A/N : Mari balas review~
RosyMiranto18
Takatora : Jangan memanggilku dengan embel-embel '-kun'. Telingaku gatal mendengarnya.
Suzu : *sweatdrop* Uhh, tidak perlu repot soal kipasnya. Jangan anggap serius...
Blossom : Nay nay, soal Chacha liat aja nanti. Lagian ngapain juga seorang putri ngebuntutin salah satu retainer coba.
Scarlet : Jujur... sebenarnya gak perlu repot cari ide tambahan buat review, lagian kami selalu gagal paham baca isi review kamu yang luar binasa panjang, karena ada beberapa ngomongin OOT / soal yang author sama sekali gak tau. But still, makasih udah luangin waktunya buat nge-review sepanjang itu lmao
Hayashinkage17
Senmaru : Aku tahu! Ganbaru yo! Okaa-sama dan Otou-sama juga ya!
Suzu : *senyum, angguk*
Takatora : Kau juga, Senmaru.
Blossom : Nah, gak perlu minta maaf. Sini juga kelamaan update-nya lol.
Scarlet : Kami juga bakal nunggu fic-nya author HYSK-san juga ya! Ganbatte! Thanks for the review~
-xxx-
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. Kimura Siblings and Reiki Asuka belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17.
Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal alias amburadul. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan flashback. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XoX-
Bell of the White Hare
-XoX-
CHAPTER 18
Hope Blooms
-XoX-
"Kemana pun pria itu pergi, dia akan terus mengikutinya, ya."
Seorang wanita berambut kepang panjang berdiri di dahan pohon yang tinggi. Ia membuka topeng burung gagaknya, mengarahkan pandangan ke wanita muda bersurai perak bersama dengan pria bertubuh tegap yang berjalan memasuki kapal atakebune dari kejauhan.
"...Apapun itu, kuharap Tuan Ksatria itu tidak gegabah membiarkan kelincinya berkeliaran sendirian di tempat asing seperti Shikoku." Wanita bermanik emas itu menaikkan lengan sebelah ketika menyadari seekor merpati mendekatinya, memberi tempat untuk mendarat untuk burung berbulu putih itu. Kemudian diikatnya secarik kertas pada sebelah kaki merpati. Setelah selesai, ia melepasnya setelah memberi kecupan pada puncak kepala burung tersebut.
Manik emasnya menelusuri tiap pasukan yang tengah bersiap-siap berlayar. "Hmph, meneruskan ambisi Nobunaga untuk menyatukan seluruh negeri dengan jumlah pasukan sebanyak ini... ternyataTenkabito bernama Hideyoshi itu lebih rakus dari yang kukira." Sango menaikkan bahu. "Yah, bukan urusanku. Yang penting adalah keselamatan kelinciku."
Pandangannya lalu kembali terkunci memandang burung yang telah ia kirim, terbang di langit biru yang tak berujung. "Memang memberikan ramuan tak cukup dianggap sebagai pelipur lara. Aku hanya bisa berharap kurungan hatinya kembali terbuka. Menjadi dirinya seperti biasa. Tapi tampaknya aku tak dibutuhkan selama pria itu bersamanya." Sembari memasang kembali topengnya, ia menghilang di telan bayangan.
Disisi lain, Suzu menoleh ke belakang, meratapi para pasukan yang sibuk menyiapkan dan memasukkan suplai ke dalam kapal atakebune. Lalu berpindah ke langit biru yang dihiasi gumpalan awan putih. Manik merahnya menelusuri suara kercipan burung yang terbang dengan bebas.
Menyadari istrinya berhenti berjalan, Takatora menghampirinya. Pandangannya melihat ke apa yang tengah dilihat Suzu. Tatapannya lurus, tetapi kelopak matanya sedikit menurun, sayu. Terlihat jelas ia merenungkan sesuatu, seisi kepalanya menerawang jauh.
Saat keberangkatan mereka menuju pesisir, Suzu memang sempat mencemaskan Senmaru yang ditinggal bersama putri Azai untuk sementara di Ōsaka. Takatora telah meyakinkan istrinya bahwa Senmaru akan baik-baik saja. Ini pertama kalinya mereka mencemaskan sesuatu yang mereka tinggalkan sementara hendak pergi menuju medan perang.
"Kenapa kau tiba-tiba berhenti?"
Suzu tersentak dari lamunan ketika Takatora memanggil namanya, lalu menolehi sang suami. "Ah, tidak..." Suzu menggoyang kedua tangannya. "Entah kenapa aku merasa gugup karena ini pertama kalinya aku bisa menaiki kapal. Aki-san memang hebat, ya."
Takatora tersenyum tipis, lalu membuka sarung tangan sebelah kanan kemudian mengulurkannya pada Suzu, berniat untuk mengiringnya. "Bukan hanya kau. Aku juga sama." Manik merahnya langsung menatap telapak tangan Takatora yang tak dibungkus dengan sarung tangan hitam. Dengan perlahan Suzu meraih tangannya. Goyah yang mempermainkan perasaannya mulai ringan begitu tangan mereka saling terjalin. Suzu membalas senyuman Takatora dengan tawa kecil.
"Tapi Tuan seperti biasa tak pernah terlihat gugup."
Takatora tertawa mendesah. "Begitu, 'kah?"
Tatkala mereka berjalan memasuki kapal, Suzu mengunci pandangannya begitu melihat seekor merpati putih terbang. Lalu burung tersebut mendarat di depan kaki Suzu sehingga sepasang sejoli itu berhenti berjalan.
"...Merpati?" gumam Takatora.
Menyadari ada sesuatu yang diikat pada sebelah kakinya, Suzu memungut merpati itu dengan hati-hati. "Kukira kakinya terluka, ternyata ada kertas."
Takatora kemudian menarik kertas kecil tersebut. Mendadak burung merpati itu langsung terbang mengepakkan sayap ketika kertas itu terlepas dari kakinya. "Wah!" pekik Suzu kaget. "Dia langsung terbang..." Pandangan Suzu teralihkan dari langit begitu mendengar suaminya terkekeh. "Takatora-sama?"
"Aku salah menilai wanita itu. Selama ini tanpa kita sadari, dia selalu mengawasimu. Tapi untuk sekarang ia tak bisa," sahut Takatora seraya memberikan kertas tersebut pada Suzu. Tanpa perlu kebingungan lebih lama, ia langsung membaca surat itu. "Bahkan dia sempat menyusup ke dalam kapal ini untuk memberikan ramuan khusus untukmu. Dia menyembunyikannya di dalam. Ayo kita ambil."
Suzu masih belum bergeming, penglihatannya masih terkunci pada surat tersebut.
'Aku tahu kau ingin bertemu denganku. Tetapi, akankah kau mau percaya bahwa hati kita selalu terhubung meski jarak diantara kita sangat jauh?'
Kemudian Suzu melihat nama yang tertulis di surat tersebut. "'Sango'. Jadi itukah nama yang ayah berikan pada nee-sama," gumamnya dengan senyuman menghiasi wajahnya. Rasa rindu mendekap hati terhadap ayahnya. Ia melipat kembali suratnya dan menyimpannya di balik lengan pakaiannya.
"Suzu." Suaranya terdengar lembut, dengan seketika menyadari nada pelan yang menangkap kedua pendengaran Suzu. Pikirannya dengan cepat berusaha mengalihkan perhatian sang suami. Suzu tersenyum begitu sadar dari lamunannya. Lalu ia meraih uluran tangan Takatora.
-XXX-
Pasukan utama mulai berlayar. Hideyoshi terlebih dahulu mengirim saudaranya, Hidenaga untuk berlayar menuju Shikoku, dimana dia sekaligus ditunjuk sebagai komandan perang kali ini. Ditemani dengan Kanbei serta jendral yang lain, mereka akan menyusun rencana setelah bertemu dengan pasukan klan Mōri. Dengan jumlah pasukan yang cukup banyak sekitar enam puluh ribu, begitu pula atakebune yang telah dipersiapkan dengan jumlah yang sesuai oleh Kimura Aki.
"Omong-omong, pasukan klan Mōri juga akan berangkat hari ini, bukan? Awalnya aku berpikir tak mungkin jika majikanmu serta pasukannya akan mengunjungi Ōsaka terlebih dahulu..." tanya Aki kepada Nagachika.
"Tak perlu khawatir. Aku yakin tak lama lagi kita akan berpapasan dengan kapal pasukan Mōri."
Aki manggut paham. "Yah, meskipun Gyōbu-dono dikirim kesana untuk melakukan konfrontasi kedua kalinya sekaligus menjadi umpan. Aku yakin Chōsokabe tidak akan mengubah keputusan meski mereka kalah dalam jumlah. "
Nagachika mengangguk setuju, memandang sejumlah kapal yang berlayar bersamaan. "Hm, peluang yang kita dapat ini takkan berpengaruh pada mereka."
Aki menggeram pelan sembari mengacak rambutnya. "Jiwa pemberontak... huh."
Nagachika menaikkan alis kebingungan, menyadari sikapnya berbeda dari yang ia kenal dulu. "Ada apa denganmu hari ini, Kimura Aki? Padahal hari ini pertama kalinya kita bisa bekerja sama. Kukira kau akan lebih bersemangat."
Aki memalingkan wajah. "Aku belum bisa mengatakannya sekarang, banyak hal yang terjadi. Jadi aku sedikit kesulitan untuk memusatkan pikiranku pada perang kali ini."
"Begitu? Tak apa, tapi jika beban yang kau pikul itu semakin berat, jangan sungkan untuk memanggilku."
"Terima kasih, Nagachika-dono. Sekarang aku sudah merasa sedikit lebih baik. Disamping itu, aku penasaran mengapa Tokugawa tidak berpatisipasi dalam perang ini padahal mereka telah tunduk pada Hideyoshi."
Nagachika mengedipkan mata lalu mengarahkan pandangannya pada sang istri yang tengah berbincang dengan Natsuko. Merasa tak yakin apakah harus merasa lega menyangkut beberapa hal yang juga tak bisa ia beritahu pada rekan seperjuangannya. "...Benar juga. Yah, mungkin karena jumlah kita sudah lebih dari cukup. Bantuan dari Tokugawa tak dibutuhkan. Jadi kurasa Hideyoshi mengizinkan mereka menunggu, mungkin?" Aki hanya manggut-manggut paham mendengar jawaban Nagachika.
Di kapal yang sama, Suzu tengah memperhatikan laut dari tepi kapal. Ia menahan pembatas kapal dengan kedua tangan. Kakinya menjinjit agar dapat melihat lebih luas. Takatora menghela napas melihat raut wajah istrinya yang terpana memerhatikan keindahan laut biru yang bergelombang mengikuti arus. "Hati-hati, Suzu," Takatora berjalan menghampirinya.
"Ah, Takatora-sama, Takatora-sama! Lihat lautnya!" Suzu menarik-narik jubah perang suaminya sembari menunjuk laut yang berkilauan memantul cahaya matahari. Meski mereka tahu perang akan mereka hadapi, tetapi Suzu tak bisa mengalihkan pandangannya dari laut yang memiliki warna sama dengan langit biru. Dan tampaknya ia mengabaikan peringatan Takatora barusan saking terlalu senangnya. "Disaat matahari terbit seperti sekarang, lautnya berkilauan seperti ribuan permata."
Takatora tak bisa menahan senyum ketika melihat raut wajah istrinya berubah drastis dari yang sebelumnya. Wajahnya berseri-seri, sepasang matanya membulat dan mulutnya terbuka memaparkan kegembiraan. Seolah ia terlihat seperti anak kecil yang terpesona melihat hal yang baru ia lihat selama hidupnya.
"Hihi, Suzu-chan terlihat bahagia sekali," ucap Natsuko tertawa ketika melihat ekspresi wajah temannya disusul dengan Shinhana.
"Habisnya ini laut, 'kan? Apakah Natsuko sudah pernah melihatnya?"
"Uh-huh! Tentu saja sudah pernah!" Natsuko membusungkan dada setelah bersandar di pembatas kapal dengan bangga. Awalnya Takatora berniat untuk melarangnya untuk bersandar, tapi ia lebih memilih menunggu Aki menghentikan tingkah adiknya.
"Lalu, apa Hana-dono juga pernah menaiki kapal?" tanya Suzu menolehi Hana.
"Ya, tentu saja pernah." Hana mengangguk.
"Nah, kalau begitu ayo duduk disini bersamaku! Pasti rasanya lebih hebat kalau melihat lautnya dari sini!" ajak Natsuko sembari menepuk pelan kayu pembatas yang ia duduki.
"Benarkah?" Suzu mengerjapkan matanya lebih takjub.
"Bodoh, jangan lakukan itu," jawab Takatora mengernyitkan sebelah alis. Jengkel melihat sikap Natsuko yang terlalu santai, tak memikirkan akibat jika ia melakukan itu.
Natsuko tertawa pelan dengan seringai jahil di wajahnya. "Aduh, Takatora-dono melindungi Suzu-chan terlalu berlebihan. Setidaknya lepaskan dia sejenak supaya dia merasa lebih bebas. Ya, 'kan, Suzu-chan?" Suzu hanya bisa menjawab dengan senyuman canggung. Takatora sudah melarangnya, tanpa berpikir panjang ia menuruti perkataan suaminya.
"Begitu? Kalau kau ingin tenggelam ke dalam laut, aku takkan menghentikanmu. Tapi aku tidak akan menerima jika kakakmu menyalahkanku nanti," desis Takatora dengan dingin.
Natsuko tertawa lebar. "Aku tahu kok!" Lalu ia menarik tangan Suzu dan Hana. "Ayo! Kita lihat dari sini! Kalau melihatnya lebih dekat pasti lautnya akan terlihat lebih indah! Kamu juga tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini, Suzu-chan!" Suzu mengangguk dengan antusias, melihat reaksi istrinya Takatora hanya bisa menghela napas panjang sembari mengurut kening.
Dengan tidak sabar, Suzu bergegas memposisikan dirinya duduk diatas kayu pembatas bersama Natsuko. "Ah!" Tiba-tiba tangannya terpeleset ketika baru saja duduk.
"Suzu!" Beruntung Takatora dapat menangkap tubuhnya yang hampir jatuh. Menahan punggung dan langsung membawanya ke dalam pelukannya. "Dasar bodoh! Sudah kubilang 'kan!"
Suzu tertawa canggung. "Ah... haha, hampir saja."
"Jangan tertawa! Kau bisa saja tenggelam ke laut!"
Suzu terbungkam ketika Takatora meninggikan nada suaranya. "...m-maafkan aku." Suzu menundukkan kepala.
Air muka yang awalnya cerah berubah mendung seketika membuat Takatora sadar dirinya terlalu berlebihan. "...Tidak, maaf telah membentakmu," gumam Takatora sembari meregangkan pelukan lalu mengusap rambutnya, berharap ia tak memasang air muka yang selalu membuat hatinya pedih. Tak ingin Suzu kembali menyalahkan diri hingga membuatnya kembali tenggelam ke keburukan dirinya. "Jangan dipikirkan."
"...baik." Suzu tersenyum pahit, lalu memalingkan wajah. Menyadari reaksinya, Takatora menghela napas. Merasa bodoh telah membuat atmosfer di sekitar mereka berubah berat.
Hana dan Natsuko yang hanya bisa terpaku karena kaget tak dapat berkata-kata. Natsuko kemudian menatap sepasang sejoli itu bingung setelah menghela napas lega. Atmosfer diantara mereka yang begitu canggung sehingga sulit untuk mengalihkan pembicaraan. Hening langsung menyusup diantara kedua pihak. "Eh, Hana-chan. Apa hanya perasaanku saja, ya? Suzu-chan dan suaminya terlihat kaku, tidak seperti biasanya."
Hana kemudian turun. "Entahlah, tapi kurasa iya. Apa mungkin Suzu-san masih memikirkannya...?"
"Eeh? Padahal aku sudah memberitahunya kalau onii-chan tidak marah."
"Berarti... tampaknya dia bukan memikirkan tentang itu saja." Hana menaruh telunjuk di dagu, mencoba menebak. "Yah, walaupun begitu aku yakin nanti mereka akan baikan lagi kok. Hubungan suami istri memang seperti itu," lanjut Hana mengedipkan sebelah mata dan tersenyum.
"Eh? Apa maksudmu?" Natsuko memiringkan kepalanya bingung.
"Natsuko! Jangan duduk disana!" teriak Aki dari kejauhan. Ia berjalan dengan cepat menghampiri adiknya. "Dasar! Kau bisa jatuh ke dalam laut! Setidaknya pikirkan juga keselamatanmu!" Natsuko hanya bisa tertawa malu sambil mengusap punggung kepalanya.
Aki lalu menoleh ke pria yang sejak tadi diam berdiri disampingnya. "Takatora! Kenapa kau membiarkan Natsuko? Setidaknya―"
"Haa?" Takatora menyipitkan mata dan menatap pria dengan klan Kimura itu dengan dingin.
Aki spontan bergidik dan menenggak ludah. "Err, maaf aku kelepasan." Kemudian Aki menarik adiknya. "Ayo, jangan bermain-main. Sebelumnya kau bilang ingin membantuku, 'kan? Ikut aku."
"Baiklah," keluh Natsuko menggembungkan pipi.
Hana tertawa pelan melihat tingkah Natsuko. "Kalau begitu aku juga harus bersiap-siap. Aku tidak sabar bertemu dengan ayahku. Sampai jumpa nanti!" Hana pun pergi meninggalkan sepasang sejoli itu sendirian.
Suasana hening semakin dalam diantara kedua pihak. Sang istri ragu untuk berkontak mata. Sementara manik biru Takatora melirik kearahnya. Jarak mereka yang dekat membuat Suzu ragu untuk menguak keheningan.
Takatora yang membaca air muka Suzu langsung mulai angkat bicara. "Kau masih ingin melihat laut?"
"Eh?" Suzu mendongak keatas menatap suaminya yang lebih tinggi. "Tapi..."
"Aku tak keberatan menemanimu. Lagipula tugasku sudah kuselesaikan." Takatora menggandeng tangannya lalu mendekati pembatas kapal. Pria itu berdiri di belakang istrinya, memandangi laut yang sama. "Apa kau tahu? Saat aku berkeliling sendirian untuk pergi mencari majikan yang pantas, aku belum pernah melewati pesisir."
Suzu mengerjapkan matanya setengah terbuka. Sebelumnya Takatora jarang membicarakan tentang masa rumitnya berkelana sendirian demi melepas keadaan dirinya yang tak bertuan, sekaligus demi meneruskan kepercayaan tuannya dari klan Azai untuk tetap hidup. "Sungguh?"
Takatora mendengus. "Tapi anehnya aku tak begitu bergairah sepertimu. Padahal ini juga pertama kalinya aku melihat laut."
"Takatora-sama tidak menyukai laut?" tanya Suzu masih menatap suaminya.
"Aku tidak pernah berkata begitu. Jika itu benar, aku tidak mungkin berniat menemanimu memandangi laut." Takatora kemudian mengistirahatkan kedua telapaknya diatas bahu Suzu, lalu mendaratkan kecupan singkat di puncak kepalanya. "Suka atau tidak, yang penting kita memiliki momen yang sama untuk pertama kalinya. Bukankah itu hal yang bagus?"
"...um. Tuan benar." Suzu mengangguk setuju. Nada suaranya berubah tersipu. Ketika hening kembali menyambut diantara kedua pihak. Suzu kembali angkat bicara. "Um... Takatora-sama."
"Ada apa?"
Suzu menarik napas sembari mengusap dada sebelum mulai berbicara, mengumpulkan semua yang membebani emosinya. "Apakah benar tak masalah kalau aku terus hidup seperti ini? Aku tidak bermaksud meragukan Takatora-sama tapi..."
Takatora menatapnya dalam diam. Baru saja nada suaranya kembali berubah, sendu kembali menyinggahi suasana hatinya. Awalnya ia berpikir Suzu dapat melepas keburukan dirinya dengan membicarakan hal lain. Kekurangan dirinya yang takkan pernah bisa memberikan keturunan demi masa depan mereka kelak masih tersimpan dalam benaknya.
"Suzu, aku tak bisa menjelaskan semuanya dengan baik. Tapi, ada satu hal yang kupahami." Dia berbalik menghadap sang suami dan bertatapan wajah. "Ketulusanmu demi memberikan kebahagiaan padaku dan Senmaru telah melapangkan segalanya. Terlebih, kau tak harus merasa bertanggung jawab. Hanya dengan keberadaanmu bersamaku, aku tak menginginkan apapun lagi. Aku yakin Senmaru juga merasa seperti itu."
"Takatora-sama..." Suzu lalu menurunkan kepala. "Aku tahu itu, Tuan. Tapi apakah benar tidak apa? Aku benar-benar takkan pernah bisa memberikan insan satu pun untuk Takatora-sama. Saudara untuk Senmaru..."
"Senmaru telah memiliki kita berdua. Aku sudah berkata begitu, bukan?"
"Tapi... meskipun begitu, mungkin saja di saat yang akan datang, Tuan akan... membutuhkan selir." Kedua tangannya meremas ujung rok hitamnya. "Dulu aku pernah mengatakan pada Takatora-sama kalau segalanya tidak akan berjalan mulus seperti yang diharapkan. Terkadang ada kalanya kita harus mengubah jalur demi masa depan kita." Tangan Suzu kemudian meraih jubah perang Takatora, mencengkramnya dengan kuat. "Padahal aku sendiri yang telah mengatakan itu. Tapi kenyataannya, aku takut itu akan terjadi. Rasanya aku seperti telah berbohong pada Tuan..."
Sebelumnya Suzu telah membicarakan hal yang sama dengan Nene. Dirinya merasa sedikit paham bagaimana rasanya jika suaminya memiliki selir, meskipun saat ini Takatora belum memilikinya. Suzu tahu bahwa Takatora takkan pernah mengkhianatinya, dia bukanlah pria yang buruk seperti itu. Hanya saja ia ingin menaklukkan keraguan di dalam benaknya. Takatora juga menyadari itu.
"..." Takatora juga tak menyangkal masa depan yang samar yang baru saja Suzu katakan. Tapi tutur katanya tersebut juga berisikan kesepian hatinya, namun ia ingin mengisi kebahagiaan orang yang paling ia sayangi. Memikirkan itu membuat Takatora ingin tertawa. "Heh, begitu rupanya. Sepertinya baru sekarang kau mulai menemukan kekurangan dari kisah dongeng kesukaanmu. Kau merasa terancam dengan Yagami-hime itu." Takatora mendengus geli.
Wajah Suzu langsung merona merah pekat. Takatora tahu istrinya sangat menyukai cerita dongeng itu. Hanya saja, sebagian dari diri Suzu tak senang dengan akhir dari ceritanya walaupun berakhir bahagia.
Melihat ekspresi sang suami, tampaknya ia berhasil menebak kalau Suzu menginginkan akhir cerita itu sesuai dengan imajinasinya. Okuninushi yang berakhir hidup bahagia dengan seekor kelinci putih yang telah ia selamatkan.
Tak hanya itu, melihat suaminya yang menahan tawa. Tak sering Suzu melihat respon seperti itu. Sebagian dari dirinya merasa sedikit senang tapi juga membuatnya sedikit kesal. "T-Takatora-sama...!" jerit Suzu tersipu.
"Hmph, mungkin kau benar, aku tak menyangkal jika masa depan seperti itu akan datang. Kita tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan."
Suzu menggigit bawah bibirnya, merasa ia benar-benar akan mengambil selir. Takatora tersenyum pahit begitu menatap wajahnya. Keinginannya untuk memiliki keturunan serta menjadi seorang ibu akan direbut. Itu adalah impian terhebat setiap bagi wanita untuk membahagiakan keluarganya. Ia merasa tak berguna jika membiarkan keinginan Suzu tersebut akan diambil alih oleh selir.
Tetapi Takatora paham takkan ada gunanya jika ia terus memikirkan masa depan kelak. Saat ini ia perlu membantu istrinya terlepas dari keraguan.
"Tapi hanya karena hal itu, aku takkan mungkin meninggalkanmu. Tak hanya itu, segalanya... masa depan seperti itu masih belum ditentukan." Takatora menyeka bulir bening pada pelupuk mata sang istri dengan tangan kanannya yang masih tak dibungkus dengan sarung hitam.
"Terlebih, kau tak berbohong. Kau begitu tulus memperhatikanku dan Senmaru, memikirkan cara agar dapat menghidupkan kebahagiaan... itulah buktinya. Dengan tulus, kau mencintai kami dari lubuk hatimu yang terdalam. Tak ada orang yang lebih baik darimu bahkan menggantikanmu. Kau adalah kau. Hanya disaat kau tetap berada di sisiku dan tersenyum... Dengan waktu yang masih kita miliki, kita masih bisa menciptakan kenangan baru dalam hidup. Bukankah itu yang pernah kau katakan padaku?"
Suzu menatap suaminya dalam diam, senyuman lembut penuh syukur mulai terukir pada wajahnya, bulir bening berlinang pada pelupuk matanya. Sang suami tahu senyuman itu bukanlah kebohongan, melainkan kebahagiaan. "Takatora-sama selalu saja... memberiku kekuatan. Aku sangat senang." Napasnya yang awalnya sedikit sesak kini terasa ringan, Suzu menghela napas. Memang sangat disayangkan ia tak dapat memberikan keturunan. Akan tetapi hal itu sekarang bukanlah menjadi penghalang baginya untuk tetap berada di sisi Takatora. Selama ia masih bernapas, ia masih dapat berharap.
"Tapi, sedangkan aku masih belum memberikan apapun padamu..."
"Bodoh, apa kau lupa?" potong Takatora dengan lembut. Sama sekali tak ada amarah dibalik nada suaranya. "Di saat aku berniat membawamu jauh dari negeri ini. Aku ingin menyelamatkan dirimu, tetapi kebutaanku pada putus asa hampir membuatku kehilangan arah. Dan disaat itu kaulah yang telah merubuhkan tembok yang terhalang di antara kita." Ditangkupnya wajah sang istri dengan lembut. "Disaat itu, rasanya seolah-olah aku dapat bernapas dengan lega untuk pertama kalinya."
Senyuman hangat yang menghiasi paras manisnya merekah bersamaan dengan asa yang menggebu di dada, kemudian Suzu tertawa kecil. "...Kalau begitu, apakah tidak masalah jika aku terus melangkah maju?"
"Jangan mengatakan itu seolah kau akan berjalan sendirian. Tentu saja, aku tetap bersamamu. Lagipula, kau takkan membiarkanku berjuang sendirian, benar?"
Suzu melebarkan senyumannya, menyandarkan dahinya pada dada bidang Takatora. Mengingat mereka berada di luar, Suzu tak berani memeluk suaminya di depan orang banyak. Ia hanya meremas jubah perangnya. Berusaha menyembunyikan dirinya dibalik dekapan Takatora. Setidaknya ia dapat memberikan dekapan kasih sayang meski hanya kecil. "...Tak ada orang yang lebih baik selain dirimu, Takatora-sama,"
Mendengar bisikan itu, Takatora merengkuhnya dengan erat. Suzu memekik kecil, terkejut begitu kedua lengan kuatnya melingkari tubuh Suzu. "T-Tuan... Ini memalukan. Seseorang akan melihat kita...!" jerit Suzu panik.
"Abaikan saja..." dengus Takatora sembari mengusap rambutnya. "Aku sudah menahan diri, kau tahu. Sebenarnya aku ingin melakukan lebih dari sekedar memelukmu."
"Eh...?" Suzu tak dapat merespon apapun, hanya dapat tertawa kecil. Menimbun wajahnya semakin dalam pada dada sang suami.
Sementara itu, Aki yang tengah membersihkan pedangnya memerhatikan sejoli itu dari kejauhan. "Duh, sepertinya yang disebelah sana sudah berada di dunia mereka sendiri..." gumam Aki. Sebelah alisnya mengernyit, bahkan disaat menuju perang ia tak menyangka Takatora sempat meluangkan waktunya dengan istrinya.
"Nah, kalau iri kenapa onii-chan tidak melamar Asuka-chan saja setelah perang ini?" goda sang adik sembari menyikut lengan Aki.
Hening sejenak. Aki mengerjapkan matanya menatap adiknya. "Bah! Aku sama sekali tidak iri! Soal itu juga bisa dipikirkan nanti―"
"Hehe? Kepikiran toh..." Seringai terbentuk di wajah adiknya.
"Berisik! Jangan alihkan pembicaraan! Ayo!"
Disisi lain, Hana berdiri di samping Nagachika. Pandangan keduanya tertuju pada laut. "Kira-kira bagaimana reaksi ayah nanti, ya?" Hana menyembunyikan lengannya di belakang punggung.
"Maksudmu?" Nagachika menoleh menatap istrinya.
"Saat aku bertemu dengan ibuku, aku tak berani mengirim surat pada ayah. Sebenarnya aku ingin langsung pulang ke Aki dan memberitahu ayah. Aku ingin tahu apakah ayah akan merasa lega atau sebaliknya."
Nagachika masih belum menjawab, ia lebih memilih menunggu istrinya selesai berbicara. "Sebenarnya aku masih menolak. Entah bertahun-tahun lamanya dan baru pada saat itu... ibu menemukanku. Kenapa tidak lebih awal?" Hana tersenyum pahit. "Aku tahu seharusnya aku tidak boleh berpikiran seperti ini, tapi sulit sekali. Aku masih tak bisa percaya dan menerimanya. Terdengar jahat, ya?"
"Itu wajar. Tapi aku yakin, seiring kau masih hidup pasti ada saat yang tepat dimana kau bisa menerimanya." Nagachika memberikan senyuman meyakinkan pada istrinya.
Hana tertawa kecil lalu tersenyum dengan lembut. "Benar juga. Aku tak sabar ingin bertemu ayah. Tentu saja, anak-anak kita juga pasti juga sedang menunggu kita."
"Ya." Sepasang sejoli itu kembali memerhatikan laut. Memaparkan senyuman keyakinan pada wajah masing-masing keduanya.
-XXX-
Pasukan Hidenaga akhirnya telah sampai pada pesisir Shikoku. Sekumpulan pasukan berbaju besi oranye yang berasal dari klan Mōri, datang terlebih dahulu dengan jumlah tiga puluh ribu.
Hana bergegas turun dari kapal, berjalan dengan cepat menuju kapal milik Mōri. Disusul oleh Nagachika, mendengus geli ketika melihat istrinya yang tak sabar bertemu kembali dengan ayahnya. Entah disaat seperti ini merupakan waktu yang tepat untuk reuni, Nagachika pun tak bisa menebak.
"Chichi-ue!" sorak Hana dengan senyuman lebar pada wajah. Menghampiri seorang pria yang memiliki surai pirang gelap yang persis seperti Hana. Sang ayah tersenyum.
"Selamat datang kembali, Hana, Nagachika. Aku percaya kalian dapat kembali pada kami dengan selamat."
"Terima kasih, Takakage-sama," sahut Nagachika sembari menundukkan kepala memberi hormat bersamaan dengan istrinya. Begitu mereka kembali mengangkat wajah, pandangan mereka teralihkan pada seorang perempuan yang baru saja datang.
"Chie!" seru Hana tersenyum lebar dan langsung memberikan pelukan rindu. Perempuan bernama Chie itu tersenyum dan membalas pelukannya. "Aku tak mengira kau datang. Akhirnya sekarang kau bisa ikut bersamaku."
Chie melepas pelukan lalu tersenyum. Kedua tangannya bergerak memberikan bahasa isyarat. "Ya. Perjuanganku untuk berlatih selama ini tidaklah sia-sia."
Hana mengangguk kencang, senyum bahagia masih merekah pada paras cantiknya. "Bagaimana denganmu, Hana? Aku yakin kau akan menceritakan padaku tentang hal baru yang kau temukan sejak berada di Ōsaka." lanjut Chie.
Hana mengerjapkan mata, dengan sekejap senyumannya menurun. "Itu... sebenarnya..." Ia bertatapan wajah dengan sang suami. Dari sorot mata Hana yang tertuju padanya, Nagachika langsung paham.
"Takakage-sama. Ini menyangkut tentang 'beliau'. Saya tahu bukan saatnya untuk memberitahu tentang ini, tapi..."
"Tak masalah. Katakan," jawab Takakage memberikan senyuman meyakinkan.
-XXX-
Sementara itu, Hidenaga telah memerintahkan beberapa pasukannya dan pasukan Mōri untuk mengambil alih markas sebelah utara dan timur laut. Kemudian mengirim pasukan pengintai termasuk Suzu untuk menemukan posisi Yoshitsugu dan Hidehisa.
"Awalnya aku mengira pasukan Chōsokabe akan menghalangi kita untuk berlabuh. Tapi ternyata tidak," gumam Suzu sembari memasang tudung kepala. "Apakah kita beruntung...?"
"Sebetulnya aku tersanjung mereka tetap menolak untuk tunduk. Jumlah pasukan ini tampaknya bukan apa-apa bagi mereka," dengus Takatora. "Dengan mengirimkan pasukan sebanyak ini untuk mengintimidasi mereka, tetapi mereka sudah siap sedia untuk menghadapi perang kali ini."
"Yah, aku sudah menduga itu. Mereka mungkin tak menghalangi kita berlabuh, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa mereka telah membulatkan tekad untuk menjatuhkan pasukan Hashiba di tanah ini. Dengan jiwa pemberontak yang mereka miliki," sahut Aki.
"'Jiwa pemberontak'...?" Suzu menoleh kearah Aki.
"Begitulah." Aki mengusap tengkuknya. Raut wajahnya berubah bimbang begitu Suzu menatapnya. "Omong-omong, maaf telah menyusahkanmu, Suzu-dono. Natsuko sudah menjelaskannya padaku, padahal kau mengalami masa-masa sulit baru ini. Tapi aku malah membebanimu. Sepertinya aku―"
"Terlalu menyayangi adikmu, melihatnya saja sampai membuatku muak," tukas Takatora menyambung ucapan Aki.
"Hei! Aku mengerti kau berterus terang tapi setidaknya bisakah kau ubah cara bicaramu itu?!" balas Aki yang mulai kesal mendatarkan telapak tangannya pada Takatora. Takatora hanya menaikkan bahu.
Setetes keringat menurun dari pelipis Suzu yang hanya bisa tersenyum canggung menanggapi komentar suaminya. "Tidak sama sekali, kok, Aki-san. Lagipula selama ini Natsuko sudah menganggapku sebagai temannya, karena itu sudah wajar bagiku untuk melakukan sesuatu demi kebaikannya." Suzu tertawa kecil. "Aki-san memang kakak yang baik," sahut Suzu tersenyum lembut.
"Oh, lihatlah, Takatora. Kau sebaiknya belajar lebih banyak tentang kesopanan dan kesantunan dari malaikatmu yang satu ini," ucap Aki tersenyum miring pada Takatora.
"Hmph, aku tidak mau mendengar kalimat itu dari seseorang yang sendirinya meminta pertolongan tanpa alasan yang jelas. Aku penasaran sekarang siapa yang sebenarnya yang lebih memiliki sikap yang buruk," dengus Takatora.
"Tunggu sebentar! Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku akan menjelaskannya setelah kita memenangkan perang, bukan?! Tapi kau sama sekali tak peduli!" balas Aki.
Tak dapat berkomentar apapun selain memikirkan bagaimana cara menghentikan perdebatan mereka, Suzu hampir melupakan tugasnya. "Er... aku harus pergi menemukan rombongan pasukan Yoshitsugu-san sekarang. Jadi..."
Takatora lalu mengalihkan pandangannya kearah sang istri, mengabaikan sorotan tajam dari Aki yang masih kesal. "Ya, ingatlah. Apapun yang terjadi kau harus kembali padaku." Tangannya meraih wajah Suzu. Manik birunya bertemu dengan merah. "Jika tidak, aku yang akan datang padamu."
Suzu menahan dengan lembut punggung tangan Takatora yang mengusap wajahnya lalu memaparkan senyuman khasnya. "Ya."
"Hebat. Padahal aku berada disini tapi kalian masih sempat menciptakan atmosfer milik kalian sendiri," komentar Aki datar menyela.
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk tetap disini. Lebih baik kau segera pergi daripada mengoceh tidak penting," balas Takatora dengan ekspresi minim, tanpa menoleh ke belakangnya.
"Baik! Aku akan maju terlebih dahulu! Lihat saja, aku akan meraih kehormatan dan menorehkan nama melebihimu! Dengan mempertaruhkan nama Sang Jenius dari Shikoku!" Aki pun langsung pergi dan mengambil senjata. Langkahnya cepat, amarah menguasai emosinya.
"Dia marah besar..." gumam Suzu tersenyum masam.
Takatora memutar bola matanya. "Itu sama sekali tidak mengherankan. Lagipula dia memang sudah seperti itu sejak negosiasi dengan Chōsokabe dinyatakan gagal."
"Eh?" Suzu kembali memandang suaminya.
"Aku yakin dia tidak akan bertingkah konyol seperti itu jika dia tidak memiliki hubungan dengan Chōsokabe. Termasuk menyampaikan negosiasi secara sukarela."
"Oh, benar juga. Jadi karena itu Aki-san tak ingin melibatkan Natsuko." Suzu kembali memalingkan wajahnya, melihat kepergian Aki.
Kedua manik Takatora berpindah pada Suzu, mengunci penglihatannya pada raut wajah istrinya. Sadar ditatapi terlalu lama, Suzu memusatkan penglihatannya pada Takatora. Dahinya berkerut seraya merenungkan sesuatu.
"Takatora-sama...? Ada apa?"
Ia menghela napas, lalu mendekatinya. "Suzu." Kedua tanganya menahan bahu Suzu dengan kuat hingga membuatnya menjerit kaget.
"T-Takatora-sama! S-Sakit! Bahuku...!"
"Suzu, aku akan merasa sentimental jika tak mengatakan ini padamu. Jadi dengarkan aku."
"Eh...?"
"Memang aku sudah pernah mengatakan hal yang sama padamu berulang kali. Tetapi aku tak bisa berhenti mengkhawatirkanmu. Namun sebaliknya, selama ini kau sama sekali tak meragukanku dan percaya bahwa aku dapat bertahan dalam perang kali ini. Aku sangat bersyukur."
"Tuan..." Suzu masih terpaku, alisnya menyempit.
"Karena itu, jika kau merasa tindakanku melewati batas. Kau berhak untuk memarahiku."
Suzu menaikkan kedua alisnya lalu tertawa kecil. "Aku memang tak ingin meragukanmu, Takatora-sama. Dari dulu sejak aku melihat Tuan berjuang, aku bisa merasakan keberanianmu. Berkat Takatora-sama aku dapat menaklukkan keraguanku setiap kali menginjak perang. Di saat itulah aku tak ingin membiarkan pahlawanku, Takatora-sama berjuang sendirian."
Takatora menyinggungkan senyuman. "Kau memang selalu seperti itu. Pilihanku untuk mempertahankanmu disisiku ternyata memang pilihan yang benar." Takatora mendaratkan kecupan singkat pada kening Suzu tanpa perlu menyingkap tudung kepalanya. "Setelah kita memenangkan perang..."
"'Kita akan membawa Senmaru untuk melihat laut', ya, 'kan? Kita sudah berjanji," lanjut Suzu, dengan senyuman masih merekah pada paras menawannya.
Takatora tertawa mendesah. Lalu dengan perlahan mengurangi jarak diantara wajah mereka. Memberikan kecupan singkat pada sepasang bibir tipis milik Suzu.
Rona wajah yang merah tomat semakin menggelap terlihat jelas oleh Takatora. Ia menundukkan kepala agar dapat menyembunyikan wajahnya. "Um, Takatora-sama... Aku juga sebenarnya ingin mengatakan sesuatu..."
"Hm?" Kedua alisnya naik penasaran.
"Selama ini rasanya tidak adil. T-Tapi setelah ini aku akan berusaha mengekspresikan kasih sayangku pada Takatora-sama...! Jadi..."
"...Bicara apa kau?"
Suzu semakin gelagapan, kesulitan merangkai apa yang ada dipikirannya ke dalam kata-kata agar suaminya mengerti. "T-Tidak, bukan apa-apa! Kumohon beri aku waktu sampai aku bisa menjelaskannya. Aku harus pergi sekarang. Permisi!" Cara bicaranya cepat dan terbata-bata. Tak ingin Takatora melihat ekspresinya saat ini, Suzu langsung melompat keluar dari kapal, langkah larinya lebih cepat dari biasanya.
"'Mengekspresikan kasih sayang,' katanya...?" gumam Takatora.
Suara jinkai mulai terdengar. Para pasukan Chōsokabe berhamburan keluar dari markas, mengarahkan sasaran pada kapal atakebune.
"Hmph, Kimura memang benar." Takatora memasang kembali sarung hitamnya. Lalu menarik saiken miliknya dari sarung pedang. "Menghancurkan semua kapal agar kami tak dapat kembali adalah tujuan mereka. Tentu saja aku takkan membiarkan itu." Ia langsung turun dari kapal. "Selama ini aku selalu mempersiapkan diri setiap menginjak tanah peperangan, tanpa mengabaikan kenyataan bahwa aku bisa mati kapanpun. Tapi sekarang aku telah memiliki orang yang berharga, aku takkan menyia-nyiakan nyawa ini demi dirinya."
-XXX-
-xxx-
-XXX-
A/N : Lama tak bertemu, readers. Akhir-akhir ini saya mulai malas lanjut gegara kena writer block. Ada alasan yang lain sebenarnya, saya males ngetik soal battle. Motivasi dan ide langka, menyusun plot dsb. Plus aku gak yakin diksi saya makin parah atau sebaliknya. Yah, aku tahu itu emang derita tiap author. Malah ngikutin malasnya. Sorry to disappoint you. But I'll do my best. Daku masih sayang sama nak Suzu kok. *Scarlet dibekuin Takatora*
Terus, disini aku udah nemu game Sanadamaru, tapi belum dibeli. GAH! DEMI KETEK MITSUNARI, AKU MAUNYA EMPIRES BUAT PC KAPAN, OH KOEI! *Blossom mulai kumat*
Btw, jika berkenan silakan berkunjung ke BoTWH Secret Chapter, lebih fokus ke chapter 10 dengan rute berbeda. Agak mirip dengan 10-A tapi lebih panjang. Rating-nya M jadi buat prmbaca yang sudah dewasa saja ya. Jangan lupa review!
Ehem, seperti biasa mohon review untuk chapter ini! Follow Favorit sesuai keinginan~
またねー!
