"Kalau tidak salah, kemarin malam aku sangat mabuk. Kau tahu siapa yang menolongku?" Changkyun menoleh ke asisten-nya seraya menampilkan wajah datarnya.
"Dia seorang pekerja kantoran, badannya sangat berbentuk dan namanya tuan Wonho." Changkyun hanya mengangguk setelah mendengar ucapan tersebut.
"Apakah nanti ada meeting dengan perusahaan lain?" Changkyun menoleh.
"Untuk hari ini tidak ada tuan. Namun besok tuan harus menghadiri pertemuan dengan klien anda, jam 7 malam." Ujar asisten-nya sambil membawa ipadnya yang menampilkan jadwal-jadwal yang harus Changkyun hadiri.
"Baiklah, siapkan mobil setelah ini dan cari tahu letak kantor Wonho itu."
"Baik tuan, saya permisi." Asisten tersebut membungkuk dan meninggalkan Changkyun di ruangan kerjanya.
"Wonho? Nama yang bagus." Changkyun hanya tersenyum dan beranjak dari kursinya sekaligus mengenakan jam tangannya. Ia segera melepas kemejanya dan berganti pakaian biasa sehingga tidak menarik perhatian banyak orang.
Changkyun segera berjalan keluar dari ruang kerjanya dan disambut oleh pegawai-pegawai disekitar. Ia membalasnya dengan senyuman dan segera mempercepat langkahnya menuju tempat parkir basement khusus dari kantornya. Ia bisa menemukan mobilnya sudah terparkir di depan pintu basement. Changkyun segera naik dan mobil tersebut bergerak menuju kantor Wonho.
Tak lama kemudian, mobil Changkyun sudah sampai di depan kantor Wonho dan ia segera mengenakan kacamatanya.
"Aku tidak butuh asisten disini, jadi tunggu saja di mobil. Mengerti?" Sang supir mengangguk paham dan segera meninggalkan Changkyun untuk memarkir mobilnya.
Changkyun segera berjalan menuju tempat informasi secepat mungkin. Padahal Changkyun sudah tidak berpakaian formal namun mata dari orang-orang kantor ini tetap terfokus pada Changkyun. Ia benci menjadi pusat perhatian orang-orang asing.
"Permisi, apakah ada lelaki bernama Wonho disini. Saya ingin menemuinya." Staff yang mengetahui bahwa ketua perusahaan Lim yang terkenal datang ke kantor Z dan menanyakan keberadaan Wonho, segera terkejut dan gelagapan.
Staff mengira Wonho sudah berbuat aneh-aneh dengan ketua perusahaan Lim, sehingga staff sedikit gugup jika ia memberitahukan bahwa Wonho berkerja disini.
"Kenapa? saya tidak punya masalah dengan Wonho, hanya ingin berbincang sedikit. Bisakah kalian memanggilnya?" Changkyun menarik alisnya bingung.
"A-ah, baik tuan. Saya akan segera memanggilnya." Staff tersebut segera mendorong kursinya menuju telepon dan menekan tombol ruangan tempat dimana Wonho berkerja.
"W-wonho-ssi, ketua perusahaan Lim memanggilmu untuk turun kebawah. Cepat ya"
Wonho yang menerima panggilan staff informasi kantor hanya bingung. Minhyuk yang dihadapannya menanyakan siapa yang memanggil rekan kerjanya itu.
"Entahlah, staff menyuruhku turun menemui ketua perusahaan Lim. Itu lelaki yang kemarin aku tolong kan?" Wonho berdiri dan seisi ruangan terkejut dengan perkataan Wonho.
"W-wonho-ssi? Kau punya masalah dengan ketua perusahaan Lim?!" Jooheon, yang berada di sebelahnya terkejut kaget. Wonho yang mendengarnya juga kaget.
"Ha?! T-tidak?? Kemarin aku hanya menolongnya. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa menemukan tempatku berkerja dan memintaku menemuinya." ujar Wonho seraya menaikkan bahunya tidak tahu. Wonho segera menggunakan kacamatanya dan beranjak dari meja kerjanya menuju lobi kantornya.
Wonho segera mencari dimana lelaki tersebut dan ia menemukannya sedang duduk di kursi lobi. Ia segera berjalan mendekat dan membungkuk sopan.
"Dengan saya Wonho disini."
"Oh, kau Wonho yang kemarin menolongku kan? Tidak perlu terlalu sopan, biasa saja. Lim Changkyun." Lelaki yang akhirnya Wonho tahu namanya, menyodorkan tangannya untuk berjabat.
Wonho segera menjabat tangan Changkyun sopan dan tetap berdiri di depan Changkyun.
"A-anu, santai saja denganku. Duduklah! ini kan kantormu." Changkyun gugup saat Wonho tetap berdiri di hadapan Changkyun. Wonho sendiri juga gelagapan melihat ketua perusahaan Lim memanggil dirinya dan menyuruhnya duduk di hadapannya.
Changkyun hanya menatap Wonho gugup setelah melihat badan binaragawan Wonho itu. Wonho yang melihat Changkyun dihadapannya juga gugup jika kemarin ia melakukan sebuah kesalahan. Mau tidak mau Wonho membuka pembicaraan.
"A-anu, C-changkyun-nim-"
"Changkyun-ssi saja! Tidak perlu terlalu formal." Wonho hanya tersenyum lugu dan membenarkan duduknya.
"C-changkyun-ssi, apakah ada yang ingin dibicarakan?" Wonho gelagapan.
"Ah, itu. Aku ingin berterima kasih untuk membantuku kemarin. Maaf telah merepotkanmu." Changkyun berusaha menarik senyuman agar wajah intimidasinya sedikit berkurang.
Tidak bohong jika Changkyun sendiri takut dengan Wonho. Badannya saja lebih besar dari dia.
"Ah, tidak masalah. Anda kemarin mabuk berat hingga tertidur. haha" Wonho tertawa kecil namun tidak dengan lawan bicaranya. Changkyun hanya terdiam.
"A-apakah aku melakukan sesuatu dengan dirinya?!" Changkyun berusaha menghindari kontak mata dengan Wonho.
"A-ada apa Changkyun-ssi? Ada masalah?" Wonho pikir, tertawanya dia membuat Changkyun serasa direndahkan. Wonho segera membungkuk minta maaf. Changkyun hanya terkejut saat orang di hadapannya tiba-tiba minta maaf.
"K-kenapa minta maaf?" Changkyun berusaha menenangkan Wonho.
"Maaf, mungkin cara saya tertawa membuat anda kesal. S-saya minta maaf." Changkyun yang mendengarnya hanya tersenyum kecil dan kembali duduk.
"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf jika merepotkanmu Wonho-ssi. A-apakah kemarin aku berbuat aneh-aneh?" Changkyun menunduk.
"T-tidak sama sekali. Anda hanya meminta saya mengantarkan anda ke kamar mandi-"
"U-UNTUK APA?"
"E-eh? anda muntah-muntah di kamar mandi. Jadi saya tunggu sampai anda selesai. Tidak lama kemudian, seseorang menelepon anda dan saya minta maaf lancang mengangkat teleponnya."
Changkyun bernafas lega. Ia benar-benar takut jika saat dia mabuk, ia melakukan hal aneh-aneh dengan orang asing seperti Wonho.
"Santai saja, aku malah bersyukur Wonho-ssi menjawab teleponnya. Aku benar-benar tidak sadar kemarin malam." Changkyun tersenyum.
Wonho pikir, ketua perusahaan Lim sangat menakutkan seperti yang dirumorkan oleh orang-orang. Tapi yang Wonho lihat disini secara langsung, ia hanya seperti anak remaja biasa. Tatapannya mengintimidasi, tetapi sebenarnya, dimata Wonho, Changkyun adalah orang yang santai dan seperti tidak mau memperlihatkan sama sekali kekuasaannya. Ia juga terlihat baik.
"Oh iya Wonho-ssi, maaf jika aku mengganggu jam kerjamu. Segeralah kembali, aku bisa-bisa dimarahi oleh bos-mu." Changkyun segera berdiri dari sofa dan membungkuk.
"Bosku saja bisa tunduk kepadamu, Changkyun-ssi." Wonho segera membalas sopan Changkyun dan mengangguk mengerti.
"Tidak, anda tidak mengganggu sama sekali. Maaf sudah repot-repot mendatangi saya di kantor." Wonho tersenyum sopan.
"Wonho-ssi"
"Iya?"
"Apakah nanti malam kau sibuk? Aku ajak untuk makan malam sebagai balasanku karena membantuku kemarin." Changkyun menyerahkan kartu pengenalnya, namun berbeda dari yang Wonho dapatkan kemarin malam.
"A-ah, terima kasih ajakannya. Saya akan datang. Malam ini saya tidak lembur." Wonho segera membungkuk berterima kasih.
"Semoga kita bisa lebih kenal dekat, jadi lama-lama tidak perlu berbicara sopan lagi." Changkyun tertawa kecil dan membenarkan jaket hitamnya.
"Saya menunggu kesempatan itu datang Changkyun-ssi." Wonho hanya tersenyum gugup saat Changkyun mengatakan hal tersebut.
"Supirku akan menjemputmu nanti, jadi kau tidak perlu repot-repot mencari restorannya. Jam 8 malam, apa kau bisa?"
"E-eh, iya. Saya bisa. T-tapi bukankah itu merepotkan anda?" Wonho tidak enak saat Changkyun menyuruh asistennya menjemput orang biasa seperti Wonho yang berkerja di perusahaan biasa seperti ini.
"Santai saja, aku suka berbicara dengan Wonho-ssi. Kalau begitu, aku izin pergi dulu." Changkyun segera meninggalkan Wonho yang mematung di lobi kantor kerjanya.
"Hah?? Ini mimpi atau apa? Kenapa dia bisa mengajak orang asing biasa sepertiku untuk berbicara??" Wonho segera mencubit pipinya dan itu terasa sangat sakit.
Ini bukan mimpi, dan Wonho masih terkejut. Ia tidak pernah membayangkan ketua perusahaan Lim yang dikenal oleh orang-orang, mengajak Wonho, orang biasa untuk berkenalan hingga memberi ajakan untuk makan malam bersama?
"Sepertinya aku sudah terlalu lelah. Aku ingin minum kopi terlebih dahulu" Wonho segera menuju ruang kerjanya sembari membawa kopi di tangannya.
To be continued...
