A/N : Kok terasa sepi ya? Daripada itu mari langsung balas review!
-RosyMiranto
Blossom : Yahoo! Kimura bersaudara!
Takatora : Siapa itu Nanako? Chie, Yukiko dan Rise? Apa kali ini masih ada orang yang berniat untuk meracuni Suzu...? *ambil saiken, keluarin es*
Scarlet : Eh mas bro. Sabar dulu gimana?
Suzu : *blush* Takatora-san sampai begitu mencemaskanku...
Kagome : Yup, sebenarnya aku membuang nama asliku. Jadi aku hanyalah seorang 'Kagome'. Salam kenal.
Suzu & Takatora : Kenapa kau disini!?
Kagome : Oh tenanglah kalian berdua. Aku hanya menjawab pertanyaan kok. Kalau begitu aku mohon pamit. *menghilang*
Suzu & Takatora : *lirik Scarlet & Blossom*
Blossom : *joget*
Scarlet : Y-Yosh! Makasih banyak atas review-nya! Senangnya dapat review dari pembaca setiaku hiks, sroot! *nangis gaje, ambil tenugui-nya Takatora*
Takatora : *bekuin Scarlet*
Suzu : *awkward laugh* Ah, sekali lagi terima kasih.
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. CMIIW?
Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?) *plak*. Mohon maaf atas kesalahannya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XxX-
Bell of the White Hare
-XxX-
CHAPTER 5
Beyond the Prayer
-XxX-
"Kau merasakannya juga, bukan? Seindah apapun suatu hal yang ingin kau lindungi, pada akhirnya akan musnah."
Suzu mengingat pemilik suara itu, suara yang telah menariknya ke dalam kegelapan. Ia tidak ingin mendengarnya. Gadis bersurai perak itu menutup kedua telinganya.. "...kau salah," gumam Suzu.
"Keindahan itu hanya sesaat dan tak akan pernah kembali. Bisa dikatakan keindahan itu mengkhianatimu dan membohongimu." Wanita dengan kekosongan pada manik emasnya berjalan di belakang Suzu. Suara itu terus bergema di dalam kepalanya, tidak bisa berhenti.
"...kau salah," gumam Suzu lagi. Ia kesulitan mengatur nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak.
"Permainan yang sangat kejam, bukankah begitu, Shiraishi Suzu? Sudah kubilang, bukan? Keindahan yang kau lindungi itu adalah pengkhianatan. Jadi, jika kau masih mengenggam keindahan itu, kau akan putus asa. Percaya atau tidak... Ini adalah dunia yang palsu. Kau harus sadar akan hal itu."
"Putus asa... Ah, wanita itu benar." Tubuhnya entah sejak kapan tenggelam di dalam lautan. Mata merahnya yang bagai batu delima itu mengarah ke bawah. Tubuhnya terus tenggelam ke bawah, ia tak bisa melihat ujung akhir bawah laut tersebut. Hitam dan gelap.
Perlahan kedua matanya hendak terpejam.
'Apa semuanya sudah berakhir?' lirih gadis itu.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu mati."
Sekarang suara itu berubah- bukan. Suara wanita itu menghilang. Kini kedua pendengarannya menangkap suara seorang pria. Suzu membuka lebar matanya ke atas, meraih cahaya kecil yang berpendar yang berada di hadapannya.
"Kau bisa mempercayakan segalanya padaku."
"Ya... Aku percaya."
-XxX-
"Akhirnya kau sudah siuman." Suzu mengenali pemilik suara itu. Nada bicara khasnya yang selalu tenang.
Sambil mengumpulkan nyawa, ia membuka kedua matanya dengan perlahan. Matanya begitu berat seolah-olah ia bangkit dari kematian. Tidur yang amat panjang. Tubuhnya terasa sedikit lebih ringan, ia mengenakan kimono yang hampir menandingi warna putih seperti rambutnya. Suzu menyentuh sebuah handuk lembab yang berada di dahinya. Penglihatannya yang awalnya buram perlahan mulai bersih. Seorang pria bersurai hitam panjang duduk dihadapan sebuah meja. Suzu mencium aroma ramuan lalu melihat sebuah buku cerita di tangan pria itu.
"Ah, Yoshitsugu-san...?"
"Selamat datang di dunia sesudah kematian. Dan sayang sekali aku bukan Yoshitsugu," ujarnya setelah menutup buku tersebut dan menaruhnya di atas meja.
Suzu mengabaikan perkataannya dan melihat setiap sudut ruangan. Sebelumnya ia pernah disini, dulu ia pernah dirawat oleh Nene di ruang yang sama saat ia diselamatkan dari kebakaran Istana Odani. Obat-obatan serta ramuan yang tersusun rapi di rak membuat Suzu langsung berpikir bahwa dirinya- 'Lagi-lagi aku dijahili,' batin Suzu. "Yoshitsugu-san, disini 'kan ruang perawatan," jawab Suzu dengan nada datar.
"Hm. Sepertinya kau berharap dia yang seharusnya ingin kau temui saat kau siuman. Sayang sekali, ya."
"Tuan sudah dua kali mengulang kalimat 'sayang sekali'," balas Suzu.
Yoshitsugu mendengus. "Bercanda." Kemudian pria itu meminum tehnya setelah menjahili gadis itu.
Suzu menghela napas kemudian bangkit dari posisi tidurnya, menyandarkan punggungnya ke dinding. "Sejak kapan aku sudah berada di sini? Kalau tidak salah aku..."
"Sayang sekali, ya? Kau bangun pada waktu yang kurang tepat. 'Tuan Ksatria' yang sedang kau tunggu belum datang."
Suzu mengernyitkan sebelah alisnya lagi. "Apa yang kau bicarakan, Yoshitsugu-san? Lalu 'Tuan Ksatria' itu siapa?"
Yoshitsugu mendengus pelan. "Aku tidak perlu menjawabnya. Kau seharusnya sudah tahu. Diantara semua orang yang kau kenal, siapa yang menurutmu pantas menjadi 'ksatria' bagimu?" sahut Yoshitsugu sambil memperlihatkan judul buku cerita yang di tangannya pada Suzu.
"Tuan sedang mengejekku, ya? Aku memang menyukai cerita dongeng. Tapi Yoshitsugu-san mengatakannya seperti itu, aku jadi malu...!"
"'Mengejek' terdengar kasar, Shirousagi. Lalu? Kalau 'dia' adalah pahlawan dan kau adalah sang putri. Menurutmu peran apa yang cocok untukku?"
"Tidak tidak tidak, kenapa Tuan seenaknya memutuskan peran aneh itu!?" balas Suzu.
"Hm, tsukkomi dari Shirousagi seperti biasa," jawab Yoshitsugu manggut.
"Tolong jangan panggil aku dengan nama itu lagi."
"Menyebut nama panggilanmu terlalu berharga. Jika aku memanggil namamu, kurasa 'dia' akan menghajarku."
"Apa yang kau bicarakan, Yoshitsugu-san!?" bentak Suzu semakin kesal. "Dasar. Padahal aku baru saja siuman langsung dijahili..." Suzu menggembungkan sebelah pipinya.
"Semakin murninya hati seseorang, itu akan membuatku semakin ingin menjahilinya. Sudah pernah kubilang, bukan?"
"Aku baru pertama kali mendengarnya," balas Suzu lagi.
Yoshitsugu kemudian terkekeh pelan. "Melihatmu sudah kembali seperti biasa sudah membuatku lega. Bagaimana keadaanmu?"
Suzu menarik selimutnya. "Eh? Ah, ya. Kurasa sudah baik." Kemudian Suzu mengurut dahinya. "Eh? Memangnya aku... apa yang terjadi padaku? Kalau tidak salah aku masih di Nagashino... lalu-" Seisi kepala gadis itu langsung mengingat wanita bermata emas. "...Kagome," geramnya pelan sambil mencengkram selimutnya.
"Begitu rupanya. Racun yang 'wanita itu' berikan juga mempengaruhi ingatanmu. Sepertinya kunoichi itu cukup berbahaya, dia begitu ingin mengutukmu."
"Yoshitsugu-san mengenalnya!?"
"Tentu saja tidak. Takatora sudah menjelaskan semuanya padaku."
Suzu menaikkan alisnya. Seingatnya Yoshitsugu tidak ikut serta dalam perang di Nagashino. "Takatora-san...? Kapan Yoshitsugu-san menemuinya?"
"Sebenarnya dia sudah berada di sini. Sekarang dia sibuk mengurus pekerjaannya pada Hidenaga-sama."
"Hidenaga-sama? Maksudmu Takatora-san sekerang bekerja dibawah naungan Hidenaga-sama?" tanya Suzu lagi.
"Ya. Atas usul dari Oichi-sama." Yoshitsugu mengangguk.
"Oichi-sama...?" Dirinya bahkan belum sempat menyapa mantan majikan dari mendiang bibinya tersebut. Suzu merasa sedikit menyesal karena tak dapat menemuinya. "Begitu ya."
"Tak apa, biasanya Takatora akan datang menjengukmu setelah pekerjaannya selesai. Setidaknya istirahatkan tubuh dan pikiranmu lebih lama lagi. Ingatanmu sepertinya dalam kondisi sedikit kacau. Jangan memaksakan diri. Ini perintah dari atasanmu," tegas Yoshitsugu sambil beranjak.
"Baik." Suzu mengangguk.
"Lalu? Kau datang kesini bukan sekedar untuk menyapa Shirousagi yang sudah siuman, 'kan? Mitsunari," ucap Yoshitsugu sambil menggeser pintu shoji.
Mitsunari yang sedang bersandar di dekat pintu shoji menelan ludah. "K-Kau ini..." Lelaki bersurai coklat itu menyembunyikan rasa malunya kemudian pergi.
Melihat kepergian lelaki itu, Suzu langsung mengingat niatnya saat sebelum ia pergi menuju Nagashino. "Ah, Mitsunari-san, ada yang ingin kubicarakan denganmu!" seru Suzu dari dalam ruangan sambil beranjak dari futon.
"...aku? H-Hei, tunggu, bodoh! Tidur saja!" bentak Mitsunari sambil masuk ke dalam ruang perawatan.
"Kalau begitu aku pamit. Aku masih memiliki pekerjaan yang harus kuselesaikan." Yoshitsugu pun keluar meninggalkan Mitsunari dan Suzu di dalam ruangan.
"Tung- Yoshitsugu!" gerutu Mitsunari kesal.
"Mitsunari-san, aku..."
"A-Apa?"
Suzu menundukkan kepala. "Aku minta maaf." Mitsunari menaikkan kedua alisnya, kebingungan apa yang telah membuat dirinya bersalah. "Waktu itu, kau bilang kalau aku hanya akan menjadi beban untuk Hideyoshi-sama. Kau benar. Aku bahkan belum melakukan apapun..."
Mitsunari melipat tangannya lalu mendengus. "H-Hmph, akhirnya kau sadar juga. Benar, kau hanyalah beban."
Suzu mengernyitkan alis. "Hei, aku sedang minta maaf dengan tulus dan ini yang kudapat?"
"Kau belum melakukan apapun untuk Hideyoshi-sama. Jadi kau harus pastikan untuk melakukan yang terbaik lain waktu."
"Terima kasih. Yah, tapi sebenarnya aku masih kesal dengan sikapmu." ucap Suzu setelah menghela napas. Namun dia bersyukur Mitsunari masih memberinya kesempatan untuk mempercayainya. Suzu menjalin kedua tangannya kemudian tersenyum tipis. "Aku akan melakukannya demi Hideyoshi-sama dan semuanya. Bukan hanya demi diriku saja, bukan hanya untuk membalas budi. Aku akan melakukan apapun. Disini adalah tempat dimana aku berada, tempat yang ingin kulindungi, aku sudah memiliki kalian semua. Aku bersyukur bertemu dengan kalian."
Mitsunari terdiam sejenak kemudian membuang muka. "Dasar. Kau lebih memilih kami semua daripada nyawamu sendiri. Kukira kau akan melarikan diri."
Suzu menatap punggung Mitsunari, mengedipkan kedua matanya, lalu tertawa kecil. "Tepat sasaran. Yah, awalnya memang begitu. Tapi sekarang tidak akan lagi. Melarikan diri lebih menakutkan daripada menerima takdir," gumamnya sembari memainkan jemarinya. Suara gadis yang setahun lebih muda dari Mitsunari itu terdengar pelan namun dapat ia dengar dengan jelas.
"...begitu."
Hening, Suzu yang sudah merasa puas menunggu Mitsunari memulai pembicaraan. Menatapnya masih berdiri membelakanginya di dekat pintu shoji. "... Aku juga... sepertinya sudah berlebihan. M-maaf," bisik Mitsunari.
"Apa?" Tak ada nada sombong khasnya. Suaranya yang kini berubah pelan membuatnya tak bisa mendengar Mitsunari.
"B-Bukan apa-apa! Istirahatlah, bodoh!" ucap Mitsunari sambil menutup pintu shoji.
"Dasar, apa-apaan dia?" gerutu Suzu menggembungkan sebelah pipinya. "Tiba-tiba saja mengataiku 'bodoh'. Dasar, kenapa mengucapkan kalimat halus begitu susah baginya. Dia memang tak bisa diharapkan untuk berubah, ya...?"
Suzu kemudian mengusap dadanya yang terasa sedikit sesak. Secara tak sadar, jarinya menyentuh sebuah benda bulat di lehernya. "Ah, belku? Sejak kapan-" Sosok Takatora langsung muncul di dalam kepalanya. "...Benar juga. Kagome, dia sudah mempermainkanku. Setelah itu Takatora-san menyelamatkanku dan mengembalikan belku. Ternyata itu bukan mimpi." Suzu tersenyum pada dirinya sendiri, kemudian tertawa kecil. "'Pahlawan', ya? Yoshitsugu-san benar..."
"Suzu-chan!" Seorang wanita bersurai coklat pendek langsung menggeser shoji dengan tiba-tiba dan masuk ke dalam ruangan.
Suzu memekik kaget. "O-Onene-sama, kau membuatku terkejut-"
"Itu kalimatku, Suzu-chan! Dasar, kenapa kau bisa seperti ini!? Kau bahkan pulang lebih telat dari Omae-sama!" Nene langsung merengkuh Suzu ke dalam pelukannya. Ia menenggelamkan wajah Suzu di dadanya sehingga membuat gadis bersurai perak itu semakin sesak. "Aku tidak pernah memintamu pulang dalam keadaan pingsan!" Nene kemudian melepas pelukannya kemudian menahan kedua bahu Suzu. "Yah, tapi untunglah kau bisa pulang dengan selamat."
Gadis bersurai perak itu mengatur ritme napasnya yang tidak beraturan sebelum menjawab. "Ah, ya. Aku mohon maaf sudah membuatmu khawatir, Onene-sama. Tapi aku sudah merasa sedikit lebih baik."
Nene terdiam sejenak, kemudian melepas genggamannya pada bahu Suzu. "Suzu-chan, apakah alasanmu untuk pergi ke Nagashino adalah untuk menemui orang yang sedang mengincarmu?"
"Bagaimana bisa Onene-sama tahu?" Dia yakin bahwa surat dari Kagome yang ditujukan padanya sudah dibakar. Bahkan ia selama di Nagashino, Suzu yakin bahwa ia tidak diawasi oleh satu orang pun termasuk Nene.
"Tentu saja, di Nagashino ada banyak shinobi dari Takeda, bukan? Karena itu aku yakin dia berniat untuk memerintahmu menjalankan tugas yang telah ditinggalkan oleh mendiang bibimu. Apa kamu menemui Mochizuki Chiyome?"
Suzu menggeleng. "Yang mengancamku bukan dia. Tapi salah satu dari pengikutnya. Dia berencana untuk memprovokasiku. Ah, tapi tak perlu khawatir, Onene-sama. Akan kupastikan bahwa aku akan baik-baik saja."
Nene tersenyum. "Ya. Aku percaya kok. Lagipula pria yang membawamu kesini sangat akrab denganmu, karena itu aku yakin Suzu-chan pasti akan aman berkat dia. Siapa namanya, ya? Tōdō... Takamatsu? Takahiro?"
"Bukan. Tapi Takatora, Onene-sama. Tōdō Takatora-san." jawab Suzu tersenyum paksa sambil menggoyangkan tangan kanannya.
"Ah iya, aku hampir lupa." Nene tertawa lebar. Wanita itu beranjak kemudian hendak keluar ruangan. "Suzu-chan, hari ini kamu harus istirahat penuh. Aku tahu kamu akan bosan terus istirahat di dalam tapi bersabarlah. Ya?" ucap Nene sambil menekan kata 'bersabarlah' pada Suzu. "Oh iya, sebelum itu aku akan membantumu untuk membersihkan tubuhmu! Tunggu dulu, ya! Aku akan membawakan air dan pakaian baru untukmu."
Sebenarnya ia tidak mau bersabar menunggu di dalam kamar sampai kondisinya benar-benar stabil. Namun dengan berat hati, ia terpaksa menuruti perkataan wanita yang mengadopsinya tersebut. Ia tak bisa menolak kebaikannya. "Baik. Terima kasih banyak, Onene-sama."
"Hm! Anak baik, anak baik! Setelah itu, kau harus makan banyak, ya! Sudah lebih dari seminggu kamu belum sadarkan diri, kau pasti lapar!" ujar Nene sambil membelai kepalanya. Suzu hanya tertawa paksa ketika dirinya diperlakukan seperti anak kecil. Tetapi ia bersyukur telah diberkati mereka yang memperlakukan dirinya layaknya keluarga.
-XxX-
Cahaya pucat keperakan dari bulan penuh menyinari malam yang gelap gulita. Suzu duduk meratapi bulan seolah-olah seperti seekor kelinci yang merindukan bulan. Seolah-olah bulan itu adalah tempat yang ingin ia datangi, tempat dimana orang yang ia sayangi pergi mendahuluinya.
Kedua orang tuanya, bibinya, dan tuannya telah menghilang. Meninggalkan masa lalu di dalam ingatannya. Rasa ingin bertemu kembali dengan mereka selalu membuat napasnya sesak.
Meski demikian, dirinya masih memiliki arti untuk hidup. Uluran tangan yang selama ini Suzu inginkan dari lubuk hatinya telah menyelamatkannya dari keputusasaan. Suzu tersenyum tipis. "Nagamasa-sama, ayah, ibu, dan bibi... Aku ingin menemui kalian semua. Tapi, aku ingin tetap berada disini. Sampai waktunya tiba, kumohon tunggu aku," lirihnya.
Setelah beberapa orang menjenguk Suzu, gadis bermanik merah seperti mata kelinci itu duduk di roka yang menghadap ke arah taman di depan ruang perawatan. Saat ini, ia sedang menunggu 'orang itu' datang menemuinya.
Beruntung racun yang ia minum sebelumnya sudah tak tersisa di dalam tubuhnya. Tabib telah memberitahunya bahwa Suzu harus banyak istirahat karena tubuhnya masih melemah akibat racun tersebut. Entah harus beberapa lama ia harus tidur sampai ia diperbolehkan kembali.
Suzu memeluk kedua kakinya, menumpukan dagunya di lutut. Meski bulan saat ini adalah musim panas, kulitnya terasa sangat dingin sampai ke tulangnya akibat angin yang berhembus ke arahnya. Suzu membenci ini. Padahal ia sedang menunggu seseorang namun matanya tak membiarkan untuk tetap terbuka. Ia menghela napas panjang. Racun itu sudah banyak menguras tenaganya sehingga dadanya masih terasa sesak. Tetapi berkat racun tersebut sudah hilang, ia tak lagi memuntahkan darah. Kini kelopak matanya mulai terasa berat seolah-olah mendorongnya untuk kembali tidur. Ia menyandarkan kepalanya pada tiang kayu dan mulai memejamkan mata.
Suzu menggeleng kepalanya, kemudian menepuk kedua pipinya untuk menarik dirinya agar tidak tertidur. Ia kemudian berjalan menuju taman. Namun seketika ia berjalan, penglihatannya tiba-tiba menjadi gelap membuat seisi kepalanya sangat sakit. Suzu menarik rambutnya dan merintih kesakitan. Tak sengaja tubuhnya kehilangan keseimbangan hendak terjatuh.
Beruntung, seorang pria berhasil menangkap tubuh mungil Suzu yang hampir rubuh. Kedua tangan pria itu menahan bahunya. "Kau belum sembuh. Apa kau bosan karena tidur sehari penuh, Suzu?" Sehelai haori dibalutkan pada bahunya. Suzu membuka mata ketika namanya dipanggil oleh seorang pemuda beriris biru.
Suzu mengedipkan kedua matanya berulang kali. Penglihatannya masih belum jernih, ditambah malam yang gelap membuatnya kesulitan menatap pria itu. "...ah. Iya- maksudku tidak kok... eh, ah." Rasa malunya membuat ucapannya terbata-bata.
Takatora menaikkan alisnya, kemudian menghela napas. "Tidak seharusnya kau menungguku diluar," ucap Takatora sambil menyusupkan lengannya di belakang punggung Suzu, berniat untuk menggendongnya ke dalam ruang perawatan.
"T-Tunggu dulu, Takatora-san! Aku bisa berdiri kok!" pekik Suzu panik.
"Benarkah? Kalau begitu..." Takatora mengulurkan tangannya pada Suzu. "Lebih baik kita berbicara di dalam."
"Baik..." Suzu meraih tangan kanan pemuda itu kemudian mencoba berdiri dengan sekuat tenaga meski tubuhnya masih terasa lemah. Namun berkat Takatora mengiringinya, ia bisa berhati-hati setiap langkahnya tanpa takut terjatuh.
Suzu tersipu ketika tangannya digenggam oleh Takatora membuatnya tak bisa berkata-kata. Sedangkan Takatora tidak memikirkan hal aneh seperti Suzu. Hanya saja setelah ia melihat air mata Suzu saat mereka berada di Nagashino, ia hanya merasa dirinya tidak dianggap asing oleh Suzu.
Tangannya jauh lebih besar daripada milik Suzu. Tangannya yang tidak memasang sarung hitam membuat Suzu bisa melihat beberapa bekas luka di tangan kekarnya. Sebenarnya, masih ada banyak bekas luka selain di tangan. Saat Takatora masih seorang ashigaru, Suzu yang sering memperhatikan Takatora pernah melihat beberapa luka hampir di seluruh anggota tubuhnya. Gadis itu menyadari bahwa Takatora selama ini sudah banyak menderita dibandingkan dirinya sendiri. Telapak tangan kanannya yang diperban akibat ulah Suzu membuat dirinya semakin bersalah.
Dirinya yang bodoh baru menyadari hal itu.
"Berbaringlah."
"Eh? Ah, iya."
Takatora kemudian duduk di dekat pintu shoji, sedangkan Suzu membaringkan tubuhnya yang masih lemah di dalam futon. Ia menutup sebagian wajahnya dengan selimut.
"Tadi tanganmu terasa sangat dingin. Kau harus istirahat lebih lama." Takatora mengarahkan pandangannya ke luar, menerawang jauh ke langit malam.
"Hm... tabib juga mengatakan hal yang sama."
Hening. Suzu kini bingung apa yang harus ia bicarakan untuk memecahkan keheningan. Ia ingin melihat luka pada tangan kanan Takatora namun ia ragu. Sedangkan Takatora hanya ingin menunggu apa yang ingin gadis itu bicarakan, tetapi sebagian dari dirinya mengatakan padanya untuk membicarakan sesuatu. Tetapi Takatora adalah orang yang jarang mengobrol tentang dirinya atau pun mengenai hal lain, tergantung siapa yang menanyakan. Selain itu, dia tidak tahu apa yang harus dibicarakan pada perempuan.
Suzu tahu bahwa Takatora adalah orang yang tidak banyak bicara. Kepribadiannya yang serius dan berkepala dingin membuat dirinya merasa canggung. Dulu mereka tidak terlalu sering menghabiskan waktu berbincang tidak seperti saat Takatora bersama Yoshitsugu. Mereka selalu membicarakan sesuatu yang sulit ia mengerti, misalnya perang. Sedangkan dirinya dulu hanya membicarakan tentang hal bodoh yang tidak ada hubungannya dengan Takatora, seperti menceritakan kekagumannya pada cerita dongeng yang pernah ia baca. Sehingga ia menganggap dirinya sendiri hanyalah seorang penganggu.
"Bagaimana kondisi tubuhmu?" tanya Takatora memecahkan keheningan, masih mengalihkan pandangannya dari Suzu.
"Ah, kurasa sudah baikan. Tapi masih sedikit... sesak," ucap Suzu sebelum tertawa paksa. Takatora kembali diam. Suasana kembali hening. Karena tak mau menahan diri lebih lama, Suzu bangkit dari futon kemudian duduk di dekat Takatora.
"Oi, sudah kubilang berbaring saja-"
Suzu meraih tangan kanan Takatora untuk melihat bekas luka di telapak tangannya. "Tangan Takatora-san..." Lelaki bermanik biru itu membiarkan Suzu menyentuh tangannya. "Maafkan aku. Aku sudah membebanimu, Takatora-san." Suzu menundukkan kepala.
"Hei, angkat kepalamu. Aku tidak pernah menganggapmu beban."
Perlahan Suzu mengangkat kepalanya. "Tapi..."
"Jika kau memang beban bagiku, aku tidak akan pernah mencoba menyelamatkanmu."
Suzu tersenyum kecil kemudian melepas tangan Takatora. "Mm, Tuan benar," gumamnya. Jika ia tidak peduli, dirinya pasti sudah berada di alam yang jauh. Tempat dimana kedua orang tuanya, bibinya dan Nagamasa berada. Meninggalkan dunia bersama hatinya yang belum sembuh dari keputusasaan.
"Setelah ini, apa yang akan kau lakukan? Yoshitsugu pernah mengatakan bahwa kau adalah bawahannya agar kau bisa membalas budi pada Hashiba."
Dia mengangguk. "Tapi, bukan hanya untuk membalas budi. Mereka semua sudah memperlakukanku seperti keluarga. Karena itu aku ingin melindungi mereka. Disinilah tempat dimana aku berada."
Takatora mendengus pelan. "Apa artinya kau sudah menemukan kebahagiaanmu?"
Suzu menaikkan kedua alisnya, kemudian mengalihkan pandangan. Ketika pria itu mengatakan 'kebahagiaanmu', membuat sebagian dari diri Suzu mengatakan bahwa Takatora sudah selesai membantunya. Suzu memang tidak ingin menyusahkannya, tetapi sebagian dari dirinya juga mengatakan bahwa dia masih ingin mengikuti Takatora. "...ya. T-Tapi...!"
"Hm?"
"...Takatora-san tetap akan berada disini 'kan? Anu, Yoshitsugu-san bilang kalau Tuan sekarang mengabdi pada Hidenaga-sama atas usul Oichi-sama... dan anu..."
"Tentu saja. Aku ingin mengabulkan permintaan beliau. Bahkan Hidenaga-sama juga sudah percaya padaku. Berkat Oichi-sama, aku sudah menemukan orang pantas untuk kulayani." Sebuah senyuman tipis terulas pada wajahnya, sorot matanya yang tajam mulai melembut. "Selain itu, aku juga bisa menjagamu."
Gadis bersurai perak itu bisa merasakan pipinya memanas, ia langsung menjauhi kontak mata dengannya. "A-anu, boleh aku bertanya sesuatu pada Tuan? Tapi, jangan marah ya?" bisiknya tersipu. Beruntung Takatora tak sadar bahwa wajah Suzu merah seperti tomat berkat kurangnya penerangan di dalam ruang perawatan.
"Hm?"
"Um..." Ia mulai ragu. Entah bagaimana reaksinya jika Suzu memberikan pertanyaan yang tersimpan di dalam kepalanya. "Dulu Takatora-san bilang kalau Tuan akan membantuku mencarikan tujuan hidupku, 'kan? Tapi, u-um..." Suzu menggeleng kepalanya, ia mulai membenci dirinya sendiri yang kesusahan berbicara pada Takatora. Dia tidak ingin Takatora salah paham akan pertanyaannya. "Bagimu, Tuan menganggapku sebagai apa?"
Takatora terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Suzu. "...entahlah. Mungkin sebagai... adik?"
"Eh?"
Biji mata birunya beralih dari tatapan gadis kecil berkepala putih keperakan itu. "Maaf, kurasa aku tidak bisa menjawabnya," ucap Takatora sambil mengurut dahi. "Tapi yang kutahu saat kau menangis pada waktu itu, dari lubuk hatiku mengatakan bahwa aku harus menolongmu. Aku tidak ingin gagal lagi menyelamatkanmu seperti saat kau sendirian terjebak di dalam Istana Odani. Setiap kali aku mengingatnya, aku ingin memutar waktu. Sejujurnya, aku tidak begitu paham apa yang membuatku begitu menyesal karena tidak bisa menyelamatkanmu saat itu. Selain mencari kedamaian negeri ini, di saat itu akan kupastikan kau akan terlepas dari takdir ini."
Senang, namun perkataannya juga membuat dirinya resah. "Takatora-san, apa Tuan mengatakan kalau kau menyelamatkanku karena ingin menghapus kesalahanmu saat-"
"Suzu, aku bukan ksatria hebat yang kau dambakan. Manusia seperti itu tak ada di dunia yang hancur ini. Aku bahkan tak bisa menyelamatkan Nagamasa-sama. Apa diriku ini masih pantas disebut 'ksatria'?" Matanya menerawang jauh ke langit. Ingatannya tertuju pada saat Istana Odani terbakar habis, ia tak dapat menyelamatkan dua orang-bukan, lebih dari itu. Sangat banyak.
Suzu menarik lengan bajunya dan menggeleng kencang membuat penglihatannya kembali mengarah ke gadis bersurai putih keperakan itu. "Tidak, Tuan. Takatora-san sudah menyelamatkanku! Bukankah Takatora-san pernah mengatakan kalau Tuan akan tetap bertahan hidup demi merealisasikan mimpi Nagamasa-sama?" Takatora tak bisa menjawab, mulutnya sedikit terbuka. Raut wajah Suzu melukiskan keinginan untuk menarik kembali keputusasaan pria itu. "Mungkin bagimu, Takatora-san bukan seorang ksatria atau pun pahlawan. Tapi di mataku Takatora-san adalah pahlawan yang sesungguhnya! Sebesar apa rasa bahagiaku dan sebesar apa diriku terselamatkan olehmu, Takatora-san mungkin tidak akan tahu. Takatora-san yang seharusnya- tidak akan melihat ke belakang dan akan melakukan apapun agar kedamaian terwujud. Karena itu aku... aku sangat mengagumi Tuan!"
Jemari rampingnya menyentuh bel kecil yang telah di kalungkan pada lehernya. Meski bukan sekedar janji, ia telah mengembalikan bel itu padanya. Mereka telah dipertemukan kembali. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Suzu amat bersyukur. "Berkat Tuan. Aku bisa mencari jalan kehidupanku lagi. Aku bisa menerima segalanya dan tak menyesali apapun."
Takatora masih membeku ketika melihat seulas senyuman pada wajahnya. Dirinya tak pernah meminta rasa terima kasih dari Suzu. Meski ia tak dapat menyelamatkan semua orang, namun setidaknya orang yang telah ia ketahui wajah serta sifatnya, telah ia selamatkan. Meski hanya satu orang, dirinya pun telah tertolong.
"A-Ah. Aku terlalu banyak bicara..." Suzu langsung beringsut dan menjauhi kontak mata dengannya karena merasa ditatapi terlalu lama olehnya. "Kumohon lupakan saja..."
"Tidak, aku tidak akan melupakannya."
"E-Eh?" Suzu menatapnya kembali. Seulas senyuman tipis mengembang pada wajah pria itu. Suzu pun tak bisa menahan selain membalas senyumannya.
Setelah berhasil menyelamatkan gadis itu, yang ia dapat hanya sekadar senyuman penuh syukur dan kepercayaan yang terpancar pada manik merahnya. "Heh, imbalan yang tidak seimbang-bukan. Entah berlebih atau kurang... Tetapi juga tidak buruk," ucapnya setelah mendengus pelan. "Kau benar, tidak biasanya diriku memperlihatkan kelemahanku pada orang lain..." gumamnya.
Secara tidak sengaja, ia telah memperlihatkan kelemahannya pada gadis kecil yang selalu mengejarnya itu. Namun ia yakin Suzu adalah orang yang tidak akan membuka atau bahkan menyebarkan tentang kelemahan dirinya.
Suzu memiringkan kepalanya kebingungan, tidak bisa mendengar perkataannya. "Tuan?"
"Tidak, bukan apa-apa."
Suzu mengedipkan matanya berulang kali, kebingungan dan mencoba mengingat apa yang Takatora katakan barusan. Matanya memandang raut wajah canggung tertulis jelas pada wajah Takatora, ia tertawa kecil.
Rasa peduli yang telah pria itu berikan, Suzu tak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membalas rasa tulus tersebut. Meski demikian, sekarang ia tak akan bisa berhenti mengejar Takatora. Jika ia tetap berdiri di sampingnya, gadis itu yakin bahwa ia akan menemukan bagaimana ia membalas ketulusannya.
Telapak tangannya mendarat di atas kepala Suzu kemudian mulai mengusapnya dengan pelan. "Nah, sekarang sudah larut. Sebaiknya kau tidur."
Suzu mengangguk. "Ya." Gadis kecil itu berbaring di futon, kemudian kembali menatap Takatora yang masih duduk di dekat pintu shoji. "Takatora-san...?"
"Aku akan menunggumu sampai kau tertidur."
"Eh?"
Takatora meraih tangan kanan Suzu dan menggenggamnya. "Tidurlah."
Suzu terpaku, kedua matanya membelalak dan mulai basah akan air mata. Dia mengingat saat masih kecil, kedua orang tuanya selalu mengenggam tangannya setiap ia tidur. Betapa ia sangat merindukan kehangatan pada waktu itu. Suzu mulai berdoa, ia mengingkan waktu berhenti- tidak mau melepas tangannya. "Andai saja waktu berhenti..." lirihnya. Ia tidak ingin tertidur, ia ingin kehangatan itu terus berlanjut. Namun ia tahu bahwa harapan kecilnya tidak dikabulkan. Meski demikian, ia sangat bersyukur telah diizinkan untuk merasakan kehangatan itu sekali lagi.
Gadis itu menaruh tangan kekar pria itu di kelopak matanya kemudian tertawa kecil. Bulir air mata yang keluar membuat kulit punggung Takatora sedikit basah. "Suzu? Kau-"
"Senangnya..." ucapnya sambil terisak. "Takatora-san tidak adil. Tapi, terima kasih banyak... sungguh."
Takatora terdiam sejenak lalu menjawab. "Ya, sama-sama."
Suzu mulai memejamkan matanya yang lelah, membiarkan wajahnya sedikit basah akan air mata kebahagiannya. Tangannya yang mungil masih menggenggam tangan besar Takatora. Manik biru pemuda itu terkunci pada wajah tidurnya. Terlihat begitu tenang, memikirkan gadis kecil yang tidak bersalah seperti dirinya harus hidup di tengah kehancuran negeri saat ini. Ia ingin melindungi ketenangan tersebut, tak mau melihat kesedihan yang menghancurkan ketenangan hatinya. Tak bisa membiarkan hatinya sendiri begitu saja, ia telah mengetahui apa yang telah membuat air matanya mengalir. Dan bahkan setelah kata-kata kepercayaan yang dia katakan padanya.
Ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Suzu. Perlahan pria itu menurunkan kepalanya, ia tak mengerti apa yang mendorongnya untuk mendekatkan pandangannya pada wajah Suzu. Tangan kirinya yang bebas menyelitkan anak rambut yang menghalangi wajahnya kemudian menyeka pipinya yang sedikit basah oleh air matanya. "Jika aku kembali terpukul oleh keputusasaanku. Bisakah kau menyelamatkanku lagi, Suzu?" bisiknya.
Menyadari jarak wajah mereka yang dekat, ia bergegas menjauh. Takatora menghela napas sambil mengurut dahinya. Ia berharap Suzu tak mendengar ucapannya barusan.
Setelah beberapa menit menunggu Suzu benar-benar terlelap, dengan perlahan ia melepas tangannya dari genggaman Suzu kemudian bertolak meninggalkan ruang perawatan. Setelah seharian penuh bekerja membuatnya lelah. Sebetulnya ia ingin menjenguk Suzu esok hari, namun ketika Yoshitsugu memberitahunya bahwa Suzu telah sadarkan diri. Ia tak bisa menahan diri untuk pergi melihat keadaannya.
Langkahnya hendak berjalan menuju rumah, namun di lorong istana Takatora menemui teman lamanya yang terlihat sedang menunggu kedatangannya. Ia membawa sake serta dua cawan.
"Sudah lama sekali, ya?"
-XxX-
Dua pria itu duduk di roka. Masing-masing mereka meminum sake sembari memandang langit malam.
"Minum bersamamu seperti ini mengingatkanku pada masa dulu. Dan sekarang kita kembali berada di jalan yang sama," ucap Takatora.
"Hm, kau benar."
Ranting pohon bergerak dan rimbun dedaunan bergesekan oleh semilir angin yang berhembus lembut menyambut pandangan mereka yang mengarah menuju angkasa. Mereka yang dulunya memutuskan untuk memilih jalan masing-masing kini telah dipertemukan kembali. Yoshitsugu tahu bahwa Takatora masih membenci Hideyoshi yang telah membuat mantan majikannya dahulu tidak dibiarkan untuk mengejar visinya. Namun pria bersurai hitam panjang itu memilih diam- karena ia bukanlah orang yang menyesali apa yang telah terjadi pada masanya dahulu.
"Apakah waktu itu Shirousagi memintamu untuk mengakhiri hidupnya?" ucap Yoshitsugu memecah keheningan. Takatora hampir tersedak akibat mendengar tebakan pria berkerah tinggi tersebut. Ia melirik kearah teman seperjuangannya. Dia dengan mudahnya menebak aliran seseorang dengan sekilas. "Kau memang lunak, Takatora. Mudah sekali mengasihani orang lain."
"Biar aku mengoreksi perkataanmu barusan. Bukan mengasihani, tapi peduli."
Yoshitsugu mendengus. "Kau tidak ingin membiarkan kelinci itu mati kesepian, 'kah?"
Takatora terdiam sejenak. "Kelinci... Kurasa begitu." Lalu ia tertawa pelan. Sejak dulu Yoshitsugu yang selalu menjahili Suzu bahkan sampai sekarang ia masih menyebutnya dengan nama panggilan Shirousagi. Mengingat rambut perak menyerupai salju serta mata merahnya yang hampir menandingi batu delima, ia memang hampir menyerupai kelinci putih.
Meski begitu, ia tahu bahwa Suzu tidak menyukai rupanya yang sering dia anggap tidak normal. Dulu ia selalu menutupi kepalanya dengan tudung hitam karena tidak ingin mendengar orang lain membicarakannya. Kecuali Yoshitsugu yang dari awal sudah mengetahuinya, kemurnian hatinya membuatnya tak bosan untuk menggoda gadis kecil itu. Namun Suzu tidak begitu memikirkan candaan Yoshitsugu mengenai rupa dirinya. Yoshitsugu memiliki caranya sendiri agar candaannya tidak berlebihan untuk Suzu.
Selain itu, jika seekor kelinci dibiarkan sendirian, maka hewan umur hewan tersebut berkurang. Seperti Suzu yang hampir tidak memiliki apapun membuat dirinya hampir kehilangan nyawa. Namun kini dia adalah kelinci putih yang tidak lagi selalu bersembunyi untuk menarik dirinya dari orang lain yang telah mempedulikannya. "Kau benar. Dia benar-benar seperti kelinci..." Takatora meneguk sake-nya sampai habis.
"Dia memiliki kepercayaan besar dan sama sekali tidak memiliki prasangka buruk padamu, dia tidak akan menggigit. Kelinci itu akan selalu mengejarmu," ucap Yoshitsugu sambil menuangkan sake pada cawan Takatora. "Bukankah itu hal yang baik?"
"...ya. Aku tahu, aku mengerti. Tapi tetap saja, aku tak pantas untuknya. "
"Jadi kau akan menghindari arus itu?"
Takatora meratapi pantulan wajahnya pada air sake. Meski ia telah berhasil menyelamatkannya, entah mengapa kini keraguan lain masih tertinggal di hatinya. "Entahlah..."
-XxX-
-XxX-
