Disclaimer
NARUTO: Masashi Kishimoto
FAIRY TAIL:
FATE SERIES:
Arthuria masih memandang tak percaya pada keenam orang yang baru saja bergabung dengan mereka, lima servant yang pernah menjadi lawan dan sekutunya dalam perang cawan suci, serta seorang pria berambut hitam panjang yang mengenakan jaket hitam dan syal merah yang melingkari lehernya, sepertinya pria itu juga tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini
"B-bagaimana kalian bisa kemari? Terutama kau, raja penakluk. " Tanya Arthuria
Orang yang ditanya malah tertawa sambil menggaruk tengkuknya. ia adalah sang raja penakluk, Iskandar, seorang raja yang pernah melakukan ekspansi besar-besaran untuk menaklukkan dunia.
"Melihat ekspresi wajahmu setelah beberapa tahun ternyata sangat menghibur, raja kesatria." Balas Iskandar sambil tertawa lebar.
Arthuria hanya menghela nafas dengan sifat Iskandar, ia sama sekali tak pernah berubah, masih sama saat perang cawan ke-empat, selalu saja kurang serius dan banyak tertawa. " Sudahlah, jawab saja." Ucapnya.
"Ya anggap saja alasan kami di sini sama seperti kalian." Ucap Iskandar sambil mengelus janggut miliknya. "Kalau tidak salah kami dijelaskan kalau semua yang diundang kemari bisa menyaksikan sesuatu yang menarik," Tambah Iskandar.
Mendengar penjelasan dari Iskandar membuat alis Arthuria berkedut karena kesal. Serius, memangnya kehidupan pribadinya itu sebuah drama yang bisa disaksikan oleh siapa saja? Walau itu adalah dirinya yang berbeda, tapi tetap saja ia tak terlalu suka jika kesehariannya dipublikasikan.
Arthuria langsung menatap ke Arthur, pertanda bahwa ia meminta penjelasannya mengenai hal ini, sedangkan yang ditatap hanya menghela nafas karena dirinya sendiri juga tak begitu mengerti tentang masalah ini. Sebenarnya, dia dan Brandit bukanlah petugas asli di sini, mereka hanya dimutasi untuk sementara saja guna membantu mengelola hotel ini, karena pemilik hotel dan boss mereka itu adalah rekan bisnis.
"Maafkan aku, yang mulia, tapi kami pun tak tahu, itu adalah urusan yang ditangani langsung oleh pak pemilik hotel ini." Ucap Arthur.
Arthuria kembali menghela nafas, ia pikir hanya dirinya, Rin, dan Shirou saja yang menonton, tapi ternyata pemilik tempat ini malah mengundang banyak orang. Ingin rasanya ia menghantam kepala orang yang bertanggung jawab atas hal ini dengan menggunakan Excalibur, lagian bisnis bisnis macam apa coba yang berhubungan sama multidimensi? Namun, dia bisa kesampingkan masalah itu dulu, karena ada seorang lagi yang ingin dia sapa, tatapannya langsung mengarah pada pria berambut ungu dengan gaya jabrik yang disisir ke samping, dia menggunakan zirah berwarna putih dengan sedikit warna emas sebagai ukirannya, serta jubah biru, senjatanya adalah sebuah pedang yang memiliki gagang berwarna biru dan berbila emas.
"Senang bertemu denganmu, Sir Lancelot." Ucap Arthuria dengan senyum kecil.
Ya. dia adalah Lancelot the Lake, mantan salah satu dan yang terkuat di jajaran Knights of the Round Table, saat ini dia hanya tertunduk dengan ekspresi murung, ia tak berani menatap ke arah Arthuria dan merasa sangat malu untuk menjawab sapaan 'Rajanya' itu, perasaan bersalah kembali muncul tak kala ia mengingat perbuatannya di masa lalu, dimana ia tega membunuh sesama rekan seperjuangannya demi sebuah alasan yang sangat egois, hingga pada akhirnya ia melakukan pengkhianatan yang meluas menjadi perang saudara, dan itulah yang menjadi awal kehancuran Camelot.
Lancelot ingin menangis karena walaupun telah melakukan pengkhianatan besar. Namun, rajanya masih mau memaafkannya dan masih menyebut dirinya sebagai Kesatria yang ideal, dia sebenarnya ingin menebus dosanya dengan ikut rajanya bertempur melawan pengkhianat lain. Namun, ia malah diusir oleh Gawain yang masih memiliki kebencian terhadap dirinya karena telah membunuh saudara lelakinya saat menyelamatkan Guinevere.
Ia begitu frustrasi dan sangat terpuruk saat mendengar bahwa rajanya telah tewas dalam pertempuran Camlan, sejak saat itu dia mulai menjadi gila dan terus-menerus meneriakkan nama rajanya, tubuhnya menjadi kurus, warna kulitnya memucat, yang terlihat hidup hanya-lah matanya sebagai gambaran keinginannya yang ingin bertemu rajanya, ia wafat dalam keadaan seperti itu sehingga membuatnya bisa dipanggil dalam kelas Berseker.
Lancelot menatap dirinya sendiri yang terlihat gagah dengan zirah yang begitu bersinar, ini adalah wujudnya dalam kelas Saber, perwujudan dirinya yang membenci kejahatan dan setia pada rajanya, serta selalu melindungi yang lemah. Namun, ia merasa tak pantas berada dalam wujud ini, apalagi di hadapan rajanya yang telah ia khianati, ia merasa makhluk yang tak berakal seperti Berseker-lah yang pantas ia gunakan.
Melihat Lancelot yang diam saja membuat Arthuria bingung, ia tak tahu apa yang dipikirkannya sampai melamun seperti itu, dirinya juga senang bertemu Lancelot dalam kelas ini sehingga dia mendapatkan kembali kewarasannya, dalam perang cawan ke-empat, Lancelot adalah Berseker yang selalu mengamuk dan berusaha menyerangnya, dan ia tak tahu apa alasannya.
"Ada apa denganmu, Lancelot?" tanya Arthuria.
Lancelot masih belum menjawab. kali ini dia langsung berlutut di depan Arthuria dengan penuh hormat, dan pedangnya dijadikan sebagai tumpuan, hal ini membuat ia langsung ditatap bingung oleh semua pasang mata yang ada.
"Hamba tak pantas untuk menerima keramahanmu, Yang mulia, setelah apa yang kulakukan pada kerajaanmu," Ucap Lancelot dengan rasa penyesalan yang amat sangat, dan wajahnya masih menunduk. Kemudian, Lancelot mengangkat pedang dan mempersembahkannya pada Arthuria layaknya seorang Kesatria yang penuh hormat. "Dengan Arondight ini hamba pernah menentangmu, wahai rajaku, sekarang hamba mohon hukumlah hamba dengan pedang ini." Tambah Lancelot yang kepalanya semakin menunduk, seakan sengaja memberikan lehernya untuk dipenggal.
Arthuria mengambil pedang itu dari tangan Lancelot, ia menatap pedang suci itu untuk beberapa lama, terngiang kembali memorinya saat Lancelot pertama kali mengucapkan sumpah setia padanya dalam posisi seperti ini pula, dengan pedang ini ia membaptis Lancelot menjadi Kesatrianya. Kemudian, ia kembali mengingat apa yang terjadi saat eksekusi terhadap ratunya, Guinevere, dilakukan. Ia menyadari bahwa ini bukan hanya kesalahan Lancelot semata, ini semua juga karena keegoisannya yang tak memikirkan perasaan rakyat dan orang di sekelilingnya, seandainya saja ia dapat bertemu dengan mereka yang ia sakiti dan dapat meminta maaf. Bahkan, sekarang ia merasa sedikit rindu pada Mordred, anak haramnya yang berkhianat sekaligus salah satu kesatria meja bundar. Padahal anak itu hanya ingin ia mengakuinya sebagai 'putranya'. Namun, ia malah menyuruhnya untuk meninggalkan Camelot.
Arthuria mengangkat pedang itu tinggi-tinggi, semua menahan napas dan penasaran apakah ia akan benar-benar mengeksekusi Lancelot di sini.
"Arthur-san, apakah tak apa membiarkan mereka sepertu ini?" tanya Rin yang sedikit panik dan takut karena ia akan melihat eksekusi gaya abad pertengahan yang terkenal berdarah itu.
Arthur hanya menggelengkan kepalanya pelan, ini adalah urusan seorang atasan dan bawahan, orang sepertinya tak berhak untuk ikut campur.
"Maaf nona Rin, tapi aku tak digaji cukup sama pemilik untuk mengurusi urusan orang lain," jawab Arthur
"Jawaban macam apa itu, hah?" balas Rin yang sedikit kesal atas jawaban yang terkesan malas tahu itu.
"Dia benar, Rin, kita tak boleh mengurusi orang lain dalam hal ini, lepaskan mereka yang menyelesaikannya sendiri," ucap suara seorang pria. Sontak saja membuat Rin maupun Shirou langsung membalikkan kepalanya ke arah asal suara itu, melihat sang pemilik suara langsung membuat mereka berdua mengeluarkan keringat dingin, dia adalah pria berambut hitam panjang yang datang bersama lima Servant tadi, sekaligus seorang profesor dari yang menjadi pengajar kelas yang diikuti oleh Rin dan Shirou, ia juga menduduki posisi Lord dalam menara jam yang menjadi basis asosiasi penyihir di Inggris, dan memiliki panggilan sang keajaiban, dialah Lord El-Melloi II, atau yang memiliki nama asli Weaver Velvet, mantan master dalam perang cawan suci sepuluh tahun lalu.
Weaver mendelik tajam kepada kedua siswanya itu, membuat mereka gelagapan dan tertunduk, keduanya tak menyangka akan bertemu dengan profesor mereka di asosiasi, Rin takut kalau ia akan diberikan hukuman karena membolos.
" Ho, ternyata kalian ada di sini rupanya, pantas saja saat aku mencari di perpus kalian malah tidak ada," ucap Weafer yang semakin membuat mereka takut, sesaat kemudian ia menghela nafasnya dan memasang senyum kecil. "Tapi kali ini akan kulepaskan, lagi pula aku juga senang bisa kesini. terlalu serius dengan pekerjaan cukup membuat stres, benarkan... Rider?" Ucap Weaver sambil melirik pada Iskandar yang sedang berjalan ke arahnya.
"Yo bocah. pertama melihatmu aku tahu itu pasti kau," ucap Iskandar dengan seringai lebar, tanpa peringatan Iskandar langsung menepuk punggung Weaver sehingga membuatnya hampir terjatuh. "Kau tidak banyak berubah, bocah," tambahnya lagi.
Weaver sama sekali tak marah karena kelakuan Iskandar dan hanya tertawa bahagia diikuti oleh sang penakluk yang juga tertawa, sejujurnya, ia merasa sangat senang bisa bertemu kembali dengan Rider setelah dua belas tahun lamanya. Melihat kejadian itu membuat Rin dan Shirou bisa melihat sosok lain dari sang Lord yang memiliki wibawa tinggi itu, mereka pernah dengar dari teman sekelas kalau selama bertahun-tahun El-Melloi sangat terobsesi untuk mengikuti perang cawan lagi karena itu adalah kunci agar ia bisa bertemu kembali dengan Iskandar. Namun, bisa bertemu kembali dengannya di sini tanpa harus mengikuti pertarungan berdarah membuatnya sangat senang.
"Sepertinya kita harus menunda reuni kita dulu," ucap Weaver sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Ya, kau benar," balas Iskandar sambil mengikuti arah pandangan Weaver yang ternyata melihat ke arah Arthuria dan Lancelot.
Saat ini Arthuria masih belum melakukan apa pun, ia masih mengangkat pedang itu. Sesaat kemudian, dengan tenaga yang sangat kuat Arthuria mengayunkan pedang itu. Namun, bukannya memenggal kepala Lancelot, pedang itu malah menghancurkan lantai di sebelahnya yang membuat Lancelot menatap rajanya dengan terkejut, segera saja Arthuria membuang pedang di tangannya itu.
"Berdiri! " perintah Arthuria
"Tapi, ya-"
"Aku bilang berdiri!!" perintahnya tegas dengan kharisma Rank A miliknya yang membuat Lancelot langsung berdiri.
Melihat Lancelot telah melakukan perintahnya, Arthuria langsung menatap Lancelot yang masih tak berani melihat matanya, ia bisa mengerti perasaan bersalah yang dimiliki Lancelot, dan perasaan itu disebabkan oleh dirinya yang telah membuatnya seperti ini, bahkan sampai menjadi seorang Berseker, sebagai rajanya, ia merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki masalah ini.
"Dengarkan aku, Sir Lancelot, kejatuhan Camelot bukan hanya salahmu, tapi semuanya termasuk aku, entah itu kau, Gawain, Mordred, Le Fay, dan Tristan, setiap dari kita memiliki andil besar dalam kehancuran Camelot, itu sudah takdir dan tak bisa diubah lagi, biarlah yang berlalu tetap berlalu. Jadi, berhenti menyalahkan dirimu sendiri." Ucap Arthuria sambil memejamkan matanya, mengingat kembali masa lalu mereka yang begitu buruk. sesaat kemudian, ekspresinya yang tegas itu berubah menjadi senyum lembut, tangannya memegang bahu Lancelot. " Ingatlah Lancelot, tak ada manusia yang sempurna, semua dari kita pernah berbuat kesalahan termasuk diriku ini. Maka dari itu, aku mohon lupakanlah perasaan bersalahmu ini, kau telah kumaafkan sejak lama," tambahnya lagi.
Lancelot yang mendengar permintaan rajanya itu merasa ingin menangis, ia ingin mengatakan sesuatu. Namun, tak bisa karena suaranya tercekat di tenggorokan, perlahan air mata mengalir di kedua pipinya, perasaan menyesal begitu kuat dalam hatinya, dia bertanya pada dirinya terus. Mengapa ia bisa menentang raja seperti ini? Lancelot merasa kakinya kehilangan tenaga untuk berdiri, sebelum akhirnya ia jatuh berlutut dan menangis seperti anak-anak guna mengeluarkan perasaan gundahnya selama ini, bahkan lantai itu kini basah oleh air matanya. dalam tangisnya, ia berulang kali menggumamkan kata ' maafkan aku, maafkan aku'.
Setelah beberapa lama menangis, Lancelot akhirnya mulai tenang dengan sendirinya dan segera berhenti menangis, ia segera bangkit berdiri sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipinya, dia menatap rajanya yang memandang kepadanya dengan senyuman,Tak lama kemudian Lancelot langsung berlutut kepada Arthuria. Namun, kali ini berbeda dengan yang tadi, tak ada kesedihan ataupun rasa terpuruk, yang terlihat hanya lah wibawa serta kharisma seorang kesatria sejati.
"Hamba berterima kasih atas kemurahan hati yang mulia, hamba berjanji bahwa mulai sekarang tak akan ada lagi rasa penyesalan dalam hati ini, sekali lagi hamba ucapkan terima kasih, yang mulia," Ucap Lancelot sembari berlutut memberi hormat pada Arthuria.
Arthuria mengangguk atas perkataan Lancelot barusan, ia senang karena sekarang kesatrianya itu tak membawa perasaan bersalah lagi dalam hatinya. " ya. Sekarang, berdirilah, Sir Lancelot," perintah Arthuria yang langsung dilaksanakan oleh Lancelot.
Melihat masalah ini sudah terselesaikan dengan aman, Arthur segera maju ke depan dan berdehem untuk menarik perhatian semua yang hadir, setelah semua mata tertuju padanya, ia mulai berucap. " Baiklah semuanya, kurasa Doraemon kw di sana itu telah menjelaskan untuk apa kalian di sini." Ucap Arthur sambil menunjuk Brandit yang berada di belakangnya menggunakan ibu jari dan segera dibalas teriakan protes oleh orang yang dimaksud. " apa ada yang memiliki pertanyaan?" tambahnya lagi.
Seseorang yang menggunakan pakaian berupa gaun ungu dan jubah hitam bertudung tiba-tiba saja mengangkat tangannya, jika dilihat dari bentuk tubuhnya, sepertinya dia seorang wanita walaupun wajahnya ditutup, tapi semua yang mengikuti perang cawan ke-5 sudah sangat mengetahui siapa itu, terutama Arthuria yang punya pengalaman buruk dengannya.
"Ah, menurut daftar tamu kau adalah nona Medea dari Colchis , ada apa?" tanya Arthur.
Wanita yang dipanggil Medea itu tiba-tiba saja membuka tudungnya, memperlihatkan wajah cantik berbentuk lancip, dan berambut biru lavender, matanya bagaikan bunga Cornflower yang baru saja mekar, bibirnya memiliki warna yang senada dengan matanya, yang membuatnya unik adalah telinganya sangat mirip dengan makhluk Elf yang muncul dalam dongeng kuno.
"Mungkin Servant lain yang hadir di sini adalah rekan para manusia di sana, tapi..." ucap Medea sambil menggantungkan ucapannya dan menunjuk objek yang dimaksud. Kemudian, ia menunjuk dirinya sendiri. "... Aku adalah musuh mereka dalam perang cawan sebelumnya, kalian tidak takut kalau aku menyerang mereka?" tanya Medea.
Saat Arthur hendak menjawab pertanyaan Medea, tiba-tiba saja ponsel di sakunya bergetar pertanda ada yang meneleponnya, ia segera mengangkatnya karena mungkin saja itu penting. Namun, sepertinya dia hanya mendengarkan saja dan tak banyak berbicara, beberapa kali hanya mengatakan 'baik, aku paham' ataupun 'akan kusampaikan'.
"Area ini sudah di pasang oleh anti-sihir, oleh karena itu kau tidak bisa menggunakannya tanpa izin, dan pasti Brandit telah menjelaskan situasi dan Syaratnya sebelum kalian kesini kan? Kalau tidak, tak mungkin kau akan datang kemari," ucap Arthur sambil menyeringai yang membuat Medea memutar matanya. " dan pemilik ingin aku menyampaikan hal ini hanya padamu," tambahnya lagi
Arthur kemudian mendekati Medea dan mulai berbisik padanya sehingga tak ada yang mendengar, sesaat kemudian setelah Arthur selesai membisikkannya, Medea seketika mengeluarkan senyum yang aneh, entah apa yang dibisikan Arthur padanya, tapi semua merasa itu tak bagus bagi mereka atau salah satunya, terutama Arthuria yang merasa ngeri saat Medea memandangnya dengan senyum anehnya dan hidung yang sudah mimisan.
"Baiklah, karena sudah tak ada masalah lagi, mari kita mulai saja acaranya tentu kalian sudah tahu maksudku, jadi tidak perlu aku jelaskan lagi kan, kali ini Brandit yang akan menemani kalian karena aku ada urusan sebentar, " Ucap Arthur kembali menarik perhatian mereka
Semua mengangguk mendengar ucapan Arthur barusan, memang sebelum datang kemari mereka telah dijelaskan sebelumnya, tapi tetap saja ini membuat mereka penasaran ingin melihat langsung, terutama Lancelot yang ingin melihat kehidupan lain rajanya. Tanpa berlama lagi, mereka semua langsung memilih tempat duduk masing-masing dan Arthur pun meninggalkan ruangan itu.
"Baiklah semua, untuk kali ini aku yang akan membaca, dan kalian cukup menonton adegannya di TV plasma itu," ucap Brandit yang entah sejak kapan telah memegang buku dan melepaskan kostum Doraemon miliknya yang sekarang mengenakan pakaian kasual dengan syal biru muda.
Semuanya langsung duduk manis di tempat masing-masing, menunggu Brandit yang akan segera membaca.
Seorang pemuda berambut pirang dan memiliki tiga guratan kumis kucing di kedua pipinya sedang terbaring tak sadarkan diri atas sebuah ranjang, ia mengenakan kaos berwarna merah muda dan memiliki gambar kucing, tangannya yang sudah putus dililit dengan perban, begitu pula dengan kepalanya, dan wajah yang memiliki banyak bekas luka lebam.
Sesaat kemudian, pemuda itu membuka kedua matanya secara perlahan, menampilkan dua buah bola mata safir yang seindah birunya samudra. Ia melihat tempat dirinya berada sekarang, matanya menjelajahi setiap seluk beluk ruangan. Mimpi? Sepertinya tidak, karena dia masih merasakan sakit di tangan dan kepalanya, ingatannya tentang pertarungan kemarin juga sangat jelas, juga sepertinya dirinya masih, itu artinya kemungkinan terakhir adalah kalau dia berhasil berpindah dimensi, ia segera menutup mata dan masuk ke mindscapenya. Namun, hanya kekosongan yang didapatinya, sepertinya ia berhasil melepaskan semua Bijuu, ia berharap mereka baik-baik saja di mana pun mereka berada.
"wow, wow. Time out sebentar, kami baru datang dan tak mengerti awal buku ini. Jadi..." sela seorang pria berambut biru pendek, tapi memiliki rambut ekor kuda. Ia melirik sebentar ke para tamu yang terlihat bingung dengan buku itu sebelum menatap kembali ke Brandit. "Apa maksudnya pertarungan dan kenapa keadaannya bisa seperti itu, serta ada apa soal Bijuu ini?" tanya pria berambut biru.
Brandit tak menjawab, ia hanya menatap ke arah Rin" Nona Rin, bisakah aku meminta bantuanmu?" tanya Brandit.
"Tentu saja. Aku akan sangat senang untuk itu." Balas Rin sambil tersenyum dan memakai kacamatanya.
Akhirnya, Rin mulai menjelaskan semua dari awal tentang perang dan pertarungan, serta takdir yang menimpa Naruto, ia juga menceritakan tentang mengapa keadaannya bisa separah itu.
Semua yang mendengar itu hanya diam saja, tapi jauh di lubuk hati yang paling dalam, mereka menaruh hormat padanya, terutama yang berasal dari kaum pejuang dan kesatria karena pengorbanan serta perjuangannya.
"Dan dia juga akan menjadi 'orang yang penting dalam kehidupan Arthuria' nantinya." Ucap Rin menambah penjelasannya. Ia menatap Arthuria dengan senyum misterius." Benarkan, Saber?" tanyanya.
"Benar, itu penjelasan yang kudapat dari Arthur tadi." Balas Arthuria sambil mengangguk serius, sepertinya ia tak sadar dengan maksud ucapan Rin tadi.
Sementara itu, semua orang hanya terdiam dan memandangi Arthuria karena pembenaran dari raja kesatria itu, sepertinya semua kecuali dia, paham betul tentang arti dari makna kata barusan. terutama Lancelot, terlepas dari rajanya mengerti atau tidak, ia akan menilai apakah orang ini pantas untuk bersanding dengan tuannya, walaupun itu Hanya versi alternatif rajanya.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Arthuria yang merasa risi karena diperhatikan terus.
"Tidak." Jawab semua orang serempak, beberapa diantara-Nya cekikikan sendiri, sehingga membuat Arthuria mengangkat satu alisnya.
"Sudah, itu tak penting. Ayo cepat mulai bukunya." Ucap Medea yang sudah tak sabar ingin mendengar kelanjutannya, ia ingin segera sampai pada bagian 'orang terpenting Arthuria'.
"baik." Balas Brandit dengan nada ceria.
"Ugh, di mana aku?" gumamnya sambil merintih menahan sakit pada lukanya, ia memegang kepalanya karena merasakan pusing yang amat sangat. Dia mencoba bangun dan berusaha bersandar pada bantalnya.
Tatapannya dialihkan pada sebuah cermin di sebelahnya, ia melihat kondisi tubuhnya sendiri, tapi dia merasa aneh dengan beberapa luka lebam baru yang ia miliki, seingatnya luka yang didapatinya tidak separah ini sebelumnya. Namun, ia mengabaikannya, mungkin saja itu luka yang ia dapat saat berpindah dimensi.
"Oh syukurlah, kau sudah siuman rupanya." Ucap suara lembut seorang wanita.
Naruto mengalihkan pandangannya ke asal suara tersebut, dan mendapati seorang gadis pirang yang rambutnya disanggul, pakaian yang dipakainya adalah jaket biru tanpa tudung, dan celana jeans hitam kelam, tak lupa sebuah pedang juga bertengger di punggungnya. Naruto sedikit waspada kepada gadis itu walaupun sepertinya dialah yang menolongnya kemarin saat dirinya sekarat setelah berpindah dimensi.
"Siapa kau dan di mana aku?" tanya Naruto pada gadis itu.
Gadis itu berjalan mendekati Naruto sambil tersenyum, ia berhenti dan duduk di sebuah kursi yang berada di samping tempat tidur itu, ia tersenyum pada Naruto walau tahu kalau pemuda itu waspada terhadapnya
"Jangan takut, aku tak akan menyakitimu, namaku adalah, Arthuria Pendragon, kau berada di rumahku, di Vatikan." Balas gadis itu yang ternyata bernama Arthuria. "Kalau boleh tahu, siapa namamu?" ucapnya lagi.
"Bukankah itu aneh?" ucap Shirou tiba-tiba, ia merasa ada yang janggal saat Brandit membaca bagian Arthuria memperkenalkan dirinya pada Naruto.
"Ya. Aku juga merasakannya, biasanya seorang Servant tak akan memberitahukan nama aslinya pada orang lain, apalagi jika orang itu tak terlibat dalam perang cawan dan hanya Master lah yang tahu identitas si Servant. Bahkan, mereka akan mengatakan nama kelas mereka sebagai nama asli, misalnya Saber." Sambung Rin. Untuk sesaat ia memasang mode berpikir miliknya." Bukankah perang cawan hanya terjadi di Fuyuki? Apa yang Saber lakukan di negara seperti Vatikan?" tambahnya lagi.
Weaver berdehem untuk menarik perhatian dua murid barunya itu, dan segera saja mereka menatap sang lord. "Sebenarnya ini adalah rahasia asosiasi, tapi mengingat kalian adalah mantan Master sepertiku, maka aku akan memberitahukan suatu hal tentang perang ini pada kalian." Ucap Weaver. Rin dan Shirou yang mendengar itu menjadi penasaran dengam apa yang dimaksud oleh profesor mereka itu, terutama sang pewaris keluarga Tohsaka, Rin, yang merupakan satu dari tiga keluarga pencipta cawan suci. Ia penasaran, apakah ada yang tidak ia tahu soal cawan suci? Padahal informasi mengenai grail sangat lengkap dalam perpustakaan keluarga mereka.
"Apa itu, Profesor?" tanya Rin
"perang cawan suci bukan hanya terjadi di Fuyuki, beberapa tempat di dunia ini juga pernah terjadi perang yang sama. Bahkan, di waktu yang hampir bersamaan." Ucap Weaver, ia dapat melihat raut terkejut di wajah kedua muridnya itu, sebelum keduanya berbicara ia melanjutkan kembali. "tapi itu adalah cawan suci palsu, dan terdapat sistem yang cacat di dalam-Nya, karena dibutuhkan 14 magus agar perang itu dapat terlaksana, sehingga peserta perang cawan terbagi atas dua regu, merah dan hitam, lain dengan halnya cawan Fuyuki yang cuman butuh 7 orang saja. Walaupun demikian, tapi cawan ini tetap bisa memanggil Servant untuk bertarung bersama master, salah satu teman kelas kalian adalah peserta dari perang itu, perang cawan Rumania," ujarnya
Rin benar-benar terkejut saat mengetahui ini. sebagai pewaris dari salah satu keluarga pencipta perang cawan, dirinya sama sekali tak tahu ini, ingin sekali dia membahas lebih banyak tentang cawan palsu ini dan bertanya siapa teman sekelas mereka yang juga seorang Master. Namun, sepertinya ini bukan saat yang tepat.
"Jadi, ada kemungkinan kalau Saber berada di Vatikan karena perang cawan palsu ini?" tanya Shirou
"Itu baru hipotesisku saja dan masih ada kemungkinan lain, tapi kemungkinan itu tidaklah kecil." Jawab Weaver menjelaskan.
"Sudah. Cukup dengan teorimu itu, bocah, lebih baik biarkan buku itu menjawabnya," sela Iskandar membuat Weaver menghela nafas saja. Ia menatap ke arah Brandit. " Segera baca." Perintahnya yang dibalas anggukan saja.
Naruto cukup lama memandang mata gadis itu untuk mencari kebohongan yang disembunyikan. Namun, ia sama sekali tak merasakan niat jahat darinya, sepertinya ia dapat mempercayai gadis itu.
"Naruto, Uzumaki Naruto," jawab Naruto dengan senyum pelan. Ia sedikit menundukan badannya. "Terima kasih karena telah menolongku. Arthuria-san."
Arthuria menggelengkan kepalanya pelan dan berucap. "Tidak perlu berterima kasih. Naruto-san, sudah kewajibanku untuk menolong orang yang sedang susah." Arthuria memperhatikan Naruto dengan saksama, terutama pada tangan kanannya yang kini telah tiada, ia juga masih ingat saat dirinya mengobati Naruto dan terkejut saat mendapati luka-luka yang ada pada tubuh pemuda itu
Arthuria penasaran apakah pemuda ini diserang oleh Fallen Angel atau Stray Devil.
Shirou dagunya, tampak sedang memikirkan sesuatu. "Satu lagi keanehan yang muncul," ujarnya membuat semuanya sadar tentang keanehan yang dia maksud.
"Kau benar. Shirou, di dunia kita sama sekali tak ada makhluk yang dimaksud oleh Raja kesatria dalam buku itu," ucap Weaver membenarkan muridnya itu.
Merasa tak akan menemukan jawabannya hanya dengan menebak saja, mereka memutuskan untuk membiarkan buku itu yang menjawab. Sementara itu, Arthuria merasa lega karena tak ada yang menyadari kalau Counterpartnya telah memeriksa tubuh seorang pemuda yang baru dikenalnya. Ia bersyukur karena Rin dan Medea tak menggodanya.
"Naruto-san, kalau boleh tahu, mengapa keadaanmu bisa sampai seperti ini? Apakah kau diserang oleh sesuatu?" tanya Arthuria. Ia tak bisa langsung menanyakan kalau Naruto diserang oleh makhluk supranatural atau tidak, karena hal itu sangat berisiko membocorkan eksistensi mereka ke orang awam.
"Maaf Arthuria-san, tapi untuk sekarang aku belum ingin membicarakannya. Aku masih trauma tentang itu," ujar Naruto sedikit berbohong dengan mengatakan kalau ia trauma, tapi sejujurnya dia tak ingin melakukan ini, apalagi gadis itu telah menyelamatkannya. Namun, fakta kalau dia berasal dari dimensi yang berbeda juga harus disembunyikan. 'Maafkan aku, Arthuria-san,' ujarnya dalam batin.
"Aku maafkan." Ucap Arthuria tiba-tiba, membuat ia dipandang aneh oleh beberapa Servant. Khususnya, Lancelot.
"Yang mulia, Anda tahu kan, kalau dia tak bisa mendengar Anda?." Tanya Lancelot dengan alis terangkat.
"A-aku tahu kok, dia kan adalah Counterpart ku sendiri, jadi aku mewakilinya saja." Ucap Arthuria dengan semburat di kedua pipinya karena merasa telah melakukan sesuatu yang memalukan.
Arthuria mengangguk pertanda paham dengan keadaan Naruto, sebagai seorang yang pernah merasakan pertarungan, jelas ia tahu kalau kadang hal seperti ini dapat menyebabkan trauma yang mendalam. "Kalau begitu, apakah kau memiliki keluarga atau kerabat yang bisa kuhubungi?" tanya Arthuria.
Naruto menggelengkan kepalanya dan berucap. "Sayangnya aku sebatang kara, orang tua-ku meninggal ketika aku masih kecil." Kali ini Naruto mengatakan yang sebenarnya kalau ia memang sebatang kara. Kedua orang tuanya tewas tepat di hari ia lahir ke dunia, mereka berdua mengorbankan jiwa raga untuk menyegel Kurama yang mengamuk di desa, ke dalam tubuh Naruto dan berusaha melindunginya dari rubah yang ingin menikamnya dengan cakar tajam, dengan harapan Naruto kelak akan dipandang sebagai pahlawan, walaupun itu tak terjadi sesuai harapan mereka, karena Naruto hanya dianggap sebagai iblis perwujudan sang rubah dan menjadi sasaran pelampiasan amarah dari kebanyakan warga desa.
Seluruh penonton yang hadir memberikan bela sungkawa pada Naruto. Mereka benar-benar merasa kasihan pada pemuda itu, karena harus menjalani takdir yang begitu kejam sejak masih kecil.
"Oh bocah yang malang, pasti ia sangat menderita selama ini," ujar Medea sambil menyeka air matanya dengan sapu tangan, terlepas dari seberapa kejamnya ia pada perang lawan ke-5, tapi tetap saja ia seorang wanita yang sangat menyayangi anak-anak tanpa terkecuali.
"Sungguh pemikiran yang bodoh. Hanya karena gelas diisi oleh kopi, itu tak mengubah gelas itu menjadi sesuatu yang lain, gelas tetaplah gelas," ujar Shirou dengan bijak. Jujur, ia juga merasa jijik dengan kelakuan para warga itu yang main hakim sendiri pada seorang anak kecil.
Arthuria entah kenapa merasa geram dengan penjelasan singkat di atas tadi, seolah dirinya sangat ingin menebas para warga yang menurutnya bodoh dan tak tahu berterima kasih.
mendengar kabar itu, membuat Arthuria menunduk karena merasa sedikit bersalah. "Maaf, Aku tak berniat membuatmu semakin sedih." Ucap Arthuria.
Naruto menggelengkan kepalanya pelan. Ia tersenyum pada Arthuria. " Tak apa. Justru aku harus berterima kasih padamu karena sudah menolong dan merawatku," ucapnya dengan senyuman manis yang tanpa sadar membuat Arthuria merona
Arthuria berdehem untuk menghilangkan rona di pipinya dan kembali tersenyum setelah mendengar perkataan Naruto tadi. Tiba-tiba Arthuria teringat satu hal kecil, tapi juga sangat penting.
Kruyuuk~
Kruyuuk~
Arthuria terkekeh karena baru saja ingin mengatakannya, tapi perut Naruto sudah bersuara lebih dulu. Ia sedikit tersenyum pada Naruto yang wajahnya memerah malu, menurutnya itu sangat imut. Terlebih lagi guratan pada pipinya yang membuat ia sangat ingin mengelusnya, tapi itu rasanya tak mungkin baginya untuk melakukan itu. Dia menatap Naruto, dan berkata. "Sepertinya kau merasa lapar. Naruto-san, wajar sih mengingat kau tak sadar selama hampir sebulan, dan belum makan dan minum apa pun." Arthuria mulai beranjak dari tempat ia duduk. "Tunggulah sebentar di sini, aku akan mengambil sesuatu untuk dimakan," ucapnya sebelum keluar dari kamar itu.
Naruto memandang pada Arthuria yang berjalan pergi tanpa gadis itu sadari. Walaupun baru bertemu, tapi gadis itu sangat baik dan mau menolong serta merawatnya dengan tulus, itu membuatnya sedikit terpesona olehnya-
"Oh~ ini mengingatkanku pada drama televisi hari minggu favoritku, mereka berdua sangat imut tadi," ujar Medea yang merasa gemas dengan tingkah kedua remaja itu.
"Anda benar, Caster. Saber juga tadi ingin sekali mengelus pipi Naruto tadi," ujar Rin menggoda sang raja kesatria itu. "Tak ku sangka, kau ingin melakuka itu pada pemuda yang baru saja kau temukan, dan siapa yang tahu apa saja yang kau lakukan padanya saat pingsan. Iya kan? Saber-Chan~" ujarnya lagi yang membuat Arthuria semakin memerah wajahnya.
Rin dan Medea kini tertawa terbahak-bahak, karena keduanya merasa puas telah berhasil menjahili mantan raja itu. Sedangkan sang korban kini hanya bisa menyembunyikan wajah merahnya dengan sebuah bantal, untuk bersembunyi dari rasa malu akibat digoda oleh Rin dan Caster. Namun, entah mengapa jauh dalam lubuk hatinya ia merasa senang sekaligus iri pada Counterpart-nya dalam buku itu, ia berharap dirinya lah yang ada di buku itu. Tanpa sadar, ia membentuk sebuah senyum tipis di bibirnya, tapi untung saat ini wajahnya ditutupi oleh bantal sehingga tak dilihat orang lain.
Beberapa saat kemudian, aroma masakan masakan yang sangat wangu memasuki indra penciuman Naruto. Dan benar saja, Arthuria kini masuk ke dalam ruangan sambil piring berisi makanan di tangannya. Naruto yang sudah merasa sangat lapar, mencoba mengambil makanan itu dari tangan Arthuria tapi dihalangi oleh gadis itu. "Eh? Kenapa kau tidak memberikannya padaku, Arthuria-San?" tanya Naruto.
"Kau tak akan bisa makan sendiri dengan keadaanmu yang sekarang," jawab Arthuria yang sudah duduk kembali di kursinya tadi. "Jadi, biarkan aku menyuapimu," tambahnya.
"Huh..."
Belum sempat Naruto merespons, mulutnya mendapati sensasi kelezatan luar biasa sehingga membuat dirinya terkejut, ia belum merasakan makanan seenak ini sebelumnya selain Ramen Ichiraku.
"Saber...?" ujar Shirou menggantung.
"... Bisa memasak?" sambung Rin.
Keduanya saling memandang sebentar, dan kemudian secara serempak berucap. "Itu tidak mungkin." Keduanya masih ingat saat pertama kali mengajari Arthuria memasak, dan itu sangat tidak bagus. Bahkan, Shirou masih menggigil ketika mengingat saat dirinya masuk rumah sakit setelah mencoba masakan Arthuria walaupun hanya satu suapan. Sejak saat itu, dapur telah menjadi tempat yang terlarang bagi Arthuria.
Tapi bukan itu masalahnya, yang menjadi masalah adalah wajah Arthuria terlalu dekat dengannya saat ia disuapi sehingga wajahnya memerah. Arthuria yang tidak tahu apa yang dilakukannya, bertanya pada Naruto. "Eh? Ada apa. Naruto-San, apa makanannya tidak enak?" tanya Arthuria yang masih tidak sadar juga.
"Bukan begitu... masakanmu itu enak, enak sekali malahan," jawab Naruto membuat wajah Arthuria senang karena merasa dipuji masakannya. Naruto mulai melanjutkan omongannya dengan terbata-bata, dan jangan lupa wajahnya yang memerah. "Ta-tapi wajahmu terlalu dekat denganku," tambahnya lagi.
"Oops, maafkan aku. Naruto-San," ujar Arthuria yang wajahnya menjadi merah karena baru sadar dengan jarak mereka berdua yang terlalu dekat, dan segera ia memperluas jarak diantara mereka.
"Ara Ara~ tak ku sangka, ternyata kau akan bergerak lebih dulu, bahkan sampai menyuapinya dengan mesra, Saber-Chan~" ujar suara baru dalam ruangan itu. Keduanya mengalihkan pandangan pada sumber suara, dan mendapati seorang gadis berambut hitam dengan gaya Twin Tail, dan mengenakan baju merah yang memiliki lambang salib di bagian depannya, serta rok pendek berwarna hitam.
Naruto memandang bingung pada gadis itu, ia bertanya-tanya apakah gadis ini adalah teman dari Arthuria, dan mengapa gadis itu memanggilnya dengan sebutan Saber. Sementara itu, Arthuria sudah panik dengan kedatangan tiba-tiba temannya itu. Bukan tak suka, tapi sahabatnya yang satu itu sangat energetik dan suka mendramatisi keadaan, apalagi setelah melihat kejadian barusan
"Rin? A-apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan nada panik.
"Oh lihat, itu aku masuk dalam panggung. Sekarang semuanya akan sangat menyenangkan, benar kan? Saber-Chan~" ujar Rin tersenyum dengan prospek melihat Counterpart-nya menggoda Saber dalam buku itu.
Arthuria mengerang kesal. Sudah cukup satu Rin yang menggodanya di sini, dia tidak butuh Rin kedua dalam buku itu. Tidak! Satu saja sudah membuatnya merasa malu habis-habisan.
"Tidak bolehkah aku mengunjungi sahabatku sendiri? Atau..." Rin mengalihkan pandangan ke Naruto, senyum jahil terbentuk di bibirnya. "... Kau ingin berduaan dengannya dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun, hmm~" ujar Rin yang membuat wajah Arthuria memerah. Ingin sekali dia membantah ucapan Rin tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
"Rin!" suara baru masuk lagi dalam ruangan, kali ini seorang pemuda berambut merah mengenakan pakaian kasual berwarna hitam dan merah, serta celana berwarna hitam.
Arthuria memandang pada pemuda itu dengan penuh harap, agar membantunya membuat Rin berhenti menggodanya. Namun, sepertinya ia salah berharap pada pemuda itu karena...
"Kau tak boleh mengganggu privasi orang lain. Biarkan Arthuria menikmati waktunya dengan siapa pun yang dia inginkan," ujar pemuda itu, sehingga membuat Arthuria mengerang.
"Gaaagh!! Kau juga Shirou?" teriak Arthuria kesal
Sepasang remaja bernama Rin dan Shirou itu hanya tertawa puas karena berhasil membuat seorang Arthuria menjadi kesal
Shirou mengalihkan pandangannya pada Naruto, ia berjalan maju menuju si pirang dan menjulurkan tangannya. "Salam kenal, Namaku Emiya Shirou, dan bagaimana keadaanmu?" ujar Shirou. Ia sedikit menaikan alisnya saat melihat pakaian yang dipakai Naruto saat ini, tapi dia abaikan saja itu.
"Tunggu! Baju?" ujar Lancer atau Chu Chulainn yang sadar akan maksud Shirou dalam buku itu. Ia mengalihkan pandangannya pada layar kaca dan fokus pada Naruto. Sesaat kemudian, ia tertawa lepas sehingga ditatap aneh ole hampir semua Servant dan manusia minus Arthuria dan sasaki, karena alasan yang berbeda. Satunya tak peduli, sedangkan yang lain sedang gugup dan berkeringat dingin.
Menyadari apa yang Lancer tertawakan, mereka semua mengalihkan pandangan menatap ke arah raja kesatria. Beberapa diantara-Nya memiliki senyum jahil termasuk Iskandar. "Ternyata seperti itu ya, aku paham sekarang," ujar Iskandar sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apa yang kau pahami?" teriak Arthuria, tapi diabaikan.
"Ternyata kau itu tidak bisa bersabar sedikit ya, Saber," ujar Medea sambil tersenyum. Sesaat kemudia, senyum itu berubah menjadi seringai jahil. "Katakan, berapa banyak yang sudah kau lihat?" ujarnya lagi yang membuat Arthuria putus asa dan hanya bisa menunduk pasrah.
"Yang mulia. Saya harap Anda lebih bersabar lagi, karena Anda adalah seorang raja." Ucap Lancelot yang sama sekali tidak membantu.
Arthuria hanya memijit keningnya saja karena merasa pusing dan jengkel pada kelakuan mereka semua yang kini menertawainya, toh dia tak bisa berbuat banyak saat ini dan hanya bisa mengutuk karena sepertinya bagian ini sengaja dibuat seolah untuk menggodanya. Ia menatap ke arah Brandit. "Lanjutkan, sebelum aku menebas mereka satu persatu menggunakan Excalibur," ucapnya dengan nada berbahaya, dan segera dibalas oleh Brandit dengan anggukan cepat.
Naruto membalas salam Shirou dengan menjulurkan tangan kirinya. "Uzumaki Naruto, dan maaf aku menggunakan tangan kiriku, kau tahu kan tanganku...," ucap Naruto yang dibalas oleh anggukan paham Shirou
"Tak apa. Kami sudah tahu kok saat Arthuria membawamu kemari," sela Rin. Ia tersenyum pada Naruto dan berucap. "Oh iya, Namaku adalah Tohsaka Rin, salam kenal ya."
Naruto mengangguk dan tersenyum menanggapi perkenalan dari kedua teman Arthuria itu. Tiba-tiba, ekspresi Rin berubah menjadi serius, salah satu tangannya ia sembunyikan di belakang tubuhnya, menyembunyikan dua buah permata yang bersinar, pertanda sihirnya sedang aktif. Tentu saja ini disadari oleh semua orang dalam ruangan, termasuk Naruto
"Naruto-san, mengapa kau bisa seperti ini, apakah kau diserang oleh sesuatu?" tanya Rin.
"Rin! Sebaiknya jangan" Arthuria memperingatkan. Seharunya ia tahu ini, Terlepas dari sifatnya yang jahil, Rin adalah seorang yang sangat waspada dan ahli dalam menginterogasi orang, terlebih lagi pada orang yang baru ditemuinya.
Begitu pula Shirou yang secara diam-diam sudah bersiaga
Naruto entah mengapa merasa memiliki dorongan untuk menjawab pertanyaan Rin dengan jujur.
"Aku penasaran loh, mengapa kau bisa menerima luka separah itu, apalagi kau masih hidup saat ini," ujar Rin.
"Hmm? Itu aneh, seharusnya aku tak memiliki kemampuan seperti itu," ucap Rin.
"Mengingat itu adalah dimensi yang berbeda, aku tak akan heran," ujar Weaver menanggapi ucapan muridnya itu. "Entah perbedaan apa lagi yang akan kita lihat nanti," tambahnya lagi.
Brandit menyeringai ke arah mereka dan membatin. 'Oh bung, kalian akan sangat terkejut nanti saat mengetahui perbedaan garis keturunan Raja kesatria, nantinya."
DEG
Sekali lagi, Naruto merasa perasaan yang ia rasakan tadi. Well, sepertinya mereka ini bukan orang biasa, mungkin ia bisa percaya pada mereka tentang kebenarannya, lagi pula ia tidak merasakan niat jahat darinya, dan sepertinya hanya ingin melindungi temannya saja.
Naruto sedikit tertawa tentang situasi saat ini, sehingga membuat yang lain menjadi bingung dan waspada. "Sepertinya kalian bukan manusia biasa ya," ujar Naruto membuat yang lain semakin bingung. "Aku kalian waspada padaku, tapi percayalah padaku kalau aku bulan berniat jahat. Ada alasan tersendiri mengapa aku tak menceritakannya padamu," ucapnya murung sambil mengingat kembali saat dia pergi meninggalkan Elemental Nation.
Tentu saja ini tak luput dari perhatian mereka bertiga, dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada si pirang, tapi sekarang mereka bisa percaya padanya. Terutama Arthuria, yang sejak awal entah mengapa merasa kalau Naruto bukanlah orang jahat.
"Baiklah Naruto-San. Kami percaya padamu, dan tak akan memaksamu menceritakan semua sebelum kau siap," ucap Rin sambil tersenyum dan menghilangkan sihir miliknya.
"Arthuria-San!" panggil Naruto pada gadis itu.
"Ya, kau perlu sesuatu, Naruto-San?" sahut Arthuria.
Untuk beberapa lama, Naruto sedikit diam dan memandang ke bawah. Sesaat kemudian, ia menghela nafas serta menatap ke arah Arthuria. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu malam ini," ujar Naruto.
Arthuria diam sesaat karena bingung, dan bertanya-tanya dalam hatinya, apakah ini tak apa? Ia tak ingin memaksa Naruto menceritakan semuanya. "Kau yakin tentang ini?" tanya Arthuria yang dibalas anggukan oleh Naruto. "Baiklah, kalau begitu," tambahnya lagi.
"Ara ara~ apa yang kudengar ini. Apakah akan terjadi pembicaraan serius di antara kalian?" sela Rin yang kini masuk mode penggodanya lagi
Arthuria langsung memerah karena maksud ucapan Rin barusan. "Bu-bukan seperti itu Rin!" teriak Arthuria
"Dia benar, Rin-san. Aku sama sekali tak memiliki niat buruk untuk melukai Arthuria-san," ujar Naruto yang rupanya tak mengerti maksud ucapan Rin barusan. "Jika kau tak percaya, maka kau bisa ikut nanti," tambahnya lagi dengan ekspresi serius.
'Bukan itu masalahnya!" batin Arthuria berteriak.
Rin tertawa pelan sambil mengibas-ngibas tangannya. "Tak usah, Naruto-san. Aku percaya kok," ujarnya sambil mencoba menahan tawanya karena ketidakpekaan Naruto, begitu pula Shirou.
"Baiklah, Naruto-san. Kami harus pergi dulu, karena ada urusan penting, dan sampai jumpa," ujar Shirou sambil berjalan keluar bersama Rin.
"sampai jumpa juga," balas duo pirang itu
Kini mereka hanya berduaan dalam ruangan itu, tak ada yang memulai percakapan. "Emm... Arthuria-San...," ujar Naruto yang ingin meminta maaf pada Arthuria.
"Tidak perlu meminta maaf. Aku percaya padamu kok, kalau kau bukan orang jahat," ucap Arthuria mencegah Naruto dari niatnya sambil tersenyum.
"Sekarang, kau harus makan lagi ini," ucap Arthuria sambil mulai menyuapi Naruto lagi.
"Tapj jangan dekatkan wajah cantikmu itu lagi kepadaku," ucap Naruto setengah bercanda. Namun, tanpa sadar membuat wajah Arthuria berubah menjadi merah.
Walaupun Naruto sedang makan, tapi saat ini ia masih berkutat dengan pikirannya. Entah mengapa ia merasa jatuh hati pada gadis yang baru ditemuinya ini. Cantik, perhatian, dan baik hati, itu semua menjadi faktor yang membuat Naruto jatuh hati padanya. Namun, ia tak berani mengungkapkan rasa di hatinya karena takut akan menyakiti hati gadis tersebut.
Tapi di waktu yang sama, Arthuria juga merasakan perasaan itu pada Naruto, ia tak tahu mengapa bisa seperti itu. Tapi yang jelas, ia merasakan suatu perasaan unik jika berada di dekat pemuda itu, perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, dan ia juga sedikit merasakan sedih saat melihat ekspresi barusan. Ia sangat bingung tentang hal ini, tapi untuk sekarang, biarlah waktu yang menjawab.
"Yap itu kisah yang bagus untuk saat ini," komentar Medea. Sampai sejauh ini, ia lumayan menyukai cerita ini, apalagi mendapat kesempatan untuk bisa menggoda Arthuria. Sepertinya menerima tawaran untuk datang kemari bukanlah pilihan yang buruk.
"Anda benar Caster. Aku penasaran seperti apa perbedaan antara di sana dengan kita, mengingat itu adalah dimensi yang berbeda," ucap Rin
Sementara itu beberapa pria merasa buku itu membosankan karena tidak ada bagian pertarungannya, tapi untuk saat ini mereka memutuskan untuk ikut menyimak saja dari pada harus menunggu panggilan untuk mengikuti perang cawan.
Brandit menepuk tangannya untuk meminta perhatian mereka. "Baikalah semua, kurasa itu cukup dulu untuk hari ini, dan bagaimana kita istirahat sejenak dan menikmati liburan kalian," ujar Brandit yang langsung ditanggapi dengan baik oleh semuanya.
Dan dengan itu, semua bangun dari tempat duduk mereka dan berpencar, melakukan apa pun yang mereka sukai, meninggalkan Arthuria yang saat ini diam memikirkan sesuatu, ia memegang dadanya yang berdetak cepat. Seperti Counterpart-nya, ia juga merasa perasaan aneh dalam hatinya, tapi di saat yang sama perasaan ini juga terasa menyenangkan.
Dalam kepalanya, muncul bayangan wajah Naruto yang ia lihat di layar tadi, dan itu membuat jantungannya berdetak lebih cepat. Sesaat kemudian, bibirnya membentuk seulas senyum yang sangat indah. "Inikah yang namanya jatuh cinta? Hmm, ini perasaan yang sangat indah," gumam Arthuria sambil berjalan pergi dari sana dengan senyum yang masih melekat.
Hhuhuhu~ akhirnya selesai juga ni fanfic
Maaf ya minna karena lama upnya
Ane harus bertempur melawan rasa malas ane
Dan terima kasih buat yang udah support ane, tapi jangan lupa review ya
Maaf jika jelek dan banyak Typo, maklum ane juga baru belajar.
