A/N: Woot gak update 5 bulan, dan jumlah chapter 30! Dan ini udah kesekian kalinya ganti cover wkwk. Maaf sekaligus terima kasih udah menunggu~

Thanks buat Etro18 yang udah follow~

RosyMiranto18

Blossom: Yup, rumit. Aku sampai rewrite tiga kali lho. Aku lumayan puas sama hasilnya :"3

Scarlet: Next! Sebenarnya Takatora ngarepin Hidenaga karena aku nemu di koei-wiki: "Takatora predicts Hideyoshi's death will lead to more wars and longs to serve someone who will create unification that will last. Hidenaga would be worthy but he has fallen gravely ill." Jadi gitu deh. The more you read, the more you know~

Blossom: *sweatdrop* Lha, bukannya aneh kalau minta balikin senjata? Yah kalau di balikin sama orangnya tanpa diminta mah masih bisa dianggap wajar.

Scarlet: Bagi yang belum tahu Nakagawa Kurodo, dia vassal-nya Takatora. Dia pernah tulis buku harian soal Takatora, dan tidak diketahui kalau dia ikut perang atau gak. Tapi kalau didalam fic ini anggap aja perannya sejenis attendant(?). Untuk lebih lanjut silakan cek disini: /todo-takatoras-ishi-mochi-battle-flag

Blossom: Oops kulupa dengan Natsuko. *teeheepero pose* Oke makasih review-nya as always!

-xxx-

Disclaimer: Samurai Warriors belongs to KOEI TECMO. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17. Cover milik saya sendiri.

Warning: Mainly Suzu (OC) x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita. Ada typo, diksi dan narasi yang tidak baku. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game dan atau sejarahnya serta saran dari teman. DLDR, NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XoX-

Bell of the White Hare

-XoX-

CHAPTER 26

Oblivious

-XoX-

"Tak disangka mereka akan mengerahkan pasukan sebanyak ini..."

Di tengah hutan rindang, seorang shinobi tak bernama tengah bersembunyi memantau situasi dermaga dari kejauhan. Berbalut pakaian serba hitam, menyembunyikan wajah selain mata dengan topeng hitam khas ninja pada umumnya.

Dia sama sekali tidak salah lihat, sekitar dua ratus ribu prajurit sedang bersiaga menuju Kyūshū. Sesuai informasi yang ia dapat, sebagian pasukan yang dipimpin oleh Toyotomi Hidenaga akan dikerahkan terlebih dahulu, dibantu bersama klan Mōri yang sudah berada di dermaga. Sedangkan sebagian kubunya lagi yang dipimpin oleh Toyotomi Hideyoshi akan dikerahkan esok hari.

"Hm?"

Perhatian shinobi tersebut teralih ketika merasakan angin sejuk menerpa dirinya. Dia hampir lupa bahwa sekarang sudah memasuki musim dingin. Meski begitu beruntung lingkungan sekitarnya belum sepenuhnya tertutup salju. Namun aneh, ia merasakan sesuatu yang lain, seperti hawa keberadaan seseorang; hangat dan murni. Memang seharusnya ia lebih waspada, tapi entah suatu alasan ia tak perlu mengkhawatirkannya.

"Siapa yang mengirimmu?"

Shinobi tersebut membeku seketika terdengar suara dentingan lonceng dari belakangnya. Pemilik suara lembut namun nada tegas itu berdiri tepat di belakangnya. Dia lengah. Atmosfer yang mengitari gadis itu telah memperdaya dirinya. Ditambah tantou yang dihunuskan pada lehernya membuatnya harus berpikir dua kali untuk melawan.

Dia menoleh ke belakang dengan hati-hati. Matanya menangkap sosok wanita muda bersurai putih salju, anak rambutnya yang panjang hampir menghalangi wajahnya. Namun dibalik tudung kepalanya itu, sepasang iris merah delima yang terbias cahaya menangkap perhatiannya. Mata yang siap menyerang mangsanya.

"Kau punya dua pilihan. Jika tak dijawab, maka nyawamu akan melayang. Tapi jika kau mampu berkata jujur, aku bisa mempertimbangkannya," ucap gadis itu lagi.

"..." Dia tak membalas, hanya menggeram lantaran terpojok oleh seorang perempuan.

"Kurasa percuma menyerahkan pertanyaan tadi padamu. Tapi saat ini kau tak bisa bergerak, kau dibawah kendaliku. Apa kau sudah berpikir kalau itu pilihan yang bijak?"

Dia benar. Karena saat ini kedua kakinya seakan-akan telah dipaku hingga menembus ke dahan pohon, tak bisa berkutik akibat ilusi yang dipasang oleh gadis itu.

Gadis bersurai perak itu terdiam sejenak, lalu kembali bicara. "Kau berpakaian serba hitam, kau bekerja dibawah naungan suatu klan, ya? Bahkan rela jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengintai Toyotomi."

Shinobi itu masih terdiam. Tapi setidaknya sekarang dirinya masih bisa dianggap mujur, gadis itu tak tahu klan apa yang memperkerjai dirinya. Sebuah seringai terbentuk dibalik topeng hitamnya.

"Kau terlalu banyak bicara, nona."

Tanpa diduga, sebuah kemuridama seketika meledak di hadapan perempuan itu. Ilusinya berhasil dipatahkan. Gadis itu segera menghindar.

Sebuah kunai yang dari arah berlawanan dilempar kearah shinobi berpakaian serba hitam tersebut. Yang melempar bukan gadis itu. Shinobi hitam itu menjerit kesakitan, kunai tersebut tepat mengenai bahunya.

Sementara gadis yang sempat menghadangnya, menutup matanya yang perih akibat asap. Ia mundur beberapa langkah, namun keseimbangannya menghilang sehingga ia jatuh dari pohon.

"Aah!"

"Suzu!"

Beruntung seorang wanita bertopeng burung gagak dengan sigap menangkap gadis yang dipanggil Suzu itu seiring dia melompat menggunakan kaginawa.

"Sango-neesama!" Suzu membelalakkan mata, tak menduga sang kakak muncul membantunya.

"Reaksimu tumpul. Ya ampun, sudah berapa lama kau menjadi kunoichi tapi masih saja ceroboh."

Setelah keduanya mendarat dengan selamat, shinobi itu melarikan diri dari gumpalan asap. Ia mencabut kunai yang menancap di sebelah pundaknya, membuangnya di hadapan sepasang kakak-adik itu. Seraya menahan sakit yang menggerogot tubuhnya, dia mendecih. "Sial!"

"Gawat! Dia melarikan diri! "

"Biarkan saja. Dari awal dia memang tak berniat melawan. Hanya mata-mata," sahut Sango sembari mengambil kembali kunai-nya, kemudian menyeka darah yang membasahi bilahnya.

"Aku tahu itu tapi..." Suzu tak bisa mengabaikan kesempatannya untuk mengikuti jejak darah milik shinobi tadi, namun ia mulai ragu dengan peringatan sang kakak.

"Lagipula, aku yakin dia tak mungkin mampu menyerang setelah keberadaannya ditemukan. Apalagi melihat jumlah pasukan sebanyak ini. Terlebih jika mereka menyerang saat kalian berada di Kyūshū, itu bisa saja memperburuk reputasi klannya dan dicap sebagai pengecut."

"Ah, benar juga." Suzu mulai mengurung niatnya. "Sayang sekali, padahal aku baru saja ingin mencoba tantou baruku," gumam Suzu sembari menyimpan tantou-nya ke dalam obi. "Tapi terima kasih sudah membantuku, nee-sama."

Sango terkekeh pelan kemudian bergumam. "Terkadang kau bisa juga mengatakan hal yang mengerikan, ya."

"Omong-omong, kenapa kakak disini?"

Sango melepas topeng, manik emasnya mengedar ke sekelilingnya. "Sungguh cerdik... tidak. Kurasa, licik adalah kata yang tepat."

"Siapa?" Suzu menatapnya bingung.

"Bukan kau. Aku akan menjelaskannya nanti." Sango menghela napas, menggerutu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tindak-tanduknya yang biasanya santai, kini Sango tampak jengkel. "Hm? Tunggu, baru saja kau bilang dia memberimu tantou?"

"Um." Suzu mengangguk antusias.

Wanita itu terdiam sesaat memerhatikan raut berseri yang tersirat jelas pada wajah adiknya. Bagi Suzu tentu dia senang, namun tidak bagi Sango. Yang ada di dalam pikirannya bertentangan.

"Tak ada obat penawar untuk orang bodoh, ya. Suatu hari kenaifanmu justru menjadi bumerang bagimu, kau tahu?" Sango berjalan menghampirinya dan menepuk-nepuk kedua pipi Suzu.

"...? Kenapa kakak berkata seperti itu?" tanya Suzu, alisnya bertaut tak suka.

"Memang kau terlihat bahagia, kepercayaan mutlakmu tak pernah lepas dari pria itu. Tapi di mataku, kau seolah menjebak dirimu sendiri dan mengalihkan perhatianmu dari perangkap itu. Kau berusaha memahaminya lantaran kau takut sesuatu akan berubah. Aku benar, 'kan?"

Suzu tertegun, tak tahu bagaimana menjawabnya. Dadanya berdenyut sakit menerima perkataan itu. Suzu hanya menundukkan kepala ke bawah sembari mencari jawaban dalam benaknya.

"Lupakan." Wanita itu menurunkan tangan dari wajah Suzu. "Kesampingkan soal itu, mengapa kau tidak abaikan saja shinobi tadi?"

"Ah, jalur menuju kemari harus diamankan. Sekutu kami dari Tokugawa akan turut andil membantu kami di pertempuran nanti. Aku khawatir mereka akan diserang. Jika itu terjadi aku khawatir mereka akan salah paham. Makanya..."

"Begitu. Hawa keberadaannya terlalu kuat, bukan?"

"Ah, ternyata kakak juga merasakannya ya?"

"Aku lebih peka darimu, makanya aku datang kemari. Lebih baik kita bicarakan bersama suamimu."

-XXX-

Seorang pria berseragam jinbaori kelabu-biru tengah berdiri diluar hutan sembari menunggu dengan tangan terlipat. Matanya memantau para pasukan yang sedang sibuk memuat suplai.

Sebenarnya ia tak ingin mengakui bahwa dirinya risih dengan jumlah pasukan mereka terlalu lebih memumpuni. Memang, kemenangan mereka sudah dipastikan berkat itu. Namun justru hal itulah yang membuatnya tak henti berpikir. Mereka selalu beralasan itu langkah yang pantas demi mencapai kedamaian.

Ketika dia mendengar sebuah dentingan lonceng kecil, pikirannya terhenti lalu berbalik dengan wajah lega namun samar. Langkah derap kakinya amat ia kenal, sadar bahwa seorang perempuan bersurai berlari menghampirinya.

"Maaf menunggu lama, Takatora-sama."

"Kau menemukan penyusupnya?"

"Um, tapi dia sudah melarikan diri. Aku hampir saja mati." Suzu tersenyum masam sambil mengusap-usap matanya.

"Bodoh, itu tidak lucu. Lalu ada apa dengan matamu?" tanya Takotora sambil menyeka mata istrinya yang lembab dan berair.

"Ah, penyusup itu melempar kemuridama." Suzu menengadahkan wajah, matanya kabur sehingga sedikit sulit baginya melihat wajah Takatora dengan jelas. "Tapi sebentar lagi baikan, kok."

"Begitu." Takatora menurunkan tangannya dari wajah Suzu, kedua manik safirnya beralih. "Lalu, kali ini ada angin apa yang membawamu kemari, onna?" tanya Takatora lagi, melempar pertanyaan pada wanita bersurai hitam yang muncul dibalik bayangan Suzu.

"Kau menyadarinya, ya." Wanita itu terkekeh sembari melepas topengnya. "Sebetulnya aku ingin melihat kapal lagi, tapi keberadaan penyusup itu ikut mengangguku."

"Nee-sama membantuku mengatasinya," sambung Suzu. "Tapi siapa yang mengirim shinobi itu?"

"Penyusup barusan adalah Kurohabaki, ninja dibawah naungan klan Date. Tenang saja, dia tak berbuat macam-macam pada istrimu, danna."

Mendengar usikan itu, Takatora hanya menatapnya jengkel.

"Date? Klan yang berada di Oshū?" tanya Suzu.

"Benar. Tapi, masih ada satu orang lagi. Aku masih bisa merasakan kehadirannya berkeliaran di sekitar sini. Sebelumnya dia meminimalis keberadaannya dengan menyelinapkan hawanya pada ninja Kurohabaki itu."

Suzu merengut. "Jika terus seperti ini pasti sulit menemukan dia, ya. Pengecut sekali..."

"…" Takatora dan Sango terperangah seketika mendengar lontaran Suzu.

Wanita bersurai hitam legam itu mendengus. "Kau benar sekali, kelinci!" Sango meremas perutnya lantaran tak mampu menahan tawa. "Kau dengar itu, danna? Istri lugumu sekarang berubah menjadi wanita berlidah tajam. Kau senang, bukan?"

"Bodoh! Yang senang itu hanya kau!" bentak Takatora.

"M-Maaf! Aku tidak sengaja bicara blak-blakan lagi!" jerit Suzu panik sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Um... lalu apa kakak sudah tahu siapa orang itu?" tanya Suzu kembali ke topik pembicaraan.

Sango menghentikan gelak tawanya dengan mencubit tangannya. "Ah? Kurasa aku tahu. Terus terang, hawa keberadaannya sama persis saat aku masih dibawah naungan klan Takeda. Kami sampai kewalahan lantaran harus melindungi Katsuyori darinya. Kebanyakan orang mengganggapnya hewan buas. Yang kutakutkan kalau orang itu adalah Fūma Kotarō. Kau pernah dengar namanya, kelinci?"

"Tidak... " Suzu menggeleng.

"Hebat. Dasar wanita tua bangka itu, jadi ini sebabnya kau tidak tahu apapun," gerutu Sango. "Dia sama saja dengan orang tuamu. 'Jika dia tak tahu apapun hidupnya akan lebih mudah', eh? Yang benar saja. Ini malah semakin merepotkan." Sango melirik kearah Takatora. "Nee, apa kau juga seperti itu, danna?"

Kelopak mata Takatora berkedut. "Sudah cepat jelaskan, kami tak punya banyak waktu meladeni ocehanmu," desis pria itu tak acuh.

Sango tertawa pelan. "Baik, baik." Wanita itu melipat kedua tangan dibawah dada sebelum memulai. "Dia lebih suka bertindak sendirian. Walau demikian, tindakannya sama sekali tak mencoreng klan yang ia naungi. Seringkali dia mempermainkan, mengakali lawan atau bahkan bisa jadi mengecoh lawannya. Menurutku pribadi, gerak-geriknya bisa mendatangkan skenario terburuk. Misalkan, shinobi itu menyusup dalam kapal itu. Meski dalam jumlah ratusan ribu prajurit, itu sama sekali tak menghambatnya, sangat mudah tanpa meneteskan setitik keringat. Kelinci, kira-kira kau tahu apa yang akan dilakukan shinobi itu selanjutnya?"

Sejenak Suzu terdiam sembari berpikir, Takatora terlebih dahulu sudah mendapat jawabannya.

Melihat mata Takatora terbeliak, Sango mengangguk. "Seperti yang kau pikirkan, danna. Membunuh komandan perang, bisa jadi itu tujuannya. Bukankah itu buruk?"

"..." Napas Takatora mulai terasa berat. Dia mulai berpikir apa yang harus ia lakukan untuk mengatasinya.

"Begitulah cara hidup seorang shinobi, selalu bersembunyi dibalik kegelapan dan tak memperdulikan citranya sendiri."

"Kau juga sama, bukan?" dengus Takatora.

"Begitulah, aku tak menyangkalnya. Sengaja atau tidak, sekarang aku bisa merasakan hawa keberadaannya lebih pekat setelah menanggalkan hawanya pada shinobi dari Kurohabaki itu." Sango menaikkan bahu. "Yah, sebenarnya aku hanya memikirkan kemungkinan. Jadi tak perlu berkutat dengan dugaanku. Akan lebih baik jika diberi penjelasan dari orang itu sendiri."

"Ini gawat, Takatora-sama! Kita harus memberitahunya pada Hidenaga-sama...!"

"Kau sudah dengar kata kakakmu, bukan? Jangan terjerat dengan ucapannya. Kau terlalu panik, Suzu. Mungkin saja wanita itu sendiri yang merencanakan semua ini," sahut Takatora dengan tatapan dingin.

"Haha, sepertinya aku benar-benar dibenci. Kau boleh saja anggap aku pembohong. Tapi sayang sekali aku tak punya hobi memenggal kepala orang, apalagi kepala pria tua bangka. Seharusnya kau tahu itu tak ada untungnya bagiku." Sango mengangkat bahu. "Yah, jika aku boleh memilih, aku lebih suka memenggal kepala istrimu. Memang mustahil untuk sekarang."

"N-Nee-sama..." desah Suzu bergidik ngilu.

Melihat sengiran tak mengenakkan pada wajah Sango, Takatora mendecak kesal lalu menarik tangan Suzu dan pergi meninggal Sango. "Hei, tunggu dulu. Aku belum selesai bicara. Aku ingin bicara empat mata denganmu, danna."

Takatora berhenti melangkah lalu menghela napas panjang, menoleh ke Sango lalu beralih ke Suzu sebelum melepas genggamannya pada pergelangan tangan istrinya. "Kau bisa mengurus utusan Tokugawa sendirian?"

"Um, bisa."

"Kalau begitu aku akan menyusul nanti. Pergilah," tegurnya lembut.

Suzu mengangguk. Kendati dia penasaran apa yang akan dibicarakan antara kakak dan suaminya, mau tak mau dia harus menuruti perintah Takatora. "Baik."

Takatora memerhatikan punggung istrinya yang perlahan menjauh dari pandangan sembari menunggu pertanyaan Sango. "Kau tahu? Aku tak bercanda soal keinginanku memiliki kepala istrimu."

Wanita itu menjilat bibirnya. Manik emasnya yang terbias cahaya dingin mengunci perhatian Takatora, seakan tersulut oleh hasrat haus darah. Namun alis pria itu sama sekali tak bergerak. Sikapnya memang seperti biasa tak begitu mengejutkan, tapi selain keinginannya itu selalu membuat Takatora gusar.

"Kau ingin menggertakku? Sebagai wanita ternyata kau memang punya selera yang sangat buruk." Takatora berbalik menghadapnya, memicingkan mata pada wanita bersurai hitam itu. "Terlalu cepat untuk bermimpi, onna."

"Aku melakukannya tergantung tindakanmu dan si kelinci. Bisa dikatakan aku ini shinigami yang ditugaskan untuk mengamati gerak-gerik kalian berdua. Aku tak tahu jelas apa yang kau harapkan sehingga memberikan senjata baru untuk kelinciku. Tapi aku takkan segan mencabut nyawamu jika kau membuat keputusan yang salah."

Pria bermanik biru laut itu mendengus dan membuang muka. Sama sekali tak menampakkan tanda cemas bahkan takut di wajahnya setelah menerima ancaman dari Sango.

「ぬかせ。」

"Aku takkan mati semudah itu. Tapi jika kau yang membunuhku, itu terdengar melegakan. Jika aku mati, aku bisa menyerahkan Suzu padamu. Setidaknya bawa dia ke tempat dimana dia bisa hidup tenang tanpa beban."

"Itu membosankan, tapi baiklah. Kalau itu juga pilihan si kelinci, akan kulakukan. Apa kau sudah yakin?"

Takatora membisu sejenak. "...Aku akan melakukan apapun demi melindunginya." Kelopak matanya menurun, alisnya saling bertaut. Sekilas air mukanya tersirat menahan sakit yang berdenyut di dada, Bayangan buruk yang muncul dalam kepalanya membuatnya sesak. "Bagaimana pun hasilnya, aku akan menuai apa yang kutanam."

"Hmm... Tebakanku tadi benar rupanya. Terlalu beresiko jika memberitahunya sekarang. Ternyata kau sedikit pesimis. Pantas saja raut wajahmu selalu muram."

"Kau mengatakannya seolah kau tahu banyak tentangku."

Sango berjalan menghampiri Takatora, tangan kanannya terulur meraih wajah tak berekspresi pria itu. "Bukan hanya kau. Kau dan gadis itu mudah ditebak, begitu mirip dengan orang tuanya jadi wajar aku paham pola pikir kalian." Lalu wanita itu menyentuh dagu Takatora dengan telunjuk.

"Tapi kau tahu bagaimana dirinya, bukan? Dia selalu mempersiapkan jiwanya untuk menghadapi perubahan yang akan dihadapinya, meski begitu dia tetap saja takut. Seperti kelinci yang bersembunyi di lubang galiannya. Namun sampai kapanpun pilihannya untuk tetap percaya padamu, itu sama sekali bukan dosa."

Benar, karena itulah Suzu selalu tak bertanya banyak padanya. Bukannya dia tidak tertarik untuk mengetahuinya. Tapi Suzu selalu yakin apa yang ia pilih dan dilakukan tidak salah. Ia amat terberkati oleh kepercayaan gadis itu, disaat yang sama Takatora juga terluka akibat langkah yang telah ia tapaki.

Takatora menepis tangan Sango dari wajahnya. "Apa-apaan ucapanmu itu? Kau ingin menghiburku? Lebih baik kau hentikan, kau membuatku mual."

Sango tertawa pelan. "Kejamnya, aku ini wanita. Tak seharusnya kau berbicara seperti itu padaku. Kau memang tak pernah menyaring kata-katamu setiap berbicara padaku. Aku heran bagaimana daya tarik kasarmu itu bisa memancing kelinci manisku," sahutnya sambil menaikkan bahu dengan senyuman miring.

"'Pria mempelajari kenyataan ketika mereka muda, sedangkan wanita mengejar impian seiring mereka bertambah tua'." Sango pun mundur beberapa langkah kemudian ditelan kegelapan sembari memasang topengnya kembali. "Dasar, kalian berdua benar-benar manis..."

Setelah keberadaan wanita itu tak lagi terasa, Takatora menghela napas. "Wanita jalang itu, seenaknya datang hanya untuk mengoceh..." gumam Takatora seraya berbalik menyusul istrinya. "Aku tak mau mengakuinya, tapi aku maupun kau sama-sama belum cukup memahaminya, dan sama-sama tak bisa membayangkan bagaimana jawaban Suzu nanti."

-XXX-

Sebelum menunggu utusan Tokugawa di dermaga, Suzu terlebih dahulu singgah ke kapal klan Mōri. Sebagai balas budi telah menyelamatkan dan membantu dirinya dan Takatora saat di Shikoku, Suzu memberikan ramuan salep buatannya untuk meredakan sakit jika terluka di medan perang nanti.

Setelah ia kembali, Suzu melihat sebuah bendera biru berkibar yang hendak mendekat. Berlambangkan tiga kelopak bunga aoi dalam lingkaran. Akhirnya mereka sudah tiba. Suzu menghampiri seorang pria berzirah merah menyala lengkap dengan kabuto yang dipasang pada kepalanya, juga seorang wanita bersurai hitam panjang berseragam putih-biru muda. Mereka berdua pernah hadir saat perundingan damai sekaligus upacara teh chanoyu di Ōsaka setelah pertempuran di Owari dua tahun lalu.

"Terima kasih sudah datang. Anda sekalian utusan dari Tokugawa, benar?" tanya Suzu setelah membungkuk hormat.

"Ya. Salam kenal, saya Ii Naomasa. Dan wanita disamping saya adalah Hayakawa-dono. Kami akan turut andil dalam perang sebagai pendukung dari klan Tokugawa. Mohon kerjasamanya."

Perhatian Suzu berpindah ke wanita berseragam putih-biru muda yang berdiri disamping Naomasa. Warna matanya begitu jernih dan bersih hampir menandingi langit cerah. Warna matanya mengingatkan Suzu dengan Shinhana dari klan Mōri.

...Jika dibandingkan, wajah mereka terlihat sedikit mirip. Kebetulan, 'kah?

"Sama-sama. Kalau begitu mari ikut saya untuk berhadap dengan Hideyoshi-sama."

"Tidak perlu, biar aku yang mengantarkan mereka."

Salam hormat mereka disela oleh seorang pemuda yang mengenakan shaguma yang senada dengan warna api yang menyala dan sepasang tanduk emas di kepalanya layaknya oni.

"Ah, baiklah. Terima kasih, Mitsunari-san."

"Mari." Tanpa menjawab 'terima kasih' dari Suzu, Mitsunari tanpa basa-basi mengiring utusan Tokugawa tersebut untuk menghadap pada Hideyoshi.

"Si kepala batu itu...! Dia selalu saja berbuat seenaknya bahkan mengabaikan Suzu-chan seperti itu!" Perhatian Suzu teralihkan saat melihat pria kekar berwajah sangar yang muncul dihadapannya. Raut wajahnya tampak jengkel, seakan ingin melampiaskan amarahnya pada orang yang ia sebut 'kepala batu' tersebut.

"Masanori-san?" panggil Suzu. "Ada apa? Wajah Masanori-san terlihat kusut seperti itu. Apa Masanori-san bertengkar dengan Mitsunari-san lagi?"

"Itu dia!" Masanori mengangguk kencang. "Kau tahu, tidak? Belakangan ini si kepala batu itu sangat menyebalkan! Dengan sombongnya dia berkata kalau perintahnya adalah perintah Hideyoshi-sama. Padahal selama ini kita melakukan tiap hal sama-sama...! Tapi dia seenaknya memerintah kami tanpa memberikan penjelasan apapun!"

Pertengkaran mereka kali ini tampak lebih rumit bagi Suzu. Terkadang mereka bertengkar hanya masalah kecil seperti dari adu kekuatan atau kepintaran. "Um... kalau begitu mau aku berbicara padanya?"

"Kami menghargai upayamu." Pundak Suzu ditepuk pelan oleh Kiyomasa dari belakang. "Tapi kami bisa mengatasinya sendiri. Jadi tak perlu cemas."

"Kenapa, Kiyomasa!? Suzu-chan pasti bisa membujuknya! Dia bisa saja menampar Mitsunari seperti dulu, ya, 'kan?! Aku yakin dia akan sadar!"

"A-Aku tidak berniat menamparnya lagi kok! Waktu itu aku juga kelepasan..." Suzu menggoyang kedua tangannya dengan panik. "Tapi, apa benar tidak apa, Kiyomasa-san? Setidaknya aku ingin membantu..."

Kiyomasa tersenyum tipis. "Kau selalu saja ringan tangan. Tapi tenang saja. Ini sudah sering terjadi, bukan? Setelah kami saling terbuka melontarkan perasaan satu sama lain, walau berujung berkelahian. Dengan demikian kami bisa saling memahami." ujar pria berambut keabuan itu dengan ramah.

Suzu tertawa kecil. "Begitu. Perkelahian antar lelaki, ya."

Kiyomasa tertawa pelan. "Begitulah. Nah, kalau begitu kami harus segera naik ke kapal sebelah. Ayo, Masanori." Kiyomasa menarik kerah Masanori dengan paksa.

"Oi, oi! Tunggu dulu, Kiyomasa! Aku masih ingin bicara dengan Suzu-chan!" Suzu tertawa kecil sambil melambai kecil ke Masanori.

Kiyomasa menariknya sejauh mungkin sampai Suzu mengalihkan pandangan dari mereka. "Dengar, Masanori. Sebaiknya jangan libatkan Suzu tentang ini." bisik Kiyomasa. "Walaupun dulu Suzu adalah anak didik Hideyoshi-sama yang sebaya dengan kita, tapi sekarang berbeda. Melibatkannya dalam masalah ini hanya membuat situasi semakin runyam. Maksudku, setidaknya jangan sampai membuat Suzu khawatir."

Dilepasnya cengkraman pada kerah Masanori ketika penglihatannya menangkap suami Suzu yang hendak menghampirinya. "Pria itu takkan tinggal diam jika Suzu terlibat."

-XXX-

Melihat kedatangan sang suami, Suzu menghampirinya dengan senyuman khasnya. "Oh, Takatora-sama! Apa yang Tuan bicarakan dengan nee-sama?" tanya Suzu dengan penasaran.

"Dia hanya mengoceh tidak penting," jawab Takatora singkat.

"Ah..." Senyuman Suzu berubah masam.

Takatora mengerling kearah Kiyomasa dan Masanori yang hendak naik ke kapal. "Tampaknya retakan diantara mereka sudah terlihat, ya."

"Retakan...?" Suzu terdiam sejenak, memandangi dua rekan semasa ia dididik oleh Hideyoshi itu dari kejauhan. "Aku tahu mereka berdua tak ingin aku khawatir. Tapi semuanya akan baik-baik saja, kok."

Takatora memindahkan manik safirnya ke Suzu.

"Kalau diumpamakan dengan mangkuk teh, mungkin mangkuk itu retak dan tak bisa digunakan lagi. Tapi begitu mereka bertiga saling terbuka walaupun berujung pertengkaran, itu hal yang tidak terlalu buruk. Setelah mereka puas bertengkar dan berbaikan, mangkuk teh itu sudah dibetulkan dengan emas pada retakannya." Suzu tersenyum simpul. "Mereka sudah seringkali seperti itu kok sejak aku mengenal mereka. Kendati wajah mereka sampai membengkak pun, setelah itu mereka akan tertawa puas. Yah, walaupun begitu aku belum pernah melihat Mitsunari-san tertawa lepas. Dia memang susah terbuka dengan orang di sekitarnya."

Takatora tak menjawab, bahkan tak membalas senyum istrinya. Dirinya yang menduga retakan itu akan melebar, namun istrinya mengharapkan sebaliknya. Jika mereka berdua bertaruh, entah siapa yang akan menang.

Apabila Takatora menang, bagaimana Suzu meresponnya? Jika taruhan mereka bukan menyangkut masalah selain ikatan Suzu dengan mereka, Takatora yakin Suzu akan menggembungkan pipi dan menerima sesudahnya. Tapi tidak untuk masalah ini.

"Ah, tapi sekarang aku lebih ingin melihat Takatora-sama tertawa lepas. " Suzu melebarkan senyumannya pada sang suami setelah berdiri dihadapannya. Wajahnya berbinar seakan mengatakan untuk memperlihatkan ekspresi itu padanya.

Takatora terdiam sejenak, mengerjapkan mata sedikit terkejut lantaran tak menduga permintaan istrinya. "Hmph, coba saja kalau kau bisa," sahut Takatora dengan sebuah seringai terukir di wajahnya. "Tapi aku tak mungkin membiarkan diriku lepas kendali seperti itu."

"Pasti bisa kok! Hm... kalau aku meniru boke milik Yoshitsugu-san apa berhasil tidak, ya? Ah, tapi boke bukan keahlianku..." Suzu menumpukan ujung telunjuknya di dagu.

"Dasar bodoh. Lagi-lagi pikiranmu berkeliaran tidak jelas." Takatora mengacak rambut Suzu hingga kusut.

Padahal seharusnya pria itu melontarkan kalimat itu pada dirinya sendiri. Tapi cara mereka berdua berpikir sama-sama tak karuan bahkan terkesan bodoh.

"T-Takatora-sama...!" Sang istri yang tak berniat melawan dan kesusahan merespon, pandangannya sempat terkunci akan senyuman tipis yang terukir di wajah tirus Takatora.

"Itu sudah cukup dianggap boke. Nah, naiklah ke dek, Hidenaga-sama ada disana. Akan lebih baik jika beliau meminum ramuan buatanmu itu sekarang, bukan? Masih ada yang perlu kuurus jadi tunggulah di kapal."

"Baik. Uh, r-rambutku..." keluh Suzu sambil merapikan rambutnya kembali. Sekejap terlintas di ingatannya senyuman Takatora barusan, alhasil wajah Suzu memerah pekat.

Meski hanya sebentar, meski Suzu tak menyadarinya. Senyum khas gadis itu sempat menyelamatkannya. Tidak, itu selalu terjadi. Bahkan di kala Suzu membicarakan hal konyol. Segalanya terasa irasional, tetapi tak ada salahnya. Kini hati dan pikirannya kembali berjalan tanpa bimbang.

Jika masa itu benar akan terjadi maka terjadilah. Tak perlu meratapinya terlalu dalam. Karena disaat itu juga, Takatora takkan menyerah melawan takdir. Walau harus berkali-kali mengorbankan diri, dia akan terus bangkit demi melindunginya.

-XXX-

"Hidenaga-sama." Suzu membungkuk di hadapan majikan suaminya. "Saya sudah meracik ramuan untuk mengobati penyakit Tuan. Akan lebih baik kalau diminum bersamaan dengan madu."

"Oh, Suzu rupanya. Terima kasih." Hidenaga tersenyum ramah.

Suzu menyerahkan kantung berisi ramuan dan sebotol kecil berisi madu pada Hidenaga. "Tapi, saya belum yakin pasti kalau ramuan yang kubuat ini bisa memulihkan penyakit Hidenaga-sama sepenuhnya..." ucap Suzu menunduk.

Hidenaga tertawa pelan. "Perasaan dan niatmu membuatkannya untukku, itu sudah cukup. Yah, semakin bertambah usia, tubuh juga semakin usang. Itu sudah wajar."

"Hidenaga-sama..." lirih Suzu menunduk sedih.

Hidenaga menaikkan alis melihat raut Suzu. Tampaknya ucapannya barusan tak cukup menenangkan perasaannya. Hidenaga menjernihkan tenggorokannya, lalu kembali membuka mulut.

人間五十年下天のうちをくらぶれば夢幻の如くなりひとたび生を享け、滅せぬもののあるべきか

Suzu mengedipkan matanya tak karuan mendengar nyanyian singkat Hidenaga.

"Haha, suaraku memang jelek. Tapi apa kau tahu nyanyian barusan, Suzu?"

"Tidak sama sekali..." jawab Suzu menggeleng pelan.

"Dahulu mendiang Nobunaga-sama pernah menampilkan tarian Atsumori dan menyanyikan itu ketika Takeda Shingen dinyatakan meninggal dunia. Kau tahu apa arti nyanyian itu?" Hidenaga menatap Suzu, yang tengah menunggu jawaban sang majikan. "Usia manusia hanya bertahan sekitar 50 tahun, itu sama sekali tak sebanding dengan usia dunia ini. Kehidupan fana ini bagaikan mimpi. Tak ada yang berlangsung abadi."

Hidenaga membelai kepala Suzu dengan lembut. "Semua kisah memiliki akhirnya sendiri. Aku, kau dan Takatora juga sama. Walaupun demikian, setiap nyawa bebas menciptakan sesuatu yang berlangsung kekal. Yang terpenting adalah bagaimana dan seberapa dalam kau memperjuangkan waktumu. Apa kau mengerti, Suzu?"

Suzu tersenyum lembut dan mengangguk begitu suasana hatinya mulai ringan. "Ya, Hidenaga-sama."

Pria paruh baya itu manggut dan membalas senyuman Suzu. "Nah, kau terlihat lebih menawan kalau tersenyum. Jadi jangan bersedih—" Hidenaga mendadak batuk keras sehingga mengagetkan Suzu.

"Hi-Hidenaga-sama! Sebaiknya Tuan meminumnya sekarang! Ah, aku akan bawakan air hangat!"

"Ahaha, tidak apa. Aku bisa melakukannya sendiri. Sepertinya tak baik menyanyi dalam kondisi seperti ini, ya."

Pandangan mereka teralih ketika melihat seorang pria paruh baya menghampiri Hidenaga. Memiliki bekas luka sayat kecil di pipi atas kirinya, tingginya hampir sebanding dengan Takatora. "Tuan. Segala persiapan pasokan sudah dimuat. Kita bisa berangkat kapan saja."

"Oh. Kerja bagus, Sakon. Lalu apa sekutu kita dari Tokugawa sudah datang?"

"Sudah, Tuan. Mereka telah menghadap pada Hideyoshi-sama dan sudah berada di kapal yang lain."

"Baiklah. Kalau begitu bisakah beritahu seluruh pasukan untuk segera naik ke kapal?" perintah Hidenaga sebelum masuk ke ruangan.

"Baik, Tuanku." Pria bernama Sakon membungkuk. Ketika ia berniat untuk melaksanakan tugasnya, pria paruh baya itu menoleh kearah Suzu yang belum bergeming. "Wah, wah. Aku sering melihatmu di pertempuran sebelumnya. Jadi, apa benar gadis sepertimu juga ikut memegang senjata?"

"Y-Ya." Suzu berjengit sedikit ketika Sakon memandanginya, lalu mengangguk pelan. "Nama saya Suzu. Mohon kerjasamanya, Shima Sakon-dono."

Sakon tertawa. "Oh, seingatku kau istrinya Takatora-san, benar? Tak kusangka, menginjak medan laga bisa menodai wajah manismu, ojou-san."

"Eh? Ah, aku tidak akan merebut kehormatan besar kok. Bahkan mungkin aku tidak bisa membantu banyak." Suzu menggoyang kedua tangannya. "Tapi aku punya alasan untuk berdiri dengan kakiku sendiri. Sakon-dono juga sama, 'kan?"

Sakon menaikkan alis, lalu terkekeh. "Haha, tentu saja."

Kemudian Takatora muncul menghampiri istrinya. "Shima Sakon, kah. Ternyata benar sekarang kau bernaung dibawah Hidenaga-sama."

Sakon menoleh kearah Takatora, sengiran lebar terbentuk di wajahnya. "Begitulah. Awalnya aku ingin segera kembali ke Yamato. Tapi tampaknya ini bukan waktu yang tepat untuk pensiun. Semenjak pertempuran sebelumnya aku mulai sadar siasat perangku sama sekali tak dibutuhkan," ucapnya sembari mengusap tengkuknya.

"Aku bisa mengerti. Tapi sebaiknya kau tidak mengatakannya terang-terangan. Entah apa yang akan dikatakan Hidenaga-sama nanti jika beliau mendengarnya."

Sakon terkekeh lagi. "Maaf soal itu." Pria paruh baya itu menoleh ke Suzu. "Omong-omong, aku tak habis pikir mengapa Anda berniat membawa istri manismu ini menuju medan perang?" ucapnya sembari mengurut dagu dan memandang Suzu lagi.

"Apa itu menganggumu?"

"Tentu tidak, sama sekali tidak." Sakon tertawa pelan, ia menatap gadis itu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. "Mata merah seperti apel, dan rambut putih murni seperti salju. Haha, perawakannya terlihat mudah sekali untuk diingat."

Suzu mulai merasa tidak nyaman ditatap terlalu lama langsung bersembunyi di belakang Takatora.

"Oh, astaga. Maaf, nona. Aku tidak bermaksud membuatmu takut." Sengiran yang tampak ramah itu masih belum hilang dari wajahnya. "Baiklah, aku permisi. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Sakon pun undur diri dan meninggalkan mereka berdua.

Suzu menghela napas lega. "Kukira kau tidak lagi mengkhawatirkan tentang rambut dan matamu," tanya Takatora menolehi Suzu.

"U-Um. Aku sudah terbiasa."

"Lalu? Kau takut padanya?"

"Tidak, kok. Aku rasa Sakon-dono bukan orang yang jahat. Aku hanya kurang nyaman ditatap terlalu lama. K-Kalau soal menakutkan kurasa Kanbei-dono lebih cocok."

"..." Takatora memandang istrinya datar.

"A-Ah! Aku salah bicara, aku tidak bermaksud begitu...!"

"Suzu."

"Y-Ya!?"

"Apa kau merasakan keberadaan shinobi yang kakakmu sebut itu?"

"Oh." Suzu mengira Takatora akan memarahinya, tapi dia tampak tak memerdulikan pembicaraan barusan. Dia memejamkan mata lalu menaruh kedua tangannya di belakang telinga. "...Aneh, entah sejak kapan hawanya menghilang," gumam Suzu setelah membuka matanya kembali dan menurunkan tangan. "Kenapa?"

Takatora mendengus dan menaikkan bahu. "Lihat? Sudah kubilang, bukan?"

"Tapi, nee-sama bilang..." gumam Suzu tak menyelesaikan kalimatnya.

Meskipun sang suami telah menduganya, alis Suzu masih berkerut cemas. "Aku tidak memintamu untuk tidak mempercayai wanita itu. Tapi kau terlalu khawatir, Suzu," ucap Takatora sambil menyilangkan tangan di depan dada.

Melihat raut wajahnya masih belum berubah, Takatora menghela napas, mengalah lantaran tak sanggup membiarkan istrinya terus-terus mencemaskan hal itu sendirian. Terkadang firasat buruk dapat menyeret mereka ke kenyataan. "Jika ada sesuatu yang mengganjal, katakan padaku. Aku akan akan membantumu mengatasinya."

Suzu mulai menatap Takatora dengan wajah lega, ia tersenyum tipis. "Baik. Terima kasih, Takatora-sama."

-XXX-

Di sisi lain, sesuai permohonan dari klan Ōtomo, terlebih dahulu Hideyoshi mengerahkan pasukan dari Shikoku, yaitu Chōsokabe untuk menahan klan Shimazu sebelum pasukan utama Toyotomi tiba. Namun tatkala mereka melaporkan bahwa Toshimitsu-jō milik mereka diambil alih, Chōsokabe berinisiatif membantu untuk merebut kembali benteng tersebut sebagai markas pertahanan. Membangkang perintah Hideyoshi untuk tetap berada di posisi melindungi klan Ōtomo.

Ketika pasukan Chōsokabe menyusuri jalur menuju Toshimitsu-jō, atmosfer terasa tenang, bisa dikatakan terlalu. Sedikit mencurigakan bagi Motochika. Siasat pertempuran klan Shimazu yang terkenal penuh perhitungan dan sulit dibaca, Motochika tahu ia tak boleh lengah sedikit pun. Bahkan setelah mengabaikan perintah, sulit baginya untuk membuang kekhawatirannya.

Namun beruntung kali ini ia dapat melawan, setelah memerhatikan raut wajah para prajuritnya yang sama sekali tak tersirat keraguan. Lantaran berasumsi untuk menjungkir-balikkan aib mereka terhadap pasukan Toyotomi sejak pertempuran tahun lalu, dengan cara menjatuhkan pasukan Shimazu dengan tangan mereka sendiri.

Ketika mereka baru saja melewati arus sungai Hetsugi. Dari kejauhan, sang pemimpin klan Chōsokabe melihat sebuah bendera yang berkibar dari menara benteng tersebut. Maniknya terbelalak sekilas ketika menyadari lambangnya.

Motochika menarik tali kekang kudanya, dan memberi isyarat pada para prajurit untuk menjeda langkah. "Semuanya, mundur," perintah Motochika. "Mereka telah membaca gerakan kita."

"Kenapa, chichi-ue? Menurut laporan, dalam segi jumlah mereka tak sebanding dengan kita. Kita pasti bisa merebut bentengnya!" bantah Nobuchika, putra sekaligus pewaris dari Motochika. "Memang kita sudah kalah dari pasukan Toyotomi, namun jiwa pemberontak kita tidak akan pupus sampai disana! Kita akan membuktikannya pada Toyotomi!"

"Nobuchika-sama benar!" seru Sogō Nagayasu. Para prajurit tergerak akan ucapan sang pewaris klan Chōsokabe. Mereka berseteru sembari mengangkat senjata, sama sekali tak gentar meski sang pemimpin telah memperingati mereka.

"Jika sudah seperti ini, tampaknya sulit untuk menarik mereka..." gumam Sengoku Hidehisa, salah satu pengikut Toyotomi yang ditunjuk untuk mengawali pasukan Chōsokabe.

"Ya. Dan jika dugaan Motochika benar, kita tidak akan beruntung." Koshōshō menaikkan bahu. "Yah, dari awal aku memang wanita pembawa kemalangan."

Namun langkah mereka terhenti ketika sekumpulan prajurit Shimazu muncul dihadapan mereka. "Musuh ada disana! Jadi selama ini mereka bersembunyi, seperti tikus! Kejar!" seru Nobuchika. Para prajurit Chōsokabe bersorak, maju mengejar pasukan Shimazu yang bermunculan. Mereka melewati sungai Hetsugi dan mulai menyerang lawan.

Shimazu tampak kesulitan untuk memukul mundur. Meski hal itu dianggap menguntungkan, akan tetapi jumlah mereka yang sedikit dari yang Motochika perkirakan malah membuatnya semakin penasaran dan tak nyaman.

Tak lama kemudian pasukan Shimazu yang berjumlah tak banyak itu segera mundur, sehingga membingungkan pasukan Chōsokabe.

"Mereka mundur?" gumam Motochika.

"...Ini perangkap. Sebaiknya kita juga mundur dan kembali bertahan di markas bersama klan Ōtomo. Kita akan merevisi ulang strategi untuk menghambat gerakan mereka," jelas Hidehisa.

"Yang benar saja! Perangkap atau apapun itu, kita tak boleh kalah! Kesempatan terkadang tak datang dua kali. Kejar mereka!" sorak Nobuchika mengangkat pedangnya.

"Tunggu!" Tidak mau dirinya tak mendapat kesempatan demi menaruh nama, Hidehisa pun terpaksa ikut serta bergerak maju bersama Chōsokabe. Saling berebut kemenangan satu sama lain sudah menjadi hal yang wajar dalam medan perang.

"Wah, wah. Putramu semangat sekali, seperti orang bodoh," ucap Koshōshō setelah melepas tawa kecil.

Kekhawatiran Motochika yang sempat reda saat melihat keberanian putranya, padam dengan perlahan. Para pasukan Chōsokabe sempat mengira bahwa Shimazu takut akan semangat tempur mereka yang meluap. Namun firasat Hidehisa menjadi kenyataan. Pasukan Chōsokabe yang berada di garis depan diserang oleh hujan panah api dan tembakan senapan. Dikejutkan oleh rentetan peluru dari segala penjuru membuat mereka kesulitan untuk menghindar.

"Chesto!" Setelah melancarkan serangan jarak jauh, kini mereka mulai menghadang Chōsokabe yang dalam posisi tidak menguntungkan. Penyerangan tersebut dipimpin oleh Shimazu Iehisa.

Para pasukan terkejut dan tak menduga arus medan berubah seketika. "Chichi-ue! Mundur sekarang juga!" teriak Nobuchika dari kejauhan.

"Sial! Semuanya mundur!" sorak Hidehisa pada prajuritnya. Namun Kuwana Chikamitsu, Sogō Nagayasu dan Nobuchika serta bawahannya yang lain gugur akibat serangan frontal tersebut. Jumlah pasukan tak ada artinya bagi Shimazu, satu persatu nyawa melayang membuat pasukan Chōsokabe enggan untuk membalas maupun membalikkan situasi. Jajaran pasukan tercerai-berai seketika. Shimazu telah memprediksi gerakan mereka sampai sejauh ini. Seharusnya Chōsokabe tak meremehkan mereka.

"Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan ayah sia-sia. Motochika-sama, mohon selamatkan diri! Saya akan membukakan jalan!" seru Kuwana Yoshinari, salah satu pengikut setia Motochika.

"Tunggu dulu, bagaimana dengan Nobuchika!? Bahkan putraku, Masayasu…!" bentak Koshōshō.

"Tak ada yang bisa dilakukan. Kita takkan bisa menyelamatkannya. Tapi setidaknya dia memberontak dengan segala yang ia miliki. Sebagai ayah—bukan... tapi sebagai pria, aku bangga padanya."

Koshōshō tampak tak terima, bibirnya merapat menahan amarah. "Apa-apaan kau ini?" ucapnya pelan. "Masih saja sempat berlagak kuat. Setidaknya kau boleh menangisi kematiannya, layaknya manusia..."

Motochika tak menjawab, dia tak menuruti perkataan wanita itu. Ketika Koshōshō berniat untuk membuka mulutnya lagi, dia seketika terpaku ketika melihat emosi yang tersirat samar pada raut wajahnya.

Di saat itu, wanita itu sadar bahwa harga diri Motochika tak mau menerima jika emosi yang seharusnya dimiliki manusia biasa tersebut mengalir dari kedua matanya.

Pelupuk matanya menurun separuh, alisnya menyempit. "Kau juga sama bodohnya..." gumam Koshōshō.

Kehilangan sebagian besar prajurit sekaligus peluang untuk membalas kekalahan menghilang dengan sekejap. Chosōkabe mundur tanpa membawa pencapaian, aib yang tak pernah mereka harapkan menyelimuti mereka kedua kalinya.

-XXX-

-XxX-

-XXX-

A/N : Halo lagi! Alasan kelamaan update gegara terlalu fokus main GBF teehee. Yak chapter depan dipastikan main battle-nya muncul, mungkin ini bakal lebih lama lagi update-nya. Tergantung motivasi dan inspirasi, cuma itu lol. Apalagi sekarang mulai ngetik fanfic di laptop, harus dibiasakan. As always my laziness got the better of me lol.

Saya udah memperkirakan jumlah chapter fanfic ini. Kalau mampu dan motivasi dan inspirasi terus bertambah, fic ini akan berjumlah +50 chapters. Ditambah dengan SC yang berjumlah 4 chapter, memang chapter terakhirnya belum di post... bakal up sesudah arc perang Kyūshū ini. Kenapa? Ada alasannya biar gak kena spoiler nantinya, lagian masih wip lol.

Sedikit spoiler buat SC, mengisahkan kehidupan baru Suzu di kampung halamannya. Plus flashback *cough* di dalamnya.

As always, mind to review?