Warning: kekerasan, selfharm! Kalau ga tahan baca yang begituan skip aja plis!
.
.
.
.
Ichiji menghentakkan kakinya kesal. Ini semua karena Sanji. Karena anak sial itu Ichiji harus menerima hukuman skors selama empat hari. Kalau ayahnya tahu maka habislah dia. Ide kotor pun muncul di otaknya. Senyum jahat kembali terukir di bibir Ichiji.
...
Tidak tahu apa yang salah. Sanji lelah berdesakan di kereta. Belum lagi berjalan dari stasiun menuju ke rumahnya. Dan kini ia harus menghadapi kakek serta ayahnya yang duduk dihadapannya.
"Ada apa yah?" tanya Sanji sembari mendudukkan diri di single sofa yang tersisa. Senyum penuh kemenangan terbit di bibir Ichiji saat melihat Sanji yang memasang wajah takut di sebelahnya.
"Apa yang kau perbuat sampai Ichiji di skors hah?"
Wajah bingung Sanji menjadi awal jawaban dari pertanyaan itu. Sanji tidak mengerti mengapa ayahnya marah, padahal jelas itu bukan salahnya.
"Ayah-"
"Kau tidak perlu membela diri. Kau pasti yang mencari gara-gara dengan cucuku dan mengajaknya berkelahi" belum sempat Sanji menyelesaikan kalimatnya, sang kakek sudah memotong pembicaraannya. Pria tua itu memandang tajam kearah Sanji.
"Aku tidak melakukannya sama sekali, kek. Ichiji yang duluan memukulku"
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi tirus Sanji. Ichiji terhenyak. Ia tak percaya akan melihat secara langsung adegan kekerasan yang dilakukan ayahnya. Mendadak pipi Ichiji ikut terasa nyeri.
"Ayah! Bukan aku yang melakukannya!" teriak Sanji frustasi. Ia sudah cukup tertekan menjadi pihak yang selalu disalahkan. Sang kakek berdiri dari tempat duduknya dan memukul anak tujuh belas tahun itu dengan tongkatnya.
"Berani kau melawan ayahmu?! Dasar anak tidak tahu diri!!! Mati sana!" pukulan tersebut mengenai pelipis Sanji hingga sobek dan mengeluarkan darah. Ichiji berdiri dibelakang kakeknya. Jantungnya berdesir melihat adik tirinya di siksa oleh dua orangtua di depannya. Ia tak menyangka respon ayah dan kakeknya akan sekeras ini.
Karena pukulan kakeknya tadi, Sanji pun tersungkur ke lantai. Anak itu terus menunduk, tapi tidak terdengar isak tangis sedikit pun.
"Kau harus mengajari anak ini sopan santun. Lihatlah, anak pelacur ini tumbuh menjadi seorang yang pembangkang dan tidak tahu diri!"
"IBUKU BUKAN PELACUR" Sanji berteriak untuk yang kedua kalinya.
Sang ayah menendang wajah Sanji hingga kepalanya terbentur ujung meja kaca ruang tamu. Ichiji sudah jantungan dan hampir membantu Sanji, namun tidak berani karena ayahnya ada disana. Ichiji merasa bersalah. Padahal niatnya hanya sedikit mengerjai Sanji, namun ia tak menyangka Sanji akan dihajar habis-habisan seperti ini.
"Sudah tinggalkan saja mereka" ujar sang kakek. Ichiji kembali menoleh ke belakang, melihat Sanji yang sudah meringkuk dilantai sembari menangis.
"Kau bilang apa tadi hah?! Ibumu bukan pelacur? Asal kau tau, ia menjual tubuhnya kepada semua orang! Ia bahkan membuangmu dan meninggalkanmu padaku!"
Tendangan di ulu hatinya membuat Sanji mual dan memejamkan matanya erat-erat. Kesadarannya hampir hilang karena darah terus mengalir dari pelipisnya. Ayahnya menyeret Sanji menuju kamarnya. Mencampakkan tubuh Sanji hingga terbentur kaki ranjang.
"Hidupmu akan menderita menggantikan dosa ibumu"
...
Malam ini Zoro bermain streetball bersama teman-temannya seperti biasa. Sorak sorai orang-orang menjadi kepuasan tersendiri bagi Zoro. Namun bukan itu yabg menjadi fokusnya saat ini.
Setelah selesai streetball, Franky menepuk bahu Zoro. Ia heran melihat tingkah Zoro yang sejak tadi memutar kepalanya kesana kemari. Seperti mencari sesuatu, atau mungkin seseorang.
"Sebenarnya apa yang kau cari?" tanya Franky pada akhirnya. Zoro hanya menoleh sebentar, kemudian beranjak pergi.
"Kau tidak ikut kami? Kita bisa mampir ke kedai ramen setelah ini" tawar Franky. Zoro menggeleng.
"Tidak, kalian saja. Aku sedang ada urusan" tolak Zoro.
Pemuda tampan berambut hijau itu memperhatikan teman-temannya yang kian menjauh. Setelah itu, barulah ia berbalik dan berjalan menuju taman di dekat lapangan basket itu. Pandangannya diedarkan keseluruh taman, kembali memindai tempat itu.
"Kemana anak itu?" gumamnya. Sosok yang biasanya memotret dari kejauhan itu tidak muncul malam ini. Zoro enggan mengakui, tapi ia tidak nyaman akan ketidakhadiran sosok itu.
Zoro memilih duduk di bangku dekat lampu taman. Matanya menatap awas ke sekelilingnya. Ia masih berharap si blonde datang dengan kamera khasnya yang tersampir indah di leher.
Getaran ponsel menyadarkan lamunan Zoro. Sebuah pesan masuk dari ayahnya, menyuruh ia cepat pulang.
"Ck, seperti bocah saja" keluhnya kesal. Kalau sudah bos yang menyuruh, mana bisa ia menolak. Zoro hanya bisa berharap bisa berjumpa dengan sosok itu dilain waktu.
...
Satu yang menjadi kebiasaan Sanji adalah merenung dimalam hari. Kamar yang gelap gulita menjadi peneman malamnya. Jika bisa Sanji mengeluh, ingin Sanji mengatakan 'aku ingin mati saja'. Kalimat itu selalu muncul di saat-saat seperti ini.
Sekujur tubuhnya sakit bukan main. Darah di pelipisnya bahkan sudah mengering. Sanji tidak memiliki tenaga untuk sekedar mengobati luka-lukanya.
Sanji tidak mengerti ayahnya. Ia hidup mewah dengan semua fasilitas lengkap dirumahnya. Pakaian mahal, perabotan mewah, makanan enak, fasilitas elektronik lengkap, semua Sanji miliki tanpa diminta. Tapi, itu hanya berlaku dirumah. Di luar ia terlihat seperti anak dari keluarga sederhana, sebab ayahnya tidak menyediakan kendaraan untuknya sekolah. Padahal sekolahnya cukup jauh. Yang parahnya lagi, Sanji selalu mendapat perlakuan kasar dari ayahnya. Ini membingungkan untuk Sanji.
Rasanya lelah.
Memuakkan.
"Hiks..."
Pemuda itu terisak kecil. Selalu saja begini. Anggaplah ia lelaki cengeng menjijikan. Sanji hanya terlalu frustasi akan hidupnya.
Tidak ada yang menginginkannya.
Keluarga besarnya tidak menyukainya.
Bahkan ayahnya sendiri.
Ibunya enggan mengurusnya.
Tidak ada yang mau berteman dengannya.
"Bukankah mati lebih baik?"
Pertanyaan itu sering terucap dari bibir plum Sanji. Matanya yang kosong menerawang jauh. Bisikan yang memuakkan berdenging di telinganya.
Sanji harusnya kau mati.
Mereka tidak menginginkanmu.
Mati, Sanji.
Kau harus mati.
Kau tidak akan merasa sakit jika mati.
Ayo!
Keinginan itu datang lagi. Sanji melirik laci nakas disebelah ranjangnya. Jantungnya berdetak cepat. Kepalanya pusing mendengar suara-suara yang entah dari mana. Tangannya yang lemas dipaksa untuk mendekati nakas. Menarik laci paling atas dan mengambil sebuah benda tipis yang tajam.
Anak tidak tahu diri!
Kau bodoh
Ibumu pelacur!
Tidak ada yang menginginkanmu!
...ibumu membuangmu padaku.
Perlahan goresan itu menyayat kulit tipisnya. Jangan tanya apa rasanya, ini menyenangkan bagi Sanji. Ia akan melupakan segalanya. Toh tidak ada yang dapat ia jadikan alasan untuk hidup saat ini.
Benar kan? batin Sanji.
Ia termenung. Perlahan pandangannya mulai mengabur.
"Aku ingin bertemu ibu" Sanji tersentak dari renungannya. Itu adalah keinginan yang belum ia capai. Perlahan air mata meluncur di pipi tirusnya.
Sanji membenamkan wajah di kedua lututnya, menangis seperti seorang balita hingga tergugu. Tidak ia pedulikan darah yang mengalir deras dari pergelangan tangannya.
Sebuah catatan jurnal miliknya, tertulis kalimat yang paling Sanji ingat.
...aku akan mati setelah bertemu ibu sekali saja.
Jadi ini belum saatnya.
.
.
.
.
Note:
Lohaaa gaes, gimana bacanya? Dah berderai air mata? Hehe.
Disini Tasya mau ngasih tau hubungan di keluarga Sanji.
Jadi Ichiji sama Sanji itu saudara sebapak, tapi beda ibu. Mereka umurnya beda setahun. Jadi ceritanya emak si Ichi dah ninggal pas ngelahirin Ichi.
Nah sampai sini cuma itu yang bisa Tasya kasih tau. Lainnya tunggu di chapter selanjutnyaaa
