"Saat ayahmu ini sudah tiada dan usiamu sudah di atas delapan belas tahun, perlahan-lahan kau akan bisa melihat semuanya dengan jelas, anakku. Kau akan tau apa yang tersembunyi di dalam darah keluarga kita."

Ucapan sang ayah yang didengarnya saat ia berusia tiga belas tahun terngiang-ngiang terus di telinganya sejak tadi. Ia sama sekali belum pernah mendapatkan jawaban apapun dari ayahnya. Dan ia penasaran. Sesuatu apa yang akan dia lihat? Harusnya saat ini ia sudah bisa melihat itu. Ia sudah berusia dua puluh satu tahun dan ayahnya sudah meninggal.

Mikasa mengerjapkan matanya memandangi atap dan lagi-lagi, ia melihat warna-warna cerah yang berbentuk abstrak seperti memenuhi seluruh pengelihatannya. Mikasa mengangkat tangannya, mencoba menyentuh apa yang sebenarnya ada di depan wajahnya itu, namun warna-warna itu seketika menghilang ketika tangannya menyentuh sesuatu.

Oh, ternyata Eren yang sedang berdiri di samping tempat tidurnya dengan sedikit membungkuk menatap wajahnya.

Dan Mikasa sedang memegang hidung lelaki itu.

"Eh.. maaf!" Ujar Mikasa secara cepat dan menarik tangannya kembali.

"Apa yang an-, maksudku, kau lakukan? Semalam saat aku menemukanmu, tanganmu juga mencoba menyentuh mataku sebelum akhirnya kau benar-benar kehilangan kesadaran."

Mikasa mengerutkan dahi. Ia tidak ingat apa-apa kejadian sesaat setelah ia terjatuh dari kuda. "Oh, benarkah?" tanyanya seraya terkekeh.

"Aha! Kau juga tertawa seperti itu!" sahut Eren dengan cepat. "Mengerikan!"

Mikasa menaikkan alisnya. "Seperti apa?"

"Seperti khek khek khek."

Mikasa memutar matanya dan menghela napas kasar. "Dasar tidak sopan!" tak lupa juga tangannnya memukul lengan Eren dengan kencang. Kemudian fokus Mikasa tertuju pada tas karung yang Eren bawa. "Mau ke mana kau malam-malam begini?"

"Berburu." Jawabnya seraya menegakkan tubuhnya lagi. Kemudian ia mengulurkan tangannya pada Mikasa. "Apa kau perlu bantuanku untuk melakukan sesuatu? Selagi aku belum berangkat."

Ah, rasa sakit di punggungnya itu sudah membaik sejak tadi sore, setelah ia mendapatkan beberapa pijatan dari Hanji Zoe, seorang tabib yang 'katanya' sebentar lagi akan menjadi seorang dokter setelah menyelesaikan pendidikannnya. Mendengar cerita Hanji, Mikasa mengerti bahwa nantinya Hanji akan menjadi dokter kerajaan. Tapi sekali lagi, banyak tabib-tabib handal yang masih menempuh pendidikan di kota sehingga saat ini di kerajaan hanya menyisakan tabib-tabib baru. Hal itu sangat Mikasa sayangkan, karena sakit kepala yang dialami ayahnya itu dianggap sebagai sakit kepala biasa karena kelelahan. Tapi siapa sangka bahwa akhirnya disaat terlemah sang raja malah memberi kesempatan pada pembunuh itu untuk menjalankan aksinya.

"Miki?"

Mikasa tersadar dari lamunannya dan ia menyambut uluran tangan Eren. "Antarkan aku buang air kecil."

"Baiklah."

Mikasa menegakkan tubuhnya sesaat searaya memicing ketika nyeri itu terasa lagi. "Bisa berdiri?"

"Ya, ya! tentu saja." Mikasa kemudian berdiri dengan satu gerakan dan melepaskan tangan Eren dari genggamannya. Tadi sore ia juga sudah bisa berjalan saat hendak menuju ke sungai untuk mandi. Tapi tidak jadi karena airnya terasa sangat dingin. Jadi ia hanya menyeka badan ala kadarnya dan segera kembali.

"Bagaimana punggungmu?" tanya Eren lagi saat mereka sudah berjalan beriringan menuju ke sungai.

"Lumayan. Hanya sakit ketika aku melakukan gerakan tiba-tiba."

Eren menunggu Mikasa dari balik pohon tak jauh dari sungai tersebut berada. Mikasa mengambil air sungai drngan ember yang dia awa sebelum menuju ke semak-semak terdekat. Ia menyelesaikan urusannya dengan cepat karena udara yang menggelitik di sekujur tubuhnya benar-benar dingin. Setelah selesai, ia bergegas menghampiri Eren ketika lagi-lagi, pengelihatannya mendadak menjadi kabur dan dipenuhi oleh warna-warna abstrak itu lagi. Dan kali ini warna yang mendominasi adalah warna merah. Merah seperti darah.

Mikasa mengerjapkan matanya beberapa kali namun warna tersebut tak kunjung hilang dari pandangannya. Dan warna itu seolah seperti datang mendekatinya, seolah ada seseorang yang menyiramnya dengan cairan berwarna merah darah. Ia melemparkan embernya ke sembarang arah dan berteriak seraya berlari tak tentu arah.

"Oi, Mikasa!?"

Teriakan Eren tak ia pedulikan sama sekali. Ia terus berlari hingga akhirnya ia menabrak sesuatu. "Ahh!!!!"

"Oi, Mik-" Eren menghentikan teriakannya seketika. Mikasa yang sedang berjongkok dan menutup kedua telinganya mendongak dan melihat seseorang berdiri di hadapannya. Gadis itu segera berdiri dan menatap sosok di hadapannya itu. Seorang pria berambut pirang dan berbadan kekar yang sedang melipat tangannya di depan dada. Aura yang terpancar dari pria itu benar-benar menyeramkan dan membuat Mikasa berjalan mundur perlahan hingga punggungnya menabrak sesuatu. Ia menoleh dan mendapati Eren di belakangnya sambil menenteng ember yang sempat ia lemparkan tadi. Dengan cepat gadis itu berpindah dan berlindung dibalik punggung Eren. "Aku tidak sengaja menabraknya tadi." Bisik gadis itu.

"Ah, Reiner!"

Suara Eren tiba-tiba saja berubah menjadi lebih nyaring. Bahkan lelaki itu meninggalkan Mikasa yang berlindung di balik pungungnya dan memeluk pria yang dipanggil Reiner itu. "Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?"

Si pria besar bernama Reiner itu membalas pelukan Eren seraya menepuk-nepuk punggung Eren dengan gerakan yang, entahlah, tapi bagi Mikasa sepertinya itu terlalu keras. "Aku sedang menjalankan misi penting dan rahasia."

Mikasa melebarkan matanya ketika Reiner menatapnya tepat saat mengatakan kata rahasia.

Apa maksudnya?!

"Ngomong-ngomong, siapa gadis itu? Jangan bilang saat aku pergi kau tiba-tiba saja sudah menikah?"

Eren tertawa dengan kencang seraya meninju lengan Reiner main-main. "Jangan bercanda! Dia sepupu jauhku! Miki, kemarilah!"

Mikasa mendekatinya dengan ragu-ragu, namun Eren malah segera menariknya ke hadapan Reiner. "Miki, kenalkan, ini adalah Reiner Braun, teman bermainku saat aku masih kecil."

Reiner mengulurkan tangannya dan Mikasa dengan ragu menyambut uluran tangannya. Namun dengan cepat Mikasa melepaskan genggamannya saat melihat pria itu tersenyum dan menatapnya dengan tatapan aneh.

"Uh, baiklah kalau begitu, kami harus segera kembali." Ucap Eren seraya menggandeng tangan Mikasa. "Sampai jumpa, Reiner!"

"Sampai jumpa, Eren. Dan selamat malam, Mika!"

Eh?

Eren berjalan cepat seraya membawa gadis itu kembali ke rumahnya. Namun Mikasa masih menyempatkan diri untuk menoleh pada sosok Reiner di belakangnya. Dan, bisa kau tebak sosok itu sudah menghilang di tengah kegelapan malam.

"Eren, dia memanggilku Mika! Apa dia mengerti identitasku?!"

"Kurasa tidak. Mungkin dia salah dengar ketika aku menyebut namamu Miki."

"Apa dia memiliki gangguan pendengaran?"

"Hah?" Eren tertawa kecil mendengar pertanyaan Mikasa. "Tentu saja tidak!"

"Aku tidak menyukainya. Dia mesum!"

Lusanya, Mikasa sudah bersiap dengan pakaian yang sama yang ia pakai saat ia kabur dari istana. Sebenarnya Eren menyarankan esok hari untuk berangkat, tapi gadis itu memaksa akan berangkat sendiri jika Eren memang tidak bisa mengantarnya. Dan ya tentu saja lelaki itu tidak membiarkan sang putri berkeliaran sendiri.

Mikasa mengambil pedangnya dan siap menyabukkan pedangnya ketika Eren tiba-tiba menahan tangannya.

"Jangan bawa ini!"

Mikasa menarik kembali pedangnya dan menatap Eren heran. "Kenapa?"

"Apa kau tidak pernah datang ke kota?! Kau akan ditahan oleh polisi jika membawa benda seperti itu!"

Mikasa segera meletakkan pedangnya kembali ke lemari. "Lalu bagaimana jika kita berada dalam bahaya?!"

"Aku jamin kita akan aman selama melewati hutan. Kau percaya saja padaku dan barang-barang yang ku bawa." Jawab Eren seraya menganggukkan kepalanya ke arah tas yang hendak ia bawa. "Tinggalkan saja pedangmu di sini. Ibuku tidak akan menjual atau menggunakannya."

"Bukan itu juga yang aku khawatirkan!" ujar Mikasa seraya melirik ragu pada pedangnya. Ia menghembuskan napas dan memejamkan mata.

Semua akan baik-baik saja...

Aku sudah memberitahunya...

Mikasa terus meyakinkan dirinya hingga ia sudah hendak menaiki kuda milik Eren. Carla sibuk memberi nasihat kepada Eren dan Mikasa tertawa geli melihat interaksi keduanya. Mengingatkannya pada masa-masa saat ia masih kecil dulu bersama ibunya.

Setelah selesai dengan Eren, Carla menghampiri Mikasa dan memeluk gadis itu dengan erat. "Terima kasih." Dan Mikasa membalas pelukan tersebut dengan sama eratnya seraya membisikkan kata terima kasih juga karena sudah dirawat selama beberapa hari ini.

Kemudian Carla melepas pelukannya seraya membisikkan sesuatu yang membuat Mikasa terkikik geli. Namun sebelum menjawab pertanyaan itu, Mikasa melirik sebentar kepada Eren dan lelaki itu memandangnya dengan tatapan datar yang malas. Kemudian Mikasa kembali menatap Carla dengan senyum lebar.

"Aku belum melihatnya. Kalau mungkin aku melihatnya, aku pasti akan memberitahumu."

Keduanya saling bertukar pelukan lagi sebelum Mikasa menyusul Eren yang sudah ada diatas kuda terlebih dahulu. Sejujurnya, ia berpikir ia akan dipinjami kuda oleh Eren sehingga mereka berangkat dengan membawa dua kuda. Namun Eren menolak karena dia bilang, kudanya nanti akan dititipkan pada seorang teman di perbatasan kota. Eren tidak mau merepotkan temannya dengan menitipkan dua kuda.

"Berapa lama kita akan sampai di kota?" Tanya Mikasa saat Eren sudah mulai melajukan kudanya.

"Lusa. Itu pun jika kita tidak bermalas-malasan saat istirahat." Jawab Eren. "Hey, aku tidak habis pikir dengan rencanamu yang hendak berangkat seorang diri ke Eldia tanpa persiapan apapun. Kau sudah gila rupanya!"

Mikasa terkekeh geli mengingat kebodohannya. "Ya, untung saja kau menemukanku waktu itu. Kalau tidak mungkin aku sudah menjadi santapan ular."

Keduanya saling melempar pembicaraan kecil diiringi dengan derap langkah kuda yang semakin membawa mereka masuk ke dalam hutan. Mereka beristirahat sesekali hanya untuk menghilangkan rasa pegal karena berada di atas kuda selama berjam-jam.

Sesuai perkiraan Eren, malamnya mereka sampai di sebuah pedesaan. Dan Eren memutuskan untuk bermalam di sebuah lahan yang menjadi perbatasan antara pemukiman dan hutan. Eren memilih tempat itu karena resiko bahaya yang kecil jika masih di dekat pemukiman.

Keduanya membangun dua buah tenda dan Eren juga segera menyalakan api unggun. Saat istirahat dalam perjalanannya tadi, Eren sempat pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Dan beruntungnya mendapatkan beberapa ekor ikan yang bisa mereka makan.

Selesai makan malam. Mikasa segera masuk ke tendanya karena ia mengantuk. Sedangkan Eren masih ingin berjaga-jaga saja.

Tak lama kemudian Mikasa yang masih belum benar-benar terlelap mendengar suara Eren menyelinap memasuki tenda. Dan Mikasa kembali memejamkan mata.

Namun, saat suasana benar-benar hening dan hanya terdengar suara serangga yang saling bersahutan, telinga gadis itu menangkap suara lain mencurigakan. Seperti suara gemerisik. Mikasa mengusap wajahnya sebelum duduk tegak. Suara itu masih belum lenyap.

Mikasa mencoba memanggil nama Eren karena tenda mereka letaknya bersebelahan. Tapi Eren tidak menyahut. Mikasa menyingkap kain penutup tendanya dan nyaris berteriak ketika ia melihat seorang gadis berjongkok di depan tendanya. Satu-satunya hal yang membuat Mikasa tidak jadi berteriak adalah karena gadis di depan tendanya itu mengisyaratkannya untuk diam dengan menekan jari telunjuk di bibirnya.

"Sshh! Tenanglah!" Ujar gadis itu seraya duduk di rerumputan, masih di depan tenda Mikasa. "Ayahku bilang ada dua orang yang berkemah di sini. Dia menyuruhku memberi ini pada kalian."

Mata Mikasa melotot tatkala menyadari keranjang besar berisi berbagai makanan yang di bawa gadis itu. Roti, susu dalam botol, buah-buahan, dan daging.

"Ini, untuk kami?!" Tanya Mikasa masih tidak mempercayai anugerah yang datang kepadanya tiba-tiba itu.

"Tentu saja. Ngomong-ngomong, siapa namamu?"

"Namaku-"

"Miki?! Kau masih belum tidur?!"

Ucapan Mikasa terpotong oleh pertanyaan tiba-tiba dari Eren di tenda sebelah. Ya Mikasa juga paham dengan kekhawatiran Eren jika Mikasa tiba-tiba menyebutkan nama aslinya.

"Hey, Miki, aku pulang dulu, ya! Kalau kau butuh sesuatu datang saja ke rumahku!" Ujar gadis itu seraya menunjuk sebuah rumah yang tak jauh dari tempat Mikasa berkemah.

"Hey, siapa namamu?!" Mikasa berteriak secara refleks saat gadis itu berdiri dan kemudian berlari tiba-tiba.

"Sasha!"

Oh, Sasha... Mikasa melambaikan tangannya pada Sasha seraya tersenyum lebar. Ia menatap keranjang yang kini ada di pangkuannya itu seraya menahan perasaan ingin menangis karena terharu. Persediaan ini bisa untuk makan dari sarapan sampai makan malam besok. "Eren! Lihatlah apa yang kita dapat!"

Sesaat kemudian Eren menyelinap ke dalam tenda Mikasa hingga membuat tempat itu semakin sempit. Namun Mikasa senang melihat mata Eren yang berkilat melihat apa yang ada di dalam keranjang.

"Siapa gadis tadi?!" Tanya Eren seraya mengambil sebuah apel dari dalam keranjang dan menggigitnya.

"Entahlah. Namanya Sasha, dia tinggal tak jauh dari sini." Sahut Mikasa seraya merapikan isi dari keranjang tersebut yang sedikit berantakan.

"Mikasa, apa kau tidak mengantuk?"

Mikasa menggelengkan kepalanya. "Tidak, melihat makanan ini membuatku ingin makan lagi."

"Kalau begitu, kita lanjutkan saja ronde kedua makan malam kita!"

Mikasa mengangguk setuju dan ah, betapa beruntungnya dia mempunyai teman yang mau menemaninya menuju ke Eldia. Mikasa jadi berpikir, bagaimana jadinya jika ia benar-benar berangkat sendiri hanya dengan modal beberapa koin emas yang ia bawa.

Sungguh kebodohan yang tidak bisa ditoleransi...