doa (c) reverieve

ukatake [ ukai keishin x takeda ittetsu ]

romance / rate-T / lowercase-semi baku


ittetsu membahasakan cinta dalam untaian doa, lantas keishin mengamini segala puja-puji kekasihnya. mungkin wujud paling sempurna dari bahagia adalah dua untaian doa yang berterima.


dingin masih menusuk tulang saat ittetsu membuka mata, ia kembali meringkuk setelah matanya mengintip kabut tipis di luar jendela. masih terlalu pagi untuk terjaga, tapi pria dua puluh sembilan itu tak lagi bisa menutup mata. bagaimana ia kembali ke dunia mimpi, jika wajah lelap sang kekasih tepat ada di hadapannya?

jemarinya yang sebelumnya terkubur di balik selimut, kini sibuk menyusuri garis wajah keishin. rambut yang jatuh di dahi keishin ia singkirkan. ada kerut di dahi yang lebih muda, ittetsu mengelusnya perlahan, dalam hati mengharap segala keluh kesah yang keishin bawa hingga alam mimpi pudar seketika.

"semalem latihannya sampe malem banget. kamu pasti capek." ittetsu berbisik hati-hati, tipis sekali, serupa kepak kupu-kupu agar tak mengganggu pulas tidur kekasihnya. ia tersenyum kala kerut itu menghilang dari wajah yang tersayang.

erat dari dekap yang lebih muda terasa membalut tubuh ittetsu. hangatnya menyelimuti lebih dari kain tebal yang melingkupi mereka. ittetsu tertawa tanpa suara saat dengkur kekasihnya kembali masuk ke telinga. keishin sekali lagi tampak pulas di hadapannya.

tik

tok

tik

tok

denting jarum jam menjadi pengisi ruangan. berbaur dengan detak jantung sepasang kekasih yang masih rebah dengan tenang. dalam setiap detaknya, ada puja-puji yang ittetsu suguhkan.

"hari ini masih ada latihan juga, tapi aku tau kamu hebat."

"tekat dan perjuangan kamu pasti didenger tuhan."

"aku percaya sama kamu."

"aku sayang banget sama kamu."

"sayang banget."

ittetsu membahasakan cinta dalam untaian doa. sebab dalam puja-pujinya, ada tulus yang menyertai. selalu.

sinar matahari baru mengintip dari celah jendela. sang pemilik hari baru bangkit dari peraduannya. menggusur kabut, menambah hangat dengan segan pada sepasang insan yang bergeming di atas ranjang.

lamat-lamat mata ittetsu menemukan kerlip dari manik keishin. lelakinya baru saja menampilkan kelereng hitamnya. ittetsu tersenyum.

"selamat pagi, jagoan."

"mmh.. pagi, sayang."

pria dua puluh enam itu menghadiahi wajah ittetsu dengan kecupan. dahi, dua kelopak mata, masing-masing tulang pipi, dan terakhir singgah lebih lama di bibirnya. keishin tak pandai merangkai kata. tapi, bagi ittetsu, seluruh cinta lelakinya bisa ia rasakan hanya dari pandangan mata.

"udah. ayo bangun, aku harus ke sekolah. kamu juga nanti ada latihan kan?" ada rengekan dari keishin. suaranya terdengar seperti bayi saat ittetsu mendudukkan diri, menyibak selimut yang menutup tubuh keduanya.

renyah tawa yang lebih tua terdengar kala lengan keishin erat memeluk perutnya. pun, kepala yang mengusak pinggang berbalut kaus lembut itu. ittetsu menangkup wajah kekasihnya lantas mencium dahi yang lebih muda.

kembali ia panjatkan doa, juga puja dan puji untuk yang tercinta. dan keishin hanya mampu menutup mata, mengamini segala apa yang ittetsu ucap dalam hatinya.

"lepas dong, kalo aku telat gimana?" keishin menurut, melepas ittetsu turun dari ranjang. menatap punggung yang lebih tua menghilang di balik pintu dengan senyuman.

"makasih buat semua doa baik kamu."

keishin tak pernah tahu, ia tak bisa mendengar apa yang ada dalam hati kekasihnya, tapi lelaki itu selalu mengamini. sebab, pria itu mengerti, doa apapun yang ittetsu beri, selalu tulus dari hati.

[ fin ]