A/N : Happy New Year, telat. Kok terasa makin sepi ya? Ah sudahlah, mari langsung balas review!
-RosyMiranto
Suzu : Uh, sejujurnya aku tidak mengerti dengan cerita Aki-san tadi... android, teknologi atau semacamnya. Tapi bersemangatlah!
Blossom : Dan aku juga mau jujur kalau sebenarnya setelah baca background Aki & Natsuko sepertinya tidak terlalu atau bisa dibilang sedikit berpengaruh dengan 'main course' di fic ini.
Scarlet : Tapi tak apa. Kami usahakan interaksinya muncul sesuai dengan di PM, yeah? Maaf kalau interaksinya terlalu sedikit, harap saja chapter depannya bakal lebih banyak. *sujud gaje*
Blossom : Tom*kazu Seki... berarti sama dengan G*lgamesh dari anime/game VN 'Takdir/Begadang Semalaman'!
Scarlet : Gak perlu disensor pula woi! Terus kenapa di terjemahin ke indo namanya!? Jelek tau!
Blossom : Tidak tahu tsukkomi? Untuk lebih jelas bisa di cek di mbah gugel. Pakai kata kunci 'Manzai'. Tsukkomi itu bisa dibilang artinya si pelurus gitu, maksudnya ngelurusin keganjalan atau kekonyolan dari si Boke alias si bodoh. Kira-kira begitu.
Scarlet : Yosh! Terima kasih banyak! Terima kasih banyak! *bows*
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me, except Kimura Siblings belongs to RosyMiranto.
Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?) *plak*. Mohon maaf atas kesalahannya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XxX-
Bell of the White Hare
-XxX-
CHAPTER 6
The Hearts of Dreamers
-XxX-
Summer, June 1583
Ia memikirkan sudah berapa kali dirinya melewati musim panas sejak itu. Perang pertumpahan darah masih belum usai, masih jauh dari kata perdamaian.
"Yah, tapi kuakui istirahat sebentar di roka setelah menyelesaikan pekerjaanku dengan Tuan Yoshitsugu, membawa kipas kecil untuk mengurangi gerah disekujur tubuhku dan merendamkan kaki di siang hari seperti ini. Aku akan menyebut itu 'perdamaian'. Uh, baik, sepertinya cara bercanda Tuan Yoshitsugu sudah tertular padaku," gumam Suzu pada dirinya sendiri.
Sudah banyak hal yang terjadi sejak ia menjadi anak didikan dibawah naungan klan Hashiba. Dulu dirinya hampir mati akibat perbuatan Kagome, wanita yang masih ia belum ketahui jati dirinya. Tapi beruntung ia telah diselamatkan oleh Tōdō Takatora, kini mereka menapaki jalan yang sama. Itu sudah cukup menenangkan hati kelinci putih tersebut.
Semenjak ia mengabdikan diri pada Hashiba Hidenaga, Takatora masih belum meninggalkan kebiasaannya untuk bekerja keras. Bahkan ia juga berpatisipasi dalam membangun istana. Walaupun alhasil mereka mulai jarang bertemu, bahkan jarang ia mendapat waktu senggang. Meski demikian Suzu tidak mengeluh, dirinya juga ingin diandalkan oleh orang terdekatnya agar ia mendapat kepercayaan lebih. Sejujurnya Suzu merasa hubungan mereka menjadi lebih jauh meski mereka sangat dekat.
Ia tidak menginginkannya, ia tidak mau lagi berpikir terlalu jauh. Jadi ia membuang kecemasannya. Padahal ia telah menetapkan hatinya untuk percaya bahwa segalanya akan berjalan dengan baik.
Selain itu, kejadian buruk telah menimpa klan Oda. Setahun yang lalu, Oda Nobunaga dinyatakan telah menemui ajal. Awalnya saat itu Hideyoshi meminta bala bantuan untuk menjatuhkan Istana Takamatsu. Kemudian Nobunaga mengirim Mitsuhide dengan jumlah pasukan yang cukup banyak. Akechi Mitsuhide berhasil mencapai kesempatannya untuk menghancurkan Oda Nobunaga di kuil Honnoji. Dengan perbandingan jumlah pasukan yang berat sebelah adalah kekalahan mutlak bagi Oda Nobunaga.
Padahal saat itu Oda Nobunaga mencapai kejayaan, hampir menyatukan seluruh Jepang. Tinggal menaklukkan Mori, Uesugi dan Hojo. Mendengar berita kematian tersebut Hideyoshi secara besar-besaran menarik pasukan mereka kembali untuk membalas kematian Oda Nobunaga di Yamazaki dan hasilnya Akechi Mitsuhide kalah telak.
Namun, jasad Oda Nobunaga tidak ditemukan hingga sekarang. Suzu selalu ingin tahu apakah jasadnya telah terbakar habis bersama tulangnya? Ataukah seseorang menyembunyikan jasadnya? Atau telah dikubur di suatu tempat? Tak ada satu orang pun tahu. Mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk sedikit pun hingga kini.
Maka dari itu, Hideyoshi memutuskan untuk membangun kuil Soken-in untuk peringatan setahun meninggalnya Oda Nobunaga. Dia membuat dua buah patung kayu sebagai pengganti jasadnya yang tidak pernah ditemukan, satu buah patung untuk dikremasi dan satu buah patung untuk disimpan di dalam kuil Soken-in.
Kemudian untuk menentukan pewaris klan Oda berikutnya, Hideyoshi telah berangkat untuk mengadakan pertemuan di Istana Kiyosu.
Sementara itu, untuk kasus Suzu-
Dirinya tinggal bersama klan Hashiba sudah hampir 10 tahun, tidak ada masalah mengenai itu. Tetapi yang menjadi masalah adalah dia, seorang perempuan dan berumur hampir 22 tahun. Seorang perempuan diwajibkan untuk menikah. Putri dari daimyo, atau putri dari seorang samurai, atau dari seorang anak perempuan yang memiliki kedudukan rendah pun diwajibkan untuk menikah. Nene pernah memberitahunya bahwa ia menikah dengan Hideyoshi saat ia berumur 14 tahun. Biasanya seorang perempuan sudah diizinkan menikah pada umur 12 tahun.
Sedangkan Suzu, umurnya yang hampir 22 tahun memiliki suatu alasan yang menjadi penyebab ia masih belum menikah-
"Suzu-chaaan? Hei~ Jangan abaikan aku!" rengek seorang gadis sambil menarik lengan pakaian Suzu.
"Ah, Natsuko, ada apa?"
"Suzu-chan dari tadi kenapa melamun terus? Sekarang masih siang lho!"
"A-Ah, bukan apa-apa kok." Suzu menggoyang kedua tangannya dan tersenyum paksa. "Tapi sejak kapan kapan kamu berada disini?" gumamnya.
"Eeeh? Masa'? Pasti terjadi sesuatu! Ah! Jangan katakan padaku kalau Suzu-chan ingin melihat wajah Yoshitsugu-dono!?"
"Bukan, bukan, bukan." Suzu langsung protes dengan menggoyang tangan kanannya. "Aku tidak pernah berniat begitu. Lagipula itu Natsuko sendiri yang ingin melihatnya 'kan?"
"Ya! Aku ingin lihat!" Ia mengangguk dan tersenyum lebar.
'Sudah kuduga...'
Gadis bersurai merah jambu yang duduk di sebelahnya adalah Kimura Natsuko, adik dari Kimura Aki. Mereka pertama kali bertemu saat invasi menuju Istana Takamatsu. Memiliki kepribadian yang mudah berbaur dengan orang lain, periang, tetapi juga ceroboh. Suzu pun tidak mengerti bagaimana cara dia mudah berbicara dengan seseorang yang baru ia kenal, tidak seperti dirinya yang terkadang canggung dengan orang lain.
"Nee! Menurut nona bagaimana wajah Yoshitsugu-dono?"
"Eh? Bagaimana apanya? Dia memiliki wajah kok. Hm, pasti."
"Tapi Suzu-chan belum pernah melihat wajahnya, bukan?"
"Uh, ya, memang. Tapi 'kan..."
"Natsuko! Disini kau rupanya."
"Oh, Onii-chan!" Perempuan dengan nama klan Kimura itu berbalik, mengejar sang kakak kemudian langsung memberikan pelukan. "Onii-chan sudah selesai latihan berpedangnya?"
"Belum. Masih banyak yang harus kukuasai. Lalu, kau tiba-tiba saja menghilang dan ternyata kau ada disini. Kau sebaiknya jangan menganggu Suzu-dono. Lihat, dia kelelahan!"
"Wah, iya! Maafkan aku, Suzu-chan."
Suzu hanya tersenyum paksa mendengar percakapan kakak-adik tersebut. Kemudian lelaki bersurai hitam- Kimura Aki, kakak dari Natsuko pamit meninggalkan Suzu.
"Kalau begitu sampai jumpa lagi, ya, Suzu-chan!" ucap Natsuko melambaikan tangan. Ia kemudian berlari mengikuti sang kakak dari belakang.
"Natsuko beruntung sekali. Andai saja aku juga memiliki kakak atau adik, aku pasti akan lebih bahagia." Suzu menumpukan kedua telapak tangannya di lantai kayu, sepasang matanya tertuju kearah arah awan putih yang berkumpul menghiasi langit biru. "Apakah perasaan ingin memiliki sesuatu itu adalah... iri? Ah, kurasa bukan." Suzu tertawa kecil, kemudian memejamkan mata. "Hati manusia penuh teka-teki, ya..." desahnya.
"Ah, Suzu-chan disini kau rupanya."
Seorang wanita bersurai coklat pendek datang menghampirinya. Ia membawakan dua gelas teh. Cara berjalannya yang pelan serta raut wajah yang ingin membicarakan sesuatu membuat Suzu ingin menghindarnya. Tapi tidak mungkin ia lakukan. Suzu mengeluarkan kakinya dari rendaman air dingin, namun wanita itu memberinya isyarat tangan untuk menyuruhnya tetap merendamkan kaki. "Hari ini kulihat kamu bekerja keras lagi. Kau pasti lelah."
Gadis bersurai perak itu menggeleng pelan dan memberikan senyuman. "Tidak juga kok, Onene-sama."
"Dasar, Suzu-chan masih saja bersikap tegang seperti itu." Ia menaruh teh tersebut di sampingnya.
"Ah, Onene-sama tidak perlu menyuguhkan teh untukku. Aku jadi-"
"Tidak apa!" ucapnya sambil tersenyum dan berkacak pinggang. Kemudian ia duduk di belakang Suzu. Meraih rambut peraknya yang mulai sedikit panjang.
"Onene-sama?" Kedua tangannya yang mulus mulai menyisir rambut Suzu, sentuhan Nene sudah cukup bisa menjawab kebingungannya.
"Kau pasti kepanasan," ucapnya sembari menguncir rambutnya dengan pita merah-hitam.
"Terima kasih banyak." Mengingat raut wajahnya tadi membuat rasa penasarannya membesar. Tetapi Suzu hanya berharap Nene tidak membicarakan mengenai hal 'itu'.
Kemudian Nene pindah duduk disamping Suzu, menyeruput teh lalu terdiam. Jemarinya yang lentik bermain dengan mulut gelas teh. Suzu belum bisa menemukan manik coklatnya. Ia tak punya pilihan selain menunggunya berbicara.
"Suzu-chan, apa kau masih tidak mau?"
Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Suzu sangat ingin menghela napas sepanjang mungkin atau berteriak di atas tebing untuk melepas segala yang memberatkan napasnya. Tapi tidak mungkin ia lakukan.
Setelah hampir 10 tahun ini, Nene selalu membujuk Suzu untuk segera menikah. Hideyoshi bahkan berencana untuk mengirimkan lamaran pernikahan politik ke klan yang bekerja dibawah naungan Hashiba. Namun Suzu menolaknya.
Sejujurnya tak pernah terlintas di pikirannya mengenai pernikahan. Memang dengan umurnya yang sekarang, seharusnya ia sudah lama menikah. Selama ini yang dipikirannya hanyalah bertahan hidup bersama keluarganya yang baru, Hashiba.
"Aku sangat berterima kasih Onene-sama. Tapi, aku tidak pernah berpikir untuk menikah."
Nene menghela napas. "Lagi-lagi kamu mengatakan itu. Alasanmu tidak berubah."
Suzu menjauhi kontak mata dengan Nene, wanita yang ia anggap seorang ibu selain Oichi. "Aku memang memutuskan untuk melakukan apapun untuk Hideyoshi-sama dan Onene-sama, bukan untuk sekadar membalas budi. Tapi melakukan pernikahan politik untuk perempuan yang bahkan bukan anak kandung sepertiku... aku tidak pantas menerimanya. Jadi- aduh!"
Tiba-tiba Nene langsung menjitak kepala gadis disampingnya. Refleks tangan Suzu langsung mengusap kepalanya yang kesakitan. "Dasar, Suzu-chan terlalu merendahkan diri!"
"E-Eh...?"
"Meskipun kamu adalah anak didik kami seperti Mitsunari dan yang lain, kami sangat mempedulikan kehidupanmu kelak, Suzu-chan! Kamu mau hidup sendirian seperti ini?"
"Eh? Ah, aku tidak keberatan kok..."
Nene langsung menepuk keningnya lalu menghela napas. "Itu bukan jawaban yang kuharapkan, Suzu-chan."
"Anu, aku benar-benar minta maaf mengenai hal ini, Onene-sama. Tapi kumohon berikan aku waktu lebih lama lagi untuk memikirkannya."
Nene terdiam sejenak, matanya menatap lurus ke mata merah gadis berkepala perak tersebut, dahinya berkerut, kedua tangan wanita itu menahan pinggangnya. Kemudian ia menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau kamu sudah memutuskannya, secepatnya kamu harus memberitahuku, ya? Aku melakukan semua ini demi kamu, Suzu-chan."
"Baik. Aku sangat berterima kasih." Suzu mengangguk dan tersenyum.
Dengan mimik wajahnya yang sedikit mulai lega, ia pergi meninggalkan Suzu.
Gadis bermanik merah rubi tersebut segera kembali ke ruangan untuk melanjutkan pekerjaan. Ia menggeser pintu shoji setelah mendengar ucapan 'masuk' dari majikannya, Yoshitsugu.
Ketika Suzu masuk, pikirannya teringat akan ucapan Natsuko. Mata merahnya melirik ke arah Yoshitsugu yang tengah sibuk mengerjakan tugas. Pria berkerah tinggi tersebut dengan cepat menyadarinya.
"Ho? Sepertinya kau baru saja membicarakan hal yang menarik. Sampai kau sangat penasaran dengan rupa wajahku?"
Suzu menelan ludah. "A-Aku tidak pernah berniat untuk melihat wajah Tuan kok! Sungguh!"
"Benarkah? Sayang sekali, padahal aku ingin memamerkannya padamu."
"Eh? Masa'?"
"Ya. Tapi sayang sekali kau terlambat. Jika kau dengan sengaja menurunkan kerah pakaianku, kau akan dikutuk dan kesakitan melebihi saat racun menggerogoti tubuhmu."
"Siapa juga yang mau melakukannya. Lagipula itu bohong 'kan? Tapi kejam sekali," komentar Suzu dengan nada datar. Ia kemudian duduk, mengambil kuas dan mulai menulis. "Omong-omong, aku jadi penasaran bagaimana bisa jasad Nobunaga-sama tidak ditemukan hingga sekarang. Kalau benar bahwa seluruh tubuhnya terbakar, bukankah aneh kalau tidak menyisakan tulangnya sedikit pun... atau semacamnya?"
Yoshitsugu berhenti menulis, ia menaruh kembali kuasnya. "Kau penasaran?" tanya Yoshitsugu dengan suara dalam.
"Er... ya. Tapi tidak terlalu. Tapi tolong jangan menakutiku dengan suara menyeramkan seperti itu."
Yoshitsugu mengeluarkan seikat wortel dari dalam lacinya. "Kalau begitu kau bisa mencarinya. Kau memiliki penciuman dan pendengaran yang melebihi kelinci biasa. Sebagai hadiah aku berikan kau seikat wortel. Jika kau menemukan sisa tulang atau tengkoraknya, aku yakin Hideyoshi-sama akan memberimu hadiah lebih bagus daripada wortel ini..."
"Tidak, terima kasih. Selain itu, Tuan harus minta maaf pada seluruh kelinci di muka bumi."
"Benarkah? Baiklah, aku mohon maaf, Shirousagi."
"Bukan padaku! Mau sampai kapan Tuan menganggapku seekor kelinci!?" balas Suzu dengan kesal.
-XXX-
Setelah bekerja seharian penuh, akhirnya malam pun datang untuknya istirahat. Suzu membiarkan rambutnya yang masih dikuncir oleh Nene tadi siang, kepalanya terasa sedikit ringan. Setiap malam tiba Suzu selalu berjalan keliling istana sambil memandang langit. Baginya musim panas tidak buruk, setiap malam langit tidak begitu gelap. Memandang ribuan bintang dan terangnya bulan yang menghiasi gelapnya angkasa sepertinya sudah menjadi kebiasaan sekaligus hobi baginya.
Ia menyembunyikan lengannya di belakang punggung, sembari bersenandung gadis itu berlari diiringi loncatan kecil tanpa mengalihkan pandangan ke atas. Bel yang ia kalungkan di leher pun ikut berdering. Mengingat sudah larut malam, ia merasa tidak masalah membiarkan belnya berdering. Ia yakin deringan loncengnya tidak terlalu berisik.
Suzu berhenti, masih belum mengalihkan pandangannya keatas. Pikirannya mulai berkelana. Mengingat nasihat Nene tadi siang. Ia melompati pohon kemudian duduk diatas dahan.
Menikah.
Jika ia menerima tawaran mereka, apa artinya dia akan meninggalkan tempat ini? Mungkin dia bisa lebih bahagia jika menikah dengan orang yang mereka tentukan. Bukankah itu hal yang baik? Dengan demikian Hideyoshi dan Nene tidak perlu repot mengurus dirinya.
Mungkin benar, mungkin ini lebih baik. Ia akan lebih bahagia, bagaimanapun juga Suzu hanya menginginkan kebahagiaan. Mungkin ia tidak mengenal orang yang akan dinikahkan dengannya, tapi seiring berjalan waktu dia yakin pasti ada kesempatan dimana mereka bisa saling memahami. Dirinya akan lebih bahagia... melebihi saat ia bersama Takatora.
...
Suzu menggeleng kencang. Mengapa sosoknya tiba-tiba muncul di dalam pikirannya? Takatora tidak ada sangkut pautnya mengenai hal ini. Memang ia pernah mengatakan untuk menolong Suzu mencari kebahagiaan. Akan tetapi jika Suzu menolak tawaran pernikahan tersebut, ia pasti akan membebaninya lagi bahkan pada Hideyoshi dan Nene. Sebaliknya, jika ia menerima pernikahan itu, dirinya tidak akan membebani mereka lagi.
Membebani. Apa yang ia pikirkan? Takatora menolong dirinya dengan tulus, juga Hideyoshi dan Nene rela mendidiknya hingga kini. Suzu memukul keras kepalanya. Dirinya tak ingin lagi menganggap semua yang telah membuatnya tertolong adalah hal yang membebani orang yang telah membantunya. Suzu berulang kali mengutuk dirinya sendiri.
Berkat mereka semua, ia dapat bernapas hingga kini. Ia telah diberkati. Jika tidak, orang yang ia sayangi yang berada di alam yang jauh tidak akan bisa tenang melihat dirinya berpikir terlalu rendah pada dirinya sendiri. Kedua orang tuanya, bibinya dan Nagamasa sedang memerhatikannya, ia tidak akan membiarkan mereka semua kecewa.
Mengenai pernikahan, dulu Ryoko pernah memberitahunya sebelum Oichi menikah dengan Nagamasa, dia menikah dengan Shibata Katsuie tapi langsung dibatalkan. Setelah Nagamasa dinyatakan telah menemui ajal, Oichi kembali menikah dengan Shibata Katsuie.
Entah mengapa bagi Suzu itu sedikit menyedihkan. Namun sebagian dari dirinya berpikir jika itu hal yang bagus agar Oichi tidak kesepian. Lagipula bukan artinya ia menganggap Shibata Katsuie menggantikan Tuan Nagamasa yang telah tiada. Suzu yakin akan hal itu.
Suzu membentur pelan kepalanya ke batang pohon. Apa yang ia pikirkan? Oichi tidak mungkin melupakan Nagamasa. Ia yakin Oichi bukanlah wanita yang dengan mudahnya membuang perasaan serta kenangan indah yang telah tersimpan di dalam benaknya.
"Wah-" Suzu tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Dengan cepat tangannya langsung menangkap dahan. Namun karena tangannya yang terlambat mengeratkan pegangan, tubuhnya mulai terjatuh dari pohon. Suzu pun menjerit ketakutan.
Seharusnya tubuhnya telah mendarat diatas tanah. Aneh, ia sama sekali tidak kesakitan, malahan tubuhnya merasa nyaman. Sebuah tangan yang kuat menahan punggung serta kakinya. "Aku bisa mengerti kau sedang bosan. Tapi sebaiknya kau mengubah kebiasaanmu melamun di malam hari dan duduk di atas pohon, Suzu."
Suzu membuka matanya perlahan. Manik merahnya menemukan manik biru milik pria itu. Lelaki bersurai hitam tersebut mendengus pelan, geli melihat kecerobohannya.
"T-Takatora-san..."
"Hm, sepertinya kau baik-baik saja. Hanya sedikit pucat karena terkejut," ucapnya sambil menurunkan Suzu dengan hati-hati. Kedua tangannya menahan kedua bahu Suzu agar dapat memastikan dirinya tidak kehilangan keseimbangannya untuk berdiri.
"Terima kasih banyak, Tuan." Tangan kekarnya kemudian mendarat diatas kepala Suzu, membelai rambutnya dengan lembut. Suzu tertawa kecil, membiarkan Takatora membelai rambutnya.
Jika diingat kembali, setiap kali mereka bertemu Takatora senang membelai rambutnya. Suzu bukannya tidak suka, malah sebaliknya. Belaian yang lembut selalu membuat gadis itu senang, selalu mengingatkannya saat mendiang kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang membelai kepalanya. Nagamasa, Oichi, dan juga Ryoko- mendiang bibinya selalu melakukan hal yang sama. Selain itu, Suzu selalu merasa bahwa mereka bisa saling memahami lebih jauh lewat sentuhan tangannya.
"Akhir-akhir ini kita sering bertemu setiap malam. Tuan pasti lelah, 'kan? Sebaiknya Tuan banyak istirahat."
"Tidak masalah, aku bisa mengatasinya." Ia kemudian menurunkan tangannya dari kepala Suzu.
Tidak masalah, 'kah? Takatora memang selalu seperti itu, batin Suzu. Dia selalu berjuang dengan keras, tetapi ia jarang memikirkan dirinya sendiri. Tapi dia masih sanggup mengatakan semua itu 'tidak masalah'.
"Tuan memang kuat..." lirihnya pelan sambil menjalinkan kedua tangan.
"Hm?"
"Ah, tidak. Bukan apa-apa kok!" Suzu menggeleng kencang.
Tapi, apakah tidak apa baginya? Semua yang ada di pikirannya adalah bertahan hidup demi kesetiaan dan menemukan perdamaian, memprioritaskan perintah majikannya tanpa mengeluh. Ia tidak mengatakan jalan hidupnya adalah hal yang salah. Hanya saja...
Suzu sangat mencemaskannya.
"Suzu. Kau dengar aku?"
"Ah, ya?" Gadis pemilik manik merah itu kembali mempertemukan matanya dengan manik birunya.
"Sejak tadi aku memerhatikanmu di atas pohon, apa yang membuatmu berpikir sangat serius?"
"Eh!? Tuan memerhatikanku selama itu!?" pekik Suzu terkejut. "A-Ah, bukan aku sebenarnya. Tapi..."
Sebagian dari dirinya ingin mengatakannya, namun sebagian tidak. Dia tidak tahu bagaimana tanggapan Takatora. Dan sebaiknya ia tidak membicarakan mengenai rencana pernikahan politik yang diarahkan padanya.
"A-Ah! Omong-omong, anak perempuan Yoshitsugu-san tinggal beberapa tahun lagi akan diizinkan untuk menikah, ya!" ucap Suzu berusaha menutupi masalah.
Ia menaikkan sebelah alisnya kebingungan. "Err... ya, aku tahu. Lalu?"
"Eh? Ah..."
"Kau hanya memikirkan itu?"
"B-Bukan itu! Maksudku apakah Tuan pernah berpikir untuk menikah... atau sejenisnya-"
'Astaga! Aku berbicara terlalu blak-blakan! Padahal aku baru saja memutuskan untuk membicarakan tentang pernikahan!'
Suzu menepuk mulutnya sendiri berulang kali. "A-anu... mohon lupakan saja perkataanku tadi!" pintanya dengan panik.
Namun ketika Suzu mencoba untuk berkontak mata lagi. Biji matanya menerawang jauh ke langit. Suzu tidak bisa mengatakan apakah dia merasa terganggu atau tidak dengan pertanyaannya barusan.
"Aku hidup hanya untuk mencari perdamaian demi mewujudkan keinginan mereka yang telah tiada. Kebahagiaan untukku adalah hal yang sia-sia. Itu bahkan tidak sesuai dengan jalan kehidupanku."
Tubuh mungilnya menegang seketika, sepasang mata Suzu membulat sempurna mendengar kalimat yang baru saja ia keluarkan lewat bibirnya. "Sia-sia..?"
"Kau sudah tahu, bukan? Aku akan mewujudkan impian Nagamasa-sama dengan-"
"A-aku tahu itu! Tapi, tetap saja... aneh, tidak mungkin," jawabnya dengan terbata-bata, berusaha sekeras mungkin untuk membetulkan ucapannya. "Takatora-san seharusnya lebih menghargai keberadaanmu. Berharap lebih pun tidak apa. Kita semua hidup di dunia yang seperti ini, aku yakin tidak ada satu orang pun di negeri ini yang tidak menginginkan kebahagiaan. Takatora-san juga pasti akan menemukannya!" Secara tak sadar, Suzu meninggikan nada suaranya.
"Apa yang membuatmu berpikir demikian?" tanya pria itu lagi. Air mukanya yang minim- tak berekspresi masih belum berubah.
"Eh? Itu karena... aku juga tidak mengerti tapi... tapi aku tidak mengatakan semuanya salah tapi... " Ia beringsut mundur, sepasang matanya tak sanggup lagi bertemu dengan manik biru miliknya.
'Kenapa aku tidak bisa memikirkannya? Kenapa sulit sekali? Aku hanya perlu menyatakan semua yang ada di pikiran dan hatiku, namun apa yang membuatku mundur?'
Takatora terdiam sejenak meratapi wajahnya yang melukiskan kepedulian dan sendu. Ia mengalihkan pandangan. "Suzu. Kau tidak perlu mencemaskan orang sepertiku. Inilah jalan yang kutapaki."
Dia benar, namun hatinya terasa disayat. Rasanya lebih sakit daripada saat ia diracuni oleh Kagome dulu. Bagaimana dengan perasaan Takatora itu sendiri? Ia membicarakan mengenai jalan kehidupannya yang tak memiliki harapan untuk dirinya sendiri, bukankah seharusnya dialah yang merasakan sakit lebih dibandingkan dirinya?
Hening menyusup di antara mereka berdua. Mata merahnya masih menurun, menjauhi kontak mata dengan Takatora. Gadis bersurai perak itu ingin membalas ucapannya, namun tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
"Kenapa kau begitu mencemaskanku?"
"Habisnya...! Tadi Tuan mengatakan kalau kebahagiaan untukmu adalah hal yang sia-sia. Itu tidak mungkin. Aku sendiri bertanya-tanya, kenapa Tuan tidak menghargai dirimu sendiri dan menjauh dari kebahagiaan? Bagiku, itu sama sekali tidak bertentangan dengan jalan kehidupanmu, Takatora-san."
Takatora terdiam sedangkan Suzu memutuskan untuk menunggu.
"Sudah kubilang, bukan? Aku hidup demi merealisasikan perdamaian yang diinginkan Nagamasa-sama. Aku berhutang padanya untuk hidup dengan mewujudkan perdamaian."
"Tuan sama sekali tidak menjawab pertanyaanku..." Ia mengepalkan kedua tangan.
"Suzu..."
Suzu mulai menutup kepala dengan tudung kepala yang berwarna merah gelap. "Sejujurnya aku... sangat mengkhawatirkanmu, Takatora-san. Aku percaya Tuan pasti bisa merealisasikan impian Nagamasa-sama. Tapi Tuan mendorongku untuk membuang kepedulianku padamu. Tapi aku tidak bisa, Tuan. Itu tidak adil," lirihnya.
"Suzu, dengar-"
"Tidak. Tidak apa, Takatora-san. Tuan tidak perlu memaksakan diri untuk menjelaskan semuanya padaku. Lagipula perempuan sepertiku mungkin tidak pantas untuk memahamimu. Aku memang bodoh, ya," ucap Suzu sambil tersenyum kecil sembari mundur beberapa langkah. "Sekarang sudah larut malam, Tuan sebaiknya istirahat penuh. Tuan pasti lelah, bukan? Selamat malam." Suzu melakukan ojigi kemudian langsung berlari pergi meninggalkannya sendirian. Ia tidak sanggup melihat ke belakang.
Ia tak paham. Semua perasaannya bercampur aduk. perasaan amarah dan kesedihan. Jika sesuatu yang buruk menimpanya, perasaan amarah dan kesedihan itu akan membesar. Namun Suzu tidak membenci perasaan itu, dirinya juga tidak membenci Takatora. Namun ternyata benar, meski mereka begitu dekat namun kenyataan jarak diantara mereka masih sangat jauh.
Jalan kehidupannya tidak lebih dari sebuah alat. Alat yang hanya dapat hidup dengan satu fungsi. Semua yang ingin dicapai hanyalah bertahan hidup demi menghidupkan kesetiaan dan mewujudkan perdamaian. Mendedikasikannya pada mereka yang menghutanginya nyawa untuk hidup dan pada mereka yang pantas mendapatkan perdamaian. Rela melakukan apapun meski nyawanya harus menjadi taruhan. Dan tak memiliki harapan untuk dirinya sendiri. Ia telah mempersiapkan dirinya untuk mewujudkan segalanya demi negeri ini.
Sama seperti bibinya dulu. Dirinya yang kehilangan hanya memiliki pilihan untuk hidup sebagai kunoichi, kemudian sebagai pengawal pribadi Oichi. Kebaikan serta ketulusan hatinya yang tak terhingga, namun tidak pada dirinya sendiri. Ia merelakan segala yang ada pada dirinya demi orang terdekatnya. Hanya demi negeri ini.
Ia tahu negeri ini yang telah membuat semua orang harus menapaki jalan kehidupan seperti itu. Tapi apakah tidak ada yang bisa ia lakukan? Menyalahkan dunia bahkan pada Kami-sama pun tidak ada gunanya. Disinilah dunia dimana mereka hidup.
Takatora tidak membutuhkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Tidak, Suzu tetap tidak menginginkannya.
Meski semua itu adalah jalan kehidupannya seorang. Perasaan yang bercampur di dalam benaknya menantangnya. Dirinya tidak ingin Takatora membuang harga dirinya begitu saja, ia ingin pria itu lebih menghargai keberadaannya. Harus meninggalkan perasaan pribadi demi mewujudkan perdamaian, mengayunkan pedang demi mereka yang hidup ataupun yang telah mati. Suzu pun ingin mewujudkan perdamaian, namun ia tak bisa meninggalkan hatinya begitu saja seperti para pendekar termasuk Takatora. Ia tidak menganggap jalan kehidupan mereka sepenuhnya salah. Namun ia hanya tidak ingin Takatora menjauh dari kebahagiaan.
Ia langsung memasuki kamar dan menyandarkan punggungnya pada pintu shoji.
Apa yang baru saja ia katakan padanya?
Apakah ucapannya tadi menyakitinya?
Air mata mulai membasahi pipinya, berlinang pada kelopak matanya yang indah. Mengapa dirinya yang menangis? Mengapa ia berlari menjauh darinya? Ia tidak mengerti.
"Benar-benar... hati manusia penuh teka-teki," lirih Suzu sambil tertawa pelan, mencoba menahan isakan tangisnya.
"Suzu." Suara ketukan pada pintu shoji membuat semua pertanyaan yang ada di dalam kepalanya menghilang. Suzu menyeka air matanya lalu menggeser shoji dengan pelan.
"...Takatora-san."
Hening kembali menyusup di antara mereka. Suzu sebisa mungkin menjauhi kontak mata, sedangkan Takatora tak bergeming dan mengunci pandangannya pada gadis bersurai perak tersebut. Kedua tangannya yang mungil mencengkram ujung roknya. Bibir merah jambunya bergemetar menandakan ia terlalu takut mengatakan sesuatu.
Sebelumnya Takatora tak pernah memiliki masalah dengan perempuan mengenai perasaan pribadinya- kebahagiaannya. Dirinya pun tidak tahu apa yang harus ia katakan atau pun yang harus ia lakukan. Namun ia tahu bahwa dirinya bersalah karena telah mengabaikan kepedulian Suzu.
Suzu perlahan mencoba menemui pemilik manik biru itu. Meski Takatora masih terdiam dan menatapinya. Dari matanya terlihat jelas bahwa Takatora pun ikut merasa bersalah, sama seperti dirinya. Tak biasanya pria itu kesulitan menyembunyikan emosi dari hatinya.
Bukan, Takatora adalah pria yang memiliki jiwa yang mudah rapuh. Suzu tahu akan sisi dari dirinya tersebut. Ia tak pernah menyembunyikan kepeduliannya pada orang yang berarti untuknya.
Menyadari hal itu, Suzu keluar dari kamarnya. Melangkah dan menghampiri pria itu, lalu menyandarkan kepalanya di dada Takatora. Dicengkramnya dengan pelan mantel panjangnya.
Kedua kelopak mata Takatora membulat. "Suzu?" Kedua tangannya menyentuh bahu Suzu, membuat dirinya tak tahu bagaimana merespon kontak gadis itu.
"Apa aku boleh memahami dirimu, Takatora-san?" bisiknya, ia masih belum bergeming sedikit pun.
"Bodoh, kau tidak perlu meminta. Aku tidak melarangmu."
Suzu tertawa lemah. Nada suaranya kini berubah hangat, tak seperti tadi ketika ia tak bermaksud untuk mengabaikan kepeduliannya. "Senang mendengarnya."
Telapak tangannya yang kekar kembali membelai rambut Suzu. Seulas senyuman tipis lega tersinggung pada bibir pria itu.
Jalan kehidupan Takatora, Suzu menyadari bahwa takdir yang ia genggam erat tersebut bukanlah hidupnya sebagai alat. Suzu tidak akan pernah membiarkannya. Ia juga menolak bila Takatora sendirian mengorbankan diri demi negeri yang hancur ini.
"Sekarang aku mengerti, jalan kehidupan Tuan tidak salah. Hanya saja..." Suzu melepas genggamannya lalu beringsut. Menjalin kedua tangannya kemudian memejamkan kedua matanya. "Tuan pernah mengatakan padaku kalau Takatora-san akan membantuku mencari kebahagiaanku. Karena itu, aku juga akan mencarikan kebahagiaan untuk Tuan. Bersama, kita harus hidup di tengah kekacauan ini dengan kuat." Suzu mengangkat kepalanya, seulas senyuman tulus menghiasi wajahnya.
Takatora masih belum menjawab, meski mulutnya sedikit terbuka hendak menjawab namun tak sepatah kata pun keluar. Manik birunya terkunci memandang wajah senyum Suzu. "Aku ingin melakukannya. Selain itu, Takatora-san adalah orang yang istimewa untukku. Karena itu, aku tidak akan membiarkan Tuan berjuang sendirian."
Takatora masih terdiam, seisi kepalanya mencerna kalimat yang baru saja gadis itu ucapkan. Padahal ia tidak pernah meminta, namun Suzu berkeinginan kuat untuk mengulurkan tangannya. Kali ini situasi di antara mereka terbalik saat dia menolong Suzu membantunya mencari kebahagiaan dulu.
Takatora mengurut dahinya, mengalihkan pandangannya dari Suzu. "Di saat seperti ini, apa sebaiknya aku harus mengatakan terima kasih atau maaf padamu?"
Suzu tertawa kecil. "Sama-sama. Lagipula aku sangat bersyukur Tuan adalah bagian dari kehidupanku. Kita sudah seimbang," ucapnya sambil menghampiri Takatora agar bisa berdiri tepat di sebelahnya.
"Begitu," jawab Takatora singkat. Aneh, ucapan gadis itu membuatnya tenang dan lega. Namun ia baru saja mengingat sesuatu yang ingin ia katakan. Senyumannya dengan sekejap menghilang. "Suzu, sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu. Dengarkan baik-baik," lanjutnya sembari menoleh kearah Suzu, menatapnya dengan serius.
Suzu mulai penasaran, ia tak paham apakah ia harus khawatir. Apa yang membuat Takatora menatapnya seperti itu, ia pun tidak mengerti. Suzu hanya menjawab dengan anggukan pelan.
"Besok, Hideyoshi akan menyerang Katsuie."
Kedua bola mata merah Suzu membulat sempurna- tidak menyangka apa yang baru saja Takatora katakan. "Maksud Tuan, pertemuan mereka di Kiyosu tidak membuahkan hasil?"
"Ya."
"Kalau begitu, artinya... apa kita akan menyerang Oichi-sama juga?" tanya Suzu mulai panik. Kedua tangannya mulai bergemetar, takut dan kemauan ingin mundur akan kenyataan mulai membendungi hatinya.
"Aku pun tidak berharap demikian, tapi kau benar."
"Tidak mungkin..." Suzu menjalin kedua tangannya, mencengkram kulitnya dengan kuat. Detak jantungnya mulai terpompa kencang, napasnya memberat.
Memandang raut wajah Suzu yang mulai putus asa, Takatora paham bahwa Suzu tidak ingin menghadapi kenyataan. Dirinya pun demikian. "Suzu, jangan takut. Aku akan melakukan cara apapun agar Oichi-sama selamat."
Suzu mengangkat kepalanya. "Takatora-san..."
"Jadi aku ingin kau tetap disini. Kau tidak perlu terlibat dalam perang nanti. Akan kupastikan beliau selamat. Paham?"
Suzu belum menjawab. Sepasang matanya membaca raut wajah Takatora. Dia juga, tak mau menghadapi kenyataan. Tapi dengan ketetapan hatinya, ia akan menghadapinya. Kepeduliannya yang begitu besar dibandingkan apapun. Sisi hebat darinya itulah yang selalu berhasil membuat Suzu kagum dan kembali bangkit.
Suzu menghela napas panjang untuk mengatur ketidakteraturan napasnya. Ia menyentuh punggung tangan Takatora yang dipenuhi bekas luka dengan kedua tangannya yang lebih kecil. "Kau sudah tahu, bukan, Takatora-san? Dulu, Obaa-sama adalah pengawal pribadi Oichi-sama. Saat aku masih kecil dan hanya memiliki sedikit pengetahuan mengenai dunia ini, aku juga ingin seperti Obaa-sama. Dan itu tidak berubah sampai sekarang."
"Suzu, kau..."
"Saat di Nagashino, aku bahkan sama sekali belum menemuinya. Karena itu, aku ingin menemui Oichi-sama. Aku ingin melindunginya. Aku ingin beliau melihat impian Nagamasa-sama terwujud berkat Takatora-san. Pasti beliau akan senang! Selain itu, bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan membiarkan Tuan berjuang sendirian? Kebahagiaan mereka yang telah menjadi bagian dari kehidupanku adalah kebahagiaanku juga. Ini adalah keinginanku, Takatora-san."
Pria bermanik biru itu membeku sejenak lalu tersenyum tipis. "Begitu. Sepertinya aku tidak bisa menghentikanmu. Aku tidak berhak melakukannya," ucapnya setelah mendengus pelan. Suzu membalas senyumannya dan mengangguk. "Kita harus melakukan apapun demi keselamatan Oichi-sama."
"Ya, Takatora-san."
Dirinya menyadari bahwa hingga detik ini, Suzu masih memiliki kekaguman pada ketetapan hatinya yang kuat bagaikan pahlawan dalam dongeng. Alasan pahlawan itu mengayunkan pedangnya, kepedulian yang sangat kuat. Semua yang ia lakukan bukan demi dirinya semata, namun ketenangan dan kebahagiaan segala yang memiliki nyawa termasuk orang yang penting bagi kehidupannya.
Namun, Suzu juga menginginkan kebahagiaan untuk Takatora itu sendiri. Perlahan semua perasaan yang berawal kekaguman mulai menumbuhkan perasaan baru- melebihi sekadar kekaguman. Meski ia belum memahaminya, namun ia tidak membenci perasaan tersebut.
-XxX-
-XxX-
A/N : Baidewei, apa disini udah ada denger Drama CD SW4? Saya baru nemu satu yang judulnya 'Yozakura ni te', kalau gak salah ada dua drama cd. Yang satu lagi saya lupa judulnya. Susah amat carinya di mbah gugel dan akhirnya dapet satu buah langsung donlot. Drama CD dua-duanya dibintangi Yoshitsugu, Takatora dan Mitsunari. Jujur, di drama cd itu ada bagian yang bisa 'mancing' fangirl yang suka shonen-ai... Saya mah stay positive aja dah. *plak* Tenang, saya normal. Kalau ada yang ketemu drama cd yang satu lagi. Kasih link-nya ya! *plak*
Terus soal Kimura Siblings, saya mohon maaf pada RosyMiranto sekali lagi kalau kemunculannya sedikit banget. Saya usahain interaksinya lebih banyak lagi di chapter yang akan datang.
Yosh, see you in the next chapter and review please!
