(Haikyuu hanyalah milik Furudate Haruichi!)

HAIKYUU FANFICTION

Kageyama x Hinata

Fluff

Nsfw 18

.

.

.

(Jika ada kesamaan judul atau cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.)

.

.

22 Desember 2012

Sepasang kaki milik pemuda bersurai raven melangkah menuju gymnasium. Tempat dimana ia melakukan aktivitas ekskulnya bersama teman-teman satu klubnya.

Dibukanya pintu gymnasium, diikuti suara deritan yang menggema. Kegelapan menyapa dirinya, membuat ia bertanya-tanya dalam benaknya. Kemanakah semua anggota klub voli?

"Mereka telat ya?" Gumamnya. Kalaupun mereka telat, ia juga tidak terlalu peduli. Namun pengecualian untuk partnernya. Ia akan senang jika partnernya itu telat. Itu tandanya ia akan mendapat roti daging dan susu secara percuma.

Kakinya melangkah masuk perlahan ke dalam gymnasium. Tak ingin terjatuh dengan konyol hanya karena tidak bisa melihat apapun di sekitarnya. Ia menoleh kesana-kemari, mencari keberadaan saklar.

Ketika sudah mendapatkannya, ia pun menekannya. Detik itu juga lampu menyala, menyinari setiap sudut ruangan tanpa terkecuali.

"OTANJOUBI OMEDETOU, KAGEYAMA!" Teriakan menggema di seluruh ruangan gymnasium,. Kageyama terkejut, pun segera menoleh ke arah sumber suara.

Kini di tengah ruangan gymnasium, teman-teman satu klubnya berdiri sembari memakai topi ulang tahun. Di depan mereka terdapat sebuah meja berbentuk persegi panjang. Dengan kue ulang tahun dan beberapa kotak kado yang diletakkan di atasnya.

Di belakang tempat mereka berdiri, dihiasi berbagai macam dekorasi dan pernak-pernik khas ulang tahun. Tak lupa pula spanduk bertuliskan "HAPPY BIRTHDAY KAGEYAMA" berukuran sedang, tergantung di plafon gymnasium.

Ah, hari ini ulang tahunnya ya? Ia baru sadar sekarang, ketika teman-temannya ini membuat kejutan untuk dirinya.

Sejujurnya, Kageyama hampir lupa dengan hari lahirnya sendiri. Lagipula ia tak terlalu mementingkannya. Hari lahir maupun hari biasa, tetaplah sama saja baginya. Ia akan menjalani semuanya dengan monoton.

"Kageyama sini dong! Kok malah bengong aja disana?" Tanaka berseru padanya sembari tangannya melambai, isyarat agar dirinya mendekat. Kageyama mengangguk pelan, kemudian berjalan menuju tempat teman-temannya berada.

Mereka semua memberi ucapan selamat tanpa terkecuali. Bahkan Tsukishima si mulut iblis itu pun memberi ucapan padanya –walau terlihat sangat terpaksa–. Kageyama menduga, pasti Yamaguchi yang menyuruhnya.

"SELAMAT ULANG TAHUN, BAKAYAMAAA!" Suara teriakan cempreng yang begitu familiar menyapa telinganya. "BERISIK HINATA BOGE!" Kageyama membalasnya dengan sebuah teriakan pula. Ia juga menjitak kepala si empunya suara. Rintihan pun terlontar dari mulutnya setelahnya. "Ugh, sakit Kageyama bodoh."

"Kageyama masih kasar ke Hinata seperti biasanya," kekeh Sugawara yang tengah menonton kedua adik kelasnya bertengkar itu.

"Kageyama berhenti. Kasian Hinatanya. Ayok tiup lilin dulu!" Sang kapten voli putra, Sawamura Daichi, pun akhirnya turun tangan menengahi perkelahian 'duo kombinasi gila' tersebut.

Dalam lubuk hatinya, Kageyama merasa sangat senang. Selama 16 tahun hidup di dunia ini, ia tak pernah mendapat kejutan di hari ulang tahunnya. Baru kali ini, ketika ia menginjakkan kaki di SMA Karasuno, ia diberi kejutan yang begitu meriah oleh teman-teman klub volinya.

"Cepetan tiup lilinnya, Kageyama! Aku mau makan kuenya!" Hinata lagi-lagi merecokinya. Pemuda bersurai sewarna mentari itu, tak pernah ada habisnya untuk mengganggu dirinya.

"Berisik boge!" Walaupun begitu, Kageyama tak pernah merasa risih ataupun lelah diganggu olehnya. Malah bisa dibilang, ia merasa senang?

"A-ANU! MA-MAKASIH SEMUANYA!" Kageyama berteriak gugup, mengucapkan terima kasih kepada para rekannya. "Sama-sama, Kageyama!" balas mereka bersamaan, dengan senyuman yang terukir di bibir mereka masing-masing.

Hati Kageyama menghangat, begitu pula dengan wajahnya. Ia terharu, karena bisa merasakan kehangatan di hari ulang tahunnya.

Apalagi—

"Bakageyamaaa! Ini kado buatmu dariku!"

—ia bisa mendapatkan bonus senyuman secerah mentari dari calon kekasihnya di masa depan, Hinata Shoyou.

Dalam hatinya ia mengucap syukur, entah pada tuhan maupun alam semesta. "Terima kasih karena dulu telah menolakku, Shiratorizawa."

.

.

.

.

.

22 Desember 2015

Suara ponsel berdering membangunkan Kageyama dari bunga tidurnya. Dengan kesal, ia meraih ponselnya yang tergeletak di bawah bantalnya. Mulutnya melontari berbagai macam sumpah serapah. Mengutuk siapapun yang berani mengganggu tidurnya.

Ia mendapat sebuah panggilan, nama "Boge Hinata " tertera jelas disana. Seketika Kageyama sedikit melunak ketika tahu siapa yang memanggilnya.

.

"Kenapa nelpon malem-malem begini? Mimpi dikejar setan lagi?"

"Bu-Bukan!"

"Terus?"

"Umm itu... Bisa bukain pintu rumahmu dulu ga? Aku kedinginan."

.

"Hah?!" Kageyama terkejut, segera ia membuka tirai yang menutupi jendela kamarnya. Benar saja, Hinata, kekasihnya itu kini tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Tangan mungilnya sembari menenteng tas karton berukuran sedang. Entah apa yang dibawa pemuda itu.

Ia segera berlari menghampiri Hinata. Suara gaduh dari kaki yang beradu dengan lantai kayu, terdengar ke segala penjuru rumah. Kageyama tak peduli, yang penting ia bisa segera menyelamatkan kekasihnya itu dari dinginnya suhu di bulan Desember.

Dibukanya pintu dengan tergesa-gesa oleh Kageyama. Ketika pintu terbuka, senyuman secerah mentari itu langsung menyapa dirinya.

"Kageyama—" baru sepatah kata saja yang terlontar dari mulutnya, Hinata sudah ditarik masuk terlebih dahulu ke dalam rumah oleh si empunya.

Pintu ditutup, kemudian tubuh mungil Hinata didekap erat oleh Kageyama. "Kamu kenapa malem-malem kesini?!" Ujarnya khawatir, sembari membelai pipi gembil yang menjadi kesukaannya itu.

"Kasih kejutan!" Ucapnya dengan polos, tak lupa ukiran senyuman khas miliknya. "Selamat ulang tahun, Bakatobio!"

"Kenapa harus malem-malem begini?! Besok pagi kan bisa?!" Omelnya sembari menjitak kepala Hinata. Tapi Kageyama tak sadar, jika perkataannya itu dapat membuat hati sang tambatan hatinya merasa sedih.

"Emang ga boleh ya? Ngerayain ultah pacar pas didetik-detik awal kek gini?"

"Eh, itu—"

"Padahal kan aku juga pengen pake cara kamu, kayak pas ultahku beberapa bulan yang lalu." Bibir sewarna peach itu melengkung ke bawah. Butiran kristal mulai menggenangi ujung pelupuk matanya.

"Duh mampus, dia malah nangis."

Kageyama menangkup kedua pipi gembil milik Hinata. Ibu jarinya sembari menyeka butiran kristal di pelupuk mata pemuda hiperaktif itu. "Enggak gitu, Sho. Masalahnya ini kan musim dingin. Aku takutnya kamu malah jadi es batu karena nekat ke rumahku malem-malem kek gini." Ujarnya lembut.

"Tuh, badan kamu dingin banget. Untung tadi ku buru-buru bawa masuk kamu," kecupan ringan mendarat di kening Hinata. Pemuda itu terkikik geli, "Yaudah maafin, aku ya? Aku janji ga gitu lagi."

"Iya, gapapa. Tapi makasih ya, karena rela dateng jauh-jauh ke rumahku." Kecupan ringan kembali diberikan Kageyama. Namun kini mendarat di pipi gembil milik Hinata. "Umm! Ini kuenya!" Hinata menyodorkan tas karton yang dibawanya tersebut. "Ah, ternyata isinya kue," pikir Kageyama.

Pemuda bersurai raven itu menerima tas karton tersebut. "Aku pulang ya!" Ujar Hinata sembari membalikkan tubuhnya. Lalu berjalan menuju pintu keluar.

"Tunggu!" Kageyama menahan lengannya, ketika ia ingin meraih gagang pintu. "Kamu gamau makan kuenya?"

Hinata tersenyum, "Enggak, ah. Udah malem. Aku takut kamu dan keluargamu keganggu waktu tidurnya."

Tangan kekar milik Kageyama mengusap pelan pucuk kepala Hinata. "Gak bakal keganggu, kok. Keluargaku lagi ga ada di rumah. Jadinya cuman kita berdua aja disini."

Senyum secerah mentari itu terukir di bibir peach milik Hinata. "Oke! Sini mana kuenya? Aku potongin!" Soraknya, kemudian menyambar tas karton yang digenggam Kageyama. Lalu pemuda itu berlari menuju dapur. Kageyama hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu.

...

"Tobio, ayo tiup lilin dulu!" Panggil Hinata, sembari menyalakan lilin terakhir di atas kue ulang tahun Kageyama.

"Kamu ga ngerasa ada yang kurang?" Tanya Kageyama. Hinata memiringkan kepalanya, dengan dahi yang berkerut. Ia berusaha mengingat, apa yang sekiranya ia tak sengaja lupakan ketika di hari ulang tahun kekasihnya ini.

"Kue udah, kado pun juga udah. Terus apalagi yang kurang ya?" Batin Hinata.

"Err... Emang apa yang kurang?" Hinata balik bertanya dengan ragu-ragu. Pipinya yang tak gatal, digaruk pelan oleh jari telunjuknya.

Kageyama tersenyum, sembari menunjuk bibirnya. "Ciuman 'selamat ulang tahunnya' mana?"

Serabut merah menjalar di pipi Hinata. Ia pun memalingkan wajahnya sesaat. "Se-Sekali aja lho ya!"

Hinata pun mendekat, lalu menangkup kedua pipi Kageyama. Kakinya ia jinjitkan, karena ia tak sampai. Salahkan kekasihnya yang memiliki tinggi bak titan itu.

Bibir mungil sewarna peach itu kemudian mendarat di bibir Kageyama. Kedua tangan yang tadinya menangkup pipi Kageyama, kini beralih melingkar erat di lehernya.

Satu tangan pemuda bersurai raven itu menarik pinggang ramping milik Hinata. Sedangkan tangan yang lain menangkup sebelah pipi pemuda mentari tersebut. Lalu bibir dan lidahnya sibuk menyesapi manisnya saliva milik kekasihnya itu.

"Kenapa pake lidah, bodoh?!" Protes Hinata, setelah berhasil melepaskan diri dari 'cengkraman lelaki buas' di hadapannya itu. "Biasanya juga pake lidah kamu ga nolak," cibir si 'lelaki buas' yang dimaksud.

"Tch, terserah kamu. Ayok tiup lilinnya," Hinata pun membawa kue ulang tahun ke hadapan Kageyama.

"Ga mau. Masih kurang. Sekali lagi."

"Ogah ya! Ujung-ujungnya kamu tuh suka kebawa suasana! Nanti bukannya makan kue, malah makan aku."

"Lah bukannya bagus?" Ujar Kageyama, dengan seringaian yang muncul di bibirnya.

"YA ENGGAK LAH!"

.

.

.

.

.

22 Desember 2020

Kageyama terheran, ketika mendapati seorang kurir berada di depan pintu apartemennya. Pria itu lantas segera menghampiri si kurir.

"Maaf, ada apa ya?" Tanya Kageyama sopan. Kurir tersebut pun menoleh. "Benar dengan Kageyama-san?"

"Iya, betul."

"Saya dan rekan saya membawa kiriman paket untuk anda."

Kageyama pun mengerutkan dahinya. Heran sekaligus mengingat, apakah ia sedang membeli barang dari situs online atau tidak. Setelah beberapa menit berpikir, hasilnya nihil. Ia memang tidak sedang membeli barang apapun.

"Tapi saya sedang tidak membeli barang apapun. Anda mungkin salah alamat?"

Kurir itu tersenyum, "Saya tidak salah alamat. Paket itu memang ditunjukkan untuk anda, dari Oikawa Tooru."

Kageyama tersentak, sembari berpikir keras. Seniornya itu tengah kerasukan jin darimana, sehingga susah-susah mengiriminya paket? Bukankah pria itu yang kini menjadi warga negara Argentina, membenci dirinya? Kenapa tiba-tiba berbaik hati mengiriminya paket? Sudah begitu, tepat di hari ulang tahunnya pula.

Tak beberapa lama, rekan kurir tersebut datang membawa troli. Di atas troli tersebut, dibawanya sebuah kardus berukuran besar. "Anjir?! Nih orang ngirimin apaan coba?!" Batin Kageyama.

"Silahkan tanda tangan disini, Kageyama-san," kurir tersebut menyodorkan pulpen. Kageyama pun mengangguk, lalu menandatangani formulir resi.

Setelah menyelesaikan tugas mereka, kedua kurir tersebut pergi. Meninggalkan Kageyama bersama paket raksasa miliknya.

Kageyama pun menatap seksama paket di hadapannya, sesekali meneliti setiap sudutnya. Ia penasaran, apa yang ada di dalam kardus tersebut. "Dia ngirim apa sih? Berat paketnya sampe 65 kilogram kayak gini," gumamnya sembari membaca spesifikasi yang tertera di formulir resi paket.

Tiba-tiba paket tersebut bergerak dengan sendirinya, seolah ada sesuatu yang menggerakkannya dari dalam. Kageyama spontan terkejut dan menjauh dari sana. "Dia ngirim ikan hidup atau gimana?!

Secarik kertas terjatuh dari atas paket tersebut. Netra sewarna blueberry itu menangkapnya. Kageyama pun mendekati secarik kertas itu, kemudian mengambilnya.

Ah, ternyata itu pesan kecil dari Oikawa untuknya. Menyuruhnya agar segera membuka paket itu ketika sudah sampai di tangannya.

Ntar kalo kamu ga buru-buru buka, paketnya bisa meninggal lho. Kalo meninggal, kan kamu juga yang sedih.

"Dia beneran ngasih ikan hidup atau gimana sih? Lagian kalo ikannya mati, aku juga ga bakal nangis," gerutunya kesal, sembari melepas selotip yang merekat di paket miliknya.

Ketika ia membuka kardus tersebut, matanya membelalak saking terkejutnya. Ternyata di dalamnya terdapat seorang pria bersurai jingga. Tubuhnya terbalut coat hitam, yang panjangnya mencapai betis pria itu. Lalu ia juga memakai bando berbentuk telinga kelinci sebagai hiasan di kepalanya. "Shoyo?!"

Tanpa basa-basi lagi, Kageyama mengeluarkan Hinata dari dalam kardus. Lalu ia menggendongnya ala bridal style menuju sofa ruang tengah.

"Kamu ngapain paketin dirimu?! Terus harusnya kamu pulang dari Brazil besok kan?! Kok pulang sekarang?! Kenapa ga ngabarin aku?! Terus kenapa nama pengirimnya Oikawa-san?! Kamu ada hubungan apa sama dia?!"

Berbagai rentetan pertanyaan dari Kageyama menghujani dirinya. Sifat overprotektif pria itu tak hilang juga, padahal mereka sudah menginjak usia duapuluh empat tahun.

Sebuah kecupan mendarat di bibir Kageyama, pelakunya sudah tentu Hinata. "Aku bakal jawab semuanya. Jadi kamu turunin aku duduk dulu ya?" Jari telunjuknya menempel di bibir Kageyama, mengisyaratkan pria itu agar tetap tenang.

.

"Aku bilang turunin aku sama duduk dulu kan?"

"Aku udah duduk."

"Tapi aku belum diturunin! Aku juga mau duduk tau! Aku ga mau dipangku sama kamu!" Hinata pun menghujani beberapa pukulan pada bahu tegap milik lelakinya itu.

"Biasanya kamu juga suka ku pangku, kan?!" Ujar Kageyama jengkel.

Posisi mereka kini duduk saling berhadapan. Dengan Kageyama yang duduk di sofa, dan Hinata yang duduk di atas pangkuannya. Tak ketinggalan pula kedua lengan Kageyama yang melingkar di pinggang Hinata. Merengkuh pinggang ramping itu seerat mungkin, agar si empunya tak bisa kabur kemanapun.

"Aku lagi gamau dipangku!" Bibir Hinata mengerucut kesal. Memberi kesan imut di wajahnya. Kageyama sampai berusaha mati-matian agar tak menyerang kekasihnya saat ini.

"Tadi katanya kamu mau jelasin."

"Ga!"

"Aku cium, lho."

Alis Hinata menukik tajam ke bawah. Seolah memperingatkan Kageyama agar tak macam-macam dengannya. "Iya, iya! Aku jelasin."

"Sebenernya, aku sengaja majuin jadwal penerbanganku. Soalnya aku mau kasih kejutan ke kamu" ungkapnya. Kageyama hanya menatapnya, mengisyaratkan untuk melanjutkan penjelasannya.

"Tapi aku bingung, barang apa yang harus ku kasih ke kamu sebagai hadiahnya. Terus aku tanya ke Tsumu-san—" Hinata memalingkan wajahnya. Wajahnya sedikit merona ketika ingin melanjutkan penjelasannya.

"—Dia bilang 'Kasih aja diri kamu sendiri sebagai hadiahnya!' Gitu katanya." Kageyama melongo, tak paham maksud Hinata. Tapi Hinata tak sadar, jika lelakinya itu tak paham. Jadi ia tetap melanjutkannya.

"Tsumu-san bilang, waktu Omi-san ulang tahun, dia paketin dirinya sendiri. Jadi aku ngikutin aja caranya. Terus kebetulan Oikawa-san lagi main ke apartemennya Tsumu-san. Akhirnya dia ikutan bantuin deh," Wajah Hinata kini telah dirambati serabut merah cerah.

Kageyama yang tak paham juga maksud Hinata –karena sudah kelelahan akibat berlatih voli–, pun hanya tetap melongo. "Hah? Maksudnya?"

Hinata pun bangkit dari pangkuan Kageyama. Ia pun berdiri di hadapan kekasihnya itu. Jemarinya perlahan membuka kancing coat yang membalut tubuhnya, alias melucuti pakaiannya sendiri. Ketika coat itu terlepas dari tubuhnya, Kageyama pun langsung paham maksud Hinata.

"Oh maksudnya ngehadiahin tubuhnya sendiri buat aku toh? Boleh juga nih anak." Batin Kageyama sembari menyeringai ke arah Hinata.

"Se-Selamat ulang tahun, Tobio," ucapnya malu-malu. Wajahnya yang memerah itu dipalingkan ke arah lain. Tak mau menatap mata kekasihnya yang tengah meneliti setiap inci tubuhnya.

"Bajunya cocok banget buat kamu. Seksi," puji Kageyama.

Ternyata di balik coat yang Hinata kenakan, terdapat pakaian lain yang membalutnya. Setelan bunny lingerie yang sangat amat minim bahan. Dengan stocking panjang berwarna putih, yang menutupi kaki jenjang Hinata hingga sebatas paha. Tak lupa tambahan hiasan ekor kelinci mungil tepat di bokongnya.

Kini wajah Hinata sudah merah total dibuatnya.

Kageyama mendekat ke arah Hinata. Tangannya yang nakal membelai dari garis pinggang Hinata hingga mencapai perutnya. Lalu tangannya perlahan turun ke bawah, meremas sepasang bongkahan bokong kenyal favoritnya itu.

"Hngg!" Hinata berusaha menahan lenguhannya. Tangannya menutup erat mulut berisiknya itu. "Keluarin aja desahanmu itu. Ga aku larang kok," bisik Kageyama intens di telinganya.

Sembari tangan kirinya meremas bokong Hinata, tangan kanan pria bersurai raven itu naik ke dadanya. Sedari tadi ia sangat gemas dengan dua puting mungil merah muda yang terekspos samar disana.

Jarinya mulai mengelus pucuk dada yang menggoda iman tersebut. Lalu dicubitnya pelan, hingga membuat satu desahan lolos dari mulut Hinata. "Kamu selalu sensitif di titik ini ya? Padahal aku udah sering 'main' disini, lho."

Hinata menggigit bibir, "Berisik ah! Nikmatin aja kenapa?" Ah, menggemaskan. Kekasihnya ini jika sudah dijamah, pasti sifat tsundere miliknya akan langsung keluar.

"Kayaknya yang 'nikmatin' ini semua kamu deh—" puting ditarik, leher dihisap, kemudian bokong diremas. Ketiganya dilakukan secara bersamaan. Mengundang desahan lain lolos dari mulut Hinata. "—iya kan?"

Tangan kiri yang tadinya meremas bokong itu, kini menyusup masuk ke dalam celana Hinata. Menyentuh langsung kulit bokong mulus tanpa dilapisi fabrik kain apapun. Satu jarinya iseng menelusuk anal hangat nan ketat milik pria bersurai jingga tersebut.

Sontak, ia terkejut dengan bulu romanya yang mulai berdiri tegak. "Angh! To-Tobio?! Jangan sekarang—hngg!" Kageyama menulikan pendengarannya. Ia tak peduli dengan permohonan Hinata.

Jari yang tadi bersarang di anal, pun dicabut dari sana. Hinata tersentak, hingga tak sengaja menginjak kaki Kageyama. Namun Kageyama tidak peduli. Di otaknya hanya ada berbagai susunan rencana menjamah tubuh kekasihnya.

"Kamu udah mulai keras ya?" Diremasnya kejantanan Hinata yang masih terbungkus oleh celana. "Be-Berisik! Hngh... Kamu sendiri gimana hah?" Hinata balik bertanya dengan kesal. Karena kekasihnya ini jika sudah horny, pasti banyak bicara dan menggodanya

"Udah. Tapi ga sekeras kamu," kejantanannya kembali di remas. Sebuah desahan kembali lolos dari mulut pria bersurai jingga tersebut.

Tangan kanan yang sedari tadi hanya mengelus puting mungil itu, kini mulai memutirnya. Lenguhan panjang terdengar setelahnya.

Begitu pula dengan tangan kiri yang sedari tadi hanya meremas kejantanan milik Hinata. Jemarinya kini mulai nakal, memijat lembut penis mulus berwarna merah muda itu.

"Ahh! Hngg!" Di serang di dua titik sensitifnya secara bersamaan, membuat Hinata tak dapat lagi menahan lenguhannya.

"Hngg pelan... iya... kayak gitu mijetnya—aah!" Ia juga sudah membuang harga dirinya di depan setter terhebat di seluruh Jepang ini.

Pijatan yang semula lembut, berubah drastis menjadi kocokkan cepat tanpa henti. "Ah! Ah! Ah! Tobio—ah! Jangan cepet-cepet, ah! Hyah!"

Kageyama yang sedari tadi hanya mendengar rentetan desahan Hinata, pun menyeringai. "Kamu udah mulai turn on ya?" Bisiknya sensual.

"Berisik—ah! A-Aku mau keluar... Hngg!"

"Keluarin aja, sayang."

"Ngg—ah!" Cairan putih kental menyembur dari penis Hinata. Mengotori celananya dan juga tangan Kageyama.

"Heh, cepet juga keluarnya," goda Kageyama sembari menyeringai.

"Berisik hngg... ayok ke kamar..." pinta Hinata dengan nafas yang terengah-engah.

"Hah?" Kageyama terkejut mendengar permintaan Hinata.

"Ayok ke kamar, Tobiooo... lanjutin lagi ngghh... aku udah ga tahaann..."

Ah, ini dia, bagian paling ia favoritkan dari sekian banyak hal yang disukai Kageyama pada diri Hinata. Wajah memerah pekat, nafas terengah-engah, dan mata sayu yang mengisyaratkan "meminta lebih". Itu semua hanya ditunjukkan kepada Kageyama seorang.

Ya, hanya Kageyama seorang.

"Tobioo... gendong ngghhh..." Hinata mengulurkan kedua tangannya, bak anak kecil meminta gendongan dari Ibunya. "Iya, iya, tuan putri," kekeh Kageyama.

Ia pun lantas menyelipkan lengan kanannya di antara lipatan betis dan paha Hinata. Lalu lengan kirinya merangkul di sepanjang garis bahu Hinata. Setelah itu, diangkatnya tubuh kekasihnya itu.

"Kamu lumayan ringan..."

"Nggh... berisik..."

"Oh iya berat badanmu turun ya," gumam Kageyama. Ia teringat tentang informasi spesifikasi yang tertera di formulis resi tadi.

"Makanya jangan kebanyakan olahraga," Kageyama mengecup ringan bibir Hinata. Membuat pria yang tengah digendongnya memanyunkan bibirnya. "Kenapa?" Tanyanya heran.

"Kurang banyak!"

"Hah? Apanya?"

"Hngg... ciumnyaaa!"

Kageyama terkekeh pelan. Menggemaskan sekali kekasihnya ini jika sudah masuk mode manja. "Nanti ku kasih banyak di kamar," bisik Kageyama sensual.

————————————————————————

Pakaian berserakkan dimana-mana. Membuat kamar yang semula rapih, seketika menjadi kapal pecah.

Dua insan manusia nampak tengah berusaha menyatukan diri mereka. Ranjang tidur yang mereka tempati menjadi saksi bisu adegan dewasa yang dilakukan keduanya.

"Ngghh... sakit..."

"Padahal baru jari doang, lho."

Suara rintihan menggema di seluruh penjuru kamar. Pelakunya tak lain adalah pria bersurai jingga, yang kini berada di bawah kukungan kekasihnya.

"Makanya buruan masukkin punya kamu!"

"Hah?! Ga bisa gitulah! Kan harus disiapin dulu lubang kamu ini. Biar aku bisa masuk."

Dua jari Kageyama telah memasuki liang hangat milik Hinata. Sedari tadi ia tengah mempersiapkan lubang itu. Kageyama sudah lama tak bersenggema dengan Hinata. Dapat dipastikan jika anal milik kekasihnya itu sudah kembali merapat bak perawan.

"Hyaahh!" Tiba-tiba Hinata menjerit. Kageyama sontak terkejut mendengar jeritan lelaki itu. "Ke-Kenapa?"

"Di-Disitu hngg..." lenguh Hinata.

"Apanya?"

"Sentuh lagi... disitu mmhh..." Ah, Kageyama mengerti. Pasti ia tadi tak sengaja menyentuh prostat lelaki itu.

"Disini kan?" Disentuhnya prostat Hinata tanpa aba-aba. Membuat empunya kembali menjerit nikmat. "Hyaahh! Iya! Disitu—nggh!" Kageyama pun menekan titik itu berulang kali. Hingga membuat lubang Hinata kian basah.

"Nghh! Ah! Hyah! Udah cukup—nggh! Aku mau keluar! Ah!" Kageyama pun mengangguk. Kemudian mengeluarkan jarinya dari sana. Cairan bening dan lengket milik Hinata melumuri keseluruhan kedua jari Kageyama itu.

"Masukkin punya kamu! Cepet! Ngghh!" Racau Hinata tidak jelas. Pria bersurai jingga itu kini telah dipenuhi nafsu seutuhnya.

"Kamu tau kan, cara 'meminta' yang baik? My baby boy?"

Hinata mengangguk pasrah, "Please fill me with your big dick, daddy!" Kageyama lantas menyeringai setelah mendengarnya. "Good, baby boy."

Pucuk kepala penis Kageyama sudah bersiap memasuki lubang anal di hadapannya. "ANGH! Pelan-pelan—AH!" Jeritan kesakitan sekaligus nikmat, terlontar dari mulut Hinata.

"Ini—hngg! Udah pelan!" Geram Kageyama, sambil kembali berusaha memasukkan penisnya ke dalam lubang anal Hinata. "Shit! You're so tight, Shoyo!"

Kepala Hinata menengadah ke atas, dengan saliva yang membajiri mulutnya. Sprei di sampingnya ia remas kuat hingga kusut. Ia merasa kesakitan, namun di sisi lain ia juga merasa nikmat.

Ini bukanlah pengalaman pertama mereka dalam hal bersenggama. Ketika Hinata berulang tahun yang ke-18, saat itulah keperawanan pria bersurai jingga itu lenyap direnggut oleh Kageyama.

Namun tetap saja, sensasi bersenggama seperti saat baru pertama kali melakukannya, tak pernah hilang.

"Hngg! Daddy! Faster! Hyaahh! Ah! Ah!"

"Hngg! You're so tight, baby boy..."

Hujaman penis Kageyama begitu cepat. Pinggul Hinata tanpa sadar ikut bergerak seirama, namun berlawanan arah. Menambah sensasi kenikmatan bagi keduanya.

"Ah! Your dick is so big, Daddy! Ngghh! I love it!"

"Yeah, your hole is so hot and wet, Baby! Ahh, and so tight."

Mulut keduanya tak lagi dikontrol untuk tidak berkata kotor. Dengan frontal memuji masing-masing kehebatan "milik" keduanya.

Suara basah dan becek dari kegiatan senggama keduanya, makin terdengar jelas. Kageyama yakin, jika ada orang lain di dalam apartemen, pasti orang itu dapat mendengar ricuhnya permainan mereka.

"Ah! Right there! Daddy, right there—ah! Yes, nggh! Ah! Ngahh!" Hinata meracau ketika Kageyama menyerang tepat di prostatnya. Tanpa basa-basi, Kageyama menghujam terus di titik nikmat milik Hinata tersebut.

"Right here, eh? Ah! So tight, hngg!" Tak hanya Hinata, Kageyama pun juga sama menikmatinya. Lubang anal Hinata menghisapnya begitu kuat, seolah tak membiarkannya bernafas sedikit pun.

"A-Aku mau keluar, Tobio! Ngaaahh!"

"Aku juga sama—hngg!"

"Ahh!/Khh!"

Keduanya akhirnya meraih puncak secara bersamaan. Kageyama mengeluarkan benihnya di dalam tubuh Hinata. Ia lupa pakai pengaman, tapi toh ia tak terlalu peduli.

Hinata tersentak, saat merasa lubang analnya begitu penuh. Netra madu yang tadinya dipenuhi nafsu, seketika langsung bugar. "Kamu keluar di dalem?!" Kageyama hanya mengangguk dengan malas, "Iya."

"Kenapa malah keluar di dalem?!" Hinata melempar bantal ke wajah tampan milik kekasihnya itu.

Bantal disingkirkan dari wajahnya. Tubuh berotot miliknya berusaha menjaga keseimbangan, agar tak terjatuh karena gerakan memberontak tiba-tiba dari Hinata. Suara geraman tertahan Kageyama pun terdengar, "Hngg! Jangan berontak, bodoh!"

"Hah?! Kenapa—ah! Kok punyamu malah membesar sih?!" Hinata tersentak ketika kejantanan Kageyama yang belum dicabut dari lubang analnya, tiba-tiba membesar begitu saja.

"Udah tau aku belum cabut dari lubangmu! Tapi kamu main berontak aja. Punyaku keras lagi jadinya!" Protes Kageyama.

"Hah?! Te-Terus gimana?"

Kageyama menyeringai, "Lanjut ronde dua, apalagi emangnya?"

"Hah?! Ngaahh~!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

HAIIII~ Aku Nakyuura~ ini fanfic rate-M pertamaku. Maaf kalo bahasanya masih aneh ya :"(

Btw...

HABEDE KAGEYAMA TOBIO!! MOGA MAKIN GANTENG YA NAK~

Gapapa telat sehari terbitnya, yang penting euphorianya masih kerasa wkwkwk.