Zoro tidak pernah sesemangat ini saat pergi ke sekolah. Heck, bangun pagi saja ia malas. Tetapi tidak untuk hari ini. Ada seseorang yang ingin ia lihat dan amati, kalau bisa didekati dan diajak mengobrol.
"Zoro!" seruan seseorang membuat Zoro menoleh. Terlihat Perona berlari kearahnya sembari melambaikan tangan.
"Oh Perona! Selamat pagi" sapa Zoro riang. Perona tertawa kecil. Merasa aneh mengapa Zoro yang tidak terlalu suka basa-basi malah menyapanya begini.
"Pagi. Sepertinya moodmu bagus hari ini" ujar Perona. Mereka berdua melangkah bersama memasuki gerbang sekolah.
"Moodku bagus setiap hari" Perona mendecak dalam hati saat mendengar kalimat itu. Zoro mana mau menyapa orang terlebih dahulu. Kalaupun dipanggil, Zoro hanya akan tersenyum tipis sebagai jawaban.
"Pembohong. Oh iya, apa kau ada waktu nanti sore? Ayo-"
"Maaf Perona. Lain kali saja ya, aku ada urusan yang harus dikerjakan" Zoro memotong kalimat Perona dan pergi begitu saja dengan langkah cepat nyaris berlari.
"SANJI"
Teriakan Zoro tersebut mengejutkan semua orang. Bukan hanya karena suara beratnya yang terkesan nyaring, tetapi juga karena faktor objek yang dipanggil.
"Sialan" gerutu Perona. Gadis cantik itu mengepalkan kedua tangannya. Merasa tidak suka akan Zoro yang mengabaikannya. Ia harus melakukan sesuatu pada si culun itu.
...
Sesuai janji pagi tadi, Zoro menjemput Sanji ke kelasnya dan mengajak anak itu makan siang bersama. Perasaan takut dan senang Sanji rasakan. Ia berjalan disamping Zoro, sosok yang paling diminati disekolah. Bisik-bisik mulai terdengar.
"Zoro sebaiknya aku makan sendiri saja"
"Kenapa?"
"Mereka tidak suka aku berada didekatmu"
Zoro melirik sekitar. Ada banyak yang memperhatikan mereka. Pandangam sinis terlihat diberbagai penjuru.
"Abaikan saja" ujar Zoro. Ia menarik lengan Sanji menuju kantin.
"Aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku" ajak Zoro dengan semangat. Sanji hanya pasrah. Di satu sisi ia sangat bersemangat, tapi disisi lain ia merasa khawatir. Takut teman barunya tidak menerimanya.
Zoro saling menyapa dengan teman-temannya. Lagaknya sudah seperti anak geng motor yang melempar candaan dan jabatan tangan. Padahal mereka hanya teman sekelas yang sama bodohnya.
"Zoro" Ace memanggil dengan dagu terangkat yang terarah pada Sanji, isyarat agar Zoro menjelaskan mengapa Sanji yang notabene adalah orang yang Zoro benci ada disini.
"Sanji, ini Ace. Bibirnya memang lebar, tapi ia tidak suka membicarakan orang. Jadi tidak usah takut"
Sanji tersenyum kecil. Tangannya terulur untuk membalas uluran tangan Ace. Selesai berjabat tangan, Ace lekas memukul pemuda lumut itu.
"Ga sadar diri kau dasar manusia tanpa GPS! Bibirmu bahkan lebih lebar dariku!" Sanji tertawa kecil melihat pertengkaran itu.
"Ah aku Law, dan ini Perona" pemuda lainnya yang berada di meja itu memperkenalkan diri. Sanji mendapat kesan baik dari Law, tetapi tidak dari Perona.
"Kau bisa menganggap mereka temanmu juga" ujar Zoro yang diikuti anggukan semangat dari Ace.
"Jangan cuma 'anggap', kita bisa menjadi teman kalau kau mau" timpal Law.
"Tentu saja aku mau" seru Sanji dengan semangat.
"Aku belum setuju untuk menjadi temanmu" suasana canggung tiba-tiba menyeruak saat Perona mengatakan kalimat itu. Sanji menggigit bibir bawahnya, kemudian tersenyum canggung.
"Tidak apa-"
"Hei, apa yang kau katakan? Sudahlah Sanji, jangan dengarkan Perona. Dia memang suka begitu" ucapan Sanji dipotong oleh Zoro. Ditariknya Sanji dan dirangkul, lagaknya sudah seperti teman lama yang akrab. Meski perasaan tak nyaman masih Sanji rasakan, namun Sanji sebisa mungkin bersikap biasa saja. Akan tetapi, perasaan tidak enak itu semakin membebani hati Sanji saat Perona pergi meninggalkan meja mereka.
"Dia kenapa sih?" Tanya Zoro bingung. Tidak biasanya Perona bersikap aneh begitu.
"Biarkan saja, mungkin dia sedang datang bulan. Perempuan selalu sensitive di masa-masa seperti itu" ujar Ace santai.
Zoro mengangguk paham. Berbeda dengan Law yang hanya diam dan melanjutkan makannya. Di sisi lain Sanji merasa ini bukan pertanda baik. Tapi biarkan sajalah, apa yang terjadi nanti biarlah terjadi. Saat ini Sanji ingin menikmati waktunya bersama teman-teman pertamanya.
...
Terhitung satu bulan mereka berteman, ada hal aneh yang mulai Zoro rasakan. Sanji sering tidak hadir dan begitu hadir selalu ada luka baru ditubuhnya.
"Apa mungkin dia anggota yakuza?" Franky nyeletuk pelan sambil membuka botol air mineralnya.
"Yang benar saja, itu tidak mungkin" sahut Usopp tidak terima.
"Tapi bisa saja loh. Dia selalu datang dengan tubuh penuh luka" Luffy ikut menimpali. Zoro hanya diam mendengarkan. Ia juga mulai menerka-nerka. Kemarin Sanji tidak hadir di sekolah tanpa keterangan yang jelas. Dan hari ini ia hadir dengan tubuh yang penuh luka. Meski anak itu mencoba menutupinya, Zoro dapat melihat dengan jelas.
"Aku sebenarnya sedikit curiga pada anak itu. Banyak rumor beredar tentang dia" Sabo tiba-tiba menyampaikan pendapatnya.
"Orang-orang bilang dia anak miskin yang beruntung sekolah disini, tapi setahuku sekolah ini tidak membuka jalur beasiswa. Dan kita tahu sendiri, uang buku, baju, dan spp tidaklah murah, apalagi uang ekstrakulikuler. Kalau benar ia anak orang tak punya, dia pasti sudah lama berhenti sekolah" jelas Sabo.
Zoro ingin menyampaikan sesuatu juga, namun lidahnya kelu. Ia juga yakin soal itu, Sanji tidak semiskin yang orang kira meski pemuda pirang itu pulang pergi naik bus, bahkan berjalan kaki. Apalagi jika memikirkan kamera mirorless yang sering dibawa Sanji. Orang miskin mana yang dengan bodohnya menghabiskan uang untuk sebuah kamera seharga mobil.
"Ada dua kemungkinan" semua orang mengalihkan perhatian pada Ace yang sedari tadi diam.
"Rumor lain di sekolah ini adalah adanya pewaris keluarga Vinsmoke"
"Ya itu jelas Vinsmoke Ichiji" sambar Sabo.
"Diam dulu!" Ace menepuk dahi Sabo. Pemuda berambut pirang bergelombang itu hanya bisa bersabar atas perlakuan sepupu jauhnya itu.
"Pewaris keluarga Vinsmoke itu bukan hanya satu. Mantan pemilik perusahaan otomotif Germa 66 memiliki satu anak, yaitu Vinsmoke Jajji. Nah kalian tahu dimana masalahnya?"
Kumpulan anak laki-laki penggosip itu menggeleng kompak atas pertanyaan Ace. Zoro pernah bilang pada Sanji kalau Ace tidak suka membicarakan orang. Ya, percayalah itu hanya omong kosong belaka.
"Masalahnya adalah ibu Ichiji sudah meninggal" bisik Ace.
"Ya kalau itu kami juga tau" jawab Usopp, tapi Ace mengabaikannya.
"Lalu sebulan setelahnya, Vinsmoke Jajji dikabarkan berpacaran dengan Sora" bisik Ace lagi.
"Tunggu, aku pernah dengar gossip itu. Bahkan katanya sampai memiliki anak" sahut Franky.
"Lalu hubungannya dengan Sanji apa?" Tanya Zoro penasaran. Semua terdiam saling melirik satu sama lain. Mereka sudah bisa menebak alurnya, tapi kenapa otak Zoro tidak sampai kesana?
"Hubungannya, Sanji bisa saja anak dari Jajji dan Sora" jelas Ace pada akhirnya.
Zoro tersenyum mengejek sembari mengibaskan tangannya, seakan menolak argumen Ace.
"Jangan bercanda, kita bahkan tidak pernah tahu marga Sanji" ujar Zoro.
"Tapi kalau dilihat sekilas, Ichiji dan Sanji mirip loh. Bahkan alisnya pun sama. Yang membuat mereka berbeda hanya warna rambut" timpal Law.
Pernyataan Law seakan menampar argumen Zoro. Yang lain mulai membandingkan wajah Ichiji dan Sanji dalam benak mereka.
Jadi, apakah Sanji putra Vinsmoke Jajji?
...
Zoro meletakkan ponsel ke telinga kanannya, mendial nomor telepon Sanji yang baru saja ia miliki seminggu lalu. Anak itu awalnya tidak ingin memberikannya, tetapi atas paksaan Zoro mau tidak mau ia pun memberikannya.
"Kemana dia?" gumam Zoro. Saat ini ia sedang berdiri di depan pintu kelas Sanji. Ia dapat melihat tas Sanji masih tergeletak di kursinya.
Helaan napas Zoro menandakan ia mulai bosan. Kaki jenjanganya melangkah untuk mengambil tas Sanji dan memutuskan untuk berkeliling mencari objek yang meresahkan hatinya.
Ia mencari ke kelas lain, toilet, ruang kesehatan, ruang music, bahkan sampai ke gedung olahraga. Namun Sanji tak kunjung ia temukan. Hanya satu tempat yang belum ia kunjung, yaitu rooftop.
"Aku akan pulang jika kau tidak ada disana" gumam Zoro. Satu per satu tangga ia naiki. Kakinya sudah mulai lelah.
Tangan Zoro terulur untuk membuka knop pintu. Setelah terbuka semilir angin menerpa wajahnya. Dan hal mengejutkan menyambut tepat di depan mata. Reflek Zoro melempar tas Sanji yang ada digenggamannya.
"Sanji!" serunya dengan napas memburu.
Sanji berbalik menatap Zoro dibawahnya. Raut takut jelas terlihat di wajah Zoro. Tetapi tidak untuk Sanji, sebab yang ia rasakan kini adalah keputusasaan dan frustasi.
"Sanji, apa yang kau lakukan? Cepat turun dari sana. Kau ingin bunuh diri, hah?!" rasa takut dan marah yang Zoro rasakan tidak dapat dibendung lagi. Sanji yang berdiri diatas tembok pembatas rooftop benar-benar berhasil membangkitkan adrenalinnya. Hal paling buruk yang tidak ingin ia lihat adalah menyaksikan orang lain mati dihadapannya.
"Kalau aku mati apa ada yang peduli padaku?"
"Tentu saja!"
"Ayahku akan peduli padaku?"
Zoro terdiam sejenak. Ia tak tahu masalah apa yang sedang Sanji hadapi. Namun kemudian ia memilih jalan tengah untuk menenangkan pemuda itu.
"Tentu saja ayahmu akan peduli"
"KAU PEMBOHONG! Dia tidak peduli padaku. Dia ingin aku mati. Dia ingin aku merasakan sakit seumur hidup hiks… kau pembohong hiks-"
Sanji berteriak menyampaikan perasaannya. Saking emosionalnya ia bahkan tak mampu menahan tangis hingga tersengguk dan terisak.
"Sanji" panggil Zoro pelan. Perlahan ia maju selangkah. Namun Sanji menggelengkan kepalanya dan menggeser kakinya semakin ke pinggir pembatas.
"Tidak ada alasan untuk aku hidup, Zoro. Mereka bilang aku harus mati. Ayah akan senang jika aku mati. Semua akan senang jika aku mati. Tidak ada yang menginginkanku, Zoro hiks-"
Sanji mengusap air matanya dengan kasar. Dadanya sangat sesak hingga sulit bernapas. Salah satu kakinya yang sudah di pinggir perlahan menggantung di udara. Matanya ikut menutup. Jantung Zoro berdetak semakin kencang. Napasnya ikut memburu.
"SANJI!"
