Pukul 12 malam, Shuusei terbangun dari tidurnya.

Sejauh yang ia dengar hanya ada suara jangkrik. Orang-orang toshokan mungkin sudah berangkat ke mimpi masing-masing, atau barangkali masih bersenda gurau di tengah botol-botol sake isi setengah dalam bar yang letaknya agak jauh dari kamarnya. Tokuda Shuusei beranjak duduk. Matanya masih terasa berat. Namun, ia belum ingin kembali menutup matanya.

Mimpi itu datang lagi. Bunga tidur yang rasanya nyata, saking nyatanya hingga matanya enggan kembali mengantar pada gerbang alam bawah sadar hingga pagi. Akan tetapi ini masih pukul 12, sementara ia berangkat tidur pada pukul 10 lewat sekian menit. Masih terlalu cepat untuk bangun, apalagi memulai hari.

Shuusei menghela napas.

Selimut yang melindunginya dari udara dingin malam bulan Desember ia sibak. Pelan-pelan Shuusei beranjak, berdiri. Dengan langkah yang sedikit terhuyung karena kantuk, ia keluar dari kamar.

Lampu koridor tidak pernah dipadamkan pada malam hari, hingga sinarnya yang kelewat kontras dengan kamar Shuusei yang gelap itu sukses membuat si helai hitam menghalau matanya sedikit dengan lengan. Kakinya lamat-lamat melangkah menjauhi kamar. Tidak ada yang ditemuinya sepanjang langkahnya yang tak menentu di koridor panjang ini, entah itu rekan sesama bungounya atau para alkemis yang lebih sering menginap di toshokan ketimbang pulang ke rumah masing-masing. Lama ia berjalan lungkai bagai orang mabuk, sebelum akhirnya kakinya berhenti di depan salah satu dari sekian pintu kamar yang satu koridor dengan kamarnya.

Pintu bercat cokelat itu ia ketuk pelan. Dua kali, lalu dia diam. Tidak ada jawaban dari dalam. Shuusei tidak mengetuknya lagi setelahnya. Pemuda itu diam, menatap pintu yang bisu, lalu tangannya, kemudian menghela napas pelan.

Bodoh.

Ia bodoh. Sangat.

"Shuusei?"

Meski mengantuk, telinganya masih cukup peka untuk menyadari bahwa namanya dipanggil. Shuusei menoleh.

"Kunikida ...?"

"Aku pikir kau sudah tidur jam segini, biasanya." Kunikida Doppo tertawa kecil. Nadanya sedikit canggung meski lawan bicaranya tidak terlalu memikirkannya.

Shuusei terdiam. Pandangannya menyipit sementara kepalanya menunduk, kemudian menggeleng pelan. Kunikida yang baru kembali dari kamar Katai—untuk beberapa hal—turut membisu. Kedua netra sewarna zamrud itu melirik pintu kamar di sebelah mereka. Butuh beberapa detik untuknya menyadari, sebelum akhirnya matanya kembali mengarah pada sang sang rekan. Helaan napas keluar dari bibir.

"Kamar kita searah, mau kuantar pulang?" Kunikida menawarkan. Shuusei tidak menjawab, namun diamnya yang ambigu membuat pemuda berhelai merah muda itu mengambil keputusan sendiri—mendekati pemuda itu, menepuk punggungnya pelan, kemudian menuntunnya perlahan buat pulang ke kamarnya sendiri. Sejenak, ia berbisik tertahan, "Ikhlaskan dia, Shuusei."

Ini bukan yang pertama—barangkali juga bukan yang terakhir. Dalam interval malam yang terlalu acak Shuusei selalu kemari, ke depan pintu kamar Shimazaki Touson, tiap tengah malam kala ia terbangun lantaran mimpi buruk. Mimpi yang sebetulnya bukan sekadar bunga tidur biasa, melainkan ingatan tentang kematian Shimazaki yang terjadi tepat di depan mata, yang pada akhirnya menjelma jadi mimpi buruk tanpa henti yang tak setiap malam menyergap, namun tiap datang selalu memberi efek yang menyakitkan.

Ia selalu datang, kemudian mengetuk pintu. Harapan bahwa pintu tersebut akan terbuka dan sosok Shimazaki yang akan menatapnya datar dan menyapa dari dalam selalu ia gumamkan dalam hati. Shimazaki baik-baik saja. Shimazaki masih di sini. Kendati ia sudah tahu bahwasanya itu semua mustahil. Shimazaki Touson sudah lenyap, mati, lagi.

Tokuda Shuusei belum bisa menerimanya.

.

.

.

Bungou to Alchemist belong to DMM Games

.

.

.

Judulnya gitu karena ... ya gitu

I can't sleep akshkahlks