A/N : Update lagi! Maaf kalau chapter sebelumnya mengecewakan. Maaf sebesar-besarnya... Sekarang pun saya kurang pede soal chapter kali ini gegara terburu-buru. *pundung di pojokan*
RosyMiranto18
Suzu : Teppou-nin? Maksudmu pakai senjata tanegashima, ya?
Takatora : Lalu, apa yang kau bicarakan? Ishida Mitsunari akan berbalik melawan Ieyasu-
Suzu : EH!?
Scarlet : Gyaaa! Sop iler! Jangan dengerin! Itu cuma ramalan abal! *pasang headphone ke Takatora & Suzu*
Blossom : Woi. Ehem, soal cutscene Sanadamaru, aku gak tahu apa ada yang subtitle inggris. Waktu nemuin video-nya aku langsung donlot. Aku cuma bisa ngerti dikit dari subtitle japanese-nya sama ucapan karakternya...
Scarlet : Soal OC? Ahh, bukan sih. Tapi yah aku masih belum ada ide dimana harus naruh Asuka. *stres liat catatan* Okeh, makasih udah mereview!
Hayashinkage17
Takatora : Hm... itu bukan apa-apa. Aku hanya melakukan tugasku.
Suzu : Takatora-sama memang hebat. Sedangkan aku... eekh!
Takatora : *tarik hidung Suzu* Kau terlalu merendahkan diri, bodoh.
Scarlet : *gigit saputangan* PS3, aku pengen main PS3 juga hweee! Atau PS4 aja! Atau PSVita!
Takatora : Berisik! *bekuin Scarlet*
Blossom : Soal pertemuan Nagachika sama 'mbak yang itu' *dilempar bola sama Hayakawa*. Aku minta maaf, saking gak bisa berhenti ngetik karena terburu-buru, aku malah bikin pertemuan mereka kek gini. Gomen... *sujud gaje*
Blossom : Yosh, makasih udah mereview!
-xxx-
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Shinhana Kobayakawa and Nagachika Nomi belongs to Hayashinkage17.
Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal alias amburadul. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan flashback. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XoX-
Bell of the White Hare
-XoX-
CHAPTER 15
A Benevolent God
-XoX-
Fall, 1584
Setelah Ieyasu mengalami kekalahan di Owari, dia menarik mundur pasukannya kembali ke Mikawa. Meski kemenangan jatuh kepada Hideyoshi, namun secara taktik dalam perang Tokugawa lebih dominan. Andai kata pasukan Tokugawa memiliki jumlah pasukan lebih banyak, kemenangan pasti berpihak padanya dan kemungkinan besar semua rencananya dapat berjalan dengan mulus.
Beberapa dari pasukan Hashiba merasa tak menerima sepenuhnya kemenangan mereka, mengingat saat gerakan mereka seakan telah dibaca dengan mudahnya oleh Ieyasu. Namun beberapa juga menerima kekalahan mereka dalam strategi, karena lebih mementingkan hasil akhir yang mereka dapatkan. Akhirnya Hideyoshi memutuskan mengirimkan pesan pada Ieyasu untuk berdamai dan menunggu jawabannya.
Setelah pasukan Hashiba kembali pulang menuju Osaka. Pasukan Uesugi yang sebagai bala bantuan memohon izin untuk kembali menuju Kasugayama. Chacha mengantarkan mereka menuju ke depan gerbang keluar istana Osaka. Suzu yang mendampingi Chacha melihat keakrabannya dengan pemuda dari klan Sanada itu. Agar tak menganggu pembicaraan, Suzu menjarak dari mereka berdua. Mereka seakan telah berkenalan cukup lama.
"Menyebalkan. Sepertinya aku punya lawan yang berat, nya~."
Suzu menoleh ke belakang ketika mendengar lirihan suara perempuan. Ia menemukan perempuan itu duduk diatas atap dinding pembatas istana, memiliki surai coklat yang dikuncir samping atas kepalanya dengan pakaian yang terlihat sedikit asing bagi Suzu. "Ah, Anda siapa?"
"Nyaa!" Gadis itu tersentak kaget dengan suara layaknya seekor kucing lalu menolehi Suzu. "Ah, maafkan saya, nya. Berdiri diatas atap seperti ini memang kebiasaanku. Saya bukan orang mencurigakan, kok!" Gadis itu langsung turun dan menghampiri Suzu.
"Dari awal kau memang mencurigakan, senpai."
Gadis yang dipanggil sebagai senior itu langsung mengarahkan pandangannya ke pemuda yang bersandar di balik dinding. "Oh, diamlah kau..." geram gadis itu pada pemuda pemilik bertopeng mulut berwarna merah.
Melihat penampilannya, Suzu mengingat pemuda itu. Walaupun disaat penyerangan di istana Obata, ia memasang topeng mulutnya sehingga Suzu tidak begitu mengenali rupa wajahnya. Namun kini pemuda itu melepas topengnya, raut wajah pemuda itu terlihat malas dan tidak bersemangat. Rambutnya disanggul dan menyisakan beberapa helai anak rambutnya di sebelah kanan wajahnya.
"Ah, Anda..." Suzu kemudian membungkukkan badannya kearah pemuda itu dan menyinggungkan senyuman simpul. "Terima kasih banyak atas pertolonganmu pada waktu itu. Aku berhutang nyawa padamu, Sarutobi Sasuke-san."
Sasuke tertegun sejenak kemudian membuang muka. "...Aku tidak ingin terlibat dengan orang asing lagi, jadi kau tidak perlu berterima kasih padaku." Kemudian ia bergumam. "Lagipula jika kau tidak ada disana akan lebih mudah bagiku untuk berhadapan dengan shishou."
Suzu tak dapat mendengar suaranya yang tiba-tiba mengecil. "Nyahaha! Kau berkata begitu tapi telingamu memerah," ucap gadis itu menuding kearah Sasuke dan menyeringai. Nampaknya gadis itu juga tak mendengar bisikannya barusan.
"Hah... berisik," gumamnya lagi sambil mengangkat bahu.
Suzu hanya tersenyum canggung melihat keakraban mereka berdua. Lalu pandangannya teralih pada gadis disamping Sasuke, mengingat Sasuke juga merupakan shinobi. Apakah dia juga berada di pihak yang sama dengan pemuda itu, Suzu langsung bertanya. "Um, jadi artinya Sasuke-san adalah kouhai-mu. Berarti Anda juga shinobi, benar?"
"Yup!" Gadis yang merupakan senior dari Sasuke itu mengangguk kencang. Sedangkan disisi lain Sasuke bergidik ngilu ketika Suzu menyebut dirinya kouhai dari gadis itu, merasa tak sudi dipanggil demikian.
"Ah, maaf telat memperkenalkan diri. Namaku Tōdō Suzu."
"Ng~ nona sudah memperkenalkan diri tapi sayangnya aku tak memiliki nama untuk kuberitahu padamu..." Gadis itu menggaruk pipinya dengan telunjuk, ia terlihat sedikit kesusahan untuk memberitahunya.
"Ah, maaf tiba-tiba. Kurasa seorang shinobi memang tidak seharusnya terang-terangan memberitahu nama, ya."
Air mukanya langsung berubah ketika ia seakan terlihat menemukan ide. "Ah, tapi nona boleh memanggilku 'Kuno-chin'!"
"Ah, haha... plesetan dari kunoichi, ya." Suzu hanya bisa memberikan senyuman canggung menanggapinya.
"Heh, nama yang mengerikan..." komentar Sasuke.
Kunoichi mengabaikan cemoohan Sasuke, lalu ia berkacak pinggang. "Disamping itu, aku tidak habis pikir kalau kamu rela memberitahu namamu pada nona ini. Tidak biasanya kau seperti itu."
Sasuke terdiam sejenak, melihat reaksi pemuda itu membuat seisi pikiran Suzu bahwa ia terlihat menyembunyikan sesuatu. Namun mengingat ia tak memiliki bukti kuat, Suzu langsung mengabaikan firasatnya. "Itu bukan urusanmu. Tapi kuberitahu padamu..." Sasuke menolehi Suzu. "Hanya karena kita telah saling memberitahu nama masing-masing. Jangan berharap kau dapat mempercayai aku, termasuk dia ini. Jadi sebaiknya kau jangan lengah," ucap Sasuke dengan nada suaranya yang datar sembari menunjuk Kunoichi dengan jempolnya.
"Hei! Apa maksudmu!?" bentak Kunoichi.
"Nah, kalau kita tetap mengobrol disini, Yukimura-sama akan meninggalkanmu, lho, senpai..." Sasuke langsung pergi dengan melipat tangannya di belakang kepala.
Dengan wajah cemberut, Kunoichi menghela napas dan segera menyusul. "Ya, ya! Sampai jumpa, nona!"
Suzu menundukkan kepala dan tersenyum simpul. Meratapi dua shinobi itu berjalan menjauh darinya, senyuman Suzu langsung menghilang begitu mengingat ucapan yang terdengar seperti sebuah peringatan dari Sasuke barusan.
Ia mengatakan itu seolah-olah pemuda itu menganggap Suzu terlalu mudah mempercayai orang dan juga terlalu mudah untuk dipancing.
Tak hanya itu, firasatnya yang datang sebelumnya kembali menyinggahi kepalanya. Ia tak ingin berprasangka buruk dan mencurigai orang di sekitarnya bahkan pada orang yang baru ia kenal. Karena ia takut firasatnya itu salah dan akan mengurangi kepercayaan pada orang yang ia percayai jika mereka sadar akan pemikirannya.
Selain itu, gadis yang menyebut dirinya Kuno-chin itu kembali mengingatkan Suzu bahwa Sanada pernah bernaung dibawah pimpinan Takeda. Dan jika benar gadis itu adalah salah satu murid dari Mochizuki Chiyome, apakah mungkin kunoichi itu mengenal kakaknya, Kagome. Seharusnya dari awal ia ingat tentang itu dan menanyakannya pada mereka. Lebih dari satu tahun sang kakak tak pernah datang menemuinya sejak di Shizugatake. Kini Suzu tak bisa berhenti mencemaskannya.
Suzu menghela napas, awalnya ia berniat untuk kembali. Namun langkahnya berhenti ketika melihat putri tengah dari mendiang Nagamasa, Ohatsu, tengah memandang kakaknya. Ia berdiri di depan pintu istana.
"Ohatsu-sama," sapa Suzu setelah menghampirinya dan menundukkan kepala.
"Ah, Suzu. Ternyata kamu juga berada di sini." Melihat senyuman ramah Ohatsu membuat Suzu teringat kembali akan ibunda dari gadis belia itu. Paras menawannya begitu mirip dengan Oichi. "Lihatlah, Suzu. Kurasa ini pertama kalinya kita melihat ane-ue tersenyum setelah berapa lama."
Suzu mengalihkan pandangannya pada Chacha yang tengah berbicara dengan pria dari klan Sanada itu. Ia yakin ingatannya benar kalau nama pria itu adalah Yukimura dari klan Sanada. "Nona benar, aku merasa amat lega melihatnya. Kuharap pria itu dapat membuka hati Chacha-sama."
"Kita berpikiran sama." Ohatsu tertawa kecil.
Disisi lain, pria bernama Sanada Yukimura itu mulai menaiki kuda. Sedangkan Kagekatsu yang didampingi oleh Kanetsugu juga menunggangi kuda mereka masing-masing.
"Nah, mari kita berangkat menuju Kasugayama!" ucap Kanetsugu.
"Kalau begitu, saya mohon pamit, Chacha-sama. Saya akan kembali menuju Kasugayama." Yukimura menundukkan kepalanya dihadapan Chacha.
"Omong-omong, kapan kau akan kembali ke Ueda? Sampai kapan kau akan tetap menjadi sandera dari Uesugi?" tanya Chacha.
"Saya juga tidak tahu. Tapi demi keselamatan Sanada, saya akan menuruti perintah chichi-ue bagaimana pun caranya."
"Begitu... Jaga dirimu."
Yukimura tersenyum. "Baik, Chacha-sama juga, semoga kita dapat bertemu lagi."
Chacha tertegun sejenak lalu menjawab dengan pelan. "...Ya. Semoga."
-XXX-
Setelah Uesugi berangkat pulang menuju Kasugayama, Suzu bergegas kembali menuju kediamannya. Sebelumnya, Takatora sudah pergi ke istana untuk mengadakan pertemuan bersama majikannya, Hidenaga. Matahari yang sudah naik namun masih terasa hawa dingin berkat musim gugur begitu menyejukkan bagi Suzu.
Setibanya di kediamannya, ia menemukan Takatora yang tengah sibuk melakukan persiapan. Nampaknya ia akan pergi ke tempat yang jauh untuk melaksanakan tugasnya. Tanpa berpikir lebih jauh, Suzu bergegas membantu suaminya.
"Hari ini ada tugas baru, ya, Takatora-sama?"
"Ya, aku akan pergi ke Nara untuk membangun ulang kastil Yamato Koriyama. Hidenaga-sama akan pindah kesana. Mungkin aku akan berada disana dalam waktu yang lama."
Nara, wilayah itu berada di sebelah timur Osaka. Memang tak terlalu jauh, tapi juga tidak dekat. Kali ini Suzu akan sendirian menetap di rumah untuk kesekian kalinya. Itu juga merupakan salah satu alasan mengapa Suzu ingin menemani suaminya menginjak medan perang. Dan dia tak menyalahkan Takatora akan hal itu. "Begitu ya..."
Suzu berusaha menjaga nada suaranya agar Takatora tak berpikir bahwa ia kecewa. Namun Takatora sadar dan paham betul kalau Suzu juga tak ingin membebani suaminya. Sang suami berbalik menghadapnya, merengkuh tubuh mungil Suzu ke dalam pelukannya kemudian mendaratkan telapak tangan kanannya diatas kepalanya. Membelai sembari menikmati surai peraknya yang halus bagai sutra dengan pelan.
"Setelah aku kembali, aku akan menepati janji untuk pergi hanami bersamamu."
Suzu menengadahkan wajahnya untuk menatap sang suami, lalu memberikan senyuman khasnya. Meski awalnya ia berniat memberikan senyuman untuk meyakinkan Takatora, ia secara tak sengaja membiarkan alisnya menyempit. "Ya. Tapi kumohon jangan memaksakan diri..."
"Aku tahu. Kau juga." Takatora meraih pipi Suzu lalu menurunkan kepala, memberikan kecupan singkat pada keningnya lalu ke bibirnya. Dengan cepat, wajah Suzu yang awalnya putih kini merona kemerahan.
"Aku pergi. Jaga dirimu. Aku akan menunggu surat darimu."
"Ya, Takatora-sama. Hati-hati." Senyumannya kembali mengembang pada paras cantiknya.
Setelah berjalan keluar dari pekarangan Osaka, Takatora mengeluarkan sebuah omamori dari jubah birunya. Mengingat Suzu memberikannya hadiah yang merupakan sebuah jimat keberuntungan, ia merasa tak cukup memberikan istrinya sehelai tenugui merah yang pernah dirajutnya dulu. Setidaknya ia ingin mencari pengganti yang pantas untuk kalung lonceng kecilnya yang hilang. Memilih hadiah memang jarang dilakukannya bahkan jika hadiah itu diberikan pada seorang perempuan.
Kemudian ia menghela napas seraya memasukkan kembali jimat keberuntungan itu ke dalam saku dada dari dalam jubahnya. Prajurit yang menunggu Takatora mempersilahkannya untuk menunggangi kuda. Hidenaga berencana akan menyusulnya beberapa hari yang akan datang, ia telah meminta bawahannya untuk memeriksanya terlebih dahulu sampai Hidenaga datang ke Nara.
Setelah menjalankan kudanya cukup jauh, ia memasuki jalan pintas melewati hutan. Melihat sebuah benda yang berbentuk topeng burung gagak terletak diatas tanah. Takatora langsung menarik tali untuk menghentikan kudanya, ia mengenal topeng itu.
"Hee... nampaknya sekarang kau sudah menjalani kehidupan bahagia dengan kelinciku, ya."
Mendadak seorang wanita turun dari atas. Beberapa helai daun mulai berguguran seiring ia mendarat. Kemudian wanita bersurai hitam panjang yang dikepang tersebut mengambil topengnya yang sepertinya sengaja dibiarkan jatuh diatas tanah.
"Kau rupanya, Onna. Selama ini Suzu ingin bertemu denganmu tapi mengapa kau malah muncul dihadapanku," balas Takatora.
"Awalnya aku ingin, tapi aku berubah pikiran. Lagipula aku yakin kelinciku pasti akan memintaku untuk tinggal bersamanya." Kagome kembali memasang topeng burung gagaknya diatas kepala lalu menyilangkan tangan di depan dada menghadap lawan bicaranya.
"Lalu?"
Kagome lalu mengeluarkan sebuah kantong kecil dari dalam pakaiannya lalu melemparnya ke Takatora. "Bukankah dia sangat ceroboh? Menyelinap sendirian di istana yang besar bahkan ditemukan oleh shinobi dari klan Iga... Beruntung ia masih hidup."
Sambil mendengarkan Kagome, Takatora membuka kantong tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah pecahan lonceng kecil berwarna emas. Takatora tak pernah menyangka benda tersebut akan pecah begitu parahnya.
Kagome menempelkan sisi tepi tangan kanannya pada lehernya, memberikan sebuah tanda isyarat pada Takatora. "Yah, entah beruntung atau tidak. Tapi berkat lonceng itu, kepalanya tidak terpenggal pada malam itu juga."
Maksud dari ucapan wanita itu membuat jantung Takatora berdetak keras dan darahnya mendidih. Jika ia tak memakai kalungnya, Suzu pasti akan mati. Pemikiran itu membuat Takatora tak dapat mengendalikan ketenangannya. "Kalau kau sudah tahu nyawanya dalam bahaya, kenapa kau tidak menolongnya!?" bentak Takatora pada Kagome.
Kagome mengistirahatkan kedua tangannya di pinggang dan menaikkan sebelah alisnya. Menatap pria itu dengan bingung. "Oh, ayolah. Bukankah kelinciku masih hidup?" desahnya sembari mengurut dahi. "Aku sengaja karena aku ingin melihat sampai sejauh mana dia berkembang. Apakah aku melakukan hal yang salah sebagai kakaknya?"
Takatora tak dapat menjawab perkataannya. Meski niatnya benar, tapi nyawanya hampir melayang. Ditambah, Suzu masih hidup berkat lonceng tersebut melindunginya. Apalagi itu juga merupakan salahnya sendiri karena mengizinkan Suzu untuk menyelinap bahkan membiarkannya ikut menginjak medan perang.
"Jika aku boleh mengatakan ini... Sepertinya aku mulai percaya kalau jiwa kedua orang tua kami masih hidup dan melindunginya. Selalu ada pengecualian untuk segala hal, lonceng itu pasti akan hilang atau bahkan hancur seperti itu. Entah benda itu bisa diperbaiki atau tidak, aku tidak tahu. Jadi aku menyerahkannya padamu." Kemudian Kagome berbalik lalu berjalan menjauh darinya.
Wanita itu benar. Takatora sendiri tak menyangka wanita itu berubah menjadi sosok seorang kakak sungguhan untuk Suzu. Ritme detak jantung Takatora kembali harmonis setelah ia menghela napas. "Tunggu." Kagome menoleh ke belakang. "Apa alasanmu tidak ingin menemui Suzu?"
Kagome kembali membalikkan badan dan kembali melipat tangannya. "Kau tahu, bukan? Penyuka dongeng seperti dirinya pasti ingin hidup bahagia. Sedangkan aku yang hampir merenggut segalanya dari Suzu, tak pantas berbagi kehidupan yang sama dengan dirinya."
Takatora mengerjapkan mata lalu terkekeh. "Jika dia mendengarmu mengatakan itu, aku yakin dia pasti akan menyangkalnya."
Kagome mendengus pelan. "Kini kau mulai paham betul bagaimana sifatnya. Kau memang benar. Tapi aku lebih suka dan terbiasa seperti ini. Apakah aku sudah mengatakan kalau aku menyerahkan Suzu padamu?"
"Kau tak perlu mengingatkanku."
"Begitu. Syukurlah..." Kagome lalu membalikkan badan lalu melompat ke dahan pohon. "Oh, aku lupa bilang. Apapun alasanmu, aku takkan memaafkanmu jika kau membiarkan kelinciku kesepian. Dan satu lagi, namaku Sango. Terserah jika kau ingin memberitahunya pada kelinciku atau tidak."
Menatap wanita itu menghilang dengan sekejap, Takatora mengikat kembali kantong tersebut dan menyimpannya. Kemudian melanjutkan perjalanannya kembali menuju Nara. Takatora berencana untuk mencoba memperbaiki loncengnya dan memberikannya pada Suzu setelah ia pulang ke Osaka.
-XXX-
"Akhirnya... Kalau saja aku berangkat dengan kapal, mungkin perjalananku tidak akan lama. Tapi aku yakin Chōsokabe pasti akan menghancurkan kapal asing dari wilayahnya," dengus Aki.
Dengan hati-hati, Aki turun dari kuda kemudian menarik talinya sembari berjalan menuju gerbang yang didampingi bersama Sengoku Hidehisa. Prajurit yang tengah berjaga di depan gerbang langsung menghampirinya.
"Saya datang sebagai perwakilan dari Hashiba untuk bernegosiasi dengan Chōsokabe Motochika," ujar Aki sembari memberikan sepucuk surat pada prajurit tersebut.
"Oh, kau datang sampai sejauh ini." Seorang wanita bersurai merah jambu bergaya afro yang nampaknya menyenangi budaya Barat, muncul di hadapan Aki.
"Padahal aku tak pernah ingin melihat wajahmu." desah Aki. Wanita itu sudah menduga air muka yang terukir pada wajah Aki. Sepasang alisnya menyempit dalam amarah. Namun wanita itu membalas tatapannya dengan sebuah senyuman yang lebih mirip dengan seringai menggoda.
"Dan, tapi kau ingin bertemu dengan Motochika, bukan?" sambung wanita itu dengan nada suara yang mengusik, kemudian menyentuh dagu Aki dengan telunjuk. Prajurit yang dibawah naungan Aki dan Hidehisa terpana melihat kecantikan wanita itu.
Aki langsung menampar tangannya dari wajahnya. "Hentikan kebiasaan burukmu itu, Koshōshō. Antarkan aku pada Motochika-dono sekarang juga."
"Cih, membosankan," keluh wanita itu. "Yah, mau bagaimana lagi. Baiklah, ikuti aku."
Wanita bernama Koshōshō itu memerintah pasukan untuk membuka gerbang. Pandangan mereka langsung tersuguhi oleh ketentraman serta keramaian penduduk di kota itu. Namun kebahagiaan yang terpancar pada wajah mereka menghilang seketika ketika melihat bendera yang berlambangkan pasukan Hashiba. Hampir seluruh dari penduduk tersebut berpikir bahwa perang akan mengotori tanah dimana mereka hidup.
"Wah, wah, padahal aku berharap mereka menyambut kita dengan baik," ucap Koshōshō melirik kearah pria yang berjalan di belakangnya.
Aki tidak langsung membalas, bahkan ia tak berniat melihat wajah para penduduk yang seakan ingin mengusirnya. "Bukankah itu karena salahmu, wanita pembawa nasib buruk."
Koshōshō tertawa pelan. "Kau tak perlu menggertakku. Aku bangga dengan sebutan itu, kau tahu."
Sesampainya di istana Okō. Koshōshō lalu menyuruh Aki dan Hidehisa memasuki di ruang pertemuan. Di depan mereka, seorang pria tengah duduk di tengah depan ruangan seakan telah menunggu kedatangan mereka.
"Sudah lama tak bertemu. Kimura Aki," sambut Motochika.
"Ya, Motochika-dono. Alasanku datang kemari untuk bernegosiasi dengan Anda, atas perwakilan pasukan Hashiba." Aki memberikan sepucuk surat pada pelayannya lalu memberikannya pada kepala klan Chōsokabe tersebut.
Setelah tak berapa lama Motochika membacanya, ia terdiam lalu melipat kembali kertasnya. "Aku akan membahasnya dengan para bawahanku." Lalu dia menoleh kearah Koshōshō. "Antarkan mereka ke kamar tamu." Lalu ia kembali menatap Aki. "Kau boleh beristirahat sejenak disini sampai kami selesai mengambil keputusan. Pasti perjalananmu cukup melelahkan setelah jauh-jauh datang kemari."
"Ya, terima kasih."
-XXX-
Spring, 1585
Sepasang matanya terpejam, menikmati semilir angin yang menyapu kulitnya. Kelopak bunga sakura yang mekar berterbaran dengan lebatnya kian kemari, hampir menandingi salju dan lebih indah dari salju. Langit biru yang tak berujung terlihat begitu bersih, dihiasi dengan gumpulan awan putih membuat suasana hati Suzu begitu tenang.
Gadis itu kemudian membuka matanya ketika menyadari kelopak bunga berwarna merah jambu mendarat diatas bukunya. Dengan perlahan ia beringsut mundur agar dapat menyandarkan punggungnya pada pohon, dia memainkan kedua kakinya dengan menggoyangkannya ke depan dan ke belakang.
"Sepertinya aku memang tidak bisa mengubah kebiasaanku duduk diatas pohon." Lalu ia memegang bukunya yang ia taruh diatas pahanya, mendekatkannya di depan bibirnya, kemudian meniup pelan kelopak bunga sakura yang berkumpul di atas bukunya. Dengan seulas senyuman pada wajahnya, gadis bersurai perak itu mengunci pandangan netra merahnya pada kelopak merah jambu yang bermekaran di depannya.
Namun akhirnya pupil matanya yang besar itu teralihkan begitu melihat seorang pria yang tengah Suzu tunggu kedatangannya. Biji mata birunya terkunci memandang gadis anggun itu dari bawah. Suzu memaparkan senyuman khasnya dengan senang ketika mata mereka saling bertemu pandang.
"Ah, selamat datang kembali, Takatora-sama!" Suzu melambai kecil kearah suaminya.
Senyuman yang mengembang pada wajah Suzu membuat Takatora tak pernah berpikir panjang untuk membalas senyumannya. "Di saat senggang seperti ini, sudah kuduga kau akan memanjat pohon lagi," desah Takatora berjalan mendekati pohon sakura, masih mengarahkan biji mata biru gelapnya keatas. "Kurasa lain waktu aku akan mengajakmu ke benteng yang aku rancang agar kau bisa melihat pemandangan dari atas."
"Ah, aku mau. Aku suka tempat tinggi! Omong-omong, Takatora-sama 'kan sekarang sudah senggang? Bagaimana kalau Tuan duduk disini bersamaku? Ah..." Ia berhenti bicara, kemudian langsung melompat turun dari pohon. Lalu ia menghampiri suaminya, mencondongkan tubuhnya ke depan kemudian menatap lekat wajahnya selama beberapa detik.
"Takatora-sama, sebaiknya Tuan benar-benar harus istirahat..." Takatora menaikkan alisnya, melihat raut wajah istrinya yang cemas sekaligus kecewa. Belum sempat menjawab, Suzu menariknya untuk duduk di roka. "Aku akan menyiapkan teh untuk Tuan. Jadi mohon tunggu sebentar."
Tak sempat Suzu berjalan masuk ke dalam rumah, Takatora langsung menahan pergelangan tangan Suzu. "Itu bisa nanti. Duduklah."
Kedua manik merahnya berkedip, lalu ia menuruti ucapan suaminya, Suzu lalu duduk di samping Takatora. "Padahal kita sudah bisa hanami bersama, lho?" Suzu menolehi Takatora, memiringkan kepalanya.
"Bukankah ini sudah adil? Kau tak mau meninggalkan kebiasaanmu duduk di atas pohon. Sedangkan aku..." Dia merubuhkan sisi kepalanya diatas paha Suzu dan menghadap kearah taman. Rasa lelah yang menguasai dirinya mulai terasa ringan.
Wajah manisnya bersemu rona kemerahan, Suzu tertawa kecil. "Iya ya..." Dibelainya tiap helai surai hitam miliknya dengan pelan, sentuhan lembutnya begitu nyaman. Ia tak keberatan berisitirahat dengan posisi sekarang sampai ia benar-benar terlelap. Meskipun begitu, Suzu pasti akan menariknya masuk ke dalam kamar agar bisa istirahat lebih nyenyak, tak ingin membiarkan suaminya kedinginan.
"Apakah sesuatu terjadi saat aku pergi?" Dipejamnya kedua matanya untuk beristirahat sementara. Ingin merasakan belaian halus pada surai hitamnya.
"Um... tidak ada yang khusus. Tapi aku menemukan resep teh baru untuk menghilangkan lelah, aku mencampurkannya dengan ramuan. Aku ingin membuatnya sekarang dan mendengar bagaimana pendapat Tuan..."
Takatora tertawa pelan dengan hidungnya. "Dasar cerewet. Sudah kubilang itu bisa nanti."
"A-Aku juga akan membuat sakura mochi, lho!"
Takatora tertegun sejenak dan membuka matanya. "...kau ingin mengusikku dengan makanan?"
"Eh? Tidak... Tapi kalau Takatora-sama ingin istirahat dulu, aku sama sekali tidak keberatan kok."
"Hm..." Takatora kembali memejamkan mata, Suzu dengan senang hati membiarkan Takatora terlelap diatas pangkuannya. Sembari merasakan aroma semerbak sakura, Suzu menengadahkan wajahnya untuk memandang pohon sakura yang tumbuh besar di halaman belakang rumahnya itu.
Ketika Takatora mulai membenahi posisinya, itu merupakan pertanda bahwa Takatora sudah kembali bangun. Meski hanya sebentar, Takatora kembali membuka matanya seraya mengusap matanya yang sedikit mengabur. "Nee, Takatora-sama. Apakah Tuan menyukai sakura?"
Takatora mengalihkan pandangannya pada wajah tersenyum Suzu lalu berpindah ke pohon sakura. "Sakura, 'kah...? Entahlah, tapi aku berpikir kelopak yang berguguran itu... sama sekali tidak ada artinya."
"Eh...?" Suzu mengerjapkan matanya terkejut akan jawaban sang suami.
"Kurasa akan lebih baik jika bunga itu bermekaran dan tidak akan berguguran. Tetap bertahan di ranting dimana mereka hidup."
Suzu terdiam merapatkan bibirnya.
"Sepertinya dulu kau pernah mengatakan hal yang mirip denganku." Takatora lalu meraih wajah Suzu. "Jangan memasang wajah seperti itu. Awalnya aku berpikir demikian, kini pikiranku tentang sakura entah sejak kapan mulai berubah. Kurasa tak ada salahnya jika menyaksikan keindahan sakura itu. Lagipula, setiap tahun mereka akan kembali bermekaran."
Suzu tersenyum sedih. "Yah, dulu aku masih kecil. Aku tak mengerti apapun. Tidak menerima kepergian mereka dan tetap menolak kebenaran, terdengar sangat egois, ya?"
Sang suami kemudian beranjak, memposisikan dirinya untuk duduk di samping Suzu. "Kita sama," dengus Takatora sembari membalas senyumannya. Kemudian Takatora mengeluarkan sesuatu dari kantong dadanya. Suzu penasaran benda apa yang ia ambil dari jubahnya.
"Kakakmu menemukan pecahan loncengmu dan aku memperbaikinya." Takatora membuka telapak tangannya. Netra merah Suzu membulat ketika melihat sebuah benda bulat kecil berwarna emas. Takatora membuka telapak tangan Suzu dan menaruhnya diatasnya.
"Nee-sama...? Tuan bertemu dengan nee-sama?" tanya Suzu dengan suara bergetar dan menggenggam erat lonceng itu.
"Ya, tapi suatu saat jika dia berminat, dia pasti akan datang menemuimu. Bersabarlah."
Sepasang mata Suzu mulai berkaca-kaca, tawa kecil meluncur dari mulutnya. Memejamkan matanya dan menekan genggaman tangannya di depan wajahnya. "Terima kasih. Akan kuusahakan untuk tidak menghilangkannya lagi."
Takatora mengusap air mata kebahagiannya kemudian menjalin tangan mereka, lalu mengarahkan netra mereka kearah pohon sakura.
"Aku... ingin melihat bagaimana kedamaian dunia, yang selama ini Nagamasa-sama ingin ia capai berkat Takatora-sama dengan mataku sendiri..."
"Ya. Kita berdua pasti bisa melihatnya."
-XXX-
Tak selang berapa hari setelah kepulangan Takatora dari Nara. Hideyoshi mendapat kabar bahwa Ieyasu menerima surat perdamaiannya dan hendak berkunjung ke Osaka.
Hideyoshi memutuskan untuk mengadakan upacara minum teh untuk menyambut kedatangan Ieyasu. Sang ahli chanoyu, Sen-no-Rikyū yang seperti biasa ditunjuk sebagai kepala upacara nanti, ia tengah mempraktikkan tehnya di hadapan muridnya.
"Rikyū-sama. Ternyata aku memang tidak bisa membuat teh seenak dengan punya Tuan," desah Suzu.
"Kau mau menyerah begitu saja!?" Rikyū tiba-tiba membentak.
"T-Tidak kok, Rikyū-sama!" jawab Suzu panik dan menundukkan dalam.
"Lalu kau anak kecil yang disana! Dari tadi kau hanya meminum semua teh yang aku praktikkan! Setidaknya kau juga coba pelajari bersama Suzu!" Rikyū menuding gadis bersurai merah jambu yang tengah meminum teh yang telah diseduhi dengan sebuah mangkuk. "Caramu meminum dan memegang mangkuk juga salah! Dimana tatakramamu, nak! Lihatlah bagaimana Hana-dono meminum tehnya!" Kemudian pria tua itu menuding Hana yang dengan posisi duduk dengan dada tegap dan kaki dilipat ke belakang. Merasa dipuji, Hana hanya tertawa kecil menanggapinya.
Natsuko bergidik. "Uwah, Rikyū-sama kenapa galak, sih? Tehnya enak sekali, lho."
Pria tua itu tertegun lalu melipat tangannya. "Kau baru mengakui kehebatanku? Haha! Terlalu cepat seratus tahun bagimu untuk memujiku, bocah!" Lalu ia tertawa lebar. "Baiklah, Suzu. Kau harus belajar lebih, kurasa kau hanya perlu lebih menyempurnakan tekniknya. Kali ini biarkan aku saja yang membuat tehnya. Kau dan Natsuko akan melayani tamu. Kalian bisa, 'kan?"
"Ya, Rikyū-sama..." Suzu dan Natsuko mengangguk.
"Suara kalian terlalu kecil! Lebih keras!" bentak Rikyū lagi.
"Y-Ya, Rikyū-sama!" seru Suzu dan Natsuko panik.
"Nah, Suzu! Bantu aku membuat manisannya! Setelah selesai kau boleh mengganti pakaian dengan kimono yang cantik! Sebagai wanita kalian harus memaparkan kecantikan kalian!" tegas Rikyū.
"B-Baik!" ucap Suzu dengan suara keras.
"...Rikyū-sama semangat sekali. Seperti prajurit saja." gumam Hana dengan setitik keringat menurun dari pelipisnya.
Tak berapa lama kemudian, Ieyasu serta bawahannya sampai di Osaka. Dengan sambutan dan rasa hormat yang tinggi, Hideyoshi mempersilahkan Ieyasu memasuki istananya. Pemimpin Tokugawa itu dipersilahkan memasuki sebuah ruangan khusus yang telah disiapkan untuk mengadakan upacara minum teh. Ruangan tersebut telah dihiasi dengan beberapa kaligrafi dan dekorasi bunga. Serta pandangan mereka tersuguhi oleh keindahan taman diluar.
Upacara berjalan dengan khidmat, ketenangan yang menyambut mereka hanya terdengar bunyi angin menggesek dedaunan di luar taman, serta suara air yang menetes di pancuran, dan air mendidih di tungku kecil pojok ruangan. Juga suara percakapan antara Hideyoshi dan Ieyasu yang duduk paling ujung.
Sementara itu, Hana yang juga ikut melayani tamu mengalihkan pandangannya pada seorang wanita anggun yang bersurai hitam panjang. Netra biru pirusnya yang indah bertemu dengan manik milik Hana. Entah mengapa dari lubuknya hatinya, rasa rindu yang amat mendalam menyinggahi hatinya sekarang.
"Hana-dono? Nona baik-baik saja?" bisik Suzu.
Hana tak menjawabnya, ia bergegas undur diri diam-diam tanpa sepengetahuan penghuni ruangan kecuali Suzu dan wanita yang Hana tatap sedari tadi. Wanita itu ikut undur diri dengan diam-diam dan mengikuti Hana. Suzu yang penasaran apa yang terjadi pada Hana tak bisa meninggalkan ruangan karena ia yakin Rikyū tidak akan mengizinkannya.
Setelah upacara berakhir, dua pemimpin tersebut kemudian bernegosiasi mengenai syarat perdamaian mereka. Sebagai bagian dari perjanjian, putra kedua Ieyasu, O Gi Maru, menjadi anak angkat Hideyoshi. Hideyoshi kemudian mengirim ibu kandungnya, Ōmandokoro sebagai tawanan dan memberikan adik perempuannya Asahi-hime pada Ieyasu untuk menjadikannya sebagai istri.
-XXX-
Setelah keluar dari ruangan, Hana berhenti berjalan di lorong istana. Ia meremas dadanya yang mendadak sesak dengan erat.
"Hana? Ada apa denganmu?" Mendengar namanya dipanggil oleh sang suami, Hana bergegas mendekatinya.
"Nagachika, mungkin aku salah mengira tapi... sepertinya aku sudah menemukannya..." lirih Hana dengan suara bergetar.
"Menemukan...?" gumam Nagachika kebingungan.
"Hana!" Sepasang sejoli itu langsung berbalik menghadap wanita bersurai hitam lurus yang terengah-engah mengejar Hana. "Hana, Shinhana putriku. Nagachika, beritahu aku. Aku benar, 'kan? Dia adalah putriku yang selama ini ingin kutemui, bukan?"
Nagachika terpaku sejenak, tak pernah terlintas di pikirannya bahwa mereka akan dipertemukan kembali disini. Setelah bertahun-tahun lamanya, takdir telah mempertemukan mereka. "Benar, hime-sama..." Nagachika tersenyum.
Sang ibu dan putrinya kembali saling menatap, sepasang mata mereka berkaca-kaca. Wanita itu mengusap wajah Hana kemudian memberikan pelukan hangat. Dengan rasa rindu yang amat besar seketika membahagiakan raga mereka masing-masing.
Wanita bernama Hayakawa itu perlahan melepas pelukan erat putrinya ketika ia mengingat sesuatu. "Nagachika, mohon antarkan kami ke ruangan kalian. Kita harus tetap menjaga rahasia ini." Kemudian ia menggenggam erat tangan Hana yang masih terpana tak percaya. "Lalu setelah upacara selesai, mohon beritahu pada Ujizane-sama. Beliau masih berada di dalam."
"Baik, hime-sama."
Setelah upacara chanoyu berakhir, Suzu bergegas mencari Hana. Namun ketika ia hendak berbelok menuju lorong istana. Gadis itu hampir menabrak seorang pria.
"Ah! Maaf...!" Suzu mengangkat wajahnya untuk melihat siapa pria itu.
"Suzu? Aku sedang mencarimu. Apa kau sudah selesai dengan upacaranya?"
"Oh, Takatora-sama. Ada apa?" Suzu tiba-tiba mengingat sesuatu. "Omong-omong, apakah Hidenaga-sama sudah pindah ke istana Yamato Koriyama, Tuan?"
"Rencananya sekarang, tapi jadwal berubah. Jadi besok beliau akan berangkat. Karena hari ini Ieyasu datang berkunjung ke Osaka untuk mengusulkan perdamaian dengan Hideyoshi."
Suzu manggut-manggut paham. "Dan satu hal lagi, Hidenaga-sama ingin menemui kita hari ini."
"Kita?" Suzu memiringkan kepalanya bingung. Tak biasanya Hidenaga ingin bertemu dengan Suzu. Entah apa yang akan Hidenaga ingin bicarakan dengan mereka, Suzu tak bisa menebak.
"Ya, kau juga akan ikut bersamaku. Ada yang ingin beliau sampaikan sebelum berangkat besok."
"Ah, tapi aku harus mengganti pakaian. Riasan dan kimono yang kupakai terlalu mencolok..."
"Mengapa? Tidak ada salahnya, bukan? Kau terlihat menawan daripada kimono yang biasanya kau pakai."
Suzu terkelu mendengar pujian yang langsung meluncur keluar dari suaminya dan memberikan senyuman meyakinkan terukir pada wajahnya.
"...B-Baiklah. Kalau Takatora-sama bilang begitu." Suzu menunduk malu dan menganggukkan kepala.
-XXX-
Sesampainya di ruangan Hidenaga, saudara dari Hideyoshi itu mempersilahkan sejoli itu untuk memasuki ruangan. Takatora yang duduk disamping dengan istrinya di depan ruangan kemudian menggeser pintunya dan masuk ke dalam ruangan. Hidenaga tengah ditemani dengan seorang anak laki-laki.
"Takatora, apakah kau ingat anak ini?" Hidenaga tersenyum ramah sembari mengusap kepala anak laki-laki yang berumur 6 tahun itu.
Biji mata biru Takatora teralih pada anak itu. Ia memiliki surai pendek coklat gelap dan memiliki warna mata hijau. Anak itu menatap bingung Takatora yang sedari tadi menatapnya. "Ya, saya ingat. Seingatku namanya adalah Senmaru."
Hidenaga mengangguk "Kalian mungkin sudah tahu bahwa demi mendapat dukungan dari Niwa, Hideyoshi menyuruhku untuk mengadopsi Senmaru. Namun setelah kematian Niwa Nagahide baru-baru ini, Hideyoshi menyuruhku untuk memutuskan hak warisku pada anak ini." Anak yang bernama Senmaru itu tak mengerti apa yang tengah mereka bicarakan, ia terus memindahkan pandangannya pada masing-masing mereka.
Takatora langsung menyipitkan matanya mendengar penjelasan dari majikannya. Namun ia berusaha menyembunyikan keraguannya pada pemimpin Hashiba tersebut agar tak membuat Hidenaga memikirkan apa yang tengah Takatora pikirkan.
Kemungkinan Hideyoshi tak ingin hak waris kekuasaannya jatuh pada Senmaru jika Hidetsugu tak dapat bertahan lama. Bahkan ia tak memiliki penerus selain Hidetsugu.
"Nah, karena itu aku ingin kalian mengadopsi Senmaru," ucap Hidenaga sembari menyusupkan lengannya dibahu Senmaru.
Takatora dan Suzu mengerjapkan mata terkejut. "Eh...? Mengadopsi, artinya..." gumam Suzu.
Hidenaga kembali tersenyum. "Ya, Suzu. Aku ingin kalian merawat Senmaru sebagai orang tua barunya. Nah, Senmaru. Perkenalkan dirimu pada orang tua barumu."
"Baik! Namaku Senmaru. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Tuan dan Nona!" Anak laki-laki itu menundukkan kepala dan tersenyum.
"Jika dia sudah mencapai umur yang matang, berikan dia nama yang bagus dalam upacara genpuku nanti, Takatora."
Takatora yang terpaku sejenak kemudian menundukkan kepala. "Baik, Hidenaga-sama."
Kemudian Hidenaga mempersilahkan bawahan setia dan istrinya undur diri. Senmaru kemudian mengikuti mereka dari belakang.
"Ah, Senmaru. Jangan berjalan di belakang. Pegang tanganku," ujar Suzu tersenyum ramah pada anak itu.
Senyuman bahagia mengembang pada wajah Senmaru, ia berlari mendekati dan langsung menangkap tangannya. "Um... apakah mulai sekarang aku boleh memanggilmu, 'Okaa-sama' dan 'Otou-sama'?
Sepasang insan itu saling bertatapan, wajah Suzu mulai berseri-seri. Berpikir hari dimana mereka telah menjadi keluarga sungguhan. Tak memandang putra baru mereka adalah anak angkat. Namun kebahagiaan itu menghangatkan dan melapangkan hati Suzu.
Takatora lalu mengusap kepala Senmaru kemudian menggandeng sebelah tangan putranya yang bebas. "Tentu saja."
Keluarga baru itu berjalan pulang menuju rumah. Mulai detik ini, dengan keberadaan putra mereka, kenangan baru akan terukir dalam kehidupan masa depan mereka kelak.
-XXX-
-xxx-
-XXX-
A/N : Bacot bentar *plak*. Akhirnya saya ketemu drama CD SW happykuji lagi yang judulnya "Omoide no Sakura", ketemunya di nico video. Tapi saya butuh translate-nya karena cuma bisa ngerti dikit2 dari dialog-nya. Dan saya juga mengambil sedikit kalimatnya di drama cd itu ke fic ini. Yah walaupun saya gak yakin udah benar atau salah gegara gak ada translate-nya. Btw, Takatora terasa 'dark' banget di drama cd-nya. *authorgoeskyaa*
Oh ya, Senmaru bukan OC, di sejarahnya dia memang anak angkat Takatora. Hayo coba tebak apa nama baru Senmaru setelah dia genpuku?
Yak, seperti biasa mohon review-nya!
