A/ N : Oke, maaf kelamaan, terlalu. Saya jadi lupa diri kalau udah mulai menggambar melulu, tapi parahnya saya juga kesusahan menggambar. Mana kuota saya juga hampir habis masa berlakunya...

Uh, tanpa banyak bacot, mari balas review. *plak*

-RosyMiranto18

Takatora : Tidak, aku yakin Yoshitsugu sama sekali tidak menyesal. Mengerjai orang adalah hobinya...

Yoshitsugu : *chuckle* Apa aku benar terlihat begitu?

Suzu : Itu memang benar! Rasanya aku ingin sekali mengerjai Yoshitsugu-san juga tapi aku punya firasat kalau aku yang bakal kena akibatnya. *kesal*

Yoshitsugu : Hmhm, cepat sekali menyerahnya, Shirousagi.

Suzu : Ukh. *ketusuk* Sudah kubilang tolong jangan panggil aku Shirousagi!

Takatora : Kau benar-benar tahu bagaimana cara menarik amarah Suzu...

Suzu : Tidak tidak, Tuan tak perlu sampai kagum begitu!

Yoshitsugu : Apa kau tidak lelah tsukkomi sejak tadi?

Suzu : Capek tahu! Salah siapa coba!? *ngos-ngosan*

Takatora : Akrab atau tidak, aku tidak paham dengan hubungan kalian berdua... *elus kepala Suzu*

Suzu : ...uhh, sudahlah. *mulai tenang* Ah, terima kasih atas review-nya.

-Hayashinkage17

Scarlet : Ya gitu deh, mereka. Kapan kalian bikin anak-

Suzu : Jaga ucapanmu!

Takatora : Aku mengerti kalian heran mengapa kami masih belum memiliki anak. Ini sepenuhnya salahku, sebetulnya. Aku tak sempat meluangkan waktuku dengan istriku.

Suzu : Tidak kok! Takatora-sama tak bersalah, Tuan berhak melakukan kewajibanmu sebagai bawahan Hidenaga-sama. Jadi... aku sama sekali tidak masalah kok. L-Lagipula, Tuan sendiri bilang padaku kalau suatu saat... kita akan memilikinya... *blush*

Takatora : ...hmph, dasar. Aku benar-benar suami yang buruk, tapi aku memiliki istri yang terlalu baik untukku. *sigh* Hm? Apa katamu? Trademark? Aku tidak tahu apa itu tapi aku hanya bersikap sebagaimana diriku. Jadi aku takkan minta maaf.

Scarlet : Dasar kulkas...

Takatora : Apa itu kulkas? Jangan ucapkan kalimat yang tidak kumengerti. Tapi aku paham kau mencaciku, aku tidak peduli.

Suzu : Maa maa, tenanglah Takatora-sama. Biarkan saja Scarlet itu.

Scarlet : Nak!?

Suzu : Baiklah, terima kasih atas review-nya.

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Shinhana Kobayakawa and Nagachika Nomi belongs to Hayashinkage17.

Warning : Mainly OC x Toudou Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?). DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XoX-

Bell of the White Hare

-XoX-

CHAPTER 13

The Wind Became Strong Again

-XoX-

Malam sebelum pertempuran dimulai, para pasukan Tokugawa telah memperketat penjagaan di istana Komakiyama dan istana Obata. Dengan jumlah kurang lebih 18 ribu pasukan telah berkumpul di dalam dan segera mengambil posisi sebelum sinyal pertanda perang dimulai.

Beberapa pasukan berjaga di menara pengintai di dekat honmaru, kurangnya penerangan membuat para pasukan Tokugawa sedikit kesulitan memperhatikan sekitar.

"Hei. Apa kau mendengar sesuatu?" tanya salah satu prajurit Tokugawa.

"Kau hanya berhalusinasi, kuharap kau tak sampai tertidur malam ini. Jika kita gagal melakukan tugas, Ieyasu-sama akan merebus kita hidup-hidup," jawab rekannya.

"Aku mengatakan yang sebenarnya! Aku mendengarnya!"

"Terserah." Tiba-tiba terdengar suara gedebuk. Ia melihat prajurit tersebut sudah rubuh, tombaknya pun terlepas dari genggaman. "Hei, sudah kubilang jangan tertidur―"

Tak sempat menghampirinya, prajurit tersebut mendadak melunglai ketika merasakan pukulan du tengkuk lehernya, lalu terkapar disamping prajurit yang lain. Sosok figur seorang perempuan berdiri meratapi dua orang prajurit yang pingsan tersebut. Dengan sekuat tenaga, ia menarik prajurit tersebut ke sudut ruangan lalu menyandarkannya.

"Yah, mudah-mudahan saja kalian diberi pengampunan dari Tokugawa Ieyasu." Seorang gadis yang menyelinap tersebut menghela napas lega, kemudian mendekat ke jendela. Ia dapat merasakan angin malam yang menyapu wajahnya, namun rasa sejuk itu tak bisa nikmati meskipun sejenak. Manik merahnya menelusuri setiap sudut dalam istana Obata tersebut.

"Oda Nobukatsu ditemukan. Dia ada di istana ini. Jika benar kalau Oda Nobukatsu beraliansi dengan Tokugawa. Lalu dimana Tokugawa Ieyasu?" Sepasang netranya tersebut terkunci pada putra kedua dari Nobunaga itu, ia terlihat tengah sibuk memerintah prajuritnya yang sedang menyiapkan penyuplaian. Disana barulah ia menemukan Ieyasu yang berdiri di sebelah Nobukatsu.

"Ah, akhirnya dia keluar. Jumlahnya memang sedikit dari kami, tapi kenapa aku sama sekali tidak merasa tenang?" gumam Suzu sembari memandang lambang bendera biru Tokugawa.

Mengingat lawan Hideyoshi kali ini adalah Ieyasu yang juga pernah menjadi bawahan Nobunaga, ia teringat akan perang Anegawa dan Nagashino, dimana Ieyasu berpatisipasi disana. Saat di Anegawa, Azai kalah dalam perang dan mundur. Bahkan di Nagashino, Takeda juga mundur dalam pertempuran. Selain itu, ia pernah mendengar bahwa Ieyasu pernah mengalami kekalahan yang amat tragis di Mikatagahara saat melawan Takeda Shingen. Meski demikian, kini ia telah dicap sebagai daimyo terkuat. Itu membuktikan bahwa dia memiliki tekad yang bulat.

"Aku harus kembali." Suzu bergegas melompat dari jendela menara pengintai tersebut lalu mendarat diatas dahan pohon, berlari menerobos hutan dan menginjak setiap dahan.

Namun langkahnya berhenti ketika ia menginjak sebuah rantai, indera pendengaran Suzu yang tajam menangkap suara sebuah ayunan sabit yang akan menyerangnya. Suzu bergegas menolak serangan kejutan yang mengarah ke wajahnya dengan bilah pisau pada sepatunya lalu menyiapkan bom untuk serangan berikutnya. Gadis itu mengeratkan tudung kepalanya seraya bergerak mundur.

"Seorang kunoichi? Bukan..." Kini ia mendengar suara seorang pria, nada suaranya tenang, namun Suzu tak menemukan keberadaannya. Dirinya hampir lupa bahwa Tokugawa juga memiliki pasukan shinobi, maka tak heran ia ditemukan. Namun tetap saja, berbuat salah sekecil apapun sudah cukup membuat Suzu tak berhenti memikirkannya. "Tak peduli siapapun itu. Takkan kubiarkan lolos dari kegelapan..."

Suzu langsung melempar bom asap ketika sosok pria itu menghadang kearahnya, sehingga ia tak dapat menemukan keberadaan Suzu yang menghilang di telan asap.

Pria dengan senjata kusarigama itu tak punya pilihan selain membiarkan mangsanya lolos. Lalu dia perlahan menghilang di telan kegelapan. "Akan kuingat, kilauan merah darah jernih yang terpancar di matamu itu..."

-XXX-

Fajar mulai terbit di ufuk timur, sinyal pertanda perang dimulai telah bergema. Sesuai rencana, pasukan telah dibagi menjadi dua rombongan, rombongan utama dipimpin oleh Hideyoshi sedangkan rombongan yang lain di pimpin oleh Hidetsugu.

Dengan jumlah pasukan Hashiba sebanyak 40 ribu, beberapa pasukan yang tersisa ditugaskan untuk mengawasi istana Gakuden yang dijadikan sebagai kamp utama. Sekaligus mereka mengambil barisan depan untuk menjatuhkan pasukan Tokugawa yang mendekat dan menghalangi rombongan pasukan Hashiba yang menuju ke istana Obata dan istana Komakiyama. Meski jumlah pasukan Tokugawa tak terlalu banyak dibandingkan dengan pasukan Hashiba, mereka dapat menahan rombongan pasukan Hideyoshi.

"Kita tak boleh membiarkan rombongan pasukan berkurang akibat pasukan Tokugawa yang mengambil posisi di garis depan. Kepada seluruh pasukan, berikan bantuan pada rombongan untuk menyerang pasukan Tokugawa! Dan jangan biarkan mereka menginjak istana Gakuden!" perintah Hidenaga yang diserahkan untuk melindungi markas utama.

Para pasukan mulai berhamburan keluar dari markas, mengambil formasi dan langsung menyerang ribuan pasukan Tokugawa yang menahan rombongan para pasukan Hashiba.

"Natsuko, Hana-dono, Nagachika-dono! Serahkan pertahanan kamp utama pada kami!" seru Suzu dari kejauhan.

Nagachika mengangguk paham lalu segera memberi perintah pasukannya untuk bergerak. "Memang sayang kita tak dapat bertarung bersamamu, tapi jaga dirimu ya, Suzu!" seru Hana. Sedangkan Natsuko melambai-lambaikan tangannya.

Suzu mengangguk dan tersenyum simpul. Mereka pun bergegas pergi dan menerobos paksa para pasukan Tokugawa. Gadis itu menghela napas berat sembari menyentuh lehernya yang tak dikalungi lonceng kecilnya. Ia yakin benda tersebut menghilang ketika ia menyelinap ke istana Obata. "...Kurasa memang tidak selamanya aku bisa menyimpan bel itu. Aku harap kedua orang tuaku mau memaafkanku."

Ia menghentakkan kedua kakinya, sebuah bilah pisau keluar dari belakang sepatunya, lalu memasang erat tudung merah gelapnya, setelah itu menarik napas dalam. Melangkahkan kakinya menuju medan perang, bergabung dengan suaminya yang tengah menahan sejumlah pasukan Tokugawa. Suzu melempar jarum kearah masing-masing leher prajurit Tokugawa sehingga mereka mati dengan seketika.

"Kau yakin akan mengawasi belakangku?" kata Takatora tanpa melepas pandangannya pada musuh dihadapannya.

"Memang aku takut untuk menginjak medan tempur lagi karena aku membenci perselisahan. Aku tidak suka menyerang bahkan diserang. Tapi akan lebih menakutkan bagiku kalau aku tak melakukan sesuatu. Aku yakin, dengan saat ini aku berada di sisi Tuan, aku takkan takut lagi."

Takatora mendengus. "Hm, asalkan kau tidak bertindak berlebihan, aku tidak akan mengikatmu ke dalam markas."

Mendengar ucapan suaminya membuat Suzu tertawa kecil. "Akan kuusahakan, Takatora-sama."

Sementara itu di istana Gakuden, Chacha memandang kengerian yang tengah terjadi di medan perang. Sesama manusia saling mengayunkan senjata, bersimbah darah, teriakan dan sorakan yang tajam terdengar jelas oleh telinganya. Ia menggenggam kuat kanzashi yang di depan dadanya. "Jadi seperti inikah negeri yang selalu ayahanda dan ibunda perjuangkan..." Lalu ia membuka tangannya, meratapi sebuah omamori milik Oichi dulu.

"Apakah dengan ini... aku boleh berharap untuk menjadi lebih kuat?"

-xxx-

"Ane-ue! Lihat ini!" Oeyo berlari kearah kakak pertamanya itu dengan wajah riang.

"Oeyo, sejak tadi kau pergi kemana?" Chacha yang tengah berjalan-jalan di taman menoleh ke belakang, ditemani oleh adiknya, Ohatsu.

"Lihat! Ini omamori milik haha-ue!" Ia mengeluarkan benda tersebut dari lengan pakaiannya.

"Eh? Darimana kau mendapatkannya?" tanya Ohatsu kaget dan mengambil omamori tersebut dari tangan mungil adik bungsunya.

"Suzu memberikannya padaku! Dia bilang haha-ue mengembalikan omamori itu padanya, Suzu-lah yang membuatnya," jawab Oeyo. Ohatsu manggut-manggut paham, sedangkan sang putri sulung tak mengatakan apapun selain menatap jimat perlindungan tersebut.

"Ane-ue? Ada apa?" sapa Ohatsu menyadari sang kakak yang tak berkomentar apapun.

"Ah, kalau begitu ane-ue simpan omamori ini, ya!" Oeyo dan Ohatsu saling bertatapan dan mengangguk, setuju memberikan omamori itu pada kakaknya. Lalu Ohatsu membuka tangan Chacha dan menaruhnya diatas telapaknya.

Chacha menolak permintaannya seraya menggeleng. "Tidak, lebih baik kau saja yang menyimpannya, Oeyo. Suzu memberikannya padamu, bukan padaku. Aku tidak membutuhkannya."

"Aku yakin Suzu tidak akan keberatan, kok!"

"Ya, lagipula kami berdualah yang meminta ane-ue untuk menyimpan omamori ini."

Dua adiknya itu tersenyum hangat pada sang kakak. Berkat senyuman itu membuatnya tak tega menolak permintaan adiknya. Chacha akhirnya mau menyimpan omamori itu. "Terima kasih, Ohatsu, Oeyo."

-XXX-

"Lapor, Tuanku! Kami telah memastikan bahwa Tokugawa Ieyasu berada di istana Komakiyama!" Hideyoshi mengusap dagunya sambil memanggut. Rombongan pasukan utama tengah mengambil posisi di markas sebelah utara jauh dari istana Gakuden.

"Hah? Apa maksudnya ini? Bukankah sebelumnya kau bilang dia ada di istana Obata?" Toshiie mengusap rambutnya kebingungan.

"Apakah kita akan mengambil alih istana Komakiyama sesuai rencana, Hideyoshi-sama?" tanya Kanbei.

Hideyoshi menggeleng. "Memang itu bisa meningkatkan semangat juang pasukan kita jika berhasil. Tapi kurasa sebaiknya kita harus tunda dulu penyerangan ke istana Komakiyama. Kita akan menunggu bagaimana keadaan Hidetsugu. Entah apa yang akan direncanakan Ieyasu-dono..." gumamnya sembari berpikir. "Baiklah, sampaikan pada Hidetsugu secepatnya!" Pemimpin Hashiba tersebut mempersilahkan pembawa pesan untuk segera mengundurkan diri dan melanjutkan tugas.

Dari kejauhan, pria bernama Shima Sakon segera mempersiapkan diri untuk ikut mengawali pasukan rombongan Hideyoshi. "Ya ampun. Berkat jumlah pasukan sebanyak ini, sepertinya rencanaku tidak dibutuhkan, ya?" gumamnya sembari mengusap tengkuk.

-XxX-

Hidetsugu yang didampingi oleh Mitsunari, Ikeda Tsuneoki dan Mori Nagayoshi memerintah pasukan untuk segera mendobrak gerbang utama istana Obata. "Bersiaplah, Ieyasu! Aku, Hashiba Hidetsugu, akan memenggal kepalamu sekarang juga!"

Namun ketika mereka berhasil memasuki istana Obata, tak terlihat satu orang prajurit pun yang berjaga di dalam. "Apa ini? Apakah dia sudah melarikan diri?" kata Hidetsugu sambil memperhatikan daerah sekitar.

"Aku tidak melihat Ieyasu disini." gumam Nagayoshi.

"Ada serangan!" teriak salah satu prajurit. Semua pandangan mereka terkunci keatas, ratusan anak panah meluncur kearah mereka.

"Lindungi Hidetsugu-sama!" perintah Mitsunari.

Para pasukan perisai langsung bergerak melindungi putra angkat Hideyoshi tersebut di sekelilingnya sambil bergerak mundur. Sedangkan prajurit tanpa perisai panik dan terkena tancapan panah.

"Jangan biarkan mereka lolos!" Kemudian sekumpulan prajurit Tokugawa keluar dari persembunyian setelah serangan panah mereka berakhir. Mereka menghalangi jalan keluar berniat mengepung mereka lalu menghabisi pasukan Hidetsugu yang masih bertahan.

"Hidetsugu-sama! Mohon bergegaslah kembali menuju istana Gakuden! Selamatkan diri Anda!" seru Nagayoshi yang tengah mendorong pasukan Tokugawa. Tak punya pilihan lain, Hidetsugu membalikkan kudanya dan bergegas kembali. Namun ia terjatuh ketika kudanya terkena tusukan panah. Dengan panik Hidetsugu bergegas berdiri, Mitsunari memberikan kudanya pada Hidetsugu lalu bergegas meninggalkan pasukan Nagayoshi yang menahan Tokugawa.

"Maafkan aku!" teriak Hidetsugu.

"Pengawasannya sangat ketat. Tak salah lagi, Ieyasu memang ada di istana Obata. Ieyasu, dia benar-benar orang yang berbahaya untuk Hideyoshi-sama," geram Mitsunari.

Sepanjang jalan kembali menuju istana Gakuden, pasukan Tokugawa tiba-tiba melakukan serangan dadakan dipimpin oleh Ii Naomasa. "Persiapkan dirimu, Hashiba Hidetsugu! Kau takkan lolos, karena kepalamu akan kupersembahkan pada Ieyasu-sama! Pasukan teppou, tembak!"

Pasukan senapan api yang bersembunyi di hutan mulai menembak. Pasukan perisai Hashiba kembali melindungi Hidetsugu. Pekikan dan tangisan para prajurit membising kedua pendengaran Mitsunari. Tsuneoki serta prajurit lain yang tak dapat berlindung terkena tembakan mati seketika.

"Mustahil...!" geram Mitsunari.

-XXX-

"Eh? Tokugawa Ieyasu tak berada di istana Obata?" Suzu membelalakkan matanya terkejut akan laporan yang diberikan padanya.

"Ya, nona." Pembawa pesan itu memberi jawaban dengan anggukan kepala.

"Bagaimana ini...? Aku malah memberi informasi yang salah pada Hideyoshi-sama dan yang lain." Suzu menjalin kedua tangannya erat, merutuk diri sendiri di dalam kepalanya. Kini ia merasa takut, bukan karena khawatir akan hukuman apa yang akan diberikan padanya. Tapi ia takut kendala yang akan dihadapi Hashiba yang akan mengancam keselamatan mereka. Selain itu, ia juga tak ingin kehilangan kepercayaan mereka padanya.

"Selalu menyalahkan diri adalah kebiasaan burukmu." Takatora yang juga mendengar laporan tersebut menghampiri istrinya. Lalu ia langsung menyentuh leher Suzu, gadis itu tersentak kaget akan sentuhan dadakan suaminya. "Saat kau menyelinap ke istana Obata, kau ditemukan oleh prajurit Tokugawa, bukan? Disaat itu, kau juga kehilangan loncengmu."

Padahal Suzu belum memberitahunya tentang loncengnya yang hilang, ia tak menyangka Takatora akan menyadarinya.

"Ho? Kau benar, Takatora. Aku baru menyadarinya." Hidenaga mengusap dagunya seraya manggut.

"Jadi artinya Ieyasu telah berpindah posisi setelah mendapat laporan bahwa ia ditemukan? Apakah itu artinya saat ini dia berada di istana Komakiyama?" ucap Kiyomasa.

"Semuanya, mohon maafkan aku. Aku pantas mendapat hukuman akan kecerobohanku..." lirih Suzu menunduk dalam.

"Tak perlu khawatir, Suzu. Lagipula jika kau tidak berada disini, kami takkan tahu harus bergerak kemana. Aku yakin Hideyoshi akan memaafkanmu. Ataukah kau berpikir selama ini kalau Hideyoshi adalah orang yang tak segan-segan menghukum anak didiknya sendiri?"

"T-Tidak kok, Hidenaga-sama!" jawab Suzu panik.

"Nah, kalau begitu angkat wajahmu. Melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Kita harus menanggulanginya segera." Hidenaga menepuk bahu Suzu. "Nah, sekarang... Kiyomasa, Masanori, bantu Hidetsugu untuk mundur secepatnya. Keselamatannya adalah prioritas utama dalam perang ini."

"Baiklah! Saatnya beraksi!" seru Masanori semangat. "Si Kepala Besar pasti sangat mengharapkan bantuan dari kita!"

"Dimengerti!" Kiyomasa dan Masanori segera berangkat dari istana Gakuden dengan menunggangi kuda mereka masing-masing.

Suzu menatap kepergian dua jendral muda itu, menjalin kedua tangannya dengan erat seraya berharap dalam hati. "...apa tidak ada sesuatu yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku, Hidenaga-sama?"

"Tidak, tidak. Aku tahu kau pasti ingin ikut bersama mereka, tapi aku menolak. Lagipula, aku yakin suamimu pasti akan mengikatmu di dalam tenda." Hidenaga tertawa pelan, melirik kearah bawahan setianya.

Takatora menganggukan kepala. "Masih ada waktu jika kau ingin menebus kesalahan. Entah apa yang akan direncanakan Ieyasu, tapi perang ini masih belum usai. Dinginkan kepalamu sebentar."

Suzu memilih untuk tidak menjawab, hanya mendengar dan menatap suaminya. Sembari mengusap dada, Suzu menghela napas untuk menaklukkan kecemasan dan ketakutannya. Mau tidak mau, ia harus menurutinya. "Um, aku mengerti."

-XXX-

"Kita harus menunda penyerangannya? Mengapa demikian?" tanya seorang jendral yang merupakan perwakilan dari klan Mouri, Nagachika. Pasukan Mouri baru saja datang di markas Hideyoshi yang berdiri tak jauh dari istana Komakiyama.

"Sebenarnya apa maksud semua ini? Apakah rencananya telah berubah?" tanya Hana pada Kanbei.

Pria berkulit pucat itu mengangguk. "Benar, ini keputusan dari Hideyoshi-sama itu sendiri. Kita harus menunggu bagaimana situasi pasukan rombongan Hidetsugu-sama."

"Bukankah kita harus merebut istana Komakiyama sementara Hidetsugu menahan pasukan Ieyasu dan Nobukatsu yang berada di istana Obata?" tanya Hana lagi.

Kanbei tak langsung menjawab, ia menatap perempuan yang protes di hadapannya itu. "Saya baru ingat, bukankah kau adalah putri dari Kobayakawa Takakage?"

Hana mengerjapkan matanya. "Memang benar, lalu kenapa?"

"Jika dia berada disini, saya yakin dia juga akan merencanakan hal yang sama. Demi mengurangi jumlah korban yang berjatuhan dengan percuma. Saya mengira kau telah menyadari itu."

Hana membelalakkan mata, dirinya seolah-olah dianggap tak memiliki pemikiran yang sama seperti ayahnya. Ia mengepalkan tangannya.

"Kanbei, jangan katakan itu. Apa kau tidak tahu bagaimana cara bersikap baik pada wanita?" Hideyoshi berjalan menghampiri mereka, ia tersenyum pada Hana. "Er... Shinhana-dono, Nagachika-dono. Aku sengaja mengubah rencana. Berdasarkan laporan, saat ini dia telah berpindah posisi ke istana Komakiyama. Mengingat lawan kita hari ini adalah Tokugawa Ieyasu, dia dapat memanfaatkan segala yang ia bisa. Karena itu aku sangat berhati-hati untuk mengambil keputusan."

Hana tak menjawab, Nagachika menyadari ritme napas istrinya yang terdengar berat. Ia menyentuh bahu Hana, memberi isyarat untuk memintanya menenangkan diri. Lalu Hana menghela napas, mencoba agar menahan emosinya. "Baiklah, kalau begitu izinkan kami menambah pertahanan di markas ini," ucap Nagachika pada Hideyoshi.

Hideyoshi mengangguk. "Hm! Mohon kerjasamanya."

-XXX-

Kiyomasa dan Masanori bergegas bergerak menuju istana Obata untuk menyelamatkan Hidetsugu. Disana mereka menemukan Hidetsugu yang tengah dilindungi oleh Mitsunari dan para prajurit. Selain itu, Yoshitsugu ternyata baru saja datang mendahului mereka.

"Ooh!? Yoshitsugu! Ternyata kau mendahului kami!? Ini tidak adil! Padahal aku ingin Mitsunari berterima kasih padaku!" sorak Masanori.

Yoshitsugu mendengus. "Aku merasa arus telah berlawanan pada kita sejak adanya laporan mengenai Ieyasu tak berada di istana Obata. Jadi aku segera menyelamatkan Mitsunari yang terjebak. Yah, sebetulnya aku juga mengharapkan bantuan."

"Ooh! Yoshitsugu memang hebat!" sorak Masanori lagi.

"Berisik, bodoh! Tunda dulu reaksi bodohmu itu!"

"Haaa!? Bukannya berterima kasih tapi kau malah mengataiku bodoh dua kali! Awas kau, kepala besar!"

"Kalian berdua, tenanglah! Tak ada waktu untuk saling menghina, sekarang kita harus menyelamatkan Hidetsugu-sama!" bentak Kiyomasa.

"...tapi rasanya aku merasa sedikit lebih baik melihat kalian bertengkar," gumam Hidetsugu. "Tapi, aku telah membiarkan pasukanku gugur mendahuluiku. Ini salahku..." Hidetsugu menundukkan kepalanya.

"Mereka telah menjalan tugas mereka dengan baik, Hidetsugu-sama. Karena itu, jangan sia-siakan perjuangan mereka," tegas Yoshitsugu dengan nada tenang khasnya.

Seorang jendral Tokugawa berbaju besi merah muncul dari hutan. "Bala bantuan datang lagi rupanya. Ini bukanlah masalah besar. Aku, Ii Naomasa. Prioritas utama kita adalah mengincar Hidetsugu! Semua, jatuhkan mereka!" seru Naomasa. Kini sejumlah pasukan bersenjata mulai mengepung mereka.

Kiyomasa mengarahkan pandangannya ke hutan, menemukan beberapa pasukan teppou yang bersiap menembak kearah mereka. "Jadi inikah alasan mengapa kalian tak dapat mengatasi mereka."

"Enyahlah, sampah Tokugawa! Semua, serang pasukan Tokugawa yang bersembunyi di hutan!" perintah Mitsunari.

"Kau naif! Jangan kira kau dapat lolos!" Secara mendadak, pasukan bala bantuan Tokugawa muncul dari belakang mereka. Berhasil telah mengepung mereka, pasukan Tokugawa mulai menghadang. "Maju!" sorak Naomasa.

"Uwoah, mereka datang lagi! Tapi ini bukanlah apa-apa!" Masanori mulai menghadang.

"Kami akan membuka jalan! Hidetsugu-sama, Mitsunari! Serahkan pada kami!" ucap Kiyomasa menoleh ke belakang.

Mitsunari menggigit bawah bibirnya, sebetulnya ia menolak untuk mundur, tak ingin mempermalukan dirinya di hadapan majikan dan rekannya. Tetapi demi keselamatan Hidetsugu, ia terpaksa menurutinya. "Mitsunari, bergegaslah," kata Yoshitsugu.

"Aku tahu...!" geram Mitsunari lalu mereka bergegas mengiring Hidetsugu.

-XXX-

Pasukan Hidetsugu akhirnya berhasil kembali ke istana Gakuden. Ketika matahari mulai terbenam, seluruh pasukan menunda penyerangan sampai matahari kembali terbit. Para prajurit melepas penat seraya menyembuhkan diri.

Suzu memandang satu persatu prajurit yang terluka. Hatinya tak bisa tenang, dikarenakan kecerobohannya ia masih menyalahkan diri karena telah menyebabkan banyaknya nyawa yang melayang.

Gadis itu bergegas mengumpulkan obat-obatan kemudian berlari menghadap Hidetsugu. "Hidetsugu-sama, permisi. Jika berkenan, mohon izinkan saya mengobati luka Anda."

"Suzu-dono? Ah, terima kasih banyak."

Suzu menggeleng. "Mohon anggap ini sebagai permintaan maaf saya. Memang ini belum cukup untuk menebus kesalahanku, tapi saya akan berusaha lebih keras lagi agar dapat membantu semuanya."

"Mengapa nona harus minta maaf? Seharusnya saya yang mengatakan itu. Saya telah mengecewakan ayahanda, bawahanku mati karena ketidakberdayaanku. Aku takkan bisa berhadapan dengan beliau. Apa yang harus saya lakukan sekarang...?" Pemuda itu mencengkram tombaknya dengan putus asa.

"Hidetsugu-sama..."

"Tak perlu ditanyakan lagi." Seorang gadis bersurai pirang panjang menghampiri mereka, ia mengambil perban lalu langsung mengobati Hidetsugu.

"Chacha-sama... nona tidak perlu repot men―"

"Jangan banyak bergerak, Anda bisa saja membuat lukanya terbuka lebar. Mohon tetap tenang, Hidetsugu-sama," sahut Chacha seraya melanjutkan pekerjaannya. "Gagal bukanlah bukti bahwa Anda lemah atau pun tidak berguna, Hidetsugu-sama. Besok, di hari yang akan datang, Anda harus menegakkan kepala dan memperjuangkan dengan sungguh-sungguh apa yang telah ditinggalkan oleh bawahanmu. Menjadi pendekar bukankah seharusnya demikian?"

Suzu maupun Hidetsugu hanya bisa terpaku menatap Chacha sejenak. Pria itu tersenyum dan mengangguk. "Baik, Chacha-sama."

"Suzu." Setelah selesai mengobati luka Hidetsugu, Chacha menarik tangan Suzu. "Ayo, masih banyak prajurit yang kesakitan. Kita harus segera membantu mereka."

"Ah, baik." Suzu membawa peti pengobatan lalu mengikuti Chacha. Dia tak bisa menahan senyumannya, selama ini Suzu tak pernah tahu bahwa Chacha begitu mudah mempedulikan orang disekitarnya.

Sementara itu di dalam tenda, para jendral kembali mengadakan pertemuan singkat. Sakon yang menjadi pengantar pesan memberikan surat pada Hidenaga.

"Hideyoshi tetap berada di markas sebelah utara, ya?" ucap Hidenaga yang masih membaca pesan dari saudaranya.

"Benar, besok rombongan Hidetsugu-sama ditugaskan kembali untuk merebut istana Obata dan menangkap Nobukatsu," sahut Sakon.

"Dan rombongan pasukan Hideyoshi tetap menunggu sampai pasukan Tokugawa di istana Komakiyama bergerak. Baiklah, kalau begitu. Kiyomasa, Masanori, aku menunjuk kalian berdua untuk mengawal pasukan Hidetsugu menuju istana Obata. Pastikan kali ini kalian dapat melakukannya.

"Baik!" Kiyomasa dan Masanori menundukkan kepala.

"Hidetsugu, apa kau bersedia?" tanya Hidenaga mengarahkan matanya kearah putra angkat Hideyoshi tersebut.

Hidenaga memberi hormat, "Ya, dengan mempertaruhkan nyawa ini, dengan sepenuh hati. Saya menerima kewajiban yang diserahkan pada saya!"

Takatora melirik kearah Hidetsugu. 'Mempertaruhkan nyawa', dulu dirinya juga pernah menyatakan hal yang sama pada mendiang majikan pertamanya, Nagamasa. Dahulu, ia menasehatinya untuk tidak membuang nyawanya. Bagaimana pun, apapun yang terjadi, ia telah diperintahkan untuk itu.

Disamping itu, Takatora kini mulai takjub pada Ieyasu, sama sekali tak merasa terpukul akan kemunduran yang dialami oleh Hidetsugu. Sang Penguasa Toukai tersebut seolah-olah telah memperhitungkan gerak-gerik pasukan Hashiba Hideyoshi. Tak salah orang itu dicap sebagai daimyo terkuat.

-XXX-

Setelah pertemuan berakhir dan para prajurit diizinkan untuk beristirahat. Takatora kembali menuju tendanya, ia tak menemukan Suzu di dalam. Setelah ia melepas baju besinya, ia segera pergi mencari Suzu.

Entah apa yang dilakukannya saat ini, Takatora tak dapat menebak. Tetapi ia yakin Suzu masih belum melepaskan rasa bersalahnya, entah karena kehilangan bel kecilnya, atau ceroboh melakukan tugasnya atau mungkin keduanya. Dia selalu mencari tempat yang sunyi untuknya agar bisa merenung.

Langkahnya berhenti ketika ia menemukan Suzu. Ia bersandar di sebuah pohon sakura, memeluk lutut dan menutup wajahnya dengan lengannya.

"Kau menangis?" ucap Takatora sembari menghampirinya.

Suzu menoleh ke belakang, meski dengan kelopak matanya terlihat lembab akan air matanya, Takatora tak menduga ia masih bisa tersenyum. Namun ia sadar bahwa memaksakan diri.

"Um... Aku benar-benar terburuk, ya," ucapnya sembari tertawa kecil.

"Oi..." Meski ia merendahkan dirinya sendiri, Takatora tak mau menerima ucapannya.

"Takatora-sama selalu menemukanku. Aku senang."

Pria itu menaikkan alisnya, tangan mungil gadis itu mencabut rumput disebelahnya dengan kuat. "Tapi kenapa kau mencabut rumput..."

Tangannya langsung berhenti. "Aku hanya... kesal dengan diriku sendiri." Takatora menghela napas, lalu duduk di samping istrinya.

"Kesal karena belmu hilang? Atau kesal karena kecerobohanmu sendiri?"

Matanya beralih ke angkasa, lalu kembali menenggelamkan wajahnya di lengan bajunya. "Tuan, Aku... hanya ingin menjadi lebih baik demi orang disekitarku, termasuk Takatora-sama. Aku kesal karena aku mengacau hari ini, tapi aku tidak bermaksud sengaja. Mungkin ini balasan karena menghilangkan belku." Telapaknya mengusap lehernya, seolah-olah ia merasa amat kehilangan. "Karena itu, aku ingin Tuan bersabar menghadapiku yang bodoh ini. Lain kali, aku akan berusaha lebih giat lagi kok..."

Takatora terkekeh pelan. "Memang bodoh, kau ini. Selama ini kau menganggapku bagaimana? Aku tidak pernah melarangmu untuk berjuang keras. Terlalu mudah khawatir adalah kebiasaan burukmu." Kemudian pria itu mendaratkan telapak tangan kanannya diatas kepala Suzu, ia dapat merasakan sensasi halus dan lembut melebihi sutra pada surai perak murninya.

Suzu mengangkat wajahnya, melirik kearah suaminya dengan netra merahnya yang masih basah. "Tuan tidak akan mengurungku atau pun mengikatku, 'kan?"

"Asalkan kau tidak melewati batas, aku tidak akan melakukannya." Senyuman senang tak tertahankan terukir di bibir merah jambu alaminya. "Berjuanglah..."

Suzu melebarkan senyumannya dan mengangguk. Sejoli itu memindahkan pandangan mereka ke angkasa malam. Entah sejak kapan kebiasaan Suzu menular ke Takatora, dirinya mulai menikmati memandang langit gelap yang tak berujung. Serta semerbak harum bunga sakura menyambut indera penciuman mereka.

"Nee, Takatora-sama... " Suzu menarik pelan jubah birunya, Takatora mulai menatapnya tapi Suzu masih tak memindahkan arah matanya. "Apakah Takatora-sama pernah memiliki harapan untuk melihat masa depan?"

Takatora mengerjapkan mata. Pemikiran yang aneh, tapi terdengar jelas bahwa Suzu sebenarnya mengharapkan itu. "Apa. Kau ingin melihat masa depan supaya kau tidak melakukan kesalahan lagi, bukan?" Takatora mengurut keningnya seraya menghela napas.

"Ah... haha, t-tepat sasaran," gumam Suzu tersenyum canggung.

"Sejujurnya tidak, tapi..." Seisi kepalanya mulai membayangkan andai kata ia bisa melihatnya. "Masa depan... 'kah?" gumamnya seraya mengarahkan pandangannya sama dengan Suzu.

Sepasang matanya tiba-tiba membulat sempurna ketika seisi kepalanya memunculkan sebuah ilusi. Ia sama sekali tak paham dan tidak ingat kapan gambaran itu terjadi padanya. Gambaran itu merupakan hal yang tak ingin ia lihat, nalurinya berkata demikian.

Karena, gambaran itu memunculkan seorang gadis bersurai perak mencucurkan darah. Darah segar tak mau berhenti mengalir dari mata, juga dada kirinya, dimana jantungnya berdetak. Tak hanya itu, yang membuat gadis itu berlumuran darah itu adalah―

Takatora itu sendiri.

Dadanya mulai terasa sakit dan sesak, bahkan kepalanya seolah-olah tertusuk jarum ketika melihat gambaran itu muncul di dalam kepalanya. Ia mencengkram rambutnya, memaksa bayangan dalam kepalanya itu untuk berhenti namun tidak bisa.

"Takatora-sama...?"

Suara lembut Suzu tak dapat mengembalikannya kembali dari renungan gelapnya. Gambaran itu telah menghantui dirinya. Kini ilusi itu berganti. Ia melihat seorang gadis bersurai perak berjalan menjauh darinya, dengan tatapan kosong melukiskan bahwa dirinya kehilangan tujuan hidup. Gadis itu menunggu, menunggu, dan terus menunggu. Tak peduli sudah berkali-kali musim silih berganti di sekitarnya. Tak peduli betapa panjangnya surai peraknya mulai tumbuh menyapu tanah. Hingga akhir hayatnya, ia tetap menunggu.

"Takatora-sama? Tuan kenapa...? Takatora-sama...!" Suzu mulai panik ketika memandang raut wajah suaminya berubah mendung dan ritme napasnya berat. Tangan mungil itu meraih wajah suaminya, kehangatan yang dirasakan pada pipinya mengembalikan kesadaran Takatora.

"...Suzu," lirihnya menatap istrinya, ia belum mengedipkan matanya.

"Ada apa, Takatora-sama? Tuan terlihat seperti melihat mimpi buruk. Ah, apakah Tuan lelah? Sebaiknya Takatora-sama istirahat..."

Takatora menurunkan tangan Suzu dari wajahnya, lalu menggenggamnya dengat erat, tak cukup kuat agar Suzu tidak kesakitan. "...ya, mungkin aku memang harus mengistirahatkan kepalaku." Ia menghela napas panjang dan memejam mata. Perlahan dadanya yang sesak mulai lapang ketika meremas pelan kedua tangan Suzu yang hangat dan lembut. "Terima kasih."

Suzu tak dapat menjawab rasa terima kasihnya, melihat air mukanya yang tiba-tiba memucat seperti tadi tak bisa membuat hatinya tenang. Ia ingin bertanya, tetapi ia memutuskan untuk menyimpan semua pertanyaannya itu karena tak ingin membuat suaminya berpikir terlalu banyak bahkan dengan keadaan seperti itu. "Anu... Takatora-sama. Kalau kita berhasil memenangkan perang ini, Tuan harus ikut bersamaku untuk pergi hanami bersama, ya!"

Takatora membuka matanya untuk mempertemukan manik merah Suzu dengan miliknya. Mimik wajahnya yang awalnya panik kini berubah, seulas senyuman mengembang menarik perhatian Takatora. "Tuan tidak boleh menolak! Ya?"

Takatora tak langsung menjawab, ia membalas senyuman dan menempelkan dahinya dengan dahi Suzu agar bisa lebih menenangkan hatinya. "Aku tidak mungkin menolak."

-XXX-

-xxx-

-XXX-

A/N : Phew. Capek deh. Banyak sekali karakter yang muncul... *author tepar* Bahkan demi kelanjutan fic ini, saya rela nonton yutub gameplay SW 4 dan Sanada Maru buat liat plot gameplay di Battle of Komaki-Nagakute dan beginilah hasil utak-atik abal yang saya bikin orz.

Nulis plot soal perang emang mendokusai. Yah, nanti Shikoku, Kyushu, dan Odawara apalagi Sekigahara sama Osaka juga harus saya lebih dalamin soal battle-nya. Dan saya pengen nulis soal character canon juga fic ini, bukan soal romansa Takatora-Suzu saja. Dunia bukan milik kalian berdua saja hoi. *di multi musou Takatora-Suzu* Alasannya yah karena... *lirik fic fandom DW yang discontinued*

Oh, dan juga saya (tidak) sengaja menulis supernatural disini. Ringan kok, ringan banget, seringan mungkin, gak berat kok *udahan woi*

Yosh, dengan membahana mohon berikan kritik dan saran di kotak review!