Sanji tidak tahu dimana letak kesalahannya. Kejadian itu selalu terulang sampai saat ini. Semua orang selalu memandang salah padanya. Bahkan ayahnya sendiri. Menghina dan menyiksanya adalah kebiasaan orang-orang disekitarnya. Bukan Sanji tidak melawan, ia melakukannya. Bahkan nyaris mati karena membela diri. Tapi jika keluarga sendiri yang melakukannya, Sanji bisa apa? Melawan pun percuma.
Satu orang yang sering Sanji perhatikan ialah Roronoa Zoro. Sanji iri padanya, sangat iri malahan. Melihat Zoro bisa tersenyum dengan ringannya, mempunyai banyak teman. Sanji benar-benar iri.
Suatu hari dimalam yang sunyi Sanji pergi diam-diam dari rumah. Memanjat pagar setinggi dua meter rumah mewah milik ayahnya. Tak lupa membawa kamera. Sanji suka memotret. Apa saja yang bertemakan keramaian dan kedamaian. Hal yang tidak pernah bisa ia rasakan.
Sebuah keramaian menarik perhatian Sanji. Sekumpulan anak laki-laki seusia Sanji sedang bermain streetball dilapangan dekat taman. Itu keren, pikir Sanji saat melihat seseorang melakukan dunk. Sanji juga suka olahraga, walau ia tidak bisa melakukannya terang-terangan karena ayahnya pasti akan marah.
Satu objek menarik perhatian diantara keramaian orang. Anak itu, Sanji mengenalinya sebagai kapten kendo sekolah. Tentu saja ia kenal, Zoro sangat populer di sekolah. Melihat anak laki-laki itu bebas melakukan apapun bahkan streetball di lapangan pinggir jalan membuat Sanji ingin menangis. Sanji juga ingin melakukannya, namun keadaan tidak mendukung.
Sejak saat itu Sanji selalu menonton permainan Zoro dan teman-temannya. Ada banyak orang berkumpul disana. Tertawa dan bersorak saling menyemangati. Sanji suka. Setidaknya Sanji dapat melupakan sejenak luka ditubuh dan batinnya.
...
Pukulan di tubuh Sanji terima dari ayahnya. Tubuh ringkihnya membungkuk di lantai dengan ayahnya yang terus mencambuk punggungnya dengan ikat pinggang. Sanji meringis menahan tangis.
"Sudah berapa kali kukatakan jangan keluar malam!"
Ctass
Tubuh Sanji semakin membungkuk dengan mata kian terpejam erat. Sakitnya bukan main. Memikirkan yang memukulnya ayah kandung sendiri kian membuat hati Sanji sakit.
"Ayah, maafkan aku. Ayah hmpp-" Sanji menutup mulutnya agar tangisnya tak terdengar. Namun usaha itu gagal saat isakan lolos dari kedua belah bibirnya.
"Kau menangis?!" tendangan Sanji terima di perutnya. Ia jatuh tersungkur menghantam lantai. Kepalanya berdenyut keras. Punggung dan perutnya terasa sakit luar biasa.
"Kumohon maafkan aku ayah, hiks-" Sanji terus memohon ampun. Namun pria paruh baya itu seperti buta dan tuli. Pintu hatinya sudah tertutup untuk sekedar melihat tubuh anaknya yang penuh luka dan mendengar tangis pilunya.
Sekali lagi Sanji tidak tahu dimana salahnya, sehingga ia harus menerima siksaan seperti ini disepanjang hidupnya.
...
Saat pagi adalah siksaan lain yang harus Sanji terima. Pergi sekolah, Sanji tidak suka.
Orang-orang di tempat menempuh pendidikan itu sama saja seperti keluarganya. Terkadang Sanji frustasi. Pikiran buruk selalu berbisik di kepalanya. Terngiang di telinganya seperti dengungan nyamuk. Tempat berpendidikan ini tidak mencerminkan adanya orang-orang yang terdidik. Ah kecuali tukang kebun yang selalu mengajaknya bicara dan bibi kantin yang selalu menyisipkan daging lebih di makan siangnya.
Tubuh Sanji terhempas di lantai, makanannya berserakan. Mata Sanji berkaca-kaca melihat daging pemberian bibi kantin yang berserakan. Sayang sekali, bibi kantin sudah susah payah menyisihkannya untuk Sanji.
"Lihat teman kita yang satu ini!" seru Ichiji. Sanji menundukkan kepalanya. Ia ingin membereskan kekacauan akibat makan siangnya yang berserakan. Namun Ichiji menendang tangan Sanji. Sanji meringis, mendekap tangan di dada. Mencoba meredam sakit yang terasa.
"Kau tidak mendengarku ya?!" Ichiji menarik rahang Sanji hingga menengadah.
Sanji memandang langsung mata Ichiji. Secepat kilat menyambar secepat itu pula Ichiji menampar Sanji.
"Kau berani menatapku hah?!"
Suara rusuh terdengar disekitar mereka. Sanii yakin siswa lainnya pasti sedang mengambil gambar dan videonya. Menyebarkannya di website sekolah. Kemudian Sanji akan menjadi bahan bully secara verbal.
Ichiji menarik kerah Sanji, membuat gestur akan menumpahkan minuman ke seragam Sanji. Namun Sanji menghindar, sehingga minuman itu tumpah ke seragam Ichiji. Sorak sorai yang memprovokator Ichiji terdengar.
"Wah dia mulai berani"
"Hajar saja Ichi!"
"Pukulkan wajahnya"
"Bunuh saja sekalian!!"
Sanji menggeleng mundur. Ia tak bermaksud mengotori seragam Ichiji. Sanji hanya tak mau seragamnya kotor, kasihan bibi dirumah saat membersihkannya.
Langkah Sanji semakin mundur saat Ichiji maju.
"M-maafkan aku" lirihan Sanji tidak didengar oleh Ichiji. Ia menarik kerah seragam Sanji dan memukul rahang anak itu telak. Kericuhan terus berlanjut. Tidak ada yang mau menolong sampai guru datang melerai mereka.
...
Zoro berjalan menjauhi kerumunan di kantin. Selera makannya hilang karena keributan tidak penting. Ia tidak ingin terlibat karena pasti akan merepotkan. Mungkin Zoro akan keatap untuk tidur sekaligus bolos jam pelajaran kelima.
Suasana atap yang tenang benar-benar sempurna bagi Zoro. Rambut hijau pendeknya tersapu angin yang menyejukkan. Zoro membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Setengah jam di posisi itu, Zoro mendengar langkah seseorang dari balik pintu.
Zoro bangkit dari posisinya. Hal apapun yang membuatnya bersembunyi, Zoro tidak akan mencari tahu. Dahinya berkerut melihat sosok yang menurutnya aneh datang dengan langkah terseok.
Sanji duduk tepat ditempat Zoro sebelumnya duduk. Zoro hanya dapat memperhatikan dari tempatnya bersembunyi saat ini.
Pemuda berambut hijau itu fokus kepada Sanji. Memperhatikan setiap gerak-gerik si blonde. Ia bingung, apa yang dilakukan si aneh itu dengan terus menunduk. Lima belas menit menunggu Sanji tak kunjung menangis. Padahal Zoro ingin melihat Sanji menangis sampai tergugu sembari memanggil ibunya.
Kepalang kesal menunggu, Zoro mendekati anak itu dan memukul punggungnya.
"Akh-" terkejut bukan main Zoro saat mendengar ringisan Sanji. Mata Sanji bahkan sampai berkaca-kaca.
Sanji menoleh kebelakang dan reflek berdiri sembari menjauh saat melihat Zoro. Pandangan mereka bertemu, namun Sanji segera berpaling. Takut kejadian Ichiji terulang kembali.
"M-maaf aku akan pergi"
Zoro mengerjap bingung saat mendengar suara Sanji untuk yang pertama kali. Ia meneguk ludah kasar karena kecanggungan yang terbentuk diantara mereka.
"Hei aneh"
Sanji terus menjauh dengan langkah terseok-seok.
"Aneh"
Langkahnya kian cepat saat Zoro berseru keras.
"Ck, CUPU!"
Sanji yang sudah memegang kenop pintu pun menghentikan langkahnya. Cupu. Orang-orang disekolah biasa memanggilnya seperti itu. Ia membalik tubuhnya kearah Zoro dengan takut.
Gerakan tangan Zoro yang mengisyaratkan agar ia mendekat membuat Sanji jantungan. Astaga, mungkin ia akan dibully lagi setelah ini. Apakah Zoro akan memutilasinya disini? Sanji bergidik takut.
Zoro mengisyaratkan Sanji agar duduk ditempat sebelumnya. Mereka duduk sejajar dengan jarak dua meter. Zoro masih takut berdekatan dengan anak aneh ini, sementara Sanji sama takutnya berdekatan dengan Zoro.
Sanji memainkan kedua jari telunjuknya yang bertautan. Ia gugup bukan main, Zoro terus memperhatikannya.
"Kau sering kesini?" tanya Zoro. Sanji mengangguk tanpa menoleh.
"Untuk apa?"
Sanji melirik Zoro, namun segera menunduk lagi saat tahu Zoro sedang menatapnya.
"Menenangkan diri" jawab Sanji pelan, kemudian ia melanjutkan. "Kau pasti terganggu karena aku datang. Maafkan aku" Sanji membungkukkan tubuhnya di depan Zoro, bermaksud meminta maaf. Zoro tak sempat membalas saat si blonde langsung berlari cepat menuju pintu dan menghilang begitu saja.
"Dia benar-benar aneh, tidak diragukan lagi" Zoro menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sia-sia aku memanggilnya, padahal aku ingin mengobrol dengannya"
Niat bolosnya menghilang seketika. Akhir-akhir ini dirinya sering diabaikan orang lain saat sedang berbicara. Ji yang tidak jelas rupanya dan Sanji yang luar bisa anehnya.
"Kenapa terdengar familiar?" Zoro menghentikan langkahnya. Tetapi karena malas menerka, Zoro melanjutkan langkahnya menuju kelas.
