Zoro tidak tahu, mungkin ini yang dinamakan rindu. Bayangan pemuda dengan hoodie dan masker hitam serta kamera yang tersampir dileher selalu menghantuinya.
Sial, Zoro tidak bisa tidur.
...
Saat jam makan siang di sekolah Zoro duduk bersama Perona dan dua teman lainnya di kantin. Tidak berapa lama kemudian Ichiji memasuki kantin, membuat semua perhatian terpusat padanya.
"Dia pasti kesepian karena target bully nya tidak datang" ujar Ace sembari mengaduk ramen yang sedang dinikmatinya.
"Tentu saja, dia tidak pernah absen membully si blonde cupu itu" Law yang berada disamping Ace ikut berkomentar. Sementara Zoro hanya diam mendengarkan. Perona menatap intens kearah Zoro, lalu memberikan segelas minuman padanya.
"Minumlah, kau pasti haus"
Zoro melirik Perona, kemudian mengambil minuman pemberian teman sekelasnya itu. Perona dalam hati menggerutu, sebab ia yakin ada yang disembunyikan Zoro darinya. Akhir-akhir ini pemuda itu lebih sering diam ketika mereka membahas soal Sanji. Perona curiga terjadi sesuatu diantara dua orang itu.
Perona tidak akan tinggal diam.
...
Sanji duduk termenung diatas ranjang. Bersandar pada head bed dengan pandangan lurus kedepan. Tubuhnya masih sakit, terutama bagian pelipisnya. Namun ia mengabaikan itu. Pandangannya agak berkabut mencoba memikirkan cara bertemu ibunya.
Pemuda rambut pirang itu turun dari ranjang. Melangkah menuju lemari pakaian dan mengambil hoodie abu-abu beserta topi hitam. Ia mengenakan atribut seperti saat keluar malam. Saat ini masih jam dua belas siang, dan seharusnya Sanji berada disekolah. Tapi Sanji tidak peduli.
Pemuda manis itu keluar dari kamarnya dengan kamera yang mengalung di leher dan ransel di punggung. Masker dan topi juga sudah dipakai. Tidak akan ada yang melarangnya, sebab ayahnya sedang bekerja.
Mungkin hari ini ia akan pergi menghibur diri dengan bersenang-senang. Kakinya yang masih sakit ia paksa melangkah.
Sanji pergi menggunakan kereta setelah berjalan 15 menit menuju stasiun. Berjalan-jalan di kota dan mendudukkan diri di taman menikmati angin sore sangat seru dibenak Sanji.
Perhatian pemuda itu teralihkan pada sekelompok orang yang berjalan sambil tertawa. Tangannya yang memegang kamera terangkat untuk mengabadikan momen itu.
"Aku juga ingin tertawa bersama teman-teman" bisik Sanji sambil memperhatikan hasil potretnya. Sedikit miris didengar. Senyum sedih terukir saat Sanji sadar bahwa tidak ada satupun yang mau jadi temannya. Semua orang mengira ia adalah anak miskin yang bersekolah di sekolah elit. Semua latar belakang dan identitasnya tertutupi berkat kuasa ayahnya.
Kaki jenjang Sanji berdiri dari duduknya. Melangkah lagi mencari momen yang bisa ia potret. Sanji suka saat-saat dimana ia dapat menyembunyikan identitasnya sebagai si culun Sanji. Orang-orang hanya akan bersikap acuh dan mengabaikannya.
Inilah hidup Sanji. Sunyi, sepi, dan membosankan.
Sanji melangkahkan kaki jenjangnya, menyatu dengan kerumunan.
...
Pukul tiga sore Zoro kabur dari kelas. Jika ayahnya tau pasti uang bulanan akan dipangkas dan tidak ada izin bermain streetball. Tapi biarlah, saat ini otak Zoro butuh pendinginan dari angka-angka sialan itu.
"Gila! Aku bisa cepat tua jika berada di kelas terus" gerutuan Zoro terdengar di sepanjang jalan yang ia lalui. Kaos hitam yang dipakainya sudah terlihat berantakan dan lusuh. Seragam putihnya tersampir di bahunya begitu saja.
Gerutuan Zoro terhenti saat matanya menangkap objek tidak asing. Zoro tidak mungkin salah menebak, ia sangat kenal postur tubuh dan outfit anak itu.
Pemuda berambut hijau itu diam di tempat. Menunggu sosok yang berjalan mundur didepannya itu mendekat. Pemuda itu terlalu asik dengan dunia fotografinya sehingga tidak sadar situasinya.
Bruk
Zoro yang sudah mengantisipasi hal ini hanya termundur selangkah. Sedangkan si pemuda misterius ini nyaris limbung karena menabrak tubuh seseorang.
"Maafkan ak-" Sanji menghentikan ucapannya. Pandangan mereka bertemu, keduanya kompak terdiam.
Sanji tidak menyangka akan bertemu Zoro di hari menjelang sore ini. Sementara Zoro masih mencerna apa yang baru saja ia dengar. Suara itu?
"Kau-" belum selesai Zoro berucap, Sanji sudah terlebih dahulu melarikan diri. Zoro tidak tinggal diam, ia ikut berlari mengejar Sanji. Kaki Zoro mengikuti langkah Sanji yang memasuki sebuah taman kecil. Zoro mendorong pemuda didepannya itu dengan kesal hingga Sanji tersungkur.
"Akh-" Sanji memeluk kameranya saat terjatuh. Tidak membiarkan benda paling berharga dalam hidupnya lecet sedikitpun.
Zoro bergerak cepat menarik pergelangan tangan Sanji sembari bersimpuh dikedua lututnya, lalu menarik masker anak itu.
Tawa sinis Zoro terdengar, merasa bodoh karena tertipu selama ini.
"Kau menyamar selama ini?" tanya Zoro pada Sanji yang masih pada posisinya. Tidak tahu kenapa ia sangat kecewa. Entah karena 'Ji' yang selama ini ia kenal adalah orang yang ia benci di sekolah atau pada perasaan senang yang timbul dalam hatinya.
"Aku-"
"Ck" Zoro menghempaskan pergelangan tangan Sanji, kemudian bangkit berdiri. Tangannya menepuk debu yang menempel di celananya. Sanji yang masih terbaring di tanah pun terbatuk karena debu dan pasir di lutut Zoro terbang kearahnya.
Zoro menertawai hal itu dalam hati. Namun tangannya kemudian terulur lembut di depan Sanji hingga membuat si pemuda manis kaget bukan kepalang. Ia bertanya-tanya apa maksud dari uluran tersebut.
Bukankah itu artinya sebuah pertolongan?
Tenggorokan Sanji tercekat seketika. Ia mendongak menatap Zoro dengan mata yang berkaca-kaca. Hal sesepele ini pun bisa berharga bagi Sanji. Hatinya perlahan menghangat.
Zoro mengernyit bingung melihat ulurannya tak kunjung disambut. Ia pun menarik pergelangan tangan si pemuda manis.
"Begitu saja lama sekali" keluh Zoro dengan nada ketus. Sanji menundukkan kepalanya, kemudian membersihkan debu yang menempel pada tubuhnya. Zoro yang merasa bersalah ikut membersihkan hoodie bagian belakang Sanji.
"Aku bisa membersihkannya sendiri" ujar Sanji pelan. Ia mencoba menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Zoro. Namun gagal karena Zoro bersikeras membantu Sanji.
...
Keduanya duduk di bangku taman. Zoro dengan gaya acuh tak acuh menyodorkan sekaleng jus kepada Sanji.
"Terima kasih"
"Hm"
Keduanya diam dalam pikiran masing-masing. Sanji tidak tau bagaimana memulai percakapan, karena memang ia tidak pernah. Yang bisa ia lakukan hanya memainkan tali kamera, sembari mengecek apakah ada kerusakan di kamera itu.
Zoro mencuri pandang pada Sanji. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada teman seangkatannya itu. Meski sedari tadi acuh tak acuh, tak dapat dipungkiri kalau ia juga gugup.
"Tidak ada yang rusak kan?" Zoro bertanya tiba-tiba. Sanji yang sedang fokus pun terlonjak kaget. Lalu menoleh dan mengangguk kecil pada Zoro.
"Tidak perlu malu-malu mengeluarkan suaramu. Aku sudah tau" ketus Zoro.
"Maaf"
"Untuk apa? Mengambil fotoku secara diam-diam?"
Sanji terbelalak. Lalu dengan panik menggerakkan kedua tangan di depan dada menghadap Bobby.
"Tidak, aku tidak melakukannya. Sungguh" mendengar hal itu Zoro tertawa geli. Kemudian mengusak gemas rambut Sanji.
"Aku tidak tau kau selucu ini" komentar Zoro. Sanji melihat itu. Cara Zoro tersenyum, lalu tertawa. Untuk pertama kalinya hati Sanji menuju seseorang.
Dia tampan sekali.
...
"Jadi kenapa kau tidak sekolah?" tanya Zoro saat mereka berjalan pulang.
"Aku sedang tidak enak badan" jawab Sanji sembari menunduk.
"Sakit? Ck manja sekali. Aku sakit tetap sekolah" ejek Zoro. Kakinya sesekali menendang udara untuk menghilangkan kegugupan diantara mereka.
Sanji tidak membalas. Ia hanya menoleh dan tersenyum bersamaan dengan langkah mereka yang terhenti di depan stasiun.
Zoro menyimak dalam hati. Meletakkan memori di otaknya tentang betapa manis senyum seorang Sanji. Pertama kali ia melihat sisi lain dari sosok culun itu.
"Terima kasih sudah mau mengobrol denganku"
"Kita bisa mengobrol lagi dilain waktu" kalimat itu spontan meluncur dari mulut Zoro, membuat pemuda hijau itu merutuk dalam hati. Sanji hanya tersenyum dan pamit pulang.
"Aku pergi dulu"
Zoro mengangkat tangannya sebagai balasan. Memperhatikan sosok Sanji yang perlahan menghilang dikerumunan orang dalam stasiun. Saat hendak berbalik, ia memukul dahinya pelan.
"Baru kusadari ia tidak memakai kacamata. Ah, pantas saja ada yang berbeda" Zoro menggelengkan kepala saat baru menyadari hal itu.
Namun kemudian senyumnya melebar, seperti orang yang sedang dimabuk cinta.
"Karma sialan!" makinya dengan kaki yang menendang udara sore itu. Melangkah dengan riang hingga menjadi pusat perhatian. Roronoa Zoro tidak peduli. Satu yang pasti, ia bersyukur bolos kelas sore ini.
