A/N : Rasanya chapter sebelumnya beneran kacau. Udah saya perbaiki pula. Pengen baca ulang tapi males. *woe* Dan akhir-akhir ini saya mulai malas lanjut gegara nge-hype main game baru dan ikut les. Padahal saya sendiri pernah bilang kalau gak bakalan discontinue fic ini, tapi malah muncul tanda-tandanya. Shikkari shiro, boku! *plak* Yah, balas review langsung saja.
RosyMiranto18
Scarlet : Yak, seperti yang sudah diberitahu udah ada beberapa yang diperbaiki. Tapi keknya soal urutan event-nya masih kurang, karena gak ngerti aku biarin aja.
Blossom : Makanya jangan lola dong.
Scarlet : Lu juga!
Suzu : Bertengkar lagi... *sweatdrop*
Takatora : Biarkan saja mereka.
Blossom : Kalau soal fic *ehem*, masih dalam pengerjaan jadi belum yakin bakal siap waktu lebaran.
Scarlet : Hm, keknya beberapa hari sesudah lebaran mungkin siap.
Suzu : ...fic ehem? *noleh ke Takatora*
Takatora : Jangan tanya padaku. Tapi apapun itu serahkan saja pada mereka walaupun mereka tak bisa diandalkan.
Scarlet & Blossom : Gue dengar itu mas bro!
Suzu : *sweatdrop* Uh, terima kasih atas review-nya.
Hayashinkage17
Blossom : Ya gitu deh mas es batu, dinginnya itu lebih menusuk kek kutub utara.
Takatora : Hah?
Suzu : ...? *gagal paham*
Scarlet : Lu ngomong kek gitu seolah-olah udah pernah ke kutub padahal belum pernah. Ngaco lu.
Blossom : Lalala~
Suzu : *negative mode* Um, aku memang bodoh. Padahal Takatora-sama sudah memberitahu hal sepenting itu tapi aku malah melupakannya.
Takatora : Bakayaro, jangan terlalu menyalahkan diri.
Scarlet : Welp, kami sebenarnya masih belum yakin reaksi Aki nanti udah benar atau gak karena aku masih belum paham sepenuhnya dengan personality Aki. Tapi rasanya gak mungkin Takatora bakal minta maaf. Dia itu mah...
Takatora : *bekuin Scarlet* Menyalahkan Suzu tak ada gunanya, saat ini dia sedang mengalami masa sulit walalupun aku tak yakin apa itu. Itu saja.
Blossom : Yha~ Oke, makasih banyak atas review-nya!
-xxx-
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. Kimura Siblings and Reiki Asuka belongs to RosyMiranto18. Shinhana Kobayakawa and Nagachika Nomi belongs to Hayashinkage17.
Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal alias amburadul. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan flashback. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XoX-
Bell of the White Hare
-XoX-
CHAPTER 17
So Near, So Far
-XoX-
"Aku ingin pergi menemui onii-chan sekarang!"
"Natsuko, kumohon jangan sekarang..."
Entah sudah berapa kali gadis bersurai merah jambu itu tak hentinya memaksa Suzu untuk pergi menemui kakaknya di dermaga. Beberapa hari yang lalu, ia lupa kalau Takatora sudah menyuruhnya untuk tutup mulut mengenai penyerangan ke Shikoku pada Natsuko. Tapi beruntung ia masih bisa menahannya untuk tetap menunggu hingga saat ini.
Suzu menghela napas panjang sembari mengurut dahi. Melihat situasi yang tengah dihadapi Suzu, Hana mencoba untuk meringankan beban Suzu dan berbicara dengan Natsuko. Ia menepuk bahunya.
"Natsuko, kalau kau pergi hari ini kamu akan membuatnya terganggu. Setidaknya tunggulah sampai dia selesai, ya?"
"Tidak mau! Tidak mau! Aku sudah tidak tahan berdiam diri terus di dalam istana. Hana-chan pasti mengerti, bukan? Menunggu itu sangat membosankan!"
"Aku mengerti maksudmu tapi bersabarlah."
Suzu menghela napas panjang lagi dan membenamkan wajahnya di lengannya yang terlipat diatas meja. "...Semua yang kulakukan tidak ada yang benar. Aku memang bodoh," lirih Suzu
Melihat Suzu semakin depresi, setitik keringat menurun dari pelipis Hana. "Jangan khawatir. Aki pasti akan memaafkanmu kok."
"...Tidak, kecerobohanku tidak bisa dimaafkan," lirihnya lagi.
"Hei, jangan berkata begitu, Suzu." Hana tak menduga Suzu akan menganggap serius persoalan itu hingga ia begitu tertekan seperti sekarang.
Senmaru yang belum sepenuhnya paham apa yang tengah bicarakan hanya bisa memandang ibu angkatnya yang terlihat begitu depresi. Ia mendekat kemudian mengusap bahunya. "Okaa-sama, kau baik-baik saja?"
Suzu melirik kearah putra angkatnya itu. Melihat wajah khawatir yang terukir jelas pada wajahnya membuat hati Suzu semakin remuk. "Senmaru, maafkan aku. Aku memang ibu yang sangat buruk untukmu."
Senmaru menggeleng kencang. "Ibu tak salah apapun kok!"
Tak hanya membuat kesalahan pada keluarganya yang baru saja berdiri, dan sekarang ia telah membuat kesalahan lain terhadap temannya. Suzu merasa tak sanggup menghadapi semua ini.
Tak akan pernah memberi sebuah insan baru yang akan menjadi adik untuk Senmaru, tak akan pernah bisa mengabulkan harapan hidup dirinya dengan Takatora. Ia semakin tak bisa mencintai dirinya sendiri. Menangis pun tak ada artinya, karena ia menganggap dari awal dia sendirilah yang telah berbuat kesalahan. Hingga kini pun ia tak tahu bagaimana harus bertatapan dengan Takatora dan yang lain. Sejak ia tak sengaja memberitahu Natsuko tentang kakaknya, ia mengurung diri di kamar. Menyadari dirinya terlalu sering berbuat kesalahan, ia merasa tak berguna jika bertemu dengan orang lain. Ia takut berbuat kesalahan lagi. Mendengar kondisi Suzu dari Takatora, Hana dan Natsuko datang menjenguknya.
"Aku pulang." Mereka mendengar suara Takatora yang baru saja kembali dari tugasnya. Senmaru bergegas menyambut ayahnya. Sedangkan Hana dan Natsuko lebih memilih untuk tetap berada di kamar Suzu.
"Otou-sama... selamat datang kembali," sambut Senmaru.
"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Takatora pada putra angkatnya.
Senmaru menurunkan kepalanya kemudian menggeleng. "Maaf, ayah. Aku tak bisa menghibur ibu..."
Takatora kemudian mengusap kepala Senmaru. "Tak apa, jangan khawatir. Aku yang akan mengatasinya."
Senmaru tersenyum dan mengangguk. Saat mereka berniat masuk, Hana dan Natsuko langsung keluar dari kamarnya. Tak ada pertanda baik dari raut wajah mereka. "Sepertinya dia masih belum mau beranjak dari kamarnya, ya."
"Begitulah," jawab Hana. "Tapi aku tak pernah menyangka Suzu akan sangat tertekan seperti ini."
Penyebab Suzu gundah hingga kini mungkin ada hubungannya dengan sikap aneh Suzu sejak setelah mereka mengadopsi Senmaru. Pada waktu itu, Takatora tak memiliki waktu banyak untuk menghabiskan waktu berharganya bersama mereka. Selama itu Takatora tak begitu tahu apa yang dilakukan Suzu dan Senmaru. Tapi tampaknya Suzu sama sekali tak ada masalah seperti pertengkaran atau sejenisnya dengan Senmaru. Sejak ia mengurung diri, dia selalu menyalahkan diri tanpa alasan yang jelas.
Takatora menghela napas kemudian menundukkan kepalanya di hadapan Hana. "Anda sebaiknya kembali. Terima kasih banyak sudah memberikan waktumu untuk Suzu."
"Aku tidak melakukan apapun. Bahkan Suzu masih seperti ini. Tapi, sama-sama." Hana tersenyum tipis. "Kau adalah suaminya, aku yakin kau pasti bisa membuatnya kembali tersenyum. Nah, kalau begitu aku dan Natsuko pamit. Sampai jumpa." Hana membungkukkan badan kemudian bertolak meninggalkan rumah bersama Natsuko.
"Aku mau bertemu dengan onii-chan!" Takatora masih bisa mendengar suara pekik Natsuko dari dalam.
"Jangan, Natsuko," ujar Hana.
Setelah suara perdebatan mereka tak terdengar lagi, Takatora kemudian menoleh kearah putranya. "Sekarang sudah malam, kau harus tidur," ujarnya sembari mengusap kepala Senmaru.
Anak berumur enam tahun itu mengangguk pelan kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya. "Takatora-sama, selamat datang kembali..." Sang istri menghampirinya dengan wajahnya terlihat pucat. Kedua pelupuk matanya separuh terbuka dan senyumannya terlihat dipaksakan.
Sepasang alis pria itu menyempit. "Hanya karena tak sengaja memberitahu hal itu pada Kimura, kau mengurung diri? Kau sudah membuat Senmaru dan temanmu mencemaskanmu, bahkan juga aku."
Suzu membiarkan pandangannya menurun, kedua tangannya saling terjalin. "...Maafkan aku," jawabnya dengan suara pelan.
Takatora mengurut dahi ketika mendengar jawaban singkat dari istrinya. Kemudian sang suami mengiringnya masuk ke dalam kamar, menyuruhnya untuk duduk menghadapnya. "Dengar, aku bukan ingin mendengar permintaan maaf darimu. Kau tidak seharusnya terlalu menyalahkan diri. Bukankah aku sudah pernah berkata seperti itu padamu?"
Suzu tetap tak mau berbalas pandang, dia sudah tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia mencengkram kimono-nya dengan kuat. Dirinya terlihat amat jelas putus asa, kehilangan arah tujuan. Jika itu memang benar, Takatora sebagai suaminya harus menarik semua keputusasaannya itu. Kalau bukan dirinya lalu siapa yang akan menggandeng tangannya agar bisa keluar dari kegelapan hati yang mempermainkan perasaannya?
"Suzu, katakan yang sebenarnya. Aku yakin kau mengurung diri bukan hanya karena tak sengaja membocorkan rahasia itu pada adiknya. Kali ini giliranku untuk tidak akan membiarkanmu memikul semua beban. Ini bukan perintah, tapi permintaan. Karena itu..."
Takatora dapat mendengar ritme napasnya mulai berat. Bahunya bergemetar ketakutan tak terkendali. Melihat ketidakberdayaannya, Takatora meraih kedua tangan kecilnya. "Suzu," ucap Takatora dengan nada tenang dan lembut, berusaha meyakinkan istrinya.
Cengkraman pada kimono-nya kini lebih kuat, ia menggigit bawah bibirnya. Wanita muda itu tampaknya ragu-ragu, antara takut memberitahunya atau takut tidak memberitahunya. Mulutnya sedikit terbuka kemudian tertutup lagi. Entah apa yang membuat Suzu begitu ketakutan, Takatora tak bisa menebak.
Suzu menarik napas dalam-dalam, Takatora dapat mendengar jelas napasnya terdengar bergetar. "...Aku memang tidak pantas. Aku bahkan tak bisa mengabulkan harapan apapun dari orang yang sangat kusayangi. Sejak dulu, aku tidak pernah bisa berubah."
Takatora mengerjapkan mata, ia memilih untuk diam meski awalnya berniat untuk protes.
"Aku tak pernah bisa menjadi ibu sesungguhnya untuk Senmaru, bahkan menjadi istri sesungguhnya untuk Takatora-sama. Bahkan aku juga telah membuat kesalahan besar padahal Aki-san mempercayaiku untuk tidak memberitahu apapun pada Natsuko. Aku memang yang terburuk, sangat. Aku selalu mengacau." Suzu menggigit bawah bibirnya. "Tapi aku tidak pernah berniat begitu..."
"...Apa yang sebenarnya yang ingin kau katakan?"
Napas Suzu masih bergetar dan sesak, ia mencengkram dadanya untuk mengatur napas namun sangat sulit. "...Takatora-sama, aku takkan pernah bisa membahagiakan Tuan juga Senmaru. Semua yang pernah kuucapkan dulu ternyata adalah kebohongan. Masa depan yang selalu kuimpikan― takkan terkabulkan. Sejak awal masa depan itu tak pernah ada. Ternyata memang seharusnya aku tak membebani Tuan dari awal." Suzu menangkupkan kedua belah tangannya pada wajahnya, berusaha menghentikan bulir air matanya agar tak jatuh menetes membasahi pakaiannya.
Takatora mulai paham apa yang Suzu bicarakan. Saat dirinya terpukul akibat kematian Oichi beberapa tahun lalu, Suzu telah meyakinkan dirinya dan membukakan matanya. Keinginannya untuk hidup bahagia bersamanya, Tapi sekarang Suzu menganggap dirinya takkan bisa mencapai mimpi itu. Namun atas dasar apa istrinya mengakui itu padanya, Takatora masih belum tahu.
Kemudian Suzu menurunkan tangannya menuju perutnya, mulai menatap Takatora. Tiap bulir air mata yang membasahi bulu matanya terlihat amat menawan, itu selalu mengingatkannya pada hujan pada musim semi. Kelopak bunga yang telah bermekaran basah akan setiap titik hujan gerimis― sangat menawan, namun menyakitkan ketika melihatnya menangis. "Takatora-sama, aku takkan bisa memberikan keturunan. Dengan tubuhku yang lemah ini, mustahil bagiku untuk tetap bersama Tuan dan Senmaru. Aku takkan bisa mengurangi kesepian Senmaru, bahkan aku juga tak bisa mengabulkan harapan Tuan untuk memiliki anak setelah perang usai― dimana tujuan hidup kita itu bergantung padaku." Suzu menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Aku tak pantas menangis..."
Awalnya Takatora ingin bertanya apa penyebab Suzu tak dapat memiliki keturunan. Tetapi sebelum itu, Takatora mencoba menebak kecelakaan apa yang pernah menimpanya. Apakah itu karena saat tubuhnya terhimpit di Istana Odani beberapa tahun yang lalu. Atau mungkin racun yang pernah ia minum. Atau mungkin keduanya. Apapun itu, Takatora merasa gagal melindunginya. Ia membatalkan niatnya untuk bertanya. Mengingat kecelakaan itu telah banyak menghabiskan darahnya hingga ia tak bisa memiliki keturunan. Ia juga mengingat saat di Shizugatake, ia terlalu cepat kelelahan dan kulitnya hampir pucat.
Wanita muda itu kembali menatap suaminya. "Takatora-sama, Tuan harus mencari perempuan yang lebih baik daripada diriku. Yang bisa memberikan kebahagiaan yang tak bisa kuberikan. Dan akan lebih baik jika kita... memutuskan―"
Takatora yakin ia mengatakan semua itu demi dirinya. Tapi ia takkan terima jika itu tak dapat membahagiakan kedua pihak. Menceraikan perempuan yang ia cintai takkan mungkin memuaskan hatinya. Dia terlalu memerhatikan kebahagiaan pria itu sampai ia lupa dengan kebahagiaan dirinya sendiri.
"Jangan katakan apapun lagi, Suzu. Aku takkan melakukan sesuatu bahkan pada hal yang sungguh tidak kau inginkan," potong Takatora. Pria itu menghampirinya lebih dekat, duduk dihadapan istrinya dan mengusap pipinya yang lembab. "Jadi itukah yang selama ini kau sembunyikan. Pasti sulit bagimu..." Takatora menyusupkan tangannya ke belakang kepala Suzu, menyandarkan kepalanya di dada bidangnya. "Meski itu memang benar, tapi kenyataan bahwa kau menyembunyikan semua itu karena kau tak mau aku membencimu, bukan?"
Sepasang manik merahnya setengah melebar, Suzu mengangkat wajahnya agar bisa menatap suaminya. Tatapan penuh pertanyaan berkumpul pada sorot merah berkilauan milik wanita muda tersebut.
"...Kenapa? Seharusnya Tuan memarahiku atau semacamnya...! Aku..."
Takatora mendengus pelan. Memang benar ia marah, tapi bukan pada Suzu. Ia marah pada takdir yang telah ditentukan pada Suzu. Namun ia paham tak ada yang bisa ia lakukan terhadap takdir itu. Tapi ia yakin masih ada cara agar Suzu dapat menerima meski takdirnya begitu kejam dan menghadapinya. Takatora sendiri pun terkadang juga membenci dirinya sendiri ketika ia merasa tak berguna untuk menyirnakan sepenuhnya keputusasaan Suzu.
Selain itu, disaat Suzu mengatakan kalau seharusnya ia memarahi atau bahkan mengutuknya. Itu membuat Takatora ingin tertawa. Ia tak mungkin bisa memarahinya, padahal seharusnya ia mengutuk takdir. Tetapi terdapat pertanda baik dari ucapan istrinya itu. "Hmph, marah? Mengapa harus? Bukankah itu pertanda kalau kau mencintaiku? Lagipula, keinginanmu untuk menciptakan masa depan untuk kita itu bukanlah kebohongan."
"Tapi aku tidak akan bisa melahirkan―"
"Kita memiliki Senmaru. Bukankah itu sudah cukup? Sekarang dia adalah dimana harapan kita bergantung― harapan kita untuk pulang ke rumah dengan selamat setelah perang usai." Takatora memotong ucapan istrinya dan mengusap lembut kepalanya. "Senmaru, dia amat bahagia setelah menjadi salah satu anggota keluarga kita. Kau tahu itu, bukan? Dia tak memandang bahwa ia anak angkat atau bahkan tak memiliki adik atau kakak. Senmaru memiliki kita." Takatora kemudian menjalinkan tangan sebelahnya yang bebas dengan milik istrinya. "Suzu, masa depan yang kita berdua impikan itu masih ada, aku mempercayai ucapanmu pada saat itu. Tidak mungkin aku melupakannya. Kau adalah penyelamat hidupku dan aku sangat diberkati dicintai olehmu." Takatora menyusupkan lengannya di sekitar bahu Suzu, mendekap istrinya dengan erat sambil membelai tiap surai peraknya dengan lemah lembut. Memberi kecupan pada puncak kepalanya, seraya berharap ia dapat kembali membuka hatinya.
Suzu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya, mengeratkan cengkramannya pada jubah biru Takatora. Dengan sekuat tenaga ia menahan isakan tangis yang hampir meluncur keluar.
'Tidak, Takatora-sama. Selama ini akulah yang telah memaksamu untuk mencintaiku. Pada waktu itu, aku menggunakan perasaanku untuk membuatmu mengerti diriku, itu sangat egois. Aku sangat egois. Semuanya tak ada artinya, aku takkan bisa memenuhi harapanmu.'
-XXX-
Di hari berikutnya, Takatora yang kembali bertugas meminta Suzu untuk menitipkan Senmaru ke terakoya sementara mereka berdua tak lama lagi akan berangkat menuju medan tempur.
Meskipun kini Suzu telah berhenti mengurung diri dan masih bisa tersenyum, tetapi ia memaksakan diri. Namun Takatora berharap waktu yang akan menyembuhkan hatinya. Mungkin memang adakalanya istrinya harus menanggulangi keraguan hatinya itu sendirian.
Di sepanjang jalan, Suzu berpapasan dengan dua gadis belia. Mereka bergegas menghampiri Suzu. "Ohatsu-sama? Oeyo-sama juga. Apa ada yang bisa kubantu?
"Kami sudah menduga kamu akan menitipkan Senmaru. Tapi tak perlu khawatir! Aku dan ane-ue yang akan menjaga Senmaru-kun untukmu!" jawab Oeyo dengan nada riang khasnya.
"Eh, tapi..."
"Sementara kami tetap berada di Osaka. Ini kesempatan baik bagi kami untuk membalas kebaikanmu dan Takatora-dono yang dulu telah menjaga kami," sahut Ohatsu tersenyum lembut. "Yah, sebenarnya kami ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki adik laki-laki." Ohatsu tertawa kecil.
"Tidak apa 'kan, Senmaru-kun? tanya Oeyo setelah berlutut di depan Senmaru dan membelai kepalanya.
"Um! Aku tidak keberatan, kok! Ohatsu-sama, Oeyo-sama!" Senmaru mengangguk kencang dan tersenyum.
"Wah! Senmaru-kun ternyata anak yang sangat manis!" jerit Oeyo kegirangan. Anak laki-laki itu tertawa geli ketika Oeyo memeluknya dan menggesekkan wajahnya ke pipi Senmaru.
Melihat keakraban mereka membuat ingatan Suzu mendera. Tiga bersaudari Azai itu dulu memiliki seorang kakak laki-laki bernama Manjumaru. Ia masih sangat muda, entah Oeyo dan Ohatsu masih ingat dengan kakaknya atau mungkin belum, Suzu tidak tahu. Jika saja Senmaru memiliki saudara, Senmaru akan lebih bahagia. Tetapi kenyataan bahwa ia takkan bisa memenuhi kebahagiaan itu, Suzu semakin merutuk dirinya sendiri.
"Okaa-sama, berhati-hatilah. Aku akan mendoakan keselamatan ibu dan ayah!" Suzu tersentak dari renungannya ketika Senmaru memegang tangan Suzu dengan kedua tangan mungilnya.
Ucapan suaminya tadi malam kembali terngiang di dalam kepala Suzu begitu melihat senyuman tak bersalahnya. Mereka telah memiliki Senmaru. Memang benar. Tapi ia takkan pernah bisa melahirkan satu insan demi mengurangi kesepian putra angkatnya. Satu kenyataan gelap itu benar-benar telah menyelimuti jiwa dan raganya.
Sebuah senyuman muncul di wajah menawan wanita muda itu. Ia berlutut di hadapan Senmaru kemudian memberikannya pelukan yang erat. "Ya, terima kasih, Senmaru."
Setelah mengantarkan Senmaru, Suzu bergegas menemui Takatora di istana. Setidaknya ia ingin membantu suaminya daripada menetap di dalam rumah.
Namun ketika ia baru memasuki pekarangan istana Osaka, pandangannya teralihkan begitu melihat Yoshitsugu yang tengah bersiap-siap. Pria berkerah tinggi itu membawa sejumlah prajurit.
"Yoshitsugu-san? Tuan mau pergi kemana?" Suzu yang mulai penasaran menghampirinya.
"Oh? Akhirnya kau sudah menghentikan niatmu untuk mengurung diri."
Suzu tertegun sejenak, setitik keringat menetes dari keningnya. "...Y-Yoshitsugu-san, tolong jangan bahas itu."
Yoshitsugu terkekeh pelan. "Inilah sebabnya kau mengurung diri dan akhirnya kau tak tahu apa yang direncanakan untuk penyerangan nanti."
Suzu hanya bisa memasang wajah datar dan merapatkan bibir. "Ya, kalau soal itu aku minta maaf, Tuan. Dan tolong jawab pertanyaanku, jangan membuatku penasaran."
"Hm? Ada apa denganmu? Kukira setelah kau berdiam diri di rumah kau akan mendapatkan ide baru untuk menjawab boke dariku?"
"Ya! Aku sudah dapat ide yang sangat bagus. Aku akan membuat kertas kipas dan memukul Tuan karena memancingku untuk melakukan tsukkomi. Dengan begitu para penonton akan tertawa." Suzu tersenyum lebar. "Tapi mana mungkin aku bisa melakukannya karena pada akhirnya aku yakin Tuan akan menghindari pukulanku dengan reflek yang sempurna! Apa-apaan ini!? Memangnya kita mau melakukan pertunjukan komedi!?" bentak Suzu sambil mendatarkan tangannya di depan wajah Yoshitsugu.
"Hm, kuberi nilai sepuluh." Yoshitsugu manggut-manggut lalu mengancungkan jempolnya.
"Yoshitsugu-san!" Meski Suzu tak sepenuhnya dapat membaca ekspresi wajah Yoshitsugu, tapi dia yakin pria itu menyeringai jahil dibalik kain putih yang menutupi separuh wajahnya. Setidaknya ia merasa begitu.
"Baiklah, akan kuberitahu." Yoshitsugu menggoyangkan tangan kanannya dengan pelan, memberi tanda isyarat pada Suzu untuk tenang. "Hideyoshi-sama telah menyusun rencana untuk penyerangan ke Shikoku. Rencana awalnya adalah dengan mengirimku ke pelabuhan Shikoku dengan sedikit pasukan untuk membuka jalan masuk agar pasukan utama tidak diserang."
Suzu menaikkan alisnya. "Dengan sedikit pasukan? Bukankah artinya itu Tuan akan menjadi umpan?"
Yoshitsugu mengangguk. "Tepat sekali."
Suzu begitu heran mengapa sikapnya masih santai seperti biasa bahkan peran yang didapatkannya sangat berbahaya. Bergerak tenang seiring dengan arus layaknya air yang mengalir benar-benar telah diterapkan dalam benaknya. Suzu mengangumi kepribadiannya itu, tapi terkadang ia merasa kesal karena tak dapat menebak apa kelemahan Yoshitsugu. Meski dalam situasi genting sekali pun, ia masih bisa mencari cara untuk bertahan.
"Ah, tapi bagaimana caranya supaya pasukan utama bisa tahu dimana posisi Tuan saat sudah tiba di Shikoku? Kalau begitu aku..."
Belum sempat Suzu menyelesaikan kalimatnya. Yoshitsugu menaikkan telunjuknya, menghentikan Suzu berbicara.
"'Mengikutsertakan dirimu menjadi umpan kemudian mengirimkan sinyal pada pasukan utama'. Itukah yang ingin kau katakan? Memang bukan ide yang buruk, tapi kurasa kau takkan diizinkan oleh suamimu untuk ikut denganku."
"Aku tahu ini berbahaya. Tapi jika sesuatu terjadi pada Tuan..."
Yoshitsugu kembali terkekeh dan menggeleng kepala. "Ya ampun, seharusnya kau menyimpan kekhawatiranmu pada dirimu dan juga suamimu saat di medan perang nanti. Kau memang perempuan yang serakah, Shirousagi."
"S-Serakah? Kenapa begitu? Aku 'kan hanya ingin membantu..." Kedua alisnya menyempit heran mendengar komentar Yoshutsugu.
Yoshitsugu mendengus pelan. "Justru itu. Meskipun sekarang kau bukanlah bawahanku lagi, kau masih saja memiliki rasa tanggung jawab. Tetap setia pada atasan, kau terlihat mirip sekali dengan Takatora." Kedua manik kelabunya menurun. "Bahkan dengan keadaanmu seperti itu kau masih sempat mencemaskan orang lain. Aku hargai itu," gumamnya.
Jeda sejenak. Suzu tak bisa mendengar gumamannya barusan. Entah ekspresi apa yang harus Suzu gunakan, ia sama sekali tak tahu. Ia hanya bisa mengedipkan matanya berulang kali dan memiringkan kepala.
"Tak perlu memasang wajah bingung seperti itu. Aku memujimu, kau tahu."
"O-Oh...?" Suzu hanya bisa manggut-manggut walaupun Suzu masih belum sepenuhnya paham. Pria itu bahkan belum menjelaskan darimana sisi baik dari keserakahannya.
"Mengenai rencanamu itu, kurasa kau tak perlu melakukannya. Tetaplah bersama pasukan utama dan suamimu, kau akan lebih aman. Kau masih bisa melakukannya, tak harus mengikutiku kesana. Jika aku memperbolehkanmu, aku yakin suamimu akan membunuhku."
Perempuan bersurai perak itu menghela napas. "Tuan berkata seperti itu lagi. Memangnya Tuan ingin sekali dibunuh oleh Takatora-sama?" Tak sengaja mengatakan itu, Suzu langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Kebiasaannya menjawab lelucon Yoshitsugu membuatnya salah tingkah. "Uh, maaf. Mohon dilupakan. Aku tidak sengaja mengatakan hal yang aneh."
"Tak masalah. Memancing tsukkomi darimu sudah cukup membuatku terhibur." Yoshitsugu kemudian mengeluarkan sebuah omamori dari jubah putihnya. Jimat perlindungan yang pernah Suzu berikan saat dia dan Takatora masih menjadi bagian dari Azai dan berhasil menorehkan nama
Suzu tersenyum kecil setelah menyadari Yoshitsugu masih menyimpan jimat perlindungan tersebut. "Mohon berhati-hatilah, Yoshitsugu-san. Aku yakin Tuan bisa kembali dengan selamat." Suzu menundukkan kepala.
"Ya." Yoshitsugu mengangguk, kemudian menyimpan kembali omamori itu. Pria bersurai hitam itu memerintah pasukannya bergerak menuju dermaga setelah ia menaiki kuda.
Setelah melihat kepergian mantan tuannya, Suzu berbalik untuk masuk ke dalam istana. Namun langkahnya berhenti ketika pandangannya teralihkan ke lantai dua istana. Manik merahnya terarah ke seorang pria bersurai coklat yang panjangnya sebahu.
Itu Mitsunari. Suzu tak tahu mengapa alisnya menyempit dalam amarah. Pria itu tampaknya melihat kepergian Yoshitsugu yang merupakan salah satu rekan terbaiknya. "Apa dia marah karena Yoshitsugu-san sama sekali tidak keberatan dengan tugasnya?" Suzu kemudian tersenyum tipis. "Mungkin dia mencemaskannya."
Lalu Suzu memasuki istana, saat ia berjalan memasuki lorong ia melihat Hana yang terlihat sibuk mencari seseorang. Ketika menyadari keberadaan Suzu, Hana bergegas menghampirinya.
"Suzu? Syukurlah, sepertinya kau sudah terlihat sedikit lebih baik. Omong-omong, apa kau lihat Natsuko?"
Awalnya Suzu mengira ia sedang mencari suaminya tapi ternyata dugaannya salah. "Natsuko? Tidak, aku tidak melihatnya―"
Mendadak firasat buruk menyinggahi kepala Suzu. Ia yakin Natsuko sudah pergi ke dermaga untuk menemui sang kakak.
"Aku akan mencarinya di luar istana. Mungkin kali ini dia benar-benar ingin menemui Aki-san di dermaga. Tapi, bagaimana dia pergi?" gumam Suzu.
"Padahal dia baru saja bersamaku, tapi setelah itu dia langsung menghilang begitu saja."
Suzu terdiam sambil memikirkan apa yang direncanakan Natsuko. Dia tak mungkin tahu dimana kakaknya bekerja di dermaga yang mana. Bahkan ia tak memiliki kuda untuk pergi kesana.
"Hana-dono. Kurasa... sekarang dia mengikuti Yoshitsugu-san agar dia bisa menemukan dimana kakaknya. Aku harus mengejarnya!"
"Tunggu dulu, Suzu." Hana langsung menahan tangannya. "Kamu pasti masih khawatir, 'kan? Makanya kamu terus berusaha menahan Natsuko."
"Karena itu aku harus mengejarnya, Hana-dono. Jika tidak Aki-san pasti―"
"Sudahlah. Percayalah pada Natsuko." Hana tersenyum lebar padanya. Suzu terpaku sejenak sembari mencerna perkataan Hana.
Suzu tersenyum kecil. "Baiklah."
-XXX-
Sementara itu, Yoshitsugu serta pasukannya dalam perjalanan menuju dermaga. Dimana Aki menyiapkan kapal untuknya berlayar ke Shikoku sebagai umpan.
Saat memasuki hutan yang lebat, Yoshitsugu melirik kearah semak-semak. Pria itu segera turun dari kuda lalu mendekat ketika mendengar suara dari arah sana. Manik kelabunya menangkap sosok seorang perempuan yang bersembunyi disana. Memiliki surai panjang berwarna merah jambu, ia menutup kepalanya dengan sehelai kain.
Yoshitsugu langsung memasuki semak itu, mengejutkan gadis itu dari belakangnya. "Apa yang kau lakukan di tengah hutan, gadis kecil..." Yoshitsugu mengubah nada suaranya agar bisa menakuti perempuan itu dan menyentuh pundaknya.
"Kyaaa! Onii-chan, tolong aku!" Gadis itu spontan memekik kaget dan terperanjat. Ia langsung berhenti berteriak ketika menyadari siapa yang baru saja mengagetinya. "Ah, gawat."
"Lain kali kau harus mencoba lebih baik lagi untuk mengikutiku dengan diam-diam, adik Kimura. Contohnya seperti berlari di atas pohon atau menyamar." Kini lantunan nadanya kembali seperti semula setenang air. Gadis yang mengikutinya itu masih merinding ketakutan berkat serangan kejutan ala Yoshitsugu.
"Suzu-chan lebih handal kalau soal itu, aku mana mungkin bisa!" Gadis yang ternyata adalah Natsuko itu menggembungkan kedua pipinya pada Yoshitsugu, kemudian menyeka debu dari pakaiannya setelah bangkit.
"Jadi, kau mengikutiku agar kau bisa menemui kakak kesayanganmu, bukan? Dia akan marah jika kau bersikeras menemuinya, kau tahu."
"Mou, berhenti memperlakukan seperti anak kecil!" Natsuko kembali melotot. "Ya, benar! Aku mau menemui onii-chan! Aku ingin tahu kenapa dia berusaha merahasiakan tentang penyerangan ke Shikoku dariku. Bahkan semua orang tidak mau memberitahu apapun, mereka selalu menghindar setiap aku bertanya."
"Ho... Lalu darimana kau tahu?"
"Suzu-chan memberitahuku." Yoshitsugu mengerjapkan mata ketika Natsuko menyebut mantan bawahannya itu. Ia terkekeh dalam diam, Natsuko tampaknya tak sadar dengan reaksi Yoshitsugu. "Padahal aku ini adiknya, satu-satunya saudara onii-chan. Kalau aku tak tahu apapun, aku takkan bisa membantunya. Karena itu, kumohon biarkan aku ikut ke dermaga. Aku harus menemui onii-chan!"
-XXX-
Langit mulai mengubah warnanya menjadi oranye-kemerahan, tak lama lagi matahari akan terbenam. Di sebuah dermaga yang telah dibangun milik Hashiba, pria pemilik klan Kimura itu mengizinkan para pasukannya untuk beristirahat setelah berhari-hari mengembangkan kapal.
Ia mengurut dagu. "Sekarang aku tinggal harus memeriksanya..."
Disaat Aki tengah memerhatikan kapalnya yang sudah jadi, Asuka menghampiri pria sibuk itu. "Kau pria yang pekerja keras, ya. Tapi kau terlihat resah. Masih mencemaskan adikmu?"
Aki menghela napas sembari menggulung kertas laporan di tangannya. "Tentu saja. Tapi seharusnya kau tidak mengingatkanku. Aku masih butuh waktu untuk konsentrasi."
Asuka terkekeh pelan. "Kau kakak yang baik."
Aki langsung mengalihkan pandangannya, menggaruk pipinya dengan telunjuk. Berusaha untuk tidak terlalu termakan oleh pujiannya, tetapi Asuka bisa melihat daun telinganya memerah.
"Apakah aku menganggu waktu kalian berdua, Kimura Aki?"
"Gyah!" Tubuh Aki berguncang kaget begitu berbalik menghadap orang yang menyapanya. "G-Gyoubu-dono. Oh, kau sudah datang." Seraya mencoba untuk mengatur napas, Aki mengangguk pada Yoshitsugu yang baru saja sampai. "Apakah kau akan berangkat hari ini?"
"Ya, sesuai dengan laporan yang telah kau dapatkan. Setelah aku sampai disana, pasukan utama akan langsung bergerak."
Aki manggut-manggut. "Kalau begitu, aku akan memeriksa kapalnya sekarang juga."
"Oh, aku lupa bilang adik kesayanganmu sepanjang jalan mengikutiku agar bisa menemuimu." Yoshitsugu melirik ke samping, memunculkan seorang perempuan dari belakangnya.
"Natsuko!?" Aki membelalakkan mata ketika penglihatannya meelihat Natsuko yang tepat berada di depannya. "Tunggu dulu, Gyoubu-dono! Kalau kau sudah sadar dari awal seharusnya kau melarangnya untuk tidak ikut denganmu!"
"Mengapa? Bukankah kau hanya memberitahuku untuk tutup mulut mengenai penyerangan Shikoku?" Yoshitsugu mengangkat bahu.
"Tapi 'kan ada hubungannya!" protes Aki setengah membentak.
"Onii-chan...!" Natsuko mencondongkan wajahnya ke depan kakaknya, Aki langsung berhenti berbicara ketika dua bersaudara itu berbalas pandang. "Jelaskan padaku!"
"Seharusnya aku yang bertanya, Natsuko. Siapa yang memberitahumu?"
Sorot mata adiknya masih belum berubah, masih menatap Aki dengan wajah cemberut. "Itu tidak penting sekarang! Kalau aku memberitahunya, apakah onii-chan mau mengancamnya?"
"Hei, aku tidak pernah berkata begitu."
"Pokoknya jelaskan padaku! Aku adalah adikmu, onii-chan! Seharusnya kau mempercayaiku lebih dari siapapun!" paksa Natsuko sambil menarik seragamnya.
Aki terpaku sejenak menatap adiknya, lalu mengalihkan pandangannya. "...Aku hanya tidak ingin kau terbebani."
"Aku mengerti onii-chan sangat menyayangiku. Tapi aku juga sama. Karena itu, aku ingin pergi bersamamu! Onii-chan percaya padaku, bukan?"
Aki menggaruk kepalanya lalu tersenyum tipis. "Ya. Baiklah."
"Hore!" Natsuko langsung meloncat kegirangan kearah kakaknya dan memeluknya erat. Aki menghela napas lagi sembari mengusap kepalanya. Lalu ia menoleh kearah Asuka.
"Er, Asuka. Maaf telah banyak merepotkanmu."
Asuka tersenyum. "Aku sangat menikmati waktuku dengan Natsuko. Rasanya seperti memiliki adik sungguhan, aku iri padamu. Karena itu, kau tak perlu meminta maaf."
"Oh, begitu. Senang mendengarnya."
Natsuko memindahkan pandangannya pada Asuka lalu kembali ke Aki. "Wah? Onii-chan, mukamu memerah, lho."
"Cuma perasaanmu!"
Asuka lalu membungkukkan badan. "Kalau begitu, aku akan kembali ke Kyoto. Berjuanglah, Aki, Natsuko. Kuharap kita dapat bertemu lagi di lain waktu."
-XXX-
Sementara itu di Osaka, para prajurit berlalu lalang di pekarangan istana. Mengumpulkan persediaan dan juga ada yang sempat berlatih di lapangan. Suzu memerhatikan kesibukan masing-masing mereka dari lantai atas, membuka jendela kecil. Sejauh matanya memandang, ia juga dapat melihat kesibukan para penduduk Osaka.
"Yoshitsugu-san sudah berangkat. Sepertinya sayang sekali Tuan tidak bisa melihatnya pergi," ucap Suzu sembari menoleh kearah suaminya yang tengah menulis laporan.
"Tidak masalah. Dia sudah paham apa yang akan dilakukan. Jadi aku tak perlu mengatakan apapun padanya." Kemudian Takatora berhenti menulis, menaruh kuasnya di suzuri lalu memandang Suzu yang kembali mengarahkan pandangannya ke luar. "Kau mencemaskannya?"
"Awalnya, ya. Tapi setelah Takatora-sama berkata begitu, aku jadi tenang," ucapnya setelah tertawa kecil.
Takatora lalu terdiam sejenak, bangkit dari posisi duduk dan menghampiri istrinya. Menyadari keberadaannya mulai dekat, Suzu kembali menoleh ke belakang. Menatap suaminya dengan bingung.
"Benarkah begitu?"
Mereka saling berbalas pandang, Suzu seolah-olah merasa dirinya tenggelam ke manik biru laut milik Takatora. Pertanyaannya barusan sepertinya mengarah ke pembicaraan mereka tadi pagi.
"...Aneh, ya? Dengan mudahnya aku mempercayai Yoshitsugu-san akan selamat. Tapi disisi lain, aku masih ragu... dengan keberadaanku sendiri." Suzu menjatuhkan pandangannya ke lantai, memainkan jemarinya di depan dadanya.
Ternyata dugaan Takatora benar, Suzu bahkan mau mengakui itu di depannya. Karena perempuan itu yakin ia takkan bisa menyembunyikan apapun lagi sejak Takatora menatapnya begitu lekat. Suzu masih memikirkan tentang kenyataan kalau dirinya takkan pernah bisa memberikan satu insan demi keluarganya.
Tanpa mengatakan apapun, Takatora menyusupkan lengannya di sekitar bahu Suzu, memberikannya pelukan dari belakang. Ia membenamkan wajahnya pada surai peraknya yang halus seperti sutera sembari menghirup aroma wanginya.
"Suzu, setelah perang kali ini berakhir. Berjanjilah padaku." Suzu mendongak kepala agar dapat menatap suaminya, mengirimkan pandangan penuh pertanyaan kearah Takatora. "Rasanya tidak adil jika kita berdua bisa melihat laut di Shikoku nanti. Karena itu, setelah kita memenangkan perang ini, kita akan membawa Senmaru ke pantai di dekat sini."
Suzu masih belum menjawab, pandangannya menerawang jauh ke langit sore. "Janji..." gumam Suzu.
Takatora kemudian menyentuh kedua punggung tangannya, lalu menyatukannya. "Berjanjilah padaku, Suzu," bisiknya lagi.
Kelopak mata Suzu masih menurun, seulas senyuman sedih mengembang pada wajah manisnya. "...um." Suzu mengangguk pelan.
-XXX-
-xxx-
-XXX-
A/N : Baik, sampai disana. Gak terasa udah mau hampir lebaran. Karena gak yakin kapan mau update lagi, jadi terlebih dahulu saya mau ngucapin mohon maaf lahir dan batin.
As always, review please!
