A/ N : Oke, inilah chapter yang ditunggu-tunggu. Langsung saja balas ripiw!
-Hayashinkage17
Blossom : *tebar bunga* Yeah~
Scarlet : *tebar rumput* Omedetou~
Suzu : Situ malah tebar rumput!? Terus Blossom, kamu pasti petik bunganya di taman ya!?
Takatora : *bekuin Scarlet & Blossom* Orang-orang bodoh itu... tidak pernah bosan memancing amarah seseorang.
Suzu : E-Eh... (Takatora-sama sendiri tidak bosan bekuin orang...) *sweatdrop*
Takatora : Ng? Kenapa kau menatapku seperti itu?
Suzu : Geh...! Bukan apa-apa kok, Tuan! Terima kasih banyak atas review-nya!
-RosyMiranto18
Blossom : Kami sebenarnya pengen post fic *batuk* Tapi masih banyak yang diperlu kami pelajari soal *batuk*.
Suzu : *sweatdrop* Apa yang kau bicarakan...?
Takatora : *buang muka*
Suzu : Takatora-san, eh, maksudku... Takatora-sama sepertinya mengerti dengan maksudnya Blossom.
Takatora : Kalau kau penasaran, sebaiknya kau harus mempersiapkan diri secara matang. Aku tidak ingin kau sampai takut jika aku akan melakukan 'itu' padamu.
Suzu : M-Maksudnya... hantu? *merinding*
Takatora : *sweatdrop* ...bukan. Baiklah, terima kasih atas review-nya.
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me, except Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Shinhana Kobayakawa and Nagachika Nomi belongs to Hayashinkage17.
Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?). DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XxX-
Bell of the White Hare
-XxX-
CHAPTER 11
Glowing Red
-XxX-
Winter, 1584
Butiran salju putih yang turun dari langit menutupi seluruh permukaan yang ada dibawahnya, seolah-olah menciptakan sebuah permadani penuh dengan warna putih. Salju yang turun tak terkira jumlahnya begitu lebat namun tak seperti hujan pada umumnya. Pemandangan yang sangat indah di mata gadis itu. Meski dinginnya malam begitu menusuk kulit, itu sama sekali tak menghentikan Suzu yang tengah melacak tiga orang pria yang merupakan bawahan dari putra kedua Oda Nobunaga, Nobukatsu.
Suzu mengenakan jubah dan tudung kepala untuk menyembunyikan diri agar tak ditemukan oleh orang sekaligus manahan dingin. Seulas senyuman tipis mengembang pada wajah gadis itu, lalu tawa kecil meluncur dari bibirnya. Tangan mungilnya meremas sebuah sehelai kain yang dililit pada lehernya, sebuah tenugui merah dengam motif bunga sakura. "Hangat..."
Menyadari tiga orang perwira tersebut mulai bergerak, Suzu segera mengikuti mereka dengan diam-diam. Berjalan di lorong sempit tanpa mengalihkan perhatiannya dari tiga prajurit tersebut. Berkat kurangnya penerangan di sekitarnya, Suzu berkesempatan melompati dinding bahkan atap agar dapat mengawasi mereka dari atas agar tidak akan ada orang yang dapat menemukannya.
"Tsugawa Yoshifuyu, Okada Shigetaka dan Azai Nagatoki. Mengapa mereka dihimbau pada saat seperti ini? Bukankah undangan Hideyoshi-sama sudah sampai pada mereka? Tapi mengapa mereka datang menemui Oda Nobukatsu yang secara sengaja mengabaikan undangan Hideyoshi-sama? Semoga saja mereka tidak berkhianat," gumam gadis bernetra merah rubi tersebut.
Bawahan Nobukatsu lalu disambut oleh para prajurit yang tengah menjaga gerbang depan istana lalu memgiring mereka masuk ke dalam istana Kiyosu. "Gawat, aku harus cepat menyusup ke dalam." Suzu langsung melompat ke atas atap istana setelah memastikan daerah sekitar. Sebisa mungkin menjauh dari pengawasan para prajurit yang tengah berpatroli.
"Pengawasannya lebih ketat dari yang kukira..." Setelah berhasil menyusup ke dalam istana Kiyosu, namun ia hanya dapat memperhatikan suasana dalam istana dari jendela yang telah ia rubuhkan. Beruntung, ia menemukan keberadaan tiga orang bawahan Nobukatsu itu dari jauh.
Namun diluar dugaan, mereka nampak panik ketika gerbang istana dikunci dengan rapat. Tak kalah mengejutkan bagi Suzu, mereka bertiga dikepung oleh para pasukan Nobukatsu itu sendiri. Tanpa segan mereka langsung membunuh mereka di tempat.
Suzu terkejut dan terhenyak ketika menyaksikan kejadian mengerikan itu dengan mata kepalanya sendiri. Kepala tiga prajurit tersebut terpisah dari tubuh, darah segar mengalir deras membasahi lantai. Suzu mengunci pandangannya pada Nobukatsu yang berjalan menghampiri tiga mayat itu. Seringai licik terbentuk pada mukanya.
"Jadi, dialah putra kedua dari Oda Nobunaga." Ia menghela napas berat. "Seharusnya aku menolong mereka. Padahal mereka masih memiliki hak untuk tetap hidup." Suzu menggeleng kepala, ia tahu semua sudah terlambat. Memang menyelamatkan seseorang tak ada salahnya, namun ia juga harus mementingkan nyawanya sendiri. "Sebaiknya aku harus segera melaporkannya."
Gadis itu segera turun dari atap istana, lalu memastikan prajurit yang berpatroli tidak menemukannya. Setelah merasa aman, Suzu langsung berlari dan segera melompati dinding pembatas antara istana dengan desa.
Namun naas, setelah Suzu berhasil melompati dinding pagar, seorang prajurit yang tengah berpatroli dengan tak sengaja mengalihkan pandangannya pada bayangan Suzu. "Siapa disana―!?"
Belum sempat prajurit tersebut berteriak, Suzu langsung memukul tengkuk leher prajurit tersebut sehingga ia pingsan seketika. Setelah itu, ia mengambil selembar ofuda dari lengan pakaiannya. "Lain kali aku harus lebih berhati-hati. Mungkin karena akhir-akhir ini aku mulai jarang melakukan pekerjaan seperti ini."
Lalu Suzu berlutut di hadapan prajurit yang terkapar tersebut, mengarahkan ofuda-nya di depan wajah prajurit itu. "Maaf, tapi aku ingin kau melupakan apa yang baru saja kau lihat." Setelah merapal mantra, ofuda yang di tangannya seketika menghilang seperti hembusan kabut.
"Nah, sebentar lagi dia akan bangun dengan sendirinya. Yang penting sekarang aku harus kembali ke istana. Aku tidak boleh membuang waktu lebih lama. Takatora-sama sangat mencemaskanku..." Suzu bangkit lalu segera pergi, meninggalkan prajurit yang terkapar tersebut di tengah jalan.
-XXX-
Hari berikutnya, pertemuan tengah diadakan di istana Osaka. Semua pengikut Hideyoshi dikumpulkan pada satu ruangan. Mereka duduk bersila menghadap pemimpin Hashiba tersebut. Kebanyakan dari mereka yakin bahwa perang akan kembali datang.
"Semuanya, sekali lagi kuucapkan terima kasih atas kerja keras kalian. Dengan keberhasilan kita menjatuhkan Shibata dan penyelesaian pembangunan istana Osaka baru-baru ini. Kita telah lebih maju selangkah demi menuju penyatuan negeri ini," ucap Hideyoshi pada seluruh pengikutnya. Seperti biasa ia didampingi oleh sang istri, Nene.
"Langsung saja menuju intinya. Aku, yang mendukung Nobukatsu, sayang sekali dia tak datang sejak istana Osaka ini selesai dibangun. Diluar harapanku, ia benar-benar telah memutuskan ikatannya denganku. Buktinya, ia telah mengeksekusi tiga bawahannya sendiri, dimana aku telah mengirimkan surat perdamaian pada mereka bertiga. Tsugawa Yoshifuyu, Okada Shigetaka dan Azai Nagatoki. Aku menduga bahwa Nobukatsu telah meninggalkan istana Kiyosu dan bergabung dengan Tokugawa Ieyasu."
Takatora, yang juga ikut serta dalam pertemuan, mengerjapkan mata ketika Hideyoshi menyebut nama pemimpin dari Tokugawa.
Tak ada yang tidak mengenal nama itu. Meski ia mengalami kekalahan yang mutlak di Mikatagahara, Ieyasu akhir-akhir ini dicap sebagai daimyo yang tangguh dan memiliki kecakapan dari berbagai sisi.
"Maka dari itu, tak lama lagi kita akan kembali menuju medan perang. Untuk itu, segera kumpulkan pasukan dan siapkan segala penyuplaian. Saat musim semi tiba sebentar lagi, kita akan berangkat segera untuk menjatuhkan Nobukatsu."
"Baik!" Para pendekar menundukkan kepala.
"Selain itu, aku akan memberitahukan pada kalian bahwa perwakilan dari klan Mouri akan datang. Tak hanya itu, Uesugi juga akan datang sebagai bala bantuan. Lalu sekarang wilayah yang tersisa hanyalah..."
"Oshu, Kanto, Kyushu, dan Shikoku," lanjut sang penasihat Hideyoshi, Kuroda Kanbei.
Hideyoshi manggut-manggut. "Sebetulnya selama ini aku merasa kita bisa berdamai dengan salah satu diantara empat daimyo itu. Tapi yang ada di pikiranku saat ini adalah Chosokabe. Memang rasanya mustahil mereka memilih untuk berdamai, sejak gugurnya Mitsuhide yang merupakan rekan dari Chosokabe Motochika..."
"Apakah Anda ingin mengirim seseorang ke Hiketa untuk bernegosiasi dengan mereka, Hideyoshi-sama?"
Hideyoshi menjawab pertanyaan Kanbei dengan anggukkan kepala. "Ya. Kalau begitu aku akan menunjuk seseorang-"
"Mohon biarkan saya yang melakukannya!"
Semua perhatian langsung mengarah ke pemilik suara. "...Kimura?" gumam Takatora mengerjapkan mata melihat Aki yang tiba-tiba mengangkat tangan kanannya.
-XXX-
"Kau terlambat, Suzu."
Chacha membelai rambut pirangnya, menatap tak senang pada gadis yang lebih tua darinya. Tangannya sudah memegang bilah pedang bambu.
"Mohon maafkan saya, Chacha-sama."
Chacha terdiam sejenak, memandang wajah Suzu yang terlihat pucat. Gerakan tubuhnya melemah, buktinya ia kesulitan menggenggam kuat bilah pedang kayu dengan kedua tangannya.
"Suzu, hari ini kau boleh menggunakan satu pedang saja."
"...Maaf?"
Hanya karena ia yang memiliki posisi lebih tinggi dari Suzu, namun ketidaksukaannya terhadap peduli akan keamanannya membuat Chacha kesal setiap kali Suzu ragu melatihnya. Mengetahui Suzu juga dapat menggunakan dua pedang berkat ajaran mendiang bibinya, ia ingin Suzu melatihnya tanpa harus memperhatikan keselamatannya. Meski telah berulang kali Suzu memintanya untuk menarik kembali niatnya untuk berperang, Hideyoshi dan Nene sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Karena tak biasanya Chacha ingin dibantu demi kebaikan dirinya.
Namun karena kali ini menyangkut keadaan Suzu yang tiba-tiba terlihat melemah. Chacha sadar bahwa ia merasa terlalu memaksa, atau mungkin ada sesuatu yang tak bisa membuat Suzu konsentrasi penuh karena terlalu memikirkan suatu hal.
Biasanya ia hanya memiliki sedikit peluang untuk menang dari Suzu. Setidaknya, Chacha memutuskan untuk memastikannya dengan latihan kali ini. "Jangan bertanya. Ayo, kita mulai."
Chacha memasang kuda-kuda, lalu segera maju menghadangnya. Suzu dengan panik menghindar, Chacha sudah menduga itu. Ketika serangan Chacha meleset, ia langsung berbalik dan menyerang lawannya, Suzu yang masih tak bisa berkonsentrasi tak sengaja menjatuhkan pedang kayunya ketika pedang bambu mereka beradu.
"Ah, maafkan saya, Chacha-sama. Aku tidak bermaksud―"
"Cukup sampai disini saja. Akhir-akhir ini kau terlihat sangat lelah. Kau harus beristirahat cukup sampai kau benar-benar pulih. Dengan begitu, kita bisa berlatih lagi seperti biasa."
Suzu mengerjapkan matanya, ia merasa bersalah karena telah membuat Chacha khawatir. Namun sebagian dari dirinya juga senang, karena ia terkadang memperlihatkan sisi baiknya.
"Terima kasih banyak atas perhatian Anda, Chacha-sama."
Chacha mengalihkan mata ketika Suzu tersenyum padanya, ia tak menjawab, tangannya kembali membelai rambutnya.
Hingga sekarang, Suzu tak pernah tahu apa yang membuat Chacha ingin berlatih pedang. Takut bahwa jika ia menanyakan alasan itu, Chacha akan menyangka bahwa ia pasti keberatan dengan keinginannya. "Um... maaf atas kelancanganku, tapi, apakah saya boleh tahu mengapa Chacha-sama ingin sekali berlatih pedang?"
"Bukankah sudah kubilang? Aku ingin tumbuh menjadi kuat― bukan, aku harus tumbuh lebih kuat." Matanya masih tak mau bertemu dengan netra merah Suzu.
Suzu sudah sering mendapat jawaban itu, namun itu sama sekali tak membuatnya puas oleh jawabannya. "...demi apa?"
Chacha akhirnya menatap Suzu, namun sorot matanya yang terlihat lebih dingin dari biasanya membuat Suzu ingin menarik pertanyaannya kembali. "Apa aku harus menjawabnya? Bukankah itu sudah jelas?"
Gadis bersurai perak itu terdiam sejenak, ia menjalin kedua tangannya dan tak berani menatap Chacha. "Apa karena... perang?"
Chacha menghela napas, lalu menaruh pedang bambunya lalu pergi. "...entah benar atau tidak, kita memiliki persamaan. Kita sama-sama kehilangan orang yang berharga akibat kekonyolan negeri ini," gumam Chacha tanpa menoleh pada perempuan lawan bicaranya.
"...?" Suzu yang tak dapat mendengar suaranya yang tiba-tiba mengecil, tak berani meminta Chacha untuk mengulang perkataannya.
"Suzu, bisakah kau pergi menemani adikku berjalan-jalan ke luar istana?" ucapnya sambil menggeser pintu shoji lalu meninggalkan Suzu sendirian.
-XXX-
Menuruti perintah Chacha, Suzu pergi mengawal dua bersaudari, adik dari Chacha yang juga diikuti dengan Natsuko. Suzu berjalan di belakang dua saudari tersebut, sepasang matanya separuh terbuka, pikirannya menerawang jauh.
Sejak ia masih kecil, hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang dunia luar, takdir telah menimpa dirinya untuk menyaksikan pemandangan bak neraka. Orang-orang mati, terbakar, bahkan dipenggal, ia sudah melihat semua itu.
Terutama pada saat di Kiyosu, itu selalu mengingatkannya pada saat Suzu pertama kalinya menebas musuh pada saat ia masih kecil. Rasa bersalah menyelimuti hati gadis itu dengan sekejap. Hingga sekarang pikirannya tak pernah luput― terus memutar ketika tiga nyawa yang melayang pada malam itu. Tidak, lebih dari itu. Orang yang paling berharga di hidupnya juga telah meninggalkannya, membuat Suzu merasa sangat lemah dan berdosa.
Suzu menggeleng pelan.
Tidak, manusia memang dipenuhi dosa, tak sempurna. Semua yang telah lewat takkan bisa ia perbaiki. Meski mereka semua telah tiada, mereka yang telah menyinggahi jalannya, Suzu selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa mereka semua tetap ada di hatinya. Terkadang ia juga bersyukur bahwa kedua orang tua, bibinya serta Nagamasa dan Oichi sudah tak lagi harus merasakan penderitaan lebih jauh di dunia ini, mendoakan mereka berada di tempat yang lebih baik. Namun terkadang ia juga merasa bersalah memikirkan itu.
Selain itu, masih ada yang bisa dan ingin ia lindungi.
"Suzu, kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat lelah." Seorang gadis belia bersurai coklat panjang memandang Suzu dengan wajah khawatir.
"...tidak, aku baik-baik saja, Ohatsu-sama." Suzu tersenyum simpul pada putri kedua Azai tersebut.
Sejak kepulangannya dari Kiyosu untuk melacak keberadaan bawahan Nobukatsu. Ia pulang pada pagi hari, apalagi Suzu tak sempat tidur untuk mengurangi kelelahannya. Bahkan Takatora sampai menunggu kepulangannya di luar istana Osaka.
"Wajahmu pucat, lho. Ah, jangan-jangan Suzu-chan sudah hamil, ya?"
"Buh―!" Pertanyaan Natsuko langsung membuat jantung Suzu seolah-olah tertusuk oleh pertanyaannya― kaget bukan main. Wajahnya memanas, berkatnya, Suzu kesulitan berbicara. "N-N-Natsuko! Kenapa kau berkata begitu!?"
"Eh? Salah, ya? Habisnya Onii-chan bilang kalau seorang wanita sudah menikah, dia pasti tiba-tiba sakit..." Natsuko menaruh telunjuknya di pipi dan berpikir keras.
"...Aki-san," geram Suzu dalam diam.
"He? Benarkah? Tapi Oeyo tidak pernah sakit keras sejak menikah. Ya 'kan. Oeyo?" Ohatsu mengalihkan pandangannya ke adik bungsunya.
"Ya! Aku selalu sehat!" sahut Oeyo tersenyum cerah dan melompat kegirangan.
"Err, yah, senang mendengar kalau Oeyo-sama baik-baik saja tapi..." Suzu mengurut dahi sembari menghela napas dengan berat. "...bagaimana caranya aku bisa menghindari pertanyaan mereka?" gumamnya sambil tertawa getir, menertawai dirinya sendiri.
"Suzu benar-benar sakit, ya?" tanya Oeyo menarik kimono Suzu dengan cemas.
"Tidak apa, tidak apa kok, Oeyo-sama."
"Eh, Suzu-chan. Apa kamu tahu bagaimana cara memiliki anak?"
"N-Natsukooo! Jangan tanyakan itu padaku! Itu memalukan!" jerit Suzu langsung menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan menggeleng kencang.
"S-Suzu-chan!? Kau kenapa!?"
"Suzu, tenanglah!"
Pertanyaan Natsuko membuat Suzu tak bisa berhenti memikirkan malam pertamanya. Ingatan itu tak bisa terhapus dari dalam kepalanya. Bagaimana tidak? Malam itu mereka gagal melakukan hal yang suami-istri lakukan. Ia ketakutan dan panik pada saat yang sama. Bahkan sejak Takatora mengetahui terdapat bekas luka pada punggungnya, ia selalu mengira Takatora akan merasa muak dan jijik padanya. Bahkan sempat terjadi kesalahpahaman kalau Takatora mengira Suzu ingin tidur berpisah kamar. Tapi suaminya sudah mengatakan kalau dia akan menunggu sampai Suzu benar-benar siap.
Sebenarnya dia merasa menyesal karena telah memutuskan momen berharga hanya untuk mereka berdua. Padahal di saat itu mereka bisa lebih dekat dari biasanya, bisa saling terhubung mengekspresikan, dan mengutarakan perasaan mereka berdua. Namun ia tak menyangka bahwa mereka harus―
"Aku pasti bermimpi! Ini mimpi!" jerit Suzu sambil menggeleng kencang.
"Apa yang kau bicarakan, Suzu?" Ohatsu hanya bisa menatap heran Suzu yang berbicara sendirian.
Memikirkan bahwa dirinya sudah menjadi istri dari Takatora. Pria yang selalu ia kagumi saat ia masih kanak-kanak. Kekaguman tumbuh menjadi cinta. Suzu pun tak menyangka bahwa ia mampu mengutarakan perasaannya bahkan memiliki perasaan yang sama dengan Takatora.
"Suzu-chan! Beritahu aku, dong! Kamu ha-"
Suzu langsung menutup mulut Natsuko dengan telapak tangannya. "...Natsuko. Beritahu kakakmu bahwa dia harus belajar lebih hati-hati untuk mengajari sang adik. Jika tidak, nyawa kakakmu akan terancam. Ya?" ucap Suzu sambil menggertakkan jemarinya, memberikan senyuman yang tidak mengenakkan bagi Natsuko.
"Eh...?" Natsuko memiringkan kepala dengan bingung.
-XXX-
"...s-sepertinya ada seseorang yang baru saja ingin mengancamku." Aki yang ditemani oleh Takatora tiba-tiba merasakan keringat dingin menetes dari pelipisnya.
"Hah?" Takatora hanya menaikkan alis,
"Ah, tidak." Aki langsung melupakan firasat buruknya.
"Lalu? Bisakah kau memberitahuku alasan kenapa kau mengundangku untuk memakan tofu teriyaki? Kau memiliki selera yang aneh..." ucap Takatora setelah selesai menghabiskan makanannya dan meminum air.
Keringat menurun dari pelipis Aki. "Yah, malahan aku yang heran mengapa pria dingin seperti Takatora-dono menyukai makanan manis seperti manju. Lalu, makanmu cepat juga, ya..."
Takatora langsung menekan tangan Aki yang beristirahat diatas meja dengan sumpit sekeras mungkin.
"SAKIT!" jerit Aki sambil mengusap punggung tangannya yang kesakitan. "Apa yang kau lakukan. Takatora-dono!?"
"Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya." Takatora melipat tangan dan memasang wajah datar.
"Lalu kenapa kau menusuk tanganku dengan sumpit!?" balas Aki histeris.
"Jadi? Apa alasanmu mengundangku?"
Aki menghela napas lalu tersenyum lebar dengan bangga, menaikkan sebelah kakinya di atas meja dan memegang piring tofu teriyaki.
"Oi, dimana sopan santunmu..."
"Haha! Bahkan Takatora-dono sendiri tak dapat mengungkapkan bagaimana kelezatan dari tofu teriyaki! Benar! Aku mengundangmu karena aku ingin kau mencicipi kenikmatan makanan yang luar biasa ini!"
Takatora melirik kearah pemilik kios makanan yang tersenyum malu mendengar pujian dari Aki. "Ho..." komentar Takatora singkat. "Biar kuperjelas, Kimura Aki. Cerita ini bukan bertemakan tentang mencicipi makanan atau sejenisnya―"
"Apa yang baru saja kau katakan, Takatora-dono!? Aku sudah tahu itu dari awal tapi yang barusan kau ucapkan itu dilarang!" potong Aki histeris. "Jadi!? Bagaimana rasanya, Takatora-dono? Enak sekali, bukan!?"
"..." Takatora hanya bisa memutar bola matanya ketika menatap pria paruh baya pemilik kios yang masih malu-malu. Takatora mendengus. "...ya, enak," jawabnya dengan masih dengan ekspresi wajah minim sambil mengalihkan pandangan.
"Kenapa jedanya lama sekali!? Kau berbohong, ya, 'kan!? Terus kenapa kau mengalihkan matamu!? Kau meremehkan tofu teriyaki, ya!?" bentak Aki lagi.
"Hah? Mengapa aku harus berbohong?" Takatora menaikkan sebelah alisnya.
Aki terbungkam, ia kembali duduk sambil menggaruk kepalanya dan menenangkan diri setelah meneguk air. "Yah, alasanku sebenarnya mengundangmu karena... yah, seperti yang Takatora-dono ketahui. Aku akan pergi ke Hiketa untuk melakukan negosiasi pada Moto― Chosokabe. Aku sudah memberitahu Natsuko tentang ini. Aku harap aku bisa menitipkan adikku padamu dan Suzu-dono untuk sementara. Setelah pembangunan istana Osaka selesai dan Natsuko perlahan sudah bisa mandiri. Sekarang aku bisa berangkat tanpa mencemaskan apapun." Aki tertawa pelan. "Dan termasuk mentraktirmu tofu teriyaki!" lanjutnya sambil tersenyum bangga.
"Kau yakin? Bukankah kau ingin mengincar Honda Tadakatsu untuk meningkatkan kemampuan bertarungmu?" Takatora bangkit dari duduknya. "...kurasa percuma saja aku mengatakan itu."
Aki mengerti bahwa Takatora sama sekali tak ada niat untuk mencegahnya. "Yah, itu memang benar. Tapi ada sesuatu yang harus kulakukan disana."
"Begitu ya. Aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan disana selain bernegosiasi, tapi berhati-hatilah," ucap Takatora mengeluarkan kantong kecil dari jubah birunya lalu membayarnya pada pria paruh baya pemilik kios. "Berapa yang harus kubayar?"
"Tunggu, tunggu! Apa yang kau lakukan, Takatora-dono!? Seharusnya aku yang mentraktirmu! Lagipula aku yang mengajakmu untuk memakan tofu teriyaki bersamaku!"
Takatora menghela napas dan menyimpan kembali uang koinnya. "Baiklah, terima kasih. Kalau begitu aku harus pergi dulu. Semoga beruntung." Pria itu langsung keluar dari kios makanan meninggalkan Aki.
"Nah lho? Kenapa kau terburu-buru?" seru Aki sambil membungkus bekal tofu teriyaki-nya dengan furoshiki.
-XXX-
Aki menunggangi kudanya, memulai perjalanannya kearah barat. Ia memasang jubahnya lebih erat agar tidak kedinginan. "Ugh, kalau cuacanya sedingin ini rasanya tidak mungkin aku akan datang tepat pada waktunya. Yang penting aku harus bergegas."
Aki mengerjapkan mata ketika pandangannya menangkap sosok dua orang yang ia kenal. Menunggangi kuda mereka menuju istana Osaka. "Mereka 'kan..." Aki mengarahkan kudanya berjalan kearah dua orang itu. "Ternyata kalian yang dikirim sebagai perwakilan Mouri?"
Pria yang merupakan lawan bicara Aki mengerjapkan matanya kebingungan. "Oh, kau rupanya, Kimura Aki."
"Eh? Siapa dia, Naga-san?" bisik seorang perempuan di sebelahnya.
"Sebelumnya kita berada di pihak yang berbeda, tapi tak pernah terlintas di pikiranku kita akan menjadi rekan. Kalau tidak salah... kita pernah bertemu di Kizugawa..."
Aki mengangguk. "Ya, itu pertama kalinya kita pertama kali bertemu, Nagachika-dono. Oh, dan juga... Apa kabar Shinhana-dono." Aki menundukkan kepala.
Perempuan yang dipanggil Shinhana itu tersenyum tipis dan mengangguk. "Sepertinya kau akan pergi ke suatu tempat," tanya Hana.
"Oh, sebenarnya aku menjadi relawan untuk berangkat menuju Shikoku untuk bernegosiasi. Sebetulnya aku juga berharap dapat bertempur bersama kalian." Lalu Aki mengambil bekalnya yang telah dibungkus dengan furoshiki. "Silakan sekedarnya, aku ingin Nagachika-dono serta Shinhana-dono untuk memakannya sebelum dingin. Itu makanan favoritku, tofu teriyaki!"
Hana menerima bekal tersebut, "Oh, ya, terima kasih banyak!"
"Err... bukankah itu seharusnya untuk bekalmu?" tanya Nagachika merasa segan menerimanya.
"Jangan khawatir, tak masalah!" Aki menggoyang kedua tangannya. "Kalau begitu, aku pamit. Aku harus tiba di Hiketa secepatnya. Nah, permisi." Kemudian Aki bertolak meninggalkan dua sejoli itu.
"...tofu teriyaki? Wah, Naga-san, sepertinya makanan ini terlihat enak."
Nagachika mengangguk. "Kalau begitu kita akan istirahat sejenak sebelum menemui Hideyoshi."
Mereka turun dari kuda, mengikat talinya di dahan pohon. Kebetulan mereka menemukan taman agar mereka bisa menikmati makanan pemberian Aki sambil beristirahat.
"Kalau dilihat dari sini, istana Osaka benar-benar besar, ya," ucap Hana takjub memandang istana tersebut. Nagachika ikut mengarahkan pandangannya sama dengan istrinya.
"Kau benar. Sepertinya mereka memiliki arsitektur yang berbakat."
Setelah mereka selesai menghabiskan bekal pemberian Aki. Mereka membuka ikatan tali kuda pada dahan pohon. Sementara itu seorang gadis bertudung merah gelap menghampiri mereka.
"Um, permisi. Maaf telah menganggu, Tuan dan Nona. Apakah Anda utusan perwakilan dari klan Mouri?"
Hana berbalik, "Oh, ya, benar."
Senyuman simpul menghiasi wajahnya. "Kami telah menunggu kedatangan Anda. Jika berkenan, saya akan mengantarkan Anda sekalian menuju istana. Ah, saya hampir lupa untuk memperkenalkan diri. Namaku Shira― m-maksudku Tōdō Suzu. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Tuan dan Nona." Suzu membungkukkan badan. "Terima kasih banyak telah datang untuk memberikan waktu Anda sekalian demi Hideyoshi-sama."
"Sama-sama. Namaku Nomi Nagachika. Dan dia adalah istriku, Hana."
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan salah satu keluarga Mouri."
Hana masih tak melepas pandangannya dari Suzu. Meski kepalanya telah tertutup dengan tudung kepala, ia dapat melihat beberapa helaian surai perak serta netra merahnya. Penampilannya terlihat sedikit aneh karena jarang penduduk di sekitar sini mengenakan tudung kepala. "...seperti kelinci putih," gumam Hana.
"Apanya?" Nagachika menaikkan alis.
Hana langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan dan menggoyang tangannya. "Ah, maaf. Aku sudah mengatakan hal yang aneh. Mohon lupakan saja."
"..." Suzu hanya bisa menaikkan alis lalu tertawa kecil. "Tidak masalah, Hana-dono. Aku sudah terbiasa dianggap demikian."
"Terbiasa?"
"Ah, anu... sebaiknya kita segera menuju istana, Nagachika-dono, Hana-dono."
"Oh, iya. Baiklah. Ngomong-ngomong namaku adalah Shinhana."
"E-Eh!? Astaga, maaf atas ketidaksopananku, Shinhana-dono! Saya―"
Hana tertawa pelan, terhibur ketika menyadari bahwa Suzu begitu mudah panik dan mudah dijahili. "Aku bergurau. Panggil saja 'Hana', tidak masalah kok, Suzu."
"Kalau begitu... aku tetap memanggil nona dengan 'Hana-dono' saja..." ucap Suzu menurunkan kepalanya, merasa malu karena kesulitan mengatasi rasa paniknya.
-XXX-
Takatora berjalan mengelilingi kota sembari memandang sekitar. Terdapat banyak toko yang berdiri di sana, pandai besi, pakaian, tekstil, buku dan sebagainya. Namun ia sama sekali tidak tahu toko mana yang harus ia kunjungi.
"Apa yang harus kuberikan padanya..." gumam Takatora sambil mengurut dagu.
"Kau tidak tahu bagaimana cara membuat seorang wanita senang?" Entah darimana seorang pria berkerah tinggi yang menutupi separuh wajahnya muncul dari belakang Takatora.
"Na―!?" Takatora langsung menoleh ke belakang. "Kau rupanya. Dasar, tidak bisakah kau mengubah kebiasaanmu membuat orang lain terkejut?"
"Daripada itu, kau ingin memberikan sesuatu pada istrimu, bukan? Kau ingin mendengar saran dariku?"
"Dengar, aku tidak akan memberinya wortel, Yoshitsugu. Dia bukan peliharaanku," ujar Takatora mengernyitkan sebelah alisnya, merasa sedikit jengkel akan kebiasaan teman lamanya yang selalu bergurau. "Kalau kau ingin menertawakanku, tertawalah sepuasmu. Aku akui, hal seperti ini memang kelemahanku."
"Karena itu, aku sarankan kau memberinya seikat wortel."
"Dasar bodoh! Sudah kubilng tidak! Sebenarnya apa yang kau lakukan disini? Mengejekku!?"
"Kurang lebih, ya."
"Kau ini..." geram Takatora sambil mengurut kening.
"Ah, apa yang kau lakukan disini, Takatora-sama? Yoshitsugu-san juga."
"Na―!?" Takatora terkejut untuk kedua kalinya, ia kembali menoleh ke belakang. "Suzu? Kukira kau berada di istana." Lalu menyadari Suzu tengah diikuti oleh dua orang asing, Takatora langsung bertanya. "Siapa mereka?"
"Ah, mereka utusan dari klan Mouri. Nomi Nagachika-dono dan istrinya, Shinhana-dono. Aku akan mengantarkan mereka menghadap Hideyoshi-sama."
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda." Dua sejoli itu langsung memberi hormat pada mereka.
"Oh? Perwakilan dari Mouri rupanya. Kau terlihat lebih sibuk dari biasanya, ya, Nyonya Tōdō."
"Y-Yoshitsugu-san..." Suzu tertunduk malu ketika pria bermanik abu-abu menyebut nama belakangnya sebagai istri dari Takatora. Bola matanya menatap sekilas suaminya dengan ragu.
"Apa? Kau tidak menyukai sebutan itu?" tanya Yoshitsugu.
"Abaikan saja dia. Lebih baik kau antarkan mereka pada Hideyoshi," ucap Takatora yang masih merasa kesal.
Yoshitsugu terkekeh pelan. "Telingaku sakit sekali mendengarnya, Takatora."
"Ah, iya. Kalau begitu permisi." Suzu membungkukkan badan lalu segera pergi menuju istana Osaka, diikuti oleh Nagachika dan Hana di belakangnya.
Takatora menghela napas. "Dia masih saja memaksakan diri," gumamnya masih menatap Suzu dari kejauhan.
"Dia sama sekali tak berubah, ya," sahut Yoshitsugu setelah terkekeh.
Takatora mengusap tengkuk. "Begitulah..." Ia pun bertolak pergi meninggalkan Yoshitsugu.
"Takatora," Pria itu membalikkan badan ketika namanya dipanggil. "Jangan lupa wortelnya."
"Berisik, bodoh!"
-XXX-
Malam pun datang, langit masih belum berhenti menurunkan butiran salju. Keheningan yang menyambut dinginnya malam membuat Takatora ingin cepat kembali pulang. Dan tidak beruntungnya, ia tak membawa apapun untuk memberikan oleh-oleh pada Suzu. Ia tahu Suzu akan senang diberikan hadiah apapun, malah itu membuat Takatora tak bisa memilih apa yang harus ia berikan.
Ditambah ia telah ditugaskan untuk memeriksa beberapa bagian istana Osaka. Meskipun memiliki kelebihan hanya pada ketinggian dan besarnya. Takatora telah menemukan beberapa titik kelemahan pada istana Osaka, dimana istana tersebut memiliki pertahanan yang masih belum cukup. Maka dari itu, ia berencana untuk menambahkan atau mungkin mengubah beberapa bagian istana Osaka agar dapat meningkatkan pertahanan.
Meski awalnya ia berniat demikian, Takatora tak menemukan Suzu di kamar. Sebelumnya ia berharap Suzu langsung istirahat setelah mengantarkan utusan dari klan Mouri, namun dikarenakan kesibukan Takatora ia tak sempat memperhatikan keadaan istrinya.
Jika ia tak berada di kamar, hanya satu tempat yang biasanya ia kunjungi, taman. Beruntung jaraknya tak jauh, Takatora langsung menemukannya disana.
"Suzu, apa yang kau―"
Takatora berhenti berbicara ketika ia memandang Suzu yang tengah berdiri di atas jembatan kecil dimana terdapat kolam ikan di bawahnya. Kepalanya menunduk ke bawah bukan menunjukkan kalau ia sedang memerhatikan ikan-ikan, kedua tangannya tengah memegang sebuah buku. Takatora dapat melihat bibir merah jambunya bergerak.
"'Kelinci yang malang, saya akan memberikan bantuan. Lakukanlah sesuai dengan apa yang saya katakan. Pertama-tama, basuhlan dengan baik badanmu dengan menggunakan air sungai. Kemudian, ambilah bunga Gama yang banyak kemudian letakkanlah di permukaan tanah. Lalu, berbaringlah sebentar di atasnya. Ketika kelinci melakukan hal itu, rasa sakit di badannya menghilang, dan bulu kelinci yang putih kembali seperti sebelumnya.'"
Mengapa ia membaca dongeng Inaba no Shirousagi pada saat seperti ini? Ia bahkan tak membawa lentera dan haori yang lebih hangat. Meski begitu, Takatora lebih memilih untuk bersabar sampai Suzu menyadari keberadaannya.
"'Kelinci berkata kepada Okuninushi, 'Terima kasih, kamu adalah orang yang sangat baik. Yagami-hime tidak akan menikah dengan kakak-kakak laki-laki Anda, tetapi pasti akan menikah dengan Anda, Okuninushi. Sesuai dengan apa yang dikatakan Kelinci, akhirnya, Okuninushi benar-benar menikah dengan Yagami-hime. '"
Ketika mendengar suara langkah kaki yang perlahan terdengar dekat. Suzu langsung menutup bukunya dengan panik dan menoleh. "Ah, T-Takatora-sama... Sejak kapan Tuan ada disana?"
"Baru saja," jawabnya singkat sambil berjalan menghampirinya. "Ternyata kau masih membaca dongeng itu?"
Suzu mengangguk pelan dengan tersipu. "Apa aku terlihat aneh? Sampai sekarang aku masih membaca dongeng anak-anak..."
"Tidak ada yang aneh. Bukankah itu hobimu?"
"...Tapi rasanya memalukan, apalagi Tuan mendengarku membaca dongengnya dengan suara keras. Padahal aku sudah memastikan tidak ada orang yang bisa mendengarku jika aku membacanya di taman pada malam hari."
"Memang tidak akan ada orang yang datang ke taman pada malam hari. Tapi aku menemukanmu sampai disini karena kau tidak berada di kamar. Kukira kau pergi keluar untuk memandang bulan penuh."
"Itu juga benar. Karena sudah lama aku tidak membaca buku, jadi aku datang kesini sambil memandang bulan," jelasnya sebelum tertawa canggung.
"Sekaligus?"
"Um." Suzu mengangguk. "Er... tidak boleh, ya?"
"Aku tidak pernah mengatakan itu. Jika kau ingin membaca diluar sebaiknya kau membawa lantera dan memakai pakaian hangat. Bahkan kau bisa saja tertidur diluar. Kau akan kedinginan," ujar Takatora sembari membalutkan haori pada bahu Suzu.
"Ah, terima kasih banyak, Takatora-sama."
"Sekarang kau mengganti cara memanggilku, hm?"
Suzu mengangguk lagi. "Habisnya Tuan sekarang sudah menjadi... suamiku. Jadi, makanya aku..."
"Begitu 'kah. Yah, aku sama sekali tidak keberatan."
Suzu tersenyum senang ketika Takatora memperbolehkannya.
"Anu... Takatora-sama."
"Hm?"
"Kalau Takatora-sama adalah Okuninushi dalam dongeng Inaba no Shirousagi. Sedangkan aku tetap Shirousagi. Siapa yang menjadi Yagami-hime?"
"Yagami? Ah, kalau tidak salah dia adalah istri Okuninushi―" Takatora berhenti sejenak, menyadari apa alasan Suzu memberi pertanyaan itu. "Suzu, jangan katakan padaku kalau kau berpikir kau bukan istriku hanya karena peran dalam dongeng itu?"
"Eh...? B-Bukan kok! Bukan... aku hanya..."
Takatora menghela napas. "Suzu, dengar. Dongeng tetaplah dongeng. Itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan hubungan kita. Kau tetaplah istriku. Kita memiliki kisah kita sendiri tanpa harus memandang kisah dongeng itu. Kau tidak perlu kecewa." Takatora mengambil buku itu dari tangan Suzu.
Suzu mengurung niatnya untuk merebut kembali buku dongeng tersebut. "Aku adalah aku, kau adalah kau. Paham?" Takatora menurunkan kepala, mendekatkan wajahnya di depan Suzu. Semu rona merah yang menghiasi wajah cantiknya membuat Takatora ingin meraih wajahnya.
"Y-Ya, Takatora-sama..." Suzu mengangguk pelan.
"Bagus." Takatora memberikan kecupan singkat pada ubun-ubun kepalanya, membuat istrinya semakin tersipu. "Sebaiknya kau harus istirahat. Kau tak sempat istirahat sejak kemarin, bukan?"
"Baik..." Takatora menggandeng tangan Suzu, mengiringnya masuk ke dalam kamar.
-XXX-
"Apa ada yang gatal?" ucap Suzu bergurau sembari membersihkan rambut Takatora. Takatora hanya terkekeh pelan. Sudah lama sekali mereka jarang saling membantu untuk membasuh diri. Dibandingkan dengan kesibukan Takatora yang lebih berat dari Suzu membuatnya hampir tak sempat menghabiskan waktu bersama.
"Tapi tetap saja, aku tidak tahu Chacha-sama sampai menyuruhmu untuk mengajarinya berlatih."
"Um. Beliau selalu bilang kalau dia ingin menjadi lebih kuat. Apa mungkin itu menyangkut Nagamasa-sama dan Oichi-sama?"
"...Bisa jadi." Menyadari bahwa Takatora tak lagi memandang ke belakang dari nada suaranya, Suzu tersenyum tipis.
Setelah membasuh rambut suaminya, lalu Takatora berganti membantu Suzu. Ketika memandang punggung istrinya, tatapannya tak terlepas dari bekas luka yang tak akan pernah bisa hilang mengalihkan pandangannya ketika ia melepas sanggulan rambut Suzu. Suzu yang menyadarinya berniat untuk menukar pembicaraan. "Anu, Tuan... apakah aku terlihat menjijikkan―"
Tanpa basa basi, Takatora langsung menyiram Suzu dari atas kepalanya. Sang istri tersentak kaget seketika. "Hwah!? T-Takatora-sama!?"
"Barusan kau bilang apa?"
Suzu langsung menoleh, merasakan atmosfer di sekitarnya berubah mencekam. "E-Eh? Ah, bukan apa-apa―"
"Bodoh! Jangan berbohong, siapa yang berkata seperti itu padamu?" Takatora menarik hidung istrinya.
"B-Bukan siapa-siapa...! Maafkan aku...!" rengek Suzu sambil berusaha melepas tangan Takatora. Pria bernetra biru itu melepas tangannya dengan pelan lalu meraih wajah istrinya.
"Memang benar luka itu tak pernah hilang. Terkadang aku tak bisa berhenti mengingat saat itu. Aku bisa mengerti kau tak bisa melupakannya."
"Um! Aku juga!" Suzu mengangguk kencang.
"Hah? Apanya?" Takatora menaikkan alisnya, sama sekali tak menduga Suzu akan mengiyakan perkataannya.
"Takatora-sama bahkan memiliki luka lebih banyak!" Suzu menuding tubuh Takatora yang penuh bekas luka sayat dan tembak di sekujur tubuhnya. "Disini, disini, lalu sebelah sini dan juga yang ini dan―"
Takatora mengernyitkan sebelah alisnya, lalu menurunkan tangan Suzu. "Baik, cukup. Kau tak perlu menunjuk semuanya." Tangan kekar pria itu berpindah, menggerakkan jemarinya untuk menjalinkannya dengan tangan mungil Suzu. "Suzu, luka yang kudapat ini berbeda denganmu. Aku sama sekali tidak menyesal mendapatkan luka terhormat, itu sudah wajar menjadi seorang pendekar. Kapan dan dimana aku mendapatkan semua luka ini, aku tidak terlalu mengingatnya."
Gadis bernetra merah itu hanya bisa mendengarkannya, manik indahnya yang berkilauan menemui biji mata biru milik Takatora. "Sedangkan luka kau yang dapat, membekas sampai pada hatimu. Dan bahkan itu selalu membuatku merasa menyakitkan ketika melihatnya. Tetapi semua yang telah lewat telah membawa kita kembali bersatu. Luka yang berdarah yang ikut melukai hatimu, aku ingin mengubahnya menjadi kekuatanku... agar aku dapat melindungimu dan takkan pernah melepasmu."
Semu rona merah kembali menghiasi wajahnya. Dirinya mulai kesulitan berbicara. Suzu hanya bisa menjawabnya dengan mengeratkan genggaman pada tangan kekarnya. Itu sudah cukup membuat Takatora mengerti. Suzu, juga tak menyesali apapun.
Setelah itu, mereka mengenakan kimono putih berlapis tiga. Mengingat udara masih terlalu dingin, Takatora mendekap tubuh mungil Suzu agar dapat berbagi kehangatan. Suzu hanya bisa terpaku malu menyadari jarak mereka begitu dekat. Nafas hangatnya menggelitik kepalanya, tangan kekarnya membelai surai perak Suzu dengan lembut, sedangkan tangannya yang bebas melingkar di sekitar pinggangnya.
"Kau masih takut...?"
"Eh?" Suzu menengadahkan kepala untuk menatap suaminya. Sadar mereka saling bertatapan terlalu lama, Suzu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Takatora. Ia mulai mengerti pertanyaan Takatora yang mengarah pada pembicaraan Suzu dengan Natsuko dan dua adik Chacha tadi siang. "...anu, apa aku boleh menggenggam tangan Tuan?"
"Tentu." Takatora menjalin tangan kecil Suzu, jarak pada jemarinya sangat pas dengan tangan Takatora.
Suzu tersenyum hangat. Kini ia sudah mengerti. Ketakutan yang ia rasakan sebelumnya, ia merasa bahwa ia takut bukan karena tak bisa mempercayai suaminya. Dulu hingga sekarang ia selalu menyukai setiap sentuhan yang ia rasakan, belaian pada rambutnya, saling menggenggam tangan, menyentuh wajahnya.
Semuanya, bagaimana cara Takatora memandang dan menyentuhnya. Semua itu diberikan hanya pada dirinya seorang. Hal sekecil itu membuatnya merasa istimewa lebih dari apapun. Ia merasa sangat bahagia sehingga dapat meneteskan air mata kebahagiaan.
Akan tetapi hal yang membuatnya ragu adalah; "Apakah tidak apa kalau aku menerimanya?"
"Bicara apa kau? Bukankah kau sendiri juga menerimaku?" Takatora tersenyum hangat. Pria itu mengubah posisinya di atas tubuh Suzu, tangan mereka masih terjalin. Suzu memejamkan matanya ketika jarak wajah mereka perlahan berkurang. Takatora menyelitkan anak rambut Suzu ke belakang telinganya, lalu memberikan kecupan pada kening lalu turun menuju kelopak matanya. Kemudian terakhir pada bibir merah jambunya. Detak jantung gadis itu amat kencang, meski ia belum sepenuhnya tahu apa yang akan dilakukan Takatora terhadapnya, hanya perlu bergerak tenang mengikuti arus.
Ia mempercayainya, karena semua yang ia dapat darinya selama ini adalah kebahagiaannya.
-XXX-
-xxx-
-XXX-
A/N : Oke, sebenarnya saya perhatikan baik-baik soal timeline kali ini. Sebenarnya Tsugawa Yoshifuyu, Okada Shigetaka dan Azai Nagatoki, seharusnya mereka meninggal pada pertengahan April, yang artinya mereka mati dieksekusi di musim semi, bukan musim dingin. Selain itu Perang Komaki-Nagakuteterjadi di bulan Maret. Jadi mereka bertiga mati ditengah waktu perang itu. Karena susah menyusun plot yah saya jadiin aja mereka mati bukan pada tanggal yang sebenarnya. Welp, biarin aja lah. No problem kan? *plak-no*
Lalu soal OC baru yang muncul kali ini adalah Nagachika dan Hana! Kalau ada beberapa kesalahan pada penggambaran personality dsb, mohon kasih tau ya author Hayashinkage17~
Gak nyadar chapter kali ini udah 5k lebih wkwkwk. Oke, seperti biasa terima kasih sudah membaca dan mohon berikan review!
