A/N : Pengen nonjok diri gegara bacot bilang pengen cepat tapi aslinya malah lambat. Maaf ye. Entah sedang kerasukan apaan waktu itu lmao.

Sejujurnya chapter kali ini susah banget ditulis. srsly. Makin lama narasi sama diksi saya jadi berantakan, bikin ngantuk dibaca qwq. Entah kenapa susah amat nyusun kata yang sesuai dengan imajinasi dalam kepala hiks. Plus aku gak tau ini plot udah pas atau gimana. Well happy reading aja.

Sebelum itu mari balas review! Oh btw thanks buat jigokunoujo follow ceritanya! Eh tapi saya liat keknya orang luar ya. *ketahuan stalking-slap*

RosyMiranto18

Blossom : Walah, pertanyaannya banyak. Yosh, nak dan mas bro jawab tuh!

Takatora : Pengalaman di bidang kesehatan? Terus terang, selama menjadi ronin aku mempelajari banyak hal sendirian demi bertahan hidup. Apapun itu. Jadi jawabannya tidak. *sigh*

Suzu : Kenapa aku memilih pedang? Kalau misalnya aku memilih naginata, sebenarnya aku belum cukup bisa menguasainya. Lagipula alasanku memilih pedang karena ingin menaklukkan ketakutanku. Memang aku pernah latihan bersama Chacha-sama menggunakan pedang kayu, tapi kalau pedang sungguhan...

Blossom : Ey bentar. Apa alasan Suzu memilih pedang gak tersirat disana ye? Let, kamu yang lanjut jawab.

Scarlet : Bad end-nya kek gimana? Mau tahu? Hoho, pas sekali. Di chapter ini ada tanda-tandanya. Mungkin bisa ditebak.

Takatora : *summon es*

Scarlet : Eh woi, santai mas bro! Ah soal malam pertama mereka? Aku pernah post di fb, tapi gagal karena nak Suzu-

Suzu : *summon kertas mantra*

Scarlet : Eh asem ampun nak! *bisik2* Sebenarnya aku ada ketik, ngambil setting di chapter Glowing Red. Disana mereka 'kan *cough*, tapi belum siap gegara mood buat ngetik agak... Terus bingung mau post dimana. Kalau di fanfic rasanya... Eh tapi aku ada bikin gambarnya lho. Kalau mau, aku kirim pake messenger tapi jangan di post ya! Asupan buat sebelum puasa lol *muka lenny* Simpan aja buat penyejuk batin! *oi* Kasihani aibku! Tapi gambarnya gak gitu... eh?

Takatora & Suzu : *musou Scarlet*

Scarlet : *kematian seketika(?)*

Blossom : Arti nama Suzu? Lonceng (kecil). Itu aja kok. Kalau soal arti nama aku gak terlalu pikir panjang. Lagian nama perempuan di jaman Sengoku kebanyakan tidak diketahui. Paling nama panggilan atau nama buddha. Kecuali Ginchiyo atau Naotora itu nama mereka sesudah genpuku. Lagian mereka berdua 'kan pendekar wanita. Nama yang panjang-panjang gitu buat orang kelas atas gitu deh. Nama panggilan buat penduduk kelas bawah jarang punya nama keluarga sebenarnya cmiiw. (saya baru tau infonya baru2 ini btw) Makasih review-nya!

-xxx-

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17. Cover milik saya sendiri, udah diganti.

Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, SERING typo, diksi dan narasi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game dan atau sejarahnya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-xxx-

-XoX-

Bell of the White Hare

-XoX-

CHAPTER 22

One Life, Its Worth

-XoX-

Tak jauh dari Istana Ichinomiya, pasukan Hashiba serta Mōri telah berkumpul dengan jumlah sebanyak lebih dari lima puluh ribu. Mereka telah mendirikan markas sekaligus membawa pasokan senjata dan suplai lainnya. Sedangkan pihak Chōsokabe yang berjumlah seperempat dari sebelumnya hanya dapat mengambil posisi bertahan dalam kastil.

Dari kejauhan manik biru safir milik Takatora tertuju kearah benteng yang akan menjadi sasaran terakhir penyerangan Shikoku tersebut. Sejak bernaung di bawah Hidenaga, pembangunan kastil adalah hal yang sering menyibukkan dirinya selain berperang.

"Hm, ketinggian istananya tidak buruk juga," ucap Takatora dengan sengiran tipis sambil mengurut dagu.

"Haha. Yak, seperti yang diharapkan dari shiro-baka. Selalu memperhatikan kastil dengan jeli," komentar Aki menyeringai sinis.

"Kau bilang apa?" Takatora menyipitkan mata, menatap tajam lawan bicaranya.

"Oh, bukan apa-apa. Anggap saja angin lewat," ucap Aki membuang muka, menghindari sorot tajamnya yang berubah dingin. "Tapi, tidakkah kau pikir istananya tampak sedikit sulit untuk ditembus?"

"Kau sudah pernah kesana, bukan? Seharusnya kau sudah memikirkan rencananya."

Aki terkekeh pelan lalu melipat kedua tangan di depan dada. "Tajam seperti biasa, ya. Tenang saja, aku sudah memikirkan rencanaku sendiri."

Semangat kembali menyulut di dalam diri Aki, ia tampak serius dengan rencana yang ada dipikirannya. "Jangan terlalu percaya diri. Kau akan berakhir mati memalukan."

Aki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya, aku tahu, aku tahu. Tapi hei, setidaknya mati dalam medan perang bukan hal yang memalukan." Ia menghela napas. "Memang, iya. Aku belum siap meninggalkan kehidupanku menggantung apalagi meninggalkan adikku sendirian."

"Aku kenapa, onii-chan?" Kemunculan adiknya yang berdiri di belakang Aki seketika membuat dirinya menjerit kaget.

"Gah! Kau ini! Jangan membuatku kaget!" gerutu Aki berbalik menghadap sang adik.

Walaupun Aki merasa tak nyaman membiarkan adiknya ikut bertempur. Namun Natsuko masih bersikeras tak mau berdiam diri di kapal. Ia tahu percuma untuk menyuruhnya lagi untuk kembali ke kapal. Namun semenjak dua puluh hari lebih pertempuran dimulai, Natsuko tidak lagi berbuat gegabah, dia selalu mengekor sang kakak kemana pun ia pergi. Meski pekerjaannya akan bertambah selain mengikuti arus perang, sejujurnya ia merasa lebih tenang bila Natsuko bersamanya.

Takatora memutar kedua bola matanya begitu mendengar jawaban Aki. "Kau salah memahami maksudku. Yang aku bicarakan adalah julukanmu sebagai Si Jenius dari Shikoku akan tercoreng jika kau gagal menjalankan rencana nekat yang ada di dalam kepalamu itu," tutur Takatora sambil melipat kedua tangan di depan dada.

"Jadi itu yang kau maksud memalukan!? Kau mengejekku, ya!?" gerutu Aki lagi tidak terima dengan ucapan Takatora.

"Bukankah sebelumnya kau juga mengejekku? Lagipula aku meragukan bagaimana kau mendapatkan julukan semacam itu. Tapi aku tak perlu tahu itu," tukas Takatora tanpa menolehinya.

"Hmph." Aki berkacak pinggang. "Bukankah sudah kubilang? Selain menuntaskan masalahku dengannya. Aku akan menorehkan nama melebihimu! Lihat saja!"

"Terserah..." gumam Takatora menghela napas. Lalu bertolak mendahului Kimura bersaudara menuju tenda utama.

Begitu Takatora memasuki tenda, pandangannya langsung terkunci pada seorang gadis bersurai pirang panjang yang tengah mendampingi Hidetsugu. "Chacha-sama...?" gumam Takatora setengah terkejut, tak pernah mengira selama ini putri dari mendiang majikannya ikut serta dalam pertempuran. Entah apa yang menekan dirinya untuk melibatkan diri Takatora sama sekali tak dapat menebak.

"Sudah kuduga kau akan terkejut," dengus seorang pemuda bersurai hitam panjang yang hampir menutup wajahnya dengan sebuah topi dan kerah tinggi, meninggalkan batang hidung dan manik kelabunya terbuka.

Takatora melirik sekilas kearah teman lamanya itu. "Apa kau tahu sesuatu, Yoshitsugu?"

"Baru saja aku mendengar kabar putri dari Akechi Mitsuhide saat ini dibawah perlindungan Chōsokabe. Kurasa Chacha-sama memiliki ikatan tertentu dengan dia."

"...Begitu," sahut Takatora singkat.

Yoshitsugu terkekeh pelan, tahu bahwa Takatora mencemaskan keselamatannya. Bagaimana pun juga, Chacha adalah putri dari Nagamasa dan Oichi yang patut dilindungi. Merasa bertanggung jawab jika sesuatu yang buruk menimpanya.

"Kurasa beliau tidak akan senang jika ada orang yang mencampuri urusannya."

"Aku tahu itu, tapi dia—"

Tiba-tiba seorang prajurit pembawa pesan masuk ke dalam tenda lalu berlutut di hadapan sang komandan. "Hidenaga-sama! Gawat! Pasukan yang telah kami sekap berhasil meloloskan diri, dan mereka sudah membakar salah satu kapal!"

Penghuni tenda yang mendengar laporan tentunya terkejut. Begitu pula Takatora, keberadaan Suzu yang sengaja ia tinggalkan seketika terlintas di pikirannya. Merasa naif mengira Suzu akan aman di kapal, tapi kenyataannya Chōsokabe belum menyerah. Takatora mulai paham betul bagaimana jiwa pemberontak yang pernah Aki katakan.

"Hidenaga-sama, mohon izinkan saya untuk menanggulanginya!" pinta Takatora setelah menunduk di hadapan sang majikan.

"Ya. Tapi kau tak bisa pergi sendirian. Kau harus—"

"Anu...! Mohon biarkan aku ikut!" Seorang wanita bersurai pirang gelap, Shinhana, langsung bangkit dari kursi. "Aku sangat mencemaskan Chie. Tidak apa, 'kan, Nagachika?" tanya Hana menoleh kearah suaminya.

"Aku akan ikut bersamamu." Nagachika menghampiri sang istri, tak ingin kekhawatiran Hana akan membuatnya bertindak gegabah.

"Baiklah. Aku mengandalkan kalian," Hidenaga mengangguk setuju, memberi mereka izin.

"Berhati-hatilah, Hana, Nagachika," ucap Takakage.

Takatora pun segera undur diri, diikuti dengan Nagachika dan Hana bertolak keluar dari tenda.

"Apa yang harus kulakukan? Suzu-chan sedang dalam bahaya..." keluh Natsuko.

Aki membelai pelan kepala sang adik, sambil berharap dapat meringankan suasana hatinya. "Jangan khawatir. Bukankah Takatora sudah pergi untuk menyelamatkannya?" sahut Aki menghibur adiknya. "Saat ini kau hanya perlu memusatkan pikiranmu membujuk putrinya Mitsuhide untuk mundur. Kau ikut bertempur bersamaku agar bisa menemuinya, bukan?"

Natsuko tersenyum lega. "Ya, onii-chan benar."

Takatora bergegas mengumpulkan pasukan kemudian segera meninggalkan markas. Tanpa mengatakan apapun, Takatora langsung pergi mendahului Nagachika dan Hana.

Sepanjang perjalanan, Nagachika membaca raut wajah istrinya yang masih belum berubah. "Kau mencemaskannya?"

"Tentu saja aku cemas!" jawab Hana setengah membentak.

Nagachika tersenyum simpul. "Yah, walau begitu kau harus percaya padanya, Hana. Dalam medan perang ini, aku yakin Chie telah mempersiapkan diri untuk menghadapinya," tutur Nagachika lembut.

Hana terdiam sejenak. Beban di dadanya yang awalnya terasa berat perlahan berubah ringan berkat sang suami. "...Ya, aku tahu itu," jawab Hana dengan suara rendah.

Hana maupun Nagachika tahu betul Chie selama ini tak henti melatih dirinya agar dapat ikut bertempur bersama mereka. Tak membiarkan kekurangan pada dirinya menjadi batasan untuk melindungi keluarganya. Walau Hana sangat memahami akan hal itu, dia kesulitan menguasai rasa cemasnya pada Chie.

"Tapi, tampaknya bagi Takatora-san tidak bisa menganggapnya semudah itu."

Hana memerhatikan suaminya dengan wajah bingung, lalu melirik kearah Takatora yang bergerak di depan mendahului mereka.

"...Kau benar. Aku tahu Suzu-san juga berada di kapal. Tapi entah apa yang membuatnya telihat marah, aku juga tak mengerti."

Sejak Takatora menawarkan diri untuk memberikan bantuan pada pasukan yang mempertahankan kapal, mereka tahu dia bermaksud untuk menyelamatkan Suzu yang ia tinggalkan disana, tak ada alasan selain itu. Akan tetapi 'menyelamatkan' bukan kata yang cukup jika diperhatikan dari mimik wajah Takatora. Bisa dikatakan bahwa seolah dia tak ingin membiarkan kesalahan yang sama menimpanya lagi. Kesalahannya yang tak dapat ditolerir.

-XXX-

Seluruh kashin telah berkumpul di dalam tenda. Hidenaga bersama Kanbei dan Takakage berdiri di hadapan mereka.

"Baiklah, Kanbei, Takakage-dono. Kita tak dapat membuang waktu lebih lama. Nah, silakan dimulai," ucap Hidenaga pada sang penasehat.

"Pasukan akan dibagi menjadi tiga unit. Masing-masing akan mengepung istana dari arah utara, timur dan barat. Kemudian unit khusus akan ditugaskan untuk menghancurkan waduk. Dengan kekurangan suplai air, semangat juang mereka akan semakin menurun, sekaligus sebagai peringatan untuk mereka untuk mundur. Jika mereka masih menolak, ketiga unit akan bergerak untuk menyerang secara besar-besaran," tutur Kanbei.

"Bolehkah aku bicara?"

Kanbei menoleh kearah asal suara, Aki, yang mengangkat rendah sebelah tangannya.

"Tentu."

"Saat bernegosiasi dengan Chōsokabe, aku telah memantau setiap sudut Ichinomiya-jō. Aku telah menemukan jalur menuju bukit. Dengan melancarkan serangan dadakan dari sana, secara langsung kita dapat menembus masuk ke dalam tenshukaku. Dengan demikian, aku akan menyudutkan Chōsokabe Motochika secara langsung."

"Begitu." Takakage manggut paham. "Mendesak mereka dari sisi lain, alhasil mereka akan panik. Antara memilih bertahan di gerbang atau di tenshu. Kurasa itu rencana yang bagus."

"Bagaimana menurutmu, Hidenaga-sama?" tanya Kanbei.

"Ya. Kita patut mencobanya. Kami mengandalkanmu, Aki." Hidenaga manggut setuju.

"Baik! Akan kupastikan rencananya berjalan lancar."

"Semoga dengan ini mereka akan menyerah sebelum kapal yang lain mendapat kerusakan," ucap Hidenaga. "Baiklah, menuju posisi masing-masing. Jatuhkan Ichinomiya-jō!"

Para kashin pun bubar meninggalkan tenda, bergerak menuju posisi masing-masing sesuai dengan pembagian tiap unit.

Pasukan Hidetsugu serta kashin bawahannya bertanggung jawab untuk menyerbu gerbang utara Ichinomiya. Kemudian pasukan klan Mōri yaitu Terumoto, Motonaga, Munekatsu dan Mototaka di gerbang timur. Sedangkan pasukan Hashiba yaitu Mitsunari, Yoshitsugu, Kiyomasa dan Masanori akan menyerang ke arah barat. Pasukan yang dikirim untuk penghancuran waduk dilakukan oleh Hachisuka yang akan maju terlebih dahulu sebelum ketiga unit menyerang ketiga arah dan termasuk serangan dadakan yang akan dilakukan oleh Aki.

"Dan tugasku yang akan menjadi penentuan penyerangan kali ini," gumam Aki. Ia memerintah prajuritnya untuk bergerak dengan perlahan.

"Aah, mendaki bukit itu melelahkan sekali..." keluh Natsuko.

"Aku tidak memaksamu untuk ikut bersamaku. Aku bisa mengatasinya sendiri kalau aku bertemu dengan putri dari Mitsuhide itu."

"Tidak mau! Aku mau ikut dengan onii-chan ke tenshu! Dia pasti ada disana!" bantah Natsuko mencebik.

"Baiklah, baiklah. Aku yang salah untuk menyuruhmu kembali ke tenda. Sudah pasti kamu akan menolak," desah Aki mengusap tengkuknya.

Namun diluar dugaan mereka, seorang gadis belia muncul menghalangi jalan dua bersaudara tersebut. Rambut bergelombangnya dikuncir dua, mengenakan gaun berwarna hitam keunguan yang terkesan mirip dengan budaya nanban dengan renda disetiap ujung pakaiannya. "Cukup sampai disana, ja!"

Aki mengedipkan mata tak percaya. "Yang benar saja...! Kenapa Motochika membiarkan dia mengambil posisi disini?" gerutu Aki sambil mengurut kening.

Berbanding terbalik dengan reaksi sang kakak, Natsuko tersenyum lebar melihat kedatangannya. "Gracia-chan! Akhirnya aku menemukanmu!" seru Natsuko tersenyum lebar.

Gadis bernama Gracia membelalakkan mata. "Natsuko! Kau juga..." Dengan cepat ketidakdugaannya lekas memudar, Gracia mengepalkan kedua tangan. "Kalian telah datang sejauh ini untuk menjatuhkan kami. Selama ini aku selalu saja dilindungi. Tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam!" tegas gadis belia tersebut. "Aku takkan membiarkan kalian lewat. Meskipun orang itu adalah kamu, Natsuko." Gracia mulai memasang kuda-kuda, bersiap untuk menghadang.

Aki menghela napas. "...Dasar, aku tak mungkin melukainya," gumam Aki.

"Kalau begitu, onii-chan, aku akan menyusulmu setelah aku selesai mengatasi ini," sahut Natsuko mengambil sepasang tanbou yang ia selipkan di pinggang.

"Kau yakin?"

"Onii-chan tahu sendiri jawabanku, bukan?"

Aki mendengus pelan. "Baiklah, berhati-hatilah, Natsuko." Aki memerintah beberapa pasukannya untuk melindungi adiknya kemudian langsung menerobos.

Gracia yang berniat untuk menghadang Aki namun dihentikan oleh Natsuko. "Gracia-chan, akulah lawanmu...!"

-XXX-

Sesampainya di pesisiran, Takatora dapat melihat salah satu kapal atakebune tengah terbakar hebat. Amukan api hampir melahap seluruh bagian kapal tersebut.

Memang berbeda dari yang pernah ia lihat, yaitu istana yang terbakar. Meski begitu, melihat kobaran api yang membakar disekitarnya kembali mengorek luka lamanya.

"Kapalnya...!" Hana mendesah kaget.

"Tampaknya mereka baru membakar satu kapal milik Hashiba. Aku yakin mereka telah memutuskan rantai penyambungnya," ucap Nagachika.

Meskipun pasukan Chōsokabe kalah dalam jumlah namun pihak Hashiba yang di pesisir sempat panik akibat serangan kejutan yang berasal dari arah yang tak mereka duga.

Hana mulai menerobos jalan dengan mengayunkan tombak bermata dua miliknya demi menemukan sepupu kesayangannya. Ia menemukan Chie yang tengah kesulitan menahan musuh yang bersikeras untuk menyerbu kapal yang lain. "Chie, kau baik-baik saja, 'kan!?" seru Hana menghampirinya.

Chie menoleh kearah asal suara setelah menebas musuh dengan pedangnya, ia tersenyum simpul begitu melihat kedatangan Hana dan Nagachika yang datang sebagai bala bantuan. "Ya, aku tak apa. Hanya luka ringan. Tapi terlalu cepat untuk menghela napas lega. Mereka benar-benar berinisiatif untuk menghancurkan kapal."

"Begitu." Hana lalu memerhatikan sekitar. "Tunggu, Suzu-san dimana? Bukankah dia juga menetap di kapal?"

Mendengar sebutan nama istrinya Takatora langsung mengalihkan pandangan kearah mereka.

Dengan panik Chie memberi isyarat tangan pada Takatora. "Sejak ledakan tadi, Suzu-san masih belum keluar dari kapal. Maafkan aku, kurasa... dia sudah—"

Takatora yang dapat membaca gestur tangannya, menggertakkan gigi dalam amarah. Genggaman pada ganggang saiken-nya pun semakin kuat. Dia takkan menerima jawaban itu sampai dia benar-benar melihat kebenaran dengan mata kepalanya sendiri. Dia takkan memaafkan dirinya lagi jika membiarkan Suzu mati. Tanpa berpikir panjang, Takatora langsung menerobos ke dalam kapal.

"Apa yang kau lakukan, Takatora-san!?" seru Nagachika mencoba untuk menghentikannya. Tetapi Nagachika tak dapat menyusulnya. Selain itu ia tak mungkin membiarkan musuh yang berusaha menghadang kapal yang lain.

"Wah, mereka semakin banyak saja, ya." Seorang wanita dengan rambut afro muncul, Koshōshō.

"Rupanya kau memang berhasil meloloskan diri. Padahal aku berharap setelah kau disekap, itu akan membuatmu jera." Shinhana mengacungkan ujung tombaknya kearah Koshōshō. "Kau benar-benar serius ingin menghadapi kami? Kalian sudah berada di ujung tanduk. Ichinomiya-jō juga telah kami kepung. Dengan jumlah kalian sekarang, kau takkan bisa menjatuhkan kami semua."

"Memang. Tapi kami telah menetapkan diri untuk menentang hingga akhir pertempuran ini. Jadi kami tak memiliki niat untuk berubah pikiran."

"Artinya kalian menolak untuk menyerah? Sejujurnya aku lebih berharap untuk lebih menyayangi nyawa kalian...!"

Shinhana mulai menghadang Koshōshō, diikuti dengan Chie berusaha menjatuhkan prajurit yang masih bertahan.

-XXX-

"Bergegaslah! Tak lama lagi kapalnya akan tenggelam! Bawa semua suplai keluar! Jangan sampai ada satupun yang tersisa!"

'Terjadi lagi.'

Perempuan bersurai perak itu terhenyak lalu membatu. mata besarnya membulat sempurna begitu menyaksikan kobaran api yang membakar sekitarnya, meratapinya penuh kengerian. Ia bahkan tak dapat melihat birunya langit, hanya kobaran merah menyala yang menyakitkan pandangan dan menyengat kulitnya.

Para prajurit masih saling menyerang, ada yang berusaha menyelamatkan diri dari panasnya api, juga ada yang tak sempat karena ditebas oleh musuh yang berusaha menahan mereka. Bau mayat yang terbakar serta tangisan mereka menusuk indera Suzu.

Pemandangan yang mirip kembali menyelimuti hatinya oleh penderitaan.

Nagamasa, Oichi.

Bibi dan kedua orang tuanya.

Mereka, orang-orang yang amat ia sayangi yang telah lama tiada, meninggalkannya. Mati berhadapan dengan kekejaman negeri dimana mereka hidup.

Suzu menjambak rambutnya, berusaha keras untuk tidak memutar peristiwa kelam dalam benaknya yang terjadi lebih dari sedekade tahun yang lalu. Namun sangat sulit baginya untuk menguburnya, seolah luka berat itu telah mengikis akal sehatnya. Peristiwa tersebut paling memberikan dampak besar terhadap hidupnya. Tak henti memaksa batinnya mengingat akan seberapa panasnya kobaran api itu, seberapa berat kayu bakar yang pernah menindih tubuhnya dan seberapa sakitnya yang ia rasakan saat dalam kurungan gejolak api, seolah dirinya telah melihat neraka.

Kedua bahunya naik turun seiring napasnya tak beraturan. Tak dapat menahan lagi, tangisan kencang berbalutkan penyesalan mulai pecah. Menangis dengan sekuat-kuatnya hingga tenggorokannya sakit.

Tubuhnya semakin lemas, tak ingin melihat pemandangan mengerikan itu tubuhnya pun ambruk. Menenggelamkan wajah diatas paha sembari mencengkram kedua bahu.

"...Maaf. Maafkan aku," lirih Suzu terisak. "Aku tidak berguna, aku tidak bisa menyelamatkan siapapun." Ia menggigit bawah bibirnya tatkala ingatannya mendera saat tubuh mereka yang tak bernyawa dalam kobaran api. "Apa tidak ada yang bisa kulakukan...?"

Suzu memejam rapat matanya. Dia tak ingin mendengar, tak ingin melihat, dan tak ingin merasakan apapun.

Namun tatkala menyadari suara derap langkah seseorang mulai terdengar dekat. Suzu mulai berharap dia adalah orang yang paling ingin dia temui.

Begitu ia mengangkat wajah, manik merahnya yang masih berlinang air mata membulat sempurna, terkunci memandang bilah pedang yang hendak diayunkan oleh seorang prajurit kearahnya.

'Ah... jika aku mati disini, apa aku bisa bertemu dengan mereka lagi?

Jika itu benar. Kumohon... bawa aku kesana.

Aku sangat ingin bertemu dengan mereka lagi.'

Matanya mulai dipejamkan, menolak untuk melawan, dan bersedia membuang nyawa demi menyusul mereka yang berada diatas langit. Merasa tak ingin hidup, perasaan yang menyiksa dan mengurung hatinya begitu persis dengan peristiwa itu.

... ...

Sejenak Suzu menunggu, ia tak merasakan rasa sakit sedikit pun. Atau lebih tepatnya dia belum merasakan sakit. Dia masih bisa bernapas. Dia masih bisa bergerak.

Matanya perlahan kembali terbuka. Dengan mata berair sepasang netra merah Suzu menangkap sosok pria bertubuh tegap menepis pedang prajurit Chōsokabe yang nyaris merenggut nyawa Suzu dengan saiken miliknya. Kelopaknya pun terbelalak melihat figur yang amat ia kenali itu.

"Takkan kubiarkan kalian menyentuh istriku seujung jari pun...!"

Dengan teriakan tajamnya berhasil membuat Suzu tersentak, membuka matanya lebar dari kegelapan yang sempat mempermainkan jiwanya. Bulir bening mulai berkumpul di pelupuk matanya.

"...Takatora-sama," lirih Suzu dengan suara bergetar.

Itu dia, Takatora, pendamping hidup sematinya. Suzu yakin yang ada di depan matanya bukanlah ilusi. Suzu merasa bodoh telah melupakan suaminya sendiri, mengapa ia membiarkan hal yang paling penting itu terselip di pikirannya? Membiarkan masa lalu kembali memperdaya jiwa dan raganya. Padahal begitu banyak waktu dan kenangan yang telah mereka ciptakan bersama.

'Padahal aku sudah tahu, kalau aku tidak sendirian lagi...'

Sepasang giok birunya menyala akan amarah, Takatora mulai mengayunkan pedang, tanpa ragu dan bersikukuh menghabisi musuh tanpa menyisakan seorang pun di hadapannya.

Suzu hanya bisa memandang sayu punggung sang suami, memerhatikan gejolak amarah dari sepasang manik safirnya. Suzu tahu, itu adalah sebuah sorot yang menunjukkan ketetapan naluri hatinya demi melindungi dirinya.

Kapal kembali berguncang hebat, Suzu kembali menjerit ketakutan. Sekumpulan kayu kapal rubuh satu persatu. Amukan api semakin membara dan percikannya semakin menyengat.

"Suzu!" Takatora menjangkau tubuh rapuh istrinya, merangkul dan melindunginya dari reruntuhan. Pria itu merintih menahan sakit yang menggerogoti tubuhnya, menahan panasnya kayu yang membentur punggungnya. Takatora menolak untuk menyerah, tak membiarkan tubuhnya tertindih, sama sekali tak memiliki niat untuk menyerahkan nyawanya pada takdir. Karena semenjak dirinya kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan Suzu saat malam berapi itu, Takatora selalu memilih untuk melawan.

Takatora menolak mengulang kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya. Mereka yang gagal ia lindungi, kini hanya Suzu seorang yang masih bertahan bersamanya. Tak masalah jika dirinya berlumuran dosa. Asalkan dirinya diizinkan untuk melindungi nyawa gadis itu, ia merasa lebih hidup seolah dirinya dapat bernapas di dunia untuk pertama kalinya.

Begitu reruntuhannya berhenti, Suzu membuka lebar matanya. "Takatora-sama! Lukamu...!"

Takatora mencoba menarik napas, terasa sedikit berat. Walau rasanya begitu sakit luar biasa, beruntung Takatora dapat mengendalikan kesadarannya. "...Jadi seperti inikah rasanya saat kau terperangkap di kala itu." Takatora mendengus, kemudian mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk bangkit. "Luka ini bukan apa-apa. Daripada aku harus kehilanganmu, itu lebih mengerikan dari apapun."

Setelah menyimpan pedangnya kembali. Takatora kemudian menyusupkan kedua tangannya ke tubuh Suzu, menopang dan mengangkatnya.

Meski Suzu telah aman di pangkuannya, hati Suzu masih belum bisa tenang. Dia sempat berniat untuk merelakan nyawanya. Jika itu terjadi, ikatan antara mereka selama ini tidak akan ada artinya. Semua untaian kata bersayap yang pernah ia katakan demi membuka mata pria itu dahulu hanya akan menjadi sebuah kebohongan. "Takatora-sama, maaf. Aku..."

Sorot mata Takatora melembut tatkala mereka saling berbalas pandang. "Aku takkan menggunakan ketidakberdayaanku sebagai alasan tak dapat menyelamatkanmu. Dimana pun kau berada meski kau berada di ambang kematian sekali pun, aku pasti akan menarikmu kembali padaku."

Suzu percaya Takatora akan selalu memaafkannya. Semua yang mengekang hatinya telah sirna. Dengan berlinang air mata, Suzu tersenyum penuh haru. "...Ya, aku percaya." Wajahnya dibenamkan ke bahu Takatora lalu melingkari kedua tangan di sekitar lehernya. "Aku juga... aku takkan merelakan nyawaku lagi."

Kendati ia tahu bukan saatnya untuk menghela napas lega, namun melihat sepasang mata Suzu yang tak lagi kosong oleh kesengsaraan, membuatnya tak bisa menahan senyuman. "...Berpeganglah dengan erat." Suzu mengangguk, masih membenamkan wajah di bahunya.

Pria itu mulai berlari mencari jalan aman agar dapat turun dari kapal dengan selamat. Aneh, walau ia tahu dirinya takkan bisa menulis ulang masa lalu. Tetapi ia merasa seakan telah berhasil menghapus kegagalannya.

Kapal kembali berguncang, kali ini terasa lebih besar dari sebelumnya. Suzu tersentak kaget dalam pangkuan sang suami, meremas erat tenugui birunya. Takatora mempercepat langkah kakinya begitu menyadari air mulai menggenangi permukaan kapal.

Dari kejauhan, Takatora akhirnya dapat melihat ujung dermaga, namun beberapa prajurit menghambat jalan keluarnya. Takatora mendecak, ia tak mungkin bisa menerobos dengan mudah.

"Takatora-san!" Nagachika menebas prajurit yang menghalanginya, membuka jalan untuknya keluar. "Bergegaslah!" serunya.

Tanpa perlu dikatakan pun, Takatora sudah mempercepat larinya. Jika ia gagal keluar dari kapal, semua usahanya akan sia-sia. Tidak, lebih dari itu. Kehidupan, tanggung jawab, dan kepercayaan yang telah ditanggungkan kepadanya selama ia hidup akan menghilang. Dia akan mati dalam penyesalan.

Begitu akhirnya Takatora berhasil menginjakkan kakinya keluar, tubuhnya melemas, berlutut namun masih mendekap Suzu di kedua lengannya.

"Takatora-sama..." lirih Suzu setelah turun, berlutut di hadapannya, ia menyambungkan manik merahnya yang sedikit dibendungi bulir bening dengan manik biru milik Takatora. Ia mengatur napasnya sebelum bertatapan dengan Suzu.

Mereka tak bisa bicara sepatah kata pun, mereka sempat mengira bahwa mereka bermimpi telah bebas dari kebakaran itu. Amukan api yang hebat, begitu mirip dengan peristiwa yang pernah membuat mereka putus asa, yang amat melukai batin keduanya, telah berhasil dilewati.

Takatora telah menyelamatkan satu nyawa, nyawa yang bermaksa besar bagi kehidupannya juga. Karena keselamatannya pun juga telah menyelamatkan kehidupannya.

"Dasar, tindakanmu tadi sangat gila, Takatora-san." Nagachika menghela napas lega. "Tapi syukurlah kau dan istrimu bisa keluar dengan selamat."

Takatora menolehi Nagachika, lalu menundukkan kepala. "...Ya, terima kasih. Aku berhutang budi padamu. Juga pada ayahmu."

"Jangan dipikirkan." Nagachika lalu berbalik memandang sisa peperangan yang telah mereda. Pasukan Chōsokabe yang menyerang kapal telah dijatuhkan, tak ada lagi tanda-tanda bahaya disekitar mereka. "Bagaimana pun juga, perang kali ini memang membuktikan 'jiwa pemberontak' yang mereka emban, seperti yang Aki katakan," gumam Nagachika. Lalu bertolak meninggalkan sepasang sejoli itu sendirian, menyusul istri dan sepupunya yang tampak kelelahan. "Sebaiknya sekarang kalian juga harus menyembuhkan diri. Kita bisa mengandalkan pasukan utama untuk mengepung Ichinomiya-jō."

"Ya..." jawab Takatora singkat.

Sepasang sejoli itu kembali membisu, ikut memandang sisa peperangan di depan mata mereka. Namun pandangan mereka teralihkan begitu mendengar suara guncangan kapal itu lagi. Perlahan, kapal serta seisinya dilahap oleh api dan hanyut ke dalam lautan.

Takatora mengalihkan pandangan ke istrinya, dia hanya terdiam sembari menyaksikan pemandangan itu dengan mata sayu.

"Suzu..." panggil Takatora.

"Kumohon, biarkan aku melihatnya sampai akhir," lirih Suzu tanpa mengalihkan perhatiannya. "...Aku sempat berharap ingin bertemu dengan mereka lagi. Tapi kurasa aku takkan bisa bertatapan wajah dengan mereka. Mereka tidak akan bangga padaku ketika aku menyerah."

"..." Takatora belum menjawab, masih mendengar istrinya berbicara.

"Setidaknya aku ingin mati tanpa penyesalan. Dengan begitu, aku bisa menatap mata mereka, dan menceritakan pada mereka kalau aku bahagia dengan jalan kehidupanku."

"..." Takatora merasa ia tak bisa menjawab, tidak menentang maupun menerima. Suzu, dia benar-benar sudah bisa melepas kepergian mereka dan menerima kebenaran.

Tapi bagaimana dengan Takatora? Apakah dirinya masih berkutat dengan masa pahitnya, memendam rasa dendam terhadap sang Tenkabito yang menjadi penyebab kematian kedua mendiang majikannya. Apakah dia telah menerima takdir seperti Suzu? Takatora tahu seharusnya dia bisa menjawab itu karena ditujukan pada dirinya sendiri. Namun entah mengapa Takatora tak dapat menemukan jawaban di dalam benaknya.

Kini, ia merasa kendati jarak diantara kedua pihak sangat dekat dan erat, tetapi terdapat sebuah dinding kokoh yang memisahkan mereka. Suzu yang tanpa pernah merasa dendam pada orang yang telah merebut nyawa mereka. Dia memiliki jiwa yang terlalu lembut untuk hidup di dunia yang kejam ini. Kemurnian gadis itu takkan pernah bisa Takatora terapkan untuk dirinya sendiri.

"Takatora-sama...?" Suzu menatapnya bingung sekaligus khawatir. Dia tampak memperhatikannya saat dirinya tengah merenung. Takatora mendaratkan telapaknya diatas kepala Suzu, lalu mengusapnya dengan lembut.

Bagaimana pun juga, Takatora hanya bisa mengambil sisi baik dari hal itu. Istrinya sudah bisa melangkahkan kakinya ke depan tanpa bimbang. Itu sudah cukup baginya.

"Takatora-sama." Suzu menangkup lembut tangan Takatora yang mengusap kepalanya dengan kedua tangan, lalu mendekatkannya di wajahnya. "Aku... merasa sangat diberkati olehmu. Kalau aku mati di dalam kapal itu, selain tidak bisa bertatapan dengan mereka, aku akan meninggalkan Tuan sendirian. Keputusanku untuk tidak akan membiarkan Tuan berjuang sendirian hanya akan menjadi kebohongan." Suzu tertawa kecil. "Setiap kali aku terdorong ke dalam keputusasaan, Takatora-sama selalu menjadi orang pertama yang membangkitkan harapanku kembali, ya..." Nada suaranya melukiskan kekaguman dan rasa syukur, mendengar kehalusan suaranya saja sudah cukup membuatnya tenang.

Suzu mengangkat wajahnya agar dapat menatap mata sang suami. "Mulai sekarang pun semua yang akan menjatuhkan kita pasti akan datang lagi. Aku, maupun pada Takatora-sama. Saat ini juga, aku akan berusaha untuk selalu mengingatkan diriku dan mengingatkan Tuan. Meski harus berulang kali mengatakannya..." Seulas senyuman tulus mengembang lebar pada paras manisnya. "Aku masih ingin hidup bersama Takatora-sama."

Untaian kata Suzu membuat hati Takatora terbesit mendengarnya. Beban yang sempat muncul dalam dirinya mulai ringan. Padahal ia baru saja telah diselamatkan, tanpa sadar Suzu langsung membalasnya.

Manik merahnya yang bersinar serta senyuman yang menghiasi wajahnya, dan sosoknya yang selalu berhasil menjadi pelipur laranya adalah sesuatu yang membuatnya begitu menawan. Juga merupakan alasannya Takatora begitu mencintainya dengan segenap jiwa.

Senyuman lembut terukir di wajah maskulinnya, membalas kebahagiaan serta asa yang menggebu di dada. "...Ya." Pria itu mulai menyalurkan perasaan itu dengan merengkuh tubuh mungilnya.

Sekali lagi, dia telah terselamatkan. Mereka berdua kembali saling menyelamatkan hati dan nyawa masing-masing. Putaran roda takdir masih memberi mereka kesempatan untuk melangkah bersama.

-XXX-

Di sisi lain unit pasukan Hachisuka baru saja menghancurkan waduk yang dibangun di dekat istana Ichinomiya. Ia segera melaporkan kesuksesan rencana pertama pada Hidenaga dan dua penasehatnya.

Namun setelah diberi peringatan untuk mundur, pihak Chōsokabe bersikeras untuk menentang. Tak punya pilihan lain, Hidenaga mengirim utusan untuk memerintahkan ketiga unit untuk mendobrak masuk gerbang utara, timur dan barat.

"Sudah kuduga mereka akan menolak," gumam Aki. "Baiklah, ini waktu yang tepat untuk melancarkan serangan. Ayo!" Aki memerintah pasukannya untuk turun dari bukit, menyusup ke dalam pekarangan istana Ichinomiya.

Namun setibanya disana, pasukan Aki disambut oleh tembakan teppou yang mengambil posisi di dalam yagura dan tenshu, menjebak mereka dari dalam. Pasukan perisai dengan cepat melindungi tiap prajurit dari tembakan. "Jadi Motochika sudah tahu kalau aku akan menyusup ke dalam."

Ia pun bergegas masuk ke dalam tenshu, menerobos jalan menuju lantai teratas dimana Motochika berdiam diri.

Aki mencoba mengingatkannya untuk tidak bertindak ceroboh, karena itu ia menyempatkan diri untuk menarik napasnya sebelum melanjutkan penyerangan. Tak ingin nyawanya melayang percuma bahkan rencana yang telah diusulkannya berujung kegagalan.

"Motochika!" seru Aki. "Sebaiknya kau menyerah sekarang juga. Sejak awal semuanya percuma untuk menentang kami!"

Seluruh prajurit yang mengawali sang penguasa Shikoku bergegas mengambil posisi demi melindungi sang majikan. "...Begitu. Namun sayangnya, sebagai penguasa Shikoku, aku tak bisa mengabaikan semangat rakyatku yang masih berjuang diluar sana," jawab Motochika dengan tenang. "Majulah, Kimura Aki. Jika kau ingin mengakhirinya, maka kalahkan aku."

-XXX-

Suara gaduh pertempuran yang berasal dari dalam kastil mulai terdengar oleh Gracia. Dia mundur dari serangan Natsuko dan mulai memusatkan pendengarannya.

"Apa yang terjadi...?" gumam Gracia. "Jangan-jangan mereka berhasil mendobrak masuk!?"

"Gracia-chan. Menyerahlah, aku tidak mau menyakitimu lebih jauh!" pinta Natsuko.

Gracia mengepalkan kedua tangannya, menatap Natsuko, teman lamanya dengan ragu. "...Tidak mau, ja! Aku tidak akan mundur!"

"Tidak, kau harus mundur." Tiba-tiba seorang perempuan datang menyela, seketika mengalihkan pandangan kedua gadis itu. Garis wajahnya yang keras namun masih terlihat anggun itu tampak tak senang.

"Chacha!? Bahkan kau juga..."

"Lihatlah di sekelilingmu. Tidak ada artinya lagi untuk melawan, kemenangan sudah pasti jatuh di tangan kami. Karena itu, kau harus pulang bersamaku." Chacha menangkap tangan Gracia. "Turuti perkataanku," tegasnya.

Gracia tampak tidak mau menerima, tapi ia juga tak bisa melawan. Kepalanya menunduk kebawah, tak bisa menjawab ucapan Chacha.

-XXX-

Setelah penuh perjuangan mendobrak gerbang, akhirnya ketiga unit berhasil mendesak masuk ke dalam istana. Langsung menyerbu masuk ke dalam istana. Seketika para prajurit Chōsokabe mulai kepanikan dan berusaha menghindari serangan, hasrat bertarung pun menghilang.

Aki yang mendengar suara gaduh yang berasal dari lantai bawah istana, menghentikan pertarungannya melawan Motochika.

"Mereka datang," gumam Aki. Lalu ia menolehi Motochika. Pria bersurai belang putih hitam itu menurunkan senjata.

"Hmph, sampai disini saja, 'kah?" gumam Motochika.

"Motochika..." Aki ikut menurunkan pedangnya.

"Aku telah membawakan hasrat bertarung mereka untuk menentang sampai sejauh ini. Tapi kurasa memang seharusnya tidak perlu kulakukan jika itu membuat semua rakyatku terbunuh."

Aki memerhatikan sisa prajurit Motochika yang masih bertahan, dengan berat hati menerima kekalahan tersirat jelas di wajah mereka.

"Aku kalah telak. Aneh, sampai rasanya begitu menyegarkan." Motochika kemudian menjatuhkan shamisen yang menjadi senjatanya jatuh ke tanah. Para prajurit tampak terpojok, antara menyetujui keputusan sang majikan atau menerimanya.

"Motochika-sama...!"

"Tak apa, wahai rakyatku. Perjuangan kalian sangat luar biasa. Segera dekalarasikan kemenangan kalian pada pasukanmu, Aki. Kemenangan telah jatuh di tangan kalian."

-XXX-

-xxx-

-XXX-

A/N : Yak, sebenarnya alur battle-nya aku bikin agak buru2 lagi. Dan sampai disana habis 5 chapter(?) buat Shikoku Arc ya. Aftermath mudah-mudahan bisa cepat, karena saya udah ketik baru separuh. Maunya di pasang ke chapter ini aja tapi udah lebih dari 5k. (termasuk A/N, dll)

Sejujurnya akhir-akhir ini sering kebawa stres gegara masalah real life jadi mood ngetik sering hancur. Menggambar pun gak produktif kek dulu. Jadi kangen masa pas saya produktif, jadi lupa rasanya kek gimana... *sigh*

Oke, sampai jumpa di chapter depan! Oh bentar lagi puasa ya. Review, pretty please? Buat penyejuk batin saya plis? *wink- slapped*

またねー!