Seorang gadis bersurai kelam itu berbaring seraya menatap ke arah sinar rembulan yang masuk melalui jendela kamarnya.
Mikasa Ackerman, sejak tadi dihantui rasa gelisah dan juga cemas. Ia mengecek kamar ayahnya setiap tiga puluh menit sekali semenjak tadi pagi untuk memastikan ayahnya baik-baik saja. Ayahnya -Raja Arnius Ackerman, merupakan pemimpin dari Kerajaan Hizuru. Saat ini ia sedang dalam kondisi tidak sehat dan para tabib kerajaan berusaha mengobatinya semaksimal mungkin, namun kondisinya semakin memburuk.
Mikasa kemudian bangkit, menyisir rambut panjangnya menggunakan jari sebelum keluar dari kamar tersebut. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan gelisahnya, oleh karena itu ia berniat untuk tidur di kamar sang ayah sekaligus menjaganya.
Mikasa menutup pintu kamarnya kembali dan mendapati dua pengawal yang berjaga di depan kamarnya secara otomatis membungkuk untuk memberikan hormat padanya. "Selamat malam, Tuan Putri."
"Selamat malam. Dan sudah ku bilang, kan, kalian tidak perlu memberi hormat begitu padaku, aku bukan Raja!" sergah Mikasa seraya menghembuskan napasnya kasar. Sungguh, menjalani kehidupan sebagai putri kerajaan membuatnya kewalahan. Ia harus menjaga sikap setiap saat, tidak boleh melakukan ini dan itu sesuka hati. Namun hal yang paling membuat kesal adalah, bagaimana orang memperlakukannya secara berlebihan.
Mikasa hanya ingin diperlakukan biasa saja.
"Ah, maafkan kami, Tuan Putri. Tapi kami sudah terbiasa." Ucap salah satu pengawal tersebut yang bernama Samuel. "Anda mau ke mana?"
Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri sejenak sebelum kembali menghadap pada dua pengawal itu. "Aku ingin tidur di kamar ayahku. Kalian di sini saja seolah-olah aku masih di dalam, oke?"
Mikasa kemudian mengacungkan jempolnya ketika dua pengawal itu mengangguk dan mengambil tempat tepat di sisi kanan dan kiri pintu kayu tersebut. Kemudian Mikasa berjalan dengan setengah berlari menuju ke kamar ayahnya. Gadis itu melewati lorong-lorong yang anehnya sangat sepi. Biasanya selalu ada yang berjaga di setiap ujung lorong. Namun malam ini Mikasa tidak menemukannya sama sekali.
Kemudian gadis itu sampai di depan kamar ayahnya. Ia juga heran karena tidak ada pengawal yang berjaga di sana. Mikasa merasakan keringat dingin mengalir dari dahinya. Ia takut. Ia panik. Kemudian dengan cepat ia menekan kenop pintu dan ia mendengar suara pecahan dari dalam kamar. Mikasa membelalakkan matanya ketika hal yang pertama ia lihat dalam kamar tersebut adalah sosok bayangan hitam yang melompat lewat jendela.
Mikasa kemudian mendapati sosok ayahnya yang berusaha memanggilnya dengan susah payah. Tangannya mencengkeram dadanya dengan kuat. Mikasa berlari ke arah ayahnya ketika kakinya menginjak sesuatu yang tajam. Sakit, tapi Mikasa tidak mempedulikannya. Dengan kaki berdarah gadis itu mendekat ke arah ayahnya.
"Ayah! Ayah, apa yang terjadi?!" Mikasa kebingungan dan berusaha membantu ayahnya untuk duduk. Namun kepanikannya bertambah ketika melihat busa keluar dari mulut ayahnya.
"TOLONG!!" Mikasa berlari ke arah pintu dan berteriak untuk meminta pertolongan ketika beberapa pelayan berlari ke arahnya.
"Ada apa, Tuan Putri?!" tanya Kuchel -seorang wanita paruh baya yang yang sudah merawat Mikasa sejak kecil. Wanita itu kemudian merangkul Mikasa yang sedang menangis. Sedangkan para pelayan yang lain segera memasuki kamar tersebut diikuti dengan beberapa pengawal yang baru datang.
"Panggilkan Tabib! Cepat!"
Mikasa tidak bisa mencerna dengan benar apa yang terjadi selanjutnya. Dengan pandangan berkabut, ia melihat beberapa tabib berusaha mengobati ayahnya dengan memberikan beberapa ramuan dan memijat beberapa area tubuhnya. Namun semuanya seketika jelas ketika ayahnya menutup matanya rapat dan tidak lagi bernapas.
"Raja sudah meninggal dunia."
Kalimat yang diucapkan salah seorang tabib itu membuat tubuh Mikasa merosot. Bahunya bergetar untuk menahan suara tangisannya. Ia menyesal. Jika saja ia lebih cepat sampai ke kamar ayahnya. . .
Tunggu. . . .
Gadis itu kemudian berdiri. Ia kemudian menatap tajam ke arah pengawal yang ada di dalam kamar tersebut saat ini. "Kenapa tidak ada yang berjaga di kamar ayah tadi?!"
"Maaf, Tuan Putri," Sahut salah seorang pengawal seraya menunduk. "tapi tadi-"
"Mikasa!"
Ucapan pengawal tersebut terputus begitu saja ketika seseorang memasuki kamar tersebut dan memanggil nama Mikasa. Mikasa bisa melihat sosok Rai Ackerman mendekat ke arahnya. Dia adalah kakak dari ayahnya alias paman dari Mikasa.
"Beberapa pengawal melihatmu tadi berlari dan memasuki kamar ini."
Mikasa mengerutkan dahinya, tidak paham dengan ucapan pamannya. "Iya, aku kemari karena aku ingin melihat kondisi ayah! Dan ternyata di sepanjang lorong tidak ada yang berjaga, bahkan sampai di sini tidak ada seorang pun! Lagipula aku tadi meli-"
"Tuan Putri, kami menemukan racun di dalam tubuh Yang Mulia." Ucap seorang tabib memotong ucapan Mikasa. "Dan di lantai tersebut ada cairan yang sama dengan racun yang ada di dalam tubuh Yang Mulia Raja."
Seketika hening. Mikasa tidak tau situasi apa yang ada saat ini ketika ia melihat semua mata yang ada di ruangan tersebut menatapnya dengan penuh penghakiman. Sebelum sempat berucap, Mikasa merasakan seseorang menggenggam tangan kanannya dengan erat.
"Tuan Putri tidak mungkin melakukan itu!" Ucap Kuchel seraya menarik Mikasa ke belakang tubuhnya, membentengi gadis itu dari tatapan yang ditujukan padanya. "Saya yang merawatnya sejak kecil, saya tau Putri tidak akan melakukan hal seperti itu!"
"Mikasa, kami tau kau tidak setuju dengan pernikahan yang ayahmu rencanakan." Ucap Rai seraya berjalan mendekati Mikasa, kemudian pria itu menyentuh bahunya. "Tapi kau tidak perlu bertin-"
"Kenapa paman malah menuduhku?! Aku memang tidak suka dengan pernikahan yang ayah rencanakan, tapi aku juga tidak menolaknya, kan?!" sahut Mikasa seraya menepis tangan Rai yang ada di bahunya.
"Begini saja, pembicaraan ini kita lanjutkan besok. Mikasa, kau kembali ke kamarmu. Dan yang lainnya, kita persiapkan untuk upacara kematian Raja besok." Ucap Rai yang seketika dituruti oleh semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut, kecuali Mikasa tentu saja. Gadis itu memberi tatapan menyelidik terhadap Rai sebelum Kuchel menggandeng tangannya dan membawa Mikasa keluar dari kamar sang ayah.
"Tuan Putri tidak perlu khawatir, saya akan selalu berada di pihak anda." Ucap Kuchel seraya mengusap pelan punggung Mikasa sebelum akhirnya Mikasa memeluk wanita paruh baya itu dengan erat sambil menangis.
"Kau mempercayaiku, kan? Aku tidak mungkin membunuh ayah!"
"Iya saya tau dan saya mempercayai anda dengan segenap hati saya."
Keduanya melanjutkan perjalanan kembali ke kamar Mikasa ketika seseorang menghalangi jalan mereka. Mikasa mendongak melihat sosok Levi, anak satu-satunya dari Kuchel yang juga bekerja sebagai pengawal kerajaan.
"Levi! Kemana saja kau?! Kenapa kau tiba-tiba menghilang di saat seperti ini?!" Cecar Kuchel pada Levi hingga membuat pria itu menggelengkan kepalanya.
"Aku dipanggil oleh Tuan Rai untuk berjaga di Kastel Dover. Memangnya ke mana para pengawal istana yang lain?"
Mikasa hanya mendengarkan perdebatan antara ibu dan anak itu seraya menunduk. Gara-gara ucapan Levi barusan, Mikasa jadi berpikir, untuk apa pamannya memanggil Levi untuk berjaga di Kastel Dover yang hanya digunakan jika ada perayaan besar? Dalam waktu seperti ini, kastel tersebut kosong.
"Tuan Putri, saya akan mengantar anda kembali ke kamar."
Mikasa mengerjapkan matanya ketika ia melihat Levi berjongkok di hadapannya. "Apa?"
"Kaki anda terluka, saya akan menggendong anda."
"Oh astaga! Saya tidak menyadari luka di kaki Putri." Sahut Kuchel kemudian. "Ayo, Tuan Putri, naiklah ke punggung Levi, saya akan mengambilkan obat untuk anda."
Mikasa kemudian menurut, ia melingkarkan tangannya di leher Levi sebelum pria itu berdiri dengan menyangga bagian belakang lutut gadis itu. "Maafkan saya, Tuan Putri."
Mikasa tidak menjawab dan tidak mengatakan apapun ketika Levi membawanya ke kamar. Ia ingin sekali sebenarnya menanyakaan apa yang sebenarnya Rai perintahkan pada Levi, tapi rasanya tenggorokannya kering dan ia malas untuk berbicara.
Sesampainya di kamar, Levi mendudukkan Mikasa di ranjang dengan perlahan sebelum pria itu menegakkan tubuhnya dan berjalan mundur, menyisakan jarak di antara mereka.
"Levi, tolong bilangkan ibumu, aku baik-baik saja. Aku bisa mengobati lukaku sendiri."
Mikasa bisa melihat keraguan di wajah pria itu. "Tapi Pu-"
"Tolong! Tinggalkan aku sendiri!" Ucap Mikasa tegas dengan nada setengah memohon. Akhirnya Levi membungkuk sebelum berbalik dan menutup pintu kamar Mikasa dari luar. Kemudian gadis itu dengan cepat berlari dan mengunci pintu kamarnya. Mikasa bersimpuh di karpet dan menarik kakinya untuk melihat telapak kakinya. Lukanya cukup dalam, tapi syukurlah tidak ada yang menancap. Saking kalutnya tadi, Mikasa sampai tidak merasakan sakit di kakinya. Namun sekarang ada rasa nyeri yang membuat gadis itu meringis. Kemudian Mikasa berjalan dengan sedikit pincang supaya tidak menginjak luka tersebut ke arah lemarinya.
Mikasa membuka lemari jati dengan ukiran matahari tersebut untuk mencari kain yang bisa ia gunakan untuk membalut lukanya. Mikasa menemukan sebuah kain berwarna biru yang tidak ia ingat dari mana ia mendapatkannya. Gadis itu duduk lagi di lantai dan membalutkan kain tersebut di kakinya.
Setelah selesai, ia segera berdiri dan merasa lega karena rasa sakitnya sedikit berkurang berkat kain tersebut. Ia tidak punya waktu lagi. Ia harus memutar otak bagaimana caranya untuk mengungkap siapa sosok misterius yang memasuki kamar ayahnya dan meracuninya itu. Tapi ia tidak punya cukup bukti. Berusaha menjelaskan pun semua sudah terlanjur menuduhnya tadi. Dan yang membuat Mikasa tidak habis pikir, kenapa semua orang berusaha untuk memutus ucapannya sejak tadi?
Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengatakan bahwa ada orang yang keluar lewat jendela!
Mengingat tentang jendela, secara refleks gadis itu menengok ke luar melalui jendela kamarnya yang menghadap ke selatan. Dan matanya seketika melebar mengingat apa yang ada di selatan.
"Armin Arlert!"
Mikasa berlari ke meja yang terletak di pojok kamar tersebut dan segera membuka lacinya. Di sana terdapat berbagai surat yang ia selama ini ia dapatkan. Ia ingat ia pernah memiliki sahabat pena bernama Armin Arlert. Armin merupakan seorang detektif muda terkenal yang ada di kerajaan Eldia. Dulu saat mereka masih sering berkirim pesan, Mikasa ingat betul Armin selalu menceritakan berbagai pengalamannya dalam mengungkap berbagai kasus. Dan juga. . .
Mikasa kembali mengobrak-abrik isi lacinya ketika ia menemukan sebuah lukisan. Lukisan tersebut merupakan lukisan yang Armin buat untuk Mikasa karena saat itu Mikasa penasaran dengan tempat tinggal yang selalu Armin banggakan itu.
"Jika Armin cukup dikenal sebagai seorang detektif, harusnya cukup mudah bagiku untuk menemuinya. Asalkan aku bisa sampai ke Kerajaan Eldia dengan selamat, sih." Mikasa kembali ke jendela dan mempertimbangkan idenya untuk meminta bantuan Armin dalam mengungkap kasus kematian ayahnya. Gara-gara ucapan Rai tadi, semua orang pasti sudah melayangkan tuduhannya pada Mikasa sebagai pembunuh sang Raja. Jika Mikasa mengirimkan surat pada Armin, kemungkinan surat itu akan sampai selama sepuluh hari, dan selama sepuluh hari tersebut banyak hal yang bisa terjadi di istana, bahkan sesuatu bisa terjadi padaku.
Paling aman kalau aku bisa mengulur waktu dengan pergi diam-diam ke Eldia dan menemui Armin.
Mikasa terdiam sejenak sebelum benar-benar membulatkan tekadnya. Ia harus pergi dari tempat ini. Ia harus bisa menemui Armin! Aku harus menemukan siapa yang membunuh ayah!
Gadis itu kemudian bertelungkup di sisi ranjangnya dan tangannya berusaha menjangkau sesuatu yang ada di dalam kolong. Susah payah ia menjangkaunya, akhirnya tangannya mencapai sebuah benda yang ia cari. Gadis itu berusaha menariknya dengan susah payah hingga akhirnya benda tersebut berpindah ke pangkuannya.
Benda tersebut merupakan sebuah kotak kayu yang pernah ayahnya berikan dulu. Katanya, Mikasa perlu membuka kotak tersebut jika ada orang jahat dan para pengawal maupun prajurit tidak lagi memungkinkan untuk membantu Mikasa. Kotak tersebut berisi sebuah pedang. Mikasa pernah belajar bagaimana cara menggunakan pedang namun tidak pernah menggunakan yang satu ini. Gadis itu membukanya dan matanya seketika terpana melihat ukiran di gagang dan juga penutup dari pedang tersebut.
Mikasa kemudian berdiri dan mengganti gaun tidurnya dengan sebuah celana panjang dan juga kemeja hitam disertai dengan rompi berwarna kelabu, dan juga sepasang sepatu boots berwarna cokelat muda. Gadis itu kemudian menyabukkan pedang tersebut ke pinggangnya. Selanjutnya ia mengambil sebuah topi yang tergantung di dekat lemarinya. Topi tersebut merupakan topi berwarna biru tua pemberian ayahnya. Mikasa mencium topi tersebut, meresapi kenangan yang pernah ia ukir bersama ayahnya sebelum akhirnya ia menggelung rambut panjangnya dan memakai topi tersebut. Tak lupa juga, gadis itu mengambil sebuah kantong kecil dari lemarinya dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
Setelah siap dengan semua, Mikasa menyadari satu permasalahan yang belum bisa ia pecahkan. Bagaimana caranya ia keluar dari istana?
Ia tidak mungkin bisa keluar dengan mudah melalui jalan yang seharusnya. Bahkan untuk keluar dari kamar melalui pintu kamarnya tersebut sudah dipastikan hal yang mustahil. Pasti sekarang banyak pengawal yang sedang berjaga di kamarnya. Kemudian Mikasa berbalik dan menatap ke arah jendela kamarnya. Gadis itu berjalan mendekati jendela tersebut dan menunduk untuk melihat seberapa besar kemungkinan ia bisa mencapai tanah hidup-hidup. Jarak tempatnya berdiri menuju ke tanah sekitar 15 meter. Kalau melompat sudah otomatis dia akan mati. Kemudian Mikasa menjulurkan tubuhnya sedikit demi sedikit keluar dari jendela. Dan yep, mata gadis itu menangkap sabuah pipa yang terbentang tepat di bawah jendelanya. Kalau tidak salah, pipa tersebut mengarah ke ujung istana, dan di sana terdapat sebuah tanaman menjalar di tembok yang bisa ia gunakan untuk membantunya turun dengan mudah.
Aku harus melewati pipa, kemudian turun dengan bantuan tanaman tersebut.
Mikasa kemudian melompat menaiki kusen jendela tersebut dan membalik tubuhnya secara perlahan hingga tubuhnya menghadap ke arah tembok. Dengan perlahan gadis itu mencengkeram kayu jendela tersebut dan sedikit demi sedikit menurunkan tubuhnya hingga ia berada dalam posisi bergelantung. Mikasa menunduk sedikit dan melihat bahwa jarak antara kakinya yang bergelantung dengan pipa tersebut mungkin hanya berjarak sepuluh senti meter. Tapi Mikasa bingung karena tampaknya tangannya tidak memiliki sesuatu untuk dipegang jika ia turun. Dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, Mikasa mencoba melepaskan satu tangannya dan mencengkram sisi tembok yang kasar itu dengan kuat. Kemudian satu tangannya mengikuti dan kakinya secara otomatis memijak di atas pipa tersebut. Ia nyaris kehilangan keseimbangan ketika tangannya dengan erat memeang tembok di hadapannya itu. Bisa dibilang, posisinya saat ini mirip seperti laba-laba, atau cicak.
Dengan perlahan, gadis itu berjalan ke kiri, sesekali ia juga melihat ke arah pipa yang ia pijak. Pipa tersebut bisa saja runtuh setiap waktu. Tapi yang Mikasa perlu lakukan adalah terus berjalan samapai ia menemukan tanaman merambat itu.
Sekitar dua puluh menit, gadis itu akhirnya bisa melihat dedaunan yang menjalar di tembok, sampai saat ini ia bisa dibilang berada di posisi aman. Para pengawal dan juga pelayan pasti sibuk mempersiapkan upacara kematian ayahnya itu, dan penjagaan di belakang istana tidak akan seketat penjagaan di bagian depan. Mikasa mempercepat langkahnya ketika jarak dirinya dengan tanaman tersebut hanya sekitar lima meter.
Mikasa nyaris berteriak ketika ia akhirnya mencapai tanaman tersebut. Tanpa terasa ia pun sudah menangis seraya memeluk tanaman yang akan menjadi penyelamatnya itu. Layaknya seekor monyet yang kelaparan, dengan mudah gadis itu turun dan ia segera melentangkan tubuhnya ketika sampai di tanah. Gadis itu mengamati pipa yang ia pakai untuk berjalan tadi dan menyadari betapa tingginya pipa tersebut dari tanah. Mikasa sadar dirinya terlalu ceroboh dan ia seharusnya memikirkan berbagai rencana jika ternyata rencana lainnya gagal. Tapi sudah kepalang tanggung dan tidak ada waktu lagi, yang penting permasalahan utama aman dan ia sekarang harus menuju ke kandang kuda untuk mengambil Honey.
Pakaian gelapnya membuat gadis itu tidak terlalu khawatir karena malam cukup gelap dan ia bisa menyembunyikan diri dengan mudah jika ada seseorang yang mendekat. Gadis itu mengendap-endap ketika tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki dan juga suara orang bercakap-cakap dengan samar. Mikasa segera melompat ke dalam parit kering dan membungkuk untuk menyembunyikan diri.
"Kau tidak merasa aneh dengan Tuan Rai?"
"Kenapa?"
"Dia tiba-tiba saja menyudutkan Putri Mikasa dan tidak memberinya kesempatan untuk bicara dengan jelas. Selain itu, apa-apaan tabib tadi?! Dia juga bicara seolah-olah Tuan Putri yang meracuni Yang Mulia."
"Tapi kita juga tidak tau apa-apa. Yang jelas tadi kita dipanggil oleh..."
Mikasa mendesah kesal ketika pembicaraan penting itu tak lagi terdengar olehnya karena dua orang tersebut semakin menjauh. Mikasa kemudian naik dari parit tersebut dan melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di kandang, Mikasa bisa melihat seorang penjaga tertidur dengan lelap dalam posisi duduk di samping pintu kandang tersebut. Dan tergantung di saku celananya, terdapat benda yang Mikasa incar. Gadis itu tidak ambil pusing dan segera mengambil kunci dari saku pria tersebut. Ia mengenali penjaga tersebut sejak ia masih kecil. Namanya Tom, dan Tom pernah menceritakan sebuah rahasia pada Mikasa.
Rahasia yang mengatakan bahwa ia kalau tidur bisa menyerupai seperti orang mati.
Mikasa diminta untuk tidak menceritakan rahasia itu pada siapapun. Namun Mikasa ingkar dan mengatakannya pada sang ayah, karena Mikasa tidak merasa hal yang dikatakan rahasia itu adalah hal yang penting. Namun ayahnya hanya tertawa menanggapinya dan tidak melakukan apapun pada Tom. Dewasa ini Mikasa baru menyadari bahwa kemungkinan Tom akan diberhentikan jika ayahnya adalah seorang raja yang kejam.
Lagipula, apa gunanya para pengawal dan beberapa prajurit di gerbang jika mereka sampai membiarkan orang masuk untuk mencuri kuda?!
Mikasa membuka kandang kuda tersebut dan menguncinya dari dalam. Kemudian gadis itu dengan mudah mengenali Honey yang terikat di bagian paling ujung. Mikasa mengelus kepala kuda tersebut sebelum melepaskan ikatan talinya dan membukakan sekat kayu yang menahan kuda tersebut. Gadis itu mengambil pelana yang tergantung tepat di sisi kiri Honey dan memasangkannya pada kuda tersebut. Mikasa memutuskan untuk keluar melalui pintu belakang kandang dan menutup kandang tersebut kembali. Kemudian gadis itu membawa Honey ke tempat tersembunyi di dekat Kastil Dover dan mengikatnya di sebuah patung dewi yang ada di sana.
Meninggalkan Honey, Mikasa kembali ke kandang kuda dan bersiap dengan rencana gilanya. Ia melepaskan tali kuda-kuda tersebut dengan telaten dan juga sekatnya untuk membebaskan mereka semua. Setidaknya Mikasa melepaskan tiga puluh empat kuda, dan itu cukup membuat para penjaga itu kewalahan. Kemudian Mikasa membuka pintu kandang lebar-lebar dan satu persatu kuda itu pun berlarian ke luar.
Mikasa mengambil kesempatan untuk kembali pada Honey seraya memperhatikan gerbang depan. Mendengar adanya suara keributan yang disebabkan oleh kuda-kuda tersebut membuat para pengawal dan prajurit tersebut berlarian ke arah kandang. Mereka semua ribut dan sibuk menangkap puluhan kuda tersebut. Dan kesempatan itu digunakan sebaik mungkin untuk Mikasa menunggangi kudanya dan meninggalkan Istana.
"TOM, MAAFKAN AKU!"
Teriak Mikasa ketika gadis itu sudah berada jauh dari area istana. Ia berharap Tom tidak akan mendapat masalah gara-gara lepasnya kuda-kuda tersebut.
Mikasa memacu kudanya dengan tegang, namun ketika ia sudah mendekati area hutan, gadis itu menurunkan lajunya dan mulai bernapas lega. Ia memasuki hutan yang gelap tersebut dibantu dengan sinar rembulan yang sesekali terhalang oleh awan. Mikasa berusaha mati-matian melebarkan matanya supaya tidak sampai menabrak pohon.
Semakin masuk ke dalam hutan yang sunyi tersebut, Mikasa kemudian mendengar suara langkah kuda dari arah yang berlawanan dengannya. Mikasa menarik tali kendali Honey dengan cepat untuk menghentikannya, namun kudanya tersebut malah kehilangan keseimbangan dan membuat Mikasa terjatuh. Kepala Mikasa membentur sesuatu dan itu membuat gadis itu pusing setengah mati.
Dengan usaha keras, gadis itu berbalik hingga posisinya saat ini terlentang. Ia bisa menatap langit kelabu dan juga rembulan yang sepertinya sedang mengintip dari balik awan untuk menghiburnya.
Pandangannya mengabur, ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dan juga, rasa sakit di kakinya yang sempat ia abaikan kini terasa semakin menyiksa. Bahkan Mikasa bisa merasakan basah di kakinya tersebut.
"Astaga, anda baik-baik saja?!"
Mikasa yang sudah nyaris memejamkan mata mendengar suara seseorang berlari ke arahnya. Ia membuka matanya lagi. Ada seberkas cahaya yang sedikit menyilaukan. Kemudian ia bisa melihat wajah seseorang.
Mikasa tertawa kecil melihat wajah yang ada di depan matanya itu. Tampak warna-warni. Namun yang paling mencolok adalah dua warna zamrud yang sangat indah. Mikasa mengangkat tangannya, mencoba menggapai warna tersebut. Namun sayang, sebelum ia sempat menggapainya, warna-warna tersebut hilang digantikan oleh kegelapan.
