Innocent Heart

.

.

.

"Bagaimana ini?"

"Apa benar-benar akan dibatalkan?"

"Aku juga tidak tahu."

"Gawat ..."

"Ssst ... Jangan ribut. Willow sedang membicarakannya di telepon."

Riuh rendah tertahan para karyawan memasuki indra pendengaranku bertubi-tubi. Kepalaku sudah berdenyut sejak tadi, tetapi aku tahu harus tetap tenang dalam situasi semacam ini.

Kusapukan pandang berkeliling, dan segala keributan segera terhenti. Lantas kupusatkan perhatian kepada gadis cantik berbaju biru dengan rambut panjang yang selalu membuatku iri akan kelembutannya.

Dia, Willow, masih belum mau menyerah dengan lawan bicara di seberang sambungan.

"Anda tidak bisa membatalkannya begitu saja! Hei! Hei—"

Ucapan Willow terputus. Aku tak bisa menahan desah resah. Yang bicara dengan Willow barusan adalah narasumber yang kuundang jauh-jauh hari sebelumnya. Seorang sutradara film laga, yang tadinya sudah setuju untuk mengisi satu sesi di talk show kami.

Jika syuting acara ini dibatalkan begitu saja, maka jelas akan berpengaruh terhadap filmnya. Dan, tentu saja, acara kami dan nama perusahaan kami pun akan terkena imbasnya.

Ini tidak bisa dibiarkan.

"Bos, bagaimana ini?"

Willow menatap ke arahku, setengah putus asa. Dia sudah tak lagi berkomunikasi melalui ponselnya. Ketika aku menyadarinya, seluruh kru yang terlibat di dalam talk show kali ini, ternyata juga sedang memandangku. Menanti keputusan, atau keajaiban, untuk acara kami yang sudah di ujung tanduk.

Jika memang sutradara itu sudah tidak bisa dibujuk lagi, maka satu-satunya cara adalah mencari pengganti. Seseorang yang bisa menjadi narasumber untuk talk show bertema seni beladiri. Namun, waktunya sudah sangat mepet. Apakah masih sempat?

"Tenang saja," kataku, yang setengahnya kutujukan kepada diri sendiri. "Kita bisa mengatasi ini."

Di akhir kalimat itu, mendadak pikiranku tercerahkan. Demi menemukan sosok seseorang yang perlahan mengisi ruangan di benakku. Seseorang yang bisa kuandalkan bantuannya di situasi ini.

Cepat-cepat kuambil ponsel pintar merah jambu milikku. Kugulir daftar kontak, hingga mataku menemukan sebuah nama.

Gavin.

Teleponku tersambung, tetapi tak juga diangkat sampai lama. Aku tak menyerah, tetapi hasilnya masih nihil. Dan ketika aku hampir menghentikan usahaku, panggilan akhirnya diterima.

"Hei, ini aku."

Suara nan familier dari seberang sana, menghantarkan satu gelenyar menyenangkan di dalam dadaku. Kelegaan menguasaiku, seketika meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja.

Suasana hatiku, seperti juga suasana di studio kami, segera membaik. Sampai Gavin datang tak lama setelah aku menjelaskan kepadanya apa yang terjadi.

Sudah hampir tengah malam ketika Gavin telah berdiri di hadapanku. Rasa bersalah segera menyerangku ketika menyadari betapa dia tampak lelah. Dia pasti sudah sibuk bertugas seharian, dan aku masih mengganggunya selarut ini.

Aku tersentak kecil ketika tatapan kami bertemu. Senyum tipis segera menghias bibir Gavin. Kilatan di matanya yang beriris cokelat madu, memberitahuku bahwa dia langsung memahami apa yang kupikirkan.

"Aku senang kamu menghubungiku," katanya, "selain ketika dirimu berada dalam bahaya."

Entah apakah ini hanya halusinasiku, atau pengaruh lampu sorot yang cahayanya sampai ke wajah Gavin, aku merasa senyumnya bertambah cerah setelah itu. Namun, benar-benar hanya sekejap.

Gavin segera melangkah pergi, melaksanakan tugas tambahan yang baru saja kubebankan ke pundaknya. Aku pun segera tenggelam di dalam kesibukan, bersama dengan para kru talk show.

Sampai syuting selesai, aku masih sibuk memeriksa dan mengedit hasil rekaman. Willow kemudian memberitahuku bahwa Gavin sudah pergi lagi. Rupanya petugas polisi muda yang hanya dua tahun lebih tua dariku itu, memutuskan untuk tidak mengganggu kesibukanku dan hanya menitipkan salam.

Aah ...

Aku bahkan tidak sempat berterima kasih padanya.

.

.


oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

Otome game "Mr. Love: Queen's Choice/Dream Date" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Elex©

Fanfiction "Innocent Heart" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

Canon-based. AR. Mengambil sebagian adegan dari "Furniture City Date" (Gavin).

WARNING! Spoiler alert bagi yang belum membuka Date tersebut di atas.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo


.

.

Aku terbangun di apartemenku nyaris tengah hari. Seluruh tubuhku masih merasakan sisa-sisa lelah selepas syuting semalaman. Kuregangkan badan sejenak, dan mataku menangkap gelang yang melingkari pergelangan tanganku.

Gelang dengan hiasan daun-daun ginkgo mungil berwarna emas.

Tanpa kusadari, senyumku terbit. Wajah sang pemberinya pun menari-nari di benakku. Tak bisa kutahan tawa kecil lolos dari mulutku. Sampai detik ini pun, aku masih ingat bagaimana dia bersikeras memberikan gelang ini padaku. Katanya ada alat pelacak yang dipasang di sini, supaya dia mudah menemukanku ketika aku dalam bahaya.

"Selama kamu berada di dalam aliran angin, aku bisa merasakan keberadaanmu."

Itu adalah kata-kata Gavin yang tak pernah lepas dari hati dan pikiranku. Jujur, ketika mendengarnya, aku merasa tenang. Rasanya seperti memiliki malaikat pelindung pribadiku sendiri, bukan? Tapi itu artinya ... dia sebenarnya tidak butuh alat pelacak untuk menemukanku.

Lantas, untuk apa gelang ini?

Kurasakan pipiku menghangat. Sebentuk senyum tak bisa lepas dari bibirku. Tidak sampai aku teringat sesuatu. Aku masih belum berterima kasih kepadanya sampai detik ini.

Kuraih ponselku dari atas nakas. Cepat-cepat kukirim sebuah pesan singkat.

Gavin, terima kasih atas bantuanmu semalam.

Baru saja aku hendak meletakkan ponselku kembali, notifikasi pesan masuk berbunyi. Balasan dari Gavin. Cepat sekali.

Tidak usah dipikirkan.

Dalam jeda yang sangat singkat, notifikasi kembali berbunyi. Gavin mengirim pesan yang lain lagi.

Apa kamu ada waktu luang akhir pekan ini?

Eh? Apa? Kenapa Gavin tiba-tiba menanyakan itu? Segera kuketikkan jawaban.

Sebenarnya aku ingin pergi ke Furniture City untuk membeli peralatan masak. Tapi akhir pekan nanti pasti ramai sekali, 'kan?

Hari Jumat adalah tanggal 25 Desember. Suasana hiruk-pikuk perayaan Natal di mana-mana sudah terbayang di benakku. Kemeriahannya sudah pasti akan terus berlanjut hingga hari Sabtu dan Minggu. Apalagi di pusat-pusat perbelanjaan. Diskon akhir tahun memang sangat menggoda, tapi aku malas juga kalau harus berdesak-desakan.

Bagaimana kalau kita pergi sebelum itu? Tanggal 23 misalnya?

Alisku terangkat spontan, sembari mengetik balasan cepat

Kita?

Butuh waktu agak lama sampai jawaban dari Gavin kembali mengisi layar ponselku.

Aku juga perlu membeli sesuatu, jadi kita bisa pergi bersama.

Aku berpikir-pikir sebentar. Usulan Gavin boleh juga. Tanggal 23 seharusnya belum terlalu ramai. Sebagian besar orang masih akan bekerja pada hari itu. Keramaian baru akan dimulai pada tanggal 24.

Boleh, sih. Aku tidak akan pulang larut tanggal 23 nanti.

Benar sekali, kesibukan kami yang bagai neraka justru baru akan dimulai setelah itu. Segera setelah pesanku terkirim, aku baru menyadari sesuatu yang lain. Cepat-cepat kukirimkan satu pesan lagi.

Tapi bagaimana denganmu? Memangnya kamu nggak bertugas?

Kupikir di waktu liburan hari besar seperti ini, Gavin dan para petugas polisi lain justru akan sangat sibuk. Kali ini pun, Gavin menjawab dengan cepat.

Aku ada waktu sebentar. Baru bertugas malam harinya.

Aku mengangguk-angguk sendiri. Syukurlah, Gavin masih mendapatkan waktu istirahat sebelum kesibukan Natal dan Tahun Baru.

Jadi bagaimana?

Pesan dari Gavin kembali masuk ke ponselku. Aku tersenyum. Itu sudah tak perlu ditanyakan lagi, bukan?

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

Aku gelisah!

Setiap hari aku memikirkan janjiku dengan Gavin, dan itu membuatku senewen. Willow dan Kiki sampai heran melihat kelakuanku. Bahkan Anna mulai berpikir jangan-jangan aku stres memikirkan acara-acara TV kami yang berkejar-kejaran pada masa liburan panjang nanti.

"Lebih baik kamu refreshing dulu sebentar," begitu kata Anna.

Berkat itu juga, Anna dan yang lain jadi berbaik hati membiarkanku pulang lebih cepat pada hari Rabu ini. Tanggal 23 Desember yang dijanjikan. Aku punya cukup waktu untuk bersiap-siap. Misalnya memilih pakaian yang akan kupakai, dan nyatanya itu cukup membingungkanku.

Akhirnya pilihanku jatuh pada gaun terusan berwarna lavender. Riasan tipis yang sederhana melengkapi penampilanku. Tidak tampak mencolok, tetapi tetap manis. Begitu aku memuji diri sendiri di depan cermin, sekaligus untuk meningkatkan rasa percaya diriku.

Gavin datang menjemputku tepat pukul empat sore, seperti yang dijanjikan. Senyum tipisnya langsung menyapa begitu kubukakan pintu untuknya. Dia tampil kasual seperti biasa, dengan kaus putih dan jaket denim khasnya.

"Ada apa?"

Aku tertawa kecil ketika Gavin terus memandangiku dalam diam. Kuharap dia tidak mendengar nada gelisah di dalam ucapanku tadi.

"Manis."

Satu kata itu lolos dari mulutnya. Aku tersentak kecil, sama seperti Gavin yang segera memalingkan wajahnya yang merona samar.

"Ayo."

Tanpa menoleh lagi ke arahku, Gavin beranjak. Aku mengikutinya, setelah buru-buru mengunci pintu apartemen. Dia masih tampak salah tingkah sampai kami tiba di parkiran. Entah bagaimana, sifat pemalunya itu membuatku sedikit lebih tenang.

Bukankah dia juga manis?

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

Gavin berkendara dengan tenang di atas Sparky, motor kesayangannya. Masih sedikit terlalu cepat untukku, tapi setidaknya, kali ini dia tidak memacu motor seperti orang kesetanan.

Jalanan cukup lengang sore ini. Tak makan waktu lama sampai kami tiba di tempat tujuan. Sebuah pertokoan besar dengan papan nama yang cukup megah bertuliskan 'Furniture City'.

"Syukurlah, tidak terlalu ramai," komentarku begitu kami menginjakkan kaki di dalam area pertokoan yang sangat luas. "Apa yang ingin kamu beli?"

"Lampu berdiri."

"Hmmm ... Di mana ya, area alat-alat listrik?"

Aku bergerak mendekati gambar denah yang ditempel di dekat pintu masuk. Ternyata tempat itu tidak begitu jauh dari area peralatan dapur. Bahkan searah jika dilihat dari lokasi kami berada saat ini.

"Berarti, kita bisa membeli peralatan memasakmu lebih dulu," kata Gavin.

"Hmm ... Baiklah."

Kami berjalan santai beriringan, menyusuri area demi area toko. Mataku tak henti memandang ke sana kemari dengan antusias. Memang banyak barang-barang menarik, dengan spanduk promo diskon akhir tahun yang sudah mulai memenuhi hampir seluruh penjuru toko.

"Waah ... Kita beruntung," kataku, "datang di waktu yang tepat."

Aku hampir tidak menyadari diriku sendiri yang mulai bersenandung kecil. Saat menoleh ke arah Gavin, kulihat dia sedang menatapku dengan lembut. Senyum menghias wajahnya.

Aku cepat-cepat memalingkan wajah, kembali fokus menatap ke depan. Pura-pura tidak tahu, bagaimana Gavin berusaha menyembunyikan wajahnya yang kembali memerah. Pipiku pun menghangat. Pasti wajahku sekarang sama merahnya dengan Gavin.

"Oh! Kita sudah sampai."

Aku berseru sedikit terlalu antusias, lebih untuk mengalihkan pikiranku sendiri. Begitu melangkahkan kaki ke depan rak terdekat, mataku langsung membulat melihat bermacam-macam peralatan memasak keluaran terbaru.

"Waaah ... Imutnyaaa ..."

Kuambil sebuah cetakan stainless steel berbentuk bintang. Di rak yang sama, bermacam-macam cetakan dengan bentuk lain juga ada. Bentuk bunga, hati, dan sebagainya.

"Gavin, lihat! Kamu tahu ini apa?"

"Hmmm ..."

Aku tertawa lepas melihat wajahnya yang berkerut bingung. Tak bisa kucegah diriku yang kemudian menjelaskan kepadanya dengan riang gembira.

"Ini cetakan untuk membuat omelet. Oh! Lihat yang ini! Dengan cetakan ini, kita bisa membuat omelet dengan wajah tersenyum."

Gavin ikut tersenyum menyaksikan keceriaanku.

"Peralatan masak yang dijual di sini selalu menarik," lanjutku. "Dengan alat-alat ini, memasak jadi terasa lebih menyenangkan."

"Jadi kamu suka memasak?"

"Bisa dibilang, itu hobiku. Bagaimana denganmu?" aku balik bertanya. "Apa kamu juga sering memasak sendiri di rumah?"

"Hampir tidak pernah. Biasanya aku selalu pesan antar, atau kalau mau praktis, makanan instan lebih mudah."

"Itu nggak baik buat kesehatan," komentarku.

"Aku tidak pilih-pilih makanan."

"Tapi tetap saja ..." Aku berpikir sebentar. "Bagaimana kalau ... sesekali aku membuatkan sesuatu untukmu?"

"Kamu mau memasak untukku?"

"Tentu!"

Gavin tersenyum sangat samar. Namun, sepasang matanya yang menatapku, tampak begitu berbinar. Gelenyar hangat menyebar dengan cepat di dalam dadaku. Aku segera menyibukkan diri, berkeliling ke rak-rak lain. Dalam waktu singkat, nyaris semua benda di dalam daftar belanjaan yang ingin kubeli, sudah terambil dengan pilihan terbaik yang ada.

"Tinggal satu barang lagi," aku bergumam sendiri sembari mengedarkan pandang. "Ada di mana, ya? ... Ah! Itu dia!"

Kudekati sebuah rak paling pojok. Barang yang kuinginkan ada di rak teratas, sehingga aku terpaksa berjinjit untuk mencoba meraihnya. Tetap tidak sampai.

Pada saat itulah, sepasang tangan terulur dari arah belakangku. Gavin berdiri di sana, begitu dekat di balik punggungku. Dengan mudahnya, dia mengambilkan benda yang ingin kubeli. Posisi ini membuatnya tanpa sengaja memerangkapku di antara dirinya dan rak besi.

Aku hanya menoleh sebentar, lalu kembali mengalihkan pandang ke depan. Tertunduk malu, sementara diriku merasakan dengan jelas kehangatan dari tubuh Gavin. Seolah berputar-putar di udara, hanya di sekeliling kami berdua. Kehangatan itu seolah memelukku, membuat jantungku berdetak lebih kencang.

"Ini 'kan, yang mau kamu ambil?"

Suara Gavin menyentakku kembali ke alam nyata. Aku mati-matian berusaha menyembunyikan kegugupanku, sementara Gavin menunjukkan sebuah wajan teflon berwarna marun. Aku segera menerimanya, tak ingin dia curiga.

"T-Terima kasih."

"Hm."

Lagi-lagi senyum kecil yang hanya muncul sedetik itu, kembali menghias wajahnya. Kenapa sih, dia sering sekali tersenyum hari ini? Benar-benar tidak baik untuk jantungku.

"Apa masih ada yang ingin kamu beli?" Gavin melontarkan satu pertanyaan tiba-tiba, sedikit mengejutkanku yang setengah melamun.

"Hmmm ... Aku akan berkeliling sebentar lagi."

"Baiklah."

Sebenarnya, ini sudah semua yang ingin kubeli. Tapi aku butuh udara segar. Aku butuh waktu untuk menenangkan gemuruh di dadaku, berkat pemuda yang satu ini.

Dalam waktu singkat, aku sudah memutari rak-rak lain lagi, sampai tempat-tempat yang sebenarnya tidak masuk ke dalam rencanaku. Ini bahaya, aku harus beberapa kali mengingatkan diri bahwa aku belum membutuhkan barang-barang seperti taplak meja atau set peralatan makan baru.

"Ah, sudah jam berapa ini?"

Tiba-tiba aku menyadari sudah terlalu lama berkeliling mencuci mata. Setelah ini, masih harus mencari lampu berdiri yang ingin dibeli oleh Gavin.

Oh, iya, Gavin. Omong-omong, pergi ke mana dia? Kuedarkan pandang dan gagal menemukan sosoknya di mana pun.

"Gavin?"

Kucoba memanggilnya, siapa tahu dia ada di sekitar sini, hanya saja aku tidak melihatnya. Namun, nihil. Apa dia bosan menemaniku yang cuma melihat-lihat tidak jelas?

Oh, tidak. Kami tidak terpisah, 'kan?

Berpikir begitu, aku cepat-cepat melangkah setengah berlari hingga ke ujung rak.

"Gavin!"

Aku melongok ke lorong di antara rak-rak, tetapi tetap tidak bisa menemukan Gavin. Tidak juga ada jawaban. Apa dia benar-benar pergi sampai jauh, sampai tak bisa mendengar panggilanku?

"AWAS!"

Suara yang kucari-cari itu menyapa pendengaranku dalam seruan keras. Aku terkejut, tak tahu apakah seruan itu ditujukan untukku. Dan kalau iya, kenapa?

Sebelum aku menyadari apa yang terjadi, seseorang menarikku dari lorong. Jantungku berdetak begitu kencang, ketika detik berikutnya sebuah troli besar penuh muatan, mendadak meluncur tak terkendali. Tepat melewati titik di mana aku berdiri tadi!

Aku menoleh ke belakang, ingin melihat siapa yang sampai detik ini masih mencekal lenganku. Masih merengkuhku di dalam pelukannya.

"Kamu baik-baik saja?"

Wajah cemas Gavin adalah hal pertama yang kulihat setelah itu. Seketika, kelegaan memenuhi hatiku dan menenangkannya.

Aku menganggukkan kepala. "Gavin ... Kamu tadi ke mana?"

Kami sama-sama menegakkan tubuh kembali, saling berhadapan. Senyum kecil itu kembali menghangatkan dadaku. Gavin tidak menjawab pertanyaanku, tetapi dia menunjukkan sesuatu ke hadapanku.

Sebuah boneka kelinci mungil berwarna cokelat susu.

"Lihat ini," katanya. "Mirip denganmu."

Gavin menggoyangkan kedua tangan boneka itu. Aku tertawa kecil, spontan saja. Sebelah mananya yang mirip, coba?

"Kelinci!" seruku. "Lucu bangeeet~"

Kuulurkan tangan untuk membelai boneka itu. Aku langsung menyukai bahannya yang begitu lembut. Gavin kembali menggerakkan kedua tangan boneka itu, kali ini membuat si boneka seolah memeluk tangan kananku. Aku tertawa lagi, setengahnya masih takjub melihat sisi kekanak-kanakan ini dari diri Gavin.

Sisi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sisi yang tak pernah kusangka dimilikinya. Sisi yang teramat manis terasa.

"Kalau kamu suka, aku bisa membelikannya untukmu."

Ucapan tiba-tiba Gavin, jelas saja mengejutkanku.

"Untuk ... uuh ... teman tidur ..."

Dia melanjutkan, sedikit ragu, sembari melihat ke arah lain. Samar-samar kulihat rona samar di pipinya.

"Maksudmu ... kamu ingin memberiku hadiah?" kutanyakan satu hal yang sudah jelas, ingin sedikit menggodanya.

Gavin tidak menyahut, masih merona samar dan tak mau menatapku.

"Kamu bilang, mau memasak untukku. Mmm ... Jadi ... anggap saja ... boneka ini sebagai ucapan terima kasih."

Aku tertawa. Alasan macam apa itu? Aku bahkan belum memasakkan apa-apa untuknya.

"Baiklah." Aku tersenyum. "Terima kasih atas hadiah yang manis ini."

"Hm."

Kuambil boneka itu dari tangan Gavin. Lantas, dengan hangat, kurengkuh si kelinci ke dalam pelukanku.

"Bagaimana kalau kelinci kecil ini kita beri nama 'Little Gavin'?"

Iseng saja, kucetuskan ide jahil itu tiba-tiba. Aku tertawa setelahnya, melihat wajah Gavin yang kembali merona.

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

"Ah! Gavin, di sini!"

Aku setengah berlari menghampiri area peralatan listrik. Hanya dalam sekilas pandang, aku berhasil menemukan bagian khusus dengan papan keterangan bertuliskan 'Floor Lamp'. Aku dan Gavin pun bergegas menuju tempat itu.

"Lampu seperti apa yang kamu inginkan?" tanyaku pada Gavin.

Kulihat dia hanya menyapukan pandang sekilas. Baru kemudian kembali fokus kepadaku.

"Tidak ada yang khusus," jawabnya. "Yang mana saja boleh."

"Memang fungsinya yang penting. Tapi style juga perlu diperhatikan."

Gavin tidak menyahut. Aku tahu, pemuda di hadapanku ini memang suka berpikir praktis. Sepertinya aku harus memberi sedikit gambaran padanya.

Aku melangkah santai, melihat-lihat. Gavin mengikutiku. Ia juga ikut melihat berkeliling. Namun, dibandingkan Gavin yang ingin membeli lampu, kenapa justru aku yang kelihatannya lebih antusias?

Dasar.

Satu lampu di dekat sebuah sofa, menarik perhatianku. Aku duduk santai di sofa krem itu, lantas menyalakan tombol lampunya. Cahaya kuning lembut segera berpendar memenuhi ruangan. Menerbitkan senyumku dengan segera.

"Bayangkan," aku berkata. "Saat lelah sepulang kerja, kamu duduk bersandar di sofa seperti ini. Dikelilingi cahaya hangat di malam yang dingin. Lalu, di bawah sofa, ada karpet lembut yang mencegah kakimu kedinginan akibat menginjak lantai."

Gavin diam memperhatikan saat aku bicara.

"Kamu bisa bersantai setelah makan malam. Membaca buku favoritmu, atau menonton TV kalau nggak ingin membaca. Kamu juga nggak perlu mencuci piring, gelas, dan peralatan makan yang kotor, kalau kamu nggak ingin melakukannya saat itu juga. Sesekali bermalas-malasan seperti itu, menyenangkan juga, bukan?"

Aku terus menyampaikan cara bersantai yang ideal menurutku. Agak sebal, karena Gavin hanya terus diam mendengarkan.

"Jadi, gimana?" tanyaku. "Kamu suka lampu yang ini?"

"Kelihatan bagus."

Aku mengerucutkan bibir seketika. "Bagus, bagus. Semuanya juga bagus. Tapi mana yang kamu suka?"

Kami kembali berkeliling, tapi tidak juga menemukan lampu yang sesuai keinginan. Aku pun mulai lelah karena sudah lama terus berjalan. Sampai kemudian, kami sampai di penghujung area Floor Lamp yang berbatasan dengan ruangan display spring bed. Kuperhatikan, di sana pun masih ada beberapa lampu yang tegak berdiri di tempat-tempat strategis.

Kakiku yang mulai terasa pegal, membuat kasur kelabu itu seolah memanggil-manggil. Aku mendekat, lantas membaringkan diri perlahan di sana. Kelembutannya terasa menyenangkan. Kupejamkan mata pelan-pelan, memblokir semua suara yang mungkin masuk ke telingaku.

Rasanya damai, membuat kepenatanku terangkat.

Detik-detik berlalu lambat, membuatku lupa diri. Entah sudah berapa menit berlalu, sampai pada akhirnya aku tersadar apa tujuanku berada di sini. Sembari merutuki diri sendiri, segera kubuka mata. Hanya untuk menemukan Gavin ternyata sudah ikut berbaring di sampingku.

Jantungku rasanya hendak melompat keluar. Wajahku terasa panas. Dan makin panas ketika Gavin mendadak menoleh ke arahku. Aku cepat-cepat mengalihkan pandang, tetapi Gavin pasti sudah telanjur melihatku tersipu.

Aku segera bangkit, bermaksud untuk beranjak menjauh. Namun, Gavin dengan sigap menangkap tanganku. Hanya sedikit tarikan kecil darinya, sudah cukup untuk membuatku kembali jatuh ke dalam posisi berbaring di sebelahnya. Kaget, aku tak sengaja menyalakan tombol lampu berdiri yang berada tepat di samping ranjang.

Seketika itu juga, seluruh ruangan dipenuhi bintang-bintang kecil bercahaya. Aku terpana, menyaksikan keindahan yang sangat serasi dengan wallpaper ruangan yang berwarna biru langit.

"Lihat!" seruku gembira. "Ternyata lampu bintang!"

Aku menoleh, dan langsung merasakan kehangatan menjalari pipiku tatkala tatapan mataku terkunci dengan mata Gavin. Apakah dia sejak tadi terus memandangiku?

Kuperhatikan ada rona samar juga di wajahnya, tetapi kali ini dia tidak mengalihkan pandang. Aku pun tak sanggup mengalihkan pandang darinya. Dari wajahnya yang gemerlap oleh cahaya lampu bintang. Dan dari matanya yang lebih bercahaya daripada bintang mana pun.

Sepasang mata itu terus menatapku, dengan kelembutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tersipu dan kembali mencoba buru-buru bangkit. Namun, Gavin menggenggam tanganku sekali lagi. Seperti sebuah permohonan dalam diam, supaya aku tetap di sisinya.

Kuputuskan untuk mengabulkan permohonan itu. Dia tersenyum, sangat samar, kemudian menatap langit-langit yang masih terhias bintang-bintang. Masih sambil menggenggam tanganku dengan hangat.

"Aku ingin terus bersama denganmu ... seperti ini ..."

Kata-katanya bagaikan melodi terindah yang membuai telingaku. Sangat lembut, sepenuh perasaan. Menciptakan satu momen yang takkan pernah terlupakan.

Saat kami pergi bersama melakukan hal yang biasa-biasa saja untuk pertama kalinya. Saat aku melihat sisi kekanakannya, juga untuk pertama kalinya.

Aku hanya bertanya-tanya, apakah dia juga akan terus mengenang saat-saat ini di dalam hidupnya?

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

"Gavin? Kenapa kita berhenti di sini?"

Aku bertanya heran ketika Gavin menghentikan motor kesayangannya di area parkir Meetery Eatery. Sebuah restoran kecil yang kami lewati jika ingin kembali ke apartemenku. Sebelum Gavin sempat menjawab, ternyata perutku sudah mendahuluinya dengan satu suara khas yang membuatku ingin menggali lubang dan bersembunyi di dalamnya.

Gavin tertawa.

"Karena ada seseorang yang sudah sangat kelaparan."

Aku hanya bisa merengut, menutupi diriku yang masih merasa malu. Apa dia perlu memperjelasnya seperti itu? Tapi, aku memang kelaparan. Berkeliling, berbelanja, sudah cukup untuk membuat tenagaku terkuras.

Gavin dan aku mendapatkan tempat duduk yang cukup strategis di salah satu sudut yang tenang. Restoran tidak terlalu penuh. Aku melihat berkeliling, dan menjumpai kebanyakan pengunjung adalah pasangan muda-mudi. Mendadak aku seperti bisa melihat aura berbunga-bunga memenuhi udara.

Entah kenapa, rasanya jadi malu sendiri.

"Kamu mau pesan apa?" tanya Gavin, sedikit mengejutkanku.

Kuperhatikan, ternyata Gavin sudah memegang daftar menu di tangannya.

"Apa saja boleh," sahutku spontan.

"Oh, betul juga." Aku tidak tahu apakah diriku berhalusinasi, tapi rasanya mata Gavin berkilat jahil ketika menatapku. "Seharusnya aku bertanya, kamu mau pesan berapa banyak?"

Gavin tertawa kecil, rasanya seperti sebuah serangan mendadak ke hatiku. Pelayan restoran yang berdiri di sampingnya pun ikut menahan tawa. Membuatku ingin mencubit pemuda di hadapanku saat ini juga.

Mengabaikan aku yang sengaja pasang wajah cemberut, Gavin memesan menu berbahan daging, salad, jus jeruk, serta puding sebagai makanan penutupnya.

"Hei, apa nggak kebanyakan?" kataku setelah pelayan pergi.

"Kamu butuh banyak makanan untuk menggantikan energi yang hilang hari ini, 'kan?"

Gavin tertawa lagi. Dasar. Dia masih juga meledekku.

"Kalau kamu meledekku lagi, aku akan memesan banyak sekali makanan dan membuatmu bangkrut!" ancamku.

Gavin tertawa.

"Memangnya kamu bisa makan sebanyak apa?"

"Kamu nggak tahu aja."

Kami bersenda gurau sampai makanan yang dipesan Gavin datang. Makanan di tempat ini memang memanjakan lidah. Salah satu tempat makan favoritku di seluruh Loveland.

Kami tidak banyak bicara selama makan. Lebih menikmati makanan dengan penuh rasa syukur. Entah karena makanan yang terasa berkali-kali lipat lebih enak, setelah lelah berbelanja selama berjam-jam. Atau karena ada Gavin yang makan bersamaku di sini.

"Omong-omong," kataku kemudian ketika makanan yang tergelar di hadapanku tinggal tersisa puding, "apa kamu masih sempat istirahat setelah ini? Kamu pasti capek, 'kan? Maaf, tadi aku terlalu asyik melihat-lihat. Jadi memakan waktu lama."

"Tidak apa-apa." Gavin menyendok pudingnya perlahan. "Masih ada beberapa jam lagi sampai waktu tugasku."

"Baguslah kalau begitu. Kamu harus menjaga kesehatan. Jangan terlalu memaksakan diri."

"Hm. Aku tahu."

"Terus?"

"Hm?"

"Kenapa kamu memandangiku seperti itu? Kalau ada sesuatu yang mau disampaikan, bilang saja."

Gavin tersenyum spontan, lagi-lagi membuat jantungku serasa berontak dari dalam rongga dada. Aku memang merasa, sejak memasuki restoran, Gavin sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Kupikir dia mungkin sedang mencari waktu yang tepat. Tapi aku sudah tidak sabar lagi menunggu.

Pudingku juga sudah hampir habis.

"Kamu tidak ingat ya, ini hari apa?"

Pertanyaan tiba-tiba Gavin, membuat keningku berkerut.

"Hari Rabu?" aku menjawab dengan bodohnya.

Tentu saja bukan itu yang dia maksud. Aku tahu. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengingat, apakah ada perayaan atau peringatan khusus di hari ini.

"Memangnya ada yang istimewa hari ini?" tanyaku setelah menyerah untuk mencoba mengingat.

"Sangat istimewa."

Gavin tersenyum lembut. Sama lembutnya dengan suaranya saat mengucapkan dua kata tadi. Aku menatapnya bertanya-tanya, tetapi dia tidak mengatakan apa pun lagi. Sebagai gantinya, dia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru dari dalam saku jaketnya.

"Ini ... apa?" aku bertanya bingung saat Gavin meletakkan kotak itu di atas meja, tepat di hadapanku.

Gavin masih tersenyum. Masih tak mau menjawab. Kugeser pudingku yang masih tersisa sepertiganya, sedikit ke samping. Kuraih kotak biru itu mendekat kepadaku. Melihat dari bentuknya, apakah ini kotak perhiasan?

Detak jantungku menguat setingkat, bersamaan dengan tanganku yang membuka kotak itu perlahan. Mataku membulat ketika melihat sebentuk kalung emas, dengan liontin yang dari bentuknya saja sudah membuatku langsung memikirkan sosok Gavin.

Daun ginkgo berwarna emas.

"Gavin?" Aku memandang pemuda itu, masih bingung. "Ini ...?"

"Hadiahmu," sahutnya singkat. "Kamu suka?"

Otakku kosong seketika.

Gavin? Memberiku hadiah perhiasan emas?

"Y-Ya ... Aku suka," kataku, masih tetap kebingungan. "Tapi ... ini hadiah untuk apa—"

"Selamat ulang tahun."

Aku terdiam. Otakku yang tadinya kosong, kini serasa berhenti bekerja.

"Eh?"

Gavin tertawa kecil melihat reaksiku yang seperti orang linglung.

"Ini tanggal 23 Desember, hari ulang tahunmu, 'kan?"

Aku terdiam, masih kaget.

Benar juga, ini 'kan hari ulang tahunku. Pantas saja, tadi Anna dan yang lain begitu baik hati membiarkanku pulang duluan. Walau memang sudah hampir tidak ada lagi pekerjaan di kantor hari ini, sih.

Tiba-tiba aku teringat, bagaimana tadi sebelum aku meninggalkan kantor, Kiki berkali-kali mengingatkanku bahwa kami sudah berjanji untuk pergi karaoke dan makan-makan nanti malam. Jangan-jangan ... mereka juga ingin memberikan kejutan ulang tahun untukku?

"Jadi ... kamu suka hadiah ulang tahun dariku?" Gavin mengulang pertanyaannya dengan lebih jelas.

Mataku sedikit memanas. Namun, kutahan air mata agar jangan sampai keluar, dan menggantikannya dengan sebuah senyuman.

"Sangat suka!" kataku. "Gavin, ini indah sekali. Terima kasih."

"Boleh kupakaikan?"

Kutatap Gavin yang juga tengah menatapku. Wajahnya yang merona samar, membuatku tertawa kecil.

"Tentu."

Jawaban singkatku menjadi persetujuan bagi Gavin untuk bangkit dan mendekat. Dengan hati-hati, dia mengambil kalung berliontin ginkgo emas itu. Lantas memakaikannya di leherku. Gavin kembali lagi ke tempat duduknya, dan setelah itu dia sepertinya tak bisa berhenti memandangiku.

"Cantik."

Gavin tersentak sendiri setelah mengucapkan satu kata itu. Dia tersipu dan mengalihkan pandang.

"Aku atau kalungnya yang cantik?"

Kuputuskan untuk menggodanya sedikit. Walaupun aku sadar, wajahku pasti sama merahnya dengan Gavin sekarang.

"Tentu saja kalungnya cantik, karena aku yang memilihnya."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Gavin memandang ke arahku. Pipinya masih tampak merah, tetapi matanya dengan berani menatap langsung ke dalam mataku.

"Tapi kamu jauh lebih cantik."

Kalimat yang terucap lembut nyaris dalam bisikan itu membuai telingaku. Lantas merasuk ke dalam diriku, dan menghangatkan hatiku.

"Terima kasih," kataku kemudian. "Untuk semuanya. Gavin ... aku sangat senang hari ini."

"Aku juga."

Sedikit gugup, kulanjutkan kembali memakan puding yang sudah hampir kuratakan dari dalam wadahnya. Gavin pun melakukan hal yang sama dengan pudingnya sendiri.

"Apa ... kita bisa menghabiskan waktu lagi seperti ini?" Gavin mencuri pandang ke arahku. "Mungkin ... lain kali?"

Satu suapan terakhir puding masuk ke dalam mulutku. Puding di tempat ini juga salah satu favoritku. Rasanya enak, dan manis. Namun, khusus hari ini, pemuda yang berada di hadapanku ini berkali-kali lipat lebih manis.

Ah, benar. Gavin masih menunggu jawaban. Jadi kuberikan satu senyum termanis untuknya, sembari melontarkan dua kata yang sudah sejak tadi kuputuskan.

"Akan kupikirkan."

.

.

.

TAMAT

.

.

.


* Author's Note *

.

Hai, haiii~! :-D

Fanfic keduaku di mari, dengan si dia yang merupakan favorit keduaku, Gavin.

Ini juga hadiah istimewa buat seorang sahabat yang berulang tahun hari ini, tanggal 23 Desember. Sahabat yang juga seorang bucin Gavin. XD

Selamat ulang tahun, Stroberi. Semoga suka dengan hadiah yang kukerjakan dengan sistem kebut sehari semalam ini, semoga cukup fuwa-fuwa. Semoga kamu sehat-sehat dan bahagia selalu.

Untuk para pembaca yang sudah mampir kemari, semoga juga dapat menikmati ke-uwu-an MC kita bersama dengan our cinnamon roll boy, Gavin.

P.S. I TOTALLY FORGOT ABOUT THE WINTER! ASDFGHJKL— (since we don't have winter in my country)

P.S.S. Bolehlah anggap musim dingin tahun ini datang sangat terlambat di Loveland, sehingga cuaca belum dingin dan belum ada salju di tanggal 23 Desember.

Atau mau anggap ini Loveland di dunia paralel juga boleh. It's up to you. (TAT)

.

Regards,

kurohimeNoir

23.12.2020