"Wonho-ssi, bisakah kau kirimkan berkas ini segera ke ketua perusahaan? mereka memintanya." Ucap teman kerja Wonho, Minhyuk.
"Baiklah, terima kasih sudah memberitahuku." Wonho segera mengenakan kacamatanya dan sedikit meregangkan ototnya. Kemudian, netranya kembali fokus ke depan layar komputer. Minhyuk yang meja kerjanya di depannya, sibuk merapikan dokumen yang tercecer di meja kerjanya.
"Wonho-ssi, akhir-akhir ini kau sedikit tidak bersemangat? ada masalah?" Minhyuk menyesap americano-nya dan mengenakan kembali jam tangannya.
"Ah, tidak. Aku hanya kurang tidur saja minggu-minggu akhir ini. Tidak perlu khawatir." Wonho memejamkan matanya sesaat untuk mengumpulkan niatnya dan kembali mengerjakan berkas tersebut.
"Aku tahu pekerjaan kita berat dan deadline-nya terkadang menyusahkan kita, tapi sebaiknya kau harus bisa mengatur kapan kau istirahat dan kapan kau berkerja. Hidup juga perlu rehat sejenak." Minhyuk menyenderkan dagunya di tangan kirinya dan tangan kanan-nya yang masih mengerjakan pekerjaannya.
"Aku tahu, terima kasih sudah mengingatkanku." Wonho segera melepaskan kacamatanya dan kembali meregangkan ototnya setelah selesai meng-upload berkas yang ia kerjakan jauh hari.
"Omong-omong, nanti kau sibuk?" Tiba-tiba Minhyuk mendobrak meja sekaligus memecah keheningan karena ruangan kerja hanya tersisa mereka berdua. Rekan kerja lain telah selesai dari shift nya dan mereka sedikit lembur karena pekerjaan.
Wonho mengernyitkan dahinya bingung namun menggelengkan kepala sebagai jawaban bahwa ia tidak sibuk malam ini.
"Mau minum bersamaku?" Wonho hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Minhyuk gembira dan segera membereskan meja kerjanya.
"Tunggu aku sebentar, ada sedikit pekerjaan yang harus aku lakukan." Wonho masih harus menyelesaikan satu hal sebelum dirinya pergi minum bersama Minhyuk. Minhyuk hanya lekas berdiri sambil memegang mantelnya dan tersenyum kecut melihat rekan kerjanya sangat rajin saat berkerja.
Tidak lama kemudian, mereka segera meninggalkan kantor dan menuju kedai yang selalu Minhyuk kunjungi. Bukan keberuntungan mereka, kedai yang seharusnya menjadi tujuan utama mereka harus tutup karena sudah memasuki jam malam, dimana semuanya seharusnya sudah ada di dalam rumah.
"Aish, kedai favoritku sudah tutup." Minhyuk mencicit kesal.
"Oh, Minhyuk-ssi, di seberang sana ada kedai yang kelihatannya masih buka. Bagaimana jika kita coba disana?" Tawar Wonho. Minhyuk sangat ingin minum dan hanya mengajak Wonho menyebrang dari trotoar satu ke trotoar lain untuk sampai di kedai itu.
"Sejak kapan ada kedai ini? aku baru melihatnya setelah 1 tahun berkerja di daerah ini." ujar Minhyuk. Keduanya segera menempati tempat duduk yang mereka pilih dan memesan botol soju dan beberapa camilan kecil.
"Aku tidak bisa makan banyak-banyak." Wonho menenggak 1 gelas kecil soju dan meletakkannya setelahnya.
"Benar-benar, kau menjaga sangat baik tubuh binaragawanmu itu. Jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri." Minhyuk menggoda Wonho dan bersulang untuk menenggak kembali sojunya.
Wonho hanya tersenyum dan melanjutkan perbincangannya dengan Minhyuk
"Ah, Wonho-ssi karena kebetulan kedai baru ini dekat dengan toko kue, aku ingin beli kue di toko sebelah untuk camilan di rumah. Kau mau ikut?" ujar Minhyuk meninggalkan mantel di hadapan Wonho. Wonho menggeleng dan mempersilahkan Minhyuk untuk membeli kue di toko sebelah.
Sepeninggal Minhyuk, Wonho hanya tetap meminum sojunya sedikit demi sedikit karena ia tidak mau terlalu mabuk malam ini. Hingga pada suatu saat, ada seorang lelaki berpenampilan formal namun dengan muka yang mabuk mendatangi Wonho.
Rautnya begitu malu dan menarik kecil kemeja Wonho. Wonho menoleh dan kebingungan dengan lelaki tersebut.
"K-kau tahu dimana letak toilet?" Lelaki itu menunduk malu dan berusaha untuk menyembunyikan muka mabuknya dihadapan Wonho.
"lucu..." Wonho terkesima sesaat melihat penampilan lelaki itu. Dilihat dari tampilannya, sepertinya ia juga pekerja kantoran sepertinya namun lebih muda dan juga ia terlihat seseorang yang memiliki harta yang banyak.
"Aku pelanggan baru disini, mau kubantu mencarikannya? Kau terlihat sangat mabuk." Wonho menawarkan ajakan untuk lelaki tersebut. Tanpa berpikir-pikir, lelaki itu mengangguk kencang dan hampir ambruk di hadapan Wonho.
"Eits-! kau mabuk berat? Berbahaya jika kau disini sendirian. Kau membawa teman?" Wonho segera menahan lelaki tersebut untuk tidak terjatuh. Lelaki tersebut hanya menggeleng dan Wonho segera merangkulnya untuk mengantarkannya ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, lelaki tersebut segera bergegas ke dalam kamar mandi. Terlihat ia seperti ingin muntah, sehingga Wonho menunggunya cemas di depan toilet.
"H-hei... kau tidak apa-apa?" Wonho mengetuk kamar mandi karena sepertinya lelaki tersebut muntah-muntah tidak karuan. Karena Wonho sedikit cemas, ia tetap menunggunya di depan toilet.
2 menit kemudian, lelaki tersebut keluar namun masih dalam keadaan mabuk dan ambruk di depan Wonho kembali. Wonho merasakan sesuatu bergetar di saku baju lelaki tersebut. Wonho segera menengok kebawah dan menemukan handphone-nya ditelepon oleh seseorang.
Karena Wonho tidak ingin lelaki ini terjebak disini, mungkin orang yang menelepon handphone-nya ingin bertanya dimana lelaki ini berada. Tanpa basa-basi, Wonho segera mengangkat panggilan tersebut.
" CHANGKYUN-NIM, DIMANA ANDA?! KAMI MENCARI ANDA DI KANTOR TIDAK ADA?!" Wonho terkejut dengan orang yang di seberang yang terlihat sangat cemas.
"A-ah, saya sedang membantu tuan ini. Dia mabuk berat sehingga saya menemani-nya. M-maaf telah lancang menerima panggilan-"
"Ah syukurlah tuan Changkyun ditolong orang baik. Bisakah anda memberitahu dimana kalian berada? Ketua sedang mencari dia." Wonho hanya terkejut. Apakah lelaki yang ia rangkul ini sebuah orang berpengaruh?
"A-ah, baiklah. Kami sedang di kedai yang baru dibuka dekat dengan perusahaan Z."
"Oh, kedai itu. Baiklah, terima kasih. Bisakah anda menjaga tuan Changkyun?"
"Baik, saya bisa."
"Terima kasih." Setelahnya, panggilan itu diputus oleh pihak seberang dan Wonho segera meletakkan kembali handphone lelaki itu dan merangkulnya untuk duduk di meja sebelum orang-orang melihat mereka berdua yang aneh-aneh.
"Wonho-ssi! Ah, lupakan, tapi siapa lelaki yang kau rangkul itu?" Minhyuk terlihat terkejut melihat Wonho yang baru keluar dari toilet merangkul lelaki yang terlihat ambruk karena terlalu mabuk.
"Entah, dia mendatangiku tadi dalam keadaan mabuk berat, jadi aku tolong dia. Orang terdekatnya akan menjemputnya setelah ini. Tidak keberatan kan untuk kau ikut menunggunya?" tanya Wonho. Minhyuk hanya tersenyum dan mengangguk setelahnya.
"Tidak aneh jika orang kantor menyukaimu." Minhyuk kembali menuangkan soju di gelas kecil nya dan menenggaknya dalam 1 tegukan. Wonho yang masih merangkul lelaki tersebut hanya menoleh bingung ke Minhyuk.
"Jika aku jadi kamu, aku mungkin hanya membiarkan lelaki itu tergeletak mabuk disini karena itu urusannya sendiri." Wonho hanya tertawa kecil dan membiarkan lelaki tersebut menidurkan kepalanya di bahu lebarnya. Tangannya segera ia ambil gelas kecil dan menawarkan untuk bersulang dengan Minhyuk.
Minhyuk menerima dan mereka berdua bersulang.
Ditengah tegukan mereka, 3 orang tiba-tiba datang dan terlihat panik bersamaan. Namun setelahnya mereka bernafas lega saat mata mereka tertuju ke meja tempat Wonho, Minhyuk dan lelaki tersebut tertidur.
"Syukurlah anda menjaga tuan Changkyun. Terima kasih banyak, dan maaf merepotkan anda tuan." ketiga lelaki berjas hitam tersebut membungkukkan badannya bersamaan di hadapan Wonho. Minhyuk hanya terkejut dan terdiam saat ketiga orang tersebut melakukan itu dihadapannya.
"A-ah, tidak masalah. Dia hanya sedang tertidur dan habis mabuk berat. Tolong jaga dia baik-baik." Wonho segera membantu lelaki tersebut yang awalnya tertidur di bahunya, kini tertidur di mobilnya.
"Ah, kalau boleh tahu, dengan tuan siapa?" Salah satu supir lelaki itu meminta nama Wonho. Wonho dan Minhyuk hanya menatap satu sama lain, kebingungan.
"O-oh, saya Lee Wonho, dan dia Lee Minhyuk." Wonho hanya tersenyum kecil namun terlihat sedikit ragu memberitahukan namanya kepada orang asing.
"Terima kasih banyak, tuan Wonho dan tuan Minhyuk untuk menjaga atasan kami. Kami sangat berhutang budi pada anda. Kalau tidak keberatan, kalian bisa pulang bersama kami?"
Minhyuk segera menolak diikuti oleh Wonho. Supir tersebut hanya terkejut namun diiringi senyuman kecil. Setelah perbincangan singkat, supir tersebut memberikan kartu pengenal perusahaan dan segera mengantarkan pulang lelaki yang mabuk berat tersebut.
"H-hei, Wonho-ssi. Kau tidak salah lihat dengan nama perusahaan ini?" Minhyuk hanya menoleh ke arah Wonho tidak percaya. Wonho hanya menoleh bingung dan menggelengkan kepalanya tidak tahu.
"I-ini perusahaan Lim. Perusahaan investor terkenal di korea. Masa kau tidak tahu?!" ujar Minhyuk sebal. Wonho hanya terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.
"K-kau baru saja menolong petinggi perusahaan tersebut?! demi dewa neptunus!?" Wonho tetap kebingungan. Jika memang lelaki yang ia tolong adalah petinggi investor terkenal di korea, lantas ia harus apa? toh dia hanya membantunya dari mabuk, tidak berbuat macam-macam.
Karena mungkin keduanya sedikit mabuk, Minhyuk memutuskan memanggil taxi untuk keduanya pulang. Kebetulan arah apartemen Wonho dan Minhyuk di area yang sama, sehingga mereka tidak begitu kesulitan untuk pulang bersamaan.
To Be continued...
Ini first fanfictionku dengan pair Wonkyun, semoga bisa terhibur
