sensual Deku sebelum membalik tubuh Bakugo menjadi menungging menghadap dirinya.
Siapa sangka sang kutu buku hijau itu ternyata sangat liar di atas ranjang? Pastinya bukanlah seorang Katsuki Bakugo yang kini hanya dapat mendesah pasrah penuh kenikmatan saat merasakan kejantanan luar biasa Deku terus menggagahi tubuhnya tanpa henti selama berjam-jam lamanya.
•••
"Brukh!"
"Ugh. Hah, hahh…"
Izuku membaringkan tubuhnya di sebelah Bakugo. Nafas mereka berdua masih terengah-engah akibat kegiatan panas barusan.
"Deku," panggil Katsuki beberapa saat kemudian.
"Hmm?"
Terdapat keheningan sejenak ketika Bakugo berusaha merangkai kata-kata selanjutnya.
"Apa hubungan kita sekarang?" gumamnya yang untung masih dapat didengar sang pemuda brokoli.
"Uhh, a-apa Kacchan mau kita menjadi semacam pa-pasangan?" balas Deku dengan wajah yang mulai memerah.
"Pasangan, huh? Lalu apa hubunganmu dengan si dispenser sialan itu?" tanya ketus Bakugo.
Si bodoh hijau ini tak mungkin mengajaknya poligami, bukan?
"Dispen- maksudmu Todoroki? Ada apa dengannya?"
"Aku melihat kalian berdua bercumbu tak tahu diri di dalam lift kemarin malam," ucap sang pemuda pirang dengan nada datar.
"A-apa?! Kau melihat-" Deku tampak tercekat dengan kata-katanya sendiri.
"…"
Bakugo hanya memutar mata sebelum menaikkan sebelah alisnya.
"A-aku tidak pernah melakukan hal seperti itu dengan Todoroki, Kacchan. Heck, tadi siang bahkan merupakan ci-ciuman pertamaku, kau tahu?" lanjutnya dengan wajah merona sempurna sehingga semakin menambah kebingungan Bakugo.
"Lalu siapa yang kulihat dengan si dispenser panas-dingin itu?"
"..."
"Jangan-jangan...?!"
Seolah mendapat potongan puzzle terakhir, Izuku kini tampak membelalakkan sempurna kedua matanya.
"Kemarin pagi ada pengumuman kalau UA telah disusupi. A-apa mungkin itu…"
Ucapan Deku dipotong -dilanjutkan- oleh Bakugo.
"Himiko Toga."
Izuku hanya dapat menelan ludahnya sembari merinding geli.
"Damn~" ucap Bakugo berdecak takjub sembari bersiul dan menyeringai terhadap apa yang telah dilakukan -dialami- sang icy-hot.
Untung saja sang gadis -atau sekarang wanita?- anggota Liga Penjahat itu akhirnya berhasil ditangkap oleh para Pro Hero pengajar UA dengan aman kemarin sore.
"Wow."
Bakugo merasa dirinya wajib menggoda sang dispenser panas-dingin tentang hal itu saat di kelas besok.
•••
Kembali ke topik.
"L-lalu bagaimana dengan -uhh.. ucapanku tadi, Kacchan?" tanya Deku dengan wajah yang masih merona.
"Huh?"
"Uhh.. a-ano, apa kau mau menjadi pa-pacarku?"
Wajah Izuku kini telah semerah kepiting rebus.
"Your boyfriend, huh?"
Deku hanya menganggukkan kepalanya gugup.
"Hmm.. itu bukan ide terburuk yang pernah kedengar darimu," seringai sang pemuda pirang.
Tubuh Deku kini tampak membeku di sisinya.
"Namun dengan satu syarat," lanjut Bakugo kemudian.
"S-syarat apa?" tanya ragu sang pemuda brokoli.
"Lain kali, aku yang di atas."
... Oh!
"Uhh... tentu saja, Kacchan. Melihatmu mendesah sembari menunggangi kejantananku dari bawah akan menjadi pemandangan terindah dalam hidupku," ucap Deku sembari menyengir senang.
"Hn. Whatever, Deku." balas Bakugo memutar mata sembari merangkul dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher pemuda di sampingnya itu.
"Aku menyayangimu, Kacchan.." ucap sang pemuda brokoli sebelum mengecup singkat dahi Bakugo.
Terdapat jeda sejenak sebelum ucapannya dibalas dengan gumaman "I love you more, Izuku.." oleh sang Pomeranian pirang yang kini telah menutup kedua matanya.
Deku menyusul tidurnya tak lama kemudian.
Senyuman kebahagiaan bisa kita dapati di wajah kedua sejoli yang kini tengah terlelap sembari mendekap tubuh satu sama lain tersebut.
END
Author's Note
Halo minna~
Bagaimana kabar reader-tachi? Semoga kalian baik-baik saja.
Wow, ini merupakan chapter terpanjang kedua yang pernah author tulis (3.268 kata)
Omong-omong, apa-apaan isi chapter ini?!
Ahhhh!
Author- uhh… sepertinya memang belum saatnya untuk menulis fic angst :")
Jadi genre fic ini author ubah untuk sekedar hurt & comfort, hehe..
Menurut kalian, bagaimana ending fic ini? Cukup memuaskan kah? -atau masih terasa memaksa?
Author sebenarnya bisa saja melanjutkan untuk menceritakan sebab-akibat mimpi buruk Bakugo akibat All for One secara lebih rinci, tapi… rasanya alur semacam itu akan terlalu menyimpang dengan judul fic ini.
Karena itu, fanfic "True Feelings" ini akhirnya author nyatakan tamat.
Mungkin kalian tertarik untuk sekuelnya?
Silahkan tulis pendapat kalian pada kolom komentar di bawah, oke?
Setiap pendapat, kritik, maupun saran dari reader-tachi akan selalu author apresiasi sehingga dapat memperbaiki penulisan fanfic author di kesempatan berikutnya :)
Oke, cukup sekian.
Sampai jumpa di fic-fic selanjutnya minna~
Author,
25 Desember 2020
