Ia mendengar sesuatu tak jauh dari tempatnya berada.
Eren memasang telinga ketika ia mendengar suara langkah kuda dan itu berasal dari arahnya yang berlawanan. Lelaki itu kemudian menepikan kudanya dan mendekati salah satu pohon sebelum telinganya mendegar suara debuman yang membuatnya mengerutkan dahi. Suara itu terlalu keras untuk sekadar buah yang jatuh ke tanah.
Dengan obor di tangan kirinya, lelaki itu memacu kuda kesayangannya dan mendapati seekor kuda putih cantik yang berlari melewatinya. Dengan cepat Eren menoleh ke arah kuda tersebut dan membelalakkan mata melihat tanda yang sekilas ia lihat di pelana kuda tersebut yang saat ini dalam posisi miring. Tanda itu merupakan tanda kerajaan yang berupa tiga buah pedang membentuk sisi segitiga.
Eren kembali melajukan kudanya ketika telinganya menangkap suara seseorang yang merintih dan tak jauh dari tempatnya berada, ia melihat sosok yang tergeletak di tanah.
"Astaga! Anda baik-baik saja?!" Eren segera melompat menuruni kudanya dan berlari mendekati sosok itu. Ia yakin betul orang tersebut pasti salah satu prajurit atau pengawal kerajaan.
Eren berjongkok di sisi sosok tersebut ketika obornya memberi penerangan yang jelas terhadap wajah yang ia lihat. Lagi-lagi Eren membelalakkan matanya. Ia mengenali sosok itu! Sangat mengenalinya!
Sosok yang terakhir ia lihat saat dirinya berumur dua belas tahun.
Dia Putri Mikasa!
"Heh.."
Eren bisa melihat gadis itu terkekeh pelan seraya mengangkat tangannya perlahan dan mencoba menyentuh mata Eren ketika tiba-tiba gadis itu kehilangan kesadaran.
"Ah, Tuan Putri?!" Eren kemudian menyandarkan obornya di salah satu pohon sebelum mengangkat kepala gadis itu perlahan dan membawanya ke pangkuannya. Ia melepas topi yang dipakai gadis itu dan mencoba mencari luka di kepalanya dan tidak menemukan apapun kecuali luka gores di pipi kanannya.
Kemudian matanya menangkap telapak tangan gadis itu yang penuh dengan luka dan juga beberapa kuku tangannya ada yang nyaris patah. Kondisinya mengenaskan sekali. Dan Eren sama sekali tidak habis pikir apa yang dilakukan Putri di tengah malam dengan pakaian seperti itu? Dan juga apa-apaan dengan pedang yang berada di sabuknya itu?!
Eren kemudian mengambil sebuah tali yang ada tas karung yang ia bawa. Sebenarnya tali tersebut hendak ia pakai untuk mengikat hasil buruannya malam ini. Namun tampaknya ia harus berhenti berburu untuk sementara.
Lelaki itu mencoba mendudukkan Mikasa dengan menyandarkannya ke pohon. Kemudian Eren berjongkok membelakanginya dengan mengambil posisi di sela-sela paha gadis itu sebelum ia menarik pelan tubuh Mikasa supaya merapat ke punggungnya. Dan kemudian ia mengikat tubuhnya bersama dengan tubuh gadis itu erat sebelum berdiri dan memegangi kedua tangan Mikasa yang terjulur melalui bahunya. Kemudian Eren dengan susah payah menaiki kudanya. Ketika satu kakinya berusaha untuk melewati bagian atas tubuh kuda tersebut, tubuh Mikasa di belakangnya merosot membuat Eren dengan segera mengambil posisi menunduk memeluk kudanya dan satu tangannya lagi memegang kaki Mikasa. Posisi tersebut benar-benar rumit hingga Eren harus perlahan-lahan menyeimbangkan posisinya hingga ia akhirnya bisa duduk tegak di atas kuda.
Eren kemudian mengambil seutas tali lagi di tas karungnya sebelum melingkarkan kedua tangan Mikasa di pinggangnya dan mengikat kedua pergelangan tangan itu. "Maafkan saya, tapi ini demi keamanan anda." Ucap Eren kemudian. Selanjutnya lelaki itu berbalik memacu kudanya, membus kesunyian hutan dan dinginnya malam untuk kembali ke gubuk kecilnya, jauh di desa bawah sana.
Sekitar satu jam, Eren akhirnya sampai di depan rumahnya yang diterangi oleh cahaya dari obor. Ia turun dengan hati-hati dan segera membawa gadis dalam gendongannya itu memasuki rumahnya yang kontras dari suasana di luar karena hanya diterangi oleh cahaya lampu minyak. Eren bisa melihat ibunya yang sedang merajut terkejut melihat kedatangan Eren yang yang cukup dini. Namun keterkejutan itu berganti melihat apa yang Eren bawa.
"Eren? Siapa itu? Ada apa dengannya?!" Eren kemudian melepaskan tali di antara dirinya dan Mikasa, ibunya juga seketika membantu dengan menahan tubuh gadis itu sebelum membaringkannya di kasur yang biasa Eren gunakan.
"Aku menemukannya dalam kondisi seperti itu di dalam hutan. Sepertinya ia jatuh dari kuda. Kudanya sempat berlari melewatiku." Jelas Eren. Lelaki itu menunggu reaksi ibunya, namun jelas saja sang ibu tidak akan mengenali siapa sosok gadis itu. Hanya orang yang pernah datang ke istana yang akan mengetahui wajah dari Tuan Putri Mikasa Ackerman. Itu juga kalau sedang beruntung. Dan Eren adalah salah satu yang beruntung pada malam itu.
"Ah, anak yang malang." Ujar Ibunya seraya mengusap pipi Mikasa, tepat di bawah luka yang ada di wajahnya. "Eren, tolong ambilkan air. Ibu harus membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum mengobati luka-lukanya."
Eren mengangguk sebelum keluar dari rumahnya. Sebelum mengambil ember yang tergantung di dinding rumah bagia depannya, Eren menyadari kudanya belum terikat. Ia membawa kuda tersebut ke kandang dan segera mengambil dua buah ember sebelum berjalan ke arah bukit. Di balik bukit tersebut ada sebuah sungai yang selalu dimanfaatkan oleh warga. Jaraknya juga cukup dekat dari rumah Eren.
Lelaki itu memenuhi dua buah ember tersebut dengan air sebelum ia berjalan kembali ke rumahnya. Ia meletakkan dua buah ember tersebut di sisi ibunya. Ibunya yang sudah siap dengan handuk kemudian segera membuka kancing kemeja gadis yang sedang memejamkan mata itu. Eren merasakan wajahnya memanas sebelum berbalik dan keluar dari rumahnya tanpa menunggu omelan ibunya.
Selama beberapa saat, Eren berbaring di rerumputan seraya memandangi langit dengan kedua tangan yang menjadi bantalan. Ingatannya berkelana ke masa saat ia berusia dua belas tahun. Saat itu, ia datang ke istana untuk mencari ayahnya dan saat itu ia bertemu dengan sosok cantik bagaikan bidadari. Sosok otu merupakan Permaisuri. Dan di samping Permaisuri, berdirilah seorang gadis kecil dengan wajah yang sama persis dengan sosok Permaisuri sendiri. Dan gadis kecil itu kini sudah tumbuh dewasa.
Angin malam yang berhembus membuat mata Eren semakin berat. Ia nyaris saja terlelap ketika mendengar suara ibunya dari dalam rumah. Eren berdiri dan segera memasuki rumah, melihat Mikasa sudah berganti baju menggunakan gaun kuno sederhana milik ibunya. Meski begitu, Eren tidak menampik bahwa (bahkan saat tertidur) gadis itu benar-benar sangat cantik.
"Ternyata kakinya juga terluka, lihatlah, dia hanya membalutnya dengan kain ini." Eren bisa melihat ibunya memegang sebuah kain berwarna biru yang saat ini sudah nyaris berubah warna karena dipenuhi oleh darah. Melihat kain tersebut, Eren mengerutkan dahinya. Seperti pernah melihatnya...
"Ibu, biar aku yang mengurus lukanya." Ucap Eren kemudian ketika ia sudah berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam lemari kayu besar yang terletak di pojok rumahnya. Eren mengambil sebuah kotak kecil dari dalam lemari tersebut dan membawanya kembali pada Mikasa. Ia duduk di bagian kaki dari ranjangnya dan membawa kaki gadis itu ke pangkuannya. Dengan perlahan, ia mengelap sisa-sisa darah yang ada di kaki tersebut sebelum mengeringkannya. Kemudian, ia membuka kotak kecil yang ia ambil tadi dan mengambil beberapa helai daun yang ada di dalamnya. Daun itu ia temukan di dalam hutan saat berburu, ia ingat bahwa ayahnya dulu pernah mengatakan bahwa daun ini merupakan daun yang bisa menutup luka dengan cepat berkat khasiat yang terkandung.
Eren menempelkan daun tersebut tepat di lukanya sebelum membalutnya dengan kain bersih yang sudah ibunya ambilkan barusan. Dengan telaten Eren melilitkan kain itu dan memastikan daunnya benar-benar tepat di atas lukanya.
Setelah selesai, Eren mengambil sebuah lumpang di meja dan memasukkan beberapa helai daun lagi serta sedikit air sebelum menumbuknya sampai halus. Kemudian Eren mengoleskannya pada luka di wajah dan tangan gadis itu. Eren menghembuskan napas lega ketika ia sudah selesai.
"Dia... cantik sekali, ya."
Eren mengagguk meyetujui ucapan ibunya. Dia benar-benar jiplakan permaisuri. Eren tidak yakin apakah ibunya sudah pernah melihat sosok Permaisuri atau belum, sepertinya sudah, tapi mungkin lupa. Yang jelas Eren tidak akan mengatakan apapun tentang identitas asli gadis itu sebelum gadis itu sendiri memberikan penjelasan.
"Ibu, tidurlah. Aku akan di sini menjaganya." Ucap Eren saat ia melihat ibunya menguap.
"Baiklah, tapi kau juga harus tidur, Eren. Tidurlah bersama ibu!"
Eren kemudian mengagguk dan menarik sebuah kursi kayu, meletakkannya di samping ranjangnya yang saat ini digunakan oleh Mikasa. "Nanti aku menyusul."
Kemudian hanya hening yang menemani Eren selama beberapa waktu. Lelaki itu menutupi tubuh gadis itu dengan sebuah kain yang biasa ia gunakan sebagai selimut. Kemudia ia mengamati wajah elok gadis itu dengan seksama. Melihatnya membuat Eren mendapatkan dua perasaan yang berbeda di hatinya. Yang pertama, perasaan kagum yang sudah ia kembangkan saat ia berusia dua belas tahun. Dan yang kedua, perasaan kesal yang seharusnya tidak pernah ia simpan. Perasaan kesal itu cukup beralasan, namun penyebabnya bukanlah gadis di hadapannya itu. Tapi tetap saja, gadis itu berhubungan erat dengan perasaan kesalnya.
Eren melipat tangannya di depan dada sebelum bersandar di kursinya. Suasana hening yang tercipta membuat matanya berat. Padahal kalau sedang berburu, tidak peduli semalam apapun ia akan membuka matanya dengan lebar tanpa rasa kantuk sama sekali. Namun gara-gara diam dan tak melakukan suatu apapun, ia menjadi sangat mengantuk. Tak lama kemudian, lelaki itu sudah berada di alam mimpi dan ia tertidur dengan posisi duduk.
Sinar matahari mulai menembus hingga membuat sebagian wajahnya menghangat. Selain itu, suara derit ranjang membuatnya membuka mata. Hal pertama selanjutnya yang ia lihat adalah sosok gadis yang mengambil alih ranjangnya semalam berusaha untuk duduk.
"Ah, Tuan Putri! Anda jangan banyak bergerak dulu."
Ucapan Eren barusan membuat gadis itu seketika menatap wajahnya dengan tatapan horor. Namun Eren berusaha mengabaikan itu sebelum ia membuat Mikasa kembali berbaring.
"Maaf. Semalam saya menemukan anda di hutan. Tampaknya anda terjatuh dari kuda anda, Tuan Putri. Tapi ada banyak luka juga yang sepertinya anda dapatkan sebelum anda jatuh."
Gadis itu kemudian menunduk dan matanya terbelalak menyadari sesuatu. "Bajuku?!"
Paham dengan kekhawatiran gadis itu, Eren dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Bukan saya yang mengganti pakaian anda, tapi ibu saya. Tenang saja, Tuan Putri, semua pakaian dan benda yang anda bawa aman." Semalam ia melihat ibunya membereskan pakaian gadis itu yang katanya akan ia cucikan dan menyimpan pedang beserta sebuah kantung kecil di lemari.
Eren menahan senyum melihat gadis itu kini terbaring dengan wajah rileks. Kemudian dengan perlahan gadis itu menoleh kepada Eren dan tersenyum menatapnya, membuat yang ditatap seketika berdebar tak karuan. "Terima kasih sudah menolongku. Siapa namamu?"
Dengan ragu, Eren menundukkan kepalanya sebelum menjawab pertanyaan itu. "Nama saya Eren."
"Lalu ke mana ibumu?"
"Ibu sedang pergi untuk memetik sayuran." Jawab Eren mengetahui bahwa pengait di pintu rumahnya sudah terlepas dan diikuti oleh anggukan pelan gadis itu.
"Ehm, Eren," Gadis itu memanggil namanya danEren dengan waswas menatapnya. "Aku tidak tau kenapa kau memanggilku 'Tuan Putri', apa kau benar-benar mengenali siapa aku?"
Eren mengangguk dengan pelan. Ia ingin menceritakan soal masa lalu, tapi sepertinya ia masih tidak bisa. Ia takut luka lama akan terbuka kembali. "Saya pernah melihat wajah Permaisuri satu kali dan itu mirip sekali dengan anda. Lalu kemarin saya sempat melihat kuda anda dengan tanda kerajaan jadi saya langsung mengetahui bahwa anda adalah Putri Mikasa."
"Oh, sebentar, apa kudaku tidak lari?!" Tanya Mikasa dengan cepat.
"Maaf Tuan Putri, kuda anda lari melewati saya sebelum saya menemukan anda."
Mikasa mendesah seraya menutup matanya dengan lengan. "Ah, dasar Honey!"
Eren kemudian membungkam menunggu Mikasa berkata lagi. Ia cukup penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu dan kenapa dia berkuda di hutan malam-malam, tapi ia tidak ingin dicap tidak sopan jika banyak bertanya.
"Eren, apa berita dari kerajaan sudah sampai di sini?"
Eren mengerutkan dahi dan menggeleng pelan. "Maaf, apakah berita tentang hilangnya Tuan Putri?"
"Bukan!" Balas gadis itu dengan cepat seraya mengibaskan tangannya. "Maksudku, berita tentang meninggalnya ayahku."
Mendengar itu membuat Eren tersentak dan nyaris membuatnya jatuh dari kursi. Namun dengan sisa-sisa kesadaran mengenai siapa yang ada di hadapannya, Eren menyimpan keterkejutannya itu dalam-dalam. "Yang Mulia Raja?"
"Sejak dua hari yang lalu, ayahku sakit. Dan semalam saat aku ingin menengoknya di kamar, aku melihat seseorang melompat dari jendela dan pada saat itu pula ayah..."
Gadis itu menjeda sejenak, Eren paham ke mana arah pembicaraan ini. Ia tidak akan sanggup mendengarnya. Tanpa sadar, Eren menutup matanya dan mulai terisak.
"Ah, Eren..."
Gadis itu tidak melanjutkan ucapannya sehingga membuat Eren sadar atas apa yang ia lakukan. Ia terlalu... terbawa perasaan mengingat Raja Arnius Ackerman merupakan raja yang sudah membantu ayahnya keluar dari kegelapan dulu.
"M-maafkan saya, Tuan Putri." Ujar Eren seraya menghapus sisa-sisa air matanya.
"Tidak masalah, Eren. Harusnya hari ini aku ada di sana, ini hari terakhir aku melihat Ayah. Tapi aku tidak bisa." Ucap gadis itu kemudian. Eren tidak menjawab menunggu gadis itu melanjutkannya. "Aku dituduh membunuh ayahku sendiri. Konyol sekali!"
Lagi-lagi, ucapan Tuan Putri itu membuat Eren terkejut. "A-apa ini alasan anda pergi dari Istana?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Bukan sepenuhnya, sih. Aku harus menemui temanku di Kerajaan Eldia. Dia seorang detektif. Aku harus kembali lagi secepatnya ke istana dan membuktikan kalau aku tidak bersalah dengan bantuan temanku itu! Tapi sekarang aku sudah kehilangan kuda, bahkan tubuhku rasanya remuk tidak bisa bergerak, dan sekarang aku malah merepotkanmu, mungkin lebih baik aku pulang saja dan menghadapi semua ini."
"Anda tidak perlu memikirkan itu, Tuan Putri. Anda bisa tinggal di sini seberapa lama yang anda mau. Tapi, maafkan saya karena saya hanya memiliki rumah kecil ini." Ucap Eren dengan cepat. "Kalau anda sudah sembuh, saya berjanji saya akan mengantarkan anda untuk menemui teman anda di Eldia. Saya siap membantu anda!"
Eren tidak tau apa yang membuat dirinya yakin seratus persen dengan mengucapkan hal seperti itu. Tapi ia juga sama sekali tidak keberetan untuk membantu Mikasa.
"Terima kasih, Eren." Ucap gadis dengan senyum tipis namun cukup membuat Eren terkesima. "Dan, bisakah aku meminta tolong lagi?"
"Iya, Tuan Putri?"
"Mulai sekarang, jangan memanggilku Tuan Putri. Panggil saja aku Mikasa. Dan bicaralah kepadaku selayaknya kita seorang teman. Aku tidak ingin orang-orang tau identitasku."
"Ah, tapi Tu-"
"Eren, kali ini aku tidak meminta tolong padamu. Ini perintah."
Eren akhirnya mengangguk dengan pasrah dan mencoba tersenyum pada gadis itu. "Baiklah, Mi-Mikasa?"
Mikasa tertawa kecil mendengar Eren menyebut namanya dengan canggung itu. "Kau lucu sekali!"
Ucapan yang entah sebuah ejekan atau pujian itu membuat Eren mengalihkan wajahnya, malu. Sudah dua puluh empat tahun ia hidup, tidak ada yang pernah mengatakannya lucu. Saat masih kecil pun ia adalah bocah pemarah yang sangat ceroboh. Namun kedewasaan dan pengalaman mengubah kepribadiannya menjadi sedikit pendiam dan lebih dewasa tentunya.
Kemudian Eren mendengar suara deritan ranjang lagi menandakan pergerakan dari Mikasa. Ia segera membantu gadis yang berusaha untuk duduk itu seraya meringis kesakitan.
"Bagian mana yang sakit, Tu-, maksudku, Mikasa?"
Setelah berhasil duduk, Eren dengan sigap menempatkan bantalnya di tembok dan membantu Mikasa berpindah posisi hingga gadis itu bisa bersandar. "Aduh, aku tidak mau tidur lagi kalau untuk bangun saja punggungku tersiksa seperti ini."
Eren tertawa mendengar keluhan Mikasa. Rasanya lucu sekali mendengar seorang Putri mengeluh seperti itu. "Kau membutuhkan sesuatu?"
Belum sempat mendengar jawaban Mikasa, pintu rumahnya terbuka menampakkan sosok ibu Eren dengan membawa satu keranjang berisi sayuran penuh. Kemudian wanita paruh baya itu tersenyum lebar menatap Mikasa.
"Kau baik-baik saja, Nak?"
Kalimat itu kalimat sederhana. Sudah sering Eren dengarkan. Namun tidak dengan Mikasa sepertinya. Gadis itu bergeming dengan menatap ibunya dengan tatapan yang tidak bisa Eren baca. Selain itu, saat ibunya mengambil posisi duduk di samping gadis itu, Mikasa tampak... sedih.
"Nak?"
Mikasa masih tidak menjawab, namun baik Eren dan ibunya sama-sama kaget ketika melihat Mikasa tiba-tiba memeluk ibu Eren seraya menangis. Gadis itu menenggelamkan wajahnya di bahu wanita itu.
"Ah, ada apa?" Tanya ibu Eren seraya mengusap pelan punggung Mikasa. Eren jadi penasaran. Ia terus memperhatikan keduanya hingga Mikasa berinisiatif untuk melepaskan pelukannya terlebih dahulu.
"M-maafkan aku." Ucap Mikasa di tengah isakannya. Eren semakin tidak mengerti kenapa gadis itu tiba-tiba meminta maaf pada ibunya? "Terima kasih karena sudah menolongku."
"Astaga, aku pikir ada apa." Jawab ibu Eren disertai dengan tawa kecilnya. Wanita itu kemudian mengusap punggung tangan Mikasa. "Tidak usah dipikirkan, Nak. Yang penting kau baik-baik saja. Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
Mikasa terlihat ragu, namun belum sempat menjawab, Eren dengan cepat menyahuti pertanyaan ibunya. "Miki. Namanya Miki."
"Miki, aku akan memasak sebentar lagi. Tunggu sebentar, ya. Kau pasti lapar."
Mikasa mengangguk dan saat itu ibu Eren berdiri meninggalkannya. Eren juga hendak menyusulnya ketika Mikasa memanggil namanya.
"Eren... kau anak dari Grisha Jaeger. Kenapa kau tidak langsung mengatakannya padaku? Kau anak laki-laki yang aku dan ibuku temui waktu itu, kan?"
Ah... padahal aku belum siap.
