A/N : Maaf agak telat. Si author akhir-akhir ini dapat kursus gratis, ini kedua kalinya dapat. Welp, enough about me. Mari langsung balas review!

-erikfinnvladimir

Scarlet : Ciyus, waktu baca ripiw erik-san saya pertama-tama senang kemudian langsung tertohok wkwkwk.

Takatora : *glare* Maaf, tanganku terpeleset.

Suzu : *sweatdrop* Tapi keliatannya sengaja. Takatora-san seram kalau lagi marah.

Blossom : *lirik An Shu* Kalau fic soal si buntut kuda sama si berisik itu lagi di jedain bentar. Soalnya mumpung ada ide buat fic nak Suzu hehehe~ *di multi musou An Shu & Ling Tong*

Suzu : He? Siapa itu Anzu dan Rinton?

Takatora : Nama mereka terdengar asing.

Scarlet : Kamu salah baca nak. *sweatdrop*

Suzu : He-eh. Terima kasih sudah me-review!

-RosyMiranto

Suzu : *sweatdrop* Ano... tolong jangan samakan aku dengan kuda. Lalu apa itu menggerinda?

Scarlet : Kalau gitu tuh batu buat aku aja! Lumayan buat dijual!

Suzu : Iya deh...

Takatora : *muncul urat merah* Bokong bebek... katamu?

Suzu : A-Aaa! Takatora-san jangan marah! *panik*

Scarlet : Aha, Chacha akan saya pastikan muncul di chapter yang akan datang. Yosh, terima kasih banyak telah me-review!

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me.

Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game dan sejarahnya. Mohon maaf atas kesalahannya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XxX-

Bell of the White Hare

-XxX-

CHAPTER 3

Fragments of a Dream

-XxX-

Shiraishi Suzu's Perspective

"Takatora-san? Untuk apa Tuan menyusun batu-batu itu?" Tanyaku sambil berlutut disampingnya.

Pemuda itu duduk di depan puing-puing Istana Odani, ia menaruh satu persatu batu tersebut diatas batu yang ukurannya besar. Setelah selesai menyusun batu-batu tersebut, ia kemudian mulai menatapku.

"Kukira kau sudah tahu untuk apa aku menyusun batu ini, tapi ternyata kau tidak tahu sama sekali ya?" Aku mengangguk, masih menatapnya bingung. "Ini adalah pusara bibimu."

"Eh?"

Lalu Tuan Takatora kembali menatap batu tersebut. "Bibimu adalah wanita yang hebat. Melihat bibimu mati saat itu, aku berharap beliau masih bernafas. Aku ingin menolongnya. Tapi aku tak sempat karena saat itu kau dan bibimu sudah terperangkap." Ucapnya dengan nada suaranya terdengar sendu.

Dadaku terasa sesak ketika mengingat bagaimana bibiku mati. Tubuhnya mengalami luka sayatan yang parah dan juga terdapat luka bakar. Mengingatnya saja itu sudah cukup membuatku ingin menangis lagi. Aku menjalin kedua tanganku dengan erat.

"Maaf..." gumamku. Tuan Takatora kembali menatapku, ia terdiam sejenak. Sedangkan aku tak memiliki keberanian untuk berkontak mata dengannya. "Aku sangat lemah. Kalau saja aku mungkin... bisa saja menyelamatkan Nagamasa-sama juga. Ini semua salahku."

"Bodoh." Ia memukul ringan kepalaku dengan punggung jarinya. "Tidak ada seorang pun yang menyalahkanmu, Suzu." Mataku melirik kearahnya, senyuman tipis tersinggung pada wajahnya membuat kedua mataku bertemu dengan manik birunya. "Jika kau terus berpikir seperti itu, bibimu dan Nagamasa-sama tidak akan senang melihatmu dari alam sana."

"...dari alam sana?" Tanyaku.

"Bibimu pernah menceritakannya padamu, bukan? Meski tubuh mereka kini telah dikubur, jiwa mereka tersisa di alam yang lain. Tak ada satu orang pun yang satu seperti apa dunia itu."

Seisi kepalaku mulai memikirkan seperti apa 'alam lain' yang Tuan Takatora maksud. "Yah, asalkan kau bahagia... kedua orang tuamu, bibimu dan Nagamasa-sama juga ikut bahagia. Coba kau pikir? Jika mereka melihatmu menangis dan menyalahkan dirimu, apa mereka akan senang? Jiwa mereka berada di tempat yang jauh, mereka tidak bisa menolongmu."

Aku mengedipkan mataku, melihat dan mendengar bagaimana ia berbicara padaku membuatku tertawa. "Takatora-san berbicara seperti Obaa-sama."

"Begitu 'kah...?" Ucapnya sedikit canggung. Ia menggaruk pipinya dengan telunjuk. Kemudian dia kembali tersenyum. "Itu senyuman yang ingin kulihat, Suzu."

"Eh?" Entah mengapa pipiku mulai terasa panas.

"Dengan begini, akhirnya aku bisa pergi berkelana sendirian dengan tenang." Ia kemudian berdiri. "Jaga dirimu."

Aku ikut berdiri kemudian membungkukkan badan. "Ya! Terima kasih banyak, Takatora-san! Semoga perjalanan Tuan selamat."

"Tentu saja." Ucapnya sembari mengeluarkan omamori berwarna merah yang pernah kubuat untuknya. Syukurlah ia masih membawanya. Aku membalas senyumnya kemudian mengangguk.

Summer, June 1575

Perang kali ini akan mengambil tempat di Nagashino. Orang yang bernama Tokugawa Ieyasu meminta bala bantuan dari Oda Nobunaga yang langsung ia terima. Dengan jumlah prajurit Oda sebanyak tiga puluh ribu dan Tokugawa hanya lima ribu prajurit. Oda juga menyiapkan teppou untuk strategi perang yang membagi pasukan senapan menjadi tiga lapis prajurit agar bisa menghindari kemungkinan prajurit tewas saat mengisi peluru. Lawan yang akan dihadapi adalah pewaris kekuasaan Takeda Shingen yang bernama Takeda Katsuyori.

Mendengar nama Takeda, pikiranku langsung terpusat pada Nona Chiyome. Meski ia adalah mantan tuan dari bibiku, aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya.

Tapi yang tidak kumengerti adalah mengapa saat itu bibi diberi misi untuk membunuh Tuan Nagamasa?

"Shiraishi, apa kau akan pergi ke Nagashino?" Pertanyaan Tuan Yoshitsugu membangunkanku dari lamunanku. "Jika kau pergi, sebaiknya kusarankan kau pergi bersama Onene-sama. Kau akan aman bersamanya."

Aku menggeleng. "Terima kasih atas sarannya, Yoshitsugu-san. Tapi kurasa aku tidak akan pergi."

Tuan Yoshitsugu terdiam sejenak. "Kau masih memikirkan bibimu?" Aku menjawabnya dengan anggukan kepala.

Sejak aku menawari diriku sebagai bawahan Tuan Yoshitsugu, perlahan ia bisa membaca pikiranku. Tidak adil. Mungkin kalau aku membuka kerah dan topinya, aku akan membalas dengan membaca pikirannya juga. Ah tidak tidak. Apa-apaan yang kupikirkan? Itu perbuatan yang tidak pantas. Aku pasti akan dianggap orang jahat. Lagipula, Tuan Yoshitsugu terkena penyakit. Itu bisa saja akan membuat penyakitnya semakin parah, dasar bodoh. Bahkan jika aku benar-benar melakukannya, dia pasti akan mengutukku.

Yah, yang penting aku bisa berguna untuk semua orang dan bisa membalas budi pada Tuan Hideyoshi dan yang lain. Mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Tuan Yoshitsugu sudah mengetahui bakatku, jadi aku berpikir dia pasti tahu apa yang bisa kulakukan untuk mereka.

Lalu apa saat Tuan Yoshitsugu dan Tuan Takatora berpisah, apa dia juga sudah memperkirakannya? Padahal sewaktu mereka masih menjadi bawahan Tuan Nagamasa, mereka sering berbagi pendapat yang sama mengenai tuannya.

Setelah meminum tehnya, Tuan Yoshitsugu melipat tangan. "Takeda adalah lawan yang berat untuk Oda. Mungkin saat Azai bersekutu dengan Oda, orang yang memberi bibimu misi untuk membunuh Nagamasa-sama itu ingin mengurangi jumlah mereka agar mudah dikalahkan. Kurasa mereka tidak pernah mengira bahwa Azai akan berkhianat pada Oda."

"Ah, benar juga."

"Namun seiring berjalannya waktu, kemudian bibimu menjadi pengawal pribadi Oichi-sama. Rasa percaya dan kesetiaan tumbuh dalam dirinya, bibimu membatalkan misinya." Lanjutnya.

"..." Aku hanya diam, tak tahu harus menjawab atau bertanya apa pada Tuan Yoshitsugu. Seisi kepalaku masih penasaran alasan Bibi membatalkan misi itu. Tidak, aku tidak mengatakan kalau aku menginginkan bibi menyelesaikan misi itu.

"Saat Nagamasa-sama mulai berkhianat dan bergabung dengan Koalisi Anti-Nobunaga, tentu saja misi yang diberikan pada bibimu sudah tidak ada artinya lagi. Malahan menumbuhkan keuntungan baru untuk Takeda serta daimyo yang bergabung dengan Koalisi Anti-Nobunaga. Namun sayangnya Takeda Shingen meninggal dunia dan Azai musnah. Nobunaga adalah lawan yang tangguh. Arus berpihak padanya."

Tuan Yoshitsugu mengarahkan matanya kepadaku, ia tertawa pelan. "Shiraishi, hanya kaulah yang paling mengerti tentang perasaan bibimu saat itu. Mengapa beliau menerima misi itu. Dan mengapa beliau membatalkan misinya. Meski beliau adalah kunoichi yang menyamar sebagai miko, dan berusaha mencari cara untuk mendapatkan kepercayaan. Hm, mungkin terdengar kasar jika aku mengatakan ini. Tapi mendiang bibimu masih memiliki perasaan sebagai manusia. Lagipula jika tidak, mungkin saja bibimu berhasil membunuh Nagamasa-sama dengan cepat. Juga tidak akan menyelamatkanmu saat kedua orang tuamu terbunuh."

"Eh...?" Tuan Yoshitsugu benar. Bibi adalah wanita yang sangat baik. Meski ia bekerja sebagai kunoichi yang bersedia menerima perintah untuk membunuh seseorang, ia tidak mungkin bisa membunuh orang yang sudah percaya padanya. Jika aku menjadi bibi, aku pasti juga melakukan hal yang sama.

Mungkin bisa dikatakan bibi persis dengan diriku. Beliau menerima misi itu karena hanya itulah jalan hidupnya. Dan bibi membatalkan misinya, karena ia yakin jalan hidupnya adalah untuk melindungi Nona Oichi.

Bagiku rasa kepercayaan itu terkadang tidak mudah mendapatkannya, namun sebenarnya itu adalah hal yang tidaklah sulit. Aku tersenyum tipis. "Dengan begini, apa kau sudah bisa melepas kepergian bibimu dengan tenang?" Tanya Tuan Yoshitsugu.

Aku mengangguk. "Ya, terima kasih banyak, Yoshitsugu-san."

Ia mendengus pelan. "Bukan padaku, Shiraishi. Tapi kau harus berterima kasih pada bibimu."

Aku mengedipkan mataku kebingungan. "Um yah, Tuan benar. Ah, tapi kalau Yoshitsugu-san tidak mengatakan semua ini padaku. Mungkin saja aku tidak akan bisa..."

Tuan Yoshitsugu memotong. "Benarkah? Jadi selama ini kau adalah keponakan yang tidak tahu terima kasih? Padahal bibimu sudah mengorbankan segalanya agar bisa datang menyelamatkanmu."

Aku mengedipkan mataku lagi. 'Keponakan yang tidak tahu terima kasih'? Memang terdengar kasar, tapi Tuan Yoshitugu ada benarnya.

"Bukankah sudah pernah kubilang? Kau mampu menghadapinya, Shiraishi."

Entah sudah berapa kali dia mengatakan itu. 'Aku mampu menghadapinya'. Padahal aku tidak setegar yang seperti ia kira. Menghadapi semua kepiluan yang selama ini menghantuiku sudah cukup membuatku menyerah. Aku bahkan... pernah berniat untuk tidak akan selamat dari kebakaran Istana Odani dulu. Tuan Yoshitsugu terlalu percaya padaku. Sungguh, seberapa jauh orang ini membaca arus kehidupanku?

"Kenapa Tuan begitu percaya kalau aku bisa menghadapinya?"

"'Kenapa', katamu? Karena aku tahu selama ini kau adalah perempuan yang pantang menyerah dan tidak pernah menganggap semua yang terjadi adalah hal yang sia-sia. Takatora menganggap bahwa sisi dari dirimu itulah yang menarik."

Detak jantungku tiba-tiba mengeras sehingga membuatku kaget bukan main. Pipiku memanas seketika mendengar namanya. "T-Tunggu sebentar, T-Takatora-san berkata seperti itu pada Tuan!?"

"Benar."

Aku benar-benar dibuat kesulitan menjawab ucapan Tuan Yoshitsugu. Yang benar saja, dari semua perempuan di negeri ini kenapa Tuan Takatora memerhatikanku? Aku bukan seorang putri seperti Chacha dan dua adik perempuannya. Kuakui saat aku masih berada di Istana Odani, aku sering menemuinya. Tapi tetap saja, rasanya aku tidak pantas mendapat perhatian darinya.

Dua tahun yang lalu, saat kami bertemu kembali di puing-puing Istana Odani. Ia terlihat sangat lega melihatku masih hidup. Bahkan saat aku pergi mencari bibiku sendirian, di saat Istana Odani terbakar, ia tanpa ragu datang menyelamatkanku. Meski bukan dia yang berhasil menyelamatkanku. Tapi tetap saja, kemauannya untuk menyelamatkanku sudah cukup membuatku senang. Bahkan dia juga sudah membuat pusara untuk bibi.

Meski begitu, aku masih merasa tidak pantas mendapat perhatian darinya. Lagipula aku hanya anak kecil yang kebetulan bertemu dengan Tuan Takatora. Selama ini aku memerhatikannya karena aku kagum dengan keberaniannya saat ia bertarung demi Tuan Nagamasa, persis seperti cerita dongeng mengenai ksatria hebat yang berperang demi melindungi orang yang ia sayangi. Tidak kurang, tidak lebih.

Tapi kenapa?

"Shirousagi, daripada kau merendahkan diri. Lebih baik kau tumbuhkan rasa percaya pada dirimu. Kau lebih hebat dari yang kau kira." Ucap Tuan Yishitsugu sebelum kembali meminum teh.

"Ekh..." Lagi-lagi dia membaca pikiranku.

"Ah, aku baru ingat. Sambil mencari informasi mengenai Tokugawa, kau juga sudah tahu dimana Takatora saat ini, 'kan?"

Aku mengernyitkan alis. Baik, dia sudah terlalu banyak membaca pikiranku. Rasanya sedikit menyebalkan karena aku tak dapat menebak isi kepala Tuan Yoshitsugu. "Uh, ya. Setelah Takatora-san melayani pengikut lama Azai, sekarang dia melayani Oda, Tsuda Nobusumi."

Tuan Yoshitsugu mendengus geli. "Ternyata selama dua tahun ini kau menguntitnya, ya?"

"Y-Yoshitsugu-san! Aku tidak menguntitnya!" Mataku melotot kearahnya . "Ah, Takatora-san pernah bilang kalau dia tidak akan melayani Oda. Tapi kenapa sekarang dia melayani keponakan Nobunaga-sama?"

"Dengar, Shiraishi. Hati manusia dapat berubah kapan saja. Apapun alasannya, dia tahu bahwa jalan yang ia pilih tidaklah salah."

Aku terdiam sambil mencoba untuk memahami perkataannya. Apa karena aliran berpihak pada Oda, Tuan Takatora mengabdi pada Oda agar ia bisa tetap hidup demi mempertahankan kesetiaannya pada perkataan Tuan Nagamasa? Atau... Apa mungkin alasannya Tuan Takatora bisa memerhatikan Nona Oichi lebih dekat?

...

Aneh, entah kenapa rasanya aku sedikit menyesal karena aku tidak bisa memutar waktu. Andai saja aku benar-benar berniat ikut dengannya, aku bisa...

Aku bisa terus mengikutinya kemanapun.

...ah, tidak tidak. Sudah terlambat menyesalinya. Lagipula jika aku mengikutinya, aku yakin diriku hanyalan beban. Selain itu, aku harus membalas budi Tuan Hideyoshi yang sudah memperbolehkanku tinggal disini. Dan aku yakin aku pasti bisa menemui Tuan Takatora lagi.

"Lalu? Apa kau tetap tidak akan pergi menemuinya?"

"Um, yah... aku ingin pergi. Tapi aku tidak tahu harus mengatakan apa kalau aku bertemu dengan Takatora-san..." gumamku. "D-dan juga, bagaimana kalau Onene-sama tidak mengizinkanku pergi?"

"Kau bisa membujuknya, 'kan? Ah, atau kau perlu bantuanku untuk membuat surat?"

"Eh? Surat apa?"

"'Surat apa', katamu? Tentu saja surat cinta. Katakan pada Onene-sama kalau kau harus mengirim surat itu pada Takatora."

Aku mengernyitkan alis lagi. "Ōtani Yoshitsugu-san, Tuan berpikir terlalu jauh." Saking terlalu kesalnya, kali ini aku memanggil nama lengkapnya. Ia menaikkan alisnya kemudian terkekeh. Dasar orang ini, benar-benar tahu bagaimana cara menyindir orang di sekitarnya. "Tapi, kalau aku meminta izin pada Onene-sama sekarang. Apa dia benar-benar akan mengizinkanku?"

"Lebih baik kau coba saja. Mungkin saja arus saat ini berpihak padamu."

"Hm, baiklah."

"Mau kubantu membuat suratnya, Shirousagi?"

"Aku tidak akan membuat surat, Yoshitsugu-san..." jawabku datar mencoba menahan amarah.

-XxX-

Aku langsung meminta izin pada Nona Nene. Dan jawabannya ialah...

"Ditolak," tegas Nona Nene sambil berkacak pinggang dan menggeleng.

Yak, seperti yang kuduga. Dasar Tuan Yoshitsugu, aku tidak mengerti bagaimana dia cara membaca 'arus'. Setelah dua tahun menjadi bawahannya, aku masih belum cukup bisa membaca pikirannya. Ternyata dua tahun masih belum cukup rupanya, eh?

"Lagipula Suzu-chan kenapa ingin pergi?" Pertanyaan itu membuatku ingin berbohong padanya, tapi tidak mungkin kulakukan. Aku juga tak bisa menghindari pertanyaan tersebut. Tetapi mustahil bagiku berkata jujur. 'Aku ingin bertemu dengan Takatora-san!' Yang benar saja! Itu terdengar sangat memalukan, bahkan aku yakin Nona Nene tidak akan mengizinkanku. Selain itu, sulit bagiku untuk memasukkannya ke dalam kata-kata. Memang aku ingin pergi demi kemauan diriku, namun aku sendiri tidak paham kenapa aku harus pergi untuk menemui Tuan Takatora. "Kamu bahkan belum sepenuhnya menguasai Nene Ninpo yang aku ajarkan padamu. Bagaimana bisa aku mengizinkanmu?" Lanjut wanita itu.

Itu 'kan jurus khusus Nona Nene saja. Mana mungkin aku bisa menguasainya, 'kan? Lagipula sejak dulu aku lebih banyak mempelajari ilmu miko daripada ilmu kunoichi. Tidak mungkin aku bisa mempelajarinya secepat itu.

Yah, sebenarnya itu tergantung usahaku. Atau mungkin ilmu kunoichi tidak begitu cocok untukku. Aku hanya mempelajari sebagian dari semua ilmu yang pernah mendiang bibiku ajarkan padaku.

Bahkan, aku sering mendengar bahwa perintah yang diterima sebagai shinobi itu biasanya adalah membunuh. Atas alasan tersebut bibi hanya mengajariku sebagian dari ilmu yang pernah ia pelajari. Karena beliau tidak ingin aku menjadi pembunuh tanpa mengenal rasa belas kasihan. Maka dari itu, bibi mengajariku lebih banyak mengenai ilmu miko.

"Suzu-chan? Kau dengar aku?"

"Ah, maaf, Onene-sama. Aku tidak sadar aku melamun."

Wanita bersurai coklat pendek itu terdiam sejenak. Kemudian raut wajahnya berubah muram. "Suzu-chan, apa ini menyangkut mendiang bibimu?"

...

Dasar, orang-orang yang kukenal selama dua tahun ini sudah cukup mengenali diriku.

Aku menggeleng dan mencoba untuk tersenyum. "Jangan khawatir, Onene-sama. Aku akan berusaha mempelajari dengan giat ilmu yang Nona ajarkan padaku. Karena itu mohon bimbingannya, Onene-sama." Ucapku sebelum menundukkan kepala.

Nona Nene tersenyum kecil. "Suzu-chan, dengar. Sebagai shinobi, kau tidak harus menggunakan kekuatanmu untuk membunuh. Kau hanya cukup menggunakannya dengan caramu sendiri." Ucapnya memberiku nasihat. "Yah, kurasa aku tidak akan bertanya untuk apa kau ikut pergi. Karena aku yakin kamu adalah gadis yang baik, Suzu-chan." Wanita itu melebarkan senyumannya.

Aku mengedipkan mataku berulang kali. "Eh? Apa artinya aku..."

"Ya, kau boleh pergi. Tapi ada syaratnya!" Nona Nene menaikkan jari telunjuknya di depan wajahku.

"...?" Aku menatapnya bingung. Kira-kira syarat apa yang akan beliau berikan? Apa aku akan diberikan latihan lebih banyak lagi? Atau...?

"Kamu tidak boleh menampakkan dirimu di hadapan pengikut Oda. Kalau soal itu kau ahlinya, ya 'kan?" Nona Nene mengedipkan sebelah matanya.

Dadaku rasanya mulai lapang dan hangat. "Terima kasih banyak, Onene-sama!"

Aku hampir tidak percaya dengan jawaban Nona Nene. Ternyata arus yang dibaca oleh Tuan Yoshitsugu benar. Dia memang hebat.

"Ooh? Ada apa ini?" Tuan Hideyoshi tiba-tiba datang dan masuk ke dalam ruangan.

"Ah, Hideyoshi-sama." Aku bergegas berdiri dan membungkukkan badan.

Tuan Hideyoshi tertawa lebar. "Suzu memang gadis yang santun. Tapi, bukankah sudah pernah kubilang? Kau sudah seperti anak bagi kami, seperti Mitsunari dan yang lain. Jadi kau tidak perlu terlalu formil padaku dan Nene."

Tuan Hideyoshi memang baik hati, aku benar-benar bersyukur berada disini bersama mereka semua. Aku tak pernah menyangka mereka akan menganggapku seperti keluarga. Selama ini aku selalu mengira bahwa diriku hanyalah beban bagi mereka, tapi dugaanku salah besar.

"E-Err... tapi kalau kau mau. Mungkin bukan sebagai anak tapi sebagai..." Tuan Hideyoshi mendehem kemudian mengeluarkan suara tawa yang entah kenapa terdengar mengerikan oleh telingaku. "Gadis seperti Suzu memang jarang ditemukan, ya! Rambut putih perak seperti seorang dewi dan mata merah lebih indah dari batu rubi, lalu kulit putih seperti pualam. Tak salah Azai sering memanggilmu 'Shirousagi'!"

Aku mengernyitkan alis. Yah, memang Tuan Hideyoshi sangat baik. Tapi sisi dari dirinya inilah yang... kurang kusukai dari Tuan Hideyoshi. Tapi aku tahu beliau bukan orang yang jahat.

"Omae-sama~? Ternyata kau punya nyali juga menggoda perempuan sedangkan aku tepat berada di dekatmu?" Nona Nene mencubit lengan Tuan Hideyoshi dengan meninggikan nada suaranya yang kesal.

"Aduduh! M-Maafkan aku, Nene! Aku tidak sengaja!"

Aku sudah terbiasa dipanggil dengan nama 'Shirousagi'. Meskipun demikian, aku masih tidak menyukai nama panggilan itu. Nah, daripada memikirkan itu... "Um, aku harus bersiap-siap dulu. Mohon permisi." Aku bergegas meninggalkan ruangan setelah memberi hormat.

"Aaah! Suzu, tunggu dulu!" Pekik Tuan Hideyoshi.

"Omae-sama! Jangan menggoda Suzu-chan atau aku akan menghukummu!"

"Hiii! M-Maaf, Nene!"

Disaat aku hendak berjalan menelusuri lorong istana. Tidak sengaja aku hampir menabrak seseorang yang berdiri di dekat pintu. "Ah."

"Na-!?"

Ternyata orang yang berdiri di dekat pintu itu adalah laki-laki yang bersurai coklat sebahu dengan raut wajah khasnya yang tidak mau akrab dengan orang lain. Aku menghela napas. "Mitsunari-san, menguping itu bukan pekerjaan yang pantas untukmu."

"Bodoh, aku tidak menguping. Aku hanya mau bertemu dengan Hideyoshi-sama." Jawabnya dingin seperti biasa.

"Oh. Kalau begitu maaf." Aku menaikkan kedua bahuku kemudian terus berjalan meninggalkannya.

"Tunggu."

"Hm?" Aku berhenti lalu menoleh.

"Apa benar kalau kau akan pergi ke Nagashino?" Mitsunari membalikkan badan.

Dia sudah tahu kalau aku akan pergi ke Nagashino rupanya, atau dia memang menguping dari tadi? "Ternyata kau memang menguping, ya?"

"Sudah kubilang aku tidak menguping. Aku hanya kebetulan mendengar pembicaraanmu dengan Onene-sama."

"Lalu? Memangnya kenapa kalau itu benar?"

Mitsunari melipat kedua tangannya. "Lebih baik kau hentikan niatmu itu. Kau hanya akan menjadi beban."

Aku mengernyitkan alis. "Ah, benarkah? Terima kasih atas peringatannya tapi aku akan tetap pergi. Jangan ikut campur urusanku, Mitsunari-san."

"Shiraishi!" Sorot matanya berubah tajam, ia terlihat mulai naik pitam.

"Mitsunari-san, kumohon sekali saja. Bisakah kau mengubah cara kau menilai orang? Jika kau terus seperti ini, kau akan sial. Aku bukan mengancam, aku hanya memperingatkanmu."

"Apa yang kau bicarakan?" Nada suaranya terdengar berat.

Aku menghela napas lagi. "Dasar, apa kau tidak mengerti? Kau selalu saja berprasangka buruk bahkan pada orang di dekatmu. Baru saja kau bilang, aku hanya akan menjadi beban jika aku ikut pergi ke Nagashino? Bodoh, tentu saja aku sadar akan hal itu! Lagipula tidak mungkin kalau aku membiarkan hal itu terjadi! Aku akan ikut bertarung demi membantu Hideyoshi-sama."

Benar, mungkin aku belum yakin untuk apa aku pergi ke Nagashino. Namun selain demi diriku, aku juga akan bertarung demi membantu Tuan Hideyoshi. Akan kulakukan apapun untuk membalas kebaikan mereka. Untuk saat ini, hal itulah yang ingin kulakukan.

Kedua matanya melebar, ia kesulitan menjawabku. "Diam kau! Aku hanya..."

"'Hanya', apa?" Balasku menatapnya tajam. "Kenapa? Apakah sangat sulit untuk mengatakannya?"

Ia membuang muka kemudian berjalan meninggalkanku. "Mitsunari-san. Biar kuberitahu kau, jika aku sudah dianggap menjadi beban bagi Hideyoshi-sama. Aku akan pergi dari sini. Tentu saja, orang yang berkepribadian sombong sepertimu tidak mungkin peduli apa yang akan terjadi pada diriku. Tapi jujur saja, aku tidak membencimu, Mitsunari-san. Tapi aku membenci sifatmu." Ia berhenti berjalan namun tidak menoleh kearahku.

Ah, gawat. Aku kelepasan, aku berbicara terlalu banyak. Tapi kuharap dia mulai terbuka setelah mendengar perkataanku. Sungguh, aku tidak tahan dengan sifatnya. "Permisi." Aku kembali melangkahkan kaki meninggalkan laki-laki itu.

"Aku hanya... -askanmu..." bisiknya.

Apa? Baru saja dia bilang apa? Kenapa nada suaranya berubah pelan? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Mataku melirik sekilas tangannya dikepalkan.

Entah mengapa perasaanku mengatakan bahwa dia tidak bermaksud mengatakan itu. Tapi tetap saja, kenapa mengatakan hal jujur sangat sulit baginya?

"...sungguh. Entah bagaimana caranya agar aku bisa mengerti dirimu, Mitsunari-san." Ucapku lagi sebelum pergi meninggalkannya.

-XxX-

Malam pun datang. Pasukan Oda telah berangkat menuju Nagashino. Mungkin jika aku menyusul mereka sekarang kurasa tidak ada yang bisa kulakukan, jadi aku akan tiba disana besok pagi. Lagipula, aku sudah sering pergi sendirian untuk mencari informasi atau memata-matai musuh.

Aku mengumpulkan senjata sekunderku seperti ningu dan ofuda. Sepertinya aku tidak akan terlalu sering menyerang pasukan musuh. Lagipula, kemampuan yang kumiliki lebih condong pada melumpuhkan dan mengecoh musuh. Aku benci membunuh.

Aku tahu dunia saat ini hanya penuh dengan pertikaian yang sangat sulit dihentikan. Jika musuh dibiarkan hidup, mereka pasti akan kembali menyerang. Karena itu mereka lebih baik dibunuh. Yang bertahan hidup adalah pemenang, sedangkan yang mati adalah yang kalah.

Tetapi aku tidak seperti para prajurit. Bagiku membunuh hanyalah memusnahkan kebahagiaan seseorang yang telah dibunuh. Selamanya, mereka akan meninggalkan hal yang mereka lindungi. Seperti, keluarga.

Aku tahu bahwa diriku pernah membunuh, aku tidak mengerti apa aku menyesalinya atau tidak. Waktu itu, kedua orangtua dan bibiku terbunuh, namun rasa dendam dan amarah tidak menuntaskan kepuasan diriku, tidak ada gunanya. Aku hanya perlu terus berjalan sampai aku menemukan pintu yang kucari. Membalas budi pada Tuan Hideyoshi dan Nona Nene, kurasa itu sudah menjadi cara yang layak untuk kujalani. Untuk sementara, kurasa itu tidak ada salahnya.

... ...

Tapi, apa tidak ada cara untuk menyelamatkan semua orang di negeri ini? Apa memang harus mengorbankan nyawa? Andai saja aku bisa menulis ulang kembali dunia ini. Hah, yang benar saja. Hal seperti itu tidak mungkin ada di dunia ini.

...kurasa aku terlalu naif. Bukan, aku memang naif. Rasanya aku tidak pantas hidup di dunia seperti ini. Aku tidak ingin menghadapi penderitaan yang terus berulang. Tapi bagaimana?

"Lebih baik kau hentikan niatmu itu. Kau hanya akan menjadi beban."

Kalimat Mitsunari terulang di dalam kepalaku. Dia benar, kurasa hal yang ingin kucapai tidak akan berjalan mulus. Aku bisa menjadi beban untuk Tuan Hideyoshi. Walaupun Mitsunari benar, aku hanya perlu melakukan yang terbaik. Jika aku dianggap penghalang, akan kuusahakan untuk tidak menjadi penghalang, atau mungkin aku akan pergi. Jika tidak, aku akan tetap tinggal. Yang penting adalah sekarang, sesuatu yang akan datang bisa kupikirkan pada saat itu juga. Semoga saja kami menang, lalu aku bisa menemui Tuan Takatora. Setelah itu, aku akan minta maaf pada Mitsunari.

"...!?" Tiba-tiba sebuah anak panah hendak mengarah padaku. Beruntung, tanganku langsung menangkap anak panah tersebut yang hampir menusuk mata kananku. Dadaku tiba-tiba terasa sesak, rasa takut dan cemas mempermainkan perasaanku.

Apa ada seseorang yang mengincarku? Tapi mengapa? Siapa yang melakukan ini?

Baru kusadari, terdapat sebuah kertas yang diikat pada ujung bawah anak panah. Aku segera mengambil surat itu, berharap mengetahui siapa yang melakukan ini padaku dan juga motifnya.

...

Setelah membaca isi surat tersebut, tubuhku bergemetar. Tidak terdapat nama pengirim pada surat tersebut. Disana hanya tertulis sebuah perintah yang diarahkan padaku. Aku tidak ada sangkut pautnya dengan Mochizuki Chiyome. Hanya mendiang bibiku. Tapi mengapa ia memberiku sebuah misi?

Tanpa berpikir lebih jauh, aku langsung membakar surat itu. "Yang benar saja, dia pikir aku akan menuruti perintahnya?" Gumamku seraya meratapi surat tersebut terbakar hingga menjadi abu.

Sudah kuputuskan, aku akan pergi ke Nagashino untuk menemui 'orang itu'.

-XxX-

Tōdō Takatora's POV

"Berdiri di medan perang yang sama bersama Nona, membuat saya teringat akan kenangan yang kita habiskan bersama Nagamasa-sama." Ucapku setelah membungkukkan badan sebelum berhadapan dengan Nona Oichi.

Nona Oichi tersenyum ramah. "Senang mendengarnya. Aku sangat bersyukur Nagamasa-sama memiliki bawahan yang sangat setia padanya."

Sejujurnya aku cukup terkejut ketika melihat beliau tersenyum. Ia masih bisa berjalan maju tanpa menyesali semua yang telah terjadi pada mendiang suaminya. Nona Oichi memang wanita yang kuat.

"Namun saat ini rasanya memalukan muncul di hadapanmu, Oichi-sama. Saya pernah mengatakan bahwa saya tidak akan tunduk pada Oda..."

Nona Oichi menggeleng pelan. "Tidak. Lagipula kau sudah mengikuti keinginan Nagamasa-sama untuk tetap hidup. Itu sudah menjadi tanda bahwa kau bersedia menumbuhkan kesetiaanmu. Omong-omong, kudengar saat ini kau mengabdi pada salah satu bawahan Oda, benar?"

"Ya, benar. Sebelumnya saya mengabdi pada mantan bawahan Azai. Sekarang saya telah menjadi pengikut Nobusumi-sama."

"Begitu ya. Apakah beliau memperlakukanmu dengan baik?"

Aku terdiam sejenak. "...Sejujurnya, masih banyak hal yang harus kupelajari demi mendapat kepercayaan pada Nobusumi-sama. Karena itu saya akan terus berjuang agar beliau bisa percaya padaku."

Wanita itu menyempitkan alis, terlihat jelas bahwa beliau cemas. "Apa benar kau baik-baik saja, Takatora?"

"Kumohon tidak perlu cemas padaku, Nona. Aku akan melakukan apapun demi mendapatkan kepercayaannya." Aku berharap ia mengubah raut wajahnya yang cemas menjadi lega, tapi sama sekali tidak berubah. Aku merasa tak pantas mendapatkan rasa peduli dari Nona Oichi. "Oichi-sama, saya mohon pamit. Saya harus segera bersiap-siap, perang akan dimulai sebentar lagi."

"Baiklah."

-XxX-

Ratusan pasukan kuda berusaha menerobos untuk mengalahkan pasukan Oda. Sebagai prajurit, aku tidak melihat salah satu diantara mereka yang memasang wajah ketakutan menghadapi resiko. Menang atau kalah, mereka siap mati kapan saja. Mereka semua yakin bahwa arus berpihak pada diri mereka.

"Tembak!" Perintah Akechi Mitsuhide. Pasukan bersenjata api yang mendapat giliran langsung menembak pasukan berkuda di hadapan mereka, beberapa ada yang meleset. Namun lebih banyak yang tepat mengenai prajurit dan kuda. Takeda memang memiliki keunggulan dalam pasukan berkuda. Walaupun demikian, sekuat apapun mereka pasti memiliki kelemahan. Satu persatu diantara mereka jatuh, juga ada yang mati seketika. Setelah pasukan bersenjata api depan selesai menembak, mereka segera mengisi ulang peluru. Berikutnya barisan kedua langsung bersiap siaga menunggu aba-aba. Memang taktik yang cocok untuk melawan pasukan berkuda yang memiliki kelemahan pada pertahanan.

"Mundur!" Seru salah satu jenderal. Sepertinya markas utama akan aman, meski saat ini lebih dari sebagian besar pasukan Oda menyerang ke arah selatan menuju Gunung Tobigasu. Nobunaga tidak bisa diremehkan. Aku yakin ia telah menyiapkan taktik yang licik.

Sementara para pasukan berkuda fokus untuk melawan Oda. Aku mendampingi Tuan Nobusumi menuju Gunung Tobigasu untuk mengambil alih kembali Istana Nagashino. Beruntung, pertahanan pintu masuk menuju Gunung Tobigasu kurasa bisa diterobos, berkat jumlah pasukan Oda yang jauh lebih banyak dari Takeda.

"Nobusumi-sama, saya akan pastikan membawa keberhasilan perang ini untukmu."

"Hmph, jangan banyak mengoceh. Lakukan tugasmu sekarang." Sahutnya dengan lantang.

"Ya, Tuanku." Meski ia berbeda dengan Tuan Nagamasa, aku hanya harus menyesuaikan diri agar beliau dapat mempercayaiku. Apapun rintangan yang kuhadapi, aku akan melewatinya tanpa menyesali satu hal pun.

Aku menarik pedangku dari sarung lalu segera maju menerobos para pasukan Takeda. Beruntung tak ada pasukan berkuda yang menjaga pintu masuk menuju Gunung Tobigasu.

Entah darimana datangnya, mataku langsung terarah pada pasukan musuh yang mati seketika. Kulihat leher mereka tertusuk sebuah jarum. Dari semua prajurit yang menyerang menuju Gunung Tobigasu, aku tidak melihat satu orang pun shinobi. Apakah ia sedang bersembunyi?

"Takatora! Apa yang kau lakukan!?" Aku menoleh ke belakang melihat beberapa prajurit bersiap menghadang Tuan Nobusumi. "Cepat tolong aku!" Perintahnya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengalahkan musuh yang menyerang Tuan Nobusumi. "Dasar! Apanya yang 'membawakan kemenangan', kau hanya pria bermulut besar. Kau lengah, kau mengabaikan Tuanmu diserang-!" Bentaknya.

"Maafkan saya, Tuanku. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Ucapku sambil membungkuk dalam meminta permohonan ampun.

"Hmph." Ia langsung maju mendahuluiku, terlihat jelas bahwa dia masih belum mau mempercayaiku. Meski demikian, beliau masih masih memberiku kesempatan untuk melaksanakan tugasku.

Melihat pasukan Takeda yang mati seketika yang dikarenakan leher mereka tertusuk dengan sebuah jarum mematikan. Aku tidak tahu apakah Oda memiliki shinobi.

Lalu, siapa dia?

Aku menggeleng, sekarang tidak saatnya untuk mencaritahu keberadaan shinobi itu. Bagaimana pun juga dia telah membantu mengalahkan pasukan Takeda. Kurasa aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku kembali maju melindungi Tuan Nobusumi.

-XxX-

-XxX-

A/N : Oke. Sebelum itu saya mau kasih tau kalau saya gak bisa update Profile saya lewat hp. Jadi saya kasih aja informasi mengenai nak Suzu dibawah ini.

Name : Shiraishi Suzu (白石 鈴), saya sengaja tukar letak nama karena terdengar lebih enak kalau dibaca dari nama keluarga dulu. Jadi yeah, nama keluarganya Shiraishi.

Personal Item / Heirloom : Small bell (Suzu)

Birth year : 1561, sama dengan Kiyomasa, Masanori dan Naomasa. Tanggal belum saya tentukan, tapi kalau soal zodiak mungkin aku pilih Sagitarius.

Desired Seiyuu : Takahashi Rie, atau mungkin Hanazawa Kana juga cocok? Kalau Shitaya Noriko? Lol hard to choose.

Weapon : Bladed Boots. Senjata mbak coretoppaifanservicecoret. Tambahannya kalau di fanfic adalah ningu alias ninja items seperti grenade, shuriken, kunai, smoke bomb, etc. Plus! Ofuda, biasanya miko pakai itu. Bisa dibilang kalau Suzu itu setengah miko dan setengah ninja wkwkwk. Yah, anggap aja nak Suzu itu gabungan Ayame dari Tenchu sama Reimu Hakurei dari Touhou wkwkwk. *ngawur-plak*

Height / Weight : 160 cm / 48 kg

B/W/H : B85/W57/H83

Personality : Berusaha menganggap dirinya normal, karena kurang percaya diri dengan rupa fisiknya yang sering dianggap seperti kelinci putih. Memiliki harga diri yang rendah dan sikap sederhana. Akan marah ketika ia peduli, namun sulit marah pada orang yang ia sayangi. Tidak bisa menyembunyikan perasaan, ia lebih memilih mengeluarkannya daripada menahannya.

Natural Enemy : (COMING SOON. Saya kasih hint aja deh. 'CHAOS'. Mungkin udah bisa nebak dari kata yang satu itu lol)

Hobi : Memandang langit. Lebih sering saat malam hari membuat dirinya seperti Tsuki no Usagi alias kelinci bulan. Plus membaca atau mendengar cerita dongeng.

Kelemahan : Payah dalam memasak dan menjahit, tergantung keberuntungannya. Hanya bisa membuat mochi dan manju (makanan kesukaan Takatora).

Keahlian : Memata-matai, mencari informasi, membunuh diam-diam, membuat omamori.

Hal yang disukai : Bulan dan dango. Yeah, OC utama saya dari fandom sebelah menyukai bulan juga ohoho. Lagian kebetulan di costume-nya di SW4-II kebanyakan ada lambang bulan sabit, so yeah.

Oke! Itulah data (sementara?) nak Suzu.

Btw, apa cuma saya yang disini gak suka dengan Mitsunari? Setahu saya di sejarahnya dia gak segitu cerdas. Dia sombong, yang parahnya dia sendiri gak mau orang lain ngatur taktik, kemudian selalu utamain Fair and Square. I mean come on, ini perang lho. Hal yang macam itu malahan jadi titik kelemahan dan bisa dimanfaatin musuh kan? Honestly, he's a fool, from my opinion. Ieyasu lebih hebat. Plus, dia kalah lawan Kaihime, astaga. Ah udah deh, saya malah banyak bacot disini. Tapi kalau ada yang fans Mitsundere *uhuk* disini, maaf kalau ucapan saya agak... bikin kalian marah or something. Beribu maaf, beneran. Tapi gak perlu khawatir, saya usahakan Mitsundere gak OOC di fic ini. *plak*

Sampai jumpa di chapter berikutnya!