Zoro tidak pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hanya dengan melihat binar mata redup itu.

One Piece by Eichiro Oda

Story by Tasya

P.s.

Disarankan membaca ini sambil mendengar lagu Breathe by Lee Hayi.

...

Laki-laki itu mengenakan hoodie hitam dan masker untuk menutupi wajahnya. Zoro tau, sangat tau malah, kalau anak laki-laki itu sering berdiam diri melihat dirinya bermain streetball bersama teman-temannya. Satu yang menjadi ciri khas laki-laki itu adalah kamera mirorless menggantung di lehernya.

Zoro selalu berpikiran aneh jika melihat pemuda itu. Untuk apa setiap hari memakai hoodie? Berwarna hitam pula. Apa tidak panas? Pikir Zoro. Lagipula setiap hari membawa kamera, untuk apa? Karena penasaran, suatu hari Zoro pun memberanikan diri untuk menyapa pemuda itu.

Seperti yang bisa diduga, dia kabur. Langkahnya cepat seperti maling yang tertangkap basah. Tetapi jangan remehkan Zoro yang masuk dalam hitungan atlet sekolah. Mengejar pemuda seumurannya tidaklah sulit.

Tangan terulur menarik bahu si pemuda misterius, membuatnya oleng dan terjatuh tepat didepan kaki Zoro. Ringisan kecil lolos dari balik masker kain berwarna hitam itu. Zoro dapat melihat pemuda itu memeluk kameranya, bermaksud melindungi. Melirik merknya, Zoro terkejut, karena kamera itu seharga dengan satu mobil. Pasti bagus sekali, pikir Zoro.

"Maaf, mari kubantu" tangan Zoro terulur, namun si pemuda segera berdiri tanpa mau menyambut uluran tangan Zoro. Pemuda itu memberi jarak tiga langkah dari Zoro. Sulit melihat wajah pemuda itu. Zoro hanya bisa melihat seuntai surai blonde yang menutupi mata kirinya dan bola mata sebelah kanannya berwarna biru cerah. Zoro terpana hanya dengan melihat warna bola mata itu.

"Aku sering melihatmu di dekat konbini itu" tunjuk Zoro. "sedang apa kau disana?" tanyanya lagi.

Wajah Zoro yang berubah kaku membuat anak itu ketakutan. Segera saja ia memundurkan langkahnya ketika Zoro mendekatinya dengan perlahan.

"Apa kau penguntit? Stalker?" tuduh Zoro. Anak lelaki itu menggeleng kalut. Zoro mendecih kemudian mendorong bahunya.

"Mengaku sebelum aku memaksamu" ujar Zoro. Si anak lelaki semakin takut dan memundurkan langkahnya. Ia menepis cukup kuat tangan Zoro, membuat Zoro terkejut.

"Cih, kuat juga ternyata" ujar Zoro kesal.

"Katakan padaku apa yang kau lakukan disana? Kau menguntit kami?" tuduh Zoro lagi.

Zoro mendorong-dorong bahu anak itu hingga terjengkang kebelakang. Tanpa rasa segan, Zoro merebut kamera si pemuda. Walau sempat ada perlawanan tapi maaf, Zoro jauh lebih kuat.

Zoro terpaku melihat isi kamera itu.

Kerumunan orang dan...

...wajah tersenyum sekelompok orang yang berbeda-beda.

Masih asik dalam lamunan, tanpa sadar kamera sudah berpindah tangan. Pemuda itu memperbaiki hoodie nya dan bergegas pergi dari tempat itu.

Zoro tidak berniat mengejar. Matanya memandang punggung sempit berhoodie itu dengan perasaan bersalah.

...

Di sekolah ada satu orang aneh yang sering Zoro perhatikan. Ia tidak terlalu mengenalnya, tapi Zoro tau bahwa mereka seangkatan. Si anak aneh yang sering di bully itu anak laki-laki cupu yang menggelikan menurut Zoro. Zoro tidak ikut membully, tapi melihatnya saja Zoro sudah geli.

Selain cupu, anak itu juga aneh. Sering menyendiri dengan buku di tangannya. Duduk di taman belakang sambil berbicara sendirian. Dasar gila, pikir Zoro.

Bruk

Suara benda terjatuh mengejutkan penghuni kantin. Si penguasa sekolah Vinsmoke Ichiji, melempar tubuh si cupu ke salah satu meja kantin. Itu pasti sakit sekali, apalagi terkena ujungnya.

"Dasar bodoh! Kau punya mata atau tidak?!"

Ichiji menendang tubuh anak laki-laki itu. Zoro hanya memperhatikannya dari sudut kiri kantin.

"Sanji kurang ajar ini! Kau lihat sepatuku hah?! Kotor karena ulahmu!"

Ichiji menarik kerah seragam anak bernama Sanji itu. Ringisan lirih lolos dari belah bibirnya.

"M-maafkan aku" bisik lirih Sanji. Tangannya berusaha melepas cengkeraman Ichiji dari seragamnya.

Kekerasan itu terjadi hampir setiap hari. Melihat Sanji dipukuli habis-habisan sudah seperti pemandangan awam di sekolah itu. Melihatnya tersakiti dan memohon ampun sampai suaranya habis dan hampir pingsan. Niatnya bahkan membuat anak itu mati sekalian.

...

Mereka bertemu untuk yang kesekian kalinya di malam minggu kedua bulan November. Anak itu sedang duduk di taman dekat lapangan basket tempatnya bermain. Masih memakai hoodie dan masker hitam, hanya saja ia menambahkan topi untuk menutupi rambutnya. Kepalanya tertunduk, tengah memilah-milah foto yang baru saja diambilnya menggunakan kamera.

Zoro mengambil duduk disebelah anak itu. Pergerakan tiba-tiba membuat si anak lelaki terkejut dan menggeser duduknya. Menoleh dan ingin kabur begitu tahu kalau yang datang adalah Zoro.

"Jangan kabur, aku mau minta maaf" ujar Zoro sembari menahan lengan anak itu. Setelah dirasa tidak ada pergerakan, Zoro melepas cengkeramannya.

"Kau mau?" permen bertangkai berukuran kecil disodorkan Zoro kearah anak itu. Saat ini hanya ada permen di saku celana Zoro. Harusnya aku beli cokelat tadi, pikirnya.

Anak itu hanya menggeleng, tanda tidak mau.

"Baiklah" tangannya kembali ke saku, menyimpan permen itu. Ia melirik ke sebelahnya, anak itu masih sibuk dengan kameranya.

Tangan Zoro mengetuk beberapa kali lengan anak itu, yang membuatnya menoleh dan menatap intens kearah Zoro. Yang ditatap hanya menggaruk tengkuknya gugup.

"Aku minta maaf soal waktu itu" kata Zoro sambil melirik salah tingkah ke anak disebelahnya. Si anak hanya mengangguk, setelah itu hening.

"Kau bisu ya?" Zoro memukul-mukul mulutnya yang tidak bisa dikontrol.

Anak itu hanya diam, benar-benar diam tanpa sibuk dengan kameranya.

"...ji"

"Ha?"

Anak itu mengatakan sesuatu, berarti tidak bisu, pikir Zoro. Tapi Zoro tidak mendengar dengan jelas perkataan anak itu. Ingin bertanya sekali lagi, tapi anak itu sudah beranjak dari tempat duduknya.

"HEI AKU BELUM TAHU NAMAMU" teriak Zoro. Yang diteriaki hanya terus berlari tanpa mempedulikan Zoro.

"Ji, ya?"

Zoro tersenyum lebar layaknya idiot. Ia pasti sudah gila, merasa bahagia karena orang asing. Tapi ini menyenangkan. Zoro ingin bertemu lagi dengan sosok 'Ji' itu.