A/ N : Langsung saja balas review!

-RosyMiranto18

Suzu : *sigh* Ma ii deshou, shikatanai...

Scarlet : Waduh, malah pake sub jepang. *tekan tombol off remote* Liat gundam jadi pengen bikin remote lagi supaya anakku bisa ngomong dub jepang.

Blossom : Ngawur lu, Let. *sweatdrop* Huhuhu, sebenarnya pengen dipercepat post fic ehem ehem. Tapi bagusnya post di ffn atau di situs lain aja gak ya?

Scarlet : Kalau bikin di situs lain harus bikin akun baru, ngerepotin. Di ffn ajalah. Huehuehue~ *nosebleed*

Takatora : Kalian masih saja... *sigh* Itu tak pantas dibicarakan bagi kalian yang masih belum dewasa dan peraw-

Scarlet : Hush! Diam lu mas bro! Terus terang amat sih lu! Yosha! Terima kasih atas review-nya!

-Hayashinkage17

Blossom : Nah, haha, kami masih belum seberapa kok. Tapi syukurlah kalau personality-nya udah pas. Hehe.

Takatora : *sweatdrop* ...sebaiknya pembicaraan tentang *batuk* ini, kita hentikan. Lebih baik dibicarakan dengan istrimu saja, Nomi Nagachika.

Suzu : *awkward laugh* Memalukan sih ya...

Takatora : Bagimu, ya, memang memalukan. Tapi bukan itu. Anak mereka bisa saja mencaritahu tentang *batuk* tanpa sepengetahuan mereka. Sebagai orang tua, kalian harus-

Scarlet : Mau ceramah lu mas bro!? Gak perlu, makasih! *kabur lagi*

Takatora : *bekuin Scarlet* Yah, author idiot itu benar. Kurasa aku tidak perlu menjelaskan semua ini. Kalian sudah tahu apa yang harus kalian lakukan sebagai orang tua.

Suzu : *kasih air hangat ke Takatora* Takatora-sama dari tadi batuk. Silakan. *awkward smile*

Takatora : Hm. Baiklah, terima kasih atas review-nya.

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me, except Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Shinhana Kobayakawa and Nagachika Nomi belongs to Hayashinkage17.

Warning : Mainly OC x Todo Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?). DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XxX-

Bell of the White Hare

-XxX-

CHAPTER 12

The Maiden's Treasure

-XxX-

Spring, 1584

Nene meminum teh hijau hangat dalam satu tegukan, kemudian menghela napas. Melihat air mukanya yang tak terlihat puas, Suzu menundukkan kepalanya, merasa telah mengecewakan Nene yang telah susah payah mengajarinya menyuguhi teh.

Nene melirik kearah anak didiknya itu, menyadari raut wajahnya berubah murung. "Hm? Ada apa, Suzu-chan? Kamu sudah berusaha dengan baik! Tehnya enak sekali, lho. Kamu sudah tumbuh menjadi istri yang baik!"

"Benarkah, Onene-sama?" Suzu mengangkat kepalanya untuk menatap Nene.

"Benar! Kau pikir aku berbohong?"

Suzu menggeleng pelan. "Tidak kok, hanya saja tadi raut wajah Onene-sama terlihat... kecewa atau semacamnya..."

Nene menaikkan alis, lalu tertawa pelan. "Kau menyadarinya ya?" Lalu wanita bersurai coklat pendek itu kembali menghela napas setelah menaruh gelasnya diatas nampan. "Sebenarnya, Omae-sama tidak ingin aku pergi menemaninya ke Komaki nanti. Malahan, dia ingin Chacha untuk menemaninya."

Suzu mengerjapkan matanya ketika mendengar nama putri sulung dari Azai itu. Mengingat pemimpin Hashiba itu tak pernah bosan untuk menggoda wanita lain, Suzu hanya bisa beranggapan positif akan hal tersebut. "Tapi, mungkin saja Hideyoshi-sama ingin Onene-sama istirahat sejenak. Makanya beliau ingin Chacha-sama menggantikan Onene-sama... untuk sementara."

"Itu dia, Suzu-chan!" Nene mendekatkan wajahnya di depan Suzu, alisnya menyempit menandakan ia semakin kecewa pada suaminya.

"E-Eh? Maaf?" Suzu tersenyum canggung sambil menjarak dari Nene.

"Kamu sudah tahu sendiri 'kan, kalau Omae-sama itu tak pernah bosan menggoda wanita lain! Coba kau bayangkan, bagaimana rasanya kalau Suzu-chan berada di situasi yang sama sepertiku?" Wanita itu menaikkan telunjuknya di depan wajah anak didiknya.

"Situasi yang sama...?" Gadis bersurai perak itu memiringkan kepalanya kebingungan.

"Kamu belum mengerti? Baiklah, contohnya, bagaimana menurutmu kalau misalnya Takatora akan mengambil selir?"

Suzu mengerjapkan matanya lagi. Selir, artinya pria yang telah memiliki istri sah akan menikah lagi dengan wanita lain. Ia pernah mendengar kalau seorang selir mendapatkan peran lebih penting bagi suaminya. Namun Suzu sebenarnya tak memandang dari sana. "...Jika selir itu dapat membuat Takatora-sama bahagia dibandingkan aku. Aku tidak keberatan."

Nene terkelu seketika mendengar jawaban langsung dari anak didiknya tersebut. "Kau serius mengatakan itu, Suzu-chan?" Nene menaikkan alisnya.

"Eh... ah..." Suzu mulai kesulitan menjawab, ia tak berani menatap wanita itu. Dia merasa bodoh karena tak sengaja mengatakan itu pada Nene, tak sengaja membiarkan pikirannya mengambil alih pembicaraan.

Wanita itu melipat tangannya di depan dada sembari memandang Suzu heran. "Suzu-chan. Memang tak ada salahnya jika suamimu akan mengambil selir demi kepentingan penerus. Akan tetapi bagimu kau menganggapnya demi kebahagiaan suamimu. Tapi kamu harus mementingkan dirimu juga. Bukankah dulu sudah kubilang padamu kalau kamu harus hidup dari hasrat yang sungguh kau inginkan?"

Suzu hanya bisa mengangguk pelan, masih menundukkan kepala di hadapan Nene. Pikirannya mulai membayangkan bagaimana hal itu benar-benar terjadi. Selir yang dapat mendampingi Takatora kapanpun dan memberi kebahagiaan melebihi dari Suzu. Mungkin, ia akan ditinggalkan oleh Takatora.

Tangannya mulai meremas dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Hanya membayangkan hal itu sudah cukup membuat hatinya tersayat.

"Suzu-chan―?"

"Anu...! Onene-sama, izinkan aku pergi ke Owari! Sebagai anak didikmu, aku merasa masih belum cukup untuk membantu Hideyoshi-sama... lalu... um..." Manik coklatnya terarah ke tangan Suzu yang mencengkram roknya. Apakah ia menganggap serius perkataannya barusan atau tidak, Nene tidak tahu.

"Apa yang kau bicarakan, Suzu-chan? Kamu bukan lagi anak didik kami, sekarang kau adalah istri dari Takatora, bukan?"

Sepasang maniknya separuh terbuka. "Eh? Aku bukan lagi... t-tapi aku..." Suzu terdiam sejenak, setiap kali ia panik dan ketakutan, ia mulai sulit berbicara. "Apakah aku selama ini membebani Onene-sama dan Hideyoshi-sama? Makanya aku bukan lagi..."

Nene menggoyang kedua tangannya. "Bukan, bukan! Kamu salah paham! Maksudku sekarang kamu adalah istri Takatora, 'kan? Seharusnya kamu meminta izin padanya, bukan padaku lagi." Telapak tangannya mendarat diatas bahu Suzu. "Suzu-chan, meski kewajibanmu sebagai anak didik kami sudah terlepas. Kamu tetaplah keluarga kami, kok. Suzu-chan harus bertarung demi dirimu, bukan untukku dan Omae-sama lagi." Telapak wanita itu membelai kepala Suzu dengan lembut. "Paham?" Sebuah senyuman mengembang pada wajah anggun wanita itu.

Suzu ikut membalas senyumannya. "Terima kasih banyak, Onene-sama. Kalau Hideyoshi-sama dan Onene-sama tidak menyelamatkanku saat itu, aku pasti tidak akan pernah sebahagia ini. Padahal saat itu, aku sudah menyerah..."

Tangan wanita itu berpindah meraih kedua tangan Suzu, lalu menggeleng pelan kepalanya dan tersenyum lembut. "Tidak, Suzu-chan sama sekali tidak menyerah, kok."

Suzu menatap bingung pada istri dari Hideyoshi tersebut. Nene tak menjawab tatapan keingintahuan gadis di depannya. Senyuman yang mengembang pada wajahnya masih belum hilang.

Mungkin selama ini Suzu tidak sadar, namun Nene masih mengingatnya. Disaat istana Odani terbakar, Nene menemukan Suzu secara tak sengaja. Pasukan Hideyoshi yang tengah mengungsikan penghuni istana mendengar tangisan Suzu, kondisinya setengah sadar dan ia tak berhenti mengigau. Punggungnya terhimpit tiang kayu yang amat panas, darah tak mau berhenti mengalir, begitu pula isakan tangisnya yang pelan. Kalimat yang tak terlepas dari ingatan Nene saat itu adalah 'aku tetap ingin hidup,' meluncur dengan lemahnya lewat bibir gadis malang itu.

Manusia macam apa yang tak tega mengabaikan permintaan itu?

"Suzu-chan sama sekali tidak menyerah. Kamu masih memiliki keinginan untuk hidup. Tentu saja kami tak bisa mengabaikanmu, menolong sudah sepatutnya dilakukan. Ya, 'kan?"

Suzu tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. Ia ingat saat itu, Takatora juga berusaha untuk menolongnya, berteriak memanggil namanya, namun ia tak pernah sempat menyelamatkannya.

Tidak, Takatora tidak menyerah. Hingga kini ia tak pernah berniat untuk menyerah padanya. Meski ia tak dapat menyelamatkan Suzu pada saat itu, namun Suzu tak mempermasalahkannya. Sekarang hingga nanti, Takatora adalah pendamping hidup sematinya. Itu sudah lebih dari cukup baginya diberkati oleh pasangan hatinya.

-XXX-

Suzu pergi menemui suaminya yang tengah sibuk mengumpulkan prajurit. Disana ia juga menemukan Yoshitsugu bersamanya. Itu membuat Suzu sedikit heran, Yoshitsugu yang diangkat sebagai yoriki dari Mitsunari, jarang mendapatkan waktu berbincang dengan Takatora.

Sadar akan kedatangan Suzu, Takatora mengalihkan perhatiannya pada sang istri. Mereka saling berbalas senyuman, setelah itu Suzu membungkukkan badan.

"Sepertinya hari ini suasana hatimu sedang baik. Ada apa?"

Suzu menggeleng pelan. Ia tak bermaksud untuk menyembunyikan perbincangannya dengan Nene tadi. Namun ia hanya merasa tak masalah jika ia tak menceritakannya pada Takatora.

"Sebenarnya aku ingin meminta sesuatu pada Tuan," ucap Suzu sembari menjalin jemarinya. Ia merasa sedikit cemas akan jawaban Takatora nanti. Namun jika ia menolak, Suzu takkan protes.

"Apa aku boleh membantu Tuan ke Owari?"

Takatora sama sekali tidak terlihat terkejut akan permintaan Suzu. Ia hanya menaikkan alis lalu menjawab, "...tentu."

Jawaban langsung dari Takatora membuat Suzu tak percaya dan senang pada saat bersamaan. "Kukira Tuan akan menyuruhku tetap di istana."

"Awalnya, ya, memang, aku sangat khawatir. Tapi tak ada salahnya jika kita memastikan kalau kita bisa melewati arus kali ini."

Suzu tersenyum lebar, bersyukur berkat tak ada keraguan dari persetujuan suaminya. "Um! Semoga beruntung untuk kita berdua, ya." Takatora menjawab dengan anggukan kepala.

Pria berkerah tinggi yang berdiri di belakang Takatora menjernihkan tenggorokan. Suzu menutup mulutnya dengan sebelah tangan ketika ia hampir melupakan Yoshitsugu yang tengah mendengar mereka. "Ah, maksudku... kita bertiga. Eh, tidak, semuanya. Benar, 'kan...?" ucap Suzu sambil tertawa canggung, menatap Yoshitsugu yang merasa diabaikan.

"Sepertinya keberadaanku hampir dilupakan, ya."

"Aku tidak bermaksud begitu, kok! Tidak seperti biasanya Yoshitsugu-san berkata begitu," ucap Suzu heran sambil menggoyang tangannya. Namun jawaban yang diberikan Yoshitsugu padanya hanyalah membuang muka.

"Eh!? Yoshitsugu-san tidak mau memaafkanku!?"

"Aku bergurau," balas Yoshitsugu terkekeh sinis. Suzu menggembungkan sebelah pipinya, sedangkan Takatora hanya memasang tampang telah menduganya. "Padahal dulu kau tak ingin terlibat perang. Tapi sekarang malah sebaliknya, ya," lanjutnya sembari melirik kearah Takatora.

"Jangan menatapku seolah-olah aku yang bersalah, Yoshitsugu," gerutu Takatora mengernyitkan alisnya.

Pria bersurai hitam panjang itu mendengus. "Aku memang tak pernah berkata demikian, Takatora."

Mulut Suzu sedikit terbuka, ucapan Yoshitsugu kembali mengingatkan pada dirinya dulu. Sejak ia kehilangan begitu banyak hal yang terpenting dalam hidupnya, gadis itu tak ingin lagi melibatkan dirinya lebih dalam pada kengerian yang mengguncang negeri ini. Ia amat menyesal hidup.

Namun sekarang tidak. Meski ia harus menyaksikan kengerian semua itu, hidupnya berubah memiliki sebuah arti yang tak akan pernah tercabut oleh topan sekencang apapun. Dirinya terlahir untuk mendampingi orang yang paling ia cintai, karena itu ia takkan menyesali apapun. Menyesal artinya ia juga menyesal menghabiskan hari-hari bahagianya bersama mereka semua, Suzu tidak ingin merasakan itu. Selain itu, meski semua orang yang ia sayangi telah pergi ke alam jauh, mereka telah menyerahkan segalanya demi kebahagiaan gadis itu, juga suaminya. Daripada memikirkan kenyataan bahwa mereka telah tiada, Suzu menganggap mereka tetap hidup di dalam hati dan ingatannya.

Takatora menaikkan alisnya ketika menatap Suzu yang tiba-tiba terdiam, tetapi sebuah senyuman mengembang pada wajahnya cantiknya. Kedua telapak tangannya menggenggam bel kecil yang dikalungkan pada lehernya.

Menyadari reaksi Suzu meski ia tak menjawab apapun, Yoshitsugu mendengus pelan. "Nah, aku masih memiliki pekerjaan yang harus kuselesaikan. Permisi." Yoshitsugu pun pergi meninggalkan sepasang sejoli tersebut.

Memandang Suzu yang terlihat masih merenung, tangan kekar Takatora bergerak meraih wajahnya.

"Takatora, apakah semuanya sudah―" Seorang lelaki paruh baya yang merupakan saudara dari Hideyoshi datang menghampiri mereka. Takatora langsung menurunkan tangannya, tak sempat menyentuh pipi Suzu. Hidenaga mengerjapkan mata ketika penglihatannya berpindah ke arah gadis bersurai perak yang berdiri disamping Takatora. "Suzu? Apa ini? Kau masih tidak mau melepas suamimu pergi? Seorang istri seharusnya menunggu kepulangan suaminya ketika mereka sibuk melaksanakan kewajibannya, kau tahu?" Hidenaga tertawa lebar sambil mengagetkan Suzu dengan mengacak rambutnya.

"Aku tidak bisa melakukan itu, Hidenaga-sama. Memang sekarang aku adalah istri dari Takatora-sama, tapi aku tidak bisa hanya diam menunggu kepulangan Takatora-sama. Aku juga ingin membantu, walaupun sedikit tak apa. Lagipula, aku masih memiliki kewajiban sebagai anak didik Hideyoshi-sama dan Onene-sama. Aku merasa masih belum cukup. Anu, apa tidak boleh?" sahut Suzu pelan sembari menundukkan kepala.

Suzu tahu kalau dia keras kepala karena masih menganggap dirinya sebagai anak didik mereka. Ia merasa masih belum cukup untuk membalas kebaikan Hideyoshi dan Nene sejak ia diselamatkan.

Hidenaga kembali tertawa. "Tidak, tidak. Aku tidak melarangmu. Sejak kau menikahinya, Suzu semakin lengket sekali padamu, ya, Takatora." Takatora hanya tersenyum tipis menanggapi pendapat tuannya, sedangkan Suzu masih merunduk malu. "Hm? Tunggu dulu, bukankah kalian sudah menikah hampir setengah tahun? Kapan aku akan memiliki cucu?"

"Eh...?" Takatora dan Suzu tersentak kaget.

Hidenaga mengerjapkan matanya. "Apa? Kalian masih―"

"Hi-Hi-Hidenaga-sama...!" pekik Suzu panik sambil menggoyangkan tangannya di depan wajahnya.

"Aku mengerti, aku mengerti. Aku tidak akan bertanya. Nikmatilah masa muda kalian." ucap Hidenaga sambil tertawa lebar dan pergi bertolak meninggalkan mereka.

Hening menyusup diantara mereka berdua. Menyadari wajahnya terasa panas, ia tak berani berbalas pandang ke suaminya. Semu rona merah yang menghiasi wajahnya mengalihkan perhatian Takatora.

Pria bernetra biru itu menurunkan kepala tepat disamping kepala Suzu, bibirnya hampir bersentuhan dengan daun telinganya. Kedua kepalan tangan Suzu meremas dadanya, detak jantungnya tiba-tiba mengencang ketika nafas hangatnya menggelitik telinganya.

"Jangan kecewa. Kita masih memiliki waktu, harap saja kita akan memilikinya nanti," bisik Takatora.

"U-Um..." Suzu mengangguk pelan.

"Nah, sebaiknya kau harus segera bersiap-siap. Tak lama lagi kita akan berangkat."

Dengan wajahnya masih merona, dia lalu bergegas kembali ke kediamannya untuk bersiap-siap. Meski kecil, Takatora dapat mendengar deringan lonceng miliknya. Ia sudah terbiasa sejak dulu setiap kali mendengar suara itu.

Terkadang ia teringat saat mereka pertama kali bertemu. Pertemuan mereka yang dulu hanya kebetulan belaka, kini telah menumbuhkan alasan mereka untuk hidup berdampingan bersama. Kini dia telah tumbuh menjadi perempuan yang satu-satunya ingin ia lindungi sampai akhir.

-XXX-

Setelah beberapa hari berangkat menuju Owari dari Osaka, pasukan Hashiba mengambil posisi kamp utama di sebelah utara. Setelah membangun beberapa tenda dan menyiapkan suplai, para perwira segera melakukan pertemuan singkat tanpa pasukan Uesugi masih belum datang.

Sesuai yang dikatakan Nene, Hideyoshi membawa Chacha bersamanya. Suzu tidak tahu apakah ia akan ikut menginjak medan perang hari ini atau sekedar menemani pemimpin Hashiba tersebut. Memang ia sudah diajari teknik berperang dan lain sebagainya, tetapi Suzu hanya bisa berharap Chacha tidak akan memaksakan diri.

Takatora telah meminta Suzu untuk menunggu sementara ia sedang mengikuti pertemuan. Gadis bersurai perak itu tengah berjalan-jalan di sekitar luar markas, matanya terkunci melihat pemandangan merah jambu memenuhi seluruh penglihatannya. Awal musim semi bunga sakura masih belum sepenuhnya bermekaran, Suzu hanya bisa berharap perang kali ini akan berakhir cepat agar ia dapat mengajak suaminya untuk pergi hanami sambil istirahat dari semua pekerjaan yang menyibukkan Takatora.

"Mou! Padahal sekarang adalah waktu yang bagus untuk hanami. Sakura-nya terlalu indah untuk dilewati. Benar 'kan, Suzu-chan?" Natsuko berjalan di depan Suzu, ia mengangkat tangan kanannya agar dapat meraih ranting pohon sakura.

Suzu tersenyum simpul pada gadis itu. Meski awalnya ia berniat untuk meminta Natsuko untuk tetap berada di istana, tetapi dia menolak dengan alasan ia sudah bisa menjaga dirinya. Setelah beberapa tahun mengenalinya, keceriaan gadis itu selalu berhasil membuat Suzu tersenyum. "Yah, memang benar. Tapi kalau perang kali ini cepat selesai, kita pasti bisa pulang sambil memandang sakura bersama kok."

Gadis itu menghela napas berat. "Hah, mudah-mudahan Onii-chan cepat pulang."

"Benar, benar! Padahal aku juga ingin pergi hanami bersama dengan Nagachika. Tapi mau bagaimana lagi, 'kan?" Seorang wanita bersurai pirang gelap panjang datang menghampiri mereka.

"Ah, Hana-dono? Kukira nona juga mengikuti pertemuan..." Suzu menoleh ke belakangnya, lalu bergegas membalikkan badan dan menundukkan kepala. Hana memberikan isyarat tangan untuk mengangkat kepalanya, juga meminta Suzu tidak perlu terlalu formal padanya.

"Yah, sebenarnya ingin. Tapi aku menyerahkannya pada suamiku. Karena perang kali ini tidak melibatkan ayahku, rasanya sedikit sepi," jelas Hana sambil menggaruk pipi dengan telunjuknya.

"Begitu, ya." Suzu membalikkan badan menghadap kearah Natsuko yang sibuk memandang bunga sakura. "Hana-dono sepertinya sudah sering menginjak medan perang, ya..."

"Begitulah, Suzu dan Natsuko juga, 'kan? Yah, aku senang bukan hanya aku satu-satunya perempuan yang mengikuti perang kali ini. Seorang wanita juga pasti bisa menjadi pendekar, lho." Hana membusungkan dada dengan menyinggungkan senyuman bangga.

"Pendekar, ya?" Suzu tertawa kecil. "Hana-dono sepertinya lebih cocok disebut pendekar wanita." Manik merahnya terarah ke senjata Hana, sebuah tombak bermata dua. Dari ajaran bibinya dulu, Ryouko pernah mengatakan kalau menguasai senjata tombak lebih sulit daripada pedang.

"Tidak juga. Sebenarnya, aku mengikuti perang agar aku bisa membantu keluargaku. Tidak disebut sebagai pendekar pun tak masalah. Suzu juga pasti bisa kok."

Suzu menggeleng pelan. "Itu memang bukan hal yang buruk. Tapi kurasa aku takkan bisa menjadi pendekar hebat seperti Hana-dono, sama sekali tidak cocok untukku. Lagipula, aku masih saja bimbang setiap kali menyerang musuh di depanku."

"Suzu-chan...?" gumam Natsuko sembari mendekati temannya, mendengar nada suaranya berubah rendah dan pelan seakan-akan ia terdengar resah.

Manik merahnya masih menerawang jauh ke depan, tak menatap dua perempuan yang hanya bisa terdiam mendengarkannya. "Aku tahu mereka juga memegang senjata, tapi tujuan mereka rela menghunuskan pedang dan mengorbankan nyawa adalah demi keluarga mereka juga, 'kan? Rasanya itu seperti... merebut cahaya yang selama hidup mereka ingin mereka temukan. Tapi kita malah..." Sadar berbicara terlalu banyak, Suzu menegakkan kepala menatap mereka dengan sekilas lalu kembali menunduk dan berhenti berbicara. "Ah, mohon maafkan aku. Aku sudah mengatakan hal yang aneh..."

Hana tak langsung mengatakan apapun, ia menarik napas sembari memandang pohon sakura. "Suzu, apa kau tahu? Dulu aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Bukan hanya kita, pasti semuanya orang yang menginjak medan perang pernah merasakannya juga. Tapi, daripada merasa bersalah, sebaiknya kamu mengirimkan doa pada mereka yang telah berada di alam sana. Dengan begitu, kau tak perlu lagi bimbang mengayunkan senjatamu pada mereka. Dulu suamiku berkata seperti itu padaku." Hana mengarahkan netra biru pirusnya pada Suzu dan tersenyum lembut.

Suzu mengerjapkan matanya dua kali, lalu tersenyum tipis. "...Hana-dono benar." Jemarinya menyetuh bel kecil yang dikalungkan pada lehernya. Padahal ia telah mempersiapkan diri dan takkan ragu, namun rasanya masih sedikit sulit untuk menerapkannya pada hatinya. "Meski aku bukan pendekar sekali pun. Aku memiliki alasan untuk bertempur, aku tidak akan mundur..."

Hana melebarkan senyumnya. "Dengan tekadmu itu, sudah cukup kok, Suzu. Tapi, jangan menyia-nyiakan nyawamu, ya."

"Benar! Onii-chan bilang kita hanya punya satu nyawa! Jadi kita harus menjaganya dengan baik!" Natsuko melompat kearah Suzu dan memeluknya dari belakang.

"Natsuko benar!" Hana tertawa pelan dan ikut mendekap dua gadis itu.

Suzu mengalihkan matanya ketika menyadari para jendral telah keluar dari kamp utama, menandakan mereka telah siap menyiapkan rencana dan segera mengambil posisi. "Ah, anu... Takatora-sama dan yang lain sudah bubar."

"Oh! Aku harus cepat bersiap-siap dan menemui Nagachika." Hana langsung melepas pelukannya dan berlari menghampiri Nagachika yang baru saja keluar.

"Ah, ya." Suzu mengangguk, menatap Hana yang perlahan jauh dari pandangan. "Hana-dono, dia hebat ya..."

"Rasanya seperti mempunyai kakak, ya, 'kan?" sahut Natsuko sembari ikut mengarahkan matanya kearah wanita bermarga Kobayakawa tersebut. Suzu mengangguk setuju.

Kakak. Ketika Natsuko menyebut itu, ia mulai mengingat kakak angkatnya yang masih tak muncul sejak di Shizugatake. Sebelumnya ia pernah berniat untuk mencari keberadaannya namun Takatora melarangnya. Mencari keberadaannya di negeri seluas ini tanpa petunjuk sedikit pun akan menghabiskan waktu dengan sia-sia dan mungkin akan menjadi perjalanan yang berbahaya untuk Suzu.

Suzu telah menjelaskan pada Takatora bahwa ia adalah kakaknya, namun hingga kini ia masih tak tahu bagaimana bisa Kagome adalah saudara perempuan angkatnya. Mengingat mereka berdua adalah bagian dari pasukan Hashiba, Takatora mengusulkannya untuk membiarkan Kagome datang menemui mereka sendiri, merasa sudah pasti bahwa Kagome sudah tahu dimana keberadaan mereka.

Natsuko tiba-tiba mengeratkan lengannya disekitar leher Suzu. "Geh! N-Natsuko, leherku sesak! K-Kau mencekikku!"

Natsuko melepas rangkulannya lalu berdiri di depan Suzu dengan wajah mencebik. "Kalau aku!? Aku juga hebat, 'kan?" Gadis yang seumuran dengan Suzu itu menggembungkan kedua pipinya.

Suzu tertawa kecil lalu membelai rambut Natsuko. "Natsuko juga hebat, kok." Natsuko tertawa malu. "Lagipula Aki-san juga sangat bangga memiliki adik yang mandiri dan hebat sepertimu." Lalu ia melepas belaiannya pada rambut Natsuko. "Nah, kamu juga harus bersiap-siap."

"Ya!"

-XXX-

Suzu memasuki tenda, ia tak melihat suaminya di dalam. "Mungkin masih ada sesuatu yang harus dia selesaikan," Suzu segera memasangkan armor ringan sebelum memasang seragam perangnya.

Pandangan Suzu teralihkan ke pedang milik Takatora. Setelah mengeratkan seragamnya, ia mengambil saiken tersebut, memegang erat gagang pedangnya dengan kedua tangan. Suzu tak mengira senjata itu terasa sedikit berat dari yang ia bayangkan, meski bentuknya tipis dan panjang.

Pikirannya mendera saat pertama kali ia mengayunkan pedang dan pertama kalinya mengotori kedua tangannya. Dirinya bisa membunuh tanpa ragu, tanpa ampun dan tanpa rasa belas kasihan, namun ia tak mendapatkan kepuasan dan tak menyesal. Ia merasa kosong.

Tangannya mulai bergemetar, ia tak ingin mengayunkan senjata dengan tanpa perasaan sama seperti saat itu.

"Suzu?"

Suzu menoleh kearah asal suara, menatap kaget suaminya yanng telah kembali. "Ah, ini..." Gadis bersurai perak itu segera menyembunyikan saiken tersebut di belakang punggungnya, meski ia tahu terlambat untuk menutupinya. Ia kembali memasukkan pedang tersebut ke dalam sarungnya.

Sepasang biji mata biru gelapnya terkunci memandang tangan istrinya yang bergemetar. Takatora bergegas mengambil pedangnya dari tangan Suzu, lalu memasukkannya ke dalam sarung. "Apa yang mengganggu pikiranmu?"

Suzu menyembunyikan tangannya di belakang punggung, ia menghela napas panjang agar dapat menenangkan diri. "Tidak apa kok. Hanya saja saiken milik Tuan sedikit lebih berat dari yang kukira."

Takatora menurunkan kelopak matanya, ia yakin Suzu mengingat saat orang tuanya terbunuh. Dia pernah bercerita disaat itulah Suzu pertama kalinya mencucurkan darah orang lain. Namun dari caranya ia tersenyum sekarang, memberikan tanda bahwa ia berusaha menaklukkan ketakutannya. Apakah ia memaksakan diri lagi?

Takatora langsung membuang pertanyaan itu. Ia telah mengatakan pada dirinya sendiri untuk percaya pada Suzu. Namun ketika melihat tangannya yang bergemetar seperti tadi, sulit bagi Takatora untuk tidak terlalu memikirkannya. "Dengan tanganmu bergemetar seperti itu, kau akan terluka jika tidak memasukkannya dengan benar." Takatora menaruh pedangnya kemudian mengambil baju besinya. Suzu hanya tertawa paksa.

Istrinya kemudian membantu Takatora untuk memasang baju besinya. Meski Takatora bisa melakukannya sendirian. tetapi Suzu memaksanya untuk mencoba memasangkannya untuk suaminya. Sembari Takatora memasang sarung hitamnya, ia menatap wajah istrinya yang sibuk melilitkan tenugui biru miliknya.

Takatora mengumpat dirinya sendiri, mengapa sulit sekali baginya untuk menaruh kepercayaan sepenuhnya pada Suzu?

Takatora menahan pergelangan tangan Suzu. Mata tajamnya terkunci memandang istrinya. Suzu membeku seketika, manik merahnya yang berkilauan terbelalak, ia mencoba menebak apa yang ada di pikiran suaminya sekarang.

Pria itu menurunkan sedikit punggungnya agar ia dapat menangkap bibir merah jambunya. Takatora merengkuh tubuhnya begitu kuat, ingin merasakan kehangatan dan kelembutannya lebih jauh. Namun Takatora berusaha untuk tidak terlalu menonjolkan hasratnya, tidak ingin bertindak lebih yang akan menyakiti Suzu. Tetapi sayangnya ia tak dapat menahan diri, ia sudah cukup lama untuk mempertahankannya, walaupun dia sudah tahu itu egois.

Tetapi Suzu menerima keegoisannya itu, menyambut kecupan dan memberikan kenyamanan untuk Takatora. Pria itu membuka matanya sedikit, melihat Suzu masih memejamkan mata dan alisnya menyempit.

Setelah memutuskan kecupan, mereka saling bertatapan sejenak. Setiap kali rona merah seperti tomat yang menghiasi wajahnya selalu berhasil membuat pria itu tak mau melepas pandangannya. Setiap kali dia berada di dekatnya, Takatora merasa hampir kehilangan akal. Semua perasaan yang dirasakan takkan bisa dan takkan pernah ia singkirkan.

"...Apakah Takatora-sama... takut?" lirih Suzu setelah menarik napas.

Takut?

Ironis sekali, Takatora sendiri merasa tak yakin apa yang ia rasakan saat ini. Tak bisa mengungkapkan maksud sebenarnya dari kegelisahannya. Ia percaya pada Suzu, namun ia tak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Ia khawatir mereka tak dibiarkan untuk menciptakan masa depan hanya untuk mereka berdua. Namun istrinya langsung dapat menebak tepat pada sasarannya.

Ya, dia benar. Orang yang telah pergi untuk menyerahkan mimpinya pada Takatora, sudah tak bisa ia temukan di dunia ini. Yang tersisa hanyalah gadis itu, istri yang akan mendampingi hidup sematinya. Meski ia berada di istana bahkan medan perang pun, tak ada jaminan yang pasti demi keselamatan nyawa masing-masing diantara mereka. Ia tahu bahwa ia harus meyakinkan dirinya untuk tidak meragukan tuturan kata Suzu dulu sebelum mereka menikah. Namun entah mengapa masih terasa sulit baginya untuk menerapkan keyakinannya pada hatinya sendiri.

Setelah pemuda itu tertegun sejenak, ia memberi sedikit jarak diantara wajah mereka. "Ya. Rasanya ingin sekali aku mengikat dan mengurungmu di istana agar kau tetap aman." Takatora tersenyum getir, menyadari kebodohannya sendiri. "Hmph, padahal aku sendiri yang memperbolehkanmu untuk ikut denganku." Perlahan ia meregangkan genggamannya pada pergelangan tangan Suzu. "Aku tidak bermaksud untuk meragukanmu. Hanya saja..."

"Um, aku tahu. Tuan tidak perlu merasa harus memahaminya saat ini juga. Perlahan-lahan, Takatora-sama pasti bisa." Suzu perlahan menarik suaminya, mengistirahatkan kepala Takatora di dada istrinya. Tangan kecilnya membelai lembut surai hitamnya. Takatora memejamkan mata.

"Orang yang ingin Tuan lindungi tidak mungkin bisa berdiri di belakangmu terus menerus. Takatora-sama bukanlah perisaiku, tapi orang yang paling ingin kulindungi."

Entah mengapa disaat pria itu menikmati sentuhan lembut pada rambutnya dan mendengar suara halusnya, dirinya seolah-olah telah dimaafkan. Pertanda bahwa ia diperbolehkan oleh takdir untuk mencintai dan melindungi satu-satunya perempuan yang mendampungi hidupnya. Ia merasa sudah bisa mengubur masa pahit dahulu yang terus menyelimuti hatinya― saat dimana ia harus kehilangan.

Takatora adalah seorang pria yang menemukan kesedihan di tengah kebahagiaan, juga terkadang menemukan kebahagiaan di tengah kesedihan. Manusia pada dasarnya memang demikian. Yang perlu ia lakukan sebagai pendamping hidup semati pria itu hanyalah menggandeng tangannya hingga akhir. Suzu sadar bahwa dirinya selalu melihat ke belakang, ia tak ingin kebiasaannya itu kembali menggelapkan hatinya. Terkadang ia kesulitan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Karena itu, Takatora ada bersamanya, tanpa ragu akan mengulurkan tangannya. Suzu, dia akan melakukan hal yang sama untuk menyeimbangkan kebaikannya demi perjalanan menuju masa depan mereka kelak.

Suzu tertawa kecil. "Takatora-sama... baik sekali."

"Itu kalimatku." Takatora mengubah posisi kepalanya, menempelkan dahinya pada dahi Suzu. Meraih wajahnya dengan sebelah tangan, sedangkan tangan sebelahnya menahan bahu Suzu. Berniat untuk merasakan kelembutan bibirnya sekali lagi, lalu mereka memejamkan mata.

"Suzu-chan? Nee! Suzu-chan! Kau sudah siap?"

"Ah!" Suzu terperanjat spontan menjauh ketika mendengar Natsuko memanggilnya, ia menutup mulut Takatora dengan telapak tangannya. "M-Maaf, Takatora-sama. Mungkin kita bisa melanjutkannya nanti..."

Takatora menurunkan tangan Suzu dari mulutnya lalu menghela napas, ia mengumpat kakak dari Natsuko itu di dalam kepalanya. Seharusnya ia mengatakan pada Aki bahwa permintaannya itu merepotkan dan menyuruhnya membawa Natsuko bersamanya ke Shikoku. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Ia terpaksa mengambil sisi baik dari permintaan pria dari klan Kimura itu. "Ya..."

Suzu tersenyum canggung, lalu segera berlari keluar menemui Natsuko yang menunggunya di luar tendanya. Lalu disusul dengan Takatora berjalan keluar dari tenda.

Tak menduga suaminya muncul, Natsuko melirik kearah Suzu lalu ke Takatora, lalu kembali ke Suzu. "Suzu-chan, wajahmu merah, lho?"

"T-Tidak kok. Aku hanya kepanasan..." Suzu langsung mengalihkan pandangan.

"Eh? Padahal sekarang musim semi?" Natsuko mencoba menebak lalu tersenyum yang lebih mirip sebuah seringai. "Wah wah? Apa yang baru saja terjadi?" Tubuh Suzu terguncang kaget dicampur malu ketika melihat ekspresi wajahnya.

Natsuko tiba-tiba menciut takut melihat sorot mata dingin Takatora, lalu pria itu menghela napas lalu pergi. Menatap Takatora meninggalkan mereka dengan ekspresi minim, Natsuko berkacak pinggang dan mencebik. "Huh! Aku heran, kenapa Suzu-chan bisa menikah dengan pria dingin seperti Takatora-dono? Tidak bisa diajak bergurau, membosankan pula!"

Suzu hanya bisa tersenyum canggung, tak tahu harus apa yang ia jawab. "N-Natsuko, sudahlah." Ia bergegas menukar pembicaraan. "Err, Natsuko, kamu harus tetap berada di markas utama, ya. Aku tidak ingin Aki-san marah kalau dia tahu kalau kamu..."

Natsuko langsung memotong dan kembali mencebik layaknya anak kecil. "Huh! Suzu-chan terlalu khawatir! Onii-chan bilang aku sudah dewasa dan mandiri! Kamu sendiri juga bilang begitu padaku, 'kan? Jadi aku tidak akan menghambat kalian kok! Aku bisa bertarung!"

"Tapi terkadang aku harus bergerak sendirian untuk mengamati pergerakan musuh. Jadi aku tak bisa selalu mengikuti pasukan atau bahkan terus bersamamu. Ah, atau sebaiknya kamu mengikuti Takatora-sama saja. Bagaimana?"

Gadis berkepala merah jambu itu bergidik. "Nah, tidak mau. Lebih baik aku mengikuti Hana-dono saja, deh. Suaminya Suzu-chan menakutkan, sih..." tukas Natsuko sembari melipat tangan di dadanya.

"Ah, haha... Y-Ya, baiklah kalau begitu." Suzu hanya bisa tertawa paksa. Lalu Natsuko pergi meninggalkan Suzu dan segera menemui Hana di tendanya.

Suzu menatap gadis berkepala merah jambu itu bertolak pergi meninggalkannya sendirian, lalu mendongak menatap ratusan pohon sakura yang belum mekar jauh di depannya. Tangannya menyentuh bel kecil yang dikalungkan pada lehernya.

"Nee-sama... Kuharap dia baik-baik saja." Suzu memejamkan matanya. Berharap kedua orang tuanya dapat memperhatikannya dari alam nan jauh disana.

"Lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu daripada wanita itu." Takatora berjalan dengan tenang kearahnya, mata tajamnya terkunci menatap gadis bersurai perak yang tengah berharap. "Pastikan kau tidak jauh dariku dalam perang ini." Tangan kekarnya perlahan menutup kepala Suzu dengan tudung kepalanya, menyembunyikan surai peraknya serta wajahnya.

Suzu membuka matanya, lalu tersenyum simpul kearah pria di hadapannya. "Ya, Takatora-sama."

-XXX-

-xxx-

-XXX-

A/N : Hadeh, keknya kebanyakan fluff wkwkwk, terus gak pede dengan diksi saya, butuh impruv lagi. Terus chapter berikutnya bakalan susah buat dilanjutin. Memang battle of Komaki ada di SW4-II, tapi ketika saya baca sejarah battle-nya. Saya jadi bingung. Saya gak mau kecewain para readers, jadi harap saja saya dapat menyusun plotnya dengan benar.

As always thanks for reading dan jangan lupa review!