A/N : Maaf telat, gegara gak punya kuota dan mood yang bagus buat ngetik. Welp, enough about me. Mari langsung balas review!
-RosyMiranto (Guest)
Suzu : *baca suratnya* Lu...Bu? Maksudnya Bulu?
Scarlet : Nak...Pffft.
Blossom : *LOL*
Suzu : Ah ya. Sebenarnya aku hanya tidak suka dipanggil kelinci. *glare author*
Scarlet : *pura2 gak liat* D-Di Basara, Mitsunari itu juga tsundere ya!? Uhuek... Aku kurang suka sama karakter tsundere... rasanya mainstream.
Blossom : Terus, Toyotomi Sanbaka? Bwahahaha! Iya juga ya!
Mitsunari, Kiyomasa : Oi.
Masanori : Haaah!?
Suzu & Takatora : *tutup telinga*
Blossom : Yosha! Terima kasih banyak atas review-nya! Ureshii yo!
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me.
Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?) *plak*. Mohon maaf atas kesalahannya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XxX-
Bell of the White Hare
-XxX-
CHAPTER 4-A
No Reason to Live
-XxX-
Dirinya hanyalah seorang ashigaru, hanya sekedar bushi kelas rendah yang kehilangan arah tujuan. Tak ada pilihan yang lain yang pantas untuk seorang Tōdō Takatora selain mempertaruhkan nyawa demi mendukung Tuannya untuk mencapai mimpinya. Meski ia menganggap dirinya hanyalah bushi kelas rendah, ia memastikan hidup serta nyawanya berguna demi mencapai perdamaian negeri yang hancur itu. Hanya itu. Tak pernah mengeluh mengenai kehidupan yang selalu mengincar nyawanya. Karena ia percaya bahwa itulah jalan kehidupan yang pantas ia tempuh.
"Kau sangat keras kepala, Takatora. Setidaknya di medan perang yang akan datang kau harus memikirkan keadaan dirimu. Dengan luka sebanyak itu, seharusnya kau sudah tidak bisa bertahan hidup," Yoshitsugu melipat tangannya. Seperti biasa, Takatora tak dapat melihat dengan jelas raut wajahnya yang ditutup dengan kain putih. Namun beruntung ia dapat melihat sorot mata dan alisnya.
"Luka ini pasti akan hilang, aku tidak akan berhenti sampai Nagamasa-sama mencapai mimpinya. Beliaulah yang pantas untuk mengakhiri kekacauan ini. Karena itu aku harus berjuang lebih keras."
Yoshitsugu mendengus. "Memang. Tapi kusarankan kau bergerak dengan tenang mengikuti arus."
Takatora hanya diam mendengar ucapan teman seperjuangannya, dia memang benar. Ia mulai menyadari dirinya terlalu terburu-buru. Meski begitu, bagaimana pun juga Takatora yakin, kedamaian itu pasti akan datang berkat Tuannya, Azai Nagamasa. Takatora menganggap bahwa dialah adalah orang yang paling pantas untuk menyatukan negeri yang terpecah belah ini. Ia memiliki kharisma serta kepemimpinan yang berbeda dari Oda Nobunaga. Bayangan akan masa depan yang dikuasai oleh Nagamasa adalah impiannya. Ia ingin melihatnya. Karena itu, Tōdō Takatora mempercayai bahwa hal kecil atau besar seperti perang pun pasti akan berakhir.
Pada larut malam, semua prajurit telah tertidur pulas di dalam tenda. Kecuali Takatora yang tak bisa mengistirahatkan tubuh serta pikirannya dengan tenang.
Takatora mengedipkan kedua matanya. Penglihatannya menangkap sebuah figur yang mungil. Gelapnya malam yang hanya disinari cahaya keperakan bulan masih belum cukup baginya untuk melihat sosok figur itu, ditambah tudung hitam yang menutup kepala dan sebagian wajahnya membuat Takatora semakin kesulitan. Tangannya mengusap lengan pemuda itu dengan pelan. Ashigaru yang tengah terbaring lemah tersebut yakin bahwa dia adalah anak perempuan. Ia mencoba untuk pura-pura tidur dan membiarkan gadis kecil itu menyentuh lukanya yang telah dibalut dengan perban. Ketika pria itu membuka sebelah matanya dengan perlahan, ia masih tak dapat melihat rupa wajahnya meski anak itu sudah berada di tepat samping kepalanya dengan posisi duduk bersimpuh.
"...Astaga, lukanya parah sekali." Dari suaranya, Takatora mulai yakin dia memang anak perempuan. Tapi apa yang dilakukan anak-anak sepertinya disini? "Tapi syukurlah Tuan masih hidup. Seorang ksatria tidak mudah menyerah begitu saja ya." Kemudian gadis itu tertawa kecil. "Tuan benar-benar mirip seperti cerita dongeng yang pernah kubaca. Ah, bukan. Pasti lebih dari itu..."
'Apa dia berbicara sendiri atau sudah sadar bahwa aku memerhatikannya?' batin Takatora. Ia mengubah posisinya agar dapat bertatapan dengan gadis kecil itu. "Kau-"
"...!" Ia terkejut kemudian dengan panik keluar dari tenda. Tiap langkahnya diiringi dengan suara bel yang terdengar pelan. Takatora membiarkan gadis kecil itu pergi.
'Mengapa gadis kecil sepertinya berada di tempat berbahaya seperti ini? ...Kurasa tidak perlu mencemaskan masalah sepele, aku yakin dia akan pulang. Jika aku mengejarnya, kondisi tubuhku akan memburuk. Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku sudah memutuskan untuk menggunakan nyawa serta tenagaku dengan sepenuhnya untuk mencapai perdamaian.' batin Takatora lagi seraya kembali berbaring.
'...seorang ksatria tidak mudah menyerah begitu saja ya.'
Pemuda itu mengingat kembali bagaimana nada suara serta kalimat yang diucapkannya tadi. Ksatria, 'kah? Takatora mendengus. 'Anak-anak memang menyukai cerita dongeng dan mudah sekali mempercayainya. Yah, aku tidak mengatakan bahwa itu hal yang seperti itu salah.'
Perempuan itu entah mengapa selalu berada dalam pikiran ashigaru tersebut. Pertama-tama, mengapa perempuan itu menganggap dirinya seperti seorang ksatria hebat yang pantang menyerah? Dirinya memang tidak pernah berniat untuk menyerah. Namun itu terdengar seolah-olah dia telah mengamati bushi kelas rendah seperti dirinya sehingga ia menganggapnya seperti seorang ksatria hebat.
Namun sayang, Takatora menganggap dirinya bukanlah orang seperti ksatria pada cerita dongeng.
Setelah perang di Sungai Anegawa berakhir. Sekali lagi, Takatora menemui anak itu. Namun dia tak menyadari bahwa dialah gadis yang sama pada waktu itu. Takatora tak pernah melupakan wajah dan suara seseorang yang telah ia temui, namun hanya dirinya yang tak bisa ia ingat.
"Permisi. Maaf menganggu, Tuan."
Gadis kecil itu mengenakan hakama merah gelap dan haori putih, serta pita merah pada sisi kanan atas kepalanya. Gadis bersurai perak dengan manik merah delima itu memangku tangannya, ia mendekati Takatora dan Yoshitsugu. "Anu, Tuan diminta untuk menghadap pada Nagamasa-sama sekarang."
'Apakah aku sedang berhalusinasi? Ini pertama kalinya aku menemui anak perempuan ini. Namun sepertinya aku pernah mendengar suaranya...' batin Takatora menatap lurus anak perempuan tersebut. "...baiklah." Takatora langsung membuang firasat tersebut.
Anak itu tersenyum. "Aku akan mengantarkan Tuan ke dalam istana. Mari."
Setiap ia melangkah, Takatora mendengar suara lonceng kecil. Dia dan Yoshitsugu mengikuti anak itu menuju Istana Odani. Sepanjang jalan, pikirannya memastikan apakah dia yang pernah menemuinya malam itu.
"Ada apa, Takatora? Kau mengenal anak perempuan ini?"
Gadis berkepala putih keperakan itu meloncat kaget ketika pertanyaan Yoshitsugu mengarah tentang dirinya.
"...tidak. Mungkin hanya bayanganku."
Kemudian anak itu menghela napas.
Sesampainya di dalam Istana Odani, dia mengantar mereka sampai di depan sebuah ruangan. Anak itu duduk di depan shoji kemudian menggesernya dengan pelan. "Nagamasa-sama. Mereka sudah datang," ucapnya seraya menunduk dalam.
"Ah, terima kasih. Suruh mereka masuk." jawab Nagamasa dari dalam ruangan dengan ramah. Ia duduk bersama istrinya yang juga merupakan adik perempuan dari Oda Nobunaga, Oichi.
Anak itu mempersilahkan mereka masuk. "Silahkan, Tuan-tuan." Kemudian ia kembali menutup pintu shoji dan mengundurkan diri. Dua pemuda itu segera menunduk dalam pada pemimpin klan Azai tersebut.
"Tōdō Takatora, Ōtani Yoshitsugu. Aku ingin memberikan penghargaan atas keberanian kalian di Anegawa."
Dua pemuda itu terkejut, tuannya baru saja menyebut nama mereka. Selain itu, dia bahkan hendak memberikan penghargaan pada mereka. "Nagamasa-sama, Tuan telah melihat prajurit berpangkat rendah seperti kami?" ucap Takatora masih menundukkan kepala.
"Keberanian adalah keberanian, tanpa memandang posisi. Seorang Tuan sudah sepatutnya menyediakan penghargaan pada bawahan yang telah bekerja keras dan memberanikan diri."
Perasaan puas dan senang menyelimuti diri mereka. "Terima kasih banyak, Tuan! Saya akan pastikan membalas kebaikanmu bahkan dengan nyawa ini sekalipun."
Nagamasa tertawa. "Senang mendengarnya, Takatora. Tetapi, bertahan hidup juga merupakan kesetiaan. Jadi, karena itu kau harus tetap hidup di dunia ini. Dan mengubahnya menjadi dunia yang damai, itu semua dimulai dari pendekar muda seperti kalian."
Takatora mengangkat kepalanya, ia tersenyum penuh syukur. Ia kembali menundukkan kepala. "Baik, Nagamasa-sama!" Pengorbanannya selama ini tidaklah percuma. Hasilnya ia telah mendapatkan kepercayaan dan perhatian dari Tuannya.
Setelah pamit undur diri, Takatora dan Yoshitsugu kembali menemui anak perempuan bersurai putih keperakan. Nampaknya ia menunggu mereka berdua. Seulas senyuman menghiasi wajahnya. "Ah, selamat atas penghargaannya, Tuan!" Anak itu bergegas mendekati mereka seraya mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya.
"Ah, ya." jawab Takatora singkat. Anak perempuan itu meraih tangan Takatora dan membuka telapak tangannya. "Hm?" Ini...?
"O-Omamori! U-untuk Tuan!" ucapnya terbata-bata. Setelah itu ia juga memberi omamori pada Yoshitsugu. Setelah itu ia mundur beberapa langkah kemudian membungkukkan badan lalu bergegas pergi.
Takatora menatap kepergian anak itu dengan tatapan kebingungan. Ia menyimpan jimat perlindungan tersebut di balik kantong mantelnya. Takatora melirik kearah temannya yang terkekeh pelan. "Kenapa kau tertawa, Yoshitsugu?"
"Aku yakin kau tahu seperti apa mata anak tadi melihatmu. Kurasa dia mulai mengagumimu. Atau mungkin, menyukaimu?"
Takatora menghela napas. "Apa kau sedang mempermainkanku lagi? Jika itu benar, memangnya kenapa?"
Yoshitsugu mendengus pelan. "Akan lebih baik jika kau menemukan jawabannya sendiri." Takatora hanya menaikkan bahunya lalu pergi.
Mengagumi? Dirinya tahu itu tidaklah salah. Namun baginya, ia tidak pantas ditatapi dengan mata tersebut.
-XxX-
Suzu belum bergeming dari posisinya, ia berdiri diatas dahan pohon. "Seperti yang telah Yoshitsugu-san perkirakan, Takatora-san ikut serta dalam perang di Nagashino. Beruntung aku bisa melindungi Takatora-san tanpa sepengetahuannya dari belakang. Jika ia tahu, aku akan membebaninya..." gumam gadis bersurai perak tersebut. Penglihatannya menulusuri setiap pasukan yang berada di posisi masing-masing. "Semangat juang Takeda menurun drastis, berkat Istana Nagashino yang telah diambil alih dan juga pasukan berkuda yang diserang habis-habisan dengan pasukan teppou. Dilihat dari jumlah korban Takeda yang kira-kira hampir mencapai sepuluh ribu. Aku yakin Oda dan Tokugawa berhasil memenangkan perang ini."
Suzu kemudian berpindah untuk mencari pohon yang lebih tinggi agar ia dapat melihat lebih jauh. Penglihatannya menangkap ratusan pasukan berkuda kembali menyerang. Namun kali ini mereka mengubah strategi yang awalnya mengincar Nobunaga, tapi sekarang mereka berniat menyerang markas utama Tokugawa. "Mereka ingin mengubah arus, 'kah? Tokugawa yang hampir kehabisan pasukan serta tenaga sepertinya akan sulit untuk menahannya. Sebaiknya aku mencoba untuk menahan pergerakan pasukan berkuda milik Takeda itu sebelum pasukan bala bantuan datang." Suzu bergegas turun dari pohon untuk segera keluar dari hutan.
"...!?" Tiba-tiba Suzu mengelak seketika sebuah houroku-hiya mengarah padanya. Sebelum berpikir panjang, Suzu segera menjauh sebelum bom itu meledak.
Beruntung ledakannya tidak keras dan merubuhkan pohon. Suzu menghentakkan kedua kakinya agar sebuah pisau kecil keluar dari sepatunya. Ia mencoba menebak dimana orang yang tengah bersembunyi yang mencoba mengincar dirinya. "Menjadi serigala yang kelaparan tidak cocok untukmu. Kelinci tetaplah kelinci."
Suzu tidak mengenali suara wanita itu. Bahkan ia belum menampakkan dirinya di hadapannya. Dia tak dapat menebak dimana keberadaan wanita yang sedang berbicara dengan dirinya. Tetapi ia yakin bahwa wanita itulah yang mengirimnya sebuah pesan sebelum perang Nagashino dimulai.
"Oh, hebat. Apa sekarang kau mengincar kepalaku?" gerutu Suzu sambil berusaha menebak dimana wanita itu bersembunyi. "Lagipula kau seenaknya saja memberiku perintah padahal aku tak memiliki hubungan dengan Mochizuki Chiyome."
"Kau benar. Tapi bukankah mendiang bibimu adalah bawahan dari Chiyome-sama? Wajar saja 'kan jika aku menyuruhmu untuk menjalankan tugas yang telah ditinggalkan oleh bibimu."
"Hei, yang benar saja. Kau pikir aku akan menerima perintahmu? Kau memiliki kebiasaan buruk." jawab Suzu.
Wanita itu terkekeh. "Jawaban yang menarik."
"Dasar. Lebih baik sekarang kau keluar dan berhentilah menjadi tikus."
"Nah, akan lebih baik jika kau bermain denganku sebentar, kelinci. Tak perlu mengkhawatirkan Tokugawa, kau bukan prajurit yang ingin membuat namamu dikenal oleh negeri ini, bukan?"
"Alasan yang bagus. Kurasa kau benar..." jawab Suzu setelah menghela napas panjang. "Tapi aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu, penguntit. Kembalilah pada Chiyome-sama kesayanganmu itu."
Wanita itu mendengus. "Menjadi bawahan salah satu pengikut Hideyoshi, aku penasaran kenapa kau mengabdi pada mereka. Seharusnya kau dendam pada mereka yang telah menjadi penyebab mendiang bibimu mati."
Gadis berkepala perak menggeram pelan. Mengapa wanita licik itu selalu membicarakan dirinya, batin Suzu. "Bisakah kau jelaskan apa tujuanmu?"
"Meski mereka telah menyelamatkan nyawamu, merekalah penyebab bibimu mati. Kau telah memilih jalan yang salah. Tidakkah kau pernah berpikir bahwa mereka hanya mencari cara agar kau tidak menaruh dendam pada mereka. Dunia ini tidak seindah yang kau bayangkan. Kau terlalu naif. Kau seharusnya sudah mengerti, Suzu."
"Apa?"
"Kau lemah dan bodoh. Jalan yang kau pilih hanya akan mengarah pada kematian. Keberadaanmu dan kematian orang yang kau sayangi adalah hal yang sia-sia."
Kedua mata Suzu terbelalak melebar.
Wanita itu tertawa pelan lagi. "Aku benar, 'kan? Semua kebahagiaanmu bersama mereka tidak akan terulang lagi. Takdir tak bisa disentuh, takdir telah ditentukan. Kebahagiaanmu hanyalah hal yang sia-sia. Kebahagiaanmu hanyalah kebohongan."
Tidak. Tidak. Tidak.
Tidak. Ia tidak ingin mempercayainya. Suzu mencengkram tudung kepalanya dengan erat. "Diam... Diam!"
"Semuanya telah tertulis di batu. Perang yang tiada akhirnya. Jika ini terus terjadi, satu orang pun tak akan terselamatkan. Kau, aku, dia, mereka, kita. Meski manusia tak dapat berdiri sendiri, membutuhkan uluran tangan dari seseorang. Pada akhirnya kau akan sendirian. Semuanya percuma. Tak ada artinya."
"Kubilang diam!" bentak Suzu melempar kunai dari segala arah. Kedua bola matanya langsung terarah pada bayangan yang bergerak dibalik pohon. Tanpa berpikir panjang, Suzu langsung menerjang. Namun sayang dia tak menangkap wanita itu.
"Kau tidak tahu apapun dan hanya bisa meluapkan semuanya. Padahal pintu untuk kau melarikan diri dari dunia ini terbuka lebar untukmu dari awal. Aku akan membuatmu sadar..."
Rasa penderitaan dan penyesalan kembali mempermainkan hati Suzu, persis seperti saat ia terjebak di Istana Odani. Dia membencinya, namun perasaan itu nyata. Penderitaan kehidupannya yang nyata.
"Dirimu yang terlalu naif dan lemah, telah menyebabkan kedua orang tuamu dan bibimu mati. Dunia ini memang kejam, namun mereka semua mati karena salahmu."
Napas Suzu sesak mendengar ucapan wanita itu. Mulutnya yang sedikit terbuka mencoba untuk menjawab, namun tak sepatah kata pun keluar. Seisi kepalanya mengingat orang yang telah pergi meninggalkannya mati terbunuh.
"Dan Bibimu-bukan, Ryoko. Betapa bodohnya ia membatalkan misinya hanya karena kepercayaan konyol pada Azai. Jika ia berhasil mengakhiri Nagamasa sebelum ia berkhianat, Takeda pasti bisa mengalahkan Oda. Tapi, sudah terlambat. Meskipun sekarang kau berniat untuk tunduk pada Chiyome-sama, kau tak akan pernah bisa." gumam wanita itu.
Mulut gadis bersurai perak itu terbuka, ia mulai angkat bicara. "Apa tidak ada sesuatu yang bisa kulakukan?"
Hening. Lalu wanita itu terkekeh pelan. "Sepertinya kau kehilangan arah tujuanmu dan ingin menebus semua dosamu? Kukira kau tetap ingin membalas budi mereka yang telah menyelamatkan nyawamu saat Istana Odani hancur."
Suzu tahu sebagian besar pengikut Hideyoshi berpendapat bahwa ia adalah orang yang tepat untuk menyatukan seluruh wilayah Jepang. Namun sekarang, gadis itu sudah tidak peduli. "Aku tidak mau terlibat perang."
Wanita itu mendengus. "Lebih dari penebusan dosa, 'kah? Sekuat itukah keinginanmu untuk menemui orang yang kau sayangi?"
Gadis itu tak menjawab.
"Baiklah, kalau itu maumu." Tangan kanannya menangkap sebuah botol kecil berisi cairan hijau. "Bukankah bau obat itu sangat harum? Namun sayang, dari bentuknya saja sudah cukup bisa untuk mengelabui orang yang meminumnya. Sama halnya dengan dengan dunia ini."
Suzu mengedipkan kedua matanya lalu menengadahkan kepala. "Dunia ini...?"
"Kau merasakannya juga, bukan? Seindah apapun suatu hal yang ingin kau lindungi, pada akhirnya akan musnah. Keindahan itu hanya sesaat dan tak akan pernah kembali. Bisa dikatakan keindahan itu mengkhianatimu dan membohongimu." Sosok wanita bersurai hitam muncul dihadapannya, ia memiliki manik kuning keemasan namun tak terdapat secercah cahaya pada matanya. Seperti mata orang yang telah mati. "Permainan yang sangat kejam, bukankah begitu, Shiraishi Suzu?"
Suzu terdiam. Rupa wajahnya hampir mirip dengan dirinya, namun tidak termasuk bola mata emasnya. Apakah sebuah ilusi mempermainkan dirinya? Melihat senyuman yang tersinggung pada wajahnya, perasaan Suzu bercampur aduk. Ia merasa tidak nyaman. "Apakah kau juga kunoichi?"
"Seperti yang kau pikirkan, Shirousagi. Ah, sebelumnya aku belum memperkenalkan diri? Kau bisa memanggilku Kagome." Kedua telapak tangannya meraih wajah Suzu. Suzu membuang perasaan cemas dan tidak nyamannya, berusaha untuk memusatkan tujuan yang ingin ia capai.
"Apa yang harus kulakukan dengan obat ini?"
"Sudah kubilang, bukan? Keindahan yang kau lindungi itu adalah pengkhianatan. Jadi, jika kau masih mengenggam keindahan itu, kau pasti akan putus asa. Karena itu, racun ini..."
"Racun...?"
"Terserah bagaimana kau melakukannya, tapi ini demi Chiyome-sama. Kau harus meracuni adik perempuan Oda."
Kedua mata Suzu terbelalak melebar.
"Aku tidak akan menerima pertanyaan. Tapi aku akan mengatakan satu hal padamu. Percaya atau tidak..." Wanita itu melepas usapan pada wajah Suzu lalu membalikkan badannya. "Ini adalah dunia yang palsu. Kau harus sadar akan hal itu."
Cahaya pada kedua manik merah Suzu perlahan menghilang. Wanita misterius itu tersenyum.
"Nah, apa kau bisa melewati permainan ini, kelinci?"
-XxX-
Ah, dari awal seharusnya aku telah menyadarinya. Menginjak medan perang artinya bersedia mempertaruhkan nyawa dan terluka. Tak hanya itu, kehilangan seseorang yang dekat dengan dirimu, saling membunuh tanpa mengenal rasa kasihan.
Percuma.
Segalanya percuma.
Ternyata dunia yang seperti ini tak cocok untuk diriku.
Aku tak bisa menganggung semuanya. Kenapa? Jawabannya mudah, itu karena aku sendirian. Bergantung pada seseorang pun tak ada gunanya, karena pada akhirnya satu dari mereka akan sendirian. Tak ada yang bisa diselamatkan. Dan tak ada alasan yang pantas bagiku untuk tetap bertarung.
Meski awalnya aku berniat untuk membalas budi pada Tuan Hideyoshi dan Nona Nene yang telah merawatku dengan baik. Tetapi aku melakukannya hanya demi diriku sendiri, sekadar membalas kebaikan mereka sepenuhnya. Ternyata aku melakukannya bukan demi mereka. Tidak kurang, tidak lebih. Namun apapun yang kulakukan meski dimana aku harus memaksakan diriku, semuanya takkan cukup.
Dan segalanya akan percuma.
Lebih baik aku melarikan diri dari awal. Lagipula, semua penderitaan yang kualami selalu mendorongku untuk menyerah. Betapa bodohnya aku baru menyadarinya sekarang. Namun kemana pun aku pergi, aku tidak tahu harus melangkahkan kakiku kemana. Tidak tahu dimana tempat yang aman, dimana bisa berlindung, dan tak ada tempat yang ingin kulindungi dengan segenap hati.
Aku tak memiliki apapun.
Ayah dan ibu mati karena diriku yang lemah.
Bibi juga mati karena diriku yang naif.
Aku tak tahu apapun karena diriku yang bodoh.
Aku tak mau menjalani hidup dengan jalan yang kejam dan menakutkan seperti ini.
Bagaimana aku bisa melarikan diri?
...
Wanita itu bilang, jika aku terus berjuang. Jalan yang kutapaki hanya akan berujung pada kematian. Jika itu benar-
Aku akan...
-XxX-
Klan Takeda sudah berakhir. Meski cukup sulit untuk menghentikan pasukan berkuda dan memutar balikkan keadaan, namun berkat Oda berhasil memenangkan perang.
Meskipun demikian, Tuan dari Tōdō Takatora, Tsuda Nobusumi, sama sekali tidak merasa puas dengan kerja kerasnya. Apa dirinya masih belum cukup? Apa ia melewatkan sesuatu?
Pertanyaan itu seketika menghilang saat mata birunya terkunci pada sosok gadis berkerudung hitam. Melihat helai demi helai rambut perak miliknya, ia mengenal gadis itu. Sudah dua tahun ia tak bertemu dengannya. Tentu ia merasa senang, namun sesuatu yang mengganjal menganggu pikirannya.
"Suzu, sejak kapan kau berada di sini?"
"Aku..." Aneh, dulu biasanya ia selalu melepas kerudung hitamnya setiap ia ingin berbicara dengannya. Namun sekarang semuanya berbeda. Poninya yang panjang membuat Takatora tak dapat bertatapan mata dengan gadis itu. Melihatnya menggigit bawah bibirnya, Takatora menduga bahwa ia dalam masalah.
"...aku... ingin bertemu dengan Oichi-sama." Dari lantunan nadanya, ia mulai curiga. Mengapa dia terlihat begitu takut? Bukan, lebih dari itu. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya, sekuat tenaga untuk menghentikam getaran tubuhnya.
"Katakan, Suzu. Kenapa kau-"
"Kumohon jangan menghalangiku...!" Suzu memotong perkataan pemuda itu dengan meninggikan nada suaranya. Perlahan, Suzu berjalan menghampirinya. Sedangkan Takatora hanya berdiri menunggunya berhenti tepat di depannya. Nafas gadis itu terdengar berat. "Ada sesuatu yang harus kulakukan. Hanya ini, satu-satunya jalanku... jalan kehidupanku seorang."
"Apa yang kau bicarakan-"
Kedua kelopak mata Takatora terbelalak melebar ketika melihat tangan kanan Suzu menggenggam sebuah tantou yang hendak mengarah ke lehernya.
"Eh...?"
Beruntung, Takatora berhasil mencegahnya. Walaupun hasilnya telapak tangannya tersayat cukup parah. Darah segar pun mulai mengalir. Takatora menarik tantou tersebut lalu membuangnya sejauh mungkin.
"Demi apa kau membunuhku?" Tanya pria bermanik biru tersebut dengan tenang dan menatap tajam gadis bersurai perak yang berusaha untuk menghentikan getaran pada tubuhnya. Suzu menjalin kedua tangannya dan menggigit bibirnya lebih keras sehingga darah mengalir dari ujung mulutnya.
"...hanya ini satu-satunya jalan... agar aku bisa bebas." Gumamnya.
"Sudah kubilang, apa maksudmu!?" Takatora meninggikan nada suara seraya mencengkram kedua bahu Suzu. Ia memekik kaget, kedua tangannya menahan kerudung hitam yang semakin membuat Takatora tak bisa bertatapan wajah dengannya. "Suzu!"
"Aku tidak mengerti...! Aku tidak mengerti...! Aku sudah muak dengan dunia ini!" Suzu berteriak sangat keras. Dia mendorong Takatora, tubuhnya mulai kehilangan tenaga sehingga Suzu tak dapat berdiri. Sebuah botol kecil jatuh dari pakaiannya. Penglihatannya terarah pada botol itu.
"..." Nafasnya terengah-engah, kedua tangannya tak bisa berhenti bergemetar, pikirannya sangat kacau. Lalu ia mengambil botol itu dan langsung meminumnya. Takatora merasa sedikit lega ketika melihat raut wajahnya yang mulai tenang.
"...daripada bertahan di dunia ini... lebih baik aku mengakhirinya sekarang." Gumamnya setelah meminunya sampai habis.
Takatora mengutuk dirinya sendiri, ia sungguh tak mengerti apa yang perempuan itu bicarakan. Penyandang marga Tōdō itu menghela napas untuk menenangkan diri, lalu berlutut di depannya. "Suzu...?"
Tangannya yang masih bergemetar mencengkram pakaiannya dengan erat. "Takatora-san. Aku ingin Tuan mengabulkan permintaanku." Ia menengadahkan kepalanya. Sebuah senyuman terulas pada wajahnya, namun berbeda dari senyuman khasnya seperti dulu. Baginya itu bukanlah senyuman kebahagiaan atau kesedihan.
Ia hanya tahu bahwa senyumannya itu palsu.
Bukan senyuman yang ingin ia lihat.
Sama sekali tidak membuat semua perasaannya hangat dan ringan, bahkan sebaliknya- hatinya semakin membeku, tak dapat dicairkan dengan mudah.
"Aku ingin bertemu dengan Obaa-sama, juga kedua orang tuaku di alam yang jauh. Karena hanya dengan itu, aku bisa bahagia. Karena itu... kumohon bunuhlah aku."
Mendengar permintaannya, dadanya terasa berat dan sesak. Kedua mata Takatora melebar tak percaya apa yang baru saja ia katakan. "Apa...?" Tiba-tiba Suzu merintih kesakitan, kedua tangannya mencengkram semakin kuat dadanya. Suzu memuntahkan darah sehingga membuat mengotori rerumputan dan pakaiannya. "Suzu!"
Nafasnya semakin terasa berat, air matanya mengalir deras. Betapa bodohnya ia baru menyadari kalau air yang minum tadi adalah racun. "...aku... tidak membutuhkan apapun..." Isakan tangis dan mulut yang penuh darah membuatnya kesulitan berbicara. "...secepatnya... aku ingin menemui mereka. Kumohon, Takatora-san..."
"Dasar bodoh! Sebenarnya apa yang terjadi padamu!? Kenapa kau-"
"Aku... tak akan bisa bahagia di dunia ini... Semua yang ada di dunia ini adalah kebohongan dan palsu. Kedua orangtuaku... dan bibi... ada di dunia yang tak bisa kuraih. Terlahir di dunia dimana aku harus menerima orang yang kusayangi menghilang, aku tidak akan bisa menerimanya. Aku lebih baik mati daripada hidup untuk saling membunuh."
"Itu tidak benar! Aku tidak akan membiarkanmu mati! Bukankah dulu sudah kubilang untuk tetap bertahan hidup!?"
"Takatora-san!" Ia meninggikan nada suaranya yang serak. "Aku... aku memihak Takeda, bukan Oda! Aku adalah musuhmu! Aku diperintahkan untuk membunuh Oichi-sama!"
"Apa katamu...?"
"Jika Tuan membiarkanku hidup, aku tak akan menyerah untuk melakukan cara apapun untuk membunuh Oichi-sama. Takatora-san tidak akan membiarkannya, 'kan!?"
... ...
Tidak, Takatora tidak akan membiarkan siapapun yang mencoba untuk membunuh Oichi. Meski sekarang ia bukanlah majikannya, ia masih memiliki kewajiban untuk melindunginya. Dari semua orang, mengapa dirinya?
"...u-uhh!" Suzu kembali memuntahkan darah. "...aku tidak akan bisa bertahan hidup dengan cara seperti ini. Karena itu..."
"...sekuat itukah keinginanmu, Suzu?"
"... aku... mengatakan yang sesungguhnya. Aku sungguh ingin menemui mereka. Aku sudah tidak tahan dengan penderitaan ini. Hanya ini... permintaan terakhirku..."
"Apa kau tidak takut dengan kematian?"
"...aku tidak tahu. Tapi aku tidak peduli... aku hanya ingin menemui mereka..."
Takatora terdiam sejenak, kemudian berdiri. Sorot matanya berubah, hampir tak terlihat rasa belas kasihan pada sepasang manik biru itu. "...aku tidak akan meminta maaf." Gumamnya seraya mencabut pedangnya.
"Itu tidak perlu. Ini adalah permintaanku..."
"..." Takatora menghunuskan pedang di depan dadanya, dimana jantungnya berdetak. Dengan tangannya, ia akan mengabulkan permintaannya- memutuskan semua penderitaan di dunia ini.
Tidak, rasa belas kasihannya masih belum menghilang. Ia sangat membenci keraguan yang mempermainkan hati dan pikirannya. Takatora menggertakkan gigi, kedua tangannya sudah tidak bisa menahan semuanya. Ujung pedangnya menusuk dada Suzu. Desahan pelan keluar dari mulutnya.
"Kurangnya kebijaksanaanku sebagai ksatria- ksatria yang seharusnya melindungi semua orang." Lirihnya pelan.
Kedua mata Suzu perlahan terbuka. Matanya mulai kehilangan cahaya perlahan menjadi kosong. Darah yang mengalir dari mulutnya masih belum berhenti, juga dadanya yang tak kalah banyak mengeluarkan darah segar.
Takatora langsung menarik pedangnya dari tubuh Suzu yang kemudian perlahan hendak jatuh, Takatora langsung menangkapnya.
"...syukur...lah." gumamnya. Darah yang mengalir dari mulutnya perlahan mulai berhenti. "...teri...ma... kasih... Takatora-san. Aku..." Suzu perlahan memejamkan mata. "...andai saja aku... terlahir kembali... di dunia yang sesungguhnya."
Diriinya yang dahulu mempercayai jalan hidupnya- tidak akan pernah memperlihatkan manik merahnya yang indah. Takatora menghapus darah dari ujung bibir dan air mata pada matanya.
'Ksatria adalah orang mengayunkan pedangnya untuk melindungi orang lain, bukan? Karena itu, aku selalu berpikir ksatria itu orang yang sangat hebat!'
Takatora mengingat bagaimana ia tersenyum saat itu, senyuman yang tak bersalah.
Namun apakah itu juga palsu?
"Pada akhirnya, aku bukanlah ksatria yang kau dambakan. Tapi melainkan seekor serigala yang memangsa kelinci." Gumam Takatora sembari merengkuh tubuhnya yang sudah tak bernyawa. Kehangatan kulitnya perlahan mulai mendingin. Ia membiarkan darah mengotori pakaiannya. "Seperti yang kau bilang, semua yang ada didunia ini adalah bohong dan palsu. Apa artinya aku mengayunkan pedangku bukan demi melindungi orang lain? Melainkan merenggut nyawa orang yang seharusnya tetap hidup di dunia ini?"
Ia mengeluarkan sebuah benda bulat dan kecil, sebuah bel. Janji atau bukan, Takatora ingat bahwa gadis itu pernah mengatakan bila mereka kembali bertemu, Takatora akan mengembalikan bel tersebut. Juga mengatakan bahwa ia akan terus bertahan hidup untuk mencari tujuan hidupnya. Kini Takatora mengerti mengapa Suzu berkeinginan kuat untuk mati.
Sampai sekarang Suzu tidak menemukan arti hidupnya yang sesungguhnya.
Padahal ia telah mengabulkan permintaannya, namun Takatora sama sekali tidak merasa puas dengan hasil yang ia dapat. Ia telah memutuskan benang kusut yang disebut penderitaan Suzu dari dunia ini, namun itu juga berarti ia memutuskan tali kebahagiannya. Nyawanya tidak akan pernah kembali. Sudah terlambat untuk menyesalinya.
"Aku tidak akan pernah menerima rasa terima kasihmu, Suzu."
-XxX-
-Bad End-
-XxX-
A/N : Surprise, madafaka. *dikeroyok massa* Tunggu tunggu, ceritanya gak berakhir sampai disana kok! Chapter depan Takatora harus memutar ulang waktu lagi. Eh, ini gak ada supernaturalnya kok. TIDAK ADA. Saya iseng pasang chapter bad end. Tak apa, chapter yang akan datang selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya blablabla akan menyediakan bad end juga. Udah kepikiran... ada 5 chapter bad end. Lol, saya malah banyak mengkhayal ya wkwkwk.
Oh iya. Kagome. Dia OC support di fic ini. Tapi kemunculannya tidak banyak dan dia memang misterius gitu. Namanya ninja ya. Tapi chapter yang keberapa yang akan datang, Kagome akan muncul.
Keep reading and see you in the next chapter! Review please!
