A/ N : Oke, kali ini saya kelamaan gegara si author udah terlepas dari status unemployed *plak*

-Hayashinkage17

Scarlet : ...Som, kenapa diksimu jadi tambah aneh gini? Jadi lebay tuh kata Hayashinkage-san

Blossom : Daku bukan lebay! Yang bener aja dong ah!

Scarlet : ...abaikan Blossom. Dia suka cari celah supaya gak disalahin.

Blossom : Akhirnya lu ngaku juga salah, let.

Scarlet : Lu yang salah woi! Baca fic sono! Leveling dulu!

Blossom : Oh iya, buat pertanyaan soal warna mata Suzu dan Kagome alias Sango udah dijelasin sama RosyMiranto-san.

Scarlet : Nah, dari situ saja kamu udah ada salahnya. Makanya diksinya yang jelas dong.

Blossom : Oh hush! Makasih banyak atas reviewnya!

-RosyMiranto18

Blossom : Nahh, aku gak ambil referensi dari Persona. Sama sekali gak.

Scarlet : Sebenarnya gegara kena efek main game Fate/Extra... tapi gak bermaksud ngambil plot yang mirip dengan anime/game lain. Cuma nyesuain dari sejarah, game SW, drama CD, dsb. Selebihnya hasil saya sendiri.

Blossom : Dan yeah, sebenarnya masih bingung soal senjata Natsuko. Saya cuma bayangin pugil sticks mirip Da Qiao. So sorry.

Scarlet : Akhirnya lu ngaku salah juga. Makasih banyak atas reviewnya!

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me, except Kimura Siblings belongs to RosyMiranto.

Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?) *plak*. Mohon maaf atas kesalahannya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XxX-

Bell of the White Hare

-XxX-

CHAPTER 9

The Things I Lost With You

-XxX-

Suara tapak kaki kuda yang berlari menginjak tanah yang basah. Juga suara hujan gerimis membising sepasang indera pendengaran Suzu. Seluruh pasukan Hashiba diperintahkan untuk mengejar pemimpin Shibata bersama istrinya, Oichi, yang mundur menuju Istana Kitanosho.

Takatora menunggangi kuda terus memaksa kudanya untuk berlari lebih cepat. "Sial...!" geramnya. Ia mengeratkan rangkulannya pada Suzu yang duduk di depannya dengan menaruh lengan kirinya pada punggung Suzu. Ia menyadari tenaga Suzu sudah mencapai batas semenjak ia menemuinya sebelum menuju kamp Shibata.

"Takatora-san..." Suzu memanggil namanya dengan lembut sembari meremas jubah biru Takatora. Memintanya untuk menenangkan diri, meski ia tahu akan sulit untuk mendinginkan kepala setelah melihat mimik wajahnya.

Ia megerti mengapa Takatora merasa sangat tersudut. Dahulu waktu mereka hampir diujung keruntuhan Azai. Takatora berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Oichi demi Nagamasa. Selain itu, Oichi juga merupakan sosok ibu yang tak tergantikan. Dia dan Yoshitsugu juga memiliki tanggapan yang sama seperti Suzu.

Namun tak seperti Takatora, Yoshitsugu hampir tak pernah berkeluh kesah akan apa yang terjadi atau pun apa yang telah lewat. Pria itu menerima segalanya. Jika itu terjadi maka terjadilah. Ia hampir tak pernah menantang arus.

Padahal Takatora telah menaruh kepercayaan pada Hideyoshi untuk menyelamatkan Oichi namun semuanya akan berujung pada kegagalan. Kebenciannya pada Hideyoshi semakin dalam. Suzu yang tak mengambil pusing mengenai anggapan Takatora hanya berharap ia tidak akan melakukan hal yang gegabah dan membiarkan semua yang telah lewat dengan ringan hati. Meskipun ia berharap demikian, Suzu kesulitan untuk menerapkan semua itu pada dirinya sendiri. Begitu mudah dikatakan namun kenyataannya sangatlah sulit.

Orang lain sering menganggap Takatora sebagai anjing yang tidak memiliki kesetiaan yang suka mengganti tuannya. Suzu tahu semua itu salah. Setelah berapa lama waktu yang telah diberikan pada mereka berdua untuk saling mengenal, ia tahu bahwa Takatora adalah orang yang tak pernah menyia-nyiakan kesetiaannya.

"Suzu, kumohon sampaikan ada Takatora. 'Bawalah harga dirimu untuk tetap bertahan hidup.'"

Pesan terakhir yang Oichi serahkan padanya bergema di dalam kepala Suzu. Di benaknya, Suzu sangat ingin menyampaikannya pada Takatora. Namun ia takut akan jawaban Takatora nantinya, takut Takatora akan salah paham dan berpikir bahwa Suzu berniat untuk menghentikan tindakannya untuk menyelamatkan Oichi. Suzu mulai membenci dirinya yang pengecut. Tiap langkah yang hendak ingin ia lakukan selalu saja membuatnya bimbang.

Tiba-tiba, Suzu mendengar suara pelepasan anak panah yang mengarah padanya. Menyadari serangan musuh yang bersembunyi di dalam hutan, Takatora langsung menolak serangan panah tersebut dengan pedangnya. "...Mereka bahkan masih memiliki sisa pasukan untuk menghalangi pengejaran," geram Takatora.

"Takatora-san, aku turun disini. Aku akan mengatasi mereka-"

"Jangan bodoh! Kau harus tetap bersamaku! Pertama Oichi-sama dan sekarang kau juga ingin meninggalkanku!?" bentaknya sembari mencengkram lengan Suzu yang cukup membuatnya kesakitan meski ia berusaha untuk menahannya.

"T-Tidak, Tuan...! Aku tidak pernah berniat-"

"Jangan membantah, turuti saja perkataanku...!"

Suzu terbungkam semakin ketakutan ketika pria itu meninggikan nada suaranya. Ia memang memiliki niat baik, tapi tak sepenuhnya dia benar. Takatora masih saja membiasakan diri untuk berjuang sendirian dan mengabaikan nyawanya.

Ia menarik napas dengan dalam sembari mengumpulkan keberanian untuk menjawab perkataannya. "Aku tahu itu, Takatora-san. Tapi kumohon..." lirihnya sembari menyentuh tangan Takatora yang mencengkram lengan Suzu. "Aku tahu tidak pantas untuk mengatakan ini padamu. Tapi demi kebaikanmu juga, jika Tuan ingin menyelamatkan Oichi-sama... kumohon tenangkan dirimu. Jika Tuan terus seperti ini tidak akan mengubah apapun."

Takatora masih tidak mempertemukan maniknya dengan Suzu. "Disaat seperti ini aku tidak bisa tenang...! Jika aku lengah sedikit saja, aku tidak akan bisa menyelamatkan Oichi-sama." Lalu nada suaranya berubah pelan. "...bahkan kau."

Gadis itu paham betul dengan perasaannya. Tetapi dirinya pun sudah memutuskan untuk tidak membiarkan dia berjuang sendirian. "Yang ingin menyelamatkan Oichi-sama bukan hanya Takatora-san sendiri! Aku, Yoshitsugu-san, Hideyoshi-sama dan yang lain juga ingin menyelamatkannya. Tuan tidak perlu menanggung semua beban pada dirimu sendiri...! Aku tidak mau itu!"

Hening menyambut mereka sejenak, Takatora mengabaikannya, ia memusatkan pikiran serta matanya ke depan. Suzu pun tak bisa mengatakan apapun, menganggap dirinya tak berguna karena tak dapat mencegah Takatora bahkan Oichi.

Takatora tak ingin kehilangan orang yang telah memasuki kehidupannya.

Suzu tahu itu.

Demi dirinya atau demi semua orang, Suzu tak mempermasalahkan itu. Karena dirinya juga tak ingin kehilangan Oichi.

Suzu menoleh ke belakang, ia melihat beberapa pasukan Hashiba telah menyusuli mereka. Dia sempat cemas akan serangan musuh di tengah perjalanan mereka yang bermaksud mengurangi jumlah pasukan. Ia tersenyum lega, tetapi tak cukup karena Suzu masih tak bisa melawan kekhawatirannya pada Takatora dan juga Oichi.

Takatora lalu menarik tali untuk menghentikan kudanya. Rasa panas api mulai terasa oleh kulit mereka. Sepasang mata mereka terkunci memandang Istana Kitanosho yang terbakar hebat. Beberapa penghuni istana mulai berhamburan melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa.

"Tidak mungkin..." gumam Suzu.

Istana yang terbakar. Ingatan akan pemandangan yang sama masih membekas dalam kepala mereka. Kejadian yang tak diinginkan itu mengorek luka lama mereka sehingga kembali terasa sakit meski tak berdarah.

Kembali terulang. Pertama Nagamasa, dan sekarang giliran garis kehidupan Oichi berakhir. Tidak, Takatora tak ingin lagi kehilangan seseorang. Kegagalan yang tak bisa ia maafkan akan membuat dirinya kehilangan arah.

Ia telah bersumpah setia pada mendiang tuannya untuk mewujudkan mimpi Nagamasa dimana di dunia, semua orang bisa hidup dengan tenang dan damai. Mereka tahu bahwa mimpi itu masih sangat jauh dari pandangan.

Pandangan Takatora teralihkan ketika Suzu yang turun dari kuda. Langkahnya pelan, sepasang mata merahnya membulat sempurna masih memandang Istana Kitanosho. "Obaa-sama... Obaa-sama..."

Mendengar Suzu menyebut bibinya, Takatora langsung menarik tangannya. "Bodoh! Apa yang akan kau lakukan!?"

"Obaa-sama, Nagamasa-sama... Oichi-sama ada di dalam sana. Aku tidak mau mereka meninggalkanku...!" jeritnya sambil berusaha melepas genggaman kuat pada pergelangan tangannya.

"Suzu!" Takatora meraih wajahnya untuk mempertemukan netra merah milik Suzu. Menyadari pancaran cahaya pada manik merah Suzu mulai sirna dan pikiran gadis itu mulai kacau. Takatora segera menariknya, merengkuhnya ke dalam pelukan lalu mengusap rambutnya. Berusaha membuatnya kembali tenang. "Tak apa. Aku akan membawa Oichi-sama kembali. Kau harus tetap disini."

Suzu menengadahkan kepala, air mata mulai berlinangan pada kelopak matanya. "T-Tidak! Hatiku sakit sekali mendengarnya, aku sudah tidak tahan!" Gadis itu menggeleng kencang. "Aku tidak mungkin bisa diam menunggu saja! Di saat Takatora-san berada dalam masalah, aku ingin menjadi orang yang pertama untuk membantumu. Jadi kumohon biarkan aku ikut! Aku juga ingin melakukan sesuatu agar bisa menyelamatkan Oichi-sama. Mm, bukan. Aku harus melakukan sesuatu!"

Lagi-lagi, entah sudah berapa kali dirinya membuat Suzu menangis. "Suzu. Kau tahu sendiri, bukan? Aku tak ingin nyawamu menjadi taruhan untuk kedua kalinya. Aku minta padamu untuk menunggu disini sampai aku kembali. Kau sudah berjuang dengan keras. Kali ini, aku yang akan menyelamatkan Oichi-sama untukmu." Kini nada suaranya melembut. Jemarinya menyeka bulir air mata yang membasahi pipinya.

"T-Tidak..."

Takatora mengabaikannya, melepasnya, lalu berlari menerobos para penghuni istana yang tengah meratapi Istana Kitanosho yang terbakar hebat. Tanpa berpikir panjang, pria itu langsung masuk ke dalam istana.

Suzu yang merasa tidak berdaya hanya bisa terpaku, meratapi kobaran api yang mengunci perhatiannya. Tubuhnya rubuh, kakinya tak dapat berdiri, matanya sayu. Seluruh tubuhnya begitu lemah. "Oichi-sama..." lirihnya lagi dengan suara bergetar. "Aku tidak pernah menginginkan ini... " Menyalahkan takdir pun tak ada gunanya. Yang hanya bisa ia lakukan hanya menangis. Tangisannya yang kencang membuat para penghuni istana segera menghampirinya.

"Nona...! Anda baik-baik saja?"

"Hei, kenapa kalian tidak menghentikan pria tadi!? Dia akan mati jika dibiarkan di dalam!"

"T-Tapi..."

Para pasukan Hashiba telah datang menyusul. Mereka bergegas turun dari kuda, namun langkah mereka langsung berhenti ketika Istana Kitanosho telah terbakar dilahap api.

Yoshitsugu yang menyadari Suzu yang duduk diatas tanah dengan lemahnya segera menghampirinya, disusul dengan Aki dan Natsuko.

"Suzu-chan!" Natsuko langsung berlutut di depannya lalu mengangkat wajah Suzu. Kulit pipinya basah akan air matanya dan tubuhnya tak berhenti bergetar.

"Natsuko. Bawa Suzu-dono ke sana," ucap Aki pada adiknya sambil menunjuk sebuah pohon. "Jangan sampai membuatnya terus melihat semua ini." Natsuko mengangguk setuju lalu membantu Suzu berjalan mendekati pohon untuk beristirahat.

Yoshitsugu masih terdiam, pandangannya yang terkunci pada Suzu berpindah ke arah Istana Kitanosho. Ia sudah menduga Takatora berniat keras untuk menyelamatkan Oichi, meski harus membahayakan nyawanya sendiri.

Mitsunari menghampirinya. "Sepertinya Katsuie sudah mati di dalam sana. Sekarang Hideyoshi-sama akan ditunjuk menyatukan negeri ini,"

"Hm," jawab Yoshitsugu singkat masih belum mengalihkan pandangannya. Ia menghela napas, lalu mulai menatap Mitsunari. "Sepertinya kau mengkhawatirkan Suzu. Kenapa kau tidak menghiburnya?"

"Diam kau. Aku yakin tak lama lagi dia akan merasa lebih baik dengan sendirinya." Mitsunari membuang muka.

Yoshitsugu tertawa pelan. "Maksudmu Takatora? Kau mudah sekali dibaca."

"Hmph... Omong-omong, kudengar dulu Istana Odani juga terbakar seperti hari ini. Azai Nagamasa, benar?"

Dua pemuda itu kembali mengarahkan pandangan kearah Istana. "Ya. Pada waktu itu, beliau hanya berdiri sendirian menahan kekuatan Oda Nobunaga yang mendesaknya. Kami berkeinginan kuat untuk melindunginya, namun dikarenakan ketidakmampuan kami. Nagamasa-sama tak terselamatkan."

"Kekuatanmu tidak ada hubungannya. Aliran takdir memang seperti itu, bukan?" Mitsunari membalikkan badan meninggalkan Yoshitsugu.

Yoshitsugu melirik kearah Mitsunari. "Kau benar."

Sementara itu di sisi lain, Suzu yang sedang ditemani oleh Natsuko yang merawatnya. Air matanya telah mengering, pandangannya kosong menerawang jauh ke langit yang meneteskan butiran hujan. "Suzu-chan, jangan seperti ini..."

"Lalu, apa yang harus kulakukan? Melepas kepergian Oichi-sama begitu saja sedangkan beliau masih berhak memiliki kesempatan untuk hidup? Lalu menganggap semua itu bukan masalah besar? Aku tidak bisa melakukannya," jawabnya dengan suara pelan. Kemudian ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan menguasai kesadarannya.

"Suzu-chan..." Pandangan Natsuko teralihkan ketika seorang perempuan bersurai pirang panjang menghampiri mereka. Gadis itu berlutut di depan Suzu. "Anu, Anda siapa?" tanya Natsuko.

"Kenapa kau bisa seperti ini, Suzu?" ucap perempuan itu sembari menyentuh tangan Suzu. Meski pertanyaan itu diarahkan padanya, namun pertanyaan itu seolah-olah bukan menggambarkan kecemasan gadis itu pada Suzu. Itu adalah pertanyaan mengapa ia bertindak sejauh ini.

Kelopak mata Suzu kembali terbuka. Meski setengah terbuka ia memaksakan dirinya untuk mengenali rupa wajah gadis itu. Ia memiliki paras menawan persis seperti Oichi. Maniknya yang kuning kecoklatan dan memiliki surai pirang seperti Nagamasa. Tak salah lagi ia adalah putri dari Azai. "...Anda... Chacha-sama?" lirih Suzu.

"Kau tidak perlu memaksakan diri. Istirahatlah." Gadis bernama Chacha itu menghela napas berat. Karena sudah tak bisa menahan, Suzu memejamkan matanya lagi dan tertidur.

-XxX-

Panas.

Apakah seperti inikah neraka?

Tidak, pasti lebih buruk. Jika itu benar, ia takkan mungkin bisa berlari secepat ini untuk mengejar Oichi.

Dimana Oichi berada?

Tidak tahu.

Yang bisa ia lakukan hanyalah mencari lalu mendobrak setiap ruangan.

Dan terus berlari.

Berlari.

Berlari.

Berlari.

Berlari.

Ingatannya kembali tergali disaat ia melakukan hal yang sama beberapa tahun lalu. Nagamasa, Suzu dan bibinya, juga berada di dalam istana yang terbakar. Sekarang, Oichi mendapatkan peran yang sama.

Siapa yang harus disalahkan?

Takatora sendiri?

...percuma, menyalahkan pun tak akan membuahkan hasil apapun.

Matanya menelusuri setiap sudut istana, asap dan api yang menghalangi penglihatannya membuat Takatora kesulitan mencari keberadaan Oichi. "Oichi-sama!"

Demi dirinya sendiri dan Oichi, karena tak ingin kehilangan orang yang telah peduli dan meyakinkan dirinya untuk tetap bertahan hidup dengan kesetiaan. Dia dan Nagamasa adalah penyelamat hidupnya.

Juga demi Suzu, sama seperti dirinya yang tak ingin lagi kehilangan. Suzu telah percaya padanya untuk menggandeng tangannya, mencarikan tempat dimana agar ia bisa bahagia. Bagaimana pun juga, Takatora menganggap dirinya harus bertanggung jawab akibat hampir menghilangnya nyawa Suzu.

Akan tetapi, ketika mengingat setiap mereka bersama, raut wajah selalu berseri memancarkan kebahagiaan. Seolah-olah Suzu telah menemukan kebahagiaan itu.

"Takatora-san adalah orang yang sangat istimewa bagiku."

Mengapa harus dirinya?

Ia tak pernah meminta.

...

Ya, Takatora memang tak pernah meminta hal itu. Menjadi orang yang istimewa bagi Suzu, Takatora pun tak ingin mengkhianatinya.

"Oichi-sama!"

Karena itu, bagaimana pun juga ia harus menyelamatkan Oichi. Jika tidak, kesalahannya akan kembali terulang dan takkan bisa diperbaiki untuk selamanya. Karena ia ingin melindungi mereka sampai kapanpun.

Langkahnya berhenti, sepasang matanya perlahan terbelalak melebar. Hatinya yang telah pecah berkeping-keping kian melebur.

Pandangannya terkunci memandang Oichi yang terkapar tak bernyawa.

Harapannya tak terkabulkan.

Ia telah gagal.

Manik birunya terkunci pada Katsuie yang masih bernapas, walau ia sudah menusuk perutnya.

"Kau...!" Genggaman pada pedangnya begitu kukuh, berkeinginan kuat untuk mencabik-cabiknya dan melampiaskan amarahnya.

Benar, dialah yang telah merenggut nyawa Oichi. Dialah alasan mengapa Oichi mati.

"Beraninya kau...!" Ia berlari kearah Katsuie, bersiap untuk menghabisinya. Namun Katsuie mengelak dan menahan ganggang pedangnya, lalu melempar pria itu menjauh darinya. Takatora bergegas berdiri, kembali bersiap untuk menyerangnya.

Namun reruntuhan kayu yang terbakar mulai berjatuhan di depan Takatora, menghalangi jalannya untuk menyelamatkan Oichi. "Sial!"

Takatora membuang pedangnya lalu berusaha menyingkirkan reruntuhan kayu tersebut. Namun rasa panas yang membakar tangannya membuatnya tak bisa untuk menyingkirkannya. Ia tak punya pilihan selain mencoba mendobrak reruntuhan itu. Akan tetapi sama sekali tidak ada perubahan. Reruntuhan kayu tersebut tertumpuk terlalu banyak. "Oichi-sama! Oichi-sama!"

Namun Takatora masih menolak untuk menyerah. Seisi kepalanya penuh dengan bayangan dahulu di saat Suzu juga terperangkap sendirian. Tetapi ia telah terselamatkan. Namun mengingat saat ini ia sedang menunggunya, Takatora tahu ia pasti masih menangis menunggunya kembali bersama Oichi.

Takatora mulai kehilangan tenaga, napasnya begitu berat dan sesak. Ia tak hentinya memaksakan dirinya untuk mendobrak reruntuhan tersebut hingga tak sempat menarik napas.

"Mengapa... aku selalu saja gagal? Mengapa aku tak bisa menyelamatkan mereka...!? Sial! Sialan...!"

Teriakan serta tangisan yang diiringi percikan api yang bergejolak bergema di dalam Istana Kitanosho. Takatora meluapkan semua keputusasaannya dengan tangisannya yang tajam.

Percuma.

Semuanya percuma.

Apapun yang akan ia lakukan semuanya takkan kembali pulih.

Nagamasa.

Oichi.

Segalanya, takkan kembali seperti yang ia harapkan.

Meski ia harus merobek perutnya, ia tahu kegagalannya takkan pernah terhapus.

Semuanya sudah berakhir.

-XxX-

"Bawakan aku perban. Cepat," ucap gadis bersurai pirang itu pada Natsuko.

"Ah, baik, Chacha-sama!" Natsuko segera membawa kantong obat-obatan, lalu mengambil perban dan memberikannya pada Chacha. Lalu ia membalutkan perban di sekitar kepala Suzu. Punggung kepala yang terbentur sebelumnya membuat kepala Suzu terluka meski tidak terlalu serius.

Setelah selesai, pandangan Chacha teralihkan ketika seorang pria berjalan menghampirinya. "Oh, Takatora rupanya. Sepertinya kau tidak mampu melawan takdir yang telah ditentukan," ucap gadis itu.

"Chacha-sama?" Takatora merasa terkejut dicampur lega ketika melihat putri pertama Nagamasa dan Oichi selamat dan tak terluka. "Syukurlah Anda baik-baik saja."

"Daripada mengkhawatirkanku, Suzu sangat mencemaskanmu. Kenapa Anda bersikeras menyelamatkan Haha-ue sedangkan beliau sudah memutuskan untuk menyerah?"

Takatora mengerjapkan mata. Apa yang membuat sikapnya begitu dingin? Mengapa seorang putri dari Nagamasa mengatakan hal yang tidak seharusnya mengenai orang tuanya sendiri? Sama sekali tak ada kesedihan pada raut wajahnya.

"Ya sudahlah. Lagipula tak ada yang bisa dilakukan." Chacha berdiri lalu pergi meninggalkan mereka.

"Chacha-sama, mohon maaf atas ketidaksopananku. Tetapi saya harus menanyakan ini. Sebagai anak, bukankah Nona ingin Oichi-sama bertahan hidup? Juga, Nagamasa-sama."

Chacha berhenti berjalan namun ia tak menoleh. "Bukankah sudah terlambat untuk menjawab pertanyaan itu?"

Itu bukanlah jawabannya. Takatora hanya bisa diam, dirinya pun sudah mencapai batas untuk memperdebatkan masalah. Namun Chacha benar, tak ada yang bisa dilakukan. Takatora menganggap perkataan itu adalah ucapan untuk melepas tanggung jawab. Tapi memang, tak ada yang bisa dilakukan.

Dirinya tak pernah mengharapkan kematian dari orang terdekatnya. Jika takdir mengizinkannya untuk membiarkannya mati demi melindungi tuannya. Ia bisa mati dengan tenang. Namun pada akhirnya hal itu juga berarti melepas tanggung jawab. Dia harus bertahan hidup bagaimana pun caranya. Tak peduli jika orang lain mengatainya pengecut atau prajurit yang tak memiliki kesetiaan. Takatora memegang kesetiaannya pada ucapan Nagamasa untuk tetap bertahan hidup demi mewujudkan mimpi yang diserahkan padanya. Kematian tak bisa dihindari, ia berusaha untuk mempersiapkan jiwanya akan hal itu. Namun tetap saja menyakitkan baginya.

"Bisakah kau tinggalkan kami sebentar?" ucap Takatora pada Natsuko sembari berlutut di depan Suzu.

"I-Iya." Natsuko bergegas pergi dan mencari kakaknya.

Setelah Natsuko pergi, Takatora terdiam sejenak meratapi wajah tidur Suzu. Tangan kanannya menyelitkan anak rambut di belakang telinga Suzu, lalu berpindah menuju pipinya yang lembab karena air matanya yang mengering.

Bulu matanya yang melentik sedikit bergerak, perlahan kelopak matanya terbuka menampakkan netra merah rubi. "Takatora-san...?" lirihnya. Setelah penglihatannya mulai jelas, Suzu membelalakkan mata. "Tuan sudah kembali..."

Takatora tak menjawab, dahinya berkerut ketika melihat senyuman simpul menghiasi wajah Suzu.

"Tuan...?"

"Maaf, lagi-lagi aku gagal."

Mulut Suzu sedikit terbuka, matanya membulat sempurna, senyumannya menghilang dengan sekejap. 'Gagal', artinya Oichi tak terselamatkan. Ia tak pernah berharap Oichi tidak akan mengubah keputusannya. Dia ingin tetap percaya, namun kenyataan mengkhianati harapannya.

Suzu mendorong dirinya untuk mendekap pria itu. Menyembunyikan wajahnya di balik jubah birunya. Suzu berusaha untuk menahan tangisannya namun sangat sulit.

Merasa ingin membalas pelukannya sekaligus ingin meringankan kesedihannya. Namun kedua tangan Takatora menariknya untuk tidak menyentuh Suzu. Merasa dirinya telah menggagalkannya, ia tak pantas menghapus air matanya.

...

Jika memang benar dirinya egois jika ia membalas pelukannya. Itu tak apa, bukan? Setidaknya dirinya juga ingin melepas kesedihannya.

Perlahan namun erat, Takatora membalas pelukannya. Jarinya menyisir rambut perak Suzu dengan lembut. Ia menenggelamkan wajahnya diatas kepala Suzu.

Meski sedikit, hati mereka perlahan menghangat.

Satu orang lagi-lagi telah direbut dari kehidupan mereka.

Menyakitkan, namun tak ada yang bisa dilakukan.

Hanya bisa berkeluh kesah dan mengharapkan sesuatu dapat menyembuhkan hatinya.

-XxX-

Ia bermimpi, sebuah ingatan yang bahkan muncul pada mimpinya.

Nagamasa,

Oichi,

dan Suzu.

Mereka berada di dalam istana yang terbakar. Namun dirinya bertanya-tanya mengapa mereka tersenyum.

Ia mencoba untuk menyelamatkan mereka, namun tangannya tak pernah tercapai. Tak bisa menyelamatkan tuan yang seharusnya dilindungi adalah hal yang sangat memalukan bagi prajurit. Seppuku adalah hal yang sepatutnya ia lakukan. Namun Nagamasa sudah memperingatkannya untuk tetap hidup, demi menunaikan kesetiaannya.

"Takatora-san. Aku... ada disini."

Senyuman itu, senyuman yang dahulu pernah gagal ia lindungi. Apakah ia masih berhak untuk melindunginya untuk kesempatan baru yang diberikan padanya? Apakah ia berhak untuk menghapus kesedihannya? Apakah ia berhak untuk memberinya kebahagiaan? Bukankah hukuman adalah hal yang sepandan untuknya?

"Apa yang harus kulakukan demi dirimu?"

-XxX-

Sudah tiga hari sejak perang Shizugatake berakhir. Mendengar kabar bahwa Hideyoshi ditunjuk sebagai pelindung Chacha dan dua saudarinya, Suzu yang sudah selesai menyembuhkan diri berniat untuk menemuinya, namun keraguannya menarik kembali niatnya agar tidak menemui Chacha.

Ketika ia membatalkan niatnya untuk mengunjungi kediaman Chacha, dua orang pria menghampiri Suzu yang tengah duduk di roka dimana di depannya terdapat taman.

"Ooh, Suzu-chan! Sepertinya kau sudah baikan ya?" Nada suaranya yang berisik khas Masanori mengalihkan perhatian Suzu. Seperti biasa ia diikuti oleh Kiyomasa.

"Ya. Masanori-san juga seperti biasa masih semangat," sahut Suzu tersenyum simpul.

"Hehe! Kalau soal itu, Ojiki memujiku! Aku sudah menjadi salah satu Shichi-hon-Yari! Kiyomasa juga!"

Suzu tertawa kecil. "Senang mendengarnya. Masanori-san dan Kiyomasa-san memang hebat, ya."

"Ou! Tentu saja!" Masanori tersenyum bangga pada dirinya sendiri. "Eh Suzu-chan. Apa kau tahu jendral yang disebut Yari no Mataza?"

"Kalau tidak salah itu... Maeda Toshiie-dono?"

"Tepat! Kiyomasa dan aku sangat mengaguminya! Suatu hari aku akan menjadi pria hebat sepertinya!"

"Bodoh, seharusnya kau berusaha melampaui kehebatan Toshiie-dono. Aku yakin dia pasti akan mengakui kita," jawab Kiyomasa tertawa pelan.

"Lalu bagaimana dengan Mitsunari-san?" tanya Suzu.

"Dia tidak mendapatkan apapun. Tapi dia sama sekali tidak terlihat kecewa," jawab Kiyomasa.

Masanori menggeleng kencang. "Tidak tidak! Walaupun Si Kepala Besar itu selalu pasang wajah kusut seperti itu. Sebenarnya dia iri, lho, Suzu-chan! Dia memang-aduh!" Masanori memekik kesakitan. "K-Kau ini...!"

"Jangan seenaknya bilang aku iri, bodoh," Mitsunari yang muncul dari belakang Masanori langsung memukul keras kepalanya dengan tinju. "Jika kau tidak punya pekerjaan yang lebih bagus daripada menghinaku. Seharusnya kau lakukan sesuatu dengan posisimu sebagai Shichi-hon-Yari."

"Hah? Kau ini bicara apa? Kita baru saja selesai memenangkan perang! Mana mungkin Ojiki tidak memberikan kita waktu untuk istirahat!" jawab Masanori dengan kesal.

"Huh, hanya sampai disana kemampuanmu?" Mitsunari mendwngus remeh.

"Hei! Kau pikir siapa yang menghina sekarang, hah!?" jawab Masanori lagi.

"Kau juga." Mitsunari mengarahkan pandangannya pada Suzu yang kemudian mengerjapkan matanya dengan kaget. "Kalau kau sudah selesai menyembuhkan diri, setidaknya lakukan sesuatu daripada hanya memikirkan 'pria yang selalu berkeliaran mengganti tuannya'."

"Mitsunari, apa yang ingin kau katakan? Meski memang benar Takatora sudah berkali-kali mengganti majikannya. Sekarang dia adalah rekan kita. Kau sendiri sudah tahu itu, bukan?" sahut Kiyomasa.

"Huh, bagaimana jika dia mengulang kebiasaannya lagi? Aku yakin dia memiliki dendam pada Hideyoshi-sama yang padahal sudah berusaha untuk menyelamatkan istri dari Katsuie-"

Belum selesai Mitsunari menyelesaikan kalimatnya, Suzu sudah menampar wajahnya. Kiyomasa dan Masanori terkejut oleh tindakan Suzu. "Mitsunari-san, kau yang tak tahu apapun tentang Takatora-san tidak sepantasnya berkata demikian!" bentak Suzu.

Mitsunari menyentuh pipinya yang kesakitan akibat tamparan keras dari Suzu. "Apa katamu...?" Sorot tatapannya berubah dingin.

"Takatora-san, meski ia harus berganti tuan, tetapi tujuannya adalah demi mewujudkan perdamaian negeri ini. Aku mengenal Takatora-san dari siapapun!"

Mereka hanya bisa terpaku melihat Suzu pertama kalinya meninggikan nada suaranya pada Mitsunari. Sebelumnya Suzu hanya membalas perkataannya tanpa harus meninggikan nada suara. "Walau harus menanggung resiko seperti dianggap seperti anjing yang tak memiliki kesetiaan. Tentu saja, Takatora-san sadar akan hal itu. Namun asalkan demi negeri ini, ia akan terus bertahan hidup demi negeri ini dan demi mereka yang menyerahkan mimpi padanya. Meski tidak ada orang yang mengakui keberadaannya, aku percaya padanya!"

"Suzu..." Kiyomasa berniat untuk menenangkan Suzu. Namun Suzu tidak menoleh dan memberinya isyarat tangan untuk membiarkannya melepas kemarahannya pada Mitsunari.

"Kau masih belum berubah, Mitsunari-san." Ia menghela napas. "Maaf atas kelancanganku, permisi." Suzu lalu pergi meninggalkan tiga pria tersebut setelah membungkukkan badan.

"...demi negeri ini dan mereka yang menyerahkan mimpi mereka padanya, 'kah?" gumam Kiyomasa.

"Haha! Lagi-lagi Si Kepala Besar dimarahi Suzu-chan! Bagaimana rasanya!?" Masanori tertawa lepas.

"Huh... Dasar bodoh."

Suzu melangkah kakinya begitu cepat, mengabaikan tatapan bingung dari para pelayan istana.

Suzu tak pernah berniat untuk berprasangka buruk pada Takatora. Namun kini ia menemukan dirinya sangat sulit untuk mempercayai Mitsunari. Kesombongan pria itu membuatnya tak dapat menembus tembok kokoh yang telah ia bangun. Sangat sulit untuk memahami dirinya.

Setelah berjalan cukup jauh, ia menemukan dirinya di taman yang berbeda. Disana ia menemukan seorang anak perempuan yang tengah sibuk sendirian merangkai bunga. Isakan tangis yang menangkap pendengaran Suzu tak bisa ia abaikan.

"Kamu ingin membuat mahkota bunga?" tanya Suzu dengan lembut sembari duduk di sebelahnya.

"Ya. Padahal dulu Ane-ue sudah pernah mengajariku. Tapi aku..."

"Ah, jangan menangis! Aku akan membuatkannya untukmu." Suzu mengambil beberapa tangkai bunga hinagiku yang sudah dikumpulkan. Lalu merangkai satu persatu dengan mengaitkannya disetiap tangkai bunga tersebut. Anak perempuan itu menatapnya dengan kagum.

Setelah selesai, Suzu memasangkan mahkota bunga tersebut diatas kepalanya. "Terima kasih..."

Disaat mereka saling bertatapan, Suzu merasa mengenali rupa wajahnya. Ia memiliki kemiripan seperti Nagamasa dan Oichi. Sebelumnya ia sudah menemui Chacha dan sekarang ia menemui salah satu saudarinya.

"Apakah nona... Oeyo-sama? Putri bungsu Nagamasa-sama?" Anak itu mengangguk pelan. Mimik wajahnya berubah sendu ketika Suzu menyebut nama ayahnya. "Ah, maaf. Aku tidak bermaksud untuk-" Suzu berhenti sejenak, ia ingat sebelum pertempuran Shizugatake berakhir, Oichi mengembalikan omamori yang pernah ia buat. Ia langsung mengambil benda itu dari dalam lengan bajunya. Berharap anak itu tidak menganggapnya orang asing.

"Oeyo-sama. Apa kau tahu omamori ini?"

Mata coklatnya terbelalak ketika penglihatannya menangkap jimat keberuntungan itu. "Ah, itu punya Haha-ue!"

"Benar." Suzu tersenyum lega lalu membuka telapak tangan Oeyo dan memberikannya.

"Kenapa omamori-nya ada denganmu?"

Senyuman Suzu berubah menjadi sendu. Ia tahu percuma untuk menyembunyikannya, karena tak selamanya ia akan menyembunyikannya dari putri bungsu Nagamasa tersebut. Namun ia merasa belum waktunya untuk menceritakan pembicaraan berat pada anak yang masih berumur 10 tahun.

"Apakah Haha-ue memberikannya padamu?"

Suzu tersentak dari renungannya. "...ya. Sebenarnya dulu aku pernah membuat omamori ini untuk Oichi-sama."

Oeyo manggut-manggut, lalu matanya kembali terarah pada jimat perlindungan tersebut. "Terima kasih, nona!" Oeyo tersenyum lebar. "Oh iya, namamu siapa?"

"Shiraishi Suzu. Kurasa ini pertama kalinya Oeyo-sama baru mengenaliku. Sebenarnya aku sudah mengenalmu sejak nona masih bayi, lho." Suzu membalas senyumnya.

"Sungguh?"

Suzu mengangguk. Mengingat ia memiliki waktu luang, ia merasa tak ada salahnya untuk bercerita masa lalunya saat Nagamasa dan Oichi menyambutnya bersama Ryoko.

Di saat ia pertama kali menemui mereka, ia pernah bermain dengan Chacha dan Ohatsu saat mereka masih balita. Suzu juga ingat pertama kali dia menyentuh pipi Oeyo yang baru lahir. Lalu bertemu dengan Yoshitsugu dan juga Takatora.

Begitu banyak kenangan indah tak terlupakan yang telah ia lewati bersama mereka semua. Sangat banyak. Sebagian dari dirinya sangat bahagia, namun juga sebagian menyesal karena tak dapat mengulanginya lagi.

"Begitu, ya." Oeyo yang mendengarkan cerita Suzu tersenyum lebar, jemarinya bermain dengan mahkota bunga yang telah dirangkai oleh Suzu.

"Omong-omong, Oeyo-sama kenapa sendirian disini? Seharusnya ada pelayan yang mengawalmu."

Oeyo mengerjapkan mata, lalu mengalihkan pandangannya. Alisnya menyempit. "Meskipun mereka menemaniku. Aku... akan tetap sendirian..."

"Eh?"

"Habisnya, Hideyoshi-sama akan menikahkanku dengan orang yang tidak kukenal. Apakah aku masih bisa bertemu dengan kakakku lagi?"

Suzu tak dapat menjawab, matanya terkunci memandang sendu yang tertulis jelas pada wajahnya. Dengan pelan, Suzu membawanya ke dalam pelukan lalu mengelus rambutnya. Tak peduli siapapun orang itu, ia hanya bisa berharap takkan ada hal buruk yang akan terjadi pada Oeyo. "Pasti bisa kok. Oeyo-sama akan baik-baik saja."

Oeyo mengangkat kepalanya untuk menatap Suzu, lalu membalas senyumannya dan mengangguk.

"Ternyata kau ada disini." Suzu menoleh ke belakang, memandang seorang pria yang berjalan menghampirinya. "Kau sudah merasa lebih baik?"

"Takatora-san sendiri?"

"Hei, aku yang bertanya duluan." Ia menghela napas. "Apa kau senggang?"

"Ah, sebenarnya..." Suzu melepas pelukannya pada Oeyo lalu menyentuh kedua bahunya. "Oeyo-sama, dia adalah Takatora-san."

"Sungguh?"

Takatora yang baru menyadari Oeyo yang bersembunyi di belakang Suzu, ia berlutut di depan Oeyo dan tersenyum. "Namaku Tōdō Takatora. Tak ada yang bisa membuat saya senang selain melihat Oeyo-sama sudah tumbuh besar. Dulu saya adalah salah satu prajurit dari Nagamasa-sama."

Oeyo tersenyum lebar, ia tak pernah tahu bahwa ada orang yang mengenali dirinya. "Ah, Tuan! Nona! Tolong bawa aku bermain diluar istana!" pinta gadis kecil itu tiba-tiba.

"...eh?"

-XxX-

Menuruti permintaan Oeyo, Suzu menggandeng tangan mungil putri bungsu Azai tersebut. Ia merasa seperti memiliki adik perempuan. Oeyo menatap lurus punggung Takatora berjalan di depan untuk menggiringi mereka. Mereka sudah cukup jauh berjalan mengelilingi kota.

"Tuan! Berhenti sebentar!" ucap Oeyo tiba-tiba. Tangannya yang bebas menangkap tangan Takatora.

"...Oeyo-sama?"

Oeyo tertawa kecil. "Kalau berpegangan tangan seperti ini, rasanya sedang aku berjalan-jalan bersama chichi-ue dan haha-ue."

Takatora dan Suzu saling menatap sekilas, merasa berpikiran sama. Nagamasa yang telah pergi mendahului mereka sejak Oeyo masih bayi. Ia tak pernah tahu sosok ayahnya. Bahkan kini Oichi pun telah menyusulnya. Oeyo sangat merindukan kedua orang tuanya.

Untuk menghentikan keheningan yang menyusup, Takatora langsung mengganti pembicaraan. "Apakah Oeyo-sama lapar? Disana ada stan yang menjual makanan kecil."

"Mau mau!" Oeyo meloncat kegirangan.

Oeyo melepas tangan mereka lalu langsung berlari menghampiri stan tersebut. Senyuman lebar yang menghiasi wajahnya berhasil menenangkan raga mereka berdua.

Takatora tertawa mendesah, lalu menatap Suzu. "Rasanya seperti melihat dirimu saat masih kecil. Polos dan riang..." Lalu ia langsung menyusul Oeyo, Suzu hanya bisa tertawa canggung.

Mereka duduk di depan stan dan Oeyo menyantap manju yang sudah dibeli oleh Takatora.

"Ini, untukmu juga." Takatora memberi sepotong manju pada Suzu.

"Eh? Tuan juga tidak perlu repot mentraktirku. Ah, kalau begitu lain kali aku juga akan mentraktirmu, ya?"

"Bodoh, itu tidak perlu," ucap Takatora sambil langsung memasukkan manju tersebut ke dalam mulutnya. Oeyo yang duduk di tengah menertawai Suzu. "Nona terlihat aneh!" Suzu yang tak bisa berkata apapun hanya bisa tersenyum canggung lalu melahap manju yang di mulutnya.

"Ah, sebentar lagi matahari akan terbenam. Aku mau pulang!" Oeyo segera menghabiskan makanannya lalu bangkit. "Ane-ue pasti akan memarahiku kalau aku pulang terlambat!" Oeyo langsung berlari memasuki istana. Karena terlalu lambat untuk menghentikannya, Suzu tak dapat mengejarnya.

"Tung- Oeyo-sama!" seru Suzu dari kejauhan.

"Kurasa dia akan baik-baik saja."

Suzu pun menyerah, ia kembali duduk dan menghabiskan manju di tangannya lalu meneguk teh hijau yang sudah disajikan.

Hening menyambut mereka berdua. Fajar hendak terbenam, langit pun mulai gelap menghitam, sekumpulan burung kembali pulang menuju sangkar.

"Ah, omong-omong... apakah ada yang Tuan bicarakan padaku?" tanya Suzu memecahkan keheningan.

Takatora menatap lurus kearah netra merah milik Suzu sejenak. "...benar." Lalu ia mengalihkan pandangan.

"Apa itu, Tuan?"

Takatora bangkit, netra biru laut yang terhalangi oleh anak rambutnya membuat Suzu kesulitan membaca suasana hati Takatora lewat sorot matanya. "Kita tak bisa membicarakannya disini. Datanglah ke ruanganku."

Suzu menaikkan alisnya. "A-Ah, baiklah."

Sebelumnya ia hampir tak pernah mengunjungi kamar pribadinya meski mereka sama-sama tinggal di istana yang sama. Hanya saja terletak di tempat yang cukup jauh berkat luasnya istana Nagahama.

Selain itu, gadis itu tak mengerti apa yang membuat dirinya begitu gugup. Mereka tak bertemu sejak tiga hari karena mereka yang harus menyembuhkan luka akibat perang di Shizugatake.

Entah dirinya begitu terpukul akan kepergian Oichi atau tidak, namun mimik wajahnya yang menuliskan ketenangan seolah-olah tak terjadi apapun membuat dirinya tak bisa diam dan menyimpan pertanyaannya.

-XxX-

-xxx-

-XxX-

A/N : Sebetulnya saya agak terburu-buru bikin chapter kali ini. Kalau ada kesalahan pada typo atau semacamnya, saya hanya bisa memperbaikinya besok. Waktu kerja saya makan waktu 8 jam. Jadi makin sulit membagi waktu.

As always, thanks for reading and mind to review?