Disclaimer
NARUTO: Masashi Kishimoto
FATE SERIES: Kinoko Nasu/ Type Moon
WARNING
Typo, OOC, Diksi yang kurang bagus, DLL
Start Story
Sinar mentari bersinar cerah bersinar cerah di atas cakrawala, pantai berpasir putih menawan sejauh mata memandang, dan deburan ombak menjadi pelengkap pemandangan yang saat ini tengah dinikmati oleh Rin dan Medea. Keduanya memandang takjub pada tempat mereka berdiri saat ini dengan mengenakan baju renang. Satu hal yang bagus adalah, ternyata hotel ini berlokasi di sebuah pulau tropis dengan pantai yang begitu memanjakan mata, apalagi tak ada orang selain mereka yang datang membaca di sini, jadi serasa memiliki pantai pribadi sendiri.
"Ahh~ Aku tak menyangka kalau ada tempat sebagus ini di sini," ucap Rin Kagum
"Ya. Tempat ini lumayan juga, tapi kira-kira para pria ke mana ya?" balas Medea sambil membenarkan topi fedora miliknya. Ia bertanya-tanya ke mana para lelaki pergi, pasalnya saat keduanya pergi untuk mengganti pakaian sebentar, mereka semua masih ada, dan sekarang sudah tak ada.
"Hmm, benar juga. Shirou dan lainnya tak ada lagi di sini," ucap Rin bingung dengan keberadaan kekasihnya itu, padahal ia ingin menghabiskan waktu romantis mereka berdua sambil berjalan-jalan di pantai. Ia mengalihkan pandangannya pada Medea. "Bagaimana kalau kita cari saja mereka? Mungkin saja saat ini mereka sedang melakukan sesuatu yang bodoh" ucap Rin lagi, dan hanya dibalas anggukan oleh Medea.
Namun, sebelum keduanya melangkah untuk mencari keberadaan yang lain, suara bising memasuki indra pendengaran mereka yang asalnya sepertinya tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang, jadi mereka memutuskan untuk mengecek ke sana, karena siapa tahu dapat menemukan keberadaan para lelaki. Namun, saat sampai di sana, Rin serta Medea langsung mangap-mangap layaknya ikan yang kekurangan air karena melihat pemandangan di depan mereka saat ini. Penasaran!? Ya itu karena saat ini Shirou, Weaver, dan para Servant pria yang lain sedang bermain bola voli tanpa mengenakan busana apa pun, sehingga membuat teripang yang berada di selangkangan mereka dapat terekspos dengan sangat jelas.
"Yo. Kalian juga ingin bergabung," sapa Lancer yang menyadari kedatangan dua wanita itu, tapi tak sadar diri dengan keadaan mereka saat ini, dan justru membuat Rin dan Medea geram pada mereka semua.
Buagh!
Buagh!
Pletak!
Break
"Maafkan kami," ujar para pria secara bersamaan sambil memasang posisi Dogeza, dengan kepala benjol dan tentunya sudah memakai pakaian renang mereka.
"Duh, Dasar kalian ini," ucap Rin sambil memijit hidungnya karena tak habis pikir dengan kelakuan mereka terutama Shirou dan profesor. Serius, mereka itu adalah para pahlawan terkenal dalam sejarah dan orang penting dalam asosiasi, kecuali Shirou, tapi kenapa bisa bertingkah memalukan seperti tadi.
Sedangkan, para pria saat ini hanya bisa pasrah mendengar omelan Rin. Walaupun mereka itu roh pahlawan, tapi semuanya sadar betul bagaimana menyeramkannya wanita yang sedang marah, cukup Lancer saja yang hampir mati karena amukan dua wanita itu, apalagi Medea juga saat ini tengah merapal mantra untuk berjaga-jaga kalau mereka bertingkah lagi.
Rin mengedarkan pandangannya ke arah mereka, dan menyadari kalau ada satu orang yang tak ada di sini. Sedari tadi ia tak melihat keberadaan Arthuria di sini, apalagi saat mereka pergi berganti pakaian. "Apa ada yang melihat Saber, di antara kalian?" tanya Rin entah pada siapa.
"Ya. Aku melibatnya tadi, dia pergi arah sana," ucap orang itu sambil menunjuk ke sebuah bukit karang besar. Yang barusan menjawab tadi adalah Servant Assasins dalam perang cawan kelima, Sasaki Kojiro. Sebelum mereka memulai permainan tadi, ia sempat melihat raja kesatria itu sedang berjalan sendiri saja dan melamun, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.
"apakah aku perlu memanggilnya?" tanya Medea.
"Tidak perlu. Cukup aku saja," jawab Rin sambil berlari ke arah yang ditunjuk oleh Kojiro tadi. Sepertinya ia tahu ada apa dengan Arthuria, karena ia sempat melihatnya senyum sendiri tadi saat mereka selesai membaca.
"Cepatlah. Kita akan mulai bersenang-senang!" teriak Shirou dari kejauhan.
"Aku paham!" balas Rin
Arthuria kini sedang duduk di atas sebuah batu karang besar, membiarkan angin laut menerpa wajahnya, matanya menatap lurus ke depan. Namun, ia sedang tidak menikmati pemandangan saat ini, memang raga masih di sini, tapi pikirannya tengah melayang jauh entah ke mana memikirkan pemuda dalam buku yang telah menarik hatinya dan merasakan perasaan yang tak pernah dialaminya.
Ia memang telah merasakan ketertarikan pada pemuda Naruto itu semenjak akhir dari bab pertama dan semakin kuat saat pertengahan bab kedua, apalagi saat dirinya mengetahui pengorbanan serta perjuangan pemuda itu, sampai dia yakin betul dengan perasaannya. Ia juga merasa sedikit iri saat dirinya yang lain dapat berinteraksi dengan Naruto. Namun, dirinya juga merasa bahwa ini adalah hal yang rumit, karena ia dan Naruto berbeda dimensi. Ia takut hanya akan mengalami perasaan yang menggantung.
Cukup aneh bukan? Semasa ia hidup dulu dirinya tak pernah punya kesempatan untuk merasakan yang namanya cinta, dan mesti berkorban banyak demi rakyatnya bahkan hatinya sendiri. Namun, saat ia hidup lagi saat ini, dirinya justru menyukai seoranf karakter dari buku dan beda dunia dengannya.
"Saber! Di sini kau rupanya," ucap sebuah suara dari belakang Arthuria yang membuatnya tersadar dari lamunannya, sontak Ia langsung mengalihkan pandangannya pada asal suara dan mendapati Rin sedang berjalan ke arahnya.
"Oh, Rin. Ada apa?" tanya Arthuria.
"Kau yang ada apa? Tadi kulihat kau hanya merenung sendiri saja," ucap Rin balik bertanya.
Arthuria hanya diam dan menunduk saja saat ditanya seperti itu. Ia tak tahu harus menjawab apa pada Rin, tak mungkin kan dia menceritakan tentang isi pikirannya saat ini. Namun, sepertinya Rin dapat membantu, toh dia lebih mengerti masalah percintaan dari pada dirinya.
"Rin!" panggil Arthuria.
"Ya, Saber?" jawab Rin
Arthuria menelan ludahnya sendiri demi mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya pada Rin. Terserah mau ditertawai atau ataupun dianggap aneh karena menyukai karakter yang di dunianya dianggap fiktif, tapi setidaknya itu bisa menjawab rasa penasarannya.
"Seperti apa rasanya jatuh cinta?" tanya Arthuria.
Rin langsung tersentak karena pertanyaan dari Arthuria, ia tak akan mengira bahwa sang raja kesatria bakal bertanya tentang hal semacam itu. Sejujurnya, Rin sendiri bingung ingin menjawab apa, soalnya masalah asmara itu kadang sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata.
"Eto ... bagaimana ya menjelaskan?" gumam Rin Sambil melirik ke Arthuria yang menatap penuh padanya.
Setelah beberapa saat berpikir dan memilah kata-kata, sebuah senyum muncul di bibir Rin karena merasa telah menemukan jawaban yang tepat untuk masalah ini.
"Baiklah, Saber. coba bayangkan wajah orang itu dalam kepalamu, lalu bayangkan jika ia sedang bersama wanita lain," ucap Rin.
Mengikuti petunjuk Rin, Arthuria mulai membayangkan wajah Naruto dalam kepalanya. Seketika, ia langsung merasakan jantungnya berpacu amat cepat, wajahnya memerah, dan entah kenapa ia merasa malu.
Rin yang melihat hal ini hanya menyeringai saja. Ia tak menyangka bahwa reaksi Arthuria akan seperti ini.
"Lanjutkan, Saber," ucap Rin
Arthuria mulai membayangkan lagi saat Naruto sedang bersama gadis lain ataupun menggoda dirinya yang lain. Dalam hatinya, ia merasakan sebuah perasaan amarah yang secara perlahan semakin meningkat, seakan tak rela jika apa yang dibayangkannya menjadi kenyataan. Bahkan, tanpa sadar kini ia telah memunculkan Excalibur di tangannya.
Karena takut terjadi hal buruk, Rin langsung panik dan berusaha menenangkan Arthuria.
"C-cukup, Saber. Hilangkan bayangan itu dalam kepalamu, itu tak nyata," ucap Rin cepat.
Rin menghela nafas lega ketika melihat Arthuria sudah kembali stabil emosinya. Namun, ia tak menyangka reaksinya akan seperti ini, padahal Arthuria belum pernah bertemu sama sekali dengan Naruto, dan hanya melihat lewat buku saja. Inikah yang dinamakan cinta pandangan pertama atau takdir benang merah?
"Terima kasih, Rin, berkatmu aku bisa memastikan tentang perasaanku ini," ucap Arthuria sambil tersenyum.
Rin hanya mengangguk dan balas tersenyum pada Arthuria sebagai tanggapan. Namun, beberapa saat kemudian, wajah Arthuria tampak kelihatan murung, sehingga membuat Rin bingung.
"Ada apa, Saber, kenapa wajahmu murung," tanya Rin cemas.
Arthuria menghela dan menjawab, " Perasaanku hanya akan berakhir menggantung saja."
Sejujurnya, ia hanya sedikit sedih, dirinya memang sudah benar-benar memastikan bagaimana perasaannya. Namun, ia tahu Naruto itu manusia dari dimensi lain dan bersanding dengan counterpartnya. Dia hanya tahu dan melihat Naruto dari dalam buku saja.
Tanpa menunggu lagi ia langsung berdiri dan berjalan pergi dari sana, "Ayo, Rin, kita pergi. Yang lain pasti sudah menunggu," ucap Arthuria sambil berjalan.
Rin hanya menghela nafas saja dan mengikuti Arthuria dari belakang. Sejujurnya, ia merasa cemas dengan Arthuria, seumur-umur belum pernah ia melihat masalah cinta begitu rumit seperti ini. Entah apa yang dipikirkan oleh yang mencatat takdir Arthuria.
"YO, Raja Kesatria!!" sapa Iskandar dengan suara yang penuh semangat. Namun, tak ditanggapi oleh Arthuria, sehingga membuat Iskandar bingung, tapi hanya mengangkat bahunya dan melanjutkan Service bola volinya ke arah Lancer,
"Apa yang terjadi?" tanya Medea kepada Rin sambil melirik Arthuria yang duduk di kursi dengam ekspresi murung.
Rin hanya menghela nafas saja. Ia tak tahu harus bagaimana menjelaskan sesuatu seperti masalah ini pada Medea, "Entahlah, tapi ini benar-benar sesuatu yang rumit," jawab Rin, sehingga membuat Medea menaikkan satu alisnya.
Rin akhirnya menjelaskan pokok permasalahannya pada Medea, dimulai dari keraguan perasaan Arthuria, sampai ketakutannya yang membuat dirinya murung seperti ini.
Medea menangguk atas penjelasan Rin. Ia turut merasa simpati kepada Arthuria, tapi mau bagaimana lagi? Sepertinya Arthuria jatuh hati pada orang yang berada di tempat yang tak bisa dijangkau.
"Aku tak tahu apa yang kalian bicarakan, tapi bisakah kalian terlalu berisik? Aku sedang fokus di sini," ucap sebuah suara bariton yang asing di telinga mereka.
Rin dan Medea langsung nengalihkan pandangan mereka ke asal suara, dan mendapati seorang pria berambut perak yang mengenakan celana hitam serta kaos yang warnanya senada dengan celananya, sebagian wajahnya tertutupi dengan masker, dan di mata kirinya terdapat bekas luka. Saat ini, ia sedang berbaring sambil membaca buku bersampul Orange.
Keduanya langsung memasang sikap waspada kepada orang baru ini, mereka tak tahu siapa dia dan hawa kehadirannya tak terdeteksi oleh siapa pun seperti seorang Assasins. Bisa saja orang ini bermaksud jahat.
"Siapa kau!?" tanya Rin sambil tetap waspada. Di belakangnya, Medea sudah bersiaga dengan memunculkan beberapa lingkaran sihir. Namun, orang itu tetap tak bergeming dan tetap membaca bukunya.
Sementara itu, Arthuria dan yang lainnya melihat Medea mengaktifkan sihirnya langsung bergegas menuju ke tempat mereka berdua dan melihat orang baru itu. Beberapa di antara mereka merasa sedikit familier dengan wajah orang itu, mereka pernah melihatnya tapi entah di mana.
"Siapa kau, tuan?" tanya Shirou sambil memunculkan dua buah Blade berwarna hitam dan putih.
Karena merasa suasana telah sedikit memanas, pria berambut perak itu menghela nafasnya dan menutup bukunya. Ia berdiri dengan malas dari posisi berbaringnya. Semua orang semakin waspada dengannya. Namun, orang ini tampak ogah-ogahan, walaupun saat ini kondisinya bisa dibilang terancam.
"Yo, perkenalkan, Rokudaime Hokage dari Konohagakure no Sato, Hatake Kakashi," ucapnya.
Untuk sesaat, semuanya diam demi berusaha mencerna kata-kata yang dari orang itu. Konoha? ... Rokudaime? ... Hatake Kakashi? Enta mengapa itu semua pernah mereka dengar debelumnya.
Yang paling pertama sadar dan ingat tentang semua itu adalah Rin, matanya melebar seketika ia mengetahui siapa sebenarnya orang ini.
"Ti-tidak mungkin. Ka-kau adalah ninja dari dalam buku itu, guru dari Uzumaki Naruto!" ucap Rin tak percaya.
"Buku?" tanya Kakashi bingung.
"Eeeeee!?" teriak Saber dan yang lain saat mengingat siapa orang ini.
Mereka semua masih tak percaya dengan apa yang di depan mereka saat ini, semua berpikir kalau yang datang kemari hanya orang-orang dari dunia ini saja. Namun, mereka tak menyangka akan kedatangan tamu dari dimensi lain yang di dalam buku disebut, Elemental Nation. Mungkin tak terlalu aneh, mengingat ada para Servant yang didatangkan dari Throne of Heroes.
"Kuulangi pertanyaanku. Buku apa yang kau maksud, nona," tanya Kakashi.
Rin tak tahu harus berkata apa lagi. Apa yang terjadi di sini lama-kelamaan semakin aneh. Ia juga tak tahu harus menjelaskan dari mana. Tunggu!? Apakah dia datang ke sini karena ulah Brandit?
"Tuan, apakah Anda benar-benar gurunya Uzumaki Naruto?" tanya Shirou dengan nada sopan. Ia tahu orang ini memiliki jabatan penting di tempat asalnya.
"Apakah perkenalanku belum jelas? Lagian, dari mana kau tahu nama muridku?" tanya balik Kakashi dengan yang menyipit.
"err ... Akan sulit untuk menjelaskannya," ucap Shirou sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Tapi sebelumnya, apakah ada seseorang berpakaian Doraemon yang membawamu kemari," tanya Shirou lagi.
Kakashi tak tahu dengan apa yang dimaksud sebagai Doraemon oleh pemuda berambut merah di depannya ini, "Aku tak tahu apa yang kau maksud, nak, tapi jika maksudmu adalah orang aneh berpakaian mirip kucing itu, maka jawabannya adalah ya," jawab Kakashi.
Shirou menangguk sebagai respons atas jawaban Kakashi, sepertinya dia yang harus menjelaskan ini dari awal untuk sang Hokage itu. "Baiklah, tuan. Mungkin ini akan sedikit rumit," ucap Shirou.
"Coba saja," jawab Kakashi.
Akhirnya, Shirou mulai menjelaskan semua dari awal kedatangan mereka ke sini, hingga mereka semua diminta untuk membaca sebuah buku yang berisi kejadian di dimensi lain. Menariknya, buku itu menceritakan kisah alternatif dari muridnya sendiri. Kakashi merasa sedikit tertarik dengan buku itu, ia penasaran sejauh apa perbedaan yang ada dalam buku itu dengan apa yang merek alami. Entah mengapa, tapi ia merasa ini juga akan melibatkan Naruto lebih dari hanya sekedar menjadi karakter dalam buku saja.
"Baiklah, aku paham dengan penjelasanmu, anak muda," ucap Kakashi, "Karena tak ada masalah lagi, jadi aku akan tetap di sini dan membaca bukuku. Lanjutkanlah kesenangan kalian," lanjutnya lagi dengan nada acuh tak acuh sehingga membuat yang lain Sweadrop karena melihat tingkahnya yang sedikit malas.
Mereka bertanya-tanya, apakah orang ini memang benar Hatake Kakashi yang ada dalam buku, tapi melihatnya saat ini terasa berbeda dengan apa yang mereka saksikan sebelumnya. Entah lah, mungkin yang mereka lihat itu dalam suasana pasca perang.
Akhirnya, semua melanjutkan aktivitas masing-masing. Ada yang bermain air, bertanding voli, ataupun berjemur seperti yang dilakukan Medea. Namun, tanpa disadari oleh semua orang, Arthuria tersenyum sendiri di tempatnya. Ia senang karena dalam hatinya muncul secercah harapan karena kedatangan Kakashi, mungkin nanti ia juga akan bertemu dengan Naruto ... ya harapnya sih begitu.
Esoknya
Semua sudah berkumpul di ruangan yang sama tempat mereka membaca dari kemarin. Namun, tak semua berada di sini, ada beberapa orang seperti Sasaki dan Chú Chúlain yang tidak hadir karena semalam mereka berdua mabuk berat. Mereka semua sudah duduk di tempat masing-masing menunggu kedatangan Brandit, tapi entah mengapa sudah setengah jam mereka menunggu. Namun, orang itu belum datang juga.
Tiba-tiba, pintu di ruangan itu dibuka oleh seseorang yang mengenakan pakaian Butler. Orang itu bukan Brandit, melainkan Arthur William, orang yang pertama kali Rin dan Shirou temui sewaktu datang kemari.
"Arthur-san?" sapa Rin, "Bukankah, seharusnya Brandit yang memandu kami saat ini?" lanjutnta bertanya.
Arthur hanya mengangguk sebagai respons atas pertanyaan Rin. Memang benar, yanf bertugas saat ini untuk memandu para tamu di ruangan ini adalah Brandit. Namun, saat ini ia tengah ditugaskan untuk melakukan sesuatu oleh bos mereka, dan itu tak bisa ditunda lagi.
"Kau benar, Rin-san. Tapi saat ini ia telah ditugaskan untuk menjemput seorang tamu lagi," jawab Arthur.
Semua orang bertanya-tanya dalam pikiran mereka tentang siapa tamu baru itu. Apakah seorang yang mereka kenal? Jujur, ini membuat mereka semakin penasaran. Kecuali Kakashi yang tampak acuh tak acuh dengan tamu baru itu. Toh dia kemari hanya ingin liburan dan terbebas dari tumpukan laknat bernama kertas itu.
"Baiklah. Bagaimana kalau kita mulai saja membacanya, dan untuk sementara akulah yang akan memadu kalian selama Brandit belum datang?" tanya Arthur.
Tak ada satu pun yang protes dengan usulan itu. Jadi, Arthur langsung mengeluarkan buku itu untuk di baca dan memberikannya pada Rin. Namun, sebelum Rin sempat membaca, tiba-tiba di depan mereka muncul pintu berwarna merah muda diiringi dengan lirik lagu 'Aku Cinta Doraemon'. Mereka tahu, artinya tamu yang dimaksud Arthur telah tiba.
Mereka penasaran siapa kira-kira tamu itu. Sesaat kemudian, pintu itu terbuka secara perlahan dan menampilkan siapa si tamu itu. Sontak, semua orang melebarkan mata mereka, wajah Arthuria langsung memerah, dan Kakashi hanya mengangkat satu alisnya karena melihat tamu yang datang itu.
"Kakashi-sensei!?" tanya orang itu terkejut
"Kau juga datang kemari, Naruto?"
Bersambung...
Oke maaf kalau lama
Dan alurnya terkesan memaksa serta word yang sedikit.
maaf min ane salah tulis.
