A/N: Kulihat jumlah view fanfic ini sudah mencapai +1000. Thank you so much everyone, walaupun yang mereview cuma satu-dua orang tapi aku tetap bersyukur! Mudah-mudahan kedepannya ada reviewer baru di chapter 31 dan seterusnya.
RosyMiranto18
Blossom: Sejujurnya aku gak tau harus gimana dan apa yang bakal dibahas Kimura Siblings pas muncul di chapter 26. Karena dari PM yang kamu kirim role-nya cuma bertemu dengan Tachibana. Bahkan karena kekurangan bahan dari wiki, aku jadi gak tau role Tachibana di perang Kyushu setelah pasukan Hideyoshi datang.
Scarlet: Oke next! Umm excuse me. Klan Mōri udah disana sama klan Toyotomi yang lain di dermaga lho. Berarti kapalnya juga ada di sana. Mereka berangkat bersamaan dengan pasukan Hidenaga, berdasarkan wiki jepang.
Blossom: Next. 'Licik' yang diucap sama Sango itu bukan Kurohabaki maupun Kojurō. Tapi Kotaro.
Sango: Pengaruh buruk atau baik itu tidak penting bagiku. Aku akan melakukan apapun yang kuinginkan. Bermain dengan kepala kelinci itu lebih menyenangkan daripada mengurus ksatria itu.
Scarlet: Mbak plis. Ini bukan yandere, tapi sadistic. Yang sabar ya mas. *sweatdrop* Berikutnya kau yang jawab nak.
Suzu: Baik. Um, ekh... Kenapa begitu? Emasnya bukan Hideyoshi-sama. Beliau tidak ada hubungannya. Maksudku... uh, bagaimana menjelaskannya ya. Emas itu sebagai bukti ikatan mereka semakin kuat.
Blossom: Yha as expected our precious cinnamon roll *unyel* Yak, terima kasih atas review-nya!
-xxx-
Disclaimer: Samurai Warriors belongs to KOEI TECMO. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17. Cover milik saya sendiri.
Warning: Mainly Suzu (OC) x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita. Ada typo, diksi dan narasi yang tidak baku. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game dan atau sejarahnya serta saran dari teman. DLDR, NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XoX-
Bell of the White Hare
-XoX-
CHAPTER 27
The Value of Existence
-XoX-
Jangkar telah dinaikkan, kapal pasukan Hidenaga telah diberangkatkan terlebih dulu. Tiga orang kashin tak berpatisipasi dalam perang yaitu Mitsunari, Yoshitsugu dan Natsuka Masaie. Terlepas tak ikut andil dalam medan laga, mereka bertanggung jawab untuk mengatur transportasi pasukan di daerah Hyōgō. Pasukan yang dipimpin oleh Hideyoshi akan berlabuh di pesisir utara, Chikuzen. Sementara secara terpisah, pasukan yang dipimpin oleh Hidenaga akan berlabuh di pesisir timur, Hyūga.
"Kiyomasa dan Masanori mendampingi Hideyoshi-sama ke Kyūshū. Sayang sekali kau ditugaskan disini hanya untuk mengurus pengangkutan," ucap Yoshitsugu.
"Kau juga sama. Jika itu memang perintah dari Hideyoshi-sama, aku sama sekali tak protes. Itu sudah menjadi kewajibanku. Kau mengatakannya seolah aku kecewa lantaran tak bisa bertempur bersama mereka berdua."
"Oh? Apa aku salah?"
"Salah besar," ketus Mitsunari membuang muka.
Pria berkerah tinggi itu terkekeh pelan. "Aku dengar kalian berselisih lagi. Padahal aku yakin sudah seringkali memperingatkanmu untuk memilah kata-katamu setiap berbicara dengan mereka. Di mata mereka berdua kau telah dipandang sombong. Apa tak masalah bagimu jika mereka akan membenci dan meninggalkanmu nanti?"
"...Seperti inilah aku. Jika mereka tidak menerima sebagaimana diriku, aku tak perlu bersusah payah meyakinkan mereka. Dan aku tak punya waktu untuk memikirkan hal sepele ini."
Yoshitsugu mendengus. "Sudah kuduga kau akan berkata begitu. Kau sungguh sukar diatur. Sesulit itukah bagimu untuk bersikap jujur sedikit saja pada mereka?"
Mitsunari tak dapat berkilah. "Sudah, kesampingkan saja soal itu." Manik coklatnya mengerling kearah Ii Naomasa dan Hayakawa yang baru saja menaiki kapal atakebune, yang akan berlayar bersamaan kapal pasukan Hideyoshi. "Aku masih penasaran mengapa Hideyoshi-sama masih membutuhkan pasukan dari Tokugawa padahal jumlah kita mencukupi tanpa mereka."
"Kau masih menaruh dendam pada Tokugawa? Itu sudah menjadi salah satu perjanjian. Tak ada salahnya, 'kan?"
"Aku tahu itu, tapi tetap saja..."
"Aku bisa mengerti kau selalu berhati-hati terhadap Tokugawa demi melindungi masa depan Toyotomi. Terlepas dari itu kini mereka adalah sekutu. Jangan berpikir terlalu keras dan membiarkan hal itu membuatmu seok, Mitsunari."
Lagi, Mitsunari tak membalas sepatah kata pun nasihat dari yoriki-nya. Dia tak bisa seperti Yoshitsugu, yang selalu menerima kenyataan dan mengikuti arus berjalan. Seperti apapun peringatan dari rekan terdekatnya, anggapan Mitsunari terhadap Tokugawa takkan mampu diubah.
Sementara itu di kapal milik Mōri. Atmosfer mendung mengisi ruangan, Takakage dapat merasakannya setelah melihat wajah putrinya, Shinhana. Nagachika menggenggam tangan Hana yang bergemetar. Bukan karena ketakutan, kedinginan maupun gugup. Tapi karena kesulitan hatinya menerima kenyataan.
"Ayah. 'Dia'... berada di kapal utama Hideyoshi-sama."
Takakage mengerjapkan matanya setengah terbelalak, dia terdiam sejenak menatap raut wajah putrinya yang bermuram durja. Terbelenggu dan keraguan masih menyelimuti hatinya ketika Hana mengetahui bahwa 'ibunya' tampak sengaja untuk ikut andil dalam perang hanya demi melihat keadaan putrinya. "Begitu, ya." Takakage menurunkan kelopak matanya. Senyuman tipis namun sendu terukir di wajahnya.
Dibelainya kepala Hana dengan lembut. "Aku paham masih berat bagimu untuk menerimanya. Tapi usahakan untuk memusatkan pikiranmu pada pertempuran. Kau bisa?"
Hana mengangkat wajahnya lalu kembali menunduk. Tak ada perubahan pada wajah menawannya, kerutan diantara alisnya belum menghilang.
Chie menepuk pelan bahu sepupunya, seperti biasa bicara dengan isyarat tangan. "Jangan khawatir, Hana. Apapun pilihanmu, kami tetap akan melindungimu." Wanita itu tersenyum lembut.
"Chie..." lirih Hana pelan.
Tidak, dia harus mulai menetapkan hati dan menerima kenyataan. Hana pun tak ingin membebani ayah, sepupu dan suaminya. Tatkala ia memejamkan mata sejenak sembari menghela napas agar dapat menenangkan sanubarinya, Hana berharap dia bisa menemuinya setelah perang ini berakhir. Dan berharap segalanya berjalan dengan sesuai keinginan lubuk hati mereka masing-masing.
Seulas senyuman khasnya menghiasi wajah Hana. "Ya. Terima kasih."
-XXX-
Setelah mendengar kabar bahwa Toyotomi akan berlabuh tak lama lagi. Shimazu yang baru saja merebut wilayah Funai bergegas kembali dengan membagi pasukan di Satsuma dan Hyūga. Sementara para pasukan beristirahat di luar tenda, para jendral Shimazu tengah berdiskusi langkah apa yang akan mereka tempuh demi menghadapi Toyotomi. Tentu saja itu takkan mudah. Walaupun begitu kuat keinginan mereka agar arus tak berpaling dari mereka.
Kerap kali Shimazu mendengar akan kehebatan dari segi jumlah pasukan Hideyoshi yang telah menguasai hampir seluruh wilayah Hinomoto. Ini akan menjadi pengalaman pertama Shimazu melawan klan yang memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan semua musuh yang pernah dilawan demi menguasai Kyūshū selama ini.
Pasukan barisan depan yang dikirim, Chōsokabe, juga cukup membuat mereka kewalahan. Memang Shimazu telah berhasil memukul mundur Chōsokabe, akan tetapi jumlah pasukan selalu menjadi kendala dan kekurangan bagi Shimazu. Akibatnya tak sedikit pasukan mereka yang mati.
"Ini buruk. Tidak hanya mengenai lawan kita kali ini, kita bahkan masih belum menguasai seluruh wilayah Kyūshū sepenuhnya. Kita harus cepat memikirkan cara untuk memutarbalikkan semangat para pasukan yang mulai kelelahan," tutur Iehisa, putra dari Takahisa yang paling muda diantara tiga saudaranya.
"Ya, jiwa pemberontak Chōsokabe yang sering mereka sebut itu bukan sekedar isapan jempol belaka," sahut Yoshihisa, yang paling tua dan juga merupakan kepala klan Shimazu.
"Itu masih belum seberapa, baru pembukaan," sambung Yoshihiro, putra kedua. "Aku berani bertaruh pasukan Toyotomi akan lebih tangguh dan menentang dibandingkan Chōsokabe. Menurut laporan dari pertempuran sebelumnya, mereka akan mengerahkan prajurit sebanyak dua ratus ribu. Sekitar lima kali lipat lebih banyak dari jumlah pasukan kita."
Seisi penghuni tenda terkejut mendengar kabar tersebut.
"Gawat! Ani-ue, kita tidak boleh melawannya! Jika tidak, Shimazu akan hancur!" pinta adik dari Yoshihisa dan Yoshihiro; anak ketiga, Toshihisa.
"Jangan konyol! Kau langsung mundur padahal pertempuran belum dimulai? Dimana kau menaruh kehormatanmu sebagai pejuang? Maaf saja, aku takkan melakukan itu," ucap Tadatsune, putra ketiga dari Yoshihiro itu dengan semangat.
"Benar! Kita, Shimazu tak patut dicap lemah oleh mereka. Terlalu dini untuk menyerah! Aku juga akan ikut bertempur dan menunjukkan kekuatan Shimazu!" sahut pemuda yang mudah tergugah akan gairah pertempuran, Toyohisa.
Sang ayah menghela napas. "Kau terlalu menganggap ini mudah, nak," desah Iehisa.
Yoshihiro terkekeh pelan. "Bocah itu ada benarnya. Jika kita menyerah tanpa perlawanan, Shimazu akan dianggap remeh. Tak hanya oleh Toyotomi, namun sejarah; yang akan menulis seluruh jejak kita. Tak perlu gentar, kita hanya perlu bergerak sebagaimana Shimazu bertempur. Ini adalah kesempatan, bukan kendala. Apa kita mampu melawan atau mati 'kah kita nanti, itu bukan masalah. Mari kita tunjukan kekuatan Shimazu pada sang Tenkabito!"
-XXX-
Spring, 1587
Setelah membangun kamp utama dan mengirim utusan pada klan Akizuki untuk menyerah, pasukan Chōsokabe yang telah ditugaskan di baris depan sebelum pasukan utama sampai ke Kyūshū; datang memberikan laporan.
"Hideyoshi-sama, pasukan Chōsokabe hendak ingin menghadap pada Tuan," lapor Kiyomasa yang baru memasuki tenda.
Hideyoshi yang tengah meneliti peta bersama para bawahan menoleh kearah salah satu anak didiknya itu. Hideyoshi tak didampingi oleh rekan terdekatnya, Maeda Toshiie lantaran dia diberi kepercayaan untuk melindungi daerah Kinai.
Aki yang juga mendengar pemberitahuan itu langsung mengalihkan pandangan dari peta. Dirinya juga penasaran dengan keadaan teman lamanya itu sejak mendengar kabar putra sulungnya mati dalam perang.
"Oh, ya, bawa mereka masuk, Kiyomasa."
Kiyomasa pun mengiring Chōsokabe Motochika dan Sengoku Hidehisa menghadap pada pemimpin Toyotomi tersebut. Mereka berlutut dan menunduk dalam kepala mereka.
"Kami mohon maaf atas kegagalan tanggung jawab kami menahan Shimazu."
"Aku sudah mendengar situasinya. Seharusnya aku tahu kalian akan membangkang jika dilihat dari tindakan pemberontakan kalian selama ini. Tapi apa boleh buat," ketus Hideyoshi. "Hidehisa, tugasmu belum selesai. Perbaiki kesalahanmu di pertempuran ini."
"B-Baik, Hideyoshi-sama!" Sengoku Hidehisa menundukkan kepala.
"Dan untuk Chōsokabe, kalian boleh kembali. Aku ingin kau merenungkan kesalahanmu dalam membuat keputusan. Kuharap kalian tak mengulanginya lagi untuk pertempuran ke depannya. Lagipula, kondisi dan jumlah pasukanmu saat ini tak meyakinkan untuk dikerahkan, bukan?" ucap Hideyoshi.
"Sayangnya, ya. Mohon maaf." Motochika menjawab dengan tenang, masih menundukan kepala.
Setelah Motochika serta bawahannya undur diri, Aki meminta izin untuk keluar sejenak, menyusul Motochika.
"Motochika," panggil Aki. Kepala klan Chōsokabe itu berbalik. Tampak Koshōshō yang tengah menunggu Motochika di luar tenda.
"Aku turut prihatin atas apa yang terjadi dengan putramu."
Motochika menggeleng. "Aku tak membutuhkan belas kasihanmu. Kendati klan kami telah bermandikan aib, kebanggaanku pada Nobuchika yang telah mengerahkan seluruh kemampuannya hingga titik darah penghabisan, sudah menghapus keraguanku sebagai pemimpin klan. Tidak, setidaknya saat ini aku masih berusaha melawan sisi menyedihkanku. Bagaimana pun juga, sebagai pria, ayah dan pendekar... aku teramat bangga padanya."
Aki tersenyum. "Ya. Keberaniannya memang patut ditauladani."
"Jangan bodoh!" ucap Koshōshō setengah membentak. "Padahal Hideyoshi itu yang telah memaksa untuk menyia-nyiakan nyawa kita. Ini semua salahnya...! Kau malah berlagak kuat seolah ini bukan apa-apa! Dasar pria, sungguh sulit dimengerti." Aki menautkan alisnya menatap wanita disamping Motochika itu. "Apa? Kau ingin menyalahkanku karena aku wanita pembawa sial? Silakan saja."
"Yang benar saja. Kau juga kehilangan putramu, bukan? Lagipula, kau tak bisa mengendalikan kutukanmu sebagai pembawa kemalangan."
"Ya ya, maaf soal itu," dengus Koshōshō menaikkan bahu dan membuang muka.
"Tapi yang lebih dari itu, kau marah karena kau punya harapan agar tak ada diantara mereka yang mati. Kau selalu berusaha menentang kutukanmu. Aku bisa tahu itu."
Koshōshō terperangah, amarahnya mulai meredup. "Dasar, kau benar-benar tahu cara menghibur seorang wanita," gumamnya terkekeh.
Motochika manggut-manggut. "Ya. Lagipula tak ada gunanya menaruh dendam dan mengutuk takdir. Waktu takkan pernah diputar kembali sekeras apapun kita berharap. Begitu juga dengan tanggung jawab serta mereka yang takkan kembali. Kita hanya perlu mewujudkan impian mereka yang diwariskan pada kita."
Koshōshō mendengus pelan. "Ya, ya, aku mengerti. Terima kasih. Sulit dipercaya aku masih diceramahi padahal kau sendiri juga kehilangan anakmu."
Motochika mendengus pelan. "Nah, sampai jumpa lagi, Aki."
Setelah mereka selesai berbincang, Aki kembali ke dalam tenda. Sebelum ia sempat masuk, seorang utusan berlari memasuki tenda.
"Hideyoshi-sama! Akizuki Tanezaki menolak negosiasi kita untuk menyerah dan tengah bersiap untuk bertempur!" lapor pembawa pesan tersebut.
"Ternyata memang tak semudah itu." Hideyoshi kemudian bangkit dari kursi. "Tak ada pilihan selain bertempur."
-XXX-
Di sisi lain, akhirnya pasukan Hidenaga berlabuh di selatan Bungo, berencana untuk menyerang Kastil Taka di pesisir timur Kyūshū. Mereka mulai membangun benteng di lereng Nejiro-zaka setelah melewati sungai Omaru. Hidenaga mengikuti saran bawahannya; Takatora, untuk membangun benteng tersebut dengan memanfaatkan bukit kecil di depan tebing demi keamanan.
Salah satu kashin klan Chōsokabe muncul sebagai pembawa pesan; Kuwana Yoshinari, melaporkan hasil pertempuran mereka kepada Hidenaga.
Hidenaga menghela napas setelah mendengar pengakuan mereka yang telah mengabaikan perintah. Akibat tindakan mereka, tak sedikit prajurit yang meregang nyawa lantaran termakan umpan Shimazu. "...Begitu rupanya. Funai juga telah diambil alih. Lalu, Ōtomo Yoshimune dan Sengoku Hidehisa membangkang perintah untuk bertahan dan malah menyerang. Mengapa mereka melakukan itu?" tanya Hidenaga dengan nada tenang.
Yoshinari menundukkan kepala lebih dalam, tak mampu menjawab langsung pertanyaan Hidenaga. "...Maafkan kami."
Hidenaga menghela napas. "Baiklah, aku sudah cukup mendengarnya. Pastikan untuk memberitahu ini pada ani-ue."
"Ya. Saat ini Motochika-sama tengah dalam perjalanan untuk memberikan laporan."
"Baguslah kalau begitu. Kau boleh kembali."
Yoshinari bangkit setelah memberi hormat, lalu undur diri dari tenda.
"...Apa yang harus kulakukan sekarang?" gumam Yoshinari.
Mengingat pasca kematian ayah dan anak dari majikannya membuatnya berpikir keras, apa langkahnya setelah ini? Memang klan Chosokabe belum sepenuhnya berakhir, akan tetapi citra mereka telah tercoreng. Pikiran Yoshinari mendadak kosong untuk bangkit dari kesalahan.
Ketika Yoshinari hendak berjalan, ia tak sengaja menabrak seseorang. Lebih tepatnya seorang perempuan yang berselubung tudung kepala yang seketika tersingkap.
"Ah, maafkan saya," pekik gadis itu pelan.
Sekilas Yoshinari mengenal perawakan dan suara lembutnya. Dia juga bisa mendengar dentingan lonceng meski kecil. Rambut perak yang menandingi salju, mata sendu dengan iris merah apel. Tak salah lagi, dia adalah gadis yang pernah ditawan saat pertempuran di Shikoku.
"P-Permisi." Gadis itu segera mundur sembari menutup kepalanya lagi dan memasuki tenda. Melihat reaksinya, sepertinya dia juga mengingat bahwa Yoshinari yang merupakan salah satu bawahan Chōsokabe yang pernah mendekamnya dalam kurungan.
Gadis itu takut padanya. Tentu saja, setelah apa yang ia lakukan hingga berbuat kasar pada seorang wanita seperti menghempas dan menarik rambutnya. Meski Yoshinari beralasan saat itu adalah medan perang dan tak ada ruang untuk mengasihani lawan meski dia wanita, Yoshinari sadar perbuatannya tak cukup tepat dikatakan tak senonoh. Lebih rendahan dari itu.
Hanya satu hal yang dapat dia lakukan untuk memperbaiki kesalahan, juga demi kebaikan klan yang ia naungi dan langkah yang akan ia ambil.
...
"Tampaknya Chōsokabe sama sekali tak jera. Tindakan pemberontakan mereka malah semakin menjadi-jadi sejak pertempuran tahun lalu. Andai saja mereka lebih cekatan daripada membangkang perintah," ketus Miyabe Keijun.
Takatora yang berdiri di samping Hidenaga, menatap tajam pria paruh baya itu. Takatora mengingat dia, Miyabe Keijun, atau biasa dipanggil Miyabe Tsugimasu. Memang Takatora setuju dengan anggapannya barusan terhadap Chōsokabe. Namun alasan Takatora tak menyukainya karena dia merupakan mantan salah satu bawahan Azai yang berkhianat saat pertempuran Anegawa. Memiliki hasrat untuk meruntuhkan klan Azai dan hingga sekarang ia bernaung dibawah Hideyoshi.
"Saya sepenuhnya setuju. Tapi Miyabe, jaga ucapanmu dihadapan Hidenaga-sama," ujar Takatora dingin.
"Nah, tak apa, Takatora. Memang mereka telah mengabaikan perintah. Tapi setidaknya dengan jiwa pemberontak yang mereka miliki itu, mereka mampu mengurangi jumlah pasukan Shimazu. Aku yakin tak sedikit dari mereka yang mulai kelelahan sejak pertempuran mereka menghadapi Ōtomo. Serahkan saja soal hukuman pada ani-ue," tutur Hidenaga sebelum meneguk minuman yang telah dicampur ramuan yang diberi Suzu.
"Memang. Tapi bagaimana pun hasilnya, kita hanya perlu menanggulanginya sendiri," sahut Kanbei.
"Kanbei benar." Hidenaga mengancungkan telunjuk ketika sesuatu terlintas di kepalanya. "Oh, apa mungkin kau masih gusar sejak istrimu sempat ditawan oleh Chōsokabe, Takatora?"
Takatora terperangah dan mengerjapkan mata. Hidenaga tertawa lebar ketika melihat ekspresi Takatora yang seolah baru menyadari ucapannya. "Kau benar-benar menyayangi istrimu, ya."
Sang bawahan menghembuskan napas dari hidungnya dengan pelan. Ketahuan. Hidenaga benar-benar mengenainya lagi.
Perhatian mereka beralih ketika Suzu memasuki tenda. Sebelum memberi hormat, ia menyingkap tudung kepalanya.
"Ah, Suzu. Orang yang sedang kita bicarakan sudah muncul."
Dia tak memberi reaksi dari sambutan Hidenaga. Kepalanya sedikit menoleh ke belakang, seolah ketakutan seperti burung yang hampir ditembak oleh pemburu.
"Suzu?" panggil Takatora.
Gadis itu berjengit dan berbalik ketika dipanggil oleh sang suami. "Ah, t-tidak. Bukan apa-apa..."
Suzu tak mungkin berani mengadu pada suaminya tentang salah satu prajurit Chōsokabe yang pernah menangkapnya itu. Dia merasa tak perlu memberitahunya, kejadian itu sudah berlalu dan kini mereka adalah sekutu. Lagipula tak ada waktu untuk membahasnya.
"Seburuk itukah situasi di Istana Taka sampai membuatmu panik seperti itu, Suzu?" tanya Hidenaga menaikkan alis kebingungan.
"Ah, itu... sebenarnya tidak juga. Tapi sayangnya mereka menolak untuk mundur." Suzu mengembalikan secarik surat pernyataan pada Hidenaga. "Menurut perkiraanku, pasukan Shimazu berkumpul dengan jumlah sekitar dua puluh ribu. Yamada Arinobu mengambil posisi bertahan dalam istana dengan segelintir pasukan, sementara pasukan utama penyerang dipimpin oleh Shimazu Yoshihisa."
Hidenaga mengusap-usap dagu sambil manggut paham. "Dua puluh ribu, eh? Jumlah kekuatan tempur Shimazu tak ada tandingannya dengan kita yang berjumlah delapan puluh sampai sembilan puluh ribu ini." Hidenaga menjernihkan tenggorokannya lagi. "Yah, walaupun demikian kita tak perlu mengerahkan seluruh pasukan. Tapi lain ceritanya jika sesuatu buruk terjadi. Kita tak boleh meremehkan Shimazu."
"Saya setuju." Pasukan Mōri yang baru saja berlabuh pun segera memasuki tenda. Takakage dikawal bersama putrinya Shinhana, lalu Nagachika dan Chie. "Maaf atas keterlambatan kami, Hidenaga-dono."
"Tak apa. Duduklah. Kami baru saja akan menyusun rencana. Apa kau punya ide, Takakage?"
Takakage mengangguk, lalu duduk bersama Nagachika, Shinhana dan Chie di sampingnya. "Kurasa bukan hanya saya yang memiliki siasat. Bagaimana menurutmu kalau menyatukan taktik kita bersama, Kanbei-dono?"
"Baiklah." Kanbei menarik napas sebelum mulai menjelaskan siasatnya pada para penghuni tenda yang siap menyimak.
-XXX-
Sekumpulan prajurit membangun parit dan pagar di hadapan benteng, dimana Mōri Terumoto, Ukita Hideie dan Miyabe Keijun bertanggung jawab memberi arahan dan mengambil posisi bertahan.
Sementara itu, Takatora tengah memantau perkembangan dari atas seiroyagura, menunggu arus yang akan mengarah pada mereka sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Seperti biasa, sang istri yang selalu mendampinginya juga bersamanya. Namun entah apa yang terjadi, tingkah Suzu terlihat sedikit aneh. Manik birunya mengerling kearah tangan Suzu yang meremas roknya. Bibirnya tertutup rapat. Kepalanya menunduk ke bawah bukan sedang memperhatikan situasi pasukan yang sibuk membangun parit dan pagar, tapi dia tengah terombang-ambing akan sesuatu yang menggantung di dalam kepalanya.
"Ada apa, Suzu? Sejak kau memberikan laporan tadi, kau bertingkah aneh."
Suzu tersentak kejut, lalu mengangkat wajah menatap suaminya kemudian kembali menunduk, menjauhi kontak mata dengan Takatora. Dia terlihat kesulitan untuk menjawab. Tidak, atau mungkin lebih tepatnya dia berusaha mengganti topik pembicaraan.
Suzu kemudian kembali menatap Takatora. "T-Takatora-sama, apa ada yang—"
"Tidak ada," potong Takatora.
"E-Eeh? Takatora-sama, aku belum mengatakan apapun..."
Takatora menghela napas sebelum menoleh kearah sang istri. "Aku tahu apa yang ingin kau katakan. 'Apa ada yang bisa kulakukan,' benar?" sahutnya dengan ekspresi minim.
"I-Iya..." jawab Suzu pelan.
"Selain itu, kau terdengar sedang menyembunyikan sesuatu karena kau tidak ingin aku tahu apa yang menjerat di pikiranmu."
Suzu tak mampu berkilah, ekspresinya terlihat jelas lebih gelisah bahkan setelah cengkraman pada ujung roknya lebih kuat.
Mungkin Takatora bisa menebak apa yang menganggu pikirannya. Sejak dia baru saja kembali memberikan laporan, kemungkinan dia bertemu dengan salah satu pasukan Chōsokabe tadi. Entah Kuwana Yoshinari itu ikut terlibat saat menangkap Suzu atau tidak, Takatora belum bisa memastikannya. Namun ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya dengan Suzu.
Selain itu, bukan hanya Suzu yang tengah menyembunyikan sesuatu—
"...Yah, aku pun sama," gumam Takatora. Namun sayang, Suzu tak menangkap monolognya barusan.
"Maaf?" Suzu menatap suaminya bingung.
"Berterima kasihlah pada Hideyoshi," ucapnya tanpa mengulang monolognya tadi. "Berkat perbedaan jumlah pasukan ini, kau tak perlu lagi mengotori tanganmu. Tapi ini akan lebih brutal dari yang pernah kau lihat," tutur Takatora setelah memalingkan wajah.
Atmosfer mereka kembali canggung. "Tuan... masih membenci Hideyoshi-sama, ya?"
Takatora membisu sejenak. Dia yakin Suzu tak bermaksud buruk dan ingin Takatora mengubah anggapannya. Pria itu menaikkan bahu. "Kau tahu itu pertanyaan retoris. Kaulah yang paling tahu seperti apa diriku."
Diam lagi, keduanya masih menolak untuk saling menatap. "Bergantung pada jumlah kekuatan tempur yang dapat mendesak dan mengancam musuh. Mengorbankan banyak nyawa, menumpas semua impian mereka yang juga menginginkan perdamaian. Apakah upaya itu yang bisa membuahkan hasil yang bisa bertahan seumur hidup kita?" Takatora mendengus getir. "Aku meragukan itu. Tapi seperti apapun pandanganku, itu sama sekali tak penting. Tak ada artinya, karena dia takkan mengubah pikirannya. Dia sudah mempercayai jalan yang sudah ditapaki. Aku tak berhak mencampurinya. Bukankah begitu?" sahutnya dengan nada dingin.
Suzu menurunkan kepala, pertanyaannya dijawab dengan ketus namun seolah tak ada pilihan untuk menerima kenyataan. Memang masih sulit baginya menerima cara Hideyoshi, tak pernah luput dari kebencian dan mengutuknya.
Takatora memang tak sering memperlihatkan wajah aslinya, namun Suzu sudah tahu apa dan bagaimana perasaan yang terombang-ambing dalam diri Takatora dengan jelas, selalu. Suzu juga patut bersyukur Takatora bersedia menumpahkan apa yang ada di pikirannya pada Suzu.
Meski Suzu tidak tahu, tidak semuanya Takatora menumpahkannya. Masih ada beberapa tetes yang disembunyikan dalam hatinya.
Dari lubuk hatinya, Suzu yakin Takatora mengharapkan cara yang lebih manusiawi. Seperti Nagamasa. Namun keduanya tahu tak ada lagi yang manusiawi dalam medan perang.
Kemudian Suzu memberanikan diri untuk menyentuh Takatora, dengan menyandarkan kepala di punggungnya. "Mungkin cara itu masih belum terlihat. Tapi aku selalu berada di pihak Takatora-sama, kok. Kita akan mencarinya bersama." Tutur katanya selalu lembut, selalu berhasil menenangkan sanubari Takatora.
Takatora menoleh memandang istrinya, lalu kembali ke depan. Digenggamnya tangan mungil itu tanpa mengalihkan pandangan dari medan laga. "Ya. Itu lebih baik dan melegakan dari apapun. Kau hanya perlu tahu seperti inilah arus yang kita lalui, Suzu."
"Um." Suzu mengangguk pelan.
Selalu ada bunga murni dalam medan perang meski sulit ditemukan. Tapi dia sudah lama memilikinya, tak perlu mencarinya lagi, pikir Takatora. Sepasang sejoli itu menikmati momen kesunyian itu sejenak, selagi masih ada kesempatan untuk mengukuhkan ikatan.
Sebelum akhirnya horagai mulai ditiup menandakan adanya pergerakan dari musuh.
"Ada serangan!" seru salah satu prajurit. Dari kejauhan terlihat pasukan ashigaru Shimazu melakukan penyerangan secara frontal.
Sepasang sejoli itu melepas tautan tangan mereka. "Sudah waktunya, ya..." lirih Suzu, memandang ribuan pasukan hendak menyerbu benteng utama Toyotomi.
"Ya." Takatora menarik saiken dari sarung pedang yang digantungkan pada pinggang kirinya. Lalu ditepuknya pundak Suzu dengan pelan, spontan sang istri memandanginya. "Suzu, kau tunggulah disini."
Suzu tak dapat menahan rasa khawatirnya, namun seulas senyuman tipis terukir di wajah jelitanya.
「...はい。幸運を祈ります。」
Takatora mengangguk paham, meninggalkan Suzu berdiam diri di atas seraya kembali meratapi medan laga dengan alis menyempit.
"'Lebih brutal'...?" gumam Suzu, tengah tenggelam akan pikirannya sendiri. "Apa cara seperti itu patut dilakukan? Apa itu lazim? Tapi ini medan perang, semua itu demi mencapai kedamaian negeri ini. Kejam atau tidaknya... aku tak mungkin mengerti."
Disentuhnya lonceng kecil yang di kalungkan pada lehernya. "Ayah, ibu... apakah aku bisa melihat kedamaian itu di masa depan nanti?"
Mereka mengangkat tombak dan pedang mereka sembari mengeluarkan seruan perang. Suara bising gesekan senjata mulai bergema. Menyerang satu sama lain, demi menaruh nama. Seolah bagai sekumpulan iblis yang menjelma sebagai manusia, namun satu persatu dari mereka memiliki keinginan yang sama, menguasai negeri. Entah itu demi kedamaian atau demi hasrat belaka. Mereka semua memiliki impian.
...
Pasukan Terumoto dan yang lain tampak lancar memukul mundur Shimazu tanpa hambatan. Beruntung tak banyak prajurit yang meregang nyawa berkat bantuan pasukan senapan yang berlindung dibalik pagar. Ketika tembakan dilepas, pasukan Toyotomi bersembunyi dalam parit.
"Chesto!"Para pasukan Shimazu kembali bersorak. Tak peduli meski diantara mereka sudah banyak yang mati. Bersikukuh menentang dan menyerang seolah tak ada habisnya.
"Upaya yang sia-sia!" teriak Miyabe sambil tak henti menyerang dan terus maju ke garis depan.
"Chesto!" Kini pasukan berkuda Shimazu muncul dari atas tebing dengan jumlah yang lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Mereka langsung melancarkan serangan pada unit Miyabe Keijun yang paling dekat dari tebing.
Hidenaga, Kanbei dan Takakage yang sedang memantau alur pertempuran dari kejauhan dalam benteng. "Semuanya berjalan mulus. Kanbei, Takakage, selanjutnya aku serahkan pada kalian. Aku yakin Takatora sudah berada di posisi." perintah Hidenaga.
"Baik." Kanbei dan Takakage segera mengerahkan pasukan dan keluar dari benteng.
Sementara itu unit Miyabe Keijun yang tengah terpojok oleh pasukan berkuda Shimazu tampak kesulitan untuk membuka jalan. Mereka terkepung, terpisah dari pasukan Terumoto dan Hideie.
"Akan kudapatkan kepala dari pasukan Toyotomi!" seru Iehisa yang hendak menyerang Keijun.
Namun naas, serangan Iehisa tak mengenai leher Keijun. Lantaran pedang Iehisa dengan sekejap terpental jauh oleh pria bertubuh tinggi dengan jinbaori biru. "Kukira kau takkan datang menolongku. Kau hampir saja terlambat, Tōdō."
"Itukah kalimat pertama yang kau katakan pada orang yang baru saja menolongmu?" ketus Takatora tanpa menolehinya. "Yah, memang aku sempat berharap lebih baik kau tertelan karma dan mati disini karena dulu kau telah mengkhianati Azai." Takatora menatap Iehisa dengan seringai licik. "Tapi karena aku sudah dipertanggung jawabkan untuk menutup jalan mereka, jadi apa boleh buat."
"Apa!?" Mata Iehisa mulai mengedar di sekitarnya. Unit pasukan Kanbei dan Takakage sudah mengepungnya di segala sisi. Jumlah mereka yang beberapa kali lipat dibandingkan jumlah mereka sekarang takkan mudah untuk mereka membuka jalan. "Sial!" Iehisa menarik pedang kedua dan bersiap menyerang Takatora dan Keijun.
Sementara itu Yoshihisa yang tak bereaksi sedikit pun menghela napas. "Iehisa, Yoshihiro, sudah cukup. Lucuti senjata kalian."
"Tapi, ani-ue!" Iehisa membantah.
"Aku akan membukakan jalan!" seru Yoshihiro, pria paruh baya bertubuh besar bersenjatakan palu yang juga sama besarnya itu tak menyerah terus menyerang dan berusaha membukakan jalan.
"Yoshihiro! Sudah kubilang, kau juga turunkan senjata! Turuti ucapanku!"
"Ani-ue! Serahkan saja padaku, kita akan merevisi ulang taktik di Satsuma dan memukul Toyotomi keluar dari pulau ini!"
"Yoshihiro benar!" Iehisa pun kembali mengayunkan pedangnya dan menyerang unit Takatora, namun beruntung dengan cepat Takatora menghindar serangan dan menebas kuda yang ditungganginya terlebih dahulu sehingga Iehisa terjatuh.
Tak sempat Takatora segera memenggal kepala Iehisa, malah tebasannya mengenai bahu Yoshihiro yang melindungi adiknya dan membantunya menunggangi kuda miliknya. "Cih!" Takatora menggeram.
"Chesto!" seru Yoshihiro masih tak henti berusaha membuka jalan. Beberapa pasukan Toyotomi sempat ketakutan akan keberanian Yoshihiro hingga akhirnya Shimazu berhasil melarikan diri.
Takatora menghela napas panjang. Padahal tinggal sedikit lagi, dia bisa memperoleh pencapaian dengan memenggal kepala salah satu keluarga Shimazu. Seharusnya ia lebih cepat bertindak dibandingkan tadi.
"Yah, tak selalu semua rencana bisa berjalan sesuai keinginan," ucap Keijun. "Aku akan mengoreksi perkataanku tadi. Terima kasih, Tōdō. Luka di punggung merupakan aib bagi pendekar. Tapi hari ini aku beruntung. Aku berhutang nyawa padamu."
"..." Takatora melirik kearahnya, lalu membuang muka. Dia tak langsung menjawab. "Sudah kubilang, aku hanya menjalankan tugas."
Miyabe mendengus. "Sepertinya kau membenciku. Aku mengerti kau takkan bisa memaafkanku karena telah mengkhianati Azai dulu."
"Jangan katakan apapun lagi." Takatora berbalik dan memalingkan wajah. Miyabe menenggak ludah, tampaknya ia takkan bisa akur walaupun dulu mereka sesama bawahan Azai. "Aku memang tak bisa memaafkanmu dan malah tunduk pada Hideyoshi. Tapi kau mengikuti apa yang kau percayai. Aku tak berhak mengubah apa yang kau lihat terhadap Azai. Itu saja."
Miyabe terperangah lalu terkekeh pelan. "Begitu. Aku lega mendengarnya."
Perang pun berakhir, Shimazu membiarkan Istana Takajo diambil alih oleh Hidenaga tanpa penyerangan. Sesuai perintah Yoshihisa, Yamada Arinobu menyerah pada Toyotomi. Sebagai jaminan, putra Arinobu dijadikan sandera. Hidenaga memutuskan untuk tidak mengejar, namun mereka tetap akan bergerak dengan perlahan tapi pasti menuju Satsuma sembari menunggu pasukan Hideyoshi yang masih bertempur dengan klan Akizuki untuk melancarkan serangan secara bersamaan.
"Takatora-sama!" Suzu berlari menyambut suaminya yang telah kembali ke benteng sambil membawakan tenugui untuk menghapus darah yang mengotori pakaian dan wajahnya. "Apa Tuan terluka? Aku akan mengobatinya sekarang juga!"
"Hanya luka ringan. Jangan khawatir."
Miyabe mengurut dagu sambil memperhatikan istri Takatora. Rambut dan matanya yang alami, dia ingat rupa yang mencolok itu. Sayang Miyabe lupa nama gadis itu. Matanya setengah melebar ketika akhirnya dia mengingat nama panggilannya saat masih bernaung pada Azai. "Oh, Shirousagi rupanya!"
Suzu tersentak kaget mendengar nama panggilan itu. "Uhh, kukira aku takkan dipanggil dengan nama itu lagi. Ah, tapi maaf... apa aku mengenalmu, Tuan? Yang memanggilku dengan nama itu kebanyakan hanya kashin dari klan Azai..."
"Dia hanya pengkhianat. Kau tak perlu tahu, Suzu." Takatora menarik Suzu ke dalam tenda tanpa memperdulikan Miyabe.
"Kau masih sama dinginnya seperti dulu, Tōdō." Miyabe menggeleng-geleng kepala sambil menghela napas. Pria paruh baya itu memandang sejoli itu dengan tatapan nostalgia.
"Dengan keberadaan kalian berdua disini, yakinlah impian Azai yang diwariskan pada kalian terhadap kedamaian terwujud."
-XXX-
-XxX-
-XXX-
A/N: Another slow update. Yah aku bisa jelaskan, kesibukan duta alias dunia nyata as always. Lebih produktif menggambar daripada ngetik fic. Plus researching soal pertempuran Kyushu yang sering bikin bingung setengah mati apalagi kalau coba translate dari wiki jepang. Mau disatukan dengan wiki jepang dan english. Ternyata tak semudah itu ferguso. Kepala mau pecah sampai gak tau harus tulis kek gimana. Nulis juga terburu-buru, susunan kata-kata juga kerasa aneh buat saya. Kalau ada typo, nanti akan diperbaiki.
Btw soal researching, saya dapat penemuan dari koei wiki. Tsuno/Chosokabe Chikatada pernah berteman dengan Takatora dan Hisatake Chikanobu. Tapi pas setelah Nobuchika mati di Hetsugigawa, Motochika tidak menyetujui pertemanan mereka lalu mengurung anaknya. Lalu saya caritahu lagi soal Hisatake Chikanobu yang ternyata meninggal 1579, yang bisa kita anggap meninggalnya tiga tahun sebelum Honnoji. Yang menjadi pertanyaan bagaimana Takatora bisa berteman dengan anaknya Chosokabe ini, padahal Takatora tak pernah ke Shikoku sendirian pas jadi ronin kecuali saat pertempuran di sana saja. Apa setelah pertempuran itu mereka berteman? Apa ada hubungannya dengan Kuwana Yoshinari?
Lalu yang kedua. Ingin aku tambah di fanfic tapi banyak pertanyaan soal ini. Ninja Iga yang bernama Dojun Igasaki pernah membakar istana klan Tōdō. Dia diperkirakan mati dibunuh Hattori Hanzō pas perang Komaki-Nagakute, yaitu tahun 1585. Oke, yang anehnya lagi. Doshun hanya pernah membakar kastil Sawayama dan Kaminogō dari wiki english. Bahkan Takatora belum punya kastil sendiri sebelum tahun 1585, dia cuma membantu. Nah, apa yang terjadi sama timeline-nya. I don't get it.
Oke, hanya itu uneg-uneg dari saya. Sengaja disampaikan disini sekaligus dijadikan note biar tidak lupa walaupun udah saya tulis di note penting. Dan maaf kalau alur perangnya kurang sesuai dengan sejarah berdasarkan wiki jepang atau pun wiki english. Welp it's a fanfiction, after all.
Mind to review? Pretty please?
