A/ N : Oke, pertama-tama saya mau minta maaf karena chapter kali ini bukanlah chapter 10-B. Tanpa basa basi selamat membaca! Balas review dulu.

-Hayashinkage17

Scarlet : Hooh, syukurlah kalau gak sampai rating M wkwkwk.

Blossom : Kalau gitu mari kita rilis rating M oneshotnya nak Suzu sama lakinya. *cling*

Scarlet : Eh diam lu, som. Jangan asal ngomong!

Takatora : *bekuin Blossom*

Suzu : *tendang Blossom yang membeku jauh-jauh*

Scarlet : ...eh? Apa artinya kalian tidak mau? Atau terlalu malu?

Takatora : Ha? *siap-siap bekuin Scarlet*

Suzu : Kalau kamu mengulangi ucapanmu barusan. Aku tidak akan segan-segan mematahkan lehermu lho. *evil smile*

Scarlet : A-Ampuni hamba... *sujud gaje* Makasih udah review!

-RosyMiranto18

Blossom : Mwahahaha, kurang greget? Lain kali aku usahain lebih greget! Mwahahaha!

Scarlet : Diam lu, Sima Yi palsu. Jangan sampe bikin fic ini jadi naik rating-nya woi!

Blossom : Eeeh...

Scarlet : Oke, selain itu. Kami mohon maaf kalau ekspektasi mz Rosy gak begitu tersampaikan. Sejujurnya saya jadi bingung menyusun plot, tapi... ganbaru yo.

Blossom : Yosh, makasih udah review!

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me, except Kimura Siblings belongs to RosyMiranto.

Warning : Mainly OC x Todo Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?). Chapter ?-A berisikan bad end! DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XxX-

Bell of the White Hare

-XxX-

CHAPTER 10 A

Part II

Scenery of Tomorrow

-XxX-

Seharusnya ia lebih awal untuk membawa gadis itu jauh dari dunia luar. Jika tidak, mereka takkan pernah merasakan rasa sakit ini.

Netra biru milik pria itu terkunci pada pulau yang telah jauh dari pandangan, belum memindahkan arah matanya sama sekali. Seisi kepalanya masih tak luput dari ucapan perempuan yang baru saja ia tinggalkan.

"Aku ingin percaya pada Tuan, tetapi Takatora-san tidak mau memberiku alasan untuk percaya padamu...!"

Gadis itu mungkin benar. Tidak, dia memang benar.

Selama ini gadis itu selalu berusaha agar bisa meringankan beban yang ia pikul. Dia berkata bahwa ia takkan membiarkannya berjuang sendirian. Ingin menyeimbangkan kebaikan yang tumbuh diantara mereka berdua.

Namun yang ia berikan tak seperti yang gadis itu harapkan, begitu pula dirinya.

Akan tetapi, dia harus melakukannya demi menjaga nyawa serta menjauhkannya dari ketidakteraturan yang mengguncang negeri ini. Setelah apa yang terjadi pada mantan tuannya, Nagamasa dan Oichi serta Ryouko. Hanya terdapat satu pintu yang bisa dibuka olehnya. Pintu dimana gadis itu dapat hidup tentram dan damai tanpa harus mengetahui situasi dunia luar, tanpa harus mengotori kedua tangannya. Gadis murni dan tak bersalah sepertinya tak pantas mengalami perang penuh kekacauan yang tak pernah berakhir. Bahkan dirinya selalu bimbang setiap kali ia menebas musuh di hadapannya. Ia memaksakan dirinya untuk terlibat dalam perang agar dirinya bisa lebih berguna untuk orang lain.

Dia terlalu baik, terlalu baik untuknya. Tak sepatutnya memberikan kebaikan hatinya pada pria itu. Karena baginya kebaikan gadis itu membuat hatinya berat. Dirinya semakin bimbang untuk membiarkan gadis berhati murni itu berdiri di sisinya.

Karena itu, ia memutuskan ikatannya dengan orang terdekatnya agar mereka tidak akan pernah merasakan kepiluan yang sama seperti dirinya. Selain itu, ia tak berhak mendapat kasih sayang serta cintanya.

Manusia pada akhirnya akan sendirian.

Agar kematian orang yang berharga baginya tidak akan kembali terulang, Takatora harus menyimpan gadis itu sejauh mungkin agar tak tersentuh oleh orang asing. Layaknya sebuah benda keramat yang tak tersentuh.

Apakah yang ia lakukan itu salah atau benar?

Tidak ada yang tahu. Dia tidak tahu.

Apakah dengan ketidaktahuan gadis itu akan dunia luar serta ketidaktahuan mengenai keadaan orang-orang yang ia tinggalkan, dia akan bahagia?

Mungkin, ini benar.

Ya, dia tak perlu cemas. Melupakan dan melepas adalah jalan yang terbaik. Karena hanya dengan memikirkan dirinya sendiri, gadis itu pasti akan hidup bahagia. Hidup di tanah kelahiran ibunya, pasti akan ada orang lain yang pantas memberinya kebahagiaan.

Dengan kemurnian dan rendah hatinya, dia pasti bisa mengulang segalanya dari awal.

"Asalkan bukan diriku yang takkan pernah bisa menyelamatkan dan memberinya kebahagiaan," lirih pria itu, menatap laut biru yang berkilauan memantul cahaya matahari.

Dia takkan pernah lagi menatap pemandangan yang indah itu bersamanya.

-XxX-

Takatora membubarkan pasukan setelah sampai di istana. Meski dia bukan pergi untuk berperang, pria itu merasa sangat lelah.

"Oh, Takatora-dono. Kau sudah kembali." Takatora menoleh ke belakang, pria yang bernama Aki itu berjalan menghampirinya. Aki membawa barang perlengkapan dan pedang yang ia sandang pada punggung. "Jadi... Suzu-dono sudah menetap di Pulau Sado, benar? Kapan dia akan kembali?"

Takatora mengalihkan pandangan. "Dia tidak akan kembali."

Aki menaikkan alis, tidak menduga jawaban yang baru saja Takatora katakan. "Maaf?"

Takatora tak menjawab apapun, membiarkan pria itu kebingungan dicampur tak percaya apa yang baru saja ia katakan.

Sadar akan atmosfer disekitar mereka mulai berat. Aki mengganti topik pembicaraan. "Ah, aku akan pergi ke Shikoku untuk bernegoisasi dengan Moto- maksudku Chousokabe di Hiketa."

"Begitu..." jawab Takatora singkat.

Karena merasa tidak terlalu dipedulikan, Aki menghela napas kecewa.

"Hati-hati," sambungnya sambil menoleh ke belakang.

Aki mengedipkan mata namun ia juga tak bisa tersenyum mengingat ucapannya saat ia bilang Suzu tidak akan kembali. "Ya, aku mengerti." Aki menggaruk tengkuk lehernya. "Sebenarnya aku berharap Suzu-dono bisa menetap lebih lama."

Takatora kembali mengalihkan pandangan ketika mendengar nama gadis itu. Aki menyadarinya.

"Aku meninggalkan Natsuko disini, makanya aku berharap Suzu-dono bisa menjaganya untuk sementara sampai aku kembali. Tapi, ternyata tidak bisa." Aki tertawa paksa. "Tapi aku harap Natsuko bisa tumbuh mandiri."

"Begitu..."

Aki kembali menghela napas kecewa ketika mendapat jawaban yang terlalu singkat kedua kalinya. "Takatora-dono."

"...Apa?"

"Sebelum aku berangkat, aku ingin bertanya." Takatora kembali menoleh ke belakang. "Bagaimana perasaanmu tanpa Suzu-dono berdiri di sampingmu?"

Tersadar atas kebodohannya lewat tatapan dingin Takatora, Aki buru-buru menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tapi terlambat. Takatora mendengarnya dengan sangat jelas.

"Ekh... m-maafkan aku..."

Tanpa mengatakan apapun lagi, Takatora pergi meninggalkan Aki yang masih kebingungan. Ia segera melaporkan kepulangannya pada Hideyoshi dan istrinya yang sedang berada di ruang pertemuan utama.

Setelah dayang mengumumkan kepulangan Takatora pada pemimpin Hashiba tersebut. Takatora masuk ke dalam ruangan. Raut wajah Hideyoshi dan Nene seolah-olah menunggu kepulangannya, senyuman simpul yang mengembang pada wajah mereka membuat pria bermanik biru itu ingin sekali meminta mereka untuk membuang raut wajah itu.

Hideyoshi mempersilahkan Takatora untuk duduk yang lalu kemudian menunduk dalam.

"Hideyoshi-sama, saya telah kembali dari Pulau Sado." Napasnya mulai terasa berat ketika lidahnya berniat untuk menyebut nama gadis itu. "...Saya telah memastikan Suzu dalam keadaan sehat dan aman disana."

Hideyoshi manggut paham. "Lalu? Apakah Suzu memberitahumu kapan dia akan kembali?" tanya Hideyoshi yang duduk disebelah Nene.

Takatora menarik napas dalam diam. Paru-parunya terasa semakin digulung ketika Hideyoshi menyebut nama gadis itu. "Maafkan hamba, Tuan. Dia... berencana untuk tidak akan kembali. Dia telah memutuskan untuk tetap tinggal di Pulau Sado."

"Hm... Begitu ya. Sayang sekali, tapi tak apa. Itu keputusannya sendiri. Sepertinya kita tak bisa melakukan sesuatu untuk mengatasi traumanya. Tapi kurasa ini lebih baik, Suzu akan lebih aman disana. Benar 'kan, Takatora?"

Takatora menggigit bawah bibirnya, masih menurunkan kepalanya di hadapan Hideyoshi. "...ya, Hideyoshi-sama."

Hideyoshi manggut-manggut. "Harap saja Suzu akan mengirimkan surat kepada kita nanti. Nah, kau boleh kembali, Takatora." Hideyoshi mengizinkan Takatora untuk kembali. Takatora segera keluar dari ruangan pertemuan setelah memberi hormat, meninggalkan penguasa klan Hashiba tersebut sendirian bersama istrinya.

'Dia tidak akan mengirimkan surat. Aku yakin.'

Hideyoshi menoleh kearah sang istri. "Kenapa Nene? Sejak kepergian Suzu, air mukamu masih belum berubah. Khawatir?"

"Tentu saja aku khawatir! Entah kenapa rasanya ada yang salah..."

Hideyoshi terdiam sejenak. "Sebenarnya aku juga berpikiran sama. Saat Suzu meminta izin kepada kita untuk pulang ke kampung halaman ibunya, dia terlihat menyembunyikan sesuatu."

Nene menghela napas berat. "Hah, ternyata bukan hanya aku yang merasakannya." Wanita bersurai coklat pendek itu menaruh telapak tangan kanannya di pipi. "Seharusnya aku mengatakan pada Suzu-chan untuk menikah dengan Takatora. Mereka sangat akrab, padahal aku berharap Takatora bisa melakukan sesuatu."

"Yah, tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Kurasa sejak Oichi-sama bunuh diri bersama Shibata-dono membuat Suzu sangat terpukul. Apalagi dia pasti trauma sejak melihat Istana Kitanosho terbakar. Sama seperti Istana Odani dulu."

Nene kembali menghela napas. "Kasihan sekali..."

"Tak hanya itu, Takatora juga salah satu bawahan Nagamasa-dono. Dia juga pasti terpukul karena kematian Oichi-sama. Mereka berdua sama-sama terpojok."

"Jikalau dia menentang Suzu-chan untuk pergi, Takatora berpikir bahwa Suzu-chan yang akan kehilangan nyawanya setelah kehilangan mantan majikannya. Tidak mau kehilangan orang terdekatnya... Karena itu dia melepasnya. Seperti itu?" Hideyoshi menjawab dengan anggukan kepala. Nene mulai mengerti dan sedikit lega mendengar pendapat suaminya. Dia benar. Dengan begini, sekarang Suzu tak perlu menginjak perang lagi. Dia akan aman. Meski demikian masih ada yang belum terlepas dari kecemasannya.

-XxX-

Setelah pamit pada Hideyoshi serta istrinya, Takatora segera berhadapan pada majikannya, Hidenaga. Pria paruh baya itu tengah duduk di roka di depan ruangannya sembari meminum sake.

"Oh, Takatora rupanya. Kau sudah kembali." Hidenaga tersenyum ramah ketika menyadari kedatangan bawahannya.

Takatora membungkukkan badan sebelum berbicara. "Ya, Hidenaga-sama."

"Duduklah. Maukah kau menemaniku minum sake?"

Takatora mengerjapkan mata, ia tahu bahwa ia takkan bisa mengatakan 'tidak' pada atasannya. Meski suasana hatinya kurang stabil, ia harus menuruti permintaan tuannya. "...baik." Takatora duduk disamping Hidenaga, lalu segera menuangkan sake pada cawan tuannya.

"Katakan, apa kau merasa lebih tenang?" tanya Hidenaga sebelum meneguk sake-nya.

Tangan Takatora langsung membeku ketika mendengar pertanyaan Hidenaga, belum sempat menaruh botol sake diatas nampan. "Maaf?"

"Ah, maksudku Suzu. Bukankah dia gadis yang baik?" sahutnya sambil menuangkan sake untuk Takatora. "Apa kau tahu? Sebelum kau datang untuk menjadi bawahanku, dia selalu berlari kesana kemari hanya untuk bertanya apakah ada sesuatu yang bisa ia bantu untuk membalas kebaikan Hideyoshi yang telah menyelamatkan dan membiarkannya tinggal disini." Hidenaga tertawa lebar. "Dia gadis yang giat dan rajin, sama sepertimu."

"..." Sang bawahan itu memilih untuk diam sembari mendengarkan tuturan Hidenaga.

"Dulu dia sangat pemalu karena tak ingin dipanggil Shirousagi oleh orang di sekitarnya. Setiap dia keluar, tudung kepalanya hampir tak pernah dilepas. Apa kau sadar? Sejak kedatanganmu, Suzu mulai jarang memasang tudung kepalanya."

Tutur kata Hidenaga langsung mengingatkan Takatora pada saat gadis itu masih anak-anak. Saat Istana Odani masih belum ternodai oleh darah dan panasnya api yang membara. Suzu selalu berlari kian kemari untuk membantu bibinya dan juga Azai. Sama seperti yang Hidenaga katakan, dia juga selalu memasang tudung kepalanya.

Namun ketika ia bertemu dengan orang terdekatnya, ia mau melepasnya dengan kemauannya sendiri. Ia tak lagi menyembunyikan jati dirinya. Membiarkan surai peraknya tergerai dihembus angin dan menampakkan manik merahnya yang berkilau.

"Sayang sekali, ya. Memang terasa sedikit sepi tapi ini demi kebaikan Suzu juga." Hidenaga lalu menyorotkan matanya ada Takatora. "Bagaimana dengan kau, Takatora? Apa kau merasa lega Suzu bisa hidup tentram di tempat yang jauh?"

Takatora masih belum menatap sang tuan, ia meneguk sake-nya hingga habis. "Ya. Karena demi kebaikan dirinya, saya tak keberatan."

Hidenaga tertawa lepas. "Kau masih saja seperti itu. Ah tidak, aku tidak mengatakan itu buruk." Pria paruh baya itu meremas perutnya setelah tertawa. "Sudah kuduga kau akan mengatakan itu."

Setelah beberapa tahun bernaung dibawahnya, tuannya seolah-olah sudah tahu apa yang ada di pikiran Takatora. Bahkan dari hal yang tidak bisa ia katakan pun, sudah cukup terlihat jelas dari air muka bawahannya itu. Mulut Takatora terbuka tapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Kata-kata tersebut sepertinya tertahan di tenggorokan. Lalu Takatora pun merapatkan bibirnya, bungkam. Ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri lebih jauh lagi di depan Hidenaga.

"Kau menyesalinya, bukan? Takatora."

"Meski demikian, saya harus melepasnya. Hanya masalah waktu, perlahan tapi pasti dia... akan-"

"Melupakanmu dan kami semua, benar?"

Takatora mengepalkan tangannya. "Apakah saya melakukan hal yang salah?" Suaranya mulai sedikit bergetar.

"Hanya kau sendiri yang mengerti jawabannya, Takatora." Hidenaga bangkit, menepuk bahu Takatora lalu pergi meninggalkannya. "Terima kasih sudah mau menemaniku minum."

Takatora meratapi pria tua nan ramah itu perlahan berjalan jauh, sembari mengulang ucapan terakhir yang baru dikatakan oleh tuannya. "'Hanya aku...?'"

-XxX-

Takatora segera kembali menuju kediamannya. Seisi kepalanya mulai sakit dan pusing, tubuhnya begitu lemas, ia butuh istirahat. Apakah karena ia meminum sake terlalu banyak? Bukan, dia yakin bukan karena itu.

Memang terkadang ia mudah mabuk dan berusaha untuk menghindarinya agar tidak menghambat posisinya sebagai kepala pelayan dari Hidenaga. Ia tak punya waktu untuk bersenang-senang bahkan meminum sake. Tak ingin menghabiskan waktunya pada hal yang akan menghambat kesetiaannya sekecil apapun.

Termasuk kebahagiaannya sendiri.

"Ada apa denganmu? Apakah kau membentur kepalamu karena amat menyesali perbuatanmu?" Pria berkerah tinggi dengan topi putih-biru berjalan dengan tenang di hadapannya. "Kurasa ini pertama kalinya kau menantang arus," ucap Yoshitsugu tertawa mendesah.

Sikap santainya terkadang membuat pria lawan bicaranya itu jengkel. "Tertawalah sepuasmu." Takatora mendecih. Sejak kepulangannya, semua orang di istana seolah-olah tak henti membicarakan tentang kebodohan dirinya dan juga mengenai gadis yang telah ia tinggalkan.

"Kau seperti membuang kelinci kesayanganmu yang sudah susah payah kau rawat"

"Kau masih saja menganggapnya Shirousagi," jawab Takatora langsung.

"Dan kau sama sekali tidak menyebut namanya sejak tadi."

Takatora menyadari itu. Selama ini ia selalu menjarak, tak melihat kepada Suzu, mengabaikan perasaannya. Mencoba untuk melupakan gadis yang ia tinggalkan.

Takatora mengalihkan matanya dari pria bermanik abu-abu itu. Yoshitsugu menaikkan bahu. "Bukankah kau sendiri sudah tahu? Dia memang bagai kelinci, jika dibiarkan kelinci kesepian itu sendirian, itu akan memendekkan umurnya."

"Aku percaya dia pasti bisa mengulangnya dari awal. Karena itu dia takkan mati hanya karena aku."

Yoshitsugu mendengus. "Percaya?" Ketika lawan bicaranya itu menekan kata tersebut, membuat dirinya seolah-olah salah mengartikan kata 'percaya'. "Hm, tapi takkan ada yang tahu selama dia tak ada disini. Tapi aku akan mengatakan satu hal padamu,"

Takatora mengerjapkan mata, menunggu teman lamanya untuk berbicara kembali.

"Dia tak pernah berprasangka buruk padamu. Dia akan melakukan apa yang kau inginkan. Meskipun akan berakhir melupakanmu dan semua orang yang disini." Yoshitsugu lalu bertolak pergi meninggalkan pria itu. "Yah, kurasa kau sudah sadar dengan itu."

Setelah sosok pria berkerah tinggi itu telah pergi. Waktu di sekitarnya seolah-olah berhenti, kalimat itu bergema di dalam kepalanya. Kemudian merutuk diri terus menerus.

Ia tahu dirinya bodoh, tak dapat mencari jalan lain untuk menyelamatkan gadis itu.

Ia tahu dirinya bodoh, ia telah menyingkirkan gadis itu dari kehidupannya.

Ia tahu dirinya bodoh, mengabaikan hasrat mereka berdua sesungguhnya.

"Meski begitu, aku harus melepasnya."

-XxX-

Setelah membasuh diri dan mengganti pakaian. Ia langsung mengistirahatkan tubuhnya di atas futon. Namun ketika ia mengingat sesuatu ia kembali beranjak, mengambil sebuah tenugui merah yang setengah jadi bermotif bunga sakura.

Warna merah adalah warna yang cocok untuk Suzu. Takatora pernah berjanji padanya bahwa dia akan merajut tenugui yang bagus untuknya. Namun gadis itu takkan pernah datang kembali ke sisinya.

Takatora sendirilah yang telah membuat gadis itu pergi.

Meski ia ingin menyelesaikan dan mengantar tenugui itu pada Suzu agar dia tidak kedinginan saat musim dingin tiba, Takatora yakin dia pasti akan menyesalinya.

Menyesal karena itu akan membuat Suzu akan terus mengingatnya. Jika itu terjadi, dia yakin Suzu akan datang menemuinya.

Dan menyesal karena itu akan menumbuhkan niatnya untuk menarik Suzu kembali. Jika itu terjadi, dia yakin Suzu akan mengotori tangannya lagi. Suzu takkan bisa hidup dengan tenang, dia tidak boleh melihat dunia luar yang penuh kekacauan. Takatora harus menjaganya tetap aman meski ia jauh dari sisinya.

Demi kebahagiaan gadis itu. Demi menjaga nyawanya. Demi memurnikan tangannya yang kotor akibat kekacauan negeri.

Segalanya.

Suzu harus tetap hidup tanpa dirinya, meski harus melupakannya sekali pun.

"Huh, melihat wajahmu saja sudah membuatku jengkel." Entah darimana datangnya, Takatora mendengar suara seorang wanita. Ia menoleh ke belakang. "Kalau kau ingin menariknya kembali. Kenapa kau tidak pergi menjemputnya?"

Seorang wanita bersurai hitam yang dikepang dengan topeng burung gagak muncul dari balik bayang-bayang.

"Kau...!" Takatora segera bangkit menghadap wanita itu. Meski ia tak tahu siapa nama wanita itu, tetapi ia ingat betul disaat wanita itu berencana mengincar Oichi. Selain itu, dia juga penyebab Suzu menderita akibat ulahnya.

"Apa? Kau ingin membunuhku karena telah hampir membunuh Suzu? Bukankah sudah terlambat untuk melakukannya?" Wanita itu membuka topengnya, lalu melemparnya kearah Takatora. "Lihat topeng itu baik-baik. Tenang, ini bukan jebakan."

Takatora menatap wanita itu tajam, lalu mengambil topeng burung gagak tersebut. Matanya langsung terpusat pada sebuah nama marga dibalik topeng tersebut. "Shiraishi...?"

"Masih belum percaya? Maaf saja, jujur. Aku hanya memiliki satu bukti ini." Wanita itu menaikkan bahunya. "Mengerti? Aku, menyesal, sangat," ucap wanita itu terputus-putus, menekan setiap katanya. "Tapi, aku tak bisa memaafkanmu."

Netra birunya kembali terarah pada netra emas wanita itu.

"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan pada kelinciku? Masih berniat untuk membiarkannya sendirian disana?"

"Apa artinya jika aku memberitahumu."

Wanita itu mulai menatap tajam Takatora. "Huh, pria yang keras kepala. Sungguh, kau adalah pria yang terbodoh yang penah kutemui," geramnya.

"Jika kau tidak memiliki urusan lain selain ini. Aku minta kau segera lenyap dari pandanganku."

Wanita itu mengepalkan kedua tangannya. "Kau tidak mengerti? Suzu tak ingin me-"

"Onna." Takatora memotongnya, bukan memanggilnya dengan nama marga. Meski demikian, wajar baginya ketika Takatora tidak menyebut marganya. Sejak lahir ia memang tak bernama. Hanya memiliki sebuah nama yang pernah ia buang. "Jangan membuatku mengulang perkataanku."

Wanita itu tak bergeming, masih menyilangkan kedua lengannya di depan dada. "Sayap palsu yang kau berikan padanya takkan membahagiakannya. Aku tak pernah mengira ternyata kau lebih rendah dari pengecut."

"Apapun yang kau katakan takkan ada gunanya. Aku tak peduli. Tidak ada yang akan berubah."

"Kau pria menyebalkan. Rasanya ingin sekali aku membunuhmu."

"Aku takkan membiarkan nyawaku melayang."

Emosi wanita bermanik emas itu semakin meluap-luap. "Bukankah kau sudah tahu bahwa keinginan terbesarnya adalah hidup bahagia bersamamu!?"

"Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kucari."

Pemilik topeng gagak itu tertawa getir. "Yang benar saja. Sekuat apapun seorang pria, mereka takkan mungkin pernah bisa hidup sendirian tanpa wanita. Kau sudah membuang kebahagiaanmu sendiri. Aku tahu itu."

Sama seperti ayahnya, ia tak selamanya hidup sebagai pembunuh bayaran. Wanita yang merupakan ibu angkatnya- orang yang pernah ia benci, telah mengubah jalan kehidupan ayahnya. Ia sudah tak lagi membenci semua itu. Karena dia adalah salah satu dari kebahagiaan ayahnya. Dan takdir telah membawanya seorang perempuan yang merupakan adiknya, memberikan cahaya baru untuknya dapat menghargai kehidupannya yang lebih baik.

Wanita itu sangat tahu bahwa jauh di dalam benak Takatora, ia tak ingin melepas Suzu.

"Dia takkan pernah bisa bertahan hidup di negeri ini."

"Konyol. Akhir dari setiap garis kehidupan manusia memang kematian. Meski kau telah membawanya jauh darimu, kau takkan pernah tahu apakah dia benar-benar bahagia disana. Dan dia takkan pernah tahu apakah kau benar-benar lega karena telah melepasnya."

"Itu jauh lebih baik. Ketidaktahuan akan keburukan akan membuatnya bahagia."

"Ya, tepat sekali. Kau memang terburuk, tapi kau bisa menjadi lebih baik untuknya."

"Kau tahu apa dengan diriku? Kau yang telah hampir merenggut nyawa adikmu sendiri tak pantas berkata demikian padaku." Wanita itu langsung terbungkam. Namun alisnya sama sekali tidak bergerak. Kali ini Takatora mulai percaya bahwa wanita itu bersungguh-sungguh.

"Baiklah, jika kau masih bersikeras membiarkan Suzu sendirian. Aku yang akan membawanya padamu."

Takatora membelalakkan mata. Tidak, ia tidak akan membiarkan siapapun menyentuh Suzu. Ia harus tetap berada disana, jika tidak takdir yang mengejarnya akan membuat nyawanya melayang percuma.

Tidak. Tidak. Tidak.

Dia tak mau itu terjadi lagi.

Ia tak ingin orang yang ia sayangi mati di hadapannya untuk ke sekian kalinya.

TIDAK. TIDAK. TIDAK. TIDAK. TIDAK.

"Apa kau gila!?" bentak Takatora langsung mencengkram leher wanita itu, kedua kakinya melemah sehingga sulit baginya untuk berdiri, tangannya pun ikut melemah. "Tidak bisakah kau berpikir semua itu akan percuma!? Aku... aku akan menjadi penyebab kematiannya! Bahkan dulu nyawanya hampir melayang karena ketidakberdayaanku! Apa kau ingin adikmu mati!?"

Wanita itu berusaha sekuat tenaga untuk melepas cengkraman Takatora, memaksa kaki dan tangannya untuk bergerak. "Y-Yang benar saja...! Kau masih mengungkit masa lalu... Karena alasan konyol itu kau mengabaikan perasaan Suzu yang sesungguhnya...!?" geramnya.

"Ya, kau benar! Aku mengabaikannya demi kebaikan gadis itu sendiri! Hanya aku yang peduli padanya! Aku menyayanginya! Aku mencintainya! Karena itu, dia harus melupakanku- semuanya!"

Cengkramannya yang semakin kuat dan keras langsung membuat urat leher wanita itu putus. Desahan napas terakhir darinya terlepas seketika. Takatora lalu meregangkan tangannya, membiarkan tubuh wanita itu terkapar tak bernyawa.

Sesuatu jatuh dari genggaman wanita itu. Sebuah omamori. Jimat perlindungan yang pernah Suzu berikan padanya saat ia masih anak-anak.

Ia tak pernah tahu kapan omamori itu menghilang. Mengapa omamori tersebut ada padanya? Atau wanita itukah yang telah mengambilkannya?

Takatora mengambil jimat tersebut, meratapinya dalam diam.

"Aku ingin menguasai rasa takutku, jadi aku tidak akan melarikan diri. Demi Nagamasa-sama dan Oichi-sama, aku ingin melihat mereka berdua menjadi pasangan yang sangat bahagia. Mungkin, inilah jalan hidupku. Toudou-dono juga 'kan?"

"Obaa-sama pernah mengatakan padaku kalau ksatria adalah orang mengayunkan pedangnya untuk melindungi orang lain. Karena itu, aku selalu berpikir ksatria itu orang yang sangat hebat!"

"Ternyata dunia ini masih jauh dari kebahagiaan ya? Masih seperti neraka..."

"Aneh... padahal aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Semua perasaanku jadi hangat dan lapang, persis seperti waktu aku masih memiliki mereka semua. Ternyata, aku terlahir demi saat dimana aku diselamatkan oleh Takatora-san..."

"Mungkin bagimu, Takatora-san bukan seorang ksatria atau pun pahlawan. Tapi di mataku Takatora-san adalah pahlawan yang sesungguhnya! Sebesar apa rasa bahagiaku dan sebesar apa diriku terselamatkan olehmu, Takatora-san mungkin tidak akan tahu. Takatora-san yang seharusnya- tidak akan melihat ke belakang dan akan melakukan apapun agar kedamaian terwujud. Karena itu aku... aku sangat mengagumi Tuan!"

"Tuan pernah mengatakan padaku kalau Takatora-san akan membantuku mencari kebahagiaanku. Karena itu, aku juga akan mencarikan kebahagiaan untuk Tuan. Bersama, kita harus hidup di tengah kekacauan ini dengan kuat. Aku ingin melakukannya. Selain itu, Takatora-san adalah orang yang istimewa untukku. Karena itu, aku tidak akan membiarkan Tuan berjuang sendirian."

"...aku senang karena Tuan begitu memperhatikanku."

"Yah, sejujurnya aku selama ini selalu menahan diri. Tapi kali ini tidak akan. Aku ingin melakukan apapun bahkan sesuatu yang belum pernah kualami. Dari hal yang bodoh pun tidak masalah. Di masa sulit yang seperti ini, aku tidak ingin menyesal."

"Apakah melindungi sesuatu yang amat berharga... sangat sulit dilakukan?"

"Yang ingin menyelamatkan Oichi-sama bukan hanya Takatora-san sendiri! Aku, Yoshitsugu-san, Hideyoshi-sama dan yang lain juga ingin menyelamatkannya. Tuan tidak perlu menanggung semua beban pada dirimu sendiri...! Aku tidak mau itu!"

"T-Tidak! Hatiku sakit sekali mendengarnya, aku sudah tidak tahan! Aku tidak mungkin bisa diam menunggu saja! Di saat Takatora-san berada dalam masalah, aku ingin menjadi orang yang pertama untuk membantumu."

"Apakah sulit bagi Tuan... untuk mengalami semua ini?"

"Bukan, bukan itu. Takatora-san seharusnya tidak perlu menahan seluruh beban sendirian terus menerus seperti ini. Jika sakit, katakan saja padaku. Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Setelah semua apa yang terjadi... Aku tahu selama ini Takatora-san menyembunyikan kesedihan Tuan dengan bersikap tegar. Tapi, aku tahu. Karena selama ini aku selalu memperhatikan Tuan."

"Tuan menyalahkan dirimu dan menolak semua yang telah terjadi. Yang seperti itu, bukanlah Takatora-san yang selama ini kukenal. Saat aku bertemu dengan Oichi-sama, beliau meminta Tuan untuk tetap hidup dengan menghargai nyawamu agar Takatora-san bisa membawa mimpi mereka pada kedamaian. Aku juga sudah mengatakan pada Tuan bahwa aku tidak akan membiarkan Tuan berjuang sendirian. Tapi, Tuan-"

"Meninggalkan semua yang telah Tuan berikan padaku, aku tak mungkin bisa melakukannya...! Semuanya sangat berarti untukku. Berkatmu, aku sudah menemukan alasan aku bertahan hidup. Seberapa besar bahagianya diriku terselamatkan olehmu, Tuan mungkin takkan pernah tahu. Karena itu, aku tak ingin pergi meninggalkan Takatora-san!"

"...Apakah aku tidak bisa untuk mencintai Tuan?"

"...Habisnya ini pertama kalinya aku bisa mengabulkan permintaan Tuan. Apapun caranya aku ingin melakukannya demi Tuan. Untuk pertama dan terakhir kalinya..."

"Aku tidak mengingkan orang lain selain Tuan. Karena aku... sangat mencintai Tuan."

"Selama ini, aku selalu saja dilindungi. Jadi Takatora-san tak perlu cemas lagi. Setelah aku pergi, aku tidak akan pernah menginjak medan perang bersamamu. Berkat Tuan, nyawaku akan aman. Terima kasih... atas segalanya."

"Selama ini, aku tak ingin melihatnya. Aku berusaha menganggap luka ini tak pernah ada...! Tapi kenapa...? Hatiku terasa lebih sakit ketika Tuan akan pergi meninggalkanku..."

"Tuan berbohong..."

"Aku ingin percaya. Aku sangat ingin percaya pada Takatora-san. Aku ingin percaya, tetapi Tuan tidak mau memberiku alasan untuk percaya padamu...!"

"Kalau begitu aku pun sama, aku juga tidak akan membuat Tuan menderita. Karena itu, aku akan mengembalikan segalanya... dan mengakhirinya sekarang juga. Apakah Tuan tahu? Sejujurnya, aku berharap banyak padamu. Kukira hanya Tuan yang akan memperlakukanku dengan istimewa. Terima kasih atas segala yang Tuan berikan padaku selama ini."

"Selamat tinggal."

Bulir bening menitik dari mata tajamnya, jatuh membasahi omamori yang ada di tangannya. Takatora membawa jimat tersebut pada wajahnya. Menggertakkan gigi sembari mengutuk diri terus menerus.

Ia mulai merindukan gadis itu.

Senyumannya, suaranya, sentuhan, kehangatannya dan keberadaannya.

Di saat ia menyentuh kulit hangatnya yang hampir menandingi pualam. Merasakan kelembutan pada bibir kecil yang gemerlap. Mencium aroma manis dan membelai surai peraknya yang indah bagai sutra. Mengunci pandangan pada netra merahnya yang berkilauan.

Ia sangat merindukannya.

Namun ia harus berhenti merindukannya.

Berhenti merindukan senyumannya. Berhenti merindukan sentuhan tangan mungilnya. Berhenti merindukan suaranya. Berhenti merindukan kehangatannya. Berhenti merindukan keberadaannya.

Segala tentang dirinya.

Meski ia telah terlalu mencintainya. Meski ia telah melubangi hatinya sendiri bahkan pada gadis itu. Meski rasanya lebih sakit dibandingkan saat kedua mantan majikannya mati. Meski ia sangat keras kepala bahkan egois, ia sudah memutuskan untuk sendirian. Ia telah memilih jalannya sendiri, tanpa harus membiarkan orang lain meringankan kepiluan pada hatinya.

Mencintainya, begitu menyakitkan.

"Suzu... Maaf."

-XxX-

-xxx-

NEVER END

-xxx-

-XxX-

A/N : Berharap chapter 10 A Part II tidak mendapatkan bad end? Sayang sekali, ini tetap bad end alias Never End! *plak-dikeroyok*

Sebenarnya dulu niatnya mau lebih panjangin chapter 10-A nya, tapi udah kelewat 4k words dari biasanya. Yah, saya bikin aja yang part II. Sambungan dari chapter sebelumnya gitu deh...

Oke, kali ini beneran. Nantikan chapter 10-B berikutnya! Thanks for reading and review please!